Minggu, 26 Juli 2009

MANTRA-Rahasia Kitab Malaikat (Sutanto Ari Wibowo - 2009)


Penerbit: DIVA Press
Editor: Elis Widayanti
Tata Sampul: Gobaqsodor
Tata Isi: A. Budi
Pracetak: Ita, Dwi, Yanto
Tebal: 413 halaman

Sebuah Novel Menggetarkan, demikian bombastisnya tag-line, yang bahkan dengan percaya-diri-sangat sampai dibubuhkan berkali-kali bersanding judul. Saya catat ada di empat tempat: cover depan, cover belakang, punggung cover, dan judul dalam. Sehingga, bisa saja orang menyangka judul lengkap Novel ini adalah: MANTRA (Rahasia Kitab Malaikat) Sebuah Novel Menggetarkan.

Haduuh, susah amat jualan di hari gini, hehehe.

Sebuah karya perdana dari Sutanto Ari Wibowo, seorang lulusan STM otomotif mantan pekerja swasta di daerah Cikarang yang --demi obsesinya menjadi pengarang-- memutuskan untuk kembali ke Kampung halaman di Kabo, Beluk, Bayat, Klaten.



(Lho kok malah menjauh ke kampung, to Mas? Bukannya komunitas penulis-pengarang itu justru mendekat ke Kota, setidaknya ke sentra-sentra Pendidikan/ Kampus? Tapi mungkin di kampung suasananya lebih asik, dan lebih menggugah inspirasi, ya. Siapa tahu? hehe.)

MANTRA mengambil genre Fantasy, sebuah genre yang masih saja dipersepsikan sebagai genre 'gampang' karena --konon-- cukup bertumpu pada imajinasi pengarang yang tentunya tak berbatas. Sehingga dengan gampangnya seolah setiap kemungkinan dapat terjadi, dan semuanya dapat diciptakan sebesar kekuasaan pengarang sebagai pemilik imajinasi. Lho, kenapa gue jadi sinis? Sebab agaknya melihat keterlalupedean Pengarang/ Penerbit membikin tag-line seperti di atas, saat dibandingkan dengan materi yang diterbitkan, kuindikasikan pola pikir Pengarang dan Penerbitnya pun belum jauh-jauh dari salah kaprah itu.

Dipikir bikin kisah Fantasy itu gampang?

Let's see, tinggal bikin kerajaan, bikin musuh kerajaan, terus bikin chaos, bikin Raja-Permaisuri-Keluarga kena masalah, terus bikin si tokoh yang jadi the chosen-one, terus kasih si tokoh suatu 'kunci' untuk menjadi ultimate hero, terus bikin arch enemy yang jadi pelayan-agen-nya the ultimate enemy, terus bikin pertempuran ultimate hero melawan ultimate enemy, akhirnya terus bikin adegan pengangkatan ultimate hero menjadi Raja baru. Done!

Terus untuk memperkuat 'rasa' Fantasy, marilah kita bikin nama-nama berbau asing. Yeah! Gak usah tanya bagaimana nama-nama itu terwujud. Ini Fantasy, man! Imajinasi tak terbatas, man! Apapun bisa dibikin dan jangan kekang kreativitasmu dengan dogma-dogma yang memenjaramu!

(Sebenernya, kalaulah MANTRA sekedar menerapkan rumus 'lugu' di atas, aku nggak akan terlalu mencak-mencak. Itu rumus khas pengarang-fantasy-pemula, tak salah-salah amat, walau sebaiknya dihindari oleh pengarang-pengarang yang udah terpapar sama Blog Fikfanindo,.. hehehe *sok penting mode-ON*. Tapi MANTRA punya faktor-faktor 'ngasal' lainnya yang membuat novel ini menjadi jelek di mata gue. Gue jelasin nanti aja).

Yeah, kalo pembaca udah ngikutin saya sampai sini, pasti udah bisa memperkirakan penilaian saya terhadap novel ini. Yup. MANTRA bukanlah novel yang bagus, alih-alih menggetarkan. Tapi itu justru menjadi materi yang 'bagus' buat Fikfanindo, bukan? Dari mana lagi kita belajar menulis lebih baik, selain dari membedah karya-karya ngga bermutu? (OK, I'm being too selfishly rude, here. Gue perhalus: karya yang masih memiliki sejumlah kelemahan, karena sesungguhnya kelemahan adalah milik kita bersama!). Minimal kita bisa mengetahui apa saja yang musti kita hindari. Dan thanks to mas Sutanto dan DIVA Press, pembelajaran kita kali ini menjadi sungguh -ehm- 'menggetarkan'.

Pertama, let's talk about desain cover. Gak jelek, sebenernya. Cover langsung berbicara sebagai novel Fantasy, dengan montase grafis berupa wajah seorang gadis bercadar tertutup setengah, seorang pria tampak punggung berbusana ala Victorian, sebuah istana di tengah padang gurun, serta sesosok (kemungkinan tokoh antagonis) tentara berbaju zirah model Timur dengan wajah Mongoloid. Sedikit-banyak mengambil nuansa trendy Novel-novel 'Islami' yang berebutan memirip-miripkan diri dengan Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik (memiripkan cover, tepatnya), namun dengan properties yang lebih unik yaitu busana dan istana yang sangat mengesankan Fantasy. Well, biar bukan seleraku, kupikir Covernya cukup menjual, lah. Dan ceweknya sumpah mirip banget sama Cameron Diaz, gak tahu tuh si Graphic Designer, Gobaqsodor, dapet comot dari Film mana, hehehe. Tapi suwer, ini contoh Cover yang by itself akan sukses menarik pembaca untuk membeli novel, tanpa tahu bahwa antara Cover dan isi gak terlampau berhubungan.

Di cover belakang tercetak Sinopsis Novel yang --sampai ada yang protes juga di Forum-- semata mencuplik halaman Prolog. Gila. Those act alone udah cheap, belum ditambah dengan penjabaran sinopsis-prolog yang --dengan polosnya-- langsung membeberkan kualitas-kualitas mediocre buku ini sejak paparan pertama! Dari mana aku bisa bilang begitu? Well, ini sekedar kesan pribadi aja kali yee,... tapi I cannot help it. Radar gue langsung mengatakan ada yang 'salah' saat sebuah Sinopsis yang udah ketahuan banget plot dan 'gimana bakal diolah'nya, menutup dirinya dengan mengatakan: "Simak cerita seru novel menggetarkan ini yang akan membuat Anda tegang dan bergidik dari awal hingga akhir!"

Yah, gak ada salahnya sih jual diri, tapi, gimana ya? Statemen seperti "Tegang" dan "bergidik" itu rasanya terlampau bombastis, seperti juga "menggetarkan". Akibatnya jadi overpromise. Dan celakalah overpromise kalau di ujungnya ternyata "under-deliver". Dan aku ngaku di sini: Statemen seperti itu sumpe gak bikin aku penasaran akan 'seru'nya novel, melainkan sebaliknya, penasaran seberapa bad it can get!. Point: hati-hati dengan janji anda!

Sinopsis halaman belakang itu juga sukses membuat radar gue bereaksi berkat sejublek nama-nama aneh yang tertera di situ: Raja Keindizie Romein, Kerajaan Afzein, Kerajaan Dombire, Ratu Nivera. Wow, Paragraf pertama udah slaps 4 nama asing. Dilanjutkan dengan: Raja Keintjizie Romein, Panglima Romuza, Kizzorgy Poesie, Kakek Herdtqolf. Altogether udah 8 nama 'fantasy-wanna-be', bahkan sebelum cerita dimulai!

Gue nyengir. Gak kebayang ada berapa lagi di dalam.

Dan cengiran gue bersambut dengan setidaknya data berikut ini.

Here goes, 'Fantasiyah Names' in order of appearance:

1. Keindizie Romein
2. (Kerajaan) Afzein
3. (Kerajaan) Dombire
4. Nivera
5. Keintjizie Romein
6. Romuza
7. Kizzorgy Poesie
8. Herdtqolf
9. Giffins
10. Qollie Poesie
11. Vidderol
12. Willhole
13. Bibi Lily
14. Meltrein
15. Sally Poesie
16. Tuan Poddy
17. Tuan Ogst
18. Tiffany
19. Grins
20. Litta Peavey
21. Hirroqla
22. Zerrox
23. Tuan Verrys Vortin
24. Snerpen
25. Blackky
26. Geevon
27. Hanks
28. Bobby Boot
29. Fingger
30. Schakel Volt
31. Carry Catzel
32. Maigrett Hutson
33. Reizen
34. Cycloon
35. Tuan Nuttigheid
36. Zavier Lattosa

Plus:
37. (Jurang/ Pantai) Ruttcivil
38. (Burung) Reuz
39. (bukit) Soury
40. (tenaga) Xyfort
41. (pegunungan) Winstille
42. Lottuse
43. (lambang) Edelblitt

Nah, rekan-rekan lihat sendiri, ada 43 names, 43 incoherent names bermunculan di buku ini, ada nama-nama yang bahkan baru hadir belakangan di halaman-halaman buntut. Dan perhatikanlah nama-nama tersebut, coba baca urut satu persatu dan coba temukan apakah ada suatu benang merah, suatu kesamaan 'rasa' yang bisa mengacu pada suatu kesinambungan budaya, bahasa, yang menjadi dasar pengucapan nama-nama itu. Bagaimana pengaturan nama manusia, nama hewan, nama fam/ keluarga dll.

Nope. It's just incoherent names, taken from thin air, I guess. Udah gitu trus bacanya gimana, ga jelas. Ambil contoh nama Herdtqolf. Mari kita baca Herdtqolf sekali, Herdtqolf dua kali, Herdtqolf delapan kali,... pegel gak? Tapi perhatikan satu 'benang merah' dari penulisan nama-nama di atas: sebagian besar menggunakan dobel konsonan. Perlunya apa dibuat begitu, rasaya gak terlalu jelas, mungkin sekedar gaya cipta sang pengarang aja.

(Ooh, jadi agar terasa 'Fantasy', sebuah nama aja harus dibikin 'rumit', ya?)

Tentu saja nggak. Bahkan kita bisa belajar dari Stephen King dalam bukunya: "Stephen King on Writing". Ada contoh yang bagus. Stephen King membuat sebuah nama tokoh Mr. Ostermeyer dalam draft novelnya: The Hotel Story (judul finalnya menjadi: Room 1048). Dan belakangan beliau me-find-replace nama tersebut dengan nama yang justru lebih gampang, Mr. Olin.

Lho, kenapa? Bukankah Mr. Ostermeyer lebih keren, gitu lowh? Ternyata pertimbangannya simpel tapi cukup substansial, antara lain:

1. Dengan merubah nama ytd 9 huruf menjadi 4 huruf, dia sudah memperpendek jumlah halaman draftnya secara cukup signifikan.
2. Rencananya naskah itu juga mau dijadikan audiobook (novel yang dibacakan), dan dia ngebayangin betapa repotnya sang Narator, atau dirinya sendiri, bila setiap saat harus mengucapkan Mister Ostermeyer berulang-ulang.

Nah, seorang Stephen King aja punya strategi dalam membuat nama tokoh. Bagaimana dengan kita? Okelah, mungkin ga perlu siapin strategi yang macem-macem, cukup gimana kalau kita mengkonstruksikan nama-nama yang 'masuk akal' dalam Universe kita, gak usah bikin 'aneh' just for the sake of 'aneh'.

Ada juga komentar dari teman-teman di Forum Pulpen (http://www.lautanindonesia.com/), bahwa penamaan Kizzorgy Poesie sebagai tokoh protagonis terasa gak cocok. Kizzorgy Poesie (kalau diurai bisa menjelma menjadi sesuatu yang berkonotasi,... not too appropriate) yang dipanggil: Zorg, dikomentari lebih cocok menjadi nama tokoh antagonis, misalnya nama monster atau penjahat. Rasanya aku setuju juga. Nama memang membawa karakter terpendam. Pengarang mestinya lebih jeli, walaupun kontradiksi dalam hal nama masih mudah diselamatkan melalui penjabaran karakterisasi yang kuat.

Bicara karakterisasi, buat saya di MANTRA ini masih di bawah standar, bahkan terancam lebih rendah lagi akibat inkonsistensi perilaku terhadap plot. Karakter yang ada semata hitam-putih, dengan perilaku klise. Dan yang bikin parah adalah pengarang tidak mengendalikan perilaku mereka agar konsisten terhadap plot. Dalam banyak adegan, setiap tokoh bisa bertindak di luar karakter. Dan cacat ini paling terasa di adegan-adegan 'ngebanyol' yang dibuat oleh pengarang.

Eh, gue bukannya anti humor. Tapi seyogyanya humor diperlakukan sebagai plot device dalam posisi dan porsi yang relevan. Humor salah-tempat akan membuat excitement adegan menjadi rusak. Mirip sama situasi dimana seorang manager membuat lelucon di dalam rapat yang dihadiri Direktur Utama, terus karena leluconnya garing, bukannya hadirin tertawa dia malah dipelototin pak Dirut.

Banyolan 'asal' di novel ini,.. begitu bejibun sampai --bagi saya-- bener-bener ngerusak seluruh buku! Umumnya banyolan di sini dieksekusi dalam bentuk pertengkaran verbal antara dua tokoh. Ada antara Zorg dengan his side-kick Giffin, antara Zorg dengan kakek Herdtqolf, antara Zorg dengan Romuza (musuhnya!), tokoh A dengan tokoh B, B-C, C-D, B-D, you get the picture. Pertengkaran-gak penting-ngeselin macam itu bisa terjadi dalam segala situasi. Situasi rileks, situasi tegang, bahkan dalam situasi bergidik (jangan lupa, Novel ini menjanjikan anda 'tegang' dan 'bergidik', kan? Hehehe).

Kalo mau ngebayangin, bayangkanlah sebuah adegan film Fantasy yang dibintangi oleh para pelawak Srimulat plus Haji Bokir dkk, dan di tengah-tengah adegan suspense mulailah mereka bertengkar --dengan usaha keras untuk terlihat lucu-- bisa dengan komentar-komentar non-sequitur konyol atau adegan slapstick. Dan terus-terang, saya nggak bisa tertawa untuk itu. Entah bagaimana dengan anda. Atau kalau mau pengandaian lain, lihat saja ulah trio Komeng-Adul-Olga berusaha melucu dengan inkoherennya dalam Gong Show-TransTV, sehingga ulah mereka justru menihilkan pertunjukan para bintang tamu (yg udah berlatih dengan keringat dan darah untuk tampil di TV) secara miserably ngga lucu.

So humour, I think is the worst part of this book.

Cacat lainnya yang sebetulnya gak terlalu fatal, tapi cukup menimbulkan pertanyaan bahkan mengarah ada kesimpulan 'dangkal-setting' untuk novel ini, adalah penggunaan properties yang rada 'ngasal' (baca: gak jelas dasar teorinya).
Perhatikan properties berikut ini:

1. Kunci Ajaib
2. Rompi Anti Baja
3. Jubah Tak Terlihat
4. Alat Perekam + Charger
5. Senapan Bius
6. Sepatu Karet
7. Foto
8. Jam dinding
9. Jam tangan
10. Film (ref: Film-film percintaan)
11. Perangkap tikus berukuran sangat besar
12. Gas air mata
13. Pistol
14. Laba-laba pelacak yang kalau marah menggigit hidung orang
15. Minuman Coklat
16. Minuman Ginseng hangat
17. Senter
18. Per-loncat Sepatu
19. Alkohol
20. Kemenyan
21. Semen

Sebagian besar properties muncul begitu aja tanpa penjelasan darimana dapatnya, bagaimana cara kerjanya, teknologinya dll. Perkecualian untuk beberapa pernik yang dibuat oleh Tuan Poddy (Tuan ini apa kerjanya di istana, gak jelas. Kayaknya semacam penemu, tapi kelihatannya hanya bekerja untuk menciptakan barang-barang yang 'kebetulan' dibutuhkan oleh Zorg! Gak ada referensi dia bikin inventions lainnya untuk kehidupan istana tersebut); Misalnya Sepatu karet, Sepatu ber-per, Alat Perekam, Senapan Bius.

Dan itu pun gak dijelaskan teknologinya secara nalar. Salah satu contoh adalah alat perekam portabel, diceritakan bisa digunakan untuk record dan playback audio (MP3 player ala Fantasy!), yang MENGGUNAKAN BATERAI DAN HARUS DICAS (Catatan: Kata-kata "di-charge" bener-bener ditulis "di-cas"! Apakah memang demikian menurut KBBI?). Numpang tanyaa Baaang! Ntu dicasnya di stekker nyang mannnahh??? Di istana ini gak ada stekker!!

Alamak! Ga tau lagi harus komentar gimana. Kayaknya kalau gue maksain analisis yang 'proper' malah akan kedengeran sebagai orang sotoy. Tapi beberapa properties memang seperti kontradiktif keberadaannya dengan setting dimana universe MANTRA dibangun. Seperti misalnya alat perekam itu, musti dicas di mana, wong setting Afzein sepertinya tidak ada listrik. Terus gimana bisa ada FOTO keluarga (ini keluarga petani, mind you) itu cuci-cetaknya dimana? Fuji Film? Kenapa gak disebut lukisan aja, yang lebih masuk akal. Dan keanehan-keanehan semenyolok itupun dibiarkan berlalu tanpa penjelasan.

Jubah Tak Terlihat, yang suppose to be barang 'rahasia' (udahlah, telak-telak niru Harry Potter nich!), tadinya kupikir hanya ada satu stel dan gak banyak orang di kerajaan itu yang tahu bahwa ada barang kayak gituan. Gak tahunya di adegan akhir, bisa dipakai oleh empat orang,.. berarti ada empat stel, dong! Oh nggak, boss: ada SE-LEMARI! Wahahaha (becanda).

Dan sepertinya merupakan barang yang biasa aja beredar, secara ngga ada yang heran-setengah-mokad ngelihat Jubah Tak Terlihat (BTW, gimana caranya melihat Jubah Tak Terlihat, yach? *Garuk-garuk pala*). "Wuits, so apa masalahnya," tanya lo? Itu Grand issue, bro. Kalau keberadaan barang antik semacam Jubah Tak Terlihat itu sudah common di istana tersebut, maka seluruh kehidupan sosial akan berubah. Akan ada cara-cara yang umum untuk mencegah orang menerobos privasi orang lain menggunakan jubah tersebut, akhirnya efektivitas barang macam itu juga akan ter-compromise. Kepikir sekarang, gimana konsekuensi timbal-balik untuk fakta yang kelihatan remeh ini? Yup, inilah yang bikin kenapa Fantasy gak segampang Pure-Ngayal.

Zorg punya "Kunci Ajaib" (entah gimana asal-muasalnya) yang bisa dipakai membuka berbagai macam pintu, tapi ngga sekalipun dipakai untuk membuka rantai narapidana yang mengikat kaki si Zorg selama bertahun-tahun. Look who's been so smart afterall.

Rantai ini pula. Ini adalah termasuk jenis "Properti seingetnya". Maksudnya hanya di-mention oleh pengarang dikala inget, dan diabaikan keberadaannya dikala pengarang lupa. Berbagai action yang menjadi mustahil, seperti berlari, menendang, berjalan-jalan di tengah mayat-mayat-berbelatung-terinjak-di kepala-matanya-loncat tanpa 'ewwww-nya' nyangkut, mengendap-endap tanpa mengganggu gerakan (atau bergemerincing acan) dikerjakan pada saat rantai masih terpasang sentosa di kaki si Zorgie.

Lupa,... lupa-lupa-lupa, lupa lagi rantai-nya. :)

Contoh "Properti seingetnya" yang lain adalah Prajurit Afzein. Gak jelas tuh istana punya berapa prajurit dan ada dimana. Kadang kalo lagi diperlukan (oleh pengarang) ada satu dua yang menjaga koridor. Tapi di adegan lain gak eksis. Bisa aja ada adegan dimana prajurit seolah menghilang semua, sehingga tokoh-tokoh itu bisa berkeliaran di istana tanpa kepergok satu prajurit pun. Tapi, laginya mau perang, tau-tau langsung ada 4500, sementara di halaman-halaman sebelumnya seratus pun gak terasa keberadaannya. Yang 4500 di hal. 389 aja bisa bengkak jadi 7000 hanya dua halaman setelahnya di hal. 391!

So ini peringatan buat semua pengarang termasuk saya juga. Please selalu ingat dengan kondisi fisik-mental setiap karakter kita, properti setting kita, setiap waktu. Error kasus Rantai di atas adalah contoh ekstrim-tapi-nyata, sementara dalam kasus yang lebih sederhana (oleh karenanya sangat mungkin kita overlook) mungkin terjadi juga dalam karya-karya kita.

Terus ada propety burung kesayangan kakek Herdtqolf yang meneteskan air mata kehidupan (Fawkes, anybody?) bernama Geevon. Rupanya inilah the secret recipe dari ketabiban kakek Herdtqolf! Tapi nih burung gak sembarangan bisa meneteskan air mata kehidupan! Harus dinyanyiin dulu oleh kakek sendiri dengan lagu seperti ini:

Ketika sayapmu patah
Kau takkan bisa terbang
Ketika kakimu luka
Kau takkan sanggup menerkam

Menangislah, Geevon yang lucu
Sahabatmu sedang menunggu.

Tak lama setelah itu, Geevon terhanyut oleh suasana dan segera mengeluarkan air mata (hal.344)

(silently, aku juga mengeluarkan air mata. You know how & why)

Setelah names & properties dibelejetin secukupnya, apa lagi yang bisa kita gali dari novel ini?

Gimana ya, Pengarang memang masih perlu belajar menulis lebih baik (kita pun juga!). Dari apa yang saya baca, saya melihat kualitas tulisan mas Susanto masih naik-turun. Kadang ada frasa yang bagus, tapi frasa lain justru jeblok. Saya merasakan inkonsistensi, seolah yang menulis itu bukan satu orang yang sama.

Tulisan mas Susanto, apabila dibaca dalam kelompok kecil-kecil, misalnya satu paragraf saja, masih terasa Okay. Tapi kalau dilihat bangunan-besar nya, maka akan terlihat sambungan-sambungan logika, sambungan irama, sambungan suasana dan sejenisnya masih terasa rapuh.

Terus, siapa itu yang punya ide ngawur menjadikan Sinopsis sebagai Prolog?? Prolog koq ngebeberin overall plot? Mendingan juga adegan pembuka "un-balsaming-nya si Zorg" itu, rasanya cukup kuat digunakan sebagai Prolog (terlepas dari isi adegannya, yang menurut gue merupakan konsep adegan paling ancur yang pernah gue baca. Tapi kreatif nevertheless!). Atau ya ga usah pakai prolog sama sekali juga gapapa, koq.

Satu catatan dalam teknis penulisan, atau tepatnya di sini adalah pembagian informasi/ adegan, Pengarang cenderung menyampaikan informasi terkait satu adegan secara sekaligus menjelang adegan tersebut dieksekusi. Misalnya mau menyampaikan adegan A, maka segala informasi terkait adegan A tersebut disajikan 'ngumpul' dalam paragraf-paragraf yang menduluinya. Memang di satu sisi teknik itu membuat pembaca keep informed. Tapi sekaligus juga membuat pembaca yang cerdas akan langsung dapat menebak apa yang akan terjadi, dan bacaan jadi kurang seru. Kurasa pengarang perlu mengembangkan teknik penyajian informasi secara berjenjang dan bertahap, supaya hasil karyanya lebih appealing. Ini juga buat menjaga agar 'grand-design' cerita juga dapat terpelihara.

Terus kelemahan logika adegan juga banyak terjadi. Yang paling mendasar aja, soal time-line (alur waktu-- adalah merupakan landasan hubungan logika sebab-akibat dalam plot sebuah novel) masih belum diperhatikan dengan baik. Informasi time-line agaknya kacau atau baur. Saya mencoba menyarikan dan menemukan kira-kira seperti ini:

Saat Zorg bayi --> serangan pertama kerajaan Dombire. Ayah Zorg, Raja Keindizie, tewas.
Masa kanak-kanak --> Somehow Zorg jadi anak petani, kekuasaan dipegang oleh Raja Keintjizie. Sudah berteman dengan Tiffany di kampung, dan Giffins (gak dijelaskan berteman dengan Giffins di mana, tapi disebutkan sebagai teman masa kecil)
Umur 10 tahun --> Zorg dipenjara seumur hidup karena membawa kotak berisi peledak Nexus (sic!), selama di penjara sering ditengokin Giffins.
Umur 14 tahun --> keluar dari dungeon, rubah status menjadi tahanan-pencuci-piring
Umur 16 tahun --> Raja Keintjizie meninggal diguna-guna.
Umur 17 tahun --> status menjadi pemelihara taman,
Umur 18 tahun --> time-line saat ini. Entah gimana dia dibunuh dan entah kenapa bodynya dibalsem selama dua hari, dan sepuluh hari lagi adalah penentuan Raja ketiga. Kalo keturunan Raja yang sah gak nongol maka Panglima Romuza menjadi Raja.

Time line di atas disajikan secara campur aduk, informasinya bertebaran di berbagai tempat, sehingga --jangankan pembaca-- Pengarangnya tampaknya juga bingung dan rancu, sehingga sempat terjadi kesalahan. Misalnya Permaisuri (ibunya Zorg) dikatakan masih hidup, sementara tampaknya yang dimaksud adalah Permaisuri (kakak iparnya Zorg) (Hal.65)

Juga kondisi Kota Afzein dimantrai oleh Ratu Nivera (sehingga menjadi kota yang diselubungi force-field mematikan, gak ada orang yang bisa keluar-masuk Kota) dikatakan sudah berlangsung "beberapa puluh tahun" (hal.410), sementara peristiwa penyerangan itu berlangsung saat Zorg bayi (it means only 18 years ago, max!)

Terus apa logika yang mendasari konsep: Sepuluh hari lagi penobatan Raja, kalo Kizzorgy gak muncul maka kekuasaan beralih ke Romuza? So, ada 'peraturan kerajaan' di mana kerajaan bisa vakum selama dua tahun tambah-kurang sepuluh hari untuk menunggu 'datang'nya sang keturunan,...wait! SIAPA yang tahu Kizzorgy (the other Son) masih hidup?? He's been declared dead since the FIRST attack, that is 18 years ago! Ga seorang pun suppose to be tahu bahwa Kizzorgy selamat di tangan seorang petani gandum (yang menanam gandumnya di sawah, BTW). Orang-orang Afzein gak ada kerjaan itu gak punya alasan apapun untuk menunda cari Raja baru sampai 2 tahun sejak meninggalnya Raja Keintjizie!

Sekarang logika motivasi para karakter. Let's see:

1. Kizzorgy yang narapidana cilik turns to be heir to the throne: Motivasi terbesar dalam hidupnya adalah cuma makan Daging Panggang dan Kepiting Bakar. Nothing else. Kenapa dia mau-mau aja didapuk jadi calon Raja dari kerajaan yang udah semena-mena mengabuse kebebasannya selama bertahun-tahun tanpa peri-kemanusiaan, dengan cerita-cerita bullshit soal him-being-the-heir-of,... itu aja udah gak kena. Belum soal kitab rahasia malaikat-(ini ntar gue kupas tersendiri)-cum-tato-sayap-malaikat bla-bla-bla,... ini gak maen logika. Ini mainnya Egosentrisme!

2. Kakek Herdtqolf: aki-aki gak punya kerjaan jelas (Tabib kerajaan?) yang tanpa penyebab jelas juga telah membalsem tubuh Kizzorgy (kalo cuma mati suri dua hari ngapain juga diawetkan sih?) dan ujug-ujug merejuvenate-nya trus mengatakan bahwa dialah sang pangeran. Motivasinya adalah menjadi mentor dan penyampai kitab pusaka rahasia malaikat. Dan mukul pantat si Zorg along the way.

3. Giffins: kurcaci sidekick yang ukuran tubuhnya bisa meninggi secara gak disadari oleh pengarang (biasaaa,... "property seingetnya"!). Motivasinya dalam cerita adalah makan, buang air besar (seriously!), menggerutu, bertengkar dan menolong sahabatnya Zorg setulus-tulusnya tanpa mengharap imbalan apapun kecuali bisa nyabet jatah makan siang Zorg untuk dirinya.

4. Tiffany: cewek cantik kekasih-sahabat masa kecil Zorg yang,.... ga punya motivasi kecuali sebagai pemanis cerita. She's a doll not a person.

5. Romuza: panglima kepercayaan Raja yang membelot menjadi penjahat sejahat-jahatnya. Motivasinya berubah-ubah sesuai suasana hati pengarang, demikian pula sifatnya yang sebelumnya (konon) kejam/ sadis, bisa menjadi lembek/ cengeng, terutama setelah menjalani adegan slap-stick pemukulan hidung yang bertubi-tubi itu. Terus gak ngerti gue, kenapa nih orang dengan kekuasaannya yang besar (pengganti Raja, gitu loh!) gak --gampangnya-- tangkep aja si Kizzorgy dan langsung dieksekusi, gak usah pake aksi ploy-ploy-an pake silent asassin segala. That smart@ss stays in YOUR castle, for G*d's sake!! Now let's hear a quote from the He-who-is-most-feared Romuza, "Kau tidak keberatan kan, Anak muda? Atau, aku harus menyuruh pengawalku untuk mencubit pahamu sebagai tanda permintaanku?" (Hal. 43). Awwww, Bo! Ngeri dewh akikaw!!

6. Ratu Nivera: Musuh sejati, yang nggak menginginkan apa-apa kecuali menjadi musuh sejati kerajaan Afzein! Tulus bangetz. I mean, setelah membunuh dua Raja. Dia cuma memagari Kota Afzein dengan Bad-spell untuk tujuan yang gak jelas (apa gunanya mengurung penduduk berpuluh tahun dan minta tumbal tiap enam hari sekali? Tuh penduduk seharusnya udah mokad abis di tiga bulan pertama karena kelaparan!), lalu duduk-duduk di Istana kegelapan bersama pasukannya dalam adegan-adegan yang sangat-banget-mirip-adegan-kethoprak.

7. Dan karakter-karakter lain yang timbul-tenggelam dari panggung hanya sebagai figuran dari aksi-gaya si tokoh utama: Kizzorgy Poesie!

Omong soal timbul-tenggelam dari panggung, dan kethoprak, gue jadi kepikir bahwa cara Pengarang menghandle para karakter novel ini mirip banget sama gaya Dalang mengeluarkan wayang dari kotak untuk satu adegan lalu memasukkan kembali setelah adegan selesai, silih berganti. Rasanya persis seperti itu. Artinya para karakter seolah tak punya hal lain untuk dikerjakan selepas dia berurusan dengan si Zorg. Tidak punya 'kehidupan' lain.

Ya itulah, manajemen Motivasinya masih belum bagus. Siapa melakukan apa karena apa, masih gak terlalu dicermati oleh pengarang. Semua masih terpusat pada sosok Zorg seorang.

Ini juga aku sebut sebagai Egosentrisme. Everything is about Zorg.

Come to think of it, mendingan dia dinamain Egos aja, daripada Zorg, hehehe. Seluruh cast-karakter dalam buku ini seolah didesain hanya buat mengglorify si Zorg, even sampai cara Zorg melakukan monolog aja, ujung-ujungnya terasa hanya buat efek self-glorification. Yeah, I know about alter-ego. Gimana pengarang mensublimasi ego dirinya ke dalam ego tokoh utama novel. Itu naluriah wajar, manusiawi. Tapi this is already over the top, man! Pembaca sampai gak kebagian tempat.

Segitu egosentris sampai berpengaruh ke logika cerita juga. Dalam hal ini pengarang terlampau 'menjagokan' tokohnya sehingga dia berada di luar 'batas' karakter yang logis dalam universe Afzein.

Contohnya dalam hal mumbo-jumbo tato sayap malaikat sampai tenaga Xyfort (tenaga-dalam yang namanya seperti merk obat). Konon katanya, tenaga ini hanya dimiliki oleh pewaris Raja. Dan dengan tenaga inilah akhirnya si Zorg bisa membabat habis monster-monster ganas termasuk mengalahkan Ratu Nivera, dengan perlawanan relatif enteng. Well, ada yang terlupakan. Logikanya ngga cuma si Zorg yang punya Xyfort, mustinya abangnya si Keintjizie dan bokapnya si Keindizie juga punya lah, dan bahkan mereka suppose to be lebih menguasai Kitab Rahasia Malaikat dibanding si Zorg (soalnya belajarnya lebih serius, ga kayak si Zorg yang cuma sempat baca sepotong-sepotong). Tapi koq mereka gak berdaya melawan si Ratu jahat itu, ya? Cuma Zorg yang hueebbats!

Trus adegan sembah-sembahan, adegan sanjung-menyanjung dan penyebutan pangeran (sok gak mau dipanggil pangeran, tapi gimana gitu lowh),... oh well.

Logika setting lokasi: lumayan error walau gak fatal juga, mengingat MANTRA hanya melibatkan sedikit lokasi, yaitu Ruang Bawah Tanah untuk Babu, Ruang Penyiksaan, Area Istana (Kamar Romuza, Ruang Kerja Romuza dan kamar beberapa tokoh lain), Desa Keramat-tempat-orang-buang-Mayat, dan Istana Dombire yang berada di dalam gua di langit (???). Sedikit kekaburan setting aja, karena ada plot bahwa KOTA Afzein dipagari dengan Mantra jahat, tapi para tokoh bisa berjalan ke DESA KERAMAT. Well, memang gak dijelaskan apakah Desa tersebut berada di dalam atau di luar batas Kota. Tapi dengan asumsi perjalanan 1 jam dengan berjalan kaki (Zorg kakinya dirantai, tapi tampaknya kecepatan jalannya tak beda dengan rekan-rekannya yang gak dirantai), maka wajar saja mengasumsikan dalam setting kerajaan semacam Afzein ini bahwa letak Desa macam itu setidaknya berada di luar batas kota.

Logika aksi-reaksi: nah ini yang terparah. Sebagian besar aksi-reaksi dalam Novel ini berlangsung secara unbelievable. Bagaimana aksi kakek Herdtqolf yang mengawetkan jasad Zorg yang disangka mati padahal belum mati, gak jelas alasannya. Reaksi Romuza setelah tahu Zorg adalah sang pangeran yang hilang, juga terasa gak logis. Kemudian situasi ketegangan hidup-mati antara Zorg vs Romuza (pada saat Zorg -babu/ tahanan; tertangkap menyusup ke kamar Romuza -penguasa/ pengganti Raja) diselesaikan dengan dialog ala tebak-tebakan, dan Zorg can get away without dire consequence, kayak polah kanak-kanak aja. Sulit bagi saya untuk tegang, atau bergidik, atau tergetar akibat adegan semacam itu. Inilah yang membuat novel Mantra menjadi terasa sangat lemah.

Wokeh, ngomongin jeleknya terus dari tadi. Sekarang kita ngomongin bagusnya.

Hal positif yang sudah diraih oleh mas Susanto antara lain adalah: cara bertutur yang jelas. Clear. Pengkalimatannya mudah dimengerti oleh pembaca. Alur cerita berjalan cukup lancar (memang timbul pertanyaan di sana-sini dikarenakan aspek logikanya), dan kalau pembacanya gak banyak protes kayak saya, maka dia niscaya masih bisa mengikuti ceritanya. Susunan alur-plot sendiri lumayan, lah, walau gak terlalu kompleks juga. Penggunaan berbagai perangkat unik (walaupun konsistensi logikanya bermasalah) untuk menyelesaikan berbagai hambatan dalam petualangan si Zorg ini juga menunjukkan bahwa Pengarang punya potensi kreativitas yang baik.

Oke sebagai penutup, mengenai judul MANTRA dan KITAB RAHASIA MALAIKAT. Ini deserves pembahasan tersendiri.

Konsep Mantra merupakan tema-besar Novel ini, yang walaupun disampaikan secara tergagap-gagap, tetap merupakan sebuah konsep menarik by itself. Saya bisa menangkap grand idea-nya Mas Susanto, mengenai adanya suatu rangkaian mantra yang mampu mendatangkan kekuatan spiritual, dan jujur saja konsep yang tertuang dalam mantra itu sebenernya cukup bagus.

Saya kutip salah satu Mantra di sini:

"Hilangkanlah dirimu dari segala keterpurukan, percayalah pada hatimu untuk mendapat kekuatan dari Tuhan"

atau

"Malaikat penguasa api. Bumi hanyalah sebongkah bola besi. Kemurnian api suci menghancurkan kayu, tanah, air, dan besi. Jadilah api suci, maka tunduk segala batari"

Well,... susunan kata-katanya masih belum begitu pas memenuhi persyaratan sebagai sebuah mantra atau kantata, tapi the idea is there. Dan bahwa kata-kata di atas punya khasiat tertentu, itu boleh juga.

Cuma memang pengolahannya harus mendalam. Apalagi di sini kita bicara spiritual-strength. Dalam Novel, si Zorg yang baru membaca mantra satu kali aja udah mengalami semacam 'kerasukan' energi. Rasanya itu membuat the whole concept jadi terasa hambar. Akan lebih menarik apabila terjadi pergulatan batin, proses pemahaman sang tokoh akan makna lahir-batin dari kata-kata tersebut. Si tokoh harus sampai pada pemahaman yang sempurna, sebelum ilmu tersebut terwujud dalam dirinya.

Mekanisme seperti itulah yang akan membuat konsep Mantra, Ilmu, yang macam ini menjadi menarik.

Terus mengenai Kitab Rahasia Malaikat, obyek utama dalam Novel ini yang --sayangnya-- cuma berperan sebagai obyek mati semata. Di sini pengarang kurang maksimal mengolah konsep sebuah ilmu 'tinggi' yang tersimpan dalam sebuah kitab, menanti saatnya digali oleh the chosen one. Mungkin konsep kayak gitu masih 'ketinggian' juga buat sang pengarang, ya? Sampai terekspresikan dalam tulisannya sendiri seperti ini:

...mengambil sebuah buku yang sangat tebal, mirip kitab, berjudul Rahasia Malaikat dari laci mejanya... Tak lama setelah itu, kakek memandangku cukup lama dengan mata elangnya, kemudian menyodorkan buku tebal yang mirib kitab itu di depanku (hal.17).

Gak usah pakai "mirip kitab" lah itu udah jelas kitab, mas! Apa bedanya? Kemudian penamaan KITAB RAHASIA MALAIKAT yang beda jauh dengan sub-judul RAHASIA KITAB MALAIKAT, itu juga menunjukkan bahwa konsep buku ini lebih sebagai tempelan, alih-alih grand idea. Sayang, sebenernya.

Okeh rekans, jadi begitulah hasil pembelajaran yang bisa saya share lewat buku MANTRA: Rahasia Kitab Malaikat - Sebuah Novel Menggetarkan.

Moga-moga menjadi manfat buat kita bersama. Mas Susanto, gak usah kecil hati. Saya memang bilang novel ini (masih) jelek. Tapi ingat, Anda bukan novel anda. Novel anda hanyalah potret kapasitas anda di masa lalu. Sementara anda bisa belajar lagi, giat mengembangkan diri lagi sehingga anda akan menjadi penulis yang lebih baik di masa datang. Kerja keraslah, and welcome di dunia kepengarangan!

Salam,

FA Purawan

Selasa, 07 Juli 2009

THE PRINCE MUST DIE! (Langit KH - 2007)



Penerbit: Iqra - Smart Media
Editor: Didik Hermawan
Illustrator: NasSirun PurwOkartun
Desain Cover: NasSirun PurwOkartun
Tata Letak: KamarkeciL studio
Tebal: 276 halaman


Sebelum dilanjutkan, saya tegaskan dulu bahwa kekacauan penempatan huruf kapital di atas bukan ulah saya salah mengetik, melainkan memang sudah demikian dari sono-nya. Now why would someone think THAT as a sign of coolness --sEPerTi gAya AnaK gAUl GheTOO looH-- it beats me!

Sebaiknya gue ikut-ikutan menciptakan gaya baru dengan membuat review: yng mnghlngkn slrh hrf vkl dr tlsn spnjng lm bls prgrf sprt n!

Gimana? Keren gak, gue???

(Capee deh,...)



Oke, selamat gini hari pembaca blog ku yang budiman. Berikut hadir sebuah karya yang sangat menarik untuk kita pelajari, yang intinya bagaimana belajar dari seorang pengarang senior yang mencoba menulis dengan gaya remaja-remaja gaul dan mendapatkan 'fall flat in the face' sebagai hasilnya!

Sorry pak LKH, you used to be pengarang idola saya. Sekarang,... well, setidaknya setelah saya selesai dengan review ini, saya akan melupakan pak LKH pernah menuliskan novel ini dan oleh karenanya tetap --dengan kalem-- menganggap bapak sebagai pengarang idola saya!

Sebuah novel tipis dengan judul berbahasa Inggris: The Prince Must Die! (PMD), Bersampulkan siluet 3 sosok pria seperti mahasiswa (aneh sebab tokoh pria di novel ini cuma dua orang dari empat, dan dua laginya adalah cewek), judul plus efek percikan darah serta jargon: Petualangan Menembus Batas, dan latar belakang berupa gapura disambar petir. Terus-terang konsep covernya sama sekali gak menjual, kalau saja tidak ada nama Langit Kresna Hariadi di pojok kiri atas, sehingga penggemar LKH bisa menangkap kaitan gapura tersebut dengan 'bau-bau'nya karya LKH.

Pak LKH sebagaimana dalam sambutannya, sedang berusaha masuk ke dunia remaja --satu hal yang diakuinya sendiri sebagai sulit minta ampun-- dengan meng-create sebuah novel remaja bertema fantasi-sejarah. Ceritanya tentang empat remaja di tahun 2007 yang tersedot balik ke masa lalu straight to Singasari di jamannya Ken Arok, dan terlibat petualangan kecil di sana.

Sekilas, jadi teringat novelnya Djokolelono "Terlempar ke Masa Silam" kalo gak salah begitu judulnya.

Jadi idenya gak terlampau orisinil, tapi tetap saja menarik. Apalagi, LKH sudah terbukti piawai mengolah universe Majapahit di novel Gajah Mada. Maka ngomongin Ken Arok rasanya tak akan sulit bagi beliau.

Ya, ngomongin universe Ken Arok-nya, memang gak masalah lagi. Tapi saat ngomongin universe remaja 2007-an, beliau is in BIG trouble!

Let's start. Pertama-tama kalo mo ngomongin dunia anak muda (coba dengar kata-kata saya ini; seolah-olah saya punya kredibilitas untuk bicara mengenai anak muda. Hahahah!) sebaiknya pengarang-pengarang jadul (and that includes: ME!) jangan sungkan-sungkan untuk minta bantuan pada anak muda. Setidaknya untuk satu aspek sederhana-tapi-mendasar: Nama tokoh.

Yeah. Kan gak sulit, untuk minta dibikinin nama tokoh. Tinggal minta tolong aja, hehehe. Dengan tokoh-tokoh bernama: Nauval, Marshanda, Lenggang, dan Emilia, Pak LKH seolah menarik garis batas dengan kaum pembaca muda yang akan merasakan nama-nama macam itu bukan nama yang "Gue-banget". Well, those names just 'proper' as older-people's state of mind. Itu nama-nama yang ada dalam frame berpikir orang-orang tua. Remaja akan merasa asing terhadapnya, dan bahkan akan 'merusak'nya (baca: mendekonstruksikan) agar lebih sesuai dengan alam mereka. Kita liatlah di sekolah-sekolah atau di komunitas gaul (atau bahkan hal yang sama kita alami di kala remaja dulu: nama bagus-bagus bikinan orang tua dirusak jadi nick-names kacau! hehehe). So "Marshanda" akan berubah menjadi "Shanda" atau "Syanda", "Nauval" mungkin akan berubah menjadi "Nopal" atau "Opal", "Emilia", masih agak normal, tetap "Emilia" atau "Emil". "Lenggang",... well no teen alive will accept the name 'Lenggang' anyway,...

Ngomong deh sama pengarang muda, aku garansi Pak LKH bakal kebajiran usulan nama yang cucok, hehehe.

Yang kedua, dialog. Seorang pengarang senior semacam pak LKH tentunya sudah sangat paham betapa dialog harus terasa 'real', sehingga bahkan beliau pasti secara serius mempertimbangkan gaya berdialog dalam novel Gajah Mada, misalnya. Bagaimana membedakan gaya bicara antar prajurit Bhayangkara (ini saya referensikan sebab saya sangat menyukai iklim keprajuritan dalam novel beliau ini, yang saya anggap beda dengan penulisan tema sejenis) dengan gaya bicara menghadap Raja dll. Dan ke-pas-an penulisan tersebut merupakan ukuran kompetensi seorang penulis. Pastinya, seorang penulis akan serius mempelajari hal itu.

Mau nulis gaya dialog Narapidana, gaya dialog Pialang Saham, gaya dialog Polisi, tentunya masing-masing akan secara serius dipelajari. Bahkan sangat mungkin pengarang sampai harus masuk ke komunitas sasaran untuk melakukan riset.

Untuk gaya dialog di PMD, terutama yang anak muda, terasa banget nggak 'real'nya. Mungkin pak LKH kurang meriset di tengah kesibukannya. Bagian terlemah saya pikir adalah dialog antara Nauval dan Lenggang; terasa seperti dialog mahasiswa tahun 70-an, angkatannya Ali Topan dkk. Jadi kurang enak ngalirnya, membuat novel jadi terasa gak realistik. Untuk gaya dialog Singasari-an, udah pas. Demikian pula gaya dialog yang terjadi dalam konteks Orang-tua vs Anak, atau Guru vs Murid.

Trouble Ketiga, adalah dalam gaya penulisan. Mungkin pak LKH sedang mencoba gaya baru untuk mendekatkan diri pada kaum muda, dan mungkin beliau merasa menemukan semacam 'formula' yang dipikirnya tepat untuk membuat sebuah novel terasa sebagai 'remaja'. Beliau mencoba membuat tulisan dengan paragraf-super-pendek (Note: saya curiga, formula ini beliau saripati-kan melalui pengamatan atas mode penulisan Chicklit dan Teenlit mutakhir di Indonesia!)

Kayak gini, nih.

Paragraf Singkat.

Gak banyak yang ditulis.

Tapi membuat 'speed' membaca jadi cepat.

Belum-belum udah buka halaman lagi.

Dan lagi.

Dan lagi,...

Well, penerapan gaya paragraf pendek begini gak salah, sebenernya. Dan memang terbukti membuat pembacaan novel menjadi cepat. Tapi sorry-sorry aja, pendekar yang biasa mainkan senjata tombak pun kadang bisa gagap saat bertarung cuma pakai pisau. Artinya, mau kuasai gaya paragraf pendek pun, jurusnya harus dipelajari dan dikuasai, jangan pakai jurus paragraf panjang yang sekedar dipotong-potong supaya jadi pendek belaka.

Saya akan kutipkan cuplikan dari novel PMD dibawah ini:

Namun meski telah dua puluhan tahun berumah tangga, Pak Farhan masih sering terkaget-kaget melihat istrinya. Ia merasa menjadi orang yang paling mengenal Antini karena ia suaminya, akan tetapi sering kali Antini menjadi sosok yang misterius, pintar menyimpan rahasia.

Seperti kali ini ketika Antini menyerahkan buku Tabungan.

Ternganga Pak Farhan melihat angka-angka dalam buku tabungan itu.

"Lima belas tahun kamu menabung sampai sejumlah ini?" tanya Pak Farhan.

Nilai uang itu, Pak Farhan bahkan bisa mengukur nilai sebuah rumah baru atau untuk membeli rumah baru.

Tidak ada keharuan seperti kali ini, ketika Pak Farhan mendapati istrinya ternyata sosok yang luar biasa.

Lama Pak Farhan memeluk istrinya.

(halaman 17)

I don't know about you, tapi kalo menurut gue sih 7 paragraf pendek itu udah bisa 'bunyi' cukup dengan satu atau dua paragraf normal, dan setidaknya akan terasa lebih bagus sebab ditulis oleh pengarang yang sudah 'paham' jurusnya. Sementara gaya eksperimen pak LKH ini, bagi saya malah seperti menyimak seseorang yang jarang bicara, yang menginformasikan suatu hal secara sepotong-sepotong. Not impressive, actually.

Untuk hal ini, sebenernya pendapat saya masih 50:50. Oke aja sih kalo pak LKH mencoba suatu gaya alternatif baru, sekalian belajar. Tapi di sisi lain, saya juga lebih senang membaca novel yang matang bukan coba-coba, hehehe.

Di luar tiga trouble yang sudah saya sebutkan di atas, Novel ini memang tidak terlalu jatuh kualitasnya, disebabkan kompetensi pengarangnya memang sangat pegang peranan, antara lain dalam mengolah plot secara mumpuni dan terutama dalam pengolahan setting Singasari yang buat saya justru lebih believable dibanding setting modern-nya!

Highlight setting Singasari yang saya paling suka adalah saat orang-orang di jaman dulu itu menemukan benda "Senter" untuk pertama kalinya, dan terkaget-kaget oleh adanya sebuah tongkat yang bisa memancarkan cahaya luar biasa terang, dan kemudian menamakan benda tersebut dengan: Ki Cahya Sumilak. Hahaha, keren dan orisinil, terasa pas banget di segala aspek. Mulai dari kekagetan yang alami, sampai pada penerapan budaya yang cerdik, bahwa orang-orang jaman segitu memang hobby untuk menamai suatu benda menurut kesaktian yang dimiliki atau diharapkan untuk dimiliki oleh benda tersebut. Itu part persentuhan time-travel yang paling pas menurut gue.

Nah, bicara tentang plot Time-travelling, meminjam tradisi kisah-kisah seperti Back to The Future, The Time Machine dll, novel ini menjadi 'kena' bolong logika besar seperti lapisan ozon bolong kena gas freon.

Plot time-travel PMD sudah dimulai dari adegan sampingan berupa raibnya kamera digital milik Nauval, dan ndilalah sebulan kemudian berada dalam sebuah kotak perunggu terkunci yang terpendam dalam tanah sejak beberapa ratus tahun lalu, yang baru ditemukan saat ada penggalian tanah buat keperluan septic tank di rumah Nauval.

Woookeeeh, keajaiban time-travel, neh. Dan detik itulah pak LKH terjebak dalam rumitnya time-space continuum yang menguras ketelitian dan kecergasan demi mempertahankan logika cerita.

Bolong logika pertama langsung menohok: Kamera Digital yang suppose to be sudah mengalami time-travel ke 800 tahunan yang lampau dan ditemukan kembali 800 tahun kemudian di dalam kotak perunggu itu,... ternyata masih bekerja dengan baik.

Baru gue tahu ada batere yang bisa awet tanpa dicharge selama 800 tahun! Gak bocor dan gak merusak sirkuit elektronik. Wow, pemilik kamera itu sungguh beruntung, wkwkwkwkwk.

Bolong logika berikutnya: Rumah Nauval terletak di Solo-Jateng, sementara drama Ken Arok dkk berlangsung di Singasari (area Malang-Jatim). Gak jelas bagaimana Kotak perunggu (tempat kamera ditemukan) beserta kaca cermin berbingkai nan ajaib itu bisa terkubur di tempat yang jauh dari Singasari. Jadi selain time-travel, ada juga antar-kota naik travel. Hehehehe,... kalo udah gini, kayaknya kartunya jadi gak sci-fi, atau semi-sci-fi sekalipun. Ini pasti pakai kartu Magic lagi, yang paling aman, paling bisa menjelaskan semua hal secara tanpa perlu penjelasan logis.

Bolong logika terakhir untuk urusan Time-Travel, adalah di akhir cerita dimana puncak adegan meliputi rombongan Nauval meloloskan diri balik ke masa depan sambil membawa pangeran Anusapati (putra Ken Arok, yang dimaksud sebagai The Prince dalam judul novel ini), yang ceritanya mo diobatin oleh dokter-dokter masa depan, dan demi kepentingan 'sejarah' dan plot (bahwa kamera itu kelak akan ditemukan dalam kotak perunggu) maka kamera diserahkan kepada Ken Dedes untuk disimpan di masa lalu. Sampai titik itu, sih, masih in-plot, lah. Tapi pembaca yang kritis pasti akan segera bertanya,... Lha si Anusapati bakal 'pulang' pakai apa? (untuk yang belum baca bukunya, mungkin belum paham maksud pertanyaan barusan. Begini, Kamera Digital Nauval, tepatnya lampu blitz-nya, adalah kunci untuk mengaktifkan pintu dimensi yang terdapat dalam cermin ajaib. Kala ceminnya difoto pakai blitz, clap! Maka cermin akan menjadi pintu antar tahun 2007 ke tahun 1222 vice-versa. Nah di akhir cerita, kamera di serahkan ke masa lalu sementara si Anusapatinya masih di masa kini, karena mau dioperasi. Gak jelas tuh anak akhirnya dipulanginnya gimana,...)

Selain kebolongan logika soal time-space continuum, pak LKH juga membuat candaan (yang bagi saya kurang lucu, tapi ya sudahlah) mengenai reaksi orang-orang di masa lalu terhadap berbagai perangkat modern yang dibawa oleh rombongan dari masa depan itu. Rombongan Nauval, kontradiktif dengan tekad mereka untuk tidak mengubah sejarah (tekad yang gagah yang sering dicanangkan oleh para Time-Traveller!), malah menyuguhkan perangkat elektronik modern ke majelis Singasari yang terdiri dari Raja Ken Arok, beserta seluruh perangkat istana sampai prajurit-prajuritnya. Halah, HG. Wells atau Jules Verne bisa berguling di kuburnya, nih, tokoh-tokoh pak LKH udah melanggar pantangan time-traveller! Hehehe.

Tokoh Emilia memamerkan pada orang-orang Singasari barang-barang berupa kamera, handy talkie, handphone, permen, rokok, sampai laptop pada orang-orang Singasari. Sebagai lelucon, memang cukup asyik membayangkan reaksi mereka, reaksi tipikal orang kampung macam film Gods Must Be Crazy. Tapi secara pakem cerita time-travelling, itu sudah breach sejarah yang serius!

Apakah tidak logis bila perbuatan seperti itu akan merubah jalannya sejarah? Bayangkan bahwa orang Istana Singasari pernah mengenal sebuah barang ajaib bernama laptop, hal itu akan mentrigger budaya dalam skala yang hebat, sampai-sampai bisa dispekulasikan adanya benda-benda hasil budaya yang mencitrakan seperti laptop, ekstrimnya bahkan bisa terukir dalam prasasti candi, kinarya kayu atau logam dan sebagainya. Yah, itu kalau memang mau mebuat pertimbangan serius dalam sebuah novel sci-fi atau Fantasy, ya. Kalo cuma mo buat novel canda-candaan sih ga papa.

Dengan pengaturan alur cerita semacam ini, saya memang cenderung menduga pak LKH tidak sedang terlalu serius saat membuat novel ini. Setidaknya, tak seserius kala beliau membuat Gajah Mada atau Candi Murca. Mungkin bagi pak LKH novel tipis ini tak ubahnya rekreasi, sekedar pengalihan mental dari project-project serius yang beliau kerjakan. Dan juga ada sisipan missi kampanye kepengarangan di dalamnya, melalui tokoh Marshanda yang digambarkan menjadi pengarang remaja yang cukup sukses, trus ada adegan ceramah Marshanda tentang teknis bikin novel di hadapan teman-temannya. Jadi inget episode sinetron ACI, hehehe.

So, apa yang bisa kita pelajari? Well, satu hal mungkin bagi pak LKH novel macam ini adalah sekedar rekreasi. Tapi bagi kita-kita, setidaknya novel ini mengajarkan pada kita apa sebaiknya yang dilakukan bila kita mencoba masuk ke sebuah setting yang un-familiar: 1) Riset, dan 2) Cross-check sama rekan yang berkompeten.

Tapi ada satu pelajaran filosofis yang menarik bagi diri saya pribadi, mengenai filosofi "There is no Try, only Do" (Yoda - Empire Strikes Back, Kalo ga salah). Maksud saya, hasil akhir novel ini menunjukkan mudaratnya sikap coba-coba (try) dalam melakukan suatu hal. I mean, even seorang pengarang senior pun bisa terjebak melahirkan karya yang 'tanggung', karena di awal niatnya memang bukan serius mengkreasikan. Saya bisa membayangkan bahwa dengan sikap 'try' tersebut, saya tidak akan total mendalami suatu masalah. Saya akan melakukan apa yang saya anggap fun, dan akan berhenti pada garis batas yang saya ciptakan sendiri, entah itu garis batas berupa 'kenyamanan', 'kesantaian', 'keterbatasan waktu', 'ketidak-tahuan', 'kemalasan', 'kesulitan', 'ke-not-worthy-enough-an', dan sejenisnya. Dan begitu ketemu garis batas itu, saya akan dengan santai menyingkir, sehingga akhirnya saya tidak berada dalam posisi 'total'.

Bedanya dengan filosofi "Do", adalah saat melakukannya, saya akan melakukan secara total, sehingga apapun hambatan yang hadir, akan dianggap sebagai 'challenge'. Dan siapapun pasti akan mencoba mengalahkan challenge alih-alih menghindarinya. Pada akhirnya, filosofi "Do" ini akan membawa saya pada self-discovery mengenai seberapa jauh kapasitas maksimal saya pada saat itu.

Dan saya percaya, dua filosofi itu akan membawa kita pada hasil akhir yang benar-benar berbeda.

Pak LKH, sekali lagi terima kasih atas pembelajarannya, pada hari ini.

Salam,


FA Purawan

Kamis, 04 Juni 2009

MARRIED WITH A VAMPIRE (Joko D. Mukti - 2009)



Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Foto Sampul: (c) Photostorm/ Shutterstock
Tebal: 338 halaman


Another Vampire Story? Gak aneh.

Di Indonesia? Well, bolehlah, unik.

Bersetting Kota Semarang? What?! Jarang-jarang, tuh?!

Yang nerbitin GRAMEDIA. WHAAAAAT????

Hah, di mana kejutannya? GPU nerbitin sebuah novel Fantasy berlatar Vampir? Hellloooo, masih musim Twilight neh sekarang. Sorry boss, memang topik Vampir bukan topik baru, tapi yang ini lain: Novel Vampire lokal berlatar setting Kota Semarang, terbitan gress GPU tahun 2009.

Judging dari kebiasaan GPU main di wilayah mainstream-pasar, pilihan terhadap materi MWAV karya Joko D. Mukti ini harus diakui cukup,... beda. Beda dan berani!



Karena memang Gramedia cukup jeli ketika memilih. Tema Vampir, okelah lagi naik daun gara-gara kesuksesan Twilight-nya Stephanie Meyer. Tapi saya yakin di antara puluhan tema Vampir yang sempat masuk atau diseleksi Redaksi, materi mas Joko ini memiliki angle paling beda dari biasa. Yang paling menonjol dari keberbedaan itu, adalah: penggunaan setting Kota Semarang sebagai tempat cerita bermain. Unik, sekaligus cerdik karena secara fisik sendiri Kota Semarang memang memiliki unsur-unsur yang mendukung imaji 'dark' yang dibutuhkan.

Semarang adalah salah satu kota tua di Jawa, dan termasuk di antara kota-kota yang memasuki kondisi 'decay' akibat perubahan energi perekenomian di region tersebut (dulu pantai utara Jawa termasuk urat nadi perekonomian utama, sekarang sudah berubah), Maap buat orang Semarang, hehehe. Tapi sudah merupakan kenyataan bahwa Semarang tak secemerlang ibu kota propinsi lainnya di Pulau Jawa, dan,... ada kesan menua. Dan sengaja atau tidak, ini setting yang strategis menguntungkan buat pengarang.

Saya setuju dengan strategi pengarang, Semarang memang setting yang cucok buat cerita Vampire, much like New Orleans buat cerita Vampire atau Voodoo. The vibe is there, it's THE place. Inget aja, that's where the spookiest building ever, "Lawang Sewu", berada. 'Nuff said.

So, mari kita sambut karya yang tak 'biasa' ini.

Married with a Vampire menceritakan kisah petualangan tokoh utama, seorang pemuda bernama Lang, yang dibawa nasib bertemu dengan sesosok Vampir bule cantik legit bernama Princess, dan melalui utak-atik setting yang 'kocak-kocak-gimana' (karena tidak diintensikan sebagai komedi, sebenernya), akhirnya ended-up menikahi si Vampir tersebut. Dia gak rugi, sih, sesungguhnya, soalnya Vampirnya emang cantik dan seksi, gitu lowh.

Yang bikin rugi, karena si Vampir itu 'ngebawa' temen-temennya (walau dalam status bermusuhan) membanjiri Kota Semarang dan menjadikan Semarang sebagai Kota Vampir pertama di Jawa! Yaaay!! My friends, ini baru THE story!

Dalam buku setebal 300 halaman ini, pengarang menjejalkan cukup banyak side-stories, mulai dari latar belakang Lang yang tipikal pemuda-miskin-ikut-boss-kaya-dan-jatuh-cinta-sama-anak-gadis-nya-dan-tentu-saja-cintanya-ditolak-karena-beda-status, pertemuan dan pernikahan Lang dengan Princess si Vampir cantik, dendam Jack si raja Vampir mantan suami (?) Princess, Infestasi Vampir di kota Semarang yang didalangi oleh Jack si Raja Vampir Dunia (wow!), aksi seru si Lang sebagai pahlawan pembasmi Vampir dengan kelompok SANG PEMVASMI (well, believe it. itu singkatan dari: Persatuan Para Anggota Pembasmi Vampir dan Vampirisme di Indonesia. LOL!), yang tentu saja Lang jadi the hero yang menyelamatkan sang boss beserta putrinya, dan si Putri, Svida, jadi jatuh cinta sama lang, terus ada pacar Svida yang --seperti biasa-- nyebelin, and so on, and so on, plus pra-kondisi untuk sekuelnya. Bahkan sedikit imbuhan intrik-politik kaum Vampir yang menjustifikasi alasan kenapa Vampir membanjiri Semarang, sekaligus juga mempengaruhi hubungan cinta Lang dan Princess di akhir cerita. Good, lah.

Dari sisi penceritaan, cukup fresh dan seru walaupun tidak ada yang terlalu istimewa. Gaya bertuturnya juga somehow a bit 'old'. Keistimewaan novel ini justru pada keberanian (dan mungkin keberhasilan?) untuk menghadirkan setting Vampir di Semarang, yang nyaris bisa dipercaya asalkan pembaca mau mengkompromikan situasi sedikit.

Maksudku, ketika Semarang dilanda serangan Vampir, it's really-really believable, asal kita rela meng-contain masalahnya tetap berada di areal Semarang aja, jangan diperluas ke pulau Jawa atau Jakarta (misalnya menjadi masalah Nasional, gitu), sebab gregetnya akan jadi jauh berkurang, dan kita jadi perlu menciptakan berjuta plot device untuk meng-cover lubang-lubang logika yang timbul.

Mungkin sekedar contoh untuk memperjelas, ingat serial game Resident Evil, yang selalu berlangsung di sebuah lokal (kota kecil, precinct) yang terbatas, kagak pernah di kota besar macam New York, gitu. Sebab jika terlalu luas, akan sulit mengelola unsur believabilitynya.

So pembaca harap menganggap Semarang dalam setting MWAV ini adalah sebagai Semarang yang somehow terpisah dari kota-kota lainnya di pulau Jawa. Dan kalo ngebayangin Semarang alone dihantui oleh Vampir di jalanan kota-kotanya, hell, bulu kuduk gue langsung berdiri. Really creepy bener,...

Dan berkat setting yang terbatas ini, rasanya jadi wajar aja menemukan dalam cerita bahwa Polisi 'cukup' kewalahan menangani ancaman Vampirisme (tanpa terlalu kewalahannya hingga terpaksa mengundang campur tangan TNI menyangkut keamanan Nasional), lalu sekelompok Vigilante bisa beraksi membasmi Vampir, dan tokoh kita bisa menjadi hero-selebritas terang-terangan di depan masyarakat kota Semarang. Terus adegan Vampir menyerbu hotel di Simpang Lima yang jadi tempat pengungsian,... Wow, Cool!

Coba kalo kita nggak batasi setting, maka kita akan langsung protes: di tengah serangan Vampir yang menggila kenapa gak diungsiin aja penduduknya ke Kudus atau Solo, atau bagaimana mungkin Vampir bisa merajalela di Semarang aja, gak merembet ke kota-kota lain secara di pulau Jawa ini kota-kotanya literally udah berdempetan!

Jadi malah repot, kan?

Aspek selain dari setting, well, MWAV adalah cerminan dari karya pop masa kini, penuh action hack and slash yang cinematic-keren, gore berdarah-darah (Rating Novel ini adalah Novel Dewasa), dan tentu saja, Seks. Hot, steamy, sex. Ada cukup banyak R rated situations dalam novel ini, antara lain adegan percintaan Lang dengan Princess, adegan Vampir cewek telenji di tengah jalanan, and so on. A bit surprise juga buat gue, agak sedikit di atas garis batasnya Gramed, hehehe. Mau salut, atau mau kalut, it's your own choice(s). Tapi buat para ortu, please consider untuk menunda memberikan novel ini pada putra-putrinya, sampai at least dia udah tujuh belas tahun atau already sudah biasa mengkonsumsi material yang lebih luncah dari ini. He he he.

Well, untuk fair-nya, adegan dewasa dalam novel ini memang diintensikan buat pembaca dewasa, masih memiliki nilai sastra, dan tidak overdone. Jadi gak perlu overreacted juga, sih. Kalo menurut feeling gue, mas Joko juga sedang mendegikkan kepala (semacam penghormatan juga) pada genre Fantasi-Horror-Misteri Nasional seribu-limaratusan perak yang pernah jaya di tahun 80-an dengan pengarang seperti Abdullah Harahap dkk. Genre unik yang nggak pernah mendapatkan apresiasi penerbit utama pada masa itu.

Terus pegarang juga mencoba memasukkan sub-tema filosofi dalam karyanya, mengenai 'kedudukan' konsep Vampir dalam alam berpikir Indonesia melalui sejumlah pertanyaan dan diskusi antara Lang dan Princess. Konsep 'vampirisme' yang boleh jadi berbeda dengan konsep orang barat. Kupikir it's just a nice try, berhasil atau nggaknya masih relatif. Minimal aku ngerasa ada pertanyaan-pertanyaan yang seolah mewakili diri kita (sebagai orang Indonesia) jika suatu kali kita bener-bener ketemu dan ngobrol-ngobrol sama Vampir (halah!)

Sekarang, apa kritikannya?

Gak terlalu banyak. Aspek logika cerita, masih bisa diterima dan masih cukup kuat menopang plot. Bahwa jika areanya diperluas ke luar kota Semarang, logika akan jadi ambrol, itu sudah kukemukakan di atas.

Tapi yang rada parah kurasakan adalah dalam hal penamaan. Untuk nama-nama tokoh lokal, seperti Lang, Svida, Tamam, dll udah cukup pas dan wajar. Tapi nama-nama Vampirnya berasa agak kurang sreg buat gue. Vampir cewek yang usianya udah ratusan tahun, dan punya posisi semacam 'ratu' di kalangan Vampir, cuma punya nama "Princess", atau tokoh lain yang bertatus mirip, namanya "Tante Lidya". Tokoh antagonis Raja Vampir super licik dari New York cuma dipanggil "Jack". Well, nama-nama sederhana semacam itu nggak bisa mengangkat eksotisme dan kekuasaan kaum Vampir yang konon sudah establish selama ratusan tahun! Kalau saja pengarang menambahkan nama lengkap untuk mendampingi nama-nama panggilan di atas, mungkin universe Vampirnya jadi jauh lebih mengesankan. Kalo yg sekarang, terus terang aja gue malah kepeleset jadi inget Vampir ala "Human Drakula"-nya Srimulat jaman taun 80-an (yg biasanya diperankan Oom Paul Polii, dan setiap kali muncul di panggung pasti seru, serem dan ngakak abiss)

Kritik lainnya adalah dalam hal desain sampul. Sorry, dengan pengalaman mendesain cover versi teremahan buat Twilight series yang demikian bagus, kenapa untuk yang ini desainnya kayak Novel-horror-wannabe-kacrut-adaptasi-dari-film macamnya Kuntilanak Beranak atau Kolong Jembatan Casablanca (whatever! What do I care?) gitu? Covernya gak bisa mencerminkan actions ataupun gore, even sex(kalo memang mo jual itu) yang ada dalam buku. Instead, covernya cuma menonjolkan kesan suram rumah tua dengan overblown-Moon serta beberapa codot beterbangan. Gak kelas, kalo buat gue sich, malah paduan dari desain cover seperti itu plus judul "Married With Vampire" justru membuat gue sempat mengira it's just another comedy-sotoy works, atau another kumpulan catatan harian dari seorang blogger pengikut mazhab "Kambing Jantan" yang kebetulan sedikit lebih sakit daripada 'nabi'nya (hehehe). Beruntung ada sinposis di back cover yang sedikit menjelaskan bahwa novel ini 'beda'.

Usul gue? Gak jauh-jauh, dah. Ilustrasi gedung Lawang Sewu dengan style dark/ gothic with empty streets dan rumput meranggas etc, terus seorang laki-laki (Lang) tampak punggung sembari enyeret kampak berdarah atau katana, gitu. It would tell a thousand stories!

Oh iya, dan Font Judul ala tulisan berdarah di halaman-halaman dalam. It's just so yesterday peninggalan jaman Printshop. Satu kata dari gue: Kamse'upay!

Akhirul kata, review ini kututup dengan pembelajaran bahwa unbelievability factor sesungguhnya masih bisa kita manage, atau siasati, dengan cara membatasi lingkup setting di dalam universe kita. Dengan pengolahan semacam itu, kita harapkan pembaca masih dapat terlarut dalam setting yang kita ciptakan dan dapat ikut menikmatinya, alih-alih terganggu atau ngotot merasionalisasikan semuanya.

Buat mas Joko, karyanya keren, boss. Dan saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda sudah menjanjikan sekuel dengan judul: Married With A Vampire #2: Bloodlust (background sound: Woooooh,..). Penuhilah janjimu! Awas, ya, kalo gak keren juga! He he he,...

FA Purawan

Jumat, 23 Januari 2009

Ranah Sembilan, a Novel (Dewi Sartika - 2008)



Penerbit: OASE bekerja sama dengan Penerbit Sembilan - Publishing
Editor: Yessy, Tofik M, Anisa Ami
Perancang Sampul: Tutu, Urip Saputra
Layouter: Restu Damayanti
Ilustrator: Poetra
Tebal: 247 halaman

Wah, ini satu lagi kasus menarik.

Coba, apa yang anda pikirkan terhadap sebuah kisah berikut ini:

Alkisah, tersebutlah sebuah tempat yang dikenal dengan julukan Ranah Sembilan, sebuah wilayah di mana sembilan kekuatan saling berhadap-hadapan menjaga keseimbangan semesta persilatan.

Delapan perguruan utama: Partai Naga, Partai Bulan, Partai Bintang, Partai Matahari, Partai Teratai Merah, Partai Macan Putih, Partai Bangau Biru, Partai Kipas Terbang, bahu membahu menyatukan upaya dan mengesampingkan ego masing-masing, guna menjaga Gerbang Lembah Iblis, dimana satu kekuatan tak terkalahkan, satu kekuatan Hitam, satu yang harus dijaga sepanjang jaman, memancangkan panji-panjinya. Sang Kaisar Langit, pemilik ilmu tertinggi di seluruh Jagat, beserta lima murid yang nyaris tak tertandingi: Dewa Air, Dewa Petir, Dewa Api, Dewa Angin, Dewa Bumi.

Menjanjikan, eh?



Coba take alook at this, deskripsi karakter yang termuat di web-site sembilan publishing:


BIXI

Cowok berkepribadian ganda ini bukan orang jahat, juga bukan orang baik. Kalau punya kemauan pasti akan dikejarnya. Murid tertua dari Kaisar Langit ini termasuk jenius dan memiliki level imdok tertinggi (level 8 tingkat tengah) padahal usia aslinya baru 25 (mau masuk 26). Kepribadiannya yang lain adalah bocah perempuan berusia 10 tahun yang menguasai ilmu bidadari. Senjatanya, macam-macam, tapi lebih pada kemampuan jurus-jurusnya. Orangnya teramat percaya diri. Memiliki simbol di keningnya sebagai simbol Dewa Api. Pergi bertualang dengan Lea karena kepribadiannya yang lain menyukai Lea. Agak-agak tidak peduli, kecuali hal-hal yang dianggapnya penting yang kadang-kadang malah mengagetkan orang sekitarnya (misal, kalau marah karena bonekanya hilang, dia bisa membunuh siapapun yang disangkanya merusak bonekanya) minuman favoritnya tuak, terutama yang beraroma harum dan manis dan kue-kue yang rasanya manis. Lebih suka mengembara, tapi kadang-kadang kalau bosan kembali ke Lembah Iblis dan tinggal di sana untuk beberapa minggu atau bulan.

Keren, penggambaran karakter yang cukup unik.

Tambahkan keterangan: "Pemenang Sayembara Novel DKJ 2001 + Juara 2 Adikarya IKAPI 2005"

So, you will think you got good stuff, here? Think again.

Buku ini merupakan kasus unik, sebab gabungan dari beberapa faktor "juara" ternyata belum tentu menghasilkan material juara (please excuse the pun). Maksud saya, buku ini punya basic plot set yang menarik, ide yang boleh juga, bahkan dikerjakan oleh semacam team (liat aja editornya terdiri dari 3 orang, desain sampul 2 orang!), dan pengarangnya pun "sudah punya nama".

Singkat aja, apa yang membuat faktor-faktor juara dalam buku ini tak berhasil menjuarakannya di mata saya? Jahitannya kacau.

Jahitan pertama, adalah pengisian setting. Well, pengarang udah bikin kerangka setting yang potensial, sesungguhnya. Ada suatu wilayah dalam ranah fantasi persilatan dimana delapan perguruan bersama-sama memagari sebuah perguruan yang dianggap sesat demi mencegahnya melakukan kekacauan. Mungkin agak mengingatkan temen-temen pada setting Thio Bu Ki di film Tai Chi Master yang dibintangi Jet Lee. Bisa dibayangkan betapa banyak kisah seru bisa dibangun di dalamnya.

Sayang, kain yang bagus itu dijahit dengan detail-detail yang nggak sinkron. At least, bagi saya nggak sinkron. Entah kalo pengarang mau memaksakan sih boleh-boleh aja. Detail yang saya maksud adalah hal-hal 'kecil', misalnya seperti konvensi penamaan para karakter. Dalam dunia Ranah Sembilan, nama-nama hadir begitu saja tanpa koherensi, tanpa latar belakang budaya yang meyakinkan. Berkali-kali saya harus mengerutkan kening dalam ketidak percayaan, bagaimana pengarang bisa begitu aja come up dengan nama-nama seperti Amon, Sion, Gillian, Bixi, bahkan saya sempat mikir kenapa orang-orang Ranah Sembilan bisa mentah-mentah menelan nama Lea dan Diana begitu aja dalam dunia mereka (Well, helloooow reviewer,... di tengah-tengah cool names like, Gillian,.. like,.. Bixi,.. nama Diana malah jadi sound sooo plain, gadis desa, ya gak siih? Selera lo payah, deh --from an anonymous dissatisfied review reader:) )

Yeah, ehm. Oke,... terusin.

Detail gak make-sense lain adalah bagaimana setting budaya Ranah Sembilan diolah oleh pengarang. Di satu saat Ranah Sembilan terasa bagai setting silat Tiongkok, di saat lain terasa seperti setting Lord of the Rings. Tidak ada 'sense' budaya yang teguh memfondasikan cerita. Even untuk sekedar budaya rekaan ala Fantasy, Ranah Sembilan terasa sangat kurang solid. Dalam gambar ilustrasi saya juga mendapatkan tokoh yang digambar mengenakan sepatu boot berkancing paku ala cyberpunk yang tidak sinkron dengan setting (Dateng dari mana tuh, teknologi kancing?). Tampaknya untuk aspek budaya ini pengarang asal comot atau asal jeplak aja, yang penting ceritanya jalan. Well, gak tau kalo untuk pembaca lain, tapi kalo untuk gue, cara penulisan semacam itu akan langsung membuat disbelieve gue meningkat tajam. Jadinya gue susah meyakini dunia ciptaan pengarang alih-alih menikmatinya.

Kegagalan pengarang membuat setting yang meyakinkan, telah membuat novel ini jadi terasa 'shallow', kalo menurut gue sih.

Dan akibatnya ke logika gimana? Ya ndilalah sama dan sebangun kacaunya. Banyak hal gak logis berlangsung dalam alur cerita Ranah Sembilan. Lea dan Diana dari Dunia yang sama dengan kita (Jakarta), tiba-tiba saja kejeblos masuk dalam Ranah Sembilan setelah melewati sebuah pintu yang dibuka dengan kunci ajaib (mirip konsep key maker dalam Film Matrix). Kuncinya dikasih oleh seorang kakek misterius,... (Arrrrgh, plot Bobo banget!) Eh ladalah, mengalami kejadian musykil kayak gitu reaksi para karakter utama itu terasa gak logis. Udah gitu orang-orang di Ranah Sembilan juga bertingkah tak kalah aneh, masak liat handphone si Lea, kaleng hairspray, korek api gas, kagak ada yang bereaksi gimana gitu,... padahal itu barang yang suppose to be sangat 'alien' dalam Dunia Ranah Sembilan.

Kalau kita mempelajari alur dalam sebuah novel fantasy (manapun), maka akan senantiasa ada satu 'titik' yang kita sebut aja sebagai "moment of truth", yaitu sebuah titik dimana terdapat semacam peralihan dari Dunia kita ke Dunia Fantasy. Di titik itu, pengarang mulai 'memasukkan' konsep fantasynya ke dalam wilayah pemahaman pembaca. Moment tersebut dapat berada di bagian mana saja di buku, walau umumnya memang terletak di bagian-bagian awal. Boleh jadi ada di Bab 2-3, boleh jadi sudah ada sejak kata pembuka pertama (PS: Satu eksekusi moment of truth yang cukup berani pernah dilakukan oleh Sekar Ayu Asmara dalam bukunya "Pintu Terlarang", moment of truth itu baru diintroduksi pada bab terakhir, membuat pembaca shock abisss :), keren!)

Contoh moment of truth: dalam cerita Narnia, misalnya saat si kecil Lucy memasuki lemari tua dan muncul di sebuah alam aneh bersalju. Atau dalam Harry Potter, pembaca menyadari suatu setting yang 'tak biasa' ketika seorang kakek tua berkacamata bulan sabit menjentikkan korek zippo dan lampu jalanan mati satu per satu.

Pada titik tersebut, pengarang mengintrodusir keberbedaan antara Dunia yang dikisahkan dalam novel, dengan Dunia pembaca sehari-hari (hence the term 'Fantasy' came from). Cara introduksi yang paling umum adalah dengan menggunakan sudut pandang tokoh utama, yang baru memasuki dunia Fantasy itu dan terpapar pada hal-hal yang 'berbeda' dengan dunia sebelumnya. Atau bisa juga pengarang langsung membeberkan narasi mengenai perbedaan tersebut, dan menempatkan pembaca sendiri sebagai saksi yang mengamati perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga perlahan-lahan pembaca 'masuk' ke dalam Dunia Fantasy yang diciptakan pengarang.

Di sinilah proses kritikal sedang terjadi. Bila pengarang tepat membawa pembaca 'tour' masuk ke dunia Fantasynya tanpa memaksa, maka pembaca akan hidup di dalamnya, mempercayai setiap aspek yang digambarkannya, dan mulai ikut bertualang bersama tokoh utama dalam mencapai tujuan si tokoh. Tapi bila gagal, maka pembaca akan berdiri di pinggir ring sambil bersikap kecewa dan melontarkan kritik-kritik ketidak percayaan terhadap cerita.

Satu aspek penting dalam pengenalan setting baru --selain aspek perbandingan visual antara Dunia nyata dengan Dunia Fantasy-- adalah reaksi para tokoh terhadap keberbedaan Dunia tersebut. Reaksi para tokoh ini akan mewakili reaksi pembaca, apabila dihadapkan pada situasi yang sama. Bayangkan kalau anda bangun tidur dan tiba-tiba menemukan diri anda terapung-apung di atas sebuah sekoci di tengah samudra. Apa reaksi anda? Apakah akan menjerit, "Mamiiiiii,...!!!!", atau melihat pergelangan tangan, "Huaah, jam berapa sekarang? Mampus gue bakal telat masuk sekolah, neh."

Lalu dalam tahapan pengenalan berikutnya, mulai terjadi relasi psikologis sang tokoh dengan lingkungan barunya. Dia mulai mengenali kebiasaan-kebiasaan baru, gejala alam yang baru, mulai dapat 'dekat' dan memahami local people, dan mulai dipahami juga oleh local people. Semua merupakan proses yang akan diikuti oleh pembaca, tidak saja dalam rangka mendeliver cerita, tetapi juga dalam rangka memasukkan pembaca dalam suasana yang sama. Proses ini tidak bisa disepelekan, sebab melalui proses inilah kelak pembaca dapat memahami cerita secara utuh, termasuk memahami motif-motif tindakan dari para tokoh dalam novel tersebut, dan signifikansinya terkait situasi dan kondisi yang ada.

Ketika proses ini tak ada, hasilnya adalah 'logika loncat' seperti yang saya rasakan dalam Ranah Sembilan. Adaptasi dua kakak-beradik berusia 17 tahun itu di sebuah dunia asing misterius sangat luar biasa cepat, sehingga saya langsung berkesimpulan bahwa untuk mereka pindah dimensi adalah pekerjaan sehari-hari. Tengok reaksi Lea berikut ini,

"Rasa kelapa. Padahal aku ingin kacang ijo..." (hal 20).

Saat itu Lea mengomentari rasa roti yang dimakannya, Roti yang berada dalam kantong belanjaan yang ikut terteleportasi ke Ranah Sembilan. Time-line, sekitar 5 menit semenjak tersadarkan diri di sebuah tempat asing. Hmm,... dalam novel lain mungkin sang tokoh utama already muntah saat menyadari bahwa dia terbuang ke suatu dimensi lain, alih-alih makan roti,.. hehehe,...

Kalau menurut saya sih, pengarang kurang berhasil mengeksekusi moment of truth ini sehingga Dunia Ranah Sembilan jadi kurang terasa meyakinkan dan polah tokoh-tokoh utama Lea dan Diana menjadi kurang begitu mengesankan. So jadilah masalah dalam hal detail setting dan logika.

Kemudian kelemahan logika lain yang perlu juga disorot adalah penggunaan konsep mata uang dalam sebuah setting Fantasy, terutama setting Fantasy pra-modern. Dalam Ranah Sembilan, mata uang yang digunakan adalah Zeni. Harga budak sekitar 10.000 Zeni-an, dan harga pengobatan Mata untuk kasus kebutaan, adalah 10 juta Zeni. Well, ada sedikit miss di sini. Dalam sebuah setting kebudayaan pra modern, alat tukar adalah benar-benar barang-fisik yang ditransaksikan secara fisik. Artinya setiap kali 'membayar', maka akan dilakukan secara si A memberikan alat tukar (uang) kepada si B, langsung hand to hand. Oleh karena itulah, dalam sebuah kultur pra modern, value alat tukar umumnya menjadi sangat sederhana. Misalnya cuma 1 keping perunggu, terus mungkin 1 keping perak untuk 1000 perunggu, dan 1 keping emas untuk 1000 perak. Oleh karena sifatnya yang ditransaksikan hand-to-hand, akan menjadi sangat tak praktis bila seorang pembeli dan penjual harus menghitung juta-an kepingan Zeni one-by-one. Unless, settingnya memungkinkan orang menghitung uang berdasarkan beratnya dompet atau bobot kantong uang, hehehe.

Implikasinya, dalam budaya semacam ini nyaris tak terbayangkan sebuah nilai harga yang mencapai angka jutaan, wong ribuan keping saja udah bikin jari kapalan. Orang akan lebih cenderung menggunakan misalnya 3 keping emas, dimana nilainya setara dengan tiga juta keping perunggu. So, angka sepuluh juta Zeni itu secara logika setting nggak masuk akal, lebih masuk akal bila menjadi katakanlah 10 keping GoldZeni, ato apa gitu, dimana nilai itu merupakan nilai yang sangat mahal bagi orang-orang Ranah Sembilan.

Konsep juta-milyar, itu baru ada pada konsep moneter modern, dimana nilai uang adalah virtual alias maya, tidak mengikuti barang fisik tertentu. Makanya jumlahnya bisa juta-juta, dan transaksinya bisa pakai kartu kredit, hehehe,...

Tapi kan bisa dibikin mata uang 10 Zeni, 100 Zeni, 1000 Zeni etc? Kayak uang Rupiah. Well, bisa aja, tapi konsep seperti itu membutuhkan adanya suatu sistem moneter yang melatar belakangi setting Ranah Sembilan, sebab artinya kan harus ada pihak yang MENCETAK (atau men-cor?) uang-uang tersebut, menjaga peredarannya laksana Bank Indonesia, mencegah pemalsuan, dll. Nota bene, sudah mengandung adanya sistem perbankan, ya itu mah moneter modern, lah. Bahkan sudah mengandung adanya suatu Pemerintahan yang kuat sebagai backing sistem moneter tersebut.

Untuk karakterisasi, problemnya cukup unik juga. Pengarang piawai bikin karakter dasar dengan ide-ide segar, tapi anehnya gagap dalam mengembangkan karakter dasar tersebut. Misalnya tokoh Diana, yang dikatakan berusia 17 tahun, artinya masih sekitar usia SMA, lah. Tapi di Ranah Sembilan dia ujug-ujug menguasai ilmu kedokteran (sampai se ekstrim punya kemampuan mengoperasi retina mata orang! Woo hoo, SMA-nya di mana tuh biar gue buruan daftarin anak gue dari sekarang!!). Untuk keahlian ini pengarang menyelipkan informasi bahwa Diana suka membaca buku-buku kedokteran, plus belajar sama tokoh Tabib Gila dalam waktu seminggu. Yeah right, dan gue bisa gantiin SBY cukup dengan membaca "The Idiot Guide to Become a President"!

Karakter Bixi yang punya double personality juga merupakan karakter yang menarik. Sebetulnya banyak kejadian heboh yang bisa dikembangkan dari karakter tersebut, yang dalam novel ini kurasakan masih belum maksimal. Di web site juga tertulis indikasi adanya persaingan asmara antara para Dewa murid-murid Kaisar Langit, yang sayang sekali kurang begitu dikelihatan dalam novel.

Satu detail yg gue anggap gak perlu, adalah penggunaan istilah 'imdok' untuk mengganti istilah tenaga dalam. Sesuatu yang terasa mubazir, sebab istilah 'tenaga dalam' juga tetap dipakai oleh pengarang, dan kata imdok itu sendiri juga gak punya fungsi apa-apa lagi selain dipakai sebagai: imdok. Persoalannya, tanpa mengganti istilah "tenaga dalam" dengan "imdok" pun pembaca ngga kehilangan apa-apa, ga ngaruh. Itu seperti mengganti kata Sendok dengan Cungpu, tapi kemudian gak jelas kebutuhannya dalam cerita.

Kalo kita belajar dari Harry Potter yang menciptakan kata "Muggle", kita masih bisa menangkap keselarasan kata tersebut dengan bahasa induknya (bahasa Inggris), dan dari segi ekspressi juga mengandung rasa 'merendahkan' yang mewakili pikiran para penyihir terhadap orang biasa. Untuk kata 'imdok', biar saya bulak-balik kiri-kanan depan-belakang saya gak bisa punya feeling dari mana munculnya kata tersebut dan apa pentingnya kata tersebut diciptakan, sementara penggunaan 'tenaga dalam' sendiri sudah cukup sufficient dan gak merusak cerita in any way. Kenapa bisa begitu? Mungkin masalah terbesar adalah tidak adanya constructed language yang memback-up keberadaan kata tersebut, sehingga terkesan kata itu muncul aja dari udara kosong.

Terus terang, gue sempat mengira buku inilah yang sudah memenangkan penghargaan sebagaimana tertera di atas, sesuai informasi yang saya ambil dari sampul depan buku. Wajar dong, bila gue mengira demikian. Makanya setelah membaca sekitar dua bab, gue sempat terheran-heran, apa ada yang aneh dengan otak para juri DKJ 2003, materi kayak gini (kacaunya) koq bisa didapuk jadi juara. Saking heran bin penasaran, gue search di internet, dan barulah gue tahu bahwa yang dimaksud "Juara" adalah sang pengarangnya, Dewi Sartika, melalui sebuah novel berjudul Dadaisme, Oh, gitu rupanya. Memang sampul itu sedikit menipu, hehehe,.... walau gak kriminal-kriminal amat. Ya gapapa lah.

Jahitan berikutnya yang kuanggap kacau, adalah plotting. Dan ini pun bisa menjadi catatan unik. Garis besar plottingnya sebetulnya standar, tentang petualangan dua orang asing di sebuah negeri pesilat, menghadapi intrik-intrik persilatan seperti pencurian kitab-kitab penting, pendekar mengambil murid, jagoan tanpa tanding, usual Kho Ping Hoo stuff. Di luar plot "Terlempar ke Dunia Lain" yang udah terlalu klise itu, sebenernya alur cerita Ranah Sembilan gak terlalu jelek. Apalagi pengarang mengisinya dengan variasi karakter yang, jujur aja, cukup menarik. Tapi ada satu hal yang membuat novel ini menjadi jatoh ke level pretensiusisme (halah!) yang membuatnya gak enak dinikmati secara gak perlu.

Pengarang menerapkan teknik non-linear dalam alur penceritaannya. Maju-mundur, loncat depan-belakang-samping, etc. Lantas apa yang aneh? Toh banyak penulis menerapkan strategi yang sama, untuk membuat alur menjadi lebih menggigit.

Well, kalo menurut gue sih, penerapan alur non-linear dalam kasus ini gak terlalu tepat, atau gak tereksekusi dengan bagus. Yang ada, jadinya pembaca seperti dibolak-balik secara nggak perlu dan mencecerkan kenikmatan membaca di sepanjang jalan. Entah gimana, gue merasakan alur loncat-loncat yang digunakan pengarang justru memadamkan efek klimaks dari cerita alih-alih membuilding-up tension sebagaimana yang diinginkan. Akibat dari loncat-loncat ini pula, perkembangan karakter tiap tokoh menjadi kurang terasa, sebab di sisi pembaca tidak cukup sempat tumbuh 'intimacy' untuk menyelami pribadi atau persoalan masing-masing tokoh, padahal tiap tokoh sudah diset memiliki basic character yang menarik untuk dieksplorasi.

Dan 'gong'nya kekacauan plot ini justru berada di akhir halaman, bahwa setelah membalik 247 halaman dengan penuh kesabaran, gue gak menemukan ENDING! Gila, ini ending-gantung-paling-gantung yang pernah gue temuin, dan betapa ingin gue menggantung penulis yang bikin ending gantung segantung ini,...hehehe. At the end, cerita gak bergulir ke mana-mana sebab tidak ada klimaks yang signifikan. Seolah-olah semua tokoh akhirnya duduk di akhir halaman bersama-sama, dan kompak ngomong sama pembaca, "Tungguin kita di sekuel-nya yaaa!" (Hyperbolic expression intended!). Il-fil banged, gue!

Kelemahan jahitan yg lain adalah dalam ilustrasi. Penerbit memilihkan ilustrasi ala Manga yang eksekusinya agak kasar. Untungnya gambar discan dalam proporsi kecil-kecil, sehingga tampak lebih rapih. Tapi terus terang aja gaya manga menurut gue gak terlalu kuat mendukung cerita, apalagi ada masalah 'saltum' seperti yang sempat gue singgung di atas. Di dalah satu halaman ada gambar pencarian Buronan Senyo Gelap, pembunuh berdarah dingin, yang digambarkan memakai sesuatu serupa Jaket kulit dipadu-padankan dengan sesuatu serupa T-shirt, mengingatkanku pada bintang sinetron Korea. Sekali lagi, bukan gambarnya jelek, tapi dalam genre Fantasy, semua aspek harus bisa saling melengkapi untuk membuat dunia yang believable dalam pikiran pembaca. Dan khusus untuk ilustrasi, harap ingat bahwa dalam ilustrasi ada part yang tampak jelas bagi pembaca, yaitu properties (barang-barang, pakaian, aksesoris). Properties itu harus kompak dengan konsep settingnya. Kalo gak kompak kan jadinya aneh.

Tapi BTW, novel ini menghadirkan ilustrasi peta yang bagus, dan desain sampul yang lumayan, terutama dalam hal keberanian membuat gimmick nge-bolongin cover dengan bentuk mirip angka sembilan. Yah, bikin terasa fresh aja, dan menjadi menarik di rak penjualan.

Sisi positif lainnya buku ini, adalah bahasa yang terstruktur baik. Ga percuma lah, pengarang jadi juara DKJ, memang kemampuan tulisnya sudah prima. Mungkin genre Fantasy-nya aja yang masih belum dikuasai oleh beliau, sehingga jahitannya jadi gagap begini.

So, pelajaran apa yang bisa kita petik di Ranah Sembilan? I guess: Setting-setting-setting, detail-detail-detail, logika-logika-logika

Mau-mau-mau,..???


FA Purawan

Selasa, 09 Desember 2008

NOCTURNAL (Poppy D. Chusfani - 2008)



Data buku:

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: tak tertera, tapi pada Ucapan Terima Kasih, pengarang menyebut nama: Anas
Desain Sampul: eMTe
Tebal: 254 halaman

Apa jadinya, jika JK Rowling menuliskan buku pertama Harry Potter hanya setebal 200 halaman?

Apakah buku itu akan tetap meledak dan menempatkan JK Rowling dalam statura nya seperti sekarang ini? Apakah Trio Harry, Hermione, dan Ron akan tetap menjadi tokoh-tokoh yang dicintai oleh jutaan pembaca? Apakah buku itu akan tetap difilmkan oleh blockbuster studios dan menghasilkan impact yang demikian dahsyat pada budaya pop kita di abad ini?

Well, gak usah sampai semuluk itu, deh. Yg langsung aja: apakah kita, sebagai pembaca, akan merasa puas dengan porsi sebuah buku Harry Potter yang cuma 200-an halaman.

Itulah, pertanyaan yang aku ajukan terhadap Nocturnal, sebuah karya Fantasy dari pengarang Poppy D Chusfani yang diterbitkan oleh salah satu penerbit besar Gramedia Pustaka Utama.

Kenapa gue mempertanyakan hal tersebut? Well, lanjutin aja baca review ini.

Tahu kenapa gue demen ama steak Abuba? Rasa dagingnya enak, servisnya cepet gak neko-neko, harganya pas tapi yg pentiiing: porsinya pas. Gak kebanyakan, tapi juga gak kedikitan.

Kebayang, nggak? Apa enaknya makan steak dengan daging seukuran tempe goreng standar. Biarpun rasanya nendang, biarpun harganya lebih murah. Teteup aja kita akan mendecak gak puas, celingukan cari-cari tambahannya, dan kalo gak tersedia, doesn't matter bahwa yg sepotong kecil itu sebenernya telah dimasak dengan lekker, tetep aja kita akan memaki-maki si restoran atas kepeditannya bikin menu.

Itulah case Nocturnal menurut gue. Sebuah karya yang sesungguhnya bagus dan solid, namun 'dipaksa' tersaji terlalu sedikit, sehingga alih-alih puas, membacanya seolah seperti menyantap steak seukuran satu gigit doang.

Apa? Sekedar teaser katamu? Agar pembaca penasaran dan memburu sekuel-sekuelnya? Well, untuk genre tertentu, mungkin rumusan itu bisa benar. Tapi untuk Fantasy, segmen pembacanya gak akan puas dengan cuma disuguhi porsi setara nasi kucing. We want more! Kurasa memang orang-orang semacam JK Rowling sangat paham akan hal itu, sehingga dia tidak terima saran agar Harry Potter edisi pertamanya dicetak dalam sub episode kecil-kecil (sebagaimana menurut pendapat industri buku saat itu, porsi yang aman buat penulis pemula), padahal di kala itu dia sendiripun masih desperate writer looking for a job.

Bicara kualitas, harus diakui bahwa Nocturnal dikreasikan secara top quality. Desain covernya cantik, dengan ilustrasi grafis yang bagus punya, karya eMTe (heran, ngapain juga menyamarkan identitas untuk sebuah karya yang layak puji? Tapi ga tau juga, yah. Siapa tahu nama eMTe ini sudah already kondang sebagai ilustrator sampul, cuma guenya aja yang gak gaul). Yeah, logo kecil di sudut itu memang norak dan menganggu, well, what the heck, anggep aja sticker yg ditempel sembarangan oleh balita. Secara keseluruhan, desain cover depan-belakang is very good.

Dalam aspek penulisannya sendiri, pengarang Poppy D Chusfani, yang juga merupakan salah satu penerjemah handal jajaran Gramedia, tidak mengecewakan. Kisah Adelia sang princess (calon Baroness) di negeri rekaan Adlerland bergulir lancar dengan berbagai tantangan dan konflik khas seputar 'reluctant hero' sampai menemukan klimaksnya di akhir cerita.

Plot ceritanya antara standar dan non-standar sekaligus. Bagian standarnya: well, tokoh protagonis cewek yang somehow punya lineage bangsawan tapi ended up bersekolah di Jakarta dengan kehidupan ala tokoh ChickLit biasa yang missi hidupnya gak lebih tinggi dari sekedar ingin jadi penari ballet, and so on, and so on. Kemudian tiba-tiba masuklah plot non-standar berupa panggilan untuk 'pulang' ke Adlerland, tanah leluhur para Nocturnal. Di sana' kehidupan Adelia berubah 180 derajat sebagai calon baroness istana klan Nocturnal, memimpin the whole clan doing battle with para penghuni Transylvania just across the hill (you know what, kan?). Jelas itu plot non-standar, and a very delicious one! (Oke-oke, the princess part emang ga terlalu non-standar buat ChickLit, tapi akui aja, being a member of the cat people is not on every ChickLit's list. Heheheh).

Yang membuat cerita menjadi menarik, adalah atensi pengarang yang cukup sempurna terhadap detail. Ada banyak aspek dalam universe Nocturnal, dan semuanya diperhatikan dengan teliti oleh pengarang. Dari sisi tokoh Adelia, yang menggilai ballet, pengarang berhasil menanamkan aspek ballet ini secara detail (dan pengarang memang udah belajar ballet sejak 10 tahun, so pengetahuannya tentu sangat bermanfaat untuk menghidupkan sang tokoh), berikut beberapa istilah khusus ballet yang membuat aroma balletnya memperkuat believability.

Setting Adlerland juga cukup rapi dan rinci, termasuk pemandangan alam dan situasi landscape (istana Raja, istana baroness dll), memperkuat nuansa Fantasy yang ingin ditampilkan pengarang. Setiap aspek dalam setting juga hadir secara wajar dan tepat.

Bahkan detail budaya pun tak dilupakan oleh pengarang. Budaya Jakarta hadir secara pas, kemudian budaya Adlerland yang semi Jerman plus situasi aristokrat dalam setting istana. Saya suka dengan small touch yang mengena, seperti panggilan Adelle untuk nama Adelia di kalangan orang-orang Adlerland, atau malah menjadi panggilan sayang "Ada". Sekali lagi, small touch, but sweet dan menyebabkan impact suasana yang berbeda.

Jika ada yang perlu dikritik dalam hal setting ini, adalah kurang signifikannya peran "Indonesia" dalam universe Nocturnal. Adelia yang berasal dari Jakarta tampak begitu blend dengan Negeri Adlerland yang berbahasa Jerman atau Inggris, dan dalam beberapa hari saja sudah menjadi orang Adlerland sejati, kagak terasa lagi sebagai anak Indonesia kecuali busana kebaya yang digunakan untuk menghadiri pesta di Istana raja. Well, serasa nggak ada dampaknya terhadap plot, apakah si Adelia itu besar di Indonesia, atau di Filipina, atau di Afrika.

Pengarang juga sudah membuat setting yang potensial banget buat menggerakkan plot. Ada 'putri' yatim yang harus menyesuaikan diri dalam kehidupan baru yang sangat asing, ada kaum manusia berkemampuan khusus yang punya sembilan nyawa, ada kaum Vampir, ada pertarungan wilayah kekuasaan antara Kerajaan Adlerland dengan kaum Vampir Transylvania, ada musuh dalam selimut,... well basic settingnya udah asyik, dan pengarang sudah mengembangkannya secara cukup mengasyikkan.

Paduan dari setting dan plot yang solid ini melahirkan kisah yang enak untuk dinikmati, dan terus terang membuat sekuel-sekuelnya menjadi layak untuk ditunggu. Saya hanya punya sedikit catatan kecil dalam hal penyusunan setting oleh pengarang.

Misalnya istilah Nocturnal untuk menggambarkan klan manusia kucing (alias manusia yang diberkahi kekuatan kucing dan memiliki sembilan kali kesempatan hidup alias sembilan nyawa). Well, 'Nocturnal' sendiri adalah istilah kata sifat yang bermakna 'aktif di malam hari', umumnya digunakan terhadap hewan-hewan yang mencari makan di waktu malam dan tidur di waktu siang. Not necessarily refer ke kucing, sebenernya. Sampai saat ini saya juga masih iseng cari-cari istilah yang merefer ke manusia-kucing di internet, sayang belum dapet juga. Inget dulu ada film Cat-People, mungkin ini referensi paling dekat dengan kaum Nocturnal-nya Poppy, tapi bedanya di film Cat-People orang-orangnya bisa bener-bener bertransformasi menjadi kucing garong, hehehe.

Artinya penggunaan istilah Nocturnal mungkin agak tidak tepat. Mungkin malah lebih eksotik kalo bisa dapet istilah yang berbau-bau bahasa Mesir.

Kemudian exact nature-nya Nocturnal ini juga rasanya masih belum jelas. Mungkin akan diperjelas dalam sekuel. Tapi buat saya ada satu dimensi yang 'hilang' ketika pengarang mengolah setting ini dalam cerita, yaitu ketiadaan aspek 'magic' dalam universe Nocturnal. Kelebihan manusia Nocturnal dalam novel ini adalah sebatas kemampuan fisik yang lebih kuat, lebih cepat, lebih ganas, dan sense-nya lebih acute dari manusia biasa (termasuk juga adanya sembilan nyawa itu). Tapi sebabnya apa? Kind of magic, juga kan? Lawannya, para Vampir, juga hanya tampil lebih-kurang sama secara fisik. Nah, di sini aspek magic tidak terlalu diolah, terkesan diabaikan. Padahal ruang untuk bermain magic sangat besar di sini, mengingat settingnya sangat membuka peluang ke arah sana. Itu sebabnya 'kekalahan' sang raja Vampir di tangan Adelia menjadi sedikit kurang logis, sebab sang raja yang sudah berusia tujuh ratus tahun seharusnya punya kekuatan magic yang gak kecil,....

Jadi kesannya, setting banyak dipengaruhi oleh setting film-film Vampir Hollywood yang lebih mengedepankan aspek fisik.

Catatan lain tentang nama juga, adalah penamaan Adlerland,... gimana yah, rasanya koq kurang berasa 'Jerman',... hehehe. Ga tau deh, apakah sebenernya secara ilmu pembentukan kata udah benar atau belum. Tapi kupikir mengingat tetangganya adalah Transylvania, Rumania, mungkin nama yang cocok adalah yang ada bau-bau "Nia" juga, kali-kali seperti Adlervania, getoh (hehehehe).

Di luar catatan tersebut, menurut gue sih Nocturnal sudah merupakan karya yang 'genap', alias segala sesuatunya sudah berada dalam pertimbangan yang pas.

Tinggal,.... my biggest complaint: Semua terasa berlangsung terlalu singkat!!

Yah akibat cuma 254 halaman, apa mau dikata seperti nonton LOTR dalam bentuk condensed. Pengarang sudah berusaha untuk membuat irama baca yang mengalir namun tetap kompak. Saya akui dia cukup berhasil. Tapi sebagai penikmat Fantasy, saya ngerasa banget bahwa cerita ini sesungguhnya baru 'pas' bila dibikin lebih 'kaya'.

Seperti yg saya bilang, apa rasanya baca Harry Potter cuma 200 halaman? Saya akan miss suasana Hogwarts, saya akan kehilangan rasa mengenai bagaimana murid-murid Hogwarts di tahun pertama, kedua, ketiga, kehilangan mata-pelajaran Hogwarts yang seru-seru, kehilangan romatika Quidditch dan seterusnya,..... semua hal yang mensignifikansi kehadiran Dunia Harry Potter dalam imajinasi saya. Semua hal yang menyebabkan Harry Potter tak sekedar cerita tentang anak laki-laki yang bersekolah sihir.

Betapa gemesnya saat membuka-buka halaman Nocturnal, kala saya merasakan perasaan yang sama, ingin agar part ini-itu lebih diperluas dan diperkaya lagi. Karakter Adelia yang walaupun sudah cukup bagus diolah pengarang, tetap terasa perlu lebih 'dalem' lagi, konflik-konfliknya, perkembangan karakternya,... semuanya terasa perlu lebih. Karakter lainnya pun deserves halaman lebih. Bahkan si Vladimir sang antagonis pun, rasanya perlu dapat porsi tambahan halaman.

Yah, saya nggak bisa terlalu menuntut.

Tapi judging dari kemampuan pengarang mendeliver ceritanya dalam format 254 halaman ini, saya bisa memperkirakan bahwa beliau sebenernya punya kemampuan untuk mendeliver lebih dari itu (dan tetap bagus!). Tuntutan 250 halaman, kalau boleh saya tebak, ya gak lain berasal dari pihak penerbit, mungkin dalam rangka strategi.

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa bikin buku di Indonesia sebaiknya jangan tebal-tebal, sebab:

a. Harga kertas mahal, harga buku nantinya jadi mahal
b. Orang Indonesia nggak demen buku tebal
c. Resiko penerbit kalo bukunya gak laku akan lebih tinggi bila buku tebal.

Jadi cukup bijak bila penerbit tidak berani cetak buku tebal-tebal, cari aman.

Tapi entah, bagaimana saya harus ambil posisi, jika ada pengarang sepotensial Poppy terhalang kemajuannya akibat strategi cari aman penerbit. Well, toh penerbit bisa melihat materi-nya, dan apakah materi seperti karya Poppy ini tak mampu menimbulkan rasa percaya diri penerbit akan kualitas pengarangnya? Ironisnya hal itu justru dilakukan oleh penerbit gede! Mungkin malah bener kata orang, semakin gede justru semakin sulit ambil resiko.

Kalau saya coba merefleksikan, memang saya lihat jarang banget GPU mau nerbitin karya pengarang lokal, yang tebal. Keluaran GPU rata-rata tipis, dan mainnya di segmen aman seperti Teenlit (Even Nocturnal juga di'paksa'in masuk ke genre Teenlit!). Terbitan tebal GPU hanyalah di novel-novel terjemahan yang udah jelas lakunya di luar negeri. Emang jelas banget niat main amannya.

Tak heran bila GPU gak pernah mencatat block-buster, katakanlah sebagaimana Bentang-Mizan menangguk sukses lewat Tetralogi Laskar Pelangi (Nah, sekali lagi apa jadinya Laskar Pelangi bila tebalnya cuma seratus halaman? Hehehe,...). Yah, seperti kata orang, no pain, no gain!

Tapi anyway, adakah cara untuk menambah kepercayaan diri GPU? Setidaknya jika mereka punya jajaran penulis sebaik Poppy D. Chusfani (dan kita tahu lah, GPU punya standar kebahasaan yang bagus sekali), mustinya mereka tidak usah takut ambil peran sebagai garda depan literasi Fiksi Fantasi Indonesia, yang bener-bener berani nerbitin buku Fantasy yang memuaskan pembaca Fantasy Indonesia. Nggak ada salahnya dong, aku berharap? Soalnya menurut gue secara infrastruktur knowledge, know-how, maupun SDM mereka udah mumpuni. Yang belum ada cuma Visi dan keberanian aja.

Terus-terang itu pertanyaan yang tak mudah dijawab. Dan best we leave that as it is. Hanya satu yang jadi harapan saya, untuk Poppy: jangan kau kekang kreativitas yang luar biasa itu, dan kalau memang mungkin, please wujudkan your Nocturnal Universe in it's fullest potential! Gue percaya banget sama karya kamu!

Salam

FA Purawan