Selasa, 25 Maret 2008

JAVA JOE: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang (J.H. Setiawan - 2008)


"Bikin deg-degan tapi juga indah menyentuh,"

-- Nadine Chandrawinata, Putri Indonesia 2005

Sulit kupercaya.

Nadine, gitu loh,.....

Putri Indonesia, gitu looowh,... dua ribu lima. Siapa yang gak kenal?

Justu karena itulah gue bertanya-tanya. Dari sisi mana seorang Nadine (yang kita kenal) dianggap berkompetensi memberi endorsement. I mean, Seberapa literer sih, do'i? Secara, Nadine, gitu lowh,... seberapa doyan baca buku, sih, top model kita ini? Secara, Putri Indonesia, gitu lowh,... sejak kapan dalam konsep "beauty & brain"nya sebuah kontes putri-putrian juga termasuk unsur literacy?

(Hehehe, jadi geli sendiri ngebayangin juri bertanya seperti ini,...)

"Oke, Miss Indonesia, buku-buku apa yang biasa anda baca?"

"Owh, I just love reading books, especially science fiction writers" (jawaban harus dalam bahasa Inggres, kaleee)

"Oh, bagus sekali, contohnya buku-buku apa saja?"

"Well,... like Harry Potter serieees, and Java Joe seriees,.."


(penonton bertepuk tangan, juri manggut-manggut,...)

He he he, sirik nih reviewernya,.. Main jender dan prejudis banget!

Lantas, siapa sih, FA Purawan yang sok bikin review ini? Secara gitu looh, bikin novel juga baru satu, kagak terbit, lagih! Mending bagus? Doh, kena deh gue,.. :)

Tapi sejujurnya pertanyaan di atas memang langsung menyergap begitu menatap sampul JAVA JOE di Gramedia. Endorsement seorang Nadine dicetak di area sisi kiri atas cover, tempat yang secara alamiah merupakan daerah tatapan mata pertama pembaca. Demikiankah taktik marketing penerbit? Dengan memajang endorsement Nadine di posisi top, penerbit berharap menjaring interest generasi Nadine, tapi jadi menohok pertanyaan mengenai kapasitas intelektual bagi generasi gue, terutama concerning the novel, yha. Bukan Nadine-nya,... :p

Saat sebuah Novel "sci-fi" diendorse oleh seorang peragawati yang bukan sosok pembaca buku, seharusnya gue udah curiga. Tapi bisikan hati nurani terdalam, instink yang tertajam itu, harus terhapus oleh kekagumanku atas desain cover yang menarik, gambar kota futuristik dan sosok seorang pilot pesawat tempur F-16 a-la Top Gun (presumably Java Joe himself, ganteng dan sooo tampang 'anak Permias' banget). Apalagi endorsement di sampul belakang tak kurang dari Aristides Katoppo sampai berkomentar, "Pembauran kreatif antara kisah perburuan legenda ala Indiana Jones, penuh intrik konspirasi seperti X-files dengan latar fiksi ilmiah semacam Star Trek".

Apa yang kurang, coba?

Maka dimulailah petualangan Java Joe di tanganku, yang dibuka dengan BAGIAN I yang mengisahkan lakon klasik Rara Jonggrang secara ciamik, dengan gaya bertutur cerita hikayat a-la Langit K.H. (seri Gajah Mada) yang mengasyikkan. Terus terang, bagian ini memang memikat, dan berhasil mempengaruhi paradigma pembaca bahwa peristiwa inilah yang akan menjadi fondasi tema utama Novel selanjutnya.

Masuk BAGIAN II, pembaca dibawa ke suasana dua millenia kemudian, pada tokoh kita JAVA JOE (sebagai sebuah nama panggilan, cukup OK. Tapi kalau ini merupakan nama benernya si tokoh, sesungguhnya cukup menggelikan), dalam ending missi atariksanya ke Mars yang cukup heroik dan men-set tone keseluruhan dalam hal aspek heroisme sang tokoh. Yaitu sebagai action hero yang tanggap menyelesaikan berbagai masalah dan menguasai skill action yang tinggi (termasuk skill teknologik on the way).

Missi luar angkasa di bab ini dan bab terakhir, merupakan nilai plus novel 'science-fiction' ini, yang ditulis oleh J.H. Setiawan pada tahun 1997 (udah cukup lama sebetulnya, sehingga kelengkapan riset mengenai penerbangan antariksanya perlu saya acungi jempol) namun baru terbit tahun 2008. Dalam adegan pendaratan pesawat Conqueror di Stasiun Angkasa Skyfleet, tergambar situasi penerbangan antariksa yang cukup realistis, penerapan hukum-hukum hampa udara yang teliti serta lingkungan angkasa luar yang 'correct' secara teoritis, seperti partikel-partikel antariksa yang mampu mengancam kendaraan-kendaraan antariksa, shield technology, laser guided landing dll. Ini jarang banget disinggung novelis 'sci-fi' kita.

Selain itu, realisme setting space fleet juga terasa kental berkat kejelian pengarang menetapkan setting awak pesawat, mulai dari Pilot, co Pilot, Helm Officer, Engineering Officer, Tactical Officer dll. Ini juga yg sering overlook dalam penulisan antariksa kita. Padahal, referensi pengawakan ini sudah cukup banyak kita kenal melalui film-film seperti Star Trek dll. Realisme lainnya yang juga berhasil mengangkat adegan-adegan antariksa adalah dialog-dialog komando dan radio 'chatter' yang khas dalam proses komunikasi radio antara pesawat dengan stasiun pengendali. Memang rangkaian dialog dalam novel ini merupakan salah satu kekuatan si pengarang yang mampu membuat novel ini enak dinikmati dan terasa realistis. Kadang kalo udah begitu, akurasi atau keilmiahan jadi bisa dianggap nggak perlu dipusingkan.

Kalau ada yang perlu dikomentarin, mungkin sekedar ketidak-tepatan pangkat Pilot dan co-Pilot dalam setting space flight. Umumnya space flight mengikuti sistim komando kapal selam atau naval fleet, dimana posisi kemudi dipegang oleh Helm Officer, bukan pilot. Dan untuk posisi pimpinan di dalam pesawat antariksa dipegang oleh Captain, dan First Officer sebagai wakilnya. Juga, penerbangan ke orbit Mars dalam rangka pendaratan dan penghantaran supply ini sesungguhnya tidak terlalu memerlukan medical officer, sebagai gantinya justru perlu ada Comm Officer.

Tapi ini kekurangan kecil, nggak mempengaruhi jalannya cerita serta heroisme Java Joe yang ingin ditonjolkan.

Nah, bicara heroisme, nich. Rasanya inilah faktor yang bagi saya menjadi let-down factor buat novel ini. Begitu pengarang starting on Java Joe's heroic exploits, buat gue image sci-fi novel ini langsung melorot ke titik terendah, tergantikan oleh imej lain.

Bukannya imej lain itu jelek. Nggak juga, koq. Cukup keren dan nggak biasa buat novel lokal juga. Cuma pasalnya gue nggak lagi menganggap Java Joe sebagai novel Sci-fi. Peran sci-fi Java Joe tamat riwayatnya begitu Java Joe tampil sebagai action hero di sana-sini. Imejnya langsung bersalin menjadi semacam tokoh James Bond, well,.. Indonesianisasi jagoan ala James Bond, tepatnya.

Paham, kan, kenapa jadi let down buat gue. Tokoh-tokoh jagoan macam ini udah soo old banget. Indonesia pernah punya Naga Mas, dan entah apa lagi, banyak, semenjak euforia James Bond di tahun 60-70-an. Ciri khasnya tokoh ini merupakan cowok macho yang secara mengagumkan (baca: unbelievably) bisa terampil dalam berbagai hal dan menyelesaikan segala masalah dengan berbekal jurus-jurus action.

Java Joe, sadly, akhirnya nggak lebih dari James Bond Indonesia yg lahir di AS, besar di AS, SMA di Jakarta dan kuliah di Barnett College, AS lagi. Kuliah Teknologi Aeronautika, yang salah satu mata kuliahnya arkeologi, dan saat tugas kuliah arkeologi membentuk tim Tomb Raider yang menjarah makam di Persia untuk menemukan kunci Istana Solomon, dan lulus masuk Skyfleet Academy untuk jadi pilot antariksa, dan kelihatannya ada kurikulum komputer programming sampai dengan keprajuritan segala. Komplit-plit, bo, sebagai James Bond center. Entah apakah selengkap itu pula training program di NASA, hehehe,....

Sejak kepulangan dari Mars (dengan clever pun: orang ke tujuh belas, misi ke tiga), Java Joe menjalani petualangan sci-fi berbalut sejarah dengan latar belakang konspirasi internasional. Dibantu oleh Chavez si Hacker jempolan, Sarah Lou si wartawati mantan tetangga masa kecil dan calon pacar tapi batal, Cynthia si dokter genetika mantan pacar SMA. Diburu-buru oleh komplotan Black Baron (rampok dungu tapi bossy, gitu), dan prajurit genetik IMPAC,... Sibuk bener, euy,..

Dan kesibukan itu jadi semakin terasa mendera-dera pembaca akibat nggak fokusnya 'tujuan' dari berbagai plot yang berseliweran ini.

Salah satu masalah utama bangsa kita sekarang, mungkin, kelihatannya adalah: Satu masalah aja belum cukup. Gak nendang, istilah kata. Jadi pengarang merasa perlu memasukkan multitude of problems di tangan Java Joe, mulai dari missi menyingkap rahasia prasasti Gandrung Wicaksana, misteri purnama perak, misteri inner planets alignment, misteri kalung warisan, misteri Operation Phoenix, misteri hubungan Joe dengan Sarah, dengan Cynthia, misteri rivalitas antara Sarah dan Cynthia, misteri professor Jones, misteri Pegasus, misteri Neogaia, misteri proyek Janus, misteri Area 51. Dengan sebanyak itu persoalan, dengan cuma dikasih jatah dua ratus halaman, tentu wajar jika banyak hal gak sempat diselesaikan oleh sang jagoan Java Joe,.. hehehe.

Akibat dari banyaknya misteri yang (seharusnya) saling berjalin membentuk konklusi di akhir novel, sebagian penggarapan misteri jadi terbengkalai dan terasa semata sebagai tempelan, agar persoalan kelihatan 'grande' belaka. Sebagian memang berhasil. Contohnya percakapan intelijen tingkat tinggi Neogaia, proyek phoenix, satelit hawkeye, dll, dibabar secara cergas mengesankan seperti novel-novel Crichton. Dialog yang dimainkan Spender, salah satu petinggi IMPAC (the bad guys) tampak berkelas, gak kayak intel tingkat RT, deh pokoknya. Tapi setelah semua hal yang keren-keren itu diaduk dan dicampur dalam sebuah masakan berbumbu action, pembaca ditinggali dengan sejumlah pertanyaan yang tak tuntas.

Mungkin saja Java Joe telah berhasil menyelamatkan Bumi dari spaceghost Pegasus. Tapi dia nggak berhasil menyelamatkan pembaca dari tumpukan pertanyaan. Terus apa hubungannya si Rara Jonggrang? Disebutkan adanya operasi Phoenix yang melibatkan si Rara Jo sebagai code name: Phoenix, tapi pembaca dibiarkan merana tanpa kejelasan, maksudnya apa seeeh,...??? Apa hubungan Rara Jonggrang dengan Neogaia? Dengan Pegasus? Ke mana urusannya setelah dua ribu tahun Rara Jonggrang disimpan di dalam candi, terus jebul-jebul bisa bangun oleh ilmu 'sleeping beauty' yang dimiliki Java Joe (!). Koq begitu aja, terus hubungannya dengan purnama perak yang katanya hanya terjadi limaratus tahun sekali saat planet-planet dalam posisi sejajar, apa? Sungguh, ini ibarat ngasih trailer yang ciamik di depan, tapi di dalam film-nya sendiri trailer itu tidak terintegrasi sebagai cerita yang konklusif. Yang lebih sadis lagi, novel ini punya sub judul: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang, yang bener-bener dibikin rahasia sampai cerita berakhir!

Yang paling gue gemes, kilah "energi murni" yang dimiliki Rara Jo sebagai salah satu motivasi tertinggi dibangkitkannya putri tidur itu, ternyata ngga ada efek apa-apa pada cerita. Rara Jo-nya malah kena,....... (ada plot twist), yang nggak akan gue ceritain sebab itu 'harta'nya pengarang, tapi let me tell you that gara-gara itu gue jadi gedeeeeeggg banget!!

Mengenai Karakter dalam Novel, secara keseluruhan sih asyik-asyik aja, cukup unik dan realistis. Java Joe yang ganteng tapi takut cewek (atau bahasa lainnya, nggak gampang 'serrr', kecuali ketemu soulmate), Chavez, tipikal sidekick jenius yang adegan hackingnya cukup mencuri momen, Professor Jones yang secara implisit dikesankan sebagai Indiana Jones (soalnya punya Cambuk dan Topi yang dikenakan dalam adventure di masa lalu. Siapa lagi, coba? hehehe), team Skyfleet yang cool abiss (I started to sound like MTV Generation! hiiiii), perkecualian untuk tokoh cewek Sarah Lou dan Cynthia, yang somehow karakternya malah meredup terutama setelah dipertemukan dalam satu lokasi oleh pengarang. Saya nyaris nggak bisa membedakan perilaku keduanya dalam setting itu. Sebenernya sih, seluruh tokoh-tokoh di atas mampu mengantarkan dialog yang hidup dan sangat suspense, gitu lowh!

Tapi sebagai sebuah orkestrasi, saya sayangkan tokoh-tokoh menarik ini nggak berhasil di conduct oleh pengarang menjadi penyajian yang harmonis dan men'deliver' story. Semata-mata bukan karena main musiknya jelek, tapi karena partiturnya nggak jelas.

At the end, gue menutup buku 234 halaman ini dengan kekesalan yang sama jika kita masuk bioskop untuk sebuah film festival (maksudnya film berkelas), dan ternyata ended up keluar dari sebuah pertunjukan popcorn movie. Sayang-sayang banget. Padahal trailernya udah cakep abiss (kayak Nadine). Persis seperti nonton Mission Impossible-nya Tom Cruise. Keren, busy, action-packed, tapi somehow hollow inside.

Maka kalo boleh saya yang masih awam ini kasih saran, dengan raw material yang sebenernya udah bagus, serta gaya penulisan yang udah punya ciri dan kena ke market, baiknya novel ini ditulis ulang dengan penambahan halaman, serta perubahan tata-letak berupa komposisi white area nya diperbesar (sehingga ukuran kolom tulisannya lebih kecil, kira-kira seperti format novel pocket-book luar negeri). Penambahan halaman akan memungkinkan penambahan dan pengembangan cerita/ sub plot sehingga semua masalah yang ada di dalam buku ini bisa diperjelas dan disambungkan satu sama lain tanpa rasa terburu-buru. Perbaikan tata letak sekedar agar membuat buku ini lebih enak dibaca aja.

Tapi teuteup,.... ini tetep bukan novel Sci-fi, walaupun memiliki elemen space setting yang jauh lebih oke dari novel sci-fi kebanyakan kita. Ini masuk ke novel Action Pop. Joe, pindah sana, ke rak nya mas James Bond, Naga Mas, dan kawan-kawan. Kayaknya mas James juga punya adegan Space yang keren, sama kayak kamu, tuh, di novel Octopussy.

Soal action dan romansa-nya? Iya deh, iya,.... cukup bikin deg-degan tapi juga indah menyentuh, koq. Tapi inget ini "standar Nadine", lho ya,... got it?
Salam,

FA Purawan

Rabu, 12 Maret 2008

GORAN: Sembilan Bintang Biru (Imelda A Sanjaya - 2007)

Goran, bacanya mungkin 'goran', ala Indonesia, atau bisa juga 'gorang', dengan cara pengucapan Jepang. Kenapa gitu? Kita bahas ntar.

Kembali muncul satu novel fiksi / fantasi karya pengarang lokal, diterbitkan oleh penerbit Serambi. Covernya langsung menohok memproklamirkan diri sebagai sebuah 'space-novel' dengan gambar planet bumi, sembilan titik bintang, serta sepasang mata menatap tajam. Gak jelas, itu sorot mata tokoh protagonis atau antagonis. Maia, anakku yg berusia nyaris 3 tahun membantuku melakukan review ini dengan mencoba melakukan interpretasi, "bapaknya lagi marah ya, yah?". Maksudnya bapak-bapak yg matanya di gambar itu lagi marah-marah. Ok, he must be the bad guy, then :)

Tidak ada detail mengenai pengarang. Namun kelihatannya ini novel perdana beliau, atau saya yang memang kurang tahu tokoh-tokoh pengarang generasi sekarang. Boleh jadi Imelda A Sanjaya sudah punya sederet judul dalam portfolio kepengarangannya.

Membaca Goran, jauh lebih nyaman dibanding novel-novel yg terlebih dulu sudah saya review di blog ini. Penyebabnya karena bukunya memang tipis (hanya 336 hal), dengan layout yang relatif lega dengan font cukup besar.

Tapi ada lagi faktor lain yang membuat novel ini juga lebih mudah dikunyah: Adegannya pendek-pendek.

Itu cukup menjelaskan bahwa ada style tertentu yang dipakai pengarang. Dan saya jadi cukup salut atas hal itu, terlepas apakah itu pilihan yang disengaja atau style bercerita si pengarang emang udah dari sononya begitu. Bahwa 'eh ternyata ada style kayak gini, ya' itu saja sudah membuat saya cukup mengapresiasi.

Walau saya juga bisa nggak setuju dengan style-nya. Itu soal lain.

Adegan pendek-pendek = Style? Mungkin lebih dari itu. Dalam mengikuti plot yang singkat-singkat, berpaling dari satu tokoh ke tokoh lainnya, dan speed cerita yang menjadi lambat karenanya, Saya merasakan (to my ashtonishment), bahwa saya bukan seperti membaca novel, melainkan seperti sedang membaca,.... Manga!

(buat yang belum tahu, Manga, dibaca 'mang-ga' adalah komik jepang. Yang memang memiliki kekhasan dalam cara bercerita, yang berbeda dari pakem komik barat. Sehingga bahkan gambar-gambar manga pun sampai dianggap sebagai suatu karya sastra tersendiri)

Uniknya Goran, membaca tulisan si pengarang, rasanya persis seperti menikmati gambar manga. Bukan dari semata-mata dari deskriptifnya, tapi juga dari cara pengarang mengolah setting dan menempatkan tokoh-tokoh, persis seperti cara manga bercerita.

Sesungguhnya tidak aneh, mengingat saat ini manga memang sudah menjadi makanan sehari-hari kita, sehingga bisa saja cara bertuturnya terserap dan menjadi style penulisan seorang pengarang.

Spekulasi pengaruh manga ini juga muncul dalam pilihan setting yang dilakukan si pengarang, dimana mengambil Jepang sebagai titik awal setting tokoh utama, Aniki Kodama, tinggal. Sedikit penasaran aja di sisi saya, apakah pengarang memang sangat familiar dengan budaya Jepang. Kelihatannya sih begitu. Tapi rasanya nama 'Aniki',.. koq ngga terasa jepang yah? Atau mungkin nama-nama jepang modern udah seperti itu, saya kurang tahu. Atau bisa juga Aniki adalah nama umum buat orang-orang suku Ainu (orang jepang asli yang konon berbeda dengan orang jepang yg datang belakangan dari tanah Korea). Tapi kelancaran pengarang menuturkan kehidupan di jepang, terlepas apakah dia pernah mengalaminya sendiri atau 'mengalami' lewat membaca manga, cukup menghidupkan cerita di dalam pikiran pembaca.

Pengarang memilih berbagai setting budaya untuk diaduk dalam karyanya. Ada setting Jepang, ada setting Mongolia, ada setting Cina, dan tambahan satu setting lagi di planet Vida sebagai setting sentral. Penggambaran masing-masing setting cukup realistis, cukup believable walaupun saya nggak bisa bener-bener terlarut di dalamnya. Mungkin karena 'tone' komedi yang bertaburan di sana sini, sebagai bagian intergral dari style manga yang dilakoninya.

Saya bahkan bisa membayangkan butir-butir keringat khas manga mengalir dari kening tiap tokoh yang 'kena' adegan semacam, "Capeee deh,..." :) pokoke manga banget!

Tapi itu dia, entah bagaimana, tone komedi yg digunakannya memang membuat novel terasa lebih nyaman dan gampang dikunyah. Beberapa joke, terutama kalo udah mengenai sepasukan prajurit Mongol dibawah komando 'letnan' Kamuchuk dan Panglima Sam (Kamuchuk, good Mongolian name. Sam? Nggak cool. Sebenernya lebih asik nama Panglima Sam jadi Kamuchuk aja!), asli kocak dan bener-bener bikin ketawa. Namun di sisi lain, itu juga yang membuat kening gue jadi agak berkerut. Bangunan kisah novel ini menjadi sedikit 'gak kena' akibat tone komedi tersebut.

Tapi itu menurut saya looh,.. udah berkaitan dengan selera. Siapa tahu justru tone seperti itu yang lebih disukai pembaca muda. Kembali, humor manga memang suka muncul seenak udel kagak terkait konteks.

Keunikan lainnya adalah tokoh-tokoh ciptaan pengarang yang cukup hidup, dan tak lepas terkesan manga-ish juga. Tokoh utama Aniki, Jepang banget. Tokoh Orphann, seperti gambaran anak bule dalam tarikan tinta manga Jepang. Tokoh Xin Ai dari Cina, juga menarik digambarkan sebagai salah satu tokoh utama yang berlawanan dengan pakem: rada bogel (gendut pendek) dan gak cantik-cantik amat. I like it. Ada tokoh dengan penggambaran unik lainnya seperti Soil, sahabat Orphann di planet Vida, cewek yang justru mengesankan maskulinitas dengan wajah yang keras dan kepala botak, dan tanda-tanda cinta yang mendalam pada Orphann. Dan lain-lain.

Bagaimana dengan setting planet Vida? Well, seharusnya ini menjadi sentral cerita, dan saya agak gamang, apakah pengarang sudah mempertimbangkan setting ini secara lebih mendalam. Vida adalah sebuah planet yang memiliki 3 matahari yang tampaknya mengelilingi planet itu tidak dalam waktu yg sama, tapi kadang-kadang sempat muncul bersamaan atau menghilang bersamaan dalam waktu tertentu. Selain itu planet Vida juga memiliki sekitar 40-an bulan/ satelit yang bisa dilihat dengan mata telanjang sampai pada pesawat-pesawat yang hilir mudik dari Vida ke masing-masing bulan. Astronomically, it should be VERY CLOSE range! Oh iya, ada indikasi juga bahwa sebagai planet, Vida tidak berbentuk bola melainkan agak bulat telur (referensinya di halaman berapa ya? Lupa aku).

Nah, di sini lah challenge untuk pengarang bermula. Dan tampaknya pengarang harus buka-buka buku Astronomi lagi neh,.. hehehe. Pertama mengenai bentuk planet yang oval. Apakah secara astronomis hal itu dimungkinkan? Planet terbentuk dari material gas yang berotasi akibat gaya gravitasi tata surya dengan matahari sebagai sumbu rotasi tata surya. Dan planet diketahui juga tidak hanya berputar dalam satu sumbu terus menerus, ada pergeseran sekian derajat. Dalam hal itu, mestinya sih beban akan terbentuk secara merata sehingga sebuah planet most likely akan berbentuk bola (kalaupun bukan bola sempurna, tetap tidak akan sampai berbentuk telur).

Bentuk-bentuk selain bola masih dimungkinkan untuk planetoid, yaitu benda angkasa yang cukup besar, yang mungkin saja dulunya pecahan dari suatu planet.

Jadi kalaupun kita mau mengadopsi setting Vida ini, maka kita harus mengasumsikan Vida sebagai sebuah planetoid yang ditinggali manusia. Itu juga bisa menjelaskan kenapa bisa ada bulan-bulan dalam posisi berdekatan. Terutama karena perbedaan skala yg nyaris 1:1 antara planet induk (Vida) dengan satelitnya. Bulan biasanya berukuran lebih kecil dan ada jarak astronomis tertentu terhadap planet induk. Soalnya mengingat cara terbentuknya melalui gas yang berotasi, tentu masuk akal bila posisinya terlampau dekat maka si bulan akan terserap dalam planet induk sejak dulu-dulu. Dan sebagai contoh Jupiter, planet raksasa di tata surya kita, perbandingan ukuran antara planet induk dengan bulan-bulannya pasti tidak 1:1.

Yang lebih seru, bagaimana bisa ada planetoid seukuran Vida di lokasi yang sekarang? Itu bisa menjadi twist cerita yang menarik. Karena nggak mungkin Vida merupakan planet induk yang terpecah secara natural. Kalo sebuah planet mengalami "nova" (mestinya sih yg bisa nova cuma matahari atau 'star-class planet') pastilah ledakannya menghancurkan planet-planet kecil di sekitarnya. Dengan keberadaan bulan 40 biji yang masih 'intact', berarti Vida adalah sebuah planetoid yang berasal dari tempat lain! Bagaimana caranya bisa berada di sana? Apakah ada teknologi tertentu yang telah memindahkannya? Apakah ada hubungannya dengan ras manusia (yg persis sama dengan Bumi) yang mendiami tempat itu? Bakal jadi setting yang menarik, loh.

Tapi 'flaw' yang lebih serius justru terdapat dalam konsep 3 matahari Vida. Mungkin pengarang sempat lupa bahwa seharusnya planetlah yang berotasi terhadap matahari, bukan matahari mengelilingi planet! Jadi mestinya kondisi ada 3 matahari yang posisinya tidak menetap relatif terhadap planet, rada nggak mungkin. Apalagi, Matahari seyogyanya merupakan bintang yang menjadi pusat tata-surya, dalam pengertian bahwa planet-planet di tata surya itu akan mengelilingi satu matahari. Nah kalo ada tiga, mustinya sih tiga yang jadi satu pusat, bukan tiga pusat tata-surya dalam satu lokasi sekaligus. Kondisi Vida dengan tiga matahari di posisi relatif yang berlainan, baru mungkin terjadi apabila rotasi Vida berubah-ubah tidak dalam satu sumbu. Secara dongeng sih boleh-boleh aja. Tapi secara ilmiah, kondisi itu akan mengakibatkan iklim yang sangat kacau, yang tidak mungkin menghasilkan kehidupan.

Tuh, panjang lebar deh aku ngebahas hal-hal ilmiah yang bahkan oleh pengarangnya ataupun pembacanya nggak dipersoalkan,... hehehe,.... jadi ribet sendiri, ya?


Justru itulah, moga-moga dengan keribetan ini, rekan-rekan sekalian menyadari bahwa excitement dalam menuliskan kisah fiksi ilmiah bisa menghebat luar biasa kalau kita mau menyisipkan pertimbangan-pertimbangan ilmu (astronomi, kek, antropologi, kek, sejarah, kek, dll) di dalamnya.

Okeh, kalo gitu lanjut ke cerita lagi. Sebagai konsekuensi dari tipisnya buku dan pengadeganan yang pendek-pendek, maka plot berjalan cukup-sangat-lambat. Demikian lambatnya sehingga saya sempet curiga. Ini halaman udah mau habis tapi koq belum sampai ke klimaks, ya? Dan ternyata, kecurigaan itu terbukti. Sampai habis halaman,... ternyata cerita masih belum habis!!!


Ooohhh,.. jebule iki ada maksud-maksud cerbung atau mungkin trilogi tooh??

Koq ga di-mention sama sekali sih? Gue merasa dikhianati oleh pengarang. Setelah gue baca judulnya lagi lebih teliti, memang ini bakalan jadi trilogi. Alasannya, pengarang membuat sub judul "Sembilan Bintang Biru". Dan dalam cerita, ternyata baru 'muncul' 3 Bintang. Yak,.. artinya, masih akan ada enam bintang lagi, yang diperkirakan akan muncul 3 di buku kedua, dan 3 lagi di buku ketiga.

Menyenangkan, heh? Sayangnya buat aku, enggak. Kalau mau bikin trilogi, bilang aja 'napa? Dari awal. Supaya gue juga punya ekspektasi yg pas. Keburu kecele bikin gue ngga respek, man! Entah, etika kayak gitu masih dihargai atau enggak sih, dalam industri penulisan sekarang ini. Tapi jujur ini hanya masalah preferensi pribadiku aja seh, orang lain bisa aja ga masalah dengan ini. Toh begitu terbit buku 2 maupun 3, yang udah terlanjur suka dengan petualangan Aniki, Orphann, Xin Ai dan kawan-kawan, pasti akan menyambarnya dari rak pajang.

Oh iya, mengenai Goran, dibaca Goran atau Gorang? Kenapa gue tanya itu, soalnya buku ini 'kan mengambil settingan Jepang, bertutur seperti manga, dan berlucu-lucu dengan cara yang manga-ish. Nah, mau dibaca Goran, atau Gorang, silakan simpulkan sendiri.

ngGantung, yach?! Hehehe rasain. Emang enak?

Salam,


FA Purawan

Jumat, 07 Maret 2008

LESTI: Nyatakah Dia? (Soehario Padmodiwirio - 2006)

Sebuah pertanyaan jitu. Nyatakah dia? Dan setelah membaca tuntas novel ini, saya juga ingin bertanya, NYATAKAH NOVEL INI? (yang artinya: Beneran, nih? serius, nih? bener-bener niat bikin novel ato bikin,....???)

Kebetulan saya nggak kenal bapak Hario Kecik. Tapi masyarakat sudah terlanjur mengenal beliau sebagai salah satu tokoh Nasional yang terlibat dalam peristiwa bersejarah di negeri ini. Itu berarti, it counts, to listen to what he's about to say in this novel. Dan ketika dalam sampul belakang dikatakan, "Novel ini sepertinya sebuah novel Science Fiction yang ditulis oleh seorang penulis Indonesia", terus terang, aku 'terbeli' olehnya. Apalagi kemudian ada gejala-gelaja koneksi antara temuan fosil dengan legenda Ratu Roro Kidul, gue ngga lagi cuma 'terbeli', melainkan udah terobral sekalian.

Dan,.. just to discover,... menjadi tokoh sejarah gak berarti otomatis menjadi tokoh piawai dalam menulis novel. Tapi anehnya, apakah terpengaruh oleh kesepuhan beliau, atau mungkin juga oleh bobot pemikiran beliau, Novel ini biarpun gak memuaskanku, tetapi juga nggak mampu (terlampau) mengecewakanku.

Terus terang, rasanya seperti mendengarkan dongeng kakek. Ngalor-ngidul, ngawang-ngawang, kadang-kadang aneh (karena nggak ngerti, udah beda jaman), tapi tetap mengasyikkan. Kalo pun si kakek sibuk menerangkan sesuatu menurut bahasanya yang ruwet di telinga kita, akhirnya kita tetap mengapresiasi dan bertepuk tangan pada kakek, sebelum kakek permisi tidur siang dan kita kabur mencari udara segar,.. :)

Pertama kali kubuka buku, yang kubaca justru halaman belakang dimana ada biografi penulis. Dan JLENG! Sederet pelatihan Militer, jalur kepangkatan yang 'beneran', associate science di Rusia, sampai sejumlah tanda jasa yang hanya bisa kuimpikan jika main game Wing Commander di komputer,... he is really a serious, mean, warrior! Saya mencatat dalam hati, kalopun orang ini gagal menulis novelnya, dia tetap merupakan nara sumber yang luar biasa kompeten untuk diajak berkonsultasi tentang APAPUN mengenai Perang.

Dan skill itu sempat pula terintergrasi dalam plot novel, dan memberi latar belakang yang cantik dan believable di dalam setting perang revolusi kemerdekaan Indonesia di dalam novel ini.

Salah satunya yang membuat gue terkagum-kagum, baru kali ini aspek strategi logistik diperhitungkan dalam plot novel (jadi inget kritik gue ke Novel Reinhart, novel pak Hario ini langsung menjawabnya!). Dalam setting Agresi Belanda ke II tahun 1947, komando gerilya republik menjalankan siasat 'menanam singkong' di kebun-kebun pedalaman di atas gunung. (Albeit, kalo dalam cerita novel, pekerjaan ini dilakukan oleh pasukan ghoib).

Untuk pola pikir kita yang cetek-cemetek ini, tentu tindakan semacam itu akan 'nggak ter-register' sebagai suatu strategi perang. Bah! Bahkan akan langsung kita pandang sebagai insignifikan, tenggelam dalam grandeur bayangan seorang raja di atas punggung kuda melambaikan pedang berkilat.

Ntar dulu, kawan,... justru kebun singkong ternyata merupakan salah satu elemen perang gerilya yg penting! Begini,... pasukan gerilya, tentunya kita sudah tahu bahwa mereka berperang dengan taktik serbu konvoi musuh, bikin kejutan kecil, kemudian segera mundur. Pasukan tidak digabung dalam jumlah besar, melainkan terpecah-pecah dan berlokasi di tempat-tempat sulit.

Nah,.. makan apa, mereka???

Sumpah, sebelum membaca novel ini, yang ada dalam benakku tentang perang gerilya adalah para prajurit republik itu makan nasi di dapur umum yang dimasakin beramai-ramai oleh warga desa.

Novel ini menyadarkan gue bahwa dalam situasi perang gerilya, hal itu sebenernya nyaris gak mungkin! Pertama-tama, desa adalah tempat komando strategis dan logistik yang pertama kali bakalan dikuasai oleh musuh. Jadi pasukan Belanda yg lebih kuat, pastilah pertama-tama akan menduduki desa lebih dulu. Mulai dari desa yg besar, terus menyisir sampai ke gunung. Sumber daya logistik, beras, udah pasti dikangkangi lebih dulu. Warga desa, sesimpati apapun terhadap perjuangan, akan sulit membuat dapur umum seperti bayangan di film-film.

So pasti, gerilyawan hampir mustahil mengkonsumsi beras. Dalam posisi ini, sangat masuk akal bila singkong hadir menjadi sumber karbohidrat alternatif bagi para pejuang. Dan singkong bisa ditanam di titik-titik strategis, maintenance free, bahkan dilewatin oleh tentara belanda yg nggak tahu kegunaannya dan dianggep tanaman liar. Itu baru strategi jenius!

BTW, strategi singkong dan penerapan konsep-konsep ilmu perang yang tentunya merupakan keahlian si pengarang, merupakan sisi positif novel ini, dan menurut gue inilah yg paling ku apresiasi dalam kaitannya dengan ilmu penulisan novel sci-fi/ fantasy.

Untuk penokohan dan perjalanan plotnya sendiri, mungkin memang nggak cocok dengan audience muda, ya. Tokoh utama bernama SUTOPO, well, it's kinda outdated. Tapi saya pikir pak Hario Kecik memang nggak menargetkan generasi masa kini sebagai segmen pembacanya. Dia lebih mengarah ke pembaca yg sudah matang, senior citizen, lah. Sehingga sekujur novelnya memang merupakan ekspresi dari ide-ide spiritualis yang beliau rasakan, seiring ngetrendnya pemikiran new-age macam itu di masyarakat kita.

Having said that, ini novel memang ngga begitu niat jadi novel, heheh. Mungkin lebih tepat sebagai wahana pak Hario dalam menuangkan ide-ide filsafati-nya, menggunakan cerita sebagai sekadar medium.

Akibatnya, kita juga jangan terlalu berharap menikmatinya sebagai novel. Bakal berat, bo. Seperti makan daging steak setengah kilo. Emang lezat bergizi, tapi lama-lama perut begah.

Contohnya aja nih, cara bertutur yang bener-bener berstyle "ceramah". Satu tokoh bisa mengatakan sesuatu dalam SATU paragraf yang memakan sampai dua halaman baru ketemu tanda dua koma tutup ("). Gila, kan. Tokoh Lesti, perempuan semi android itu, paling banyak melakukan ini terutama kalo sedang menjelaskan "ini-itu" seputar tema utama novel (yang artinya: sebagian besar kisah novel dituturkan dengan cara ini!).

Cara mengatakannya pun ngga seperti berdialog, melainkan seperti dosen berceramah di hadapan mahasiswa :)

Emang, pengarang bisa seperti Mobil GAZ (merk mobil jeep perang Rusia jaman dulu) ngabisin bensin kalo udah urusan ekonomi kata. Hehehe,... emang boros banget. Bayangin aja, beliau 'tega' nulis judul bab yang bahkan panjangnya ngelebihin satu halaman! Liat nih:

(Bab 30) LESTI MENERANGKAN SECARA GARIS BESAR TENTANG PERKEMBANGAN BARU-BARU INI DALAM BIDANG TEKNOLOGI TINGGI DAN PERUBAHAN KONSEP HUBUNGAN POLITIK INTERGALAKSI DARI PERADABAN-PERADABAN DI ALAM SEMESTA KITA, DARI SUATU POLITIK SALING MENCURIGAI DAN PERMUSUHAN MENJADI KONSEP POLITIK KERJA-SAMA DI SEGALA BIDANG KARENA DIDORONG OLEH KESADARAN BAHWA KEHIDUPAN DAN SEGALA-GALANYA DI ALAM SEMESTA KITA INI BISA MUSNAH OLEH SUATU BENCANA ALAM YANG DISEBABKAN OLEH SUATU PERKEMBANGAN DIALEKTIS DETERMINIKAL YANG OBJEKTIF DARI PUSAT-PUSAT PERGOLAKAN ENERGI DI BEBERAPA LOKASI DALAM ALAM SEMESTA KITA. PUSAT-PUSAT ENERGI INI DALAM SUATU PROSES MENURUT HUKUM "QUANTUM-PHYSICS" YANG SEBETULNYA SUDAH DIMULAI SEJAK TERJADINYA "BIG-BANG", DAPAT MENJADI PROSES YANG "MUNDUR" ATAU "BERBALIK" DAN AKHIRNYA BISA MENJADI PROSES "PENGERUTAN" YANG TERUS BERLANGSUNG, SEHINGGA AKAN MENIADAKAN SEGALA APA YANG TELAH DIKREASIKAN OLEH "BIG-BANG" KARENA DITEKAN MENJADI KECIL TAK TERHINGGA, TERMASUK KEHIDUPAN DAN PERADABAN KITA INI

Believe me, untuk menuliskan judul ini, satu halaman aja gak cukup! (sengaja gue sebut dua kali, saking terperangahnya,.. hehe).

Dari judul seperti itu, kurasa udah pada bisa ngebayang gimana isi paragraf selanjutnya! Hehehe,...

Tapi di luar teknik bertutur yang unik seperti itu, sebenernya buah pikiran pengarang cukup asik, ide-ide new agenya cukup seru-lah untuk menambah pemikiran kita. Buang istilah-istilah ruwet seperti "Dialektif Determinikal yang Objektif" (dan masih banyak lagi, I warn you!), maka sebenernya cukup bernas ide cemerlang yang bisa kita nikmati. So, butuh kesabaran untuk memahami novel ini. Sebuah tugas yang cukup berat di tahun 2008, lho. heheh.

Di luar kerumitan-kerumitan kosmologis determinis aktif itu :), sebenernya penulisan novel pak Hario ini cukup mengasyikkan. Penggambaran tokoh Lesti, biarpun namanya nggak banget, meleset dikit jadi, Lesbi :p ; kecantikan sosoknya sedemikian rupa berhasil digambarkan sehingga aku sendiri pun jadi naksir dan pengen ketemu :) Kemudian satu highlight lagi yang saya puji adalah kemampuan beliau untuk membuat wisata kuliner secara imajinatif menjadi demikian menggoda. Kalo sudah menguraikan makanan (dan hebatnya, beliau banyak menguasai makanan-makanan tempo dulu yg nggak kita kenal lagi di jaman sekarang), maka pasti terbit liur pembaca, dan timbul penasaran di mana kita bisa mendapatkan masakan seperti itu.

So, emang akan sulit menilai buku ini. Di satu sisi berasa ngawur se-edan-edannya (bukan dalam sisi 'gokil', tapi dalam sisi menabrak pakem penulisan novel seperti orang tua oldtimer yang nggak lagi peduli sama pemahaman generasi anak-cucu) sehingga mau gak mau bikin kita ingin ketawa ngakak dengan perut begah, tapi di sisi lain ide-ide yang dicetuskan memang menarik untuk diolah lebih jauh.

Ibaratnya, pak Hario memang bener punya ide "emas" saat melihat fosil makhluk purba di pantai Pacitan tahun 1947, sebagaimana dikisahkan dalam pengantar. Sayang aja, pada saat dituangkan, ide-ide emas itu jadi tersaru oleh 'sampah' kata-kata yang menjauhkan pembaca ke muara kebegahan.

Pak Hario, hormat militer! Selamat datang di Fiksi dan Fantasi Indonesia, and,.. happy voyage!

Salam,
FA Purawan

Minggu, 24 Februari 2008

Beberapa Covers,....


Ada beberapa Cover Novel Fiksi Ilmiah/ Fantasy yang saya punya, semua sudah dibaca, tapi sejak dulu belum sempat saya tuangkan reviewnya. Aniway, saya taruh sini saja sekedar reminder, siapa tahu kapan-kapan ada waktu,.. hehehe

Jumat, 22 Februari 2008

REINHART: Titisan Lima Ksatria Agung Eirounos (Hendra Surya - 2007)

Sekali lagi, novel fiksi-fantasi Indonesia, yang bikin aku tergelitik buat komentar setelah Hozzo yang bikin aku kenalan sama pengarangnya (walaupun akhir-akhir ini beliau agak 'dingin', mungkin masih sakit hati sama ulasanku yang dianggapnya terlalu 'pedes',... hehehe. Gak papa, itulah bukti bahwa aku memang cinta sci-fi/ fantasy, dan nggak mau main-main sama sci-fi/ fantasy!).

Saya lihat buku ini terpajang di salah satu toko buku sepi di Kalibata Mall. Rasanya belum pernah menemuinya di Gramedia. Entah karena memang udah nggak masuk masa pajang/ edar di toko buku utama Indonesia itu, atau memang oleh penerbitnya ngga dimasukkan ke sana. Dengan desain sampul bergambar "manga" style lima orang remaja berkostum gak jelas, saya sempat terkecoh mengiranya sebagai salah satu buku fiksi-islami a la Mizan, terutama karena ada tatto bintang dan bulan sabit itu.

(kupikir akan ada hubungan tatto 'islami' dengan plot cerita, ternyata gak terlalu substansial. Keseluruhan novel ini sama sekali bukan novel bergenre Islami).

Membuka lembaran pertama dan seterusnya, kali ini sudah dengan sikap berjaga-jaga, expect the worst mengingat perkembangan penulisan sci-fi lokal memang masih belum banyak kemajuan setelah lepas era Djokolelono. Apalagi terus terang saja desain sampulnya "enggak banget" buat saya.

Dan ekspektasi itu cukup terbukti, sebetulnya. Bisa dibilang buku ini jauh berada di bawah standar saya. Tapi ada beberapa aspek yang membuat buku ini menjadi 'layak' untuk saya komentarin. Hehehe,.. bukannya komentar gue berharga tinggi kayak komentar dewa, tapi komentar gue memang senantiasa gue niatkan untuk mengembangkan penulisan genre sci-fi/ fantasy di Indonesia, sehingga apapun yang bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan diri, rasanya layak untuk kita ulas. Dan buku ini memuat cukup banyak contoh bahwa tidak sedikit hal yang bisa diperbaiki atau dipelajari guna meningkatkan kualitas kepengarangan sci-fi/ fantasy di tanah air.

Dan kalaupun komentar ini jadi pedes,.. mohon jangan dilupakan bahwa memang saya cukup mudah 'gemes' terhadap sesuatu yg di mata saya kurang 'pas' dan seharusnya dapat di 'pas'kan. hehehe,... Tapi sekali lagi, gemes itu tandanya sayang (apa siiih).

Pertama-tama, mungkin dari hal dasar yang amat mendasar. Kalo mo bikin cerita sci-fi/ fantasy di jaman sekarang ini, apa angle yang sebaiknya kita gunakan? Apa style yang bisa kita pilih?

Koq nanya begitu? Jujur aja, saya masih terheran-heran dengan wawasan pengarang kita, atau mungkin juga wawasan penerbit sekaligus wawasan para pembaca kita. di jaman milenium ini, generasi milenium Indonesia sudah terpapar dengan sedemikian gencar film2/ buku fiksi ilmiah dengan berbagai gaya 'story telling'. Untuk belajar menulis kisah fiksi ilmiah, tinggal belajar melalui membaca buku-buku fiksi ilmiah atau fantasi yang patut dijadikan referensi. Memang buku2 itu jarang di jual di tanah air, plus jarang diterjemahkan. Tapi rasanya kemampuan kita membaca literatur berbahasa Inggris di jaman sekarang udah cukup memadai, lah. Dan buku-buku itu sebagian masih bisa kita dapatkan di Internet dalam bentuk e-book. Jadi jangan bilang kalau ga ada akses lagih!

Dari internet kita juga bisa bergabung dengan milis atau forum penggemar sci-fi, yang tentunya bisa memperkaya wawasan kita dalam menulis sci-fi atau fantasy (ini dua genre yg unik, sebab seutuhnya pengarang yang ciptakan dunia/ universe di dalamnya!). Atau at least, kita bisa mengobservasi bagaimana pengetahuan para fans karya-karya sci-fi ini terhadap isi-perut karya-karya tersebut, contohnya sampai ada perkumpulan pengguna bahasa Klingon segala!

Tapi kenapa, oh kenapa, sekalinya kita bikin novel sci-fi, maka yg muncul gaya-gaya Flash Gordon,... melulu (BTW Flash Gordon itu kan buatan tahun enam puluhan?).

Novel Reinhart, dikarang oleh Hendra Surya, seorang Konselor, Marketing Manager & HRD & PR (bukan pengalaman yg sedikit, itu!), yg sebelumnya sudah mengarang sembilan buku bertemakan psikologi dan pendidikan, tapi novel sci-finya jatoh-jatohnya ngga jauh dari nuansa flash gordon tahun enam puluhan. Dan sebagai sebuah sci-fi, maka karya ini sayangnya terlalu miskin riset dan miskin wawasan. Saya sedikit kecewa, walaupun harus manggut-manggut memaklumi bahwa kecenderung itu sangat lazim di dunia penulisan Sci-Fi kita. Boleh dibilang, hingar-bingar literasi sci-fi/ fantasy di luar negeri seolah ga berdampak pada kita.

OK, let's see the story. Kisah novel Reinhart: Titisan Lima Ksatria Agung Eirounos ini basicallly adalah sebuah space opera yang mengetengahkan kejagoan lima remaja berusia 15 tahun, yang somehow merupakan keturunan dari Mahapatih Gajah Mada, yang mendapatkan tugas untuk membasmi kejahatan di planet jauh, Acrotus yang (masih terletak dalam galaksi Bima Sakti, tapi oleh pengarang dikesankan berada di sebuah galaksi tetangga kita). Dan ternyata mereka adalah "Titisan" berdarah murni dari Lima Ksatria Agung Eirounos, the Legendary Heroes di planet Acrotus. Seterusnya cerita berlangsung linear mulai dari trip ke planet, perang lawan musuh, menang, dan balik lagi.

Cara menjalin plot, masih menunjukkan kelemahan. Kemungkinan pak Hendra Surya sudah berpengalaman dalam membuat buku non-fiksi, tapi masih belum begitu fasih bicara karya fiksi. Sebagian besar pengadeganan berlangsung secara deskripsi. Terasa kekurangan aksi, dialog, atau narasi sebagaimana novel. Plot juga luancar-luancar aja maju tanpa konflik yang berarti, dan terkesan spirit novel ini cuma sekedar sebagai pemuas ego khayali seorang bocah remaja SMP.

Sebenernya oke-oke aja. Waktu SMP aku juga punya khayalan sebagai jagoan tak terkalahkan senyum So, part itu sebenernya bisa menjadi kekuatan novel ini. Hanya saja, kekuatan tanpa pengolahan yang tepat tidak akan menghasilkan materi berkualitas.

Kelemahan terbesar novel ini, bagi saya terletak pada logika yang kedodoran serta kurangnya riset untuk memahami 'dunia' yang diciptakan dalam novel, serta kurang concern-nya pengarang terhadap kekuatan bahasa dialog dalam penulisan novel.

Logika, saya sebut kedodoran. Pertama mengenai penokohan lima remaja SMP berusia 15 tahun, yang dalam halaman-halaman pertama saja sudah memunculkan inkonsistensi yang membingungkan. Mulai dari sosok utama (Reinhart) seorang remaja 15 tahun yang digambarkan memiliki tinggi badan 170-an (cm,... emang sih anak sekarang bodynya gede-gede, tapi kalo elo tarok seorang anak bertinggi 170 cm di SMP mana aja di jakarta, guaranteed, elo akan dapetin anak 'jangkung' ini sebagai seorang remaja minder, ketinggian, bo!), ganteng, punya pandangan tajam, pemikir, cuman agak pendiam tapi bijaksana (hal 2); Dari penjabaran singkat itu saja sudah kelihatan kontradiksinya. Remaja SMP umumnya belum terbentuk karakter se'dalem' itu. Dan di sekujur cerita, tingkah laku dan pemikiran bocah 15 tahunan ini digambarkan jauh dari usianya, sehingga justru menjadi unbelievable. Buat saya sosok rekaan pengarang ini akan jauh lebih masuk akal jika diceritakan berusia antara 17 atau 18 tahun.

(Tunggu, setelah selesai membaca novel, saya makin kuat menduga bahwa para tokoh sesungguhnya didesain berusia 17-18 tahun, tapi kemudian diturunkan oleh pengarang, mungkin dengan pertimbangan target-market yang ingin dicapai oleh novel ini).

Sederet dodor logika lainnya silih berganti menghancurkan kenikmatan membaca dan menggoyahkan sendi-sendi 'believability' novel ini. Mulai dari pemilihan nama tokoh yang bikin saya ingin ketawa: Reinhart, Benhart, Leinhart, Kenhart, daan,.. Jesica (apa-apaan ini? Keluarga 'Hart" dari Swiss?) dan kenyataan bahwa mereka bukannya sederet sodara kandung melainkan sodara sepupu, juga membuat pembaca bingung memikirkan kenapa ortu-ortu mereka sampai kompakan bikin nama-nama konyol untuk anaknya. Lebih konyol lagi ketika saya tahu nama kakek mereka yang misterius tinggal di atas gunung, yaitu Gadjah Biru (GEDUBRAK DOT COM). Soal ancur-ancuran bikin nama, coba simak nama-nama ini: Tequilla, Trulla, Drilla, Karlla, Zarlla, Firlla, Sarlla, Drulla, Birlla, ini bukan nama sembilan bersaudara kurcaci pemain sirkus Acrotus senyum melainkan sembilan anggota pasukan pengawal raja pilihan yang entah kenapa harus dibikinin nama seragam seolah-olah mereka baru keluar dari ruangan kloning.

Mungkin saja buku ini memang ditujukan buat dibaca anak-anak SMP (Kenapa harus sesederhana itu? Apakah memang terpatri paradigma bahwa sci-fi/ fantasy hanyalah konsumsi remaja? Memangnya Tolkien bikin LOTR untuk elementary and middle school of London?). Tapi saya kira bahkan anak SMP sekalipun harus sudah kita bina dengan material yang logis dan koheren.

Kemudian pengetahuan si kakek akan arti tanda lahir (tanda tatto misterius yang muncul di kulit para jagoan), tidak jelas si kakek tahu dari mana. Cuma sekedar bahwa "cucu-cucu gue itu spesial sebab turunan dari Gadjah Mada, yang punya darah satria". Kakek seperti tahu beberapa hal luar biasa, tapi sumber pengetahuannya gak jelas, bahkan ketika tamu-tamu dari planet, yg membawa informasi detail, hadir di Bumi, si kakek juga nggak menunjukkan bahwa ia pernah berinteraksi sebelumnya etc. Jadi kesan nya, si kakek itu tahu 'mak-jleg' begitu aja! (Hasil Meditasi?) udah gitu perannya ya cuma selesai di situ (Doh!). FYI, ternyata tatto unik itu merupakan hasil pancaran elektromagntis yang menembus galaksi dan beresonansi dengan DNA yang cocok, akan menimbulkan ruam kulit berbentuk bulan sabit dan bintang, yang sering terasa panas. Kalau sampai lima belas tahun menderita kelainan seperti itu para tokoh belum juga ke dokter, jangan tanya sama saya.

Lantas pula mengenai konsep "titisan darah murni",... ini apaaa sih?? Wong anak-anak itu sama sekali gak ada hubungan darah dengan Lima Ksatria Agung Eirounos 150 tahun yg lalu, unless Gadjah Mada sebagai kakek moyang definitif anak-anak itu sempat melancong ke Acrotus dan beranak pinak di sana. Oh iya mengenai keturunan Gadjah Mada sampai ke kakek Gadjah Biru dan lima sodara sepupu Reinhart itu, gimana yah? Soalnya berdasarkan referensi novel lain, Mahapatih Gajah Mada dinyatakan tidak kawin sebagai konsekuensi mengucapken sumpah Palapa! Hayoo mana yang bener?

Sebenernya masih banyak logika kedodoran menghiasi sekujur novel. Tapi kalo aku ceritain semua, jadinya malah gak napsuin, hehehe. Yg jelas, logika kedodoran juga disebabkan karena sang pengarang kurang riset untuk membuat dunianya lebih masuk akal.

Penerbangan antar planet, mungkin udah menjadi impian umat manusia sejak dulu. Dan itu juga yang mendasari munculnya genre-genre space-novel. Oleh karenanya dalam dunia penulisan sci-fi, konsep-konsep 'interstellar travel' ini seolah sudah harus didiskusikan (dimatangkan) lebih dulu, sebelum pengarang mulai bikin cerita. Kenapa? Sebab pada akhirnya 'moda transportasi' akan menjadi ruh seluruh kebudayaan yang diciptakan dalam universe sci-fi/ fantasy tersebut.

Hendra Surya, seperti juga banyak pengarang "Sci-fi" lokal, terjebak pada paradigma 'asal tempel' dalam mendesain kendaraan ruang angkasa, maupun kendaraan terbang intra atmosfer semacam "flying skateboard" (kadang disebut sebagai "skate-tempur" oleh pengarang). Ngga ada dasar teorinya, gitu. Ini combustion engine, atau magic engine? Juga ada hibrida antara Teknologi (sabuk Terranos) berinteraksi dengan spiritual (kekuatan Aura), secara begitu aja tanpa pertimbangan matang (atau penjelasan yang setidaknya believable). Bener-bener ala Dongeng majalah Bobo.

Kecenderungan untuk membangun universe cerita secara kolase (potong tempel) sangat tampak di sini, dan celakanya karena tidak ditunjang riset, hasilnya adalah "gigantic logical mess", kekacauan logika. Contohnya antara lain planet Acrotus yang terdiri atas kerajaan-kerajaan, ngga berhasil terjelaskan bagaimana kehidupan kerajaan itu bisa menghasilkan kendaraan-kendaraan "canggih" sekaligus sudah tercipta "Space-Fare" culture (ngga merasa asing dengan penerbangan antar planet, walaupun tampaknya pesawat luar angkasa bukan merupakan benda yang sering diparkir di alun-alun kerajaan), ada mobil (walau deskripsi bentuknya nggak dijelaskan), tapi penggambaran alam maupun landscapenya terasa nyomot dari LOTR (Lord of The Rings), yang notabene menggunakan transportasi kuda atau jalan kaki. (Dalam novel, bahkan sempat muncul pula komentar, "Wah, persis seperti di film Lord of The Rings!" nangis, sedih banget

Harusnya ada sistem ekonomi yang sesuai nalar, untuk dapat terciptanya kehidupan ber-antariksa. Mungkinkah masyarakat agragris bikin pesawat luar angkasa? For what?? Sistem masyarakat agragris adalah sustainable income, dia nggak perlu ekspansi untuk mempertahankan hidup, beda dengan masyarakat nomaden. That's why suku-suku Mongol dulu berekspansi ke wilayah lain. Logika yg sama juga dapat diterapkan pada kehidupan antar planet. Kenapa menciptakan pesawat luar angkasa? Karena ada kebutuhan untuk menjajah planet lain, merebut sumber dayanya. Kemudian seharusnya ada sistem bahan bakar yang menggerakkan perekonomian, menggerakkan perang, memotivasi konstelasi politik planet. Mirip efek minyak di bumi, lah. Harusnya ada logistik, rantai makanan/ support dalam sebuah pertempuran, harusnya sudah bertaraf perang modern, bukannya barisan tentara a-la LOTR yang berbondong-bondong keluar dari sarang. Artinya, bikin sci-fi pun harus memperhitungkan berbagai cabang ilmu.

Well, referensi LOTR memang tampak di sana-sini, baik berupa landscape, bangunan maupun suasana peperangannya (Raja-raja mengungsikan wanita dan anak-anak ke dalam Gua??? Itu mah yang bakal pertama kali runtuh kalo di rudal!!). Mendingan diungsiin pakai pesawat2 yang dimiliki aja. Lagian logika perang dimana musuh membantai seluruh penduduk pria-wanita-tua-muda-miskin-kaya sudah nggak masuk akal. Kalo memang mau memusnahkan seluruh penduduk, kan tinggal dinuklir aja 'tak iya gak usah repot-repot? senang sekali

Yang lucu, penggambaran istana-istana yang mengambil konsep benteng berparit-parit pertahanan (berarti asumsinya untuk peperangan infantry dong), tapi pas terjadi pertempuran, pihak musuh menyerbu naik pesawat! Apa gunanya parit buat pertahanan, kalo gitu??? Itu satu contoh yang jelas bahwa pengarang semata-mata memusatkan daya khayalnya berdasarkan setting visualisasi LOTR, dan melupakan adanya ILMU PERANG, atau ilmu warfare yang sesungguhnya bisa dipelajari kalau mau, yang sangat berkaitan dengan perlengkapan & strategi perang untuk membuat ceritanya lebih believable.

Secara keseluruhan terdapat kesan sebuah hibrida antara teknologi dan mistik di dalam universe novel ini. Sempat tersebut juga, adanya penyatuan antara energi Aura dengan teknologi, yang akan membuat kekuatan energi aura menjadi berlipat-lipat. Sayangnya, teknologi hebat itu cuma berhenti di situ. Padahal kalau mau dibayangkan betapa besarnya dampak perkawinan antara energi prana manusia dengan teknologi, tentu mempengaruhi suatu kultur secara signifikan. Akan tersusun suatu dunia yang sama sekali berbeda dengan Bumi, dan itu akan menjadi suatu 'keajaiban' sci-fi. Tapi hibrida tanpa juntrungan itu memang banyak bertebaran. Salah satu contoh pertempuran yang menggunakan pesawat tempur dan senjata laser, tapi babonnya (The Boss, Megoliath, yang digambarkan sekedar Raja jahat dan kejam belaka) malah naik burung raksasa berludah api, dan menggunakan ajian ala Kameha-meha (ref. Dragon Ball) yang dia dapat berkat menyerap energi batu berapi. Terus terang pikiran saya jadi kacau, mencampur teknologi dengan pra-teknologi. Masyarakat Acrotus ini menggunakan senjata laser, tapi sama sekali ngga kenal perlengkapan komunikasi jarak jauh macam HP (atau sejenisnya lah). Ada peralatan radar, tapi ngga ada citra satelit yang bisa memantau pergerakan pasukan dalam skala ratus-ribu orang (masak diserang 250 ribu musuh dalam formasi barisan, aparat Kerajaan termasuk jendral-jendralnya sampe terkaget-kaget,.."HAA? ADA 250 RIBU PASUKAN MEYERANG KITA?", lha kemaren-kemaren kemana aja?)

Sumpe, adegan kaget-kagetannya bikin gue asli ngakak.

Apalagi sebagian besar permasalahan di dunia Acrotus diselesaikan dengan daya analisa dan strategi bocah-bocah 15 tahun, di depan Raja-Raja dan Jendral yang tak mampu menjalankan peran kemiliteran barang sedikit acan. Walau demikian, beberapa strategi action yang dijalankan oleh para jagoan, harus diakui cukup orisinal dan keren. Tapi ngga cukup believable jika dimasukkan dalam konteks situasi perang yang mengandung strategi lebih kompleks, gak cuma gasak musuh kiri-kanan aja.

Kemudian betapa seringnya pengarang meng-glorify kelima jagoan itu dengan mengulang-ulang adegan sembah-menyembah dari berbagai raja dan pasukan, mengingatkan pada adegan monumental LOTR. Tapi karena overdone, kesannya jadi cuma pemuas ego anak SMP belaka.

Sekarang mengenai dialog. Just one word: "Corny". Serba nggak wajar. Gaya bicara para tokoh remaja sering kali ketuaan, dimana bertaburan sebutan "Tuan anu, tuan itu," yang sepantasnya diucapkan orang dewasa. Kalau saja mereka memanggil dengan sebutan 'Paman' bagi tokoh-tokoh yg usianya lebih tua, akan terasa lebih natural. Berbagai keputusan, reaksi, maupun ekspresi juga bertentangan dengan daya ekspresi anak 15 tahunan. Sedikit tertolong kalo mereka mengobrol antar sesamanya dengan menggunakan dialek Lo Gue yang ceria, tapi somehow saya merasa pengarang kurang membuat dialog itu terasa luwes dan berkarakter. Content dialognya pun masih terkesan tawar, kurang dijiwai oleh karakter atau kurang mengandung ekspresi kondisi-kondisi emosi sebagaimana nuansa percakapan dalam sebuah novel. Pokoke kalau saya kasih nilai buat dialog, saya akan kasih angka 4 dari 10.

Dan komentar terakhir, adalah menyangkut positioning novel ini, apakah memang untuk anak-anak SMP, atau orang-orang dewasa dalam artian pembaca umum. Jika ditujukan untuk anak-anak SMP atau lebih muda, sebenernya saya agak kurang setuju mengingat angle penceritaan yang tidak memihak pada kebutuhan tumbuh kembang anak dalam rentang usia tersebut. Saya akan cukup keras mengkritik hal ini (kayak yg sebelumnya nggak ngritik keras aje nich,.. hehe), bahwa angle penceritaan dalam hal ini terlalu sadis untuk ukuran pembaca SMP. Konkritnya, alih-alih tokoh utama merupakan pahlawan, pengarang terpeleset untuk menggambarkan kelima remaja ini sebagai remaja-remaja haus darah yang dengan kesaktian mereka telah melakukan banyak pembunuhan dalam kategori "no remorse" alias tanpa belas kasihan.

Emang sih konteksnya dalam peperangan. Tapi bayangin aja bahwa anak-anak ini, begitu keluar kesaktiannya, telah membunuh dengan menggunakan pedang yang disabetkan untuk memutus anggota badan lawan (termasuk kepala, kalo saya gak salah inget) menikam, menembak mata, membinasakan lebih kurang seratus ribuan tentara musuh, bahkan membantai musuh yang terperangkap tanpa menyisakan satu nyawapun, di mana hal ini digambarkan sendiri oleh pengarang dengan kalimat semacam, "ruangan bersimbah darah dan mayat".

Kalo kita balik pada realitas, maka satu nyawapun yang kita regang dengan tangan kita, akan membuat bulu kuduk merinding dan isi perut teraduk. Membunuh, dalam kondisi apapun, is no picnic. Dan anak-anak ini melakukannya tanpa penyesalan, dengan kenikmatan seorang jagoan.

Kalau saya ditanya, maka saya akan bilang itu bukan pendidikan, dan juga bukan entertainment, buat segmen pembaca remaja muda. Seharusnya ada etika, bahwa pembunuhan oleh tokoh anak-anak, biasanya dilakukan tanpa sengaja atau secara tak langsung (biasanya si jahat mati karena kesalahannya sendiri).

Akan tetapi nggak terlalu masalah bila segmennya adalah pembaca dewasa, dengan tokoh-tokoh yang lebih dewasa (17-18 tahun, masih okey lah). Hanya saja, logika cerita mesti juga diperbaiki, dong.

Satu referensi 17 tahun juga terlihat pada adegan pertemuan Putri Shakilla, putri raja, dengan Reinhart si tokoh utama di akhir cerita. Tanpa malu-malu sang putri yang terpikat pada kegantengan Reinhart pada kesempatan pertama, langsung menyampaikan ciuman mesra dan keduanya terlibat asmara. Segitu gampangnya. Kalau ukurannya 17 tahun, tingkah itu cukup wajar. Tapi kalo ukurannya usia 14 tahun, this princess is just a plain slut!

Begitulah komentar saya. Puasss,..puasss,...?? Setelah baca novel ini, saya jadi sadar bahwa yang awalnya saya sebut novel fiksi si IBG Wiraga (Hozzo) sebagai karya sci-fi yang 'gagal', eh ga taunya masih jauh lebih baik daripada novel ini. Namun tak kurang saya sampaikan penghargaan buat pak Hendra Surya, selamat datang di sci-fi/ fantasy Indonesia! Next time better, ya!

Salam,

FA Purawan

Misteri Pedang Skinheald I & II (Ataka - 2007)

Mungkin buzzword saat ini adalah Ataka. Pengarang (novelis?) belia berusia 11 tahun yg masih duduk di bangku SMP. Tak kurang pengarang senior sekaliber Arswendo Atmowiloto menyampaikan endorsement tinggi atas karyanya.

Jadi penasaran, sehebat apakah Ataka? Saya baru ngeh pada pengarang kecil ini setelah ada feature di Tempo mengenainya. Saat itu yg ditampilkan adalah karya novel Misteri Pedang Skinheald jilid II, yg tebalnya udah ngalahin buku Harry Potter kedip

Tentu saja saya hal itu membuat rasa penasaran saya memuncak. Segera saya ke toko buku untuk mencari novel Ataka tersebut. Dan sesuai pakem saya, maka untuk memulai membaca sebuah "trilogi", saya tidak mau langsung melompat pada buku II, harus buku I dulu dong,..

Padahal ternyata, di Gramedia cuma ada buku II?!!

Begitulah, saya ambil buku II seharga 99 ribu rupiah itu (gile margin-nya,..), sambil tetap dibungkus plastiknya menunggu buku I didapatkan. Setelah beberapa bulan buku I baru tampak terpajang di rak, dan to my astonishment, ternyata koq tipis bener laksana chiklit? Gak imbang banget antara buku I dan buku II-nya.

Mulai dengan buku I, sepintas sebetulnya kurang menarik, dan seharusnya ini bukan buku I melainkan Bab-bab pertama dari buku II. Istilahnya mungkin buku introduksi aja, sebelum memasuki buku II. Kalo dugaan gue sih, ini sekedar trik bisnis penerbit untuk testing the water, mencoba reaksi pasar atau penerbit yg lebih gede sebagai basis untuk nerbitin buku II.

Memang ada perbedaan mencolok antara buku I & buku II. Selain tebalnya, juga ilustrasinya. Ilustrasi buku I buat saya lebih indah dan lebih artistik. Garis-garis dan arsirannya lebih halus, dan secara keseluruhan memancarkan nuansa "Fantasy" sebagaimana genre buku ini. Tapi sayang penggambaran karakternya agak terkesan ke arah oriental, seperti ilustrasi silat cina, sehingga sedikit berlawanan dengan setting buku yg mengarah pada rasa-rasa Eropah.

Dalam hal interpretasi, sepertinya ilustrator buku II lebih 'dapet', tapi terus terang saya tidak suka dengan eksekusinya, yang cenderung kasar dengan garis-garis tebal, dan proporsi tubuh yg rasanya kurang pas. Untuk ilustrasi cover buku II, kayaknya memang cukup menggigit dengan warna merah serta tampang naga buas, walaupun peran naga tidak terlalu dominan dalam kisah di buku II ini.

Bagaimana dengan cerita Misteri Pedang Skinheald? Well,... ada satu hal yg utama, di dalam buku ini, yang membuat saya teringat pada masa kecil. Saat saya seumur Ataka, bahkan beberapa tahun lebih muda, saya punya seorang sodara sepupu. Kami sering bermain "cerita-ceritaan", mengarang kisah fantasi untuk diceritakan satu sama lain, dengan tokoh-tokoh superhero atau jagoan. Biasa lah,...

Saya teringat salah satu jagoan yg kami karang, bernama "Amsterdam", kuat, bisa mengangkat gerbong kereta api dll-dll. Ya gitu deh, ceritanya bisa berseri gak habis-habis dengan imajinasi liar ke sana kemari,... tanpa terikat konteks. Di satu sisi, emang asyik. tapi di sisi lain, yg terjadi adalah bangunan cerita yg terasa 'aneh' atau lebih tepatnya ga koheren.

Demikianlah yg kurasakan dalam buku Misteri Pedang Skinheald. Secara ingatan anak kecil, saya bisa menelan semuanya bulat-bulat: nama-nama tokoh yang "seenak udel" (kayak aku bikin nama Amsterdam out of nothing, cuma karena sounded cool aja), seperti: tokoh utama bernama Robin Halfman, nama pedang "Skinheald"? (maksudnya apa?), kerajaan Marsekal (!), nama penyihir Hayfly (jerami terbang?), ada elf bernama Alva, tapi ada elf lain bernama George Gloria, dan sebagainya. Secara anak kecil, aku bisa terima. Tapi secara anak besar, aku sungguh menginginkan adanya konsistensi atau latar belakang dalam sistem penamaan tokoh di buku ini. Nama-nama manusia, nama-nama Elf, nama-nama Dwarf, dst, harusnya mengikuti suatu 'hukum' tertentu supaya terdengar make sense sekaligus enak dan mengesankan karakter tertentu.

Tapi okelah, masak gue harus menuntut demikian tinggi untuk seorang pengarang anak-anak? Salah juga gue, dong?

Tapi sejujurnya sih, saat editor buku ini diwawancara dan mengatakan bahwa ia tidak berusaha mengintervensi proses kreatif Ataka, aku merasa harusnya dia melakukan satu hal lebih: yaitu pembimbingan "How to write a Fantasy world, based on medieval myths".

Karena ternyata beberapa konsep "Lord of The Ring" yg mempengaruhi Ataka, telah diterjemahkan secara individual oleh Ataka (dengan kapasitasnya yg terbatas) tanpa pengarahan pada konsep-konsep yg kurang-lebih standar di dunia penulisan genre Fantasy. Boleh jadi karena Ataka hanya melihat (belajar dari) menonton film/ baca buku, dan si editor juga bukan spesialis Fantasy (walaupun penerbit Copernicus mengklaim dirinya sebagai spesialis penerbit cerita Fantasi).

Akhirnya, Ataka jadi agak 'salah' menetapkan setting buat ceritanya. Ibarat dia cuma mengambil visualisasi film dan tokoh-tokoh lord of the rings tanpa kedalaman (which is tentunya normal bahkan sudah advance buat anak seusianya), dan rupanya senior-seniornya malah udah kalah set sebab tidak dapat memberi pengarahan yg diperlukan oleh Ataka.

Sejumlah kekonyolan, jadi tampak membuat buku ini seperti terasa 'aneh'. Seperti latar belakang tokoh utama Robin Halfman yang profesinya adalah seorang guru di sekolah "Ayo Bertanam Singkong" (what the heck,...?), punya rumah yg tergolong Elite dengan sejumlah pembantu. Mengapa singkong? Apa perlunya ada sekolah bertanam singkong di desa itu, dan kenapa profesi sebagai guru bertanam singkong memberikan stature sosial yg bagus? Aduh, jadi pusing. Apakah saya harus seserius itu dalam membaca? Lho, kenapa saya tidak boleh bersikap serius terhadap sebuah karya kreatif? Bukankah itu artinya saya memandang serius pada buah karya Ataka, unlike para editor yg mungkin hanya menganggap Ataka sebagai anak ajaib yg (kebetulan) bisa mengarang.

Kekurang-tegasan peran editor juga tampak pada kesalahan penamaan makhluk mitologi yg cukup 'jauh' meleset. Makhluk Goblin, kalau menurut mitologi Inggris, adalah makhluk yg sosoknya cebol dengan wajah berkerut seperti orang tua. Kekhasan Goblin sebagai makhluk gaib adalah kesenangannya terhadap harta, terutama emas. Sehingga dilegendakan bahwa di ujung pelangi selalu tertanam seguci emas, yang dijaga/ dimiliki oleh Goblin. Dalam setting Harry Potter, kaum Goblin ditempatkan sebagai bankir atau pengelola harta di dunia penyihir Inggris.

Di buku Ataka, Goblin digambarkan sebagai makhluk liar bersosok tinggi besar berwajah seram, takut cahaya, dan bersifat penyerang ganas. Which is, di dalam setting LOTR, dinamakan sebagai Orc. Itu juga mengikuti sistem mitologi Inggris sebagaimana Elf dan Dwarf. IMO, kalau saja editornya cukup punya wawasan, dia harusnya mengarahkan Ataka untuk menamai mahluk-mahluknya paling tidak sesuai standar mitologi inggris, sehingga akan lebih konsisten.

Tapi hebat juga imajinasi ini anak, selain makhluk2 'standar' yg dia pinjam dari mitologi barat, dia bikinin lagi beberapa makhluk kreasi baru, antara lain maklhuk super ganas Cannibalic Man, Manusia Naga, Manusia kucing laut, Dark Elf, semuanya fit dalam cerita secara cukup wajar dan interaksinya dengan makhluk lain dalam alam itu juga cukup realistis. Khususnya Cannibalic Man, sebetulnya bisa menjadi gimmick yg menarik. Sayang banget koq dinamain Cannibalic man, sebab nama itu gak mencerminkan ras melainkan julukan ke pihak ketiga tunggal. Jadi rasanya gak matching, gitu. mendingan dinamain "Kaum Kanibal", atau nama baru yg mengesankan sebagai ras menyeramkan. Dark Elf, tuh ide bagus.

Hal positif yang amat menonjol dalam novel Ataka, dan ini juga sudah disebutkan oleh para endorser, adalah kemampuan anak sebelas tahun itu mempertahankan ritme cerita. Istilahnya stamina bercerita. Emang harus diakui hebat, bisa membuat novel tebal itu tidak melelahkan untuk dibaca. Cukup ada suspense dan action yang bisa menggiring pembaca untuk menyelesaikan bukunya. Alur ceritanya sendiri cenderung biasa aja, perjalanan menuju satu titik dengan berbagai hambatan dan drama, dengan klimaks adegan pertempuran laut (yg cukup imajinatif, walaupun harus sedikit bertabrakan dengan pakem-pakem perang maritim, hehehe. Tapi bisa dimaklumi, lah).

Ataka mampu menggambarkan setting & landscape secara terinci dan indah, namun menggambarkan konflik interpersonal secara agak "mixedbag". Maksud saya, kadang dia bisa menggambarkan konflik rumit seperti orang dewasa, tapi banyak juga dia mengolah konflik dengan kedangkalan berpikir sebagaimana anak-anak, sehingga tokoh-tokohnya bukan tampak seperti orang dewasa on a mission (deadly mission, loh BTW!), tapi seperti sesama anak kecil sedang bermain di halaman sekolah. Yah, dalam hal ini mau dimaklumi boleh, mau dikritisi juga boleh,..

All for all, buat gue sendiri membaca novel Ataka lebih berfiat apresiasi dibandingkan immersion (melarutkan diri dalam kisah/ cerita). Kalau saja Ataka memasukkan unsur penamaan tokoh, lokasi, secara lebih make sense, kayaknya koq gue pun bisa larut dalam karyanya.

Kalau mau belajar atau membandingkan, kita bisa menengok pada karya Christopher Paolini, yg mulai menulis Fantasynya di usia 14 tahun. Mestinya bisa dipelajari bagaimana interaksi pengarang-editor yg terjadi, sehingga Christoper relatif bisa terbantu untuk membuat dunia Novelnya lebih realistis.

Buku III, aku tunggu. Dan trilogi ini akan kusimpan, untuk kutunjukkan sama anakku kelak sebagai penambah motivasinya dalam menulis.

Salam,


FA Purawan

Hozzo: Ferres yang Hilang (IBG Wiraga - 2006)

Pertama-tama, gue sebel dengan buku yg over-rated, melalui reviews yg (bagi gue) menyesatkanku.

Kedua, gue lebih sebel lagi karena ini menyangkut sebuah karya Fiksi-Ilmiah! Genre yg sudah menjadi kesukaan saya semenjak baca karya Isaac Asimov sampai dengan novel-novel StarWars (gak cuma episode 1-6, loh. Ada terusannya kisah keluarga Organa-Solo, Luke-Mara Jade dll.).

Novel: Hozzo, Ferres yang Hilang, adalah sebuah 'attempt' untuk menjadi sebuah karya novel fiksi-ilmiah, dimana --excuse me-- saya anggap buku ini telah gagal mencapainya. More on this later, deh.

Pertama-tama mengenai pengarang. Saya nggak menemukan identitas pengarang I.B.G.Wiraga di dalam buku ini. Yg saya tebak sih beliau orang Bali, dari referensi tokoh asal Bali di Novel ini. Sliweran di internet mengindikasikan bahwa beliau berusia 20 tahunan, dan buku Hozzo ini adalah karya perdananya.

Kemudian mengenai genre Fiksi-ilmiah. Genre fiksi ilmiah adalah sebuah genre penulisan novel/ fiksi yg menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar logika cerita, BUKAN semata novel yang menggunakan hal-hal ilmiah sebagai latar cerita. Ini beda jauh. Pada novel fiksi-ilmiah "I Robot" karya Isaac Asimov, segi "Science fiction"nya bukan ada pada sosok-sosok Robotnya, atau kecanggihan teknologi masa depannya, melainkan justru pada permainan logika "Three Laws of Robotics" yg begitu ciamik. Atau dalam seri "Foundations", Asimov secara jenius mempostulasikan sebuah ilmu yg merupakan percampuran antara matematik-psikologi-sejarah yang kemudian mempengaruhi dan meramalkan tumbuhnya suatu peradaban.

Kita banyak banget kejebak pada kesalahan ini, dimana hal-hal yg dianggap futuristik, atau canggih, atau luar angkasa, langsung dimasukkan dalam genre fiksi-ilmiah. Alih-alih Science-Fiction, sebenernya ada satu lagi genre yg lebih populer, yaitu Space-opera, alias bercerita a la opera, yg berlatar belakang 'space things'. (Emang akhirnya banyak juga yg menyama-ratakan genre ini dengan SF, padahal spiritnya sangat berbeda). Bintang di genre ini gak lain dari seri Star Wars. Kalau ku bilang, Hozzo adalah Space opera dengan sedikit detektif-detektifan. Satu cirinya adalah, plot yg ada di dalam cerita novel jenis itu sama sekali tidak melibatkan ilmu pengetahuan, melainkan plot biasa aja seperti perebutan kekuasaan, percintaan, petualangan, baik vs buruk dll.

Having said that, banyak sekali gagasan dalam Hozzo yg 'terinspirasi' dari StarWars, terutama era Episode 1 s/d 3 (Phantom Menace s/d Revenge of The Sith), misalnya inpirasi landscape planet Hexamuxes yg tampak mirip Naboo, atau kehidupan bawah airnya mirip penggambaran kaum Ganguin (yg ras-nya Jar-jar itu loh), dengan berbagai variasi. Aneka ragam ras Alien tanpa penjelasan yg logis juga tampak mengikuti pakem StarWars Ep. 1-3. Dalam hal ini harus kita bedakan dengan Ep. 4-6, dimana ras Alien yg ada di dalamnya bener-bener dideskripsikan sampai pada hal-hal antropologisnya.

Dan memang, dalam penulisan fiksi-ilmiah, ilmu antropologi cukup banyak mendapat porsi.

Sementara dalam space-opera hal itu memang gak terlalu dipedulikan. Yg diambil cuma 'eksotisme' a la fantasi angkasa luar aja sebagai latar belakang. Itu exactly yang dilakukan oleh Hozzo. It's okay. Tapi yg membuat saya gemezz, sampai sejauh ini kemampuan pengarang "fiksi-ilmiah" kita (dan seluruh perangkat produksi termasuk editor sampai penerbit) ternyata masih ketinggalan, sejaman dengan era Flash Gordon belaka. Banyak karya "fiksi-ilmiah" yg cuma terjebak dalam mencipta-ciptakan nama-nama aneh, istilah-istilah asing (tapi nggak ada dasar penalarannya), masukin pesawat ruang angkasa, planet asing, kemudian kerajaan alien yg teknologinya cuangggih (tapi apa efek teknologi tersebut pada kehidupan masyarakat? kenapa masih menggunakan pola kerajaan? Sementara kita yg teknologinya masih 'primitif' sudah mengadopsi pola pemerintahan republik? dan seterusnya, pusing juga bikin science-fiction? hehehe). Contoh lain, betapa perbedaan teknologi yg supposed to be sangat jauh antara manusia dan alien (sebutan sembarangan yg digunakan di novel ini untuk merujuk pada 'humanoid' yg bukan Homo Sapiens) ternyata tak menghasilkan perbedaan kultur sehari-hari, alien itu ternyata tetep aja nonton video, main 'games', piknik, bikin infotainment, dsb. senyum Artinya pengarang cuma memindahkan pola pikir dan setting kehidupan yg dia alami (bumi) ke dalam setting luar angkasa, itu aja. Padahal, kalau mau serius, perbedaan fisiologi tubuh aja sudah membuat sebuah perbedaan kultur yang sangat besar!

Ada juga sedikit misslook dalam penggunaan teknologi. Kaum Alien punya alat penerjemah universal yg disebut WET. Kalau pakai WET, maka sekian juta bahasa planet bisa kau mengerti, lah. Tapi kenapa dalam dialog antara anggota Hozzo (yg difasilitasi oleh WET) masih muncul kosa-kata asing tercampur dengan kosa-kata bumi? Misalnya, untuk si alien Hege, dia menyebut ayahnya dengan kata "Dher". Lalu dalam dialog dengan anak-anak bumi bisa muncul kalimat seperti ini, "Dher memanggil kita ke ruang tengah". Lho, kalau WET berfungsi baik seharusnya kalimat yg muncul adalah "Ayah memanggil kita ke ruang tengah". Atau kalau WETnya rusak, kalimatnya menjadi "Dher wozwasuhg gigrt gdtarusrge uik uik uik" senyum Itulah, keasyikan main kata-kata 'eksotis', pengarang jadi kurang teliti.

Belum kalo ngeliat ilustrasi,... masih begitu-begitu aja imajinasi illustrator terhadap hal-hal yg berbau teknologi. Mestinya illustrator SF punya background minimal menggambar teknik (gambar mesin etc). Dan itu masih belum dimiliki perangkat penerbitan kita. Dan numpang tanya, itu maksudnya gambar "kuku macan" di cover depan itu apa ya? Koq ga ketemu relevansinya di dalam cerita.

Atau gue yg expect too much dari buku Hozzo? Mungkin aja. Sebab ternyata pun, buku ini diposisikan sebagai buku fantasi anak-anak. Mungkin itulah sebabnya segi Fiksi-ilmiah sebaiknya dilupakan, kita masuk aja ke space-opera.

Setelah mengesampingkan hal-hal "fiksi-ilmiah"nya, ternyata masih ada segudang kegemesan yg terpaksa harus saya telan selama membaca buku ini. Pertama mengenai lokalisasi. Saya sempat bingung dengan pilihan lokasi Windfall (possibly di USA) sebagai titik sentral berangkatnya cerita. Ada Bali dan seorang tokoh asal Bali, tapi itupun hanya sekedar tempelan. Apa alasannya di USA? nggak jelas banget. Hal ini sempat membingungkan saya, terutama karena banyak penulisan dialog mengesankan bahwa dialog merupakan terjemahan dari bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia. Karena dua hal itu, saya sempat menyangka bahwa novel ini bukan karya lokal, melainkan terjemahan, hehehe.

Kemudian mengenai plot yg melantur (sebagaimana tulisan review saya ini senyum ) tanpa arahan logika yg jelas. Ada kecelakaan pesawat yg dramatis, ada musibah gedung runtuh, ada 'penculikan' sekelompok anak ke luar angkasa ke planet lain tanpa kejelasan motif dan tanpa kemungkinan kembali ke Bumi lagi. Herannya, anak-anak itu koq ngga stress sama sekali ya? Nggak logis. Peristiwa2 di dalam novel ini tidak berfungsi sebagai plot yang menggiring tokoh2nya (ataupun pembaca) mengambil keputusan-keputusan logis tertentu yang akhirnya membentuk rangkaian peristiwa (sebab-akibat) yg disebut sebagai sebuah "Kisah" atau "Cerita". Banyak peristiwa "aneh" yang dibiarkan tanpa penjelasan, sehingga terkesan sebuah peristiwa hanya hadir sebagai penambah-nambah tebal halaman belaka.

Tokoh2 di dalam novel ini diposisikan bak boneka yg kebetulan ditempatkan pada satu situasi, tapi tidak punya kekuatan untuk menentukan arah cerita. Contoh paling jelas adalah pembentukan kelompok detektif cilik multi ras (human + alien) Hozzo. Ngga ada motif yg jelas dan alasan yg masuk akal. Yg aku tangkep, anak-anak yg diculik ke luar angkasa ini iseng-iseng bikin kelompok detektif sekedar mengisi waktu karena alasan mereka disuruh quit school into the spacecraft masih belum jelas serta kebetulan ada pangeran hilang neh yuk kita selidiki sambil berdarma wisata keliling galaksi. Err,.. siapa yg bayar, neh? senyum Dan yg bikin gemes lagi, ngga ada aktivitas detektif sebagaimana dilakukan oleh, katakanlah anak-anak lima sekawan, sapta siaga, atau lain-lain. Object yg harus diselidiki ternyata 'conveniently' tergabung dalam kelompok detektif ini tanpa sengaja, alias dijeblosin gitu aja sama pengarang. Dan sebagai akibatnya kelompok itu mengalami berbagai sabotase menegangkan selama piknik. Kenapa para Galactic Mafia itu gak ngundang Bobba Fett aja sekalian buat ngehabisin pangeran yg menyamar? heheh. Even sekalian aja nyamar jadi anggota Hozzo, toh kelompok itu segitu cairnya! (sampe detik ini pun gue masih nggak punya gambaran pasti, sebenernya anggota Hozzo itu berapa orang dan siapa saja. Rasanya ada banyak nama keluar-masuk tanpa kejelasan status dan peran). Ini mestinya sih jadi spoiler, tapi God, gue sampai nggak segan mengungkapkannya sebagai akibat "capee deeh" ngebaca buku ini selama berbulan-bulan untuk dapetin data-data di atas.

So, the big story is, ayok jalan-jalan keliling galaksi menikmati fantasi luar angkasa dan ketegangan-ketegangan tak beralasan, dan mampir jadi pahlawan galaksi on the way. Sadly, plot begitu ancur pun sebenernya masih bisa menarik apabila pengarang mau kasih benang merah "reason" di dalamnya. Selipan beberapa pengetahuan ilmiah maupun 'spiritual' (sumpe, ada penjelasan karma/ reinkarnasi segala) hadir tanpa konteks yg kuat. Sayang, sebenernya.

So. 500 halaman terbuang sekedar bikin pegel tangan sedih

Review endorsement mengatakan, wah fantasinya mencengangkan, dunianya mengagumkan, tokoh2nya menarik,... well. mungkin kalau dilihat secara satu-persatu seperti itu, memang masih bisa dinikmati. Tapi bila saya mengharapkan adanya sebuah 'kisah', maka petualangan Hozzo (mencari) Ferres yang Hilang ini tidak menceritakan apa-apa.

Sigh,... another forest being wasted to nothing? hehehe,... ya gak gitu lah. Tetep harus ada apresiasi terhadap gagasan dan waktu yang sudah dituangkan oleh pengarang. Faktanya, pengarang Fiksi-ilmiah (yg pseudo sekalipun apalagi yg bener!) masih sangat sedikit. Paling besar yg kita punya adalah Om Djokolelono, setelah itu belum ada lagi. Moga-moga IBG Wiraga dan yg lainnya segera meningkatkan wawasan fiksi-ilmiahnya dan menyusul dengan karya-karya yg lebih baik.

Salam,

FA Purawan