Tampilkan postingan dengan label dewasa muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewasa muda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

BEAST TARUNA: Kebangkitan (Aditya N. W. - 2014)

Review By Luz B.

Editor: Jill Wanda Hamilton
Penata Letak isi: Aditya N.W.
Desain sampul: Markus Diredja, Mukhlis Nur, Jaka Ramadhan
Penerbit: Writing Revo Publishing
Ilustrator: Bening Andyani, Gilang Tamara Kourboutsky, Kurosaki Keroro de Arimasu, Yuuika

Tebal: 294/322 halaman


Ada apa dengan Beast Taruna?
  
Persis itulah pertanyaan saia ketika mendengar buku ini diomongin sama temen-temen yang lebih rajin berkeliaran ke situs Bacaan Baik. Karena penasaran saia akhirnya nitip beli dan baca. Setelah beberapa lama, eh keluar cetakan baru yang ada ilustrasinya. Jadi saia beli lagi dan baca lagi. Ternyata antara kedua itu gak banyak beda,  tapi demi kejelasan, saia nyatakan sekarang kalau saia bikin repiu berdasarkan cetakan baru yang pake ilustrasi.
  
Jadi balik ke pertanyaan semula: Ada Apa dengan Beast Taruna? Saia akan menjawab, “Itu novel Fiksi Fantasi Indonesia pertama yang saia temui mengangkat tema super sentai.” Dan tolong “S”-nya itu jangan diganti “H,” terima kasih.
  
Lame joke aside, Beast Taruna karya Adhitya N. W. ini sangat layak untuk disayat-sayat dibahas. Baik sebagai novel sentai pertama yang saia temui, maupun sebagai kontribusi terhadap perkembangan fiksi fantasi indonesia.  Oleh karena itu, dengan mengucap syukur kepada Batara Cela, dengan ini saia nyatakan nikahnya sah dengan maskawin seperangkat silet emas dibayar tunai pembahasan ini dimulai.
    

Kamis, 10 Januari 2013

THER MELIAN Series (Shienny M. S.- 2011 - 2012)

Review by Luz B.



Tebal : 390 (Revelation) 460 (Chronicle) 502 (Discord) 509 (Genesis). Plus glosarium
Penyunting : saia tahu ada, tapi nggak ditampilkan di buku
Ilustrasi sampul : Shienny M. S.
Ilustrasi isi: Shienny M. S.


Bagi saia, susah merepiu proyek di mana saia punya keterlibatan, walau sangat sedikit. Tapi akhirnya saia pikir untuk menjadikan ini semacam tantangan baru. Demi experience points gitu. Sapa tahu satu saat saia level up sampai bisa melakukan pembantaian publik terhadap karya-karya sendiri.

Kesulitan lainnya, serial Ther Melian karya Shienny M. S. ini keluar lengkap dalam waktu relatif cepat. Alhasil, salah satu celaan favorit saia, yaitu, "Ea, plot gak selesai dan janjinya dilanjutin di sekuel yang ga keluar-keluar. Cape de~!" langsung batal demi hukum. Jadilah saia harus nyari-nyari celaan lain dahulu. 

Rabu, 03 Agustus 2011

ZODIAZ: Sang Penyembuh (Easter Patricia - 2010)

By Luz. B

Penerbit: KataKita
Editor: Joko Pinurbo
Proofreader: Farah Maulida
Desain Sampul: (Sengaja Ga Saia Tulis)
Tata Letak: Cyprianus Jaya Napiun
Tebal: 410 halaman plus glosarium
 
 
Setelah lama nggak bikin ripiu, akhirnya saia menyempat-sempatkan ngetik satu ripiu yang sebetulnya sudah pengen saia buat dari kapan taun. Judul buku yang ingin saia bahas kali ini adalah ZodiaZ: Sang Penyembuh oleh Easter Patricia. (Itu Z-nya gede bukan typo. Memang tulisannya begitu di dalam buku. Lanjut.)
 
Saia akan mengaku kalau (lagi-lagi) repiu saia tidak dilandasi itikad baik, semangat Pancasila, Undang-undang Dasar 45, Sumpah Pramuka, dan Janji Murid. Kenapa tidak? Karena pikiran pertama saia saat melihat cover buku ini adalah, "Nah, ini baru namanya cover yang minta di****!"
     

Selasa, 02 September 2008

CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core (Chandra Adhitya Winarno - 2007)


Data buku:
Penerbit: Gagas Media
Penyunting: Feba Sukmana
Penata letak: Yanto
Desain sampul: Okeu Yoseph Kurniawan
Tebal: 325 halaman

Hitam, adalah warna terkeren buat sebuah cover novel. Setidaknya begitulah anggapan saya selama ini (itu juga yang membuat saya mengeset blog saya dengan warna hitam, hehehe). Seolah ada otoritas tersendiri yang dipancarkan oleh warna ini, yang membuat siapapun yang melihat tak berani bermain-main dan menganggap saya serius, serius kuadrat. Apalagi, kalau Hitam dipadukan dengan Gold, hmm,.. tidak saja serius, tapi juga high-class. Demikian yang saya rasakan saat melihat cover novel CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core karya Chandra Adhitya Winarno ini. Balutan warna hitam dengan font keemasan membuat novel ini terkesan ningrat, membuat saya berharap-harap muluk terhadap isinya,...

Tapi, ooops, kelihatannya Jurus Judge by The Cover terchallenge lagi, di sini. Apa ini? Tulisan Cardan yang --walaupun jelas dan paduan putih-emasnya cukup serasi-- kenapa dibikin membesar di tengah seperti sign SIRKUS? Tapi emblem garuda pudarnya looks soooo cool! Oh, rupanya paduan tulisan Cardan dan emblem mengesankan bentuk perisai, well boleh juga. Yang paling bagus di cover ini adalah pemilihan Font & tata letak tulisan Inside & Outside The Hinkal Core. Hanya sayang, lukisan garuda itu harusnya bisa lebih detail.

Cover yang keren, karya Okeu Yoseph Kurniawan.

Dan sampai sini udah dapat di sum-up kesimpulan atas seluruh novel. Yaitu: Covernya keren.

Novelnya sendiri, gimana?

Sayangnya, ya cuma itu yg bisa kubilang: Covernya keren. Novelnya,... jeblok.

Menurutku ini novel terburuk yang pernah mampir di blog gue, untuk saat ini. Aaaakh?! (disbelief), benarkah? Demikian 'nista'nya kah? Apa dosa yang sudah dilakukan pengarang dalam menulis novelnya?

Ugh. Mungkin dosanya hanya satu, yaitu pengarang belum bisa menulis. Titik. Saat seorang pengarang yang tidak bisa menulis berusaha err, menulis, maka segenap ide besar yang ada di kepalanya jadi rapuh seperti kastil pasir disapu ombak. Hilang semua keindahan kecuali tinggal onggokan tumpukan kata-kata yang memusingkan.

Seberapa parah, sih, kemampuan penulisan pengarang? Well, aku tampilkan berupa contoh saja, yah.


Dari Novel Cardan, hal. 1 - 2:

Langit malam ini sangat indah, ketiga bintang yang selalu menerangi malam memancarkan cahaya berbeda warna putih, merah dan biru. Para leluhur menamakan bintang putih Joan, Sanggu untuk bintang merah, dan Colt untuk bintang yang berwarna biru. Mereka menganggap bintang-bintang tersebut sebagai lambang tiga elemen, yaitu udara, api, dan air.

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Tolan. Sebuah kerajaan kecil dengan letak strategis, tepat di tengah-tengah Garinka. Tolan adalah kerajaan transit bagi para pedagang dari seluruh pelosok Garinka. Tak heran, hal ini membuat Tolan menjadi sebuah kerajaan yang cukup makmur. Dan karena itu juga, Tolan menjadi kerajaan terbesar di Garinka.

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan. Sebuah perang besar antara Tolan dan Sync, perang antara dua kerajaan yang sudah saling bermusuhan sejak ratusan tahun lalu. Mereka menamakannya perang Zonega.

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku..., pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

---------------------------------------------------


Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. The whole prolog aku salinkan dengan tujuan agar pembaca blog ini dapat meresapi 'opening' seperti apa yang dituliskan oleh pengarang sebagai indikasi cara dia bercerita selanjutnya di buku tersebut.

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting yg menghiasi langit malam). (2) Sebuah negeri bernama Tolan (tapi Garinka-nya apa gak dijelasin), (3) Situasi politik Tolan,...

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.

ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek "Jendral", sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke "pasukan yang begitu membabi buta". Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.

yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri! So, the whole paragraph is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.

(Kena busur aja luka? cemen banget,..... iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep anak panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?). Atau 'busur' dianggap sebagai kata kerja?

Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg "BABI PERGI,... BABI PULANG" itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,...?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich? Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? Menurut gue sih, contoh prolog ini memberi indikasi tak terbantahkan bahwa pengarang masih belum menguasai tata penulisan yang benar (tak usah dulu ngomongin 'baik' dalam dua serangkai 'baik dan benar'). Walau jelas aku sudah punya masukan dalam aspek-aspek logika, tapi terpaksa masukan itu aku simpan dulu sebab pengarang menghadapi problem yang lebih besar, yaitu kemampuan menuangkan ide secara benar melalui tulisan.

Itu, lho, pelajaran Subyek-Predikat-Obyek, itu lhooo,....

Lha kalo seorang pengarang belum bisa menuliskan kalimatnya secara benar, bagaimana dia akan berhasil mentransfer ide ceritanya? Dan Hallooow,... para editornya lagi pada ngopi-ngopi di mana sih? Kalimat kayak di atas itu koq bisa lolos? Padahal itu di bab awaaaal banget, loh? (Wajar bila Editor agak loose di tengah-tengah buku. Tapi gimana kalo udah loose sejak AWAL buku?)

Untuk selanjutnya, penyakit yang sama melanda seluruh naskah sehingga membuat buku ini menjadi terlalu sulit untuk dicerna. Saya sendiri harus membaca bagai orang buta berjalan. Maju-stop-maju-stop-maju-stop dst. Satu bulan lebih untuk buku cuma setebal tiga ratus halaman.

Oke, kalau saya cuma mencela, ya semua orang bisa mencela, ya nggak? Lantas apa yang bisa dipelajari dari karya ini supaya pengarang dan temen-temen aspiran penulisan Fantasy dapat membuatnya lebih baik lagi?

Pertama, mungkin dari segi penyusunan kalimat s.d.a., ya. Biarpun kita masih punya ruang untuk 'mempermainkan' struktur kalimat secara kreatif, tetap saja ada aturan utama yang harus diikuti. Dan aturan itu memang ada sejak dulu karena suatu alasan, yaitu agar ide dapat terkomunikasikan secara tepat, dengan tetap memelihara kewarasan dan keruntutan berpikir pembacanya :) Kalau pengarang keenakan mengaduk-aduk pikiran pembaca dengan jumbling words, maka dia belum bisa dikatakan sebagai pengarang, melainkan psikopat, hehehe.

Kedua, mungkin pengarang juga perlu mengembangkan 'sense' untuk pemanfaatan kata/ istilah. Bagaimanapun, istilah tidak dapat dipertukarkan secara terlalu merdeka, sebab setiap kata atau istilah sesungguhnya memiliki pengertian khas, yang bila salah pakai akan mengaburkan atau mengacaukan makna. Berikut contoh kasus di Cardan:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang lebih pendek darinya--tiba-tiba meremas tangan Aras dan berkata, "Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!"

Well, secara kalimat, paragraf contoh di atas tidak punya masalah berarti. Tapi kalo anda menganggap kalimat di atas tidak 'bermasalah', mungkin cara berpikir anda masih menggunakan gaya penulisan berita, bukannya gaya penulisan cerita. Pada 'gaya berita', kalimat adalah fakta kering, sekedar mendeskripsikan kejadian tanpa penafsiran lebih lanjut. Dalam 'gaya cerita', sebuah kalimat dibaca secara tafsir, pembaca berusaha memahami adegan dengan menggunakan imajinasi yang digiring oleh naskah.

Coba aja bayangin adegan ini: si pria MEREMAS tangan Aras, di suatu toko. Untung aja ngomongnya nggak gini, "Tangan yang kuat, ya boooo,..." (gedubrak.com)

Saya temukan banyak kekeliruan semacam itu di sekujur novel, sehingga semata susunan pengkalimatan yang dibikin oleh pengarang jadi gagal untuk mendeliver cerita sebesar ide yang dimilikinya, bahkan menggiring ekstra tafsir yang terkadang menggelikan, seperti contoh di atas.

So, gimana supaya kalimat di atas tidak disalah-tafsirkan sebagai 'gay novel'? (tentu saja, kita tidak usah capek-capek memikirkan hal ini bila si pengarang memang meng-intensikan novelnya sebagai 'queerlit'! Ha ha, tapi saya kira bukan itu intensi pengarang, tentunya?)

Tentu saja, pengarang musti memperhatikan setting dan cara berinteraksi yang tepat, dan pada akhirnya memilih istilah yang tepat. Saya akan memberi alternatif semacam ini:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang tak melebihi pundak Aras-- tiba-tiba berhenti di sisinya dan mengamati tangan Aras penuh minat. Lalu tanpa permisi ia meraih pergelangan tangan Aras dengan pegangan sekuat penjagal sapi. Aras meringis kesakitan sekaligus keheranan, dan mencoba melawan dengan menarik lepas tangannya. Si Baju Zirah justru tertawa girang dan membetot tangan Aras lebih kuat lagi, membuat Aras harus mengerahkan tenaganya lebih besar lagi. Terjadi tarik-menarik yang cukup ulet, sampai akhirnya Si Baju Zirah melepas tangan Aras sembari terbahak, "Ha ha ha, hebat kau, nak! Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!" ujarnya dengan nada memuji yang tulus.

Pelajaran ketiga, adalah bahwa pembaca tidak bisa dijejali dengan terlalu banyak nama. Saat pengarang mengintrodusir SETIAP nama kepada pembaca, pembaca harus membuka file ingatan guna memasukkan nama itu dalam konstelasi cerita. Kenapa, sebab pembaca harus mengingat tokoh tersebut, apa posisinya, apa perannya, dalam cerita, ketika menjumpai nama itu seratus dua ratus halaman sesudahnya. The bad di Cardan, adalah terlalu banyak nama yang tidak cukup diikat dengan konteks, akibatnya terlalu banyak open file di kepala pembaca, yang membuat pembaca menjadi mudah tersesat.

Tata penamaan terkesan masih separuh asal. Pengarang menciptakan konvensi tiga nama untuk kebanyakan tokoh-tokohnya, seperti Aras Boma Palawa, Divin Shinta Wordane, Zavier de Voco dan lain-lain. Tapi sungguh sulit mengingat rangkaian tiga nama tersebut karena pengarang tidak punya konvensi mengenai cara mengintrodusir nama-nama tersebut.

Umumnya, nama-nama rumit/ kompleks harus diintrodusir seawal mungkin, setidaknya pada saat tokoh bersangkutan pertama kali dihadirkan oleh pengarang di panggung cerita. Dalam novel ini, nama Putri Divin termasuk yang diintrodusir pada saat yg tepat. Tapi jangan lah menghadirkan nama lengkap tiga kata itu setelah melewati sekian puluh halaman, guaranteed, pembaca akan sulit mengingatnya. Sebagai contoh, nama Aras Boma Palawa baru muncul di bab 3, sebelumnya hanya Aras saja. Dan kemunculan nama lengkap itupun tidak memiliki signifikansi apa-apa, muncul begitu saja dalam kalimat, "Pada waktu yang sama di dalam hutan Dio, Aras Boma Palawa merebahkan tubuh di tanah yang dihiasi pepohonan yang luar biasa besar dan lebat".

Di luar konvensi nama-tiga-kata, saya juga punya problem dengan nama asal caplok. Bagaimana sebuah nama ARAS BOMA PALAWA, bisa hadir di setting Cardan ini? Bagaimana bisa ada nama SHINTA di antara DIVIN WORDANE, gimana ada nama ZAVIER DE VOCO? Apakah setting novel bersentuhan dengan budaya India atau Spanyol? Belum lagi inkonsistensi nama-nama panggilan. Aras dan Divin dipanggil berdasarkan nama depannya, tapi Voco, dipanggil berdasarkan nama belakang.

Demikian juga dengan konsep locale yang agak sulit dimengerti, dan tak dijelaskan lebih jauh sehingga membingungkan pembaca, seperti:

Apa itu Garinka, sebuah benua, atau Kerajaan? Apa hubungannya dengan kerajaan Tolan, lalu ada kerajaan Memoard, ada Sync, ada Zonega? Ada pula nama Hinkal di dalam kerajaan Tolan, apakah maksudnya nama Kota Hinkal? Nama-nama tempat ini tidak dilengkapi dengan penjelasan yang memuaskan, setidaknya untuk memudahkan pembaca dalam membayangkannya.

Tampaknya memang pengarang menggunakan strategi 'imajinasi tak terbatas' dalam mengarang nama-nama di novelnya, sehingga seakan-akan nama-nama itu diambil secara sembarangan, dari berbagai sumber. Beberapa nama malah mengesankan bahwa pengarang menggunakan buku manual komputer sebagai referensi penamaan, tengok aja nama-nama: Sync (dari Synchronization), Memoard (seperti Memory, kan?), Links (pranala), Ada Hinkal 'Core' (Core duo?), Logite (Logitech?), Alt (liat, di keyboard lo tuh!). Yah, sebagai proses kreatif sih, nggak salah-salah amat. Tapi setidaknya tetap harus ada reasoning yang memadai dalam proses pengarang menciptakan nama-nama untuk digunakan dalam universenya. Paling dikit, ya agar bisa mensustain 'believeability', dah.

Misalnya, menggunakan nama-nama yang diambil dari dunia komputer seperti di atas, untuk setting novel sci-fi atau techno-thriller. Atau menggunakan nama-nama binatang untuk setting semi fabel (contohnya di novel Anansi Boys-nya Neil Gaiman). Kesesuaian semacam itu akan memudahkan imajinasi pembaca, serta memberi nuansa 'aura' yang pas buat novel.

Lantas, apa sisi positif Cardan?

Satu hal yg bisa saya sebutkan, plot (dalam pengertian yang amat-amat-amat-amat dasar) cukup memiliki daya pikat, dan ada ide 'besar' di belakangnya. Kalau bicara susunan plot, Cardan cukup standar buat kisah-kisah Fantasy, bahkan plot Cardan menjadi lemah akibat kurang kuatnya hubungan sebab-akibat digelar di dalam jalinan kisah novel ini. Tapi pengarang memiliki beberapa cabang plot yang tak biasa, yang cukup memberikan kejutan kecil. Antara lain pengkhianatan Raja Links, yang walaupun motifnya terasa ngga substansial, telah membuat novel ini memiliki 'warna' yg beda. Demikian juga keberanian pengarang untuk mengakhiri novelnya dengan situasi tragik, sesuatu yang jarang dilakukan oleh penulis kita.

Tentu maksudnya dapat diraba, yaitu dengan tragik ini, pengarang berharap untuk menumbuhkan rasa penasaran yang kuat di sisi pembaca, agar termotivasi untuk membeli sekuelnya. Dan saya pikir itu strategi yang cukup bagus.

Sayang sekali, strategi itu tidak berhasil 'mengugah' buat saya, dikarenakan sekujur novel telah dikerjakan secara too bad, badly written sehingga saya tidak berselera bahkan untuk membacanya ulang, alih-alih ngikutin serialnya sampai selesai. Seperti koki yang punya bahan-bahan makanan yang bagus dan mahal, tapi ngga bisa memasak dan mencampur bumbu yang enak. Hasil akhirnya ya tetep aja orang jadi ogah memakan masakannya.

Kan jadi sayang, ya?

Buat pengarang, selamat, karya pertama anda sudah eksis. Emang (karya yang ini) masih belum bagus buat saya, tapi bukan berarti anda ngga bisa menelurkan karya bagus di masa mendatang. Terus aja perdalam skill menulis anda, belajarlah sama ahlinya! Sukses, dah!

Salam,

FA Purawan

Jumat, 08 Agustus 2008

ZAURI: Legenda Sang Amigdalus (dian k - 2006)


Data buku:
Penerbit : Grasindo
Editor : Mira Rainayati
As. Editor : Veronica B. Vonny
Penata Isi : Suwarto
Desainer Sampul : Bene
Tebal : 309 halaman

Penghargaan:
- Juara 2 Adhikarya IKAPI 2007
- Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007, kategori Penulis Muda Berbakat.

Nah, ada pemenang award masuk sini :)

Lantas menjadi 'beban' buat reviewer, apa yang harus reviewer tulis? Kalau bikin review kritis, ntar bisa dipertanyakan, "Siape loh?" mengingat orang-orang yang lebih 'ngerti' aja sudah menempatkan buku ini sebagai sebuah karya yang mendapatkan penghargaan (baca: jadinya pasti berkualitas, dongs). Tapi kalo bikin review positif, bagaimana dengan standar yang dimiliki reviewer? Apakah bukan berarti reviewer sudah mengorbankan standarnya demi menyesuaikan diri dengan penilaian sekumpulan juri?

Bingung, yah?

Untung saja aku gak menempatkan diriku sebagai 'reviewer', heheh. Karena aku pakai kacamata pembelajar, apapun akan kuanggap positif, karena dari kondisi apapun kita selalu dapat menarik pelajaran sebagai salah satu 'jalan' menuju peningkatan skill maupun wawasan kita dalam membuat karangan.

Novel Zauri sesungguhnya sudah lama diterbitkan. Saya bahkan sudah sempat berkenalan dengan pengarangnya sebelum saya membaca novelnya. Insya Allah, hal itu tidak membiaskan pembelajaran saya, dah. Novel ini baru saya baca sebab saya baru mendapatkan kopinya dijual di Pameran IKAPI bulan Juli 2008 lalu, sudah lama saya cari-cari di toko buku tak pernah ketemu. Sampai sempat saya pertanyakan pada pengarang, apakah bukunya mengalami masalah distribusi, koq sebagai sebuah karya yang menang penghargaan, tidak mudah dijumpai di toko buku. Padahal sumber pencarian utama saya biasanya toko buku Gramedia, dan Zauri adalah terbitan Grasindo yang nota-bene anak perusahaannya Gramedia!

Clearly, kalo jaringan toko buku Gramedia aja nggak memajang buku ini, bisa berarti stok habis dan belum ada cetakan ulang. Kalau belum dicetak ulang, kemungkinan terbesarnya adalah, novel ini tergolong 'slow moving', alias kurang laku. Nah, pertanyaannya kenapa sebuah buku pemenang penghargaan bisa gak laku? (well, di negeri kita ini, memang antara 'bagus' dan 'laris' itu belum tentu sekutub, hehehe). Tapi kelihatannya ada satu faktor, yaitu desain sampul. Tapi mendingan aku bahas belakangan aja, kali yee,..?

Sekarang mengenai ceritanya dulu. Zauri bercerita tentang petualangan seorang putri raja, Putri Regia, beserta sidekick-nya Nina, yang disihir oleh penyihir kerajaan menjadi seorang gadis amnesia tanpa identitas dan se(orang/ ekor?) peri. Akibat keamnesiaannya itulah, si putri bertualang ke sana-kemari sampai terlibat intrik kerajaan negeri tetangga dan negrinya sendiri.

Dalam petualangannya, sang putri disupport oleh a slew of characters, mulai dari Dios, pemburu/ pendekar muda yang kharismatik; Kid, si pencuri cilik yang 'dewasa' sebelum waktunya; Dainty, si gadis pemilik kedai minum yang cantik, cerdas dan menjadi rival Regia dalam menarik perhatian Dios; Zen, pangeran negeri tetangga yang suppose to be tunangannya Regia (yang nggak diminati oleh Regia), serta sepasang tokoh komikal Mayorka dan Bruno, yang nama aslinya tak saya ketahui sampai cerita berakhir.

Secara umum, pengarang berhasil menciptakan karakter-karakter yang cukup believable, dan masing-masing memiliki ciri yang khas, yang mampu men-drive cerita sesuai plot yang digariskan pengarang. Lihat saja, tanpa perlu penggambaran yang berbusa-busa pun, pembaca langsung bisa menyelami karakter-karakter tersebut. Memang dalam kubu yang ekstrim, orang dapat mengatakan bahwa karakterisasi semacam itu cenderung stereotipe. Menurut saya, sebagai dasar karakter, stereotipe nggak jadi masalah. Toh yang penting adalah bagaimana pengarang memainkan karakter itu selanjutnya, dan kemudian mengembangkan para karakter sesuai universe cerita tersebut. Dan dalam aspek ini, kulihat pengarang sudah cukup berhasil, walau tidak terlampau mendalam. Which is memang konsisten dengan tone dari novel itu sendiri.

Novel Zauri memang memposisikan diri sebagai Roman-Fantasy remaja, dengan tokoh-tokoh yang lebih masuk ke kategori area 'feminin'. Dalam hal ini saya tidak menginterpretasikan tokoh-tokohnya sebagai bertingkah laku 'feminin' (tokoh utama malah justru digambarkan rada tomboy). Melainkan seperti aliran 'shojo' dalam khasanah manga Jepang. Itu semacam aliran menggambar komik dimana tokoh-tokohnya memiliki atribut feminin yg menonjol, biasanya dalam profil wajah, tarikan garis, pilihan kostum, dan umumnya ditargetkan ke pembaca kaum cewek. Membaca Zauri, saya pun merasakan adanya similaritas antara cara bercerita atau cara deskripsi pengarang, dengan cara manga shojo bercerita maupun berdeskripsi.

Nah, entah karena ke-shojo-annya, atau memang demikian gaya penulisan pengarang, Zauri tampil sebagai sebuah teks yang enak dibaca. Demikian 'terang' dan mengalir. Dia tidak sibuk dengan konsep yang kompleks dan jelimet, atau dengan aksi yang bombastis, atau konflik batin bersigi konspirasi multi partai dalam selimut. Simpel aja, sebuah cerita yang enak diikuti dan dengan ramah mengajak pembaca ikut di dalam petualangan Regia, dan mengandung elemen aksi maupun humor yang pas. Kurasa, teknik penulisan yang berpegang pada kesederhanaan kalimat dan deskripsi langsung, merupakan teknik yang telah membuat novel ini menjadi mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Dan jika hal itu merupakan nilai plus, kurasa nilai plus semacam itulah yang telah mengangkat posisi Novel ini menjadi layak untuk mendapatkan penghargaan.

Walau tentu saja, akibat dari kesederhanaan itu, jadi cukup banyak aspek yang tak tuntas dibahas dalam 309 halaman. Itu adalah satu sisi lain dari mata uang yg sama. Terus terang saya tidak cukup puas dengan berbagai alasan yang (seharusnya) menjadi latar belakang hubungan sebab-akibat yang terjadi di dalam novel. Banyak hal seolah sudah ditempatkan oleh pengarang secara apa-adanya, dan pembaca yang kritis terpaksa 'terima jadi' ikut mengalir bersama pembaca-pembaca gak kritis ke sungai plot.

Beberapa lubang logika, rasanya sudah disebutkan oleh beberapa review, dan kayaknya saya cenderung menyetujuinya. Saya sendiri menilai lubang logika yang ada tidak terlalu fatal. Hanya sekedar semacam ketidak puasan karena kurang 'lengkap' aja.

Beberapa yang saya rasakan masih kurang memuaskan antara lain:

Status Erica sebagai penyihir istana. Rasanya aneh, aja. Ada seorang penyihir berkekuatan luar biasa (bisa merubah orang menjadi peri) bisa diterima berkeliaran di sebuah istana. Mengapa Raja dan Ratu tidak menganggap orang-orang semacam itu sebagai ancaman? Kurasa bukan cuma Regia yg bisa dibikinkan duplikat, sang Raja sendiri pun dapat dibegitukan oleh Erica, bukan? Ini terutama karena Raja sendiri tidak dikatakan mampu mengimbangi sihir Erica atau sejenisnya, bahkan ketika putrinya sendiri digantikan boneka, ia tidak notice (Ini pasti tipikal Raja yang sangat sibuk sehari-hari di kantornya! :))

Alasan Dios menolong Regia di tengah hutan, sepertinya cenderung klise dan inkonsisten. Tak ada gunanya Dios bersikap dingin atau galak saat menolong seseorang yang tampaknya tersesat di tengah hutan, kecuali bila Dios sudah punya sentimen negatif terhadap orang itu sebelumnya. Karakter Dios sebagai loner tidak cukup kuat untuk menjustifikasi keaseman sikapnya terhadap Regia, yang tak berdasar itu.

Adanya Peri kupikir cukup out of context di dunia tersebut. Di satu sisi sistem kemasyarakatannya tidak terlihat akrab dengan Peri (tidak ada indikasi keberadaan peri di istana, dalam artefak budaya, etc), tapi di sisi lain beberapa warga (misalnya Nenek Luina) tahu adanya Istana Peri di hutan,...ada familiarity dengan peri, tapi tak tampak ada intergrasi budaya. Orang-orang tidak kelihatan asing melihat Mio (wujud peri Nina) terbang berkiter-kiter di dekat Kayla (wujud amnesia Regia), reminiscence of Tinkerbell to Peter Pan. Tapi koq tidak ada peri lain yang ngikut orang lain juga? Dengan tidak adanya integrasi antara budaya manusia dengan budaya peri, kesannya peri itu menjadi setara dengan hewan, atau insignifikan, atau bahasa lugasnya: tempelan dalam bangunan universe.

Berdasarkan keberadaan istana Elgamb yang 'melayang' karena disupport oleh kristal, juga topik utama novel yaitu kristal Zauri yang punya kekuatan dahsyat dan merupakan elemen utama plot novel ini, saya bisa mengatakan bahwa seharusnya novel ini menempatkan Kristal sebagai sentral kebudayaan di dalam novel. Seluruh kehidupan di dalam novel ini bertumpu pada kristal, sebagaimana seluruh kehidupan di Bumi bertumpu pada Minyak Bumi.

Ini masih kurang diolah. Padahal kalau mau diolah, hasilnya akan tumbuh sebuah kebudayaan rekaan yang amat kaya, dan tidak cuma menghasilkan produk budaya berupa kristal penyangga istana/ jembatan, kristal zauri, atau kristal fusan. Ia akan menghasilkan suatu karakter negeri kristal yang melingkupi seluruh aspek kebudayaan di novel Zauri, karena di universe ini, kristal adalah sumber energi yang tak terbatas.

Artinya, peran para Karphatian (sebagai pengendali kristal) bisa lebih sentral. Artinya, akan banyak pengembangan teknologi eksotis yang menggunakan kristal. Artinya, akan banyak kosa kata khas untuk kristal atau hal-hal terkait kristal, yang menunjukkan betapa tingginya posisi benda tersebut dalam tatanan kemasyarakatan di Zauri. Artinya, pengarang akan punya karya cipta berupa sebuah dunia fantasy yang benar-benar unik.

Pertanyaannya, apakah itu perlu? Toh, dengan hanya bermodalkan plot sederhana dengan penokohan standar seperti ini, Novel Zauri sudah mendapat penghargaan, bukan?

Nah, ini terpulang sama pengarang sih, mau jadi penulis yang cepat puas, atau penulis yang terus berkembang menjadi lebih baik. Heheheh,...

Kemudian mengenai penamaan tokoh maupun properti di dalam Zauri. Pengarang punya strategi memberikan nama-nama yang singkat dan mudah diingat, which works seplendedly :) Nama-nama seperti Regia, Kid, Dainty, Dios, Mayorka dan Bruno, rasanya udah cukup 'bunyi' di pikiran secara baik dan 'pantes'. Tapi nama seperti Nina, Kayla, Mio, Zen, Jort, Erica,,.. well,... rasanya nggak terlalu megang untuk dunia Zauri. Juga nama peroperti seperti Fusan, Bubaglob (spelling perlu check), Dahl, Aurgis (spelling perlu check), Mohaz, minuman... (halah, lupa juga nama minumannya, tar dicek dulu! Bukunya keselip dimana lagih?), juga rasanya nggak terlalu menimbulkan excitement. Gimana ya, it's just names, bukan karakter.

Terakhir mengenai ketidak puasan ku adalah mengenai sub judul Novel ini, yaitu "Legenda Sang Amigdalus". Gimana ya, ditaruh di sub judul, tapi keberadaan legenda itu sendiri cuma terasa sebagai sampiran setting, bukan inti cerita. Salah satu parameternya adalah: Sampai akhir cerita pembaca pun masih belum ngeh banget Amigdalus itu apa, kecuali bahwa si Mario, si pemenang Amigdalus award tahun ini, adalah penjahat yang akhirnya dikalahkan Dios berkat bantuan keajaiban kristal Zauri.

Nah, sekarang gimana kalo kita omongin kritik gue yang paling utama untuk buku ini, yaitu desain covernya!

Menurut gue sich,... desain cover Zauri belum tergarap secara memuaskan, dan yang agak berbahaya adalah bahwa desain ini berpotensi menghalau pembaca potensial mengeluarkan buku ini dari buying list mereka. Apa yang kurasa menyebabkan hal itu? Faktor paling menonjol adalah font tulisan Zauri, yang selain sukar dibaca, juga mengesankan ekspresi seram/ horror. Padahal apakah hal itu konsisten dengan karakter kristal Zauri? Apakah ke-horror-an ini konsisten dengan tone Novel yang cenderung ringan dan ramah itu? Lantas apa pertimbangannya menggunakan Font ala Frankestein, itu? Cacat font juga terjadi di sampul belakang, membuat sinopsisnya menjadi susah dibaca secara tak perlu.

Pikir aja deh, dalam membeli buku yang terbungkus plastik, apa yang membuat sebuah buku berpindah dari rak menuju tas belanja? Pertama: Cover, Kedua: Sinopsis/ Endorsement. Dan dua-duanya gak support ke isi buku Zauri. Oh, dan ada Ketiga: Karena gue kenal/ nge-fans pengarangnya,... hehehe.

Jadi sorry aja, walaupun secara teknis desain sebetulnya cover sudah dikerjakan secara bagus, rapih, grafis ilustrasi pedangnya keren (tapi pedangnya terlalu tipis, gak menarik perhatian), Cover itu sendiri gagal mencitrakan isi Novel untuk menarik prospective buyer, atau at least telah menghalau pergi prospective buyer dengan keseraman pencitraan yang tak perlu.

Tapi, apakah tuduhanku ini valid? Hmm,.... susah juga, ya. Ga ada bukti angka yang sahih, semua hanya berdasarkan spekulasi aja. Tapi paling tidak, kalau pun gue mau menyodorkan konsep cover apa yg kira-kira akan 'pas' buat Zauri, mungkin setidaknya gue akan memberi saran perubahan untuk Fontnya aja. Mungkin Font yg lebih intergratif dengan grafis kristal (misalnya huruf A-nya diganti gambar kristal etc), untuk memperkuat imaji negeri Kristal di universe Zauri. Plus, stempel informasi mengenai penghargaan juara II yg diperoleh Zauri, seperti cara novel-novel luar mempromosikan "New York Time's Best Seller" dan sejenisnya itu.
Akankah bakal laku? Well, siapa bisa jamin? Lagian masih ada sejuta masalah dalam distribusi yang menentukan keberhasilan pemasaran sebuah buku. Tapi setidaknya, dengan desain 'manis' novel Zauri akan tampil lebih utuh sesuai dengan harkat dan martabatnya! (Apaaa, siiiih?)

Anyway, buat dian, sekali lagi selamat untuk novel perdananya, selamat buat penghargaan & nominasinya, karya-karya selanjutnya ditunggu, ya!

Salam,



FA Purawan