Tampilkan postingan dengan label supranatural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label supranatural. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2009

JONGGRANG: Seribu Tahun Kutukan Dendam & Cinta (Bimo S. Nimpuno & Gerry Nimpuno - 2009)


by FA Purawan

Data Buku:

Penerbit: Edelweiss
Editor: -
Desain Sampul: Kebun Angan
Tata Letak: Fitri Yuniar
Tebal: 268 halaman

Hmm, ada apa dengan Roro Jonggrang? Apa daya fantasi yang melingkupi legenda ini sedemikian dahsyatnya sehingga menjadi inspirasi tak putus-putus? Masih banyak legenda lokal yang lain, kan? Tapi kenapa Roro Jonggrang lagi, lagi, -dan lagi? Apa karena ada artefak candi yang segitu gede dan memukau-nya, sehingga legenda itu menjadi terus tersokong hidup sepajang masa.

Nggak salah, si Bandung Bondowoso dulu mengutuk Roro Jonggrang jadi patung batu. Terbukti long-lasting, heheheh. Coba kalau dikutuk jadi kodok, besoknya udah jadi Swikee.


Ada satu lagi buku baru bernuansa Fantasy yang menggunakan perempuan Prambanan ini sebagai latar cerita. Buku berjudul JONGGRANG: Seribu Tahun Kutukan Dendam & Cinta karangan duo pengarang Bimo S. Nimpuno dan Gerry Nimpuno. Ini adalah buku kedua yang direview oleh Fikfanindo menggunakan tema Roro Jonggrang, kalau teman-teman masih inget, yaitu PETUALANGAN JAVA-JOE: Rahasia Kebangkitan Roro Jonggrang karya J.H. Setiawan, linknya ada di sini.

Novel JONGGRANG mengisahkan kutukan yang menimpa Loro Jonggrang, putri Prabu Boko dari Prambanan yang mengakali Bandung Bondowoso sehingga pangeran penakluk dari Pengging itu gagal membuat candi keseribu yang dimintanya. Kutukan itu terus melekat sampai masa kini dan menimpa sepasang kekasih yang jadi tokoh utama buku ini, sehingga keduanya harus membebaskan diri dari cengkeraman Loro Jonggrang dengan menggunakan kekuatan CINTA.

Well, I know, I know. Komennya ntar dulu deh. Sekarang perlu aku beberkan dulu alasanku mengapa buku ini menjadi menarik untuk dibedah di Fikfanindo. Yang pertama, ini adalah buah karya kolaboratif dari sepasang pengarang yang kebetulan berstatus suami-istri (Atau suami-istri yang kebetulan berstatus pengarang? Hayah...). Fokus di 'kolaboratif'nya. Kita lihat bagaimana perpaduan dua benak dapat bersinergi menciptakan satu karya. Kedua, buku ini adalah jajaran kesekian yang mengolah tema 'basi'... uits, jangan marah dulu. Maksudnya topik Roro Jonggrang itu--yang sudah terpakai berkali-kali oleh dozens of writers. Apakah hal baru yang bisa dikreasikannya sehingga buku ini bisa menjadi sosok yang lepas dari bayang-bayang buku lain yg duluan eksis?

Kita mulai dari kemasan: Sampulnya berwarna hijau dengan ilustrasi putri keraton di sudut kiri bawah menghadap pada semacam pusaran cahaya langit di area tengah sampul. Tulisan "JONGGRANG" dengan typografi cukup menarik menghiasi muka sampul, dengan bayang-bayang candi sebagai latar belakang, dengan susunan pucuk-pucuk candi mirip dengan susunan pucuk rumah ibadah di cover novel Kisah 5 Menara. Cover dikerjakan oleh Kebun-Angan, ilustrator yang mengerjakan cover serial terjemahan Percy Jackson & The Olympians (Saya suka karya mereka di serial ini). Lumayan, konsep dan eksekusinya cukup dapet, lah. Hanya penggambaran sosok putri masih terasa agak kartun menurut gue, rada kurang masuk dengan tema buku yang sebetulnya cukup dewasa (baca: serius).

Gimana dengan alur plot? Agak similar dengan JAVA JOE, cerita dibuka dengan adegan pertempuran Bandung Bondowoso vs Prabu Boko. Terus sampai drama kutuk-mengutuk itu, lalu pindah ke masa kini.

Ada satu pendekatan unik yang digunakan para pengarang dalam mengantarkan cerita, yaitu dengan adanya suatu 'karakter pembantu' yang dinamai 'Akselerasi'. Sebetulnya ini bukan orang, dan juga bukan apa-apaan sebab gak dijelaskan lebih lanjut oleh pengarang. Cuma pengarang menggunakan 'Akselerasi' ini sebagai semacam 'kamera' yang mengamati semua adegan. Hebatnya --but at the same time: ancur-nya-- Akselerasi ini digambarkan datang dari ujung alam semesta dengan warp-speed menuju Bumi. Ndilalah mampirnya ya di Prambanan, gitu jhe? (gunakan logat Yogya).

Lho kenapa gue bilang 'ancur'? Sebab karakter akselerasi ini gak punya hubungan sebab-akibat apapun dengan cerita. Dia cuma jadi semacam pengantar aja yang fungsinya juga gak jelas. Gak eksis pun gak apa-apa. Mustinya sih, pengarang bisa memberikan sedikit 'reason' kenapa karakter itu diperlukan, kenapa relevan ada di bukunya.

Alur didesain cukup biasa saja. Straight forward dari awal sampai akhir. Ada a little twist yang sedikiit aja memperkaya (sayangnya, nggak memberi kedalaman pada cerita), padahal kalau aku rangkai-rangkaikan, kayaknya potensial jadi sesuatu yang saling interelated dan membuat cerita jadi lebih berdimensi. Kayaknya pengarang gak melihat hal itu, atau gak mengolahnya dengan baik.

Lepas dari masa Prambanan, masuk setting masa kini, dengan kehidupan tokoh utama bernama Data Sena --yang bekerja di perusahaan IT-- dan kekasihnya Elektra. Yup, pasti anda terjengit, ada orang indonesia bernama Elektra, dan Data. Gue juga sempat membatin koq namanya aneh bener Data (mirip tokoh Star Trek), terus kerja di IT, pulak. Eh ga taunya di halaman 23-24 pengarang udah ngeduluin mencounter dengan pertanyaan yang sama. Ha-ha.

Penggambaran setting masa kininya cukup dapet, dan secara signifikan lebih baik dari pada setting era Prambanan-nya. Untuk setting masa kini yang berlaku seputar kehidupan kantor, rumah, cafe, situasi liburan di Bali, Yogya, wisata candi Prambanan dll, cukup bagus tereksekusi.

Tapi khusus... setting Fantasynya, harus aku puji cukup extra ordinary. But wait, aku belum bicara masalah penulisan/ penceritaan, tapi ide fantasy nya aja dulu. Ada dua setting Fantasy yang cukup dominan di sini, yaitu Prambanan era tahun 800 M-an dan "Alternate Prambanan" di masa kini. Di setting Prambanan tahun 800-an, pengarang menelurkan ide fantasy pembuatan seribu candi yang cukup keren buat gue. Tentu saja, adegan pertempuran Prabu Boko dan pembuatan 1000 candi pastinya udah banyak yang mengolah. Bagaimanapun itu adegan inti dalam kisah Roro Jonggrang klasik. Tapi lihat deh apakah sudah ada yang melukiskan bagaimana cara Jin-jin dedemit pembantu Bandung Bondowoso itu datang?

Keren, look at this:

...Angin berhembus kencang menerjang apa saja yang dihantamnya, termasuk potongan-potongan tubuh yang berserakan di tanah yang berlumuran darah. Namun kejadian yang mencekam ini tidak membuat Bandung berhenti komat-kamit. Justru sebaliknya ia berputar-putar dengan perlahan sambil terus menengadah ke langit melanjutkan manteranya. Di dalam suasana alam yang hiruk-pikuk itu, tiba-tiba tanah bergetar. Getarannya tidak mirip dengan gempa bumi, tetapi lebih mirip dengan getaran magma yang akan keluar dari dalam perut bumi. Tidak lama kemudian muncullah dari dalam bumi, sesosok makhluk yang wujudnya mengerikan. Mula-mula hanya kelihatan kepalanya saja yang menyembul keluar dari dalam bumi. Kulitnya hitam keabu-abuan dan lapuk seperti mayat yang sudah beberapa bulan dikubur di dalam bumi. Matanya memantulkan sinar hijau. Cuping hidungnya besar dan mengenakan anting. Tampak taringnya keluar dari antara kedua bibirnya yang tebal dan menjijikkan. Ketika badannya sudah hampir keluar semua, tampak badannya tidak proporsional sama sekali. Tangan dan kakinya kecil, tubuhnya bungkuk dan perutnya buncit. Kuku-kuku yang panjang berliuk-liuk dan kotor keluar dari masing-masing jari-jari tangannya yang panjang-panjang. Ternyata makhluk bawah tanah itu tidak sendirian. Satu persatu mereka menyembul keluar dari dalam tanah sehingga jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Belum selesai makhluk-makhluk lainnya yang sejenis menyembul keluar dari dalam tanah, tiba-tiba sekumpulan awan hitam menerobos dari langit menuju ke medan Prambanan yang kini berubah lebih menyeramkan lagi dari sebelum-sebelumnya. Ketika menyentuh tanah awan hitam itu berubah wujud menjadi kawanan makhluk-makhluk kecil yang menyerupai tuyul yang jumlahnya juga ribuan. Mereka juga ribut dan gerakannya seperti anak-anak kecil yang rakus... (Hal. 9-10)

See? Ide --terutama visualnya-- cukup orisinil dan menggugah.

Juga untuk ide Alternate Prambanan di masa kini. Di saat malam terutama, starting pukul 23.00, Prambanan akan menjadi suatu kompleks istana klasik dimana dayang-dayang, penari, ponggawa dan kereta kencana gaib muncul. Dan yg bikin gue geleng-geleng kepala, semua berlangsung sepermakluman rakyat setempat sampai ke petugas satpam (Petugas Satpamnya gak heran ngelihat ada kereta kencana ditarik enam kuda hitam berlari menembus gerbang tertutup right before his own eyes! Mantap!) A living urban legend! Dunia real dengan dunia khayal bertemu-mix di sini secara apik. Saya suka.

Dengan adanya dua ide setting itu, sebenernya Novel ini berpotensi jadi 'beda'. Sayang sekali, kualitasnya belum bisa mencapai posisi ideal karena beberapa kelemahan. Saya akan list down kelemahan yang bisa saya temukan, sambil sekaligus beberapa komplain terkait pengolahan cerita, hehehe. Here goes:

1. Yang paling parah: kemampuan penulisan, pembuatan prosa atau kalimat. Sayang banget masih kurang bagus, ku bilang malah masih agak berantakan. Liat aja contohnya di paragraf yang saya kutip di atas. Terlihat bahwa adanya DUA pengarang tak menolong dalam hal ini. Entah apakah salah satu gak bisa mengoreksi yang lainnya, atau dua-duanya memang belum punya skill-nya. Kalau saja peran editor bisa lebih ditingkatkan, di sini.

2. Sedikit bolong logika: Pembangunan candi Prambanan pada tanggal 11 November tahun 856-an M atau Abad 9 M (hal 91), peristiwa masa kini terjadi tahun 2009-an. Tapi selisih tahunnya menurut pengarang adalah seribu tahun(an). Well, 800 ditambah 1000 baru nyampenya 1800-an lah, kurang dua abad! Kesalahan remeh, sih, tapi masak matematika sederhana aja terlewat? Tapi anehnya di halaman 3 disebutkan time-line perang Prambanan adalah pada abad 10 M. Antara abad 10 dengan abad 20 memang terpaut seribu tahun. Tapi bagaimana konsistensinya dengan informasi pembangunan Prambanan di tahun 800-an? Artinya perang terjadi setelah candi dibangun? Lha perangnya sendiri seharusnya adalah penyebab dari candi itu dibangun! Ga tahu deh, miss-nya di mana. Kalau menurut gue sih, konsistenkan saja, pilih satu sudut premis yaitu (kalau di sini) premis legenda aja, jangan masukin premis fakta. Aman. Kecuali kalau antara legenda dan fakta 'kebetulan' cocok.

3. Blatant Tourism Promotion: Jangan-jangan dua pengarang ini sempat minta sponsorship dari Pak Jero Wacik! Part selipan promosi wisatanya terasa amat vulgar, sampai ke adegan waiter di Ubud duduk nemenin tamu hotel (sang tokoh) untuk mendeliver obrolan yang pantasnya tercetak di brosur wisata. Well, masih bisa dimaafkan, ketika kisah pariwisataiyah tersebut juga direfer sebagai informasi penting terkait plot, memang. Tapi hari gini, rasanya udah banyak pengarang menghindari kevulgaran yang kayak gitu. Istilah pariwisata perlu dicek lagi, gue baru tahu kalo wisata Arung Jeram masuk kategori Wisata Bahari (hal 55).Promosi tempat-tempat di Yogya juga, buat saya 'masih' berasa dipaksakan, walau pengarang sudah cukup rapi meramunya sebagai tempat-tempat yang dikunjungi para tokoh. Rasanya seperti nonton film laga Steven Seagal yang dipaksain beraksi di lokasi-lokasi pariwisata, just to show *it* to the audience. Lame.

4. Inkonsistensi POV: Mulai dari Bab II: Seribu Tahun Kemudian, buku ini menggunakan sudut pandang Data Sena sebagai POV orang pertama (tokoh aku). Sayangnya tidak digunakan secara konsisten, sehingga acap terselip POV orang ketiga, misalnya POV Elektra. Bahkan di bagian akhir cerita POV bergeser 100% ke Elektra sebagai POV orang pertamanya. Hualah, kita mendalami masalahnya dalam sudut pandang Data, tapi menjalankan penyelesaian masalah melalui sudut pandang Elektra? Buat gue sih jadi gak nyambung, ya. Dan khusus pendekatan POV orang pertama, mengganti POV orang pertama dalam satu cerita menurut gue is a big No-No. Rasanya seperti membaca cerita yang gak selesai, sebab masalahnya diselesaikan oleh 'aku'nya orang laen. Tapi satu misslook juga terjadi di halaman 213, saat tiba-tiba saja dalam POV Data yang berada di Yogya, Data bisa bercerita mengenai aktivitas Elektra yang akan menyusulnya di bandara Soekarno Hatta Jakarta (parah, Data seharusnya dalam kondisi tidak tahu dan tidak peduli pada Elektra, koq bisa muncul POV itu). Udah gitu yang tidak indah juga adalah perpindahan ke POV Elektra seperti petir di siang bolong, alias ujug-ujug terjadi begitu aja mulai paragraf kedelapan di halaman 215. Parah juga di halaman 238 dimana Elektra meyatakan kondisi dirinya mirip dengan relief Kidung Sudamala di Candi Sukuh, sementara yang pergi ke candi Sukuh dan lihat relief itu adalah Data, di adegan pesiar sebelumnya.

5. Loro, atau Roro? Nhah, ini mungkin bakal jadi polemik kebudayaan di tangan orang yang gak ngerti budaya. Maksudnya, gue, yg nggak ngerti budaya Jawa. Pengarang menggunakan sebutan Loro Jonggrang, sementara setahu saya istilah yang benar adalah Roro Jonggrang. Bahasa Jawa-nya Loro, kan kalo nggak berarti (angka) "dua", atau "sakit", tergatung logat membacanya. Sementara kalau Roro itu sebutan untuk seorang puteri, misalnya dalam "Raden Roro". Nah, apakah memang ini semata slip-of-tongue, atau memang ada konvensi penggunaan istilah "Loro" yang sama benarnya dengan istilah "Roro"? Soalnya denger-denger juga ada istilah 'Nyai Loro Kidul' bersamaan ada juga istilah 'Roro Kidul', konon itu dua entitas (?).

6. Beberapa miss-logika juga terjadi, tapi dalam skala kecil sehingga mudah dimaafkan. Misalnya ada adegan Data bermimpi memasuki alam masa lalu dimana dia mendengar suara-suara pedang beradu dan orang-orang berteriak dalam bahasa Jawa Kuno. Ntar dulu,... emang Data ngerti bahasa Jawa Kuno? Bagaimana kalau itu sebenernya bahasa Urdu modern yang dikira bahasa Jawa Kuno? Juga reaksi curiga/ cemburu Elektra yang berlebihan, biarpun justified, tetep aja terasa dipaksakan.

7. Tadi sempat ngomongin ide fantasy keren, saat Bandung Bondowoso memanggil pasukan jin-nya. Terus yang bikin ide keren itu kehilangan momentum kekerenan, adalah: Pengarang mengulang penggambaran adegan yang sama sampai dua kali selain di adegan original. Satu di mimpi Data, satu lagi di adegan puncak saat Loro Jonggrang menawan Elektra, dan keduanya tampil dengan narasi yang nyaris mirip, almost total copas. Udah dua pengarang, lho ini? Koq, males? Atau, kalau mengacu pada teknik, sebetulnya ulangan ke 2 dan ke 3 itu gak perlu serinci yang pertama, sekedar gambaran singkat aja. Pembaca udah paham, koq. Kalau mau rinci, tuliskan dengan cara baru, misalnya dengan dijiwai oleh persepsi sang tokoh POV. Jadi pembaca tetap dapat sesuatu yang unik, gak pengulangan.

8. Late Chatolic Reference: Uhm, gue bukan anti religius-reference-in a novel. Even dalam novel gue (GARUDA-5) pun, gue menggunakan referensi Islam, yang gue timbang-timbang dengan hati-hati, supaya masih 'masuk' untuk dibaca audiens non-muslim. Novel Jonggrang ini menggunakan referensi Katolik, bahkan menjadikannya penyelesaian utama konflik melawan kutukan Bandung Bondowoso. Hanya komplain gue, kenapa referensi ini baru muncul belakangan, setelah halaman 217 sewaktu ada dialog dari Roos, kolega Elektra, "Kamu kan Katolik...dst". Blunggg! Abis itu menggelontorlah segala istilah per-katolik-an mewarnai buku, termasuk konotasi "Aku berada dalam terang" atau "Kau berada dalam gelap". Ugh, Koq jadi novel dakwah? Tapi ya udah. Soal dakwah adalah soal hak dan keyakinan. Aku hormati banget itu. Tapi soal memasukkan referensi teologis belakangan, aku rada gak sependapat. Saranku, masukinlah sejak dari depan, misalnya ada adegan acara keluarga bernuansa Katolik, ato apa gitu (sebisa mungkin jangan klise, tapinya). Tak soal bila pada adegan awal tersebut sang tokoh gak terlibat atau gak terkesan (biasa, kan belon insap). Yang penting pembaca sudah tahu sudut pandang itu sejak awal.

9. Dialog: Eksekusi dialog sebetulnya dah bagus, mengalir wajar. Cuma ada catatan di sana-sini, misalnya si Bandung Bondowoso yang berteriak-teriak menggunakan terlalu banyak konsonan-vokal-dan tanda baca. Si Bandung juga 'gak sengaja' keceplosan menggunakan dialog: "Ngomong aja kamu" (hal 15). Well, mungkin di abad itu gaya bicara seperti itu masih tergolong gaya bicara ningrat, kali ya, alih-alih gaya bencong, hehehe. Kalau menurut konvensi, sich, jika dialog diasumsikan berlangsung dalam bahasa asing (dalam konteks ini tentu bahasa Jawa Kuno), maka penulisannya dalam bahasa Indonesia seyogyanya dalam bahasa baku atau mendekati istilah-istilah baku. Jangan pakai bahasa slang. Nah, beda dengan ejekan Loro Jonggrang-muka-setan di masa kini: "Kasian deh loe!" (hal 242) itu masih tepat ditulis demikian sebab konteksnya si Jonggrang memang bicara dalam bahasa Indonesia, bukan Jawa Kuno. Dalam adegan-adegan latar misalnya di hotel, di cafe, terlampau banyak dialog yang gak perlu, sampe adegan pesan teh saja dibabar dialog tanya-jawab secara lengkap. Sebaiknya lebih efisien aja.

Well, that's it. Lebih kurang sembilan point aja yang bisa saya rinci sekarang. Moga-moga dapat menjadi pembelajaran bersama. Selain dari itu, novel ini memiliki kelebihan dalam pewarnaan budaya yang cukup beragam, referensi-referensi yang digunakan lengkap dan bernas, mengarah pada ketepatan text-book. Tinggal perangkaiannya aja gimana, agar tidak terkesan sebagai tour yang dipaksakan. Status pengarang sebagai pasangan suami-istri sepertinya juga saling melengkapi dalam menuliskan asmara hubungan pria-wanita. So secara pondasi sih, Jonggrang sudah memiliki kelengkapan yang cukup. Yang kurang adalah skill kepengarangan aja, yang masih dapat ditingkatkan. Selamat!


FA Purawan

Senin, 15 September 2008

IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi (Lian Kagura - 2007)



Data buku:

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Editor: Birulaut
Ilustrasi: Widhi Saputro
Desain Sampul: Widhi Saputro
Layout Naskah: Ricky Andy Yoga
Tebal: 256 hal

Tempat jalan-jalan favorit saya adalah toko buku. Dan salah satu toko buku yang saya favoritkan adalah MP Boookstore yang terletak di jalan Puri Sakti Jakarta Selatan, dekat kuburan Jeruk Purut. MP Bookstore menjadi favorit saya karena di sanalah saya biasa nongkrong sambil menanti usainya jam sekolah TK anak saya di hari Sabtu, dan selain itu, karena koleksi buku-buku yang cukup jarang saya temukan di toko buku lain.

Apa yang hebat dari koleksi buku-buku MP Bookstore? Adalah bagian buku-buku diskon di bawah tenda depan di parkiran, yang menarik minat saya. Sudah beberapa kali ini saya menemukan buku-buku clearance yang tidak pernah saya lihat terpajang di Gramedia atau toko buku lain. Tentu saja, to my ultimate pleasure, banyak di antaranya adalah buku Fiksi Fantasi karya pengarang lokal.

Jadi, ternyata cukup banyak karya lokal yang tidak pernah merasakan gengsi beredar di mall-mall atau "toko buku terkemuka" seperti iklan-iklan buku jaman dulu, dan tahu-tahu berakhir di clearance bin in a parking lot (sadis!). Sementara kita jejeritan mengeluhkan minimnya karya-karya fantasy lokal.

Tanya siapa.

So, here we are, salah satu buku 'baru' yang saya temukan di tumpukan clearance sale (diskon cuma 20%, siiih, ga clearance-clearance amat), berjudul IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi, karya Lian Kagura terbitan 2007. Covernya berwarna hitam (lagi-lagi!) bercampur merah marun, dengan gambar seorang pemuda duduk di sebuah singgasana, berlatar belakang perempuan cantik, serta serigala berbulu biru dan seorang bocah gundul bermata putih bersimpuh di kaki singgasana.

Well, langsung aja kesan Fantasy-Misteri menguar dari ilustrasi sampul, diperkuat dengan Typografi font berwarna merah darah yang oke banget. Sekilas mirip grafik Manga bergenre misteri. Dan di sinopsis halaman belakang, antara lain terdapat kalimat seperti ini: Ia ingin bangun, tapi tak bisa. Ia terjebak dalam mimpi itu.

Nah, satu lagi Fantasy yang bersetting dunia Mimpi!

Tak sabar saya buka buku itu dan mulai menikmati isinya. Pada lembar halaman pertama, pandangan mata langsung terbentur pada kalimat Basmalah dalam huruf latin. Ingatan saya langsung terpaut pada karya-karya Fantasy Islami yg pernah marak pada tahun 2002-2004-an. Hmm,... pada kemana semua itu sekarang, yah? Apakah sekedar euforia yang sudah padam? Tapi anyway, dengan pembukaan seperti itu saya langsung menduga bahwa novel ini akan memiliki nuansa Islami yang kental, minimal pasti ada tokoh uztad-nya.

Dan rupanya, pengarang ingin memulai kisahnya dengan sehalaman puisi yang sejujurnya nggak begitu mengesankan. Bukan pada isinya (yg bicara tentang cinta dan dipersembahkan pada Bunda), melainkan lebih pada tata letak baris-baris puisi yang nggak enak dipandang dan tak tahu apa maksudnya disusun demikian. Padahal kalau disusun wajar saja mungkin lebih 'dapet' maksudnya.

OK, enough of that. Kisah dibuka dengan bab pertama berjudul "Kesedihan itu Datang". Dan begitu saya membaca, saya langsung tertohok dengan suasana 'noir' yang teramat pekat. Kisah berputar pada tokoh Iori, seorang cowok SMA yang baru saja kematian Ibundanya. Pengarang bener-bener memberikan suasana stressful dan depresif banget, memainkan tragedi diramu dengan kenangan-kenangan, siapa yang nggak langsung berleleran karenanya. Kesedihannya tidak membuat saya ingin menangis, however, melainkan membuat saya begitu tertekan dan dimakan oleh rasa duka, seolah-olah saya sendiri ikut merasakan kesunyian dan kehilangan besar di hati saya. Merinding.

Menurut saya, kemampuan pengarang membuat suasana 'dark' itu adalah suatu keistimewaan penulisan. Dan bab pertama ini memang telah membuat tone seluruh novel langsung terdefinisi di depan. Yak, gelap dan muram.

Selanjutnya kisah mengalir dengan perjanjian gaib Iori dengan tokoh 'Humunkulus' yang mendatanginya dalam mimpi, mungkin konsepnya mirip 'The Sandman', semacam devil yang menguasai Dunia Mimpi. Humunkulus, yang secara unik digambarkan sebagai bersosok perempuan cantik namun bersuara maskulin (Bencoong, dooong?), menjanjikan akan menghidupkan kembali ibu Iori (dipanggil Ummi) dengan barter satu jiwa lain yang dicintai Iori, satu jiwa tiap purnama.

Manteeeb, premis 'cakar monyet' yang guaranteed membuat setiap pembaca penasaran. Siapakah yang menjadi korban-korban berikutnya? Bagaimana tokoh utama melepaskan diri dari perjanjian gaib itu?

Sejak perjanjian itu, secara tiba-tiba saja Iori mendapatkan Ummi-nya hidup kembali. Kebahagiaan pun kembali mengisi kalbunya, jenis kebahagiaan yang setara dengan dependensi oedipus complex tokoh Trapani di Novel Laskar Pelangi (good psychology, BTW, dan sangat manusiawi, koq). Namun setiap purnama Iori harus menjadi semacam eksekutor ritual pengorbanan di dunia mimpi, yang secara nyata menewaskan orang-orang dekat Iori, mulai dari paman, kakek, dst. Sampai akhirnya cewek pujaan hati pun harus ikut menanggung akibatnya (ouch! tragis banget). Selain itu Iori juga mendadak jadi punya kekuatan ekstra dan temperamen yang lebih ganas, dengan ciri mata berkilat merah, serta kostum jubah hitam yang cool sebagai bonus.

Lewat Tiga Purnama, Iori mulai gerah dengan korban-korbanan ini. Tentu saja plot kemudian berlanjut pada bagaimana upaya Iori (dan orang-orang dekatnya) untuk melepaskan diri dari cengkeraman Humunkulus, dimainkan oleh si Kim, sahabat Iori, di bawah bimbingan Uztad Judin (gotcha! Tuh, kan, ada uztadnya,.... hehehe,....)

Well, as we all can see, perjalanan plot lebih-kurang standar, lah, buat cerita-cerita semacam "perjanjian gelap" gini. Dan penyelesaian di bawah pimpinan uztad yang punya ngelmu kudu untuk melawan kesaktian Humunkulus juga terasa amat klise. Nyaris tidak ada yang baru dengan alur-alur cerita sejenis dalam Sinetron Hidayahiyah ato Kiamat Udah Ampir Mampir.

Serasa gak cukup klise, novel pun masih ditutup dengan 'petuah' mengenai hubungan pria-wanita yang digambarkan melalui adegan pernikahan tokoh Kim dan Yuni, oleh siapa lagi kalo bukan Uztad Judin (Petuah yang kelihatan seperti pesan sponsor partai karena sangat jauh berselisih tema dengan tema utama novel). Eh, Iorinya nggak tahu nasibnya kemana lagi. Mati, kayaknya, tapi gak jelas juga.

Kalo sekedar baca komentar sampai sini, saya yakin yang ada di bayangan temen-temen pasti plek-ketiplek adegan sinetron misteri Illahi. Tapi kalo sudah baca sendiri, niscaya ada satu hal yang akan amat membedakan novel Iori dengan kisah-kisah klise Islamiyah konvensional. Baik berdasarkan referensi Sinetron, atau berdasarkan referensi Novel sejenis (yg terakhir ini harus kuakui, relatif).

Apa yang membedakan Iori? Catat: Pengolahan alam mimpi-nya, top banget. Sebagian besar adegan di novel ini berlangsung dalam alam psikologis si Iori, dan alam itu terwujud (dengan penggambaran yang amat realistis) dalam kehidupan mimpi Iori saat berinteraksi dengan Humunkulus.

Dalam review Dream of Utopia, saya mengatakan alam mimpi DoU karya Sammy sebagai sebuah ilustrasi fantasy yang indah. Untuk Iori, keindahan justru ada dalam penggambaran alam mimpi yang dark dan nyaris psikosis (sakit jiwa). Alam mimpi dalam karya Lian adalah alam mimpi yang sangat cair, imaji dapat berubah wujud mengikuti keadaan mental tokoh bersangkutan (which is, memang demikian lah alam mimpi seharusnya), dan akibat adanya intervensi tokoh Humunkulus, alam mimpi Iori juga menjadi berwujud gelap dan meneror secara visual. Imaji-imaji potongan tubuh (mutilasi), ruangan yang terlantar, langit merah, kesunyian yang menggigit, membuat pembaca seperti dibawa ke alam yang sangat asing, sekaligus sangat nyata menggambarkan kondisi psikologis sang tokoh. Dan di beberapa situasi, alam mimpi Iori bahkan bisa menyelusup ke mimpi orang lain, sampai bisa untuk kirim 'salam tampar' segala.

Karena penggambaran alam mimpi yang keren ini lah, saya cukup confident untuk memasukkan Iori dalam kelompok genre Fantasy. Mungkin Fantasy-Supernatural-Islami, kali yeee,... Mungkin aja secara garis besar pengarang ingin membuat novel Supernatural-Islami aja. Tapi unsur fantasy memang nggak bisa diabaikan, mengingat banyak adegan penting novel ini memang berlangsung dalam setting dunia alternatif yaitu dunia mimpinya si Iori.

Even adegan klimaks, saat Kim dan Uztad Judin berusaha membebaskan Iori dari Humunkulus, juga berlangsung dengan cara Kim dan si Uztad me-raga sukma masuk ke dalam mimpi Iori.

Nah bicara adegan klimaks, ini juga rasanya yang agak mengecewakan. Perjuangan Kim, Uztad, dan Iori mengalahkan Humunkulus rasanya terlalu 'cemen'. Jagoan-jagoan itu keok menghadapi kesaktian si bencong, lalu dengan tanpa alasan tiba-tiba saja bisa terjadi 'transfer energi' antara ketiganya, sehingga Kim menjadi SuperKim yang perkasa menghantam lawan! Ahh,.. gitu banget. Sebagai sebuah novel yg sarat dengan nuansa Islami, mengapa penyelesaian masalah tidak dengan cara yang 'Islami'?

Udah gitu, ada adegan finale yang ngga gue mengerti. Mengapa --setelah Humunkulus berhasil dikalahkan pun-- si Iori kemudian mengambil langkah yang sangat kontra Islami, yaitu 'bunuh diri' menggunakan pisau pengorbanan? Untuk keperluan apa? Biar ketemu ibunya di alam baka? (Part ini sebetulnya kurang jelas diceritakan, tapi saya coba ambil kesimpulan itu aja).

Terus-terang, bagi pandangan Islam, itu salah banget. Nggak tahu deh kenapa Pengarang mengambil rute tersebut.

Sebenernya sih, kalo gue jadi yang mengarang (heheh, mulai deh ngusilin karya orang). Saat Humunkulus akan mengambil the next one yang kamu cintai, perlawanan Iori yang paling Islami seharusnya adalah,... "Yang kucintai hanyalah Allah!". Nah, habis perkara, silakan Humunkulus berurusan sama Yang Bersangkutan! Hehehe,... (Tapi itu kata gue, lho. Yang kalo dibikin novel, pasti gak lebih dari dua halaman udah kelar,.. hahaha. Di mana asyiknya, ya?)

Lepas dari masalah Islami atau kurang Islami, tentunya hal-hal seperti itu adalah hak prerogatif pengarang. Setiap pengarang tentu punya alasan sendiri atas pilihan-pilihan alurnya ataupun penyelesaian konflik dalam karyanya.

OK, masukan terakhir untuk novel Iori, adalah novel ini kelihatannya akan lebih bagus apabila pengarang (atau editor?) tidak semena-mena memotong adegan. Saya mendapat kesan bahwa dalam proses penulisan, sesungguhnya pengarang telah menulis lebih banyak dari draft final, dan telah terjadi pemotongan-pemotongan terhadap draft.

Lha, bukannya demikianlah proses normal dalam editing? Ya, proses normal, kecuali bila menghasilkan editan yang aneh, saya sebutnya 'jumping plots'. Ada beberapa tempat yang ketara bahwa ada sesuatu yg hilang dalam teks. Hal itu menjadi cukup parah ketika sesuatu yang hilang itu punya relevansi terhadap plot. Akibatnya pembaca jadi mengerenyit sebab terasa ada sesuatu yang hilang, atau lompatan adegan yang terasa tidak koheren.

Di luar kekurangannya yang menyebabkan saya ilfil dengan novel ini, karya ini saya puji dalam beberapa aspek: pertama dari keterampilannya mengantarkan suasana 'noir' yang keren banget, ekspresif banget; kedua karakter antagonis Humunkulus yang unik dan cukup mengesankan baik dari penampilan maupun karakterisasinya (Bad Guy Award 2008!), ketiga kedalaman psikologis para tokoh, terutama tokoh protagonis yang 'cacat mental' berhasil dihadirkan kecacatannya secara realistik, sehingga kita bisa paham banget kenapa Iori ngga bisa terima kehilangan ibu tapi bisa terima kehilangan kekasih.

Usul? Masih perlu dikasih usul? Ya kalo boleh usul, gimana kalo tokoh Uztad kita ganti aja dengan karakter lain yang lebih unik, misalnya mantan uztad yang sempat murtad (terus beriman kembali karena terlibat urusan ini), atau aki-aki gak penting yang ternyata menyimpan misteri sebagai musuh bebuyutan Humunkulus, atau apa lah, asal bukan uztad jagoan. Yang kayak gitu kayaknya udah terlalu generik, kurang cespleng!

Teruntuk Kang Lian, selamat atas Novelnya, kang!

Salam,


FA Purawan