Minggu, 21 Maret 2010

ARQUELLA: The Beginning of the Destiny (Maaya Hiroshi - 2009)

By Luz B.

 
Penyunting: Topik Mulyana
Penerbit: Sygma Publishing
Pengarah Artistik: Fery Puwi
Pewajah Sampul: Kebun Angan
Pewajah Isi dan Penata Letak: Ade Truna, Tio
Tebal: 462 halaman
 

Mengambil break dari sela-sela mengerjakan novelku sendiri, perkenankan aku menggelar satu repiu hasil penugasan dari Boz Pur. Sekalian juga, sebagai filler sebelum si Boz kembali dengan salah satu masterpiece soto(y)nya. Sudara-sudari segala agama dan agami, Allow me to present to you... Arquella, The Beginning of the Destiny karya Maaya Hiroshi.
   
Aku ngelihat buku ini benernya udah lama, tapi ga kunjung tergerak untuk mengambil. Alasannya? Empat hal. Pertama, cover yang no very. Idenya menarik sih; ada unsur api dan air, dan peperangan, dan gambar seorang cowok berbaju besi dan berpedang. Sampai disini, aku memujinya karena gagasan ini udah sangat memadai untuk menggambarkan isi cerita. Tapi sapa seh yang punya ide naruh gambar cewek pake gaun putih di depen cover?
 

Selasa, 02 Maret 2010

Another World Elmore (Aulia M. Firmundia - 2009)

By Luz B.

Penerbit: Bestari Buana Murni
Editor: A. G. Adil
Desain Kover: Melati Harum Pandan Wangi
Layout: Irnawati
Tebal: 320 halaman

Setelah cukup lama nggak bikin repiu, karena disibukkan juga oleh proyek novel dan blogku sendiri, aku akhirnya dapat waktu untuk menyelesaikan sebuah buku fiksi fantasi baru berjudul Another World Elmore karya Aulia M. Firmundia, atau biasa dipanggil Uliel. Sedikit background-info, pengarang rupanya masih remaja, dan masuk 15 besar penulis berbakat Bookfrenz Writing School. yang didirikan oleh Elie Mulyadi. Bookfrenz ini sendiri rupanya adalah sebuah sekolah menulis untuk remaja, yang mengadakan kompetisi untuk menyeleksi karya-karya penulis remaja yang layak terbit.

Rabu, 03 Februari 2010

AKKADIA: Gerbang Sungai Tigris (R.D. Villam - 2009)

a Duet Review,
By F.A. Purawan - Luz B


Penerbit: Adhika-Pustaka
Editor: Arie Prabowo dan Bonmedo Tambunan
Design sampul : Imaginary Friends Studios (Hendryzero Prasetyo dan Eko Puteh)
Pewajahan Sampul dan isi : Lewi Djayaputra
Tebal: 391 halaman


(It's a new thingy di Fikfanindo as well. Sebuah review Duet. Sebagai penghargaan buat RD Villam, salah seorang tokoh senior dalam komunitas penulis Fantasi Indonesia --yang baru saja menelurkan Novel Perdana-nya-- maka Fikfanindo membuat suatu commemorative gesture: Bikin Review secara Duet. Kami akan mencoba merangkum isi kepala dua orang, dalam satu tulisan review yang semoga saja bermanfaat. For Your Info, tulisan ini tidak dikerjakan bersama-sama secara fisik, melainkan kolaborasi secara virtual. Reviewer juga tak berusaha ngompak-ngompakin pendapat sebelumnya. Please enjoy!)


Pada suatu hari, di 'Lapangan Bola Fikfanindo', datang 2 orang memakai busana jas & dandanan necis rapi ala pejabat penting. Yang satu seorang "om-om sexy berbodi Bondan Winarno yang menggemari segala jenis soto(y)". Sementara satunya lagi adalah "Makhluk Tuhan yang Paling Sinis, seorang cewek yang dari julukannya saja bisa disimpulkan bahwa ye-be-es memiliki kecantikan yang nyaing-nyaingin Mulan Jameela".

"Owh, Pliz deh," kata si Om. "Deskripsi barusan itu no very banget,"

"No very gimana, Om?"

Si Om membenahi kacamatanya hitam Oakley-nya dengan gaya cool. "Kalau you aja boleh Mulan Jameela kenapa juga I ga boleh Johnny Depp?"

Namun, sadar mereka berdua punya tugas yang lebih mulia daripada ngeributin deskripsi, mereka segera naik ke tribun komentator, penuh dengan napsu iblis untuk menguthek-uthek, mengkuyak-kuyak, menelisik-telisik, dibungkus dengan eufimisme "Pembelajaran Bersama" buat sesama aspiran penulis fantasi.

Yeah, whatever. Let the judging begins! (Salam buat Villam!)

Hari ini, Novel terbaru dari (mantan-calon) Penulis Tersohor (karena sekarang sudah jadi Penulis definitif--Selamat!) RD. Villam akan berlaga di lapangan Fikfanindo, di bawah tatapan mata ribuan pengunjung --baik dari kubu penggemar maupun kubu pencela-- dan terutama, di bawah tatapan mata elang Om-Sotoy dan Miss-Cynis.

Review dimulai. Para komentator langsung nyambar mike, yang ternyata cuma satu biji. Jauh di bawah, stadium tampak membludak oleh penonton yang bersorak-sorai tak sabar menanti pertandingan hari ini yang mengusung judul (Pertempuran) Akkadia: (Memperebutkan) Gerbang Sungai Tigris.

Kamis, 14 Januari 2010

ILUMINASI (Lisa Febriyati - 2009)


By FA Purawan

Penerbit: Kakilangit Kencana
Editor: Syaffrudin Azhar
Desain Sampul: Circlestuff Desugn
Tata letak: Jeffry
Ilustrator: Damuhbening
Tebal: 433 halaman


Tahun 60-an, suatu 'revolusi' dalam kebudayaan telah terjadi, merubah pandangan umat manusia terhadap konsep 'agama' maupun 'keberagamaan'. Lahirnya 'flower generations' saat itu bukan saja merupakan perlawanan politis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah (Amerika, terutama) yang terlalu aktif berperang di sana-sini, namun juga merupakan pendobrakan 'spiritual' terhadap lembaga-lembaga agamawi yang dianggap terlampau dogmatis. Pemberontakan itu antara lain terwujud dalam perilaku ekstrim semacam freesex dan drugs, yang dianggap mampu merepresentasikan simbol-simbol perlawanan terhadap nilai-nilai kemapanan (atau puritan, yang pada saat itu banyak bersumber dari kalangan agama), dan sebagai bentuk kekecewaan bahwa ritual agama yang ada tidak memberikan jawaban atas pencarian spiritual kaum muda pada saat itu.

Setelah bergenerasi berselang, di tahun 2000-an, mulai muncul pembelajaran bahwa freesex dan drugs gak membawa kita kemana-mana, kecuali dapet AIDS dan sakaw, hehehe. Tapi pencarian spiritualnya terus berlanjut, walau tak lagi dicari melalui penggunaan drugs. Dan pemahaman spiritual mulai bergerak dari ranah badaniyah ke ranah internal yaitu pemikiran dan pendalaman terhadap diri. Dalam kebudayaan modern sekarang ini, frasa mengenal 'diri sejati' atau 'mengaktualisasikan diri' menjadi kalimat yang populer, whatever it means.


Walau teteup, sih, proponent freesex gak juga ketinggalan jaman dengan menjual paham baru, dari yang "free to choose your sexual partner", menjadi "free to choose your sexual orientation". Dan ndilalah itu tetap selaras dengan konsep 'aktualisasi diri' berbasis definisinya masing-masing, heheheh. Namanya juga jualan ideologi, bisaaa ajah!

Wait, aku gak lagi ngomongin queerlit, lho, dengan opening ini. Mari kita kembali pada pemahaman spiritual di tahun 2000-an dengan konsep internal 'aktualisasi diri' tadi. Ini pandangan inti dalam spiritualis new age, dimana mereka percaya bahwa puncak spiritualitas manusia ada di dalam dirinya sendiri, dan melalui sebuah proses pencerahan, maka bungkus itu akan tersingkap dan manusia akan memasuki suatu pengertian baru yang menempatkan kita dalam 'maqom' yang lebih tinggi, sampai akhirnya kita semakin mendekati "Sang Pusat" dari segalanya.

Pandangan yang menurut sejarahnya bersumber dari spiritualisme timur macam India yang kemudian menyebar dalam bentuk Buddhisme, Taoisme, Zen, apa lagilah. Metode-metode semacam ini kemudian memasuki alam budaya Barat melalui kaum flower generations yang menekuni tradisi Yoga, meditasi, bahkan Martial Arts. Pada ujungnya, saat mulai diterima oleh masyarakat Barat yang kreatif, mulailah muncul pada produk budaya tertinggi mereka, yaitu Science, Literatur dan Film.

Dewasa ini kita mulai menerima banjir produk budaya bertemakan spiritualisme new age, terutama melalui Film, sebab kita bangsa yang kurang suka membaca dan lebih suka jadi penonton. Tengok film-film seperti Flatliners, Trilogi Matrix, Heroes dan sebagainya.

Particularily, serial Heroes, yang tampaknya secara khusus menjadi inspirasi dari salah seorang pengarang lokal yaitu Lisa Febriyanti, yang menuliskan novel ILUMINASI. To sum up, Iluminasi adalah our take on New Age Spiritual concepts yang mengambil setting mirip dengan serial Heroes. Dan sebagai karya yang berusaha mengangkat isu spiritual dalam bahasa kekinian, rasanya Iluminasi cukup bisa berbicara.

Iluminasi menceritakan keberadaan manusia-manusia "istimewa", the X-Men, manusia super, yang memiliki kemampuan extra-ordinary seperti kemampuan mind-control, levitasi, terbang, bergerak cepat, memancarkan listrik, memanjangkan anggota tubuh (cewek, BTW, so gak usah mikir terlalu jauh:)), meciptakan api, punya sayap di punggung, kemampuan regenerasi sel, dan lain-lain. Setting di Indonesia, dan dalam cerita ini, manusia super itu bergabung dalam dua kelompok: The White Lights (WL) dan The Pure Black (PB). Dan seperti kelompok elit di manapun, keduanya bersikap bermusuhan, dan konon permusuhan itu sudah terjadi sejak beribu tahun lamanya.

Manusia-manusia istimewa ini bisa menjadi istimewa berkat keberhasilan mereka mengejawantahkan potensi istimewa yang sudah terkandung dalam kode genetik mereka, melalui sebuah usaha pencerahan, atau, yup: Iluminasi.

Tokoh cerita, Ardhananeswari atau dipanggil Ar, adalah salah seorang manusia istimewa yang belum terbangkitkan. Dan mengikuti pakem 'the chosen one', si Ar ini menjadi minat dan rebutan bagi dua seteru WL dan PB, karena konon dia menguasai suatu kekuatan yang unik yang sudah dinanti-nantikan oleh para manusia istimewa sejak ribuan tahun. Plot buku ini kemudian mengalir menceritakan proses kebangkitan Ar berikut pendalaman kisah latar belakang para tokoh, saling keterhubungannya dan akhirnya berklimaks di manifestasi kekuatan Ar yang menjadi pusat konflik WL & PB.

Sebuah cerita yang menarik, dan plot yang cukup rapih. Maksud saya, pengarang gak semata-mata niru konsep serial Heroes dan cuma ngambil kulitnya aja seperti banyak dilakukan oleh 'fantasy' writers. Dunia Iluminasi adalah dunia yang punya alasan cukup solid. Para karakter memiliki kekuatan ajaib yang fungsional terhadap karakternya sekaligus terhadap cerita. Dan para karakter ini pun masih sangat terlihat sisi-sisi kemanusiaannya sekalipun mereka bukan 'ordinary' human. Memang ada kemiripan dengan karakterisasi serial Heroes, terutama dalam jenis-jenis kekuatan ajaib yang dimiliki, dan dalam asal muasal kekuatan tersebut, yaitu dari DNA. Tapi karakter-karakter di Iluminasi bergerak, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Dan itu membuat novel ini tak tampak sebagai copy-cat dari konsep Heroes.

Kemudian pengarang juga meramu ceritanya dengan konsep-konsep new age spirituals, yang walau mungkin terdengar 'baru' dalam khasanah literatur fiksi lokal, tak lagi asing bagi pembaca di Barat. Dalam hal ini karya Fiksi-Spiritual serial Celestine Prophecy karya James Redfield. Ada konsep-konsep yang merupakan adopsi dari Celestine Propjecy, seperti Sinkronitas ('kebetulan' yang mengandung makna), Dimensi-Dimensi yang eksis di 'atas' Dimensi kita, dan lain-lain.

Singkatnya paduan setting yang solid dan plot memikat, membuat buku ini memiliki dasar kualitas yang cukup bagus. Untuk penggemar ide-ide filosofi-spiritualis New Age, buku ini akan cukup diapresiasi berkat kandungan filosofisnya yang cukup tergarap. Masukan adegan-adegan action extra-ordinary yang cukup menghibur dan cukup 'masa-kini', menjadi bumbu yang menarik dan cukup mendatangkan suspense menghibur bagi pembaca.

Lantas apakah menjadi buku yang bagus menurutku? Well, satu aja yang kupikir menjadi aspek minus (walau bisa saja hal ini gak berlaku terhadap pembaca lain), yaitu 'styling', yang meliputi penggunaan (atau revitalisasi, tepatnya) kosa-kata non-umum dalam bahasa Indonesia. Pengarang tampaknya berambisi mengorek-ngorek sudut kamus bahasa Indonesia yang jarang dijamah orang, mencoba menemukan kata-kata baru di balik timbunan debu, dan mencoba memasangkannya di novel untuk membuat bahasa novelnya lebih 'bergaya' (dan nyatanya, pun, ada yang terbeli dengan style ini, sebagaimana endorsemen berikut: ...didukung kekayaan terminologi, perlambang, dan tuturan bahasa yang cantik... -Darminto M. Sudarmo, di cover belakang.)

Apakah aku terbeli? Well, sini aku list-kan dulu sebagian kata-kata 'new age' yang berhasil digali oleh pengarang:

- (air teh) yang hangatnya mulai lindang
- berkelindan
- lindap
- segali jenggut
- ripuh
- repih
- repah
- selingkung energi rindu
- hatinya berpesai-pesai
- asa nya perlina
- rancak yang berganduh pada samsara
- nanap memandang

dan lain-lain yang nggak lagi aku bisa temukan saat ini, hehehe.

Dengan pilihan kosa-kata semacam ini, tentunya teman-teman sudah bisa menduga gaya bahasa seperti apa yang digunakan di novel tersebut. Yak, mengarah ke puitis. Bahkan sampai ke dialog pun, 'puitisasi' itu masih terasa juga, sehingga menurutku beberapa part dialog itu rasanya tak wajar diucapkan di setting sehari-hari, kecuali dalam sinetron yang menggunakan efek kamera soft-focus, dengan suara mendesah, gitu deh. Dan catat, Novel ini masih jauh lebih enak dibaca dibandingkan novel L@n@ng yang --kira-kira-- menerapkan kiat yang sama.

Sorry, kalo pengandaian saya jelek dan gak tepat. Soalnya ga biasa nonton sinetron. Ho-oh, sumpe loh.

Sehingga, semuanya menjadi masalah selera. Tapi untukku, yang jelas jadi masalah koneksi, sebab gaya bahasa itu membuatnya jadi berjarak dengan pikiranku, dunia novelnya jadi kurang bisa kumasuki.

Kemudian aspek styling lainnya yang kurasakan cukup aneh, adalah kenapa pengarang harus menggunakan inisial untuk nama kota yang sebenernya sudah sangat obvious sehingga pembaca udah pasti ngerti kota mana yang dimaksud. Pulau B, Kota J, Kota B,... gue inget ini gaya novel aliran jaman baheula, taun 70-an, kali ya? Atau biasanya di artikel-artikel Oh-Mama-Oh-Papa atau Cerita-Cerita-seru.com (ups...) Entah apa maksud dan tujuan pengarang, sebab gak usah disingkat, tulis aja Pulau Bali, Kota Jakarta, Kota Bandung, pembaca nggak akan protes, koq.

Sementara untuk naming, pengarang malah mencampur Istilah Inggris seperti White-light (tapi pemimpinnya disebut: Kamitua. Ga cucok deh!), Pure Black, Ordinary, dll. Buatku, istilah Inggris di dalam novel ini gak terlalu 'masuk' ke dalam keseluruhan setting, terkesan tempelan untuk membuatnya ber-kekinian aja. Tapi gak parah juga, sih. Nama karakter dibuat singkat --umumnya satu kata, misalnya Shaman, Zero, Pijar, Agni, Speedy-- dengan alasan yang cukup pas, bahwa nama-nama itu merupakan pengganti nama asli mereka, dimana nama baru mengandung pengertian sesuai dengan kekuatan istimewa mereka (yah, gak semua mengikuti aturan itu, sih. Tapi itu adat yang berlaku di kalangan manusia istimewa).

So, nothing too bad, also nothing too special juga. Mengalir dan cukup pas, lah.

Catatan terakhir, adalah mengenai sampul.

Sampul yang di desain Circlestuff Design menampakkan sebuah pohon meranggas dalam kegelapan yang dijatuhi berkas cahaya dari sebuah lubang di langit ("Anjrit! Pakulangit!" gue hampir memaki, hehehe). Seberkas idea mengenai kata 'Iluminasi'. Tadinya aku bersikap netral aja terhadap desain sampul ini. Tapi sewaktu aku membuka sampul dalam dan melihat ilustrasi 'Lompatan 1' (Istilah lompatan digunakan sebagia pengganti istilah BAB, which is interesting), sebuah pendulum yang digambar oleh Damuhbening, aku hampir terlompat beneran. Sh*t! Harusnya lambang ini-nih yang dijadikan cover! Keren banget!

Well, I guess, itu hak prerogatifnya penerbit, aku ga boleh ikut campur. Tapi bagi yang paham kekuatan simbol dalam memasuki alam bawah sadar manusia (baca: konsumen), keberadaan lambang itu mestinya jangan dianggap remeh.

OKEH, jadi kesimpulannya, novel Ilumnasi ini sesungguhnya merupakan perwujudan idea yang keren dan sangat relevan untuk masa kini. Opini saya, kalau saja kemasannya bisa dibuat lebih masa kini --termasuk menyederhanakan dan mengkinikan gaya bahasa puitis dan et cetera itu-- maka novel ini bisa punya posisi yang lebih menohok pasar. Mbak Lisa, selamat atas karyanya. Moga-moga sekuelnya lebih seru!

Salam,


FA Purawan

Senin, 11 Januari 2010

Eurgava: Epos Awal Dunia Sudarot (I Tsu Baskara - 2009)

By Luz B


Pengarang: I Tsu Baskara
Editor: Faiz Ahsoul
Penerbit: Lintang Books
Design sampul : E. Bendung W.
Ilustrasi Isi : I Tsu Baskara
Tebal: 306 halaman


Sejak menyelesaikan review terakhirku sebelum yang ini, aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk perawatan intensif di Rumah Sakit Spesialis Korban Fikfan. Akhirnya aku dinyatakan cukup sehat untuk kembali membuat ulasan. Walau tentu saja bapak dan ibu dokter yang budiman/budiwoman di sana berpesan untuk tidak bikin ripiu yang berat-berat dulu. Karena itulah aku memilih sebuah buku yang kelihatannya bukan jenis fikfan uber-njelimet. Judulnya? Eurgava: Epos Awal Dunia MakEro... eh, Sudarot.

Belum apa-apa aku sudah ketularan sifat salah satu karakter di novel ini, yang punya hobi asal nyebut nama. Duh. Tapi soal itu disimpan dulu deh untuk nanti.



Seperti biasa, mari kita mulai dari cover. Gambar dua orang tokoh utama cerita, satu bawa pedang, satu bawa panah. Pewarnaan keren, layout menarik. Usut punya usut, yan g ngerjain ternyata E. Bendung W., sama dengan yang ngerjain ilustrasi untuk Pinissi: Hikayat Orang-Orang Setinggi Lutut oleh Mama Piyo. Buat Bang Bendung, keren! Merah, kuning, putih bercampur jadi kesatuan yang nonjok tapi ga bikin sakit mata. Jujur aku ngambil buku ini salah satunya karena tertarik sama cover.

Balik ke cover belakang, wele, ga ada sinopsis. Ga terlalu ngaruh buat aku sih karena cover depannya sudah win banget. Tapi apa ini? *gasp!* Endorsemen!

Gyaaaaa~! Tidaaaak~!

Aku punya alasan kurang suka sama makhluk satu ini. Endorsemen penting buat marketing, tapi kalau wujudnya berupa janji-janji surga yang kayaknya too good to be true, pastilah aku kepancing ngenye'. Mari kita lihat kutipan sebagiannya di bawah ini...


"...Dunia Sudarot sangat imajinatif dan detail... [penulis] memberikan cerita fantasi yang hidup."

"...petualangan keren untuk remaja!"

"...Ramuan imajinasinya, menjadikan kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Bahasanya mengalir, karakteristik tokoh dan setting begitu kuat, mencitrakan penulis yang begitu lekat akan pemahaman emosi, sosial, analitik, imajinatif yang dilandasi intelektual (ISEAK).


Heh.

Endorsemen pertama dan kedua, lumayan. Wajar dan nggak terlalu bawa-bawa angin surga, walau kedengerannya biasa banget. Udah berapa novel sih yang majang kata "penulis remaja," "detail," dan "imajinasi" buat ngedongkrak nilai jual fikfan?

Endorsemen yang ketiga, waduh. No very deh. Ngerti, kita perlu jualan. Namun, jika kita memang ingin membantu penulis-penulis muda, caranya bukan dengan membebani buku mereka dengan endorsemen yang dibumbui istilah canggih tapi sama sekali ngga membantu mempromosikan isinya. Maksudku, memangnya remaja bakalan beli buku ini karena buku ini mengandung ISEAK? Boro-boro. Peduli ISEAK itu apaan aja belum tentu.

Sekali lagi, para endorser, pleeeeeease kalau kasih endorsemen ke buku bikinlah yang bunyinya tulus dan nggak muluk. (Did you even read the book, BTW?) Biarkanlah urusan kecap-mengecap tetap menjadi kerjaan para politikus.

Baik, mari kita mulai dari halaman pertama. Kata pengantar... dan pengenalan ras serta kota. Hm? Apaan nih? Kebanyakan novel fantasi yang aku tahu glosariumnya di belakang. Tapi ini kenapa di depan ya? Aku jadi kepikiran bahwa salah satu masalah terbesar dalam membuat dunia fiksi fantasi adalah menciptakan dunia yang bisa menarik pembacanya ke dalam buku. Dan deskripsi, tentunya, merupakan salah satu unsur yang potensial dimainkan untuk membuat dunia fiksi fantasi terasa 'hidup'.

Namun, sudara-sudari, untuk bermain deskripsi kita memerlukan kiat dan siasat. salah satu masalah yang sering kualami, deskripsi seringkali memutus aliran cerita. Jadi aku berusaha mencari teknik yang tepat untuk mengintegrasi deskripsi biar cerita gag terasa kayak film yang tiba-tiba di-pause agar penulis bisa menggambarkan apa aja yang ada di layar.

Dan rupa-rupanya pengarang Eurgava punya trik lain untuk mengakali masalah ini: kasih deskripsi dunianya di depan dulu, biar pembaca punya bayangan akan dunianya sebelum mereka terjun ke setting. Jadi nanti di dalam tinggal ngasih cerita, nggak usah musingin deskripsi lagi.

Boleh juga, tapi barangkali nggak akan berhasil untuk semua orang. Problemnya gini: Kalau aku baca cerita, aku peduli sama ceritanya pertama-tama. Nama-nama tempat, ras, dan deskripsi mereka cuma sekumpulan kata-kata dengan susunan huruf aneh sampai aku merasa masuk ke dalam dunia cerita. Mengapa aku harus peduli apa itu Kota G'ufaot, ras Rihd, dan lain-lain, bagaimana bentuknya, bagaimana rupa bangunan dan penduduknya, jika aku belum tahu apa perannya di dalam cerita?

Cerita fiksi, sudara-sudari, bukanlah naskah undang-undang dimana semua istilah harus ditaruh di pasal satu dan kalau anda skip dan kemudian nggak ngerti pasal berikutnya berarti salah anda selaku pembaca. Mengapa? Undang-undang bisa dipaksakan, sedangkan kenikmatan membaca tidak. Dan sementara separuh kenikmatan membaca bergantung pada selera dan cara berpikir si pembaca, kukira adil jika kukatakan bahwa separuhnya lagi bergantung pada teknik si penulis untuk membuat naskahnya bisa dinikmati.

Tapi di sisi lain, kita juga bisa memakai penjelasan di depan itu dengan cara lain. Lewatin aja dan langsung baca cerita. Begitu ketemu istilah aneh, balik lagi ke halaman depan untuk baca deskripsinya: "Oh, jadi yang namanya Kota Tura itu gini loh."

Ujung-ujungnya tetep, aku harus berhenti baca cerita demi balik halaman dan ngelihat deskripsi. Dan kalau udah gini apa bedanya dengan deskripsi mentah, selain bahwa teknik ini lebih bikin capek karena harus balik-balik halaman dulu?

Kesimpulan? Marilah kita semua berusaha untuk terus mengasah cara bercerita. Dan berkaitan dengan ini aku ingin menyinggung soal bahasa. Secara keseluruhan, buku ini lebih bisa dibaca daripada... uh, a certain Epic Fail, tapi kadang-kadang aku menemukan kalimat semacam...


Rupanya telah terjadi percekcokan di antara keduanya yang berakhir dengan leher Jouhdin dicekek...


atau,


Mulut Dohika sudah siap-siap mau nyrocos lagi...



Apakah kita tidak boleh memakai kata yang tidak baku? Boleh saja, tapi ajukan pertanyaan ini sebelumnya:

Pertama, apakah ketidakbakuan itu diperlukan untuk menyampaikan maksud tertentu yang tidak mungkin disampaikan dengan cara baku, atau murni khilaf binti kepeleset?

Kedua, Apakah kalimat/kata tidak baku itu merusak suasana/setting cerita, atau justru menarik pembaca ke dalam dunia cerita?

Contoh penggunaan istilah tidak baku ini barangkali bisa kita ambil dari penggunaan istilah tiarawan/tiarawati dalam buku Xar&Vichattan: Takhta Cahaya oleh Bonmedo Tambunan. Kedua istilah itu jelas nggak ada dalam bahasa Indonesia, tapi cocok dipakai karena tiarawan/ tiarawati di dalam cerita tersebut rupanya adalah suatu kelompok tersendiri yang berbeda dari biarawan/ biarawati.

Berikut, mari kita melihat ceritanya sendiri. Pada dasarnya buku ini adalah bagian pertama dari sebuah Tetralogi. Yang bisa diterjemahkan sebagai: "Cerita ini belom kelar, jadi kalau ada karakter yang kurang dikembangkan, plot yang putus, dan hal-hal yang belum dijelaskan, jangan dikritik dulu, Mbak/ Bang. Tunggu sekuelnya, yang (bisa) keluar nanti (dan bisa juga nggak)."

Entah tren atau gimana, fiksi fantasi Indonesia punya kecenderungan menyajikan cerita nggak selesai yang (katanya) akan diselesaikan di sekuelnya. Entah sudah berapa kali aku denger alasan kayak gini, dan sekuel yang dijanjikan itu pun nggak terbit-terbit karena berbagai alasan. Nggak sepenuhnya salah pengarang, memang, karena dunia penerbitan di Indonesia memang punya alergi menerbitkan buku tebal. Jadilah satu cerita utuh dicacah jadi berlogi-logi.

Untuk satu hal ini nggak adil kalau aku ngenye' lebih jauh, jadi marilah kira berdoa sesuai dengan agama dan agami masing-masing supaya tiga buku lain dari Tetralogi Eurgava tidak menjadi janji semata.

Lalu? Apa yang sudah tersaji pada seperempat bagian tetralogi ini? Aku menangkap dua story arc besar: pertama adalah petualangan Aburo Eurgava Sang Pengawal, bersama para ksatria dari kesatuan White Legions, untuk menangkap seorang pemberontak di Kota G'Ufaot. Dan, kedua, ketika si pemberontak sudah tertangkap, Aburo dan kawan-kawan dikirim ke Kota Tura untuk menyelidiki serangkaian penyerangan terhadap Kelompok Penyihir Sorkrus. Dua cerita besar ini (kelihatannya) nggak berkaitan kecuali oleh kehadiran satu tokoh dari story arc 1 yang bergabung di story arc 2, dan diakhiri dengan ending yang ketebak dari 4/5 bagian cerita.

Singkatnya: Lurus. Plot cuma menceritakan tokoh ini kesini, melakukan ini, berantem dengan si A, si B, si C memakai pedang dan panah dan sihir dengan mantra begini dan begini, sampai akhirnya terjadi ini. Buku-buku ini bener-bener menerapkan rumus standar yang biasa dipakai di media-media fiksi fantasi.

Nggak hanya secara garis besar. Kalau kita lihat satu-persatu, bahkan unsur-unsur cerita juga pake rumus standar ini. Tokoh utama, misalnya, adalah orang yang bermasa lalu agak misterius, chosen one yang punya tanda di badannya. Dan sihir, walaupun ada bermacam-macam, pada intinya cuma sesuatu yang dikeluarkan dengan mengucapkan mantra-mantra aneh. Padahal, untuk menghidupkan suatu novel fantasi, pengarang perlu lebih dari sekedar glosarium penuh kata-kata asing yang susah dieja.

Satu hal yang bikin bingung, Aburo Eurgava si tokoh utama ini digambarkan jauh lebih jago dan kuat dibanding yang lain di dalam tiap pertempuran. Demikiannya kuat sampai ada plot device di dalam cerita ini yang dipakai beberapa kali, dimana para Ksatria White Legions harus melakukan sesuatu, terus gagal, dan Aburo Eurgava tampil sebagai dewa penyelamat.

Lho, apa salahnya dia kuat kalau dia tokoh utama? Nggak salah, cuma bikin bingung karena sebagai kontrasnya para Ksatria White Legion, terutama Dohika, digambarkan terlibat selalu terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran anak kecil, konyol, sok tahu, dan suka salah sebut nama.

Loh, apa salahnya (lagi)? Nggak salah (lagi), tapi bikin aku bertanya-tanya bagaimana Dohika bisa masuk White Legions yang (katanya) elit itu, dan mengapa, kalau Aburo lebih kompeten, bukan dia yang direkrut ke dalam White Legions? Mengapa statusnya dia cuma Sang Pengawal, dalam arti, cuma jadi pengawal Dohika? (Dan elit banget Dohika, baru prajurit aja bisa punya pengawal. Gimana kalau udah Jenderal?)

Jangan bilang pliss kalau pertanyaan ini akan dijawab di sekuelnya...

Berikut, aku pengen bicara soal tokoh. Pengarang ini masih remaja, dan saat menciptakan tokoh, seorang pengarang meletakkan sesuatu di dalam dirinya kepada para tokoh itu. Jadi, jika tokoh-tokoh Eurgava masih mencerminkan keremajaan, baiklah, dipahami. Dohika dan Auvii, misalnya, digambarkan berkelahi karena hal-hal kecil semacam ledek-ledekan dan hutang. Tapi pengarang juga bisa membuat tokoh-tokoh yang lebih tua macam Jouhdin dan Bashkra bertingkah dan bicara sesuai usia mereka, walau memang ada 'rasa tinggalan' yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh tua ini diciptakan oleh anak muda.

Masih berhubungan dengan tokoh, tata nama dalam cerita ini menurutku masih kurang. Kesatuan rasa pada nama dan istilah yang menunjukkan ras atau kebangsaan belum terlihat. Dan kalaupun mau pakai nama/istilah yang nggak menunjukkan kebangsaan atau ras, nama-nama yang dipakai masih belum memiliki kesatuan yang menunjukkan bahwa nama itu adalah khas dunia Eurgava. Yang kumaksud kesatuan rasa ini bisa diamati pada marga Batak misalnya, ada Sitorus, Siahaan, Situmorang, Sisingamangaraja. Terasa kan kesatuan rasa yang mengidentifikasi semua itu sebagai nama Batak, yang tentunya bisa dibedakan dari nama Jawa, (Soeroso, Brojonegoro, Barghowo, S*silo B*mb*ng Yudh*y*n*, dst) atau nama Belanda (Marijke, Famke, Willem, Jan Pieterszoon Coen. ;P)

Bahkan barangkali nama-nama tokoh yang ada di dalam buku ini adalah nama teman-teman pengarang yang diutak-atik. Dohika, misalnya, adalah utak-atik dari Andhika. Dhika nya itu loh, kalau ditulis pakai katakana Jepang, kan jadi Dohika. Trus Saputrus... heh. Ada teman yang namanya Saputra, -a nya tinggal diganti -us. Kayak doktoranda dan doktorandus. Dan Bashkra... ini nama pengarang sendiri, ‘kan? Baskara. Heheh.

Kreatif? Ya. Membantuku mendapat 'rasa' dunianya? Belum.

Satu hal yang barangkali ingin kupuji dari buku ini adalah ilustrasinya. Bukan karena sangat "wah," tapi karena ilustrasi ini cukup baik kalau ingat yang bikin ini masih remaja SMU. Caranya mengambil sudut gambar, mengambil momen-momen yang pas untuk diilustrasikan, dan pembagian panel untuk ilustrasi ala manga, semua menunjukkan kalau penulis ini punya potensi lumayan buat jadi komikus. Favoritku adalah ilustrasi komik 3 kotak di halaman 203 yang kayaknya terinspirasi dari yonkoma (walau rada ga nyambung ke cerita.)

Jadi? Is this book a win or a fail? Aku nggak akan bilang jelek, terutama setelah kejadian dengan a certain Epic Fail yang traumatik itu. Ada beberapa poin baik dari karya ini, dan ada juga yang masih terperangkap pada pola-pola standar yang diikuti penulis fikfan pemula yang keranjingan main game: chosen-one-ketemu-sidekick-bikin-party-lawan-musuh. Menjadi gamer/pecinta anime-manga memang bisa menjadi aset untuk membuat fiksi fantasi, tapi hendaknya kita ingat bahwa menulis novel adalah seni yang berbeda dari menonton anime atau main game, dan setiap seni punya 'bahasa' sendiri-sendiri.


Luz Balthasaar

Kamis, 24 Desember 2009

TANRIL 2: The Siege of Krog Naum (Nafta S. Meika - 2009)

By FA Purawan

Penerbit: AKOER
Editor: Aries Rayaguna Prima
Tata letak isi: Ibenk Bonanno
Fotografi: Andry Photography
Tebal: 236 halaman

Sebenernya, apa sih alasan untuk eksistensi sebuah SEKUEL?

Mungkin saja kita tak pernah memikirkannya terlampau dalam, mungkin sudah jadi sekedar sebuah kebiasaan. Kalau di era keemasan Kho Ping Hoo, dulu, sebuah sekuel dibikin karena pembaca terbiasa dengan span cerita yang panjang-panjang, mulai dari Sang Master Pulau Es yang punya murid dari piyik sampai jadi Master lagi, terus punya murid piyik lagi sampai jadi Master lagi, Murid piyik-Master-piyik-Master demikian bergenerasi. Dan hebatnya, sidang pembaca/ penggemar pun sampai bisa merunutkan silisah para pendekar itu sampai ke garis-garis suheng, sute, suci, sumoi, supek dan kawan-kawan termasuk sampai silsilah musuh-musuhnya!


Dunia penerbitan punya motivasi yang lebih pragmatis soal sekuel. Sekuel dibikin karena sebuah franchise akan selalu memberi napas panjang buat bisnis, dan lebih sedikit kapital dibutuhkan untuk mengedukasi pasar. Sehingga akhirnya sekuel acap dibikin dengan dasar pemikiran bahwa: ya memang harus dibikin sekuel, aja. Mumpung lagi on demand.

Atau mungkin alasan lebih hakiki, bahwa ceritanya memang simply belum selesai, karena pengarang belum sampai pada keutuhan pemaparan missi karangannya.

Atau sebaliknya justru alasan bombastis, "Woi, aku ngarang EPIK, dan bukan epik namanya kalle, kalo cuma selesai satu edisi". (Ngaku sendiri, diriku pun diam-diam punya menyimpan waham semacam ini dalam pikiranku).

Apapun itu.

Tapi pernahkah kita, berhenti sejenak dari megalomania-sekuelaria, dan bertanya pada pembaca: apa sih yang menyebabkan anda mau menunggu sebuah sekuel (selain dari alasan 'cerita yang belum finish')?

Dan kuimajinerkan, jawaban paling sederhana tapi mendasar justru seperti ini, "Aku hanya ingin kembali pada 'momen' itu lagi".

Yup. Momen. Maksudnya tentu momen bacaan, sesuatu dalam karanganmu yang telah menekuk ruang dan waktu real menjadi ruang dan waktu personal-kekal di dalam taman pikiran pembaca, tempat ia berendam dalam gelora kenikmatan yang kau hadirkan melalui larik-larik tulisan dalam karya mu.

They just want to re-live the moment.

Aku mengambil buku Harry Potter edisi berikutnya, sebetulnya bukan karena aku betul-betul care sama si-yang-bertahan-hidup itu dengan segala masalah heroismenya, gak sepenuhnya. Aku ngambil buku tebal itu, menepuk-nepuk bantal mencari posisi paling nyaman hanya karena aku ingin 'tersihir' oleh pena pengarang dan memasuki Dunia Hoghwarts with all it's splendor dan kehidupan sekolah sihir itu secara 'nyata' dalam imajinasiku sekali lagi.

Saya menganggap ini 'rule of thumb' pertama dalam penciptaan sekuel. Sesuatu yang harus ditemukenali oleh pengarang dan dipegangnya semasa ia mengkreasikan sekuelnya. Sebabnya wajar saja. Pengarang cenderung melupakan ini di saat benaknya dipenuhi kerangka-seting-plot-sambungan-whatever-grandeur yang ada di kepalanya. Bagi pengarang, jajaran jilid 1,2,3, dst adalah jalan menuju cita-cita tertingginya (garis finish kisah, the ever mega climax, mission deliverance dan gazillions of other prima causa kenapa dia menulis novel itu). Terlalu mudah kita melupakan kebutuhan pembaca saat kita memikirkan hal-hal besar itu.

Lantas apa itu, momen? Ini yang lebih susah. Buat satu pembaca, mungkin setting yang memesonanya. Buat pembaca lain, mungkin debar-debar kisah cinta yang belum juga bertaut. Buat pembaca lain, misteri sengkelat-sengkelit yang mengusik pikiran. Masih banyak lagi. Pengarang pasti akan mengalami kesulitan kalau mau melayani semua kemungkinan. Dia hanya bisa punya satu sikap yang paling aman: mempertahankan adonan orisinal sambil mengembangkan sekuelnya dengan menambahkan sedikit-demi-sedikit bumbu pengembangan (plot development) yang dituju. Dalam bahasa manajemennya: Konsistensi.

Fiuhhh, there, I've said it.

Panjang nian pembukaan ini sebelum aku benar-benar masuk ke pembahasan Tanril 2: The Siege of Krog Naum, sebuah sekuel dari mahakarya Nafta S Meika yang sempat menghebohkan khalayak pecinta buku dan penggemar baca (that's it, tertulis di cover belakang), dan sempat dinobatkan sebagai karya Fantasi terbaik di Fikfanindo pada review di sini.

Well, ini caraku untuk memulai menyatakan bahwa Tanril 2 punya issues di area tersebut. Secara umum saya akan mengatakan bahwa mulai titik awal sekuel, pengarang sepertinya mulai terbuai oleh rencana besar penggarapan sekuel (multi jilid, kalo gak salah sudah mencapai lebih dari 6 buku--dalam pikiran pengarang). Udah gitu, seperti pernah diinformasikan oleh pengarang sendiri, ia menyusun naskah orisinalnya dalam bahasa inggris (!). Well mungkin aja si pengarang memang person jenius (gue pikir emang begitu, jujur!). Tapi hukum alam berlaku, even for geniuses, bahwa begitu kita mencoba mengangkat keranjang apel yang lebih besar, maka sedikit apel akan mulai terjatuh berceceran.

Apa saja konsistensi yang tercecer di Tanril 2? Sesungguhnya tidak banyak. Tapi ibarat bendungan, mendingan keretakan kecil segera diinformasikan dan ditambal secepatnya, bukan?

Yang paling penting bagi saya, adalah konsistensi universe Benua Biru Tanril. Dimulai dari yang paling simpel aja. Bangsa Telentium (yang sejarahnya mulai dipaparkan secara ciamik dalam edisi ini), pada prinsipnya terdiri atas mixing kebudayaan besar Clem dan Zirconia. Okay, dan tidak ada pengaruh dari budaya Anglican di sisi manapun. So, nyaris ga ada alasan munculnya istilah-istilah berbahasa Anglic (Anglish, or English, if you still not get it) yang semakin merasuk dalam teks bahkan sampai ke dialog (panggilan "Sir", istilah "Lord" dll). Menurut saya, kadarnya sudah mulai breach dalam setting dan bukan lagi masalah kepraktisan penggunaan istilah. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan karena naskah orisinal dalam bahasa inggris diterjemahkan ke bahasa Indonesia sehingga meninggalkan masalah semacam itu. Tapi penyisipan istilah bahasa inggris di dalam Tanril 2 mulai saya rasakan mengganggu.

Lalu formatting (dengan mengesampingkan pen-formatan halaman yang masih aja masalah!). Sebagian besar Bab, kalau tidak semuanya karena saya malas menghitung kembali, dibuka dengan penulisan beberapa baris puisi... (kebetulan) dalam bahasa Inggris. Ini format yang baru dikenalkan pada Tanril 2. Dan walaupun tak salah, tetap terasa mengganggu. Tapi bisa saja karena saya memang bukan penikmat puisi dan gak bisa 'membaca' puisi. Makanya saya nggak bisa menemukan kaitan interpretatif antara puisi pembuka bab tersebut dengan isi bab-nya. Makanya kemudian bagi saya puisi-puisi itu akhirnya hanya menjadi waste of page space aja.

Cukup dua hal itu aja, yang gue identifikasikan. Tapi dua hal (kecil) itu udah cukup untuk menghalangi gue menikmati unverse Tanril sebagaimana buku pertama. Apalagi... dengan masih hadirnya ulah gak jelas penerbit yang masiiiih aja menuliskan halaman-halaman Tanril dengan sistem paragraf yang nggak ngikutin standar, font kecil, serta penulisan dialog dengan huruf italic.

Tuh layouter tahu nggak sih, efeknya menulis dialog huruf italic, bagi pembaca?

Itu seperti dialog dalam sunyi, tau gak? Dialognya telepati yang menggunakan benak (Atau, dialog antara Nalia, Jie Bi Shinjin dan Wander yang menggunakan isyarat jari-jemari. Itu baru penerapan italic yang tepat). Dan bagi benak pembaca, itu sangat mengganggu.

Saya masih bisa mengapresiasi sebuah kiat kreatif, apabila kiat itu memang didesain untuk memenuhi tujuan tertentu yang saya selaku pembaca bisa connect. Saya pernah membaca satu novel yang font-nya sengaja dibedakan, menyesuaikan pada POV tokoh dalam novel itu. Penerapan font sedemikian rupa berhasil memperkuat karakter yang dikisahkan dalam novel. Itulah kreativitas yang smart --mendekatkan pembaca pada tujuan pengarang. Tapi kalo yang di Tanril ini, karena pembaca malah terganggu dan dibawa menjauh dari missi pengarang, penerapan nyeleneh malah ga jadi kreativitas. Saya menyebutnya 'ketololan', terutama karena sudah dikritik masih ngotot pula, pointlessly. Sorry.

Kenapa sih, saya blingsatan segini rupa?

Karena saya merasakan sendiri betapa jalinan kisah dan plot apik yang sesungguhnya tertuang dalam Tanril 2 menjadi jatuh ke level yang tak-bisa-dinikmati oleh pembaca. Seperti disuruh nonton film Avatar (yg konon sedang 'in' sebagai film dengan CGI terbaik) melalui TV hitam putih yang gambarnya kemeresek. The Beauty is lost in the statics. Sedihnya, bukan karena nasib, melainkan karena ignorance belaka.

Bicara keapikan buku ini, apalagi yang musti kubicarakan? Masih konsisten sebagus buku pertamanya! Pengarang dengan piawai memperkenalkan karakter-karakter baru yang unik, mengembangkan relasi para tokoh terdahulu sampai pada taraf yang menarik dan manusiawi. Saya paling happy dengan pengembangan karakter Jie Bi Shinjin yang semakin dalam. Di buku ini, bisa dibilang dialah bintangnya. Satu tokoh menarik lain adalah jendral Allen, jendral dengan pilihan karakter yang 'so unlikely', dan suppose to be merupakan lawan yang 'seimbang' bagi Sulran? (I cannot wait to see their showdown!). Si Kucing Tua juga melakukan come-back yang ditunggu-tunggu pembaca (tambahan juga hadir satu tokoh baru yang kayaknya ada sisi Trivial-nya: tokoh ini sepertinya merupakan personifikasi diri si pengarang dalam universe Tanril, hehehe, asyik juga). Everything was done right. Tastefuly.

Lantas tibalah kita pada pertanyaan terakhir, "Bagaimana buku ini setelah dibelah dua?".

Mungkin ada yang belum ngerti konteksnya. Jadi gini. Aslinya: Tanril 2 dibuat kira-kira setebal Tanril 1. Tapi kemudian dengan aneka pertimbangan, akhirnya dipotong menjadi dua jilid terpisah, sehingga bisa dikatakan bahwa buku ini adalah tanril 1,5 dan yang 0,5-nya lagi akan nyusul entah kapan. Entah, apakah disebabkan pertimbangan cost, masalah artistik, atau masalah komersial.

Secara wajar tentunya akan timbul pertanyaan bagaimana reading experience pembaca dengan buku yang dipotong setengah, itu kan artinya klimaksnya berhenti di tengah-tengah?

Well, harus kuakui, paduan komposisi antara penulisan teks yang melelahkan mata dan alur yang memang cukup padat (banyak background diceritakan, terutama dalam bab-bab depan), membuat porsi yang dipilihkan oleh penerbit terasa jadi 'pas'. Pendapatku sih, kalau bukunya dibuat setebal Tanril 1, biarpun ceritanya 'dapet' bagusnya, teteup akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan bacaannya. Takutnya dengan problem font ancur begitu, malah bukunya gak pernah diselesaikan oleh pembaca kalau terlalu tebal. So, yeah, the publisher's kind of on a right track, there, untuk satu alasan yang I bet gak terpikir seperti di itu di benak mereka! Hahahah.

So, selamat datang Taril 2. Buat Nafta, again, keep up the good work! You've got my symphaty :-)



FA Purawan

Senin, 21 Desember 2009

SUMMONSTER: Ancaman dari Kegelapan (Rudiyant - 2009)

By Luz B

Pengarang: Rudiyant
Editor: Felicia Suwardini
Penerbit: Cyan Publisher
Design sampul dan layout: Haridesign
Tebal: 390 halaman


Sebenarnya, beberapa rekan di Forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri di Pulau Penulis sudah lama meminta aku untuk menulis tentang novel satu ini. Dan sekali lagi, sudara-sudari segala agama dan agami, reaksi pertamaku adalah... meremehkan.

Harap maklum, untuk urusan remeh-meremehkan aku memang susah tobat. Apalagi sekarang udah bukan musimnya segala sinetron hidayahiyahtantowiyahyah yang mengajak kita kepada kebaikan tapi menggambarkan hukuman dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan cara yang nyaingin kesadisan ilustrasi psycho manga.

Mengapa aku meremehkan buku ini? Pertama, covernya yang kelihatan dibikin ngasal. Warna merah, ungu, dan item dan gambar dari berbagai sumber diulek seenaknya tanpa diolah menjadi kesatuan yang menarik. Di cover depannya ada naga, background hutan, petir dan foto seorang oknum yang kayaknya pengarang, (tapi bisa juga bukan,) masang pose dan ekspresi yang (dia pikir) keren. Dan si oknum ini nangkring di belakang judul dengan Font Harry Potter: Summonster: Ancaman dari Kegelapan.

Sampai disini ada bagian diriku yang langsung mencap bahwa si pengarang ini narsis sekali. Namun, mari kita bahas cover ini secara adil. Foto itu bisa yang bersangkutan, dan bisa jadi bukan. Dan kalaupun benar foto pengarang, sebetulnya bisa diterima.

Pertama, karena itu haknya dia. It's his book.

Dan kedua, karena paling tidak foto si pengarang itu asli ide, buatan, dan muka dia sendiri! Bandingkan dengan apa yang terjadi di cover belakang: Dengan terang-terangannya si desainer cover menempelkan gambar karakter Vivi Ornitier dari Final Fantasy IX. Ya amplop...

Aku tahu negeri tercinta kita kurang memperhatikan hak kekayaan intelektual, tapi ini? Terang-terangan mencomot gambar dari sebuah game yang cukup dikenal untuk tujuan komersil bisa diterjemahkan sebagai permintaan untuk dihujat oleh penggemar game itu. Jadi, pengarang dan desainer cover yang terhormat, kalau ada hujatan berkenaan dengan cover yang menyayat-nyayat hati anda, nggak usah jejeritan kayak orang-orang caper baru masuk infotainment. Anda sendiri yang minta didzolimi.

Lepas dari pembajakan yang benar-benar tidak tahu malu itu, aku disambut oleh sinopsis yang ditulis dengan font ultra-ruwet yang bikin malas baca. Sebagai servis untuk para pembaca Fikfanindo, ini aku copaskan...

Ini adalah cerita besar yang akan aku torehkan dengan pedang di tanganku. (Sekarang aku ngerti kenapa font itu sedemikian ruwet. Nulisnya pake pedang getoh!) Penuh kemelut dan intrik yang aku sendiri ragu. Karena tanpa sadar aku telah terseret masuk jauh ke dalamnya. Bahkan akhirnya aku takut, bisakah aku kembali ke jalanku.

Para Summoner, pemilik makhluk suci satu persatu tewas mengenaskan. Sumont-Sumont menjadi liar ketika berada di tangan yang salah. Kehancuran alam dan dunia terasa sedekat kerlipan mata. Kitab aneh yang dapat memanggil dan menghidupkan kembali arwah para petarung legendaris muncul. Kekacauan akibat dendam dan ambisi saling tumpang tindih. Belum lagi dendam para ras Black Centaur, urusan para Elf, Dwarf, Mermaid dan Black Magioch. Semua terlihat kisruh.


Bersama keempat sahabatku, kami harus bisa menyelesaikannya dan kembali pulang untuk menjalani kehidupan normal yang sesungguhnya. Walau aku yakin ini akan sulit. Sebab cerita legenda ini, aku yakin akan menjadi kenangan abadi di benak semua orang. Atau paling tidak dapat menjadi dongeng orangtua kepada anaknya sebelum terlelap." (Hmm... orang tua macam apa yang mendongeng soal dendam, memanggil arwah, dan kehancuran dunia pada anaknya yang mau tidur?)


Sinopsis diatas disusul dengan pencantuman endorsement dengan font yang jauh lebih mudah dibaca. Endorsement ini diberikan oleh oleh oknum anonim dengan bunyi sebagai berikut:

Rudiyant benar-benar mampu menerbangkan imajinasi ke Negeri Khayalan di batas tertingginya. Semua terlihat rumit pada awalnya, terlalu banyak urusan dan kepentingan. Belum lagi jumlah karakter yang memiliki karakteristik aneh, unik, konyol dan terhitung hebat-hebat dengan berbagai persoalannya. Rudiyant sosok penulis berkelas!

Lagi-lagi pernyataan yang ngasih beban berat ke si pengarang dan si buku bahkan sebelum cerita dimulai. Aku nggak ngerti kenapa banyak kecenderungan begini dalam buku-buku fiksi fantasi, tapi baiklah...

Penulis berkelas.

Statemen ini kuterima sajalah. Perkara kelas apa--kelas terbang, kelas bantam, kelas bulu, kelas welter, kelas berat, kelas satu es-em-a, kelas kambing--silakan anda putuskan sendiri setelah menelaah buku ini.

Hal berikutnya yang bikin aku ngeremehin buku ini adalah ukurannya. Nyaris seukuran buku saku, dengan tebal 390 halaman. Dikit. Jadi kukira aku pasti bisa menghabiskan buku ini dalam waktu kurang dari 3 hari. The Hunger Games yang jauh lebih tebal saja bisa kuselesaikan kurang lebih 5 jam.

Makanya, ketika seorang teman di FFDN bilang "nggak kuat baca buku ini," aku langsung berkata pada yang bersangkutan, "Kirim sama aku aja, tar aku yang baca dan nulis repiu!"

Dan aku nyeseeel berat nggak mendengarkan nasihat teman dan nyuekin wangsit ghoib berupa tindak pembajakan superpicis di sampul, hanya karena aku ingin menjadi anak baik yang tidak menilai buku dari sampul belaka.

Sungguh, Summonster nggak bisa dibilang "jelek," karena naskah "jelek" sekalipun seharusnya bisa membuatku ketawa nelangsa lewat plothole ngaco atau dialog konyol atau klise menggelikan. Namun, Pakcik dan Makcik, naskah satu ini rupa-rupanya sudah demikian teruk hingga sulit mencari hal yang menarik di dalamnya. Tingkah polah tokohnya bikin kesal, bolong-bolong dalam plotnya alih-alih lucu malah bikin males baca, dialognya so stoopid it will probably scar your brain, seperti berikut ini, ketika dua tokoh cerita ketangkep lagi ngupingin kawanan Black Centaur:

Viron garuk-garuk rambut kepalanya yang tidak gatal, dia berpaling ke Nadiav, "Orang itu ngomong apa Nad...?"

"Katanya kita mengikuti pasukan mereka sejak kemarin...!"

"Ah, mereka bisa saja. Memangnya mereka pikir kita ini kurang kerjaan, apa?" Viron memperlihatkan wajah kurang setuju atas tuduhan pada dirinya. "Memangnya mereka mau kemana sih, kok sampai menyangka kita mau mengikutinya?"


Nadiav menggeleng, "Mana kutahu? Jangan-jangan rombongan mereka ini mau kondangan kali ya...?"


See? Ini sebabnya aku perlu hampir 1 bulan untuk membaca buku ini.

Maka biar kusimpulkan pelajaran yang kudapat dari kebandelanku kali ini: some things can get beyond ugly. Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya kekuatan tak manusiawi macam apa yang dimiliki pengarang hingga bisa menghasilkan sesuatu seluarbiasa ini.

Mari kita mulai dari plot. Bab 1 langsung memasuki inti permasalahan: Bahwa di dunia Summonster dikenal keberadaan sumont, "arwah suci yang mendekam di dalam spirit crystal yang bisa dipanggil oleh seorang Summoner untuk bertempur." Dalam bahasa Final Fantasy, tergantung dari dialek yang digunakan, Sumont ini kiranya bisa diterjemahkan sebagai Esper/ Summon/ Guardian Force/ Eidolon/ Aeon/ Totema.

Dan alkisah, Di sebuah pondok terpencil, Kakek Ibranz menerima berita bahwa salah satu dari Sumont ini dicuri, dan memperkirakan bahwa si pencuri akan memakai sumont tersebut untuk bertempur pada semacam perang akbar yang akan terjadi pada tanggal 10 bulan 10. Bagaimana ia tahu akan ada peristiwa 10/10? Dari ramalan gurunya yang disampaikan 3 bulan sebelum cerita dimulai.

Maka, logis kiranya jika kakek Ibranz langsung mengirimkan dua protagonis kita, Viron dan Nadiav, untuk menemui gurunya demi menanyakan apa kiranya yang akan memicu pertarungan besar itu.

Hmm... kemaren pas dikasih tahu soal ramalan itu kenapa gag sekalian yah nanyain penyebabnya? Oh well. Ini bisa dijelaskan dengan apa yang kusebut sebagai Postulat Plot Klise Fiksi Fantasi #1: Yang namanya ramalan selalu always itsumo benar. Sebab itulah orang-orang di dunia fiksi fantasi nggak pernah merasa perlu bertanya kalau mau memulai perang atau membunuh seseorang. Mereka selalu menempatkan akalbudi dan pikiran sehat di nomor sekian setelah ramalan.

Cerdas sekali.

Dari titik awal ini, plot berkembang. Aneka pihak/ grup/ organisasi rupanya memutuskan untuk berpartisipasi pada perang akbar 10/10: Kerajaan Valion, Kelompok Red Death, Pasukan Ratu Iblis, Bangsa Mermaid, Black Centaur, grup Black Magioch. Kecuali Kerajaan Valion, semua pihak ini ceritanya berperang karena menginginkan Devdilbook, sebuah kitab yang bisa membangkitkan orang mati, entah untuk dihancurkan atau dipakai membangun pasukan demi memenuhi Motif Penjahat Klise Fiksi Fantasi #1: Menguasai Dunia.

Dan turut terjebak di dalam peperangan ini adalah lima pemuda-pemudi yang terbawa dari dunia kita, terpisah, lalu bertemu kembali di dalam peristiwa 10/10 setelah mengalami nasib yang berbeda-beda.

Apa plot ini bisa menjadi kisah yang menarik? Kukira bisa, walaupun ya... ini plot fikfan standar. Mengingat aku juga kurang mengerti kekuatan misterius apa yang membuat plot ini sama sekali tidak menghibur--dalam arti bahkan tidak membuatku ketawa nelangsa karena kekliseannya-- aku menebak bahwa masalah pertama terletak pada pilihan suasana dan cara bercerita.

Curhat sedikit: Saat menulis, aku selalu merasa bahwa salah satu bagian paling sulit adalah menentukan suasana cerita. Apakah cerita ini akan muram dan gelap dan bikin depresi atau kocak cerah ceria? Dan misalnya suasana cerita ini berubah-ubah, bagaimana menampilkannya agar cerita itu tetap punya satu "rasa" tersendiri, alih-alih menjadi tambalsulam dari berbagai cerita/game/komik/film yang sudah ada?

Kukira penulis salah satunya tersandung di sini. Yang bersangkutan membuat cerita tanpa bisa memutuskan apakah cerita ini mau jadi fantasi serius macam Harry Potter, Narnia, His Dark Materials, atau fantasi komedi ala Discworld-nya Terry Pratchett. Oleh karena itu, mari kita lihat naskah ini dari dua sisi.

Pertama, sebagai fantasi komedi, humor dalam cerita ini terlalu sedikit. Dan sekalinya ada, yang paling lucu pun cuma bikin aku ketawa garing 3 detik. Nih kukutip contohnya:

Ibranz tersenyum kepada muridnya yang terhitung masih sangat belia itu, "kamu pikir untuk apa aku memberikan pedang itu padamu? Kalau cuma untuk berdiam diri ditempat ini kurasa kamu tidak membutuhkan pedang. Untuk latihan sehari-hari kurasa pedang kayu saja cukup untukmu...!"

Mendengar kalimat terakhir Ibranz, si gadis langsung tersenyum. "Jadi kamu masih menggunakan pedang kayu dalam latihan...?" ejek Nadiav. "Payah sekali! Asal Kamu tahu ya, sejak setahun yang lalu guruku sudah memperbolehkanku menggunakan senjata betulan dalam latihan...!"


Ibranz Tersenyum, "kamu itu belum tahu siapa Viron, Nadiav...? Dia itu... pegang pisau aja kepotong, apalagi kalau pegang pedang?"

Para pembaca yang terhormat, apakah anda ketawa saat membaca tiga paragraf diatas? Ada orang yang bilang aku kurang memahami fantasi "ancur", demikian istilah rekan-rekan forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri untuk fantasi komedi. Tidak begitu, sebenarnya; untuk menjadi bisa disebut komedi, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi suatu karya, yaitu--seperti penampilan TeamLo di Inbox pagi SCTV--ia mengandung kelucuan yang cukup memuaskan selera umum. Itu aja.

(Walau tentu akan lebih baik lagi kalau mereka mau cerdas dan lucu seperti Project Pop.)

Nah, aku paham bahwa penulis ini punya track-record Juara II cerita konyol Gramedia 2008 dan pernah menerbitkan buku humor, tapi buku ini sendiri buatku sama sekali nggak ada lucu-lucunya. Lucu garing aja nyaris nggak, apalagi lucu beneran.

Namun, tentunya valid kalau kita katakan bahwa lucu itu relatif, jadi jika anda meragukan penilaian ini, fair enough. Silakan beli atau pinjam Summonster dari teman anda dan sampaikan pendapat anda setelah membacanya sendiri. Aku tunggu di reply loh, heh, heh, heh...

Nah, kedua, kalau Summonster ini mau jadi fantasi serius, sebetulnya lebih masuk akal, dan kukira penulis juga niatnya sebetulnya kesini. Terbukti dari sinopsis di sampul bahwa cerita ini banyak menggambarkan perang, kehancuran, darah, pemanggilan arwah. Masalahnya, dengan latar semacam itu, joke-joke garing crispy yang diselipkan si penulis jadi mengurangi keseriusan dan kelarutan pembaca di dalam dunia cerita. Ditambah lagi kesukaan penulis untuk menggambarkan dan menjelaskan dunianya dengan istilah-istilah role-playing game semacam...

"Itu Potion, sangat berguna untuk mengembalikan staminamu!"

atau...

"Mp-ku habis ketua! Aku tidak sanggup lagi!"

atau...

Di api, untuk level awalnya berupa bola api, yaitu Fire. Tapi untuk level keduanya bernama Flame, serangan api sebesar kerbau dewasa yang bisa dibayangkan seperti apa kobaran apinya?

Benar-benar mengerikan...!

Ini tiga element dari beberapa element... Konon, puncak serangan element api adalah Hell Grab, Lautan Api Neraka, yang pastinya membutuhkan banyak Mp untuk melakukannya!


Aduh, banget.

Pembaca yang terhormat, ijinkan aku bertanya, apa alasannya seseorang mau baca novel seharga 30k perak yang dibuat seolah-olah RPG kalau dia punya akses ke console (minimal main PS2 dirumah temen) dan bisa main RPG beneran (kaset bajakan dijual 10-15k rupiah?)

I can think of several reasons, actually:

1. Dia nggak punya jari untuk mencet gamepad, (tapi kalau gini ya dia nggak bisa balik halaman buku juga kan... kecuali ada yang balikin.)

2. Dia buta, jadi dia nggak bisa lihat TV (dan ga bisa baca buku juga, kecuali ada yang bacakan untuk dia, atau buku itu ditulis dengan huruf braille, atau dibuat jadi audiobook; pula, di Indonesia ini ada kok kasus orang tunanetra yang hobi bermain game... uhuk*Ramaditya*uhuk...)

3. Dia mati otak/tidak punya IQ yang cukup untuk bisa main game (dan kalau begini toh kemungkinan besar dia ga bisa baca buku juga.)

Dengan logika sederhana ini kita bisa melihat bahwa novel yang dibuat seperti RPG hanya menarik untuk 1) orang yang nggak punya jari dan punya teman yang mau balikin halaman buku untuk dia, dan 2) orang tunanetra yang namanya bukan *uhuk*Ramaditya*uhuk* dan punya teman yang mau bacakan cerita itu.

Dan... oh ya, tentu saja, pasar bisa diperbesar untuk 3) kaum tunanetra yang penasaran dan rela memboroskan waktu mereka, kalau cerita ini diterbitkan dalam audiobook/edisi braille.

Baiklah, perhitungan diatas barangkali berlebihan, tapi maksudku tentunya tersampaikan: Nggak ada gunanya kita memakai deskripsi ala RPG di dalam sebuah novel fantasi yang serius. Itu nggak membuat novel menjadi lebih menarik atau lebih mudah diterima oleh gamer. Jangankan di dalam novel yang dibuat ala-RPG; di dalam RPG sungguhan aja, pernahkah anda menemukan FMV/cutscene seperti yang terjadi di bawah ini...?

"Cloud! Tolong! MP-ku menipis! Aku tidak bisa lagi memakai Summon Bahamut zero!"

Mendengar namanya dipanggil, si pemuda pirang meluncur turun dari kepala Midgar Zolom sambil menggoreskan Buster Sword di sepanjang punggung ular raksasa itu.

"Hiaat! Terimalah ini! Command Materia 2xCut!"


Gelombang tenaga Materia 2xCut yang menyeruak dari pedang besar si pemuda dengan cepat menyebabkan tubuh lawannya terbelah dua. "Tidaaaak!" si monster berteriak. "Aku punya 15.000 HP! Tidak mungkin... sedemikian mudahnya... kalah! Aaaaargh!"


Tanpa menghiraukan erang kesakitan makhluk buas, si pemuda lalu melompat. Ia mendarat mantap, membelakangi tubuh lawannya yang tumbang menjadi dua potongan yang menghempaskan debu di kiri-kanannya. Lalu ia mengulurkan tangan pada gadis yang memanggil namanya tadi.

"Jangan takut Tifa! Aku masih punya Potion! Ini--ambillah!"

Tifa melotot. Kesal. Tiba-tiba saja limit break gauge-nya terisi penuh. Langsung saja ia melakukan serangkaian tendangan dan pukulan yang diakhiri Limit Break terkuatnya, Final Heaven. "Bodoh!" teriaknya sambil terus menghajar Cloud. "Potion itu untuk memulihkan HP, Bukan MP! Elo kan jagoannya. Kok yang geto aja gag mudeng seeeeh?! MAMPUSSSSS!!!! Hiaaattt!! Tendangan Kincir Berputar!!!"


Mohon maaf untuk seluruh penggemar Final Fantasy VII yang membaca artikel ini. (Siapa bilang aku nggak bisa menikmati fantasi komedi? Heh, heh, heh...)

Baik. Ehem. Setelah melihat plot dan suasana cerita yang kacau, mari kita tinjau karakter dan dunia itu sendiri. Aku nggak akan ngebahas satu persatu karakter maupun tempat-tempat ataupun benda di dalam dunianya, karena kayaknya ga ada yang bisa kita pelajari kalaupun kita bedah semuanya satu-satu. Yang menarik dari karakter-karakter dan benda-benda dan dunia Summonster hanyalah satu: naming konyol yang kayaknya mengatakan "Aduhh, jadiin gue sasaran plesetan/cela dong plissss..."

Baca sendiri deh...

1. King Dradont. Oh no you don't.

2. Jenderal Watduks. "What?" *duks* Kayak sound effect orang yang lagi gubrak ke lantai karena guyonan gag lucu.

3. King Vadeworth. Hmm... Darth Vadeworth.

4. Ratu Dsaustet. Sounds like Ratu Santet.

5. Kitab Devdilbook, yang suka diplesetin sebagai kitab Devilgoblok oleh salah satu tokoh. Not that it is funny, though.

6. Difficult Jungle. Hutan yang sulit dilalui karena dipenuhi monster kuat-kuat. Oh yeah, jenius. Kreatif banget penamaannya.

7. Big Croakodille. Croaking crocodile kali yah? Nggak lucu ah.

8. Sumont Gurithae... yang rupanya berbentuk, surprise, surprise, gurita raksasa.

Nama-nama ini mungkin lucu untuk suasana fiksi fantasi komedi, tapi untuk fikfan serius, kukira terang-terangan salah tempat. Sekali lagi, ngocol hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Selain itu perlu diperhatikan tipe humor yang sesuai dengan cerita. Kalau tone cerita dark, cobalah humor dark/sarkastis/sadis. kalau tone cerita memang komedi, slapstick atau humor-humor sugestif mungkin tepat. Jangan humor slapstick dipakai untuk cerita serius di suasana serius pula. Ya jelas gag kena dunk.

Pembaca yang terhormat, sebetulnya aku ingin lebih dalam menelaah buku ini dalam usaha untuk memulung apa-apa yang masih berguna sebagai pelajaran. Sayangnya, aku cuma manusia yang HP-nya terbatas, sementara buku yang awalnya kuremehkan ini ternyata merupakan lawan yang lebih parah daripada boss-boss rahasia semua RPG. Untuk itu biar kusimpulkan sari dari reviewku kali ini: Jangan membajak gambar game untuk cover atau ilustrasi, jangan menulis fantasi serius dengan deskripsi teknis-RPG, dan kalau mau ngocol pertama-tama pastikan dulu kalau anda itu lucu.

Untuk Bang Rudiyant, kuucapkan selamat: (Sum)monster Anda adalah mahkluk pertama yang sukses ses ses ses menghabiskan HPku! Beruntung aku masih punya persediaan Phoenix Down dan Megalixir untuk memulihkan diri.


Luz Balthasaar