Kamis, 04 Juni 2009

MARRIED WITH A VAMPIRE (Joko D. Mukti - 2009)



Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Foto Sampul: (c) Photostorm/ Shutterstock
Tebal: 338 halaman


Another Vampire Story? Gak aneh.

Di Indonesia? Well, bolehlah, unik.

Bersetting Kota Semarang? What?! Jarang-jarang, tuh?!

Yang nerbitin GRAMEDIA. WHAAAAAT????

Hah, di mana kejutannya? GPU nerbitin sebuah novel Fantasy berlatar Vampir? Hellloooo, masih musim Twilight neh sekarang. Sorry boss, memang topik Vampir bukan topik baru, tapi yang ini lain: Novel Vampire lokal berlatar setting Kota Semarang, terbitan gress GPU tahun 2009.

Judging dari kebiasaan GPU main di wilayah mainstream-pasar, pilihan terhadap materi MWAV karya Joko D. Mukti ini harus diakui cukup,... beda. Beda dan berani!



Karena memang Gramedia cukup jeli ketika memilih. Tema Vampir, okelah lagi naik daun gara-gara kesuksesan Twilight-nya Stephanie Meyer. Tapi saya yakin di antara puluhan tema Vampir yang sempat masuk atau diseleksi Redaksi, materi mas Joko ini memiliki angle paling beda dari biasa. Yang paling menonjol dari keberbedaan itu, adalah: penggunaan setting Kota Semarang sebagai tempat cerita bermain. Unik, sekaligus cerdik karena secara fisik sendiri Kota Semarang memang memiliki unsur-unsur yang mendukung imaji 'dark' yang dibutuhkan.

Semarang adalah salah satu kota tua di Jawa, dan termasuk di antara kota-kota yang memasuki kondisi 'decay' akibat perubahan energi perekenomian di region tersebut (dulu pantai utara Jawa termasuk urat nadi perekonomian utama, sekarang sudah berubah), Maap buat orang Semarang, hehehe. Tapi sudah merupakan kenyataan bahwa Semarang tak secemerlang ibu kota propinsi lainnya di Pulau Jawa, dan,... ada kesan menua. Dan sengaja atau tidak, ini setting yang strategis menguntungkan buat pengarang.

Saya setuju dengan strategi pengarang, Semarang memang setting yang cucok buat cerita Vampire, much like New Orleans buat cerita Vampire atau Voodoo. The vibe is there, it's THE place. Inget aja, that's where the spookiest building ever, "Lawang Sewu", berada. 'Nuff said.

So, mari kita sambut karya yang tak 'biasa' ini.

Married with a Vampire menceritakan kisah petualangan tokoh utama, seorang pemuda bernama Lang, yang dibawa nasib bertemu dengan sesosok Vampir bule cantik legit bernama Princess, dan melalui utak-atik setting yang 'kocak-kocak-gimana' (karena tidak diintensikan sebagai komedi, sebenernya), akhirnya ended-up menikahi si Vampir tersebut. Dia gak rugi, sih, sesungguhnya, soalnya Vampirnya emang cantik dan seksi, gitu lowh.

Yang bikin rugi, karena si Vampir itu 'ngebawa' temen-temennya (walau dalam status bermusuhan) membanjiri Kota Semarang dan menjadikan Semarang sebagai Kota Vampir pertama di Jawa! Yaaay!! My friends, ini baru THE story!

Dalam buku setebal 300 halaman ini, pengarang menjejalkan cukup banyak side-stories, mulai dari latar belakang Lang yang tipikal pemuda-miskin-ikut-boss-kaya-dan-jatuh-cinta-sama-anak-gadis-nya-dan-tentu-saja-cintanya-ditolak-karena-beda-status, pertemuan dan pernikahan Lang dengan Princess si Vampir cantik, dendam Jack si raja Vampir mantan suami (?) Princess, Infestasi Vampir di kota Semarang yang didalangi oleh Jack si Raja Vampir Dunia (wow!), aksi seru si Lang sebagai pahlawan pembasmi Vampir dengan kelompok SANG PEMVASMI (well, believe it. itu singkatan dari: Persatuan Para Anggota Pembasmi Vampir dan Vampirisme di Indonesia. LOL!), yang tentu saja Lang jadi the hero yang menyelamatkan sang boss beserta putrinya, dan si Putri, Svida, jadi jatuh cinta sama lang, terus ada pacar Svida yang --seperti biasa-- nyebelin, and so on, and so on, plus pra-kondisi untuk sekuelnya. Bahkan sedikit imbuhan intrik-politik kaum Vampir yang menjustifikasi alasan kenapa Vampir membanjiri Semarang, sekaligus juga mempengaruhi hubungan cinta Lang dan Princess di akhir cerita. Good, lah.

Dari sisi penceritaan, cukup fresh dan seru walaupun tidak ada yang terlalu istimewa. Gaya bertuturnya juga somehow a bit 'old'. Keistimewaan novel ini justru pada keberanian (dan mungkin keberhasilan?) untuk menghadirkan setting Vampir di Semarang, yang nyaris bisa dipercaya asalkan pembaca mau mengkompromikan situasi sedikit.

Maksudku, ketika Semarang dilanda serangan Vampir, it's really-really believable, asal kita rela meng-contain masalahnya tetap berada di areal Semarang aja, jangan diperluas ke pulau Jawa atau Jakarta (misalnya menjadi masalah Nasional, gitu), sebab gregetnya akan jadi jauh berkurang, dan kita jadi perlu menciptakan berjuta plot device untuk meng-cover lubang-lubang logika yang timbul.

Mungkin sekedar contoh untuk memperjelas, ingat serial game Resident Evil, yang selalu berlangsung di sebuah lokal (kota kecil, precinct) yang terbatas, kagak pernah di kota besar macam New York, gitu. Sebab jika terlalu luas, akan sulit mengelola unsur believabilitynya.

So pembaca harap menganggap Semarang dalam setting MWAV ini adalah sebagai Semarang yang somehow terpisah dari kota-kota lainnya di pulau Jawa. Dan kalo ngebayangin Semarang alone dihantui oleh Vampir di jalanan kota-kotanya, hell, bulu kuduk gue langsung berdiri. Really creepy bener,...

Dan berkat setting yang terbatas ini, rasanya jadi wajar aja menemukan dalam cerita bahwa Polisi 'cukup' kewalahan menangani ancaman Vampirisme (tanpa terlalu kewalahannya hingga terpaksa mengundang campur tangan TNI menyangkut keamanan Nasional), lalu sekelompok Vigilante bisa beraksi membasmi Vampir, dan tokoh kita bisa menjadi hero-selebritas terang-terangan di depan masyarakat kota Semarang. Terus adegan Vampir menyerbu hotel di Simpang Lima yang jadi tempat pengungsian,... Wow, Cool!

Coba kalo kita nggak batasi setting, maka kita akan langsung protes: di tengah serangan Vampir yang menggila kenapa gak diungsiin aja penduduknya ke Kudus atau Solo, atau bagaimana mungkin Vampir bisa merajalela di Semarang aja, gak merembet ke kota-kota lain secara di pulau Jawa ini kota-kotanya literally udah berdempetan!

Jadi malah repot, kan?

Aspek selain dari setting, well, MWAV adalah cerminan dari karya pop masa kini, penuh action hack and slash yang cinematic-keren, gore berdarah-darah (Rating Novel ini adalah Novel Dewasa), dan tentu saja, Seks. Hot, steamy, sex. Ada cukup banyak R rated situations dalam novel ini, antara lain adegan percintaan Lang dengan Princess, adegan Vampir cewek telenji di tengah jalanan, and so on. A bit surprise juga buat gue, agak sedikit di atas garis batasnya Gramed, hehehe. Mau salut, atau mau kalut, it's your own choice(s). Tapi buat para ortu, please consider untuk menunda memberikan novel ini pada putra-putrinya, sampai at least dia udah tujuh belas tahun atau already sudah biasa mengkonsumsi material yang lebih luncah dari ini. He he he.

Well, untuk fair-nya, adegan dewasa dalam novel ini memang diintensikan buat pembaca dewasa, masih memiliki nilai sastra, dan tidak overdone. Jadi gak perlu overreacted juga, sih. Kalo menurut feeling gue, mas Joko juga sedang mendegikkan kepala (semacam penghormatan juga) pada genre Fantasi-Horror-Misteri Nasional seribu-limaratusan perak yang pernah jaya di tahun 80-an dengan pengarang seperti Abdullah Harahap dkk. Genre unik yang nggak pernah mendapatkan apresiasi penerbit utama pada masa itu.

Terus pegarang juga mencoba memasukkan sub-tema filosofi dalam karyanya, mengenai 'kedudukan' konsep Vampir dalam alam berpikir Indonesia melalui sejumlah pertanyaan dan diskusi antara Lang dan Princess. Konsep 'vampirisme' yang boleh jadi berbeda dengan konsep orang barat. Kupikir it's just a nice try, berhasil atau nggaknya masih relatif. Minimal aku ngerasa ada pertanyaan-pertanyaan yang seolah mewakili diri kita (sebagai orang Indonesia) jika suatu kali kita bener-bener ketemu dan ngobrol-ngobrol sama Vampir (halah!)

Sekarang, apa kritikannya?

Gak terlalu banyak. Aspek logika cerita, masih bisa diterima dan masih cukup kuat menopang plot. Bahwa jika areanya diperluas ke luar kota Semarang, logika akan jadi ambrol, itu sudah kukemukakan di atas.

Tapi yang rada parah kurasakan adalah dalam hal penamaan. Untuk nama-nama tokoh lokal, seperti Lang, Svida, Tamam, dll udah cukup pas dan wajar. Tapi nama-nama Vampirnya berasa agak kurang sreg buat gue. Vampir cewek yang usianya udah ratusan tahun, dan punya posisi semacam 'ratu' di kalangan Vampir, cuma punya nama "Princess", atau tokoh lain yang bertatus mirip, namanya "Tante Lidya". Tokoh antagonis Raja Vampir super licik dari New York cuma dipanggil "Jack". Well, nama-nama sederhana semacam itu nggak bisa mengangkat eksotisme dan kekuasaan kaum Vampir yang konon sudah establish selama ratusan tahun! Kalau saja pengarang menambahkan nama lengkap untuk mendampingi nama-nama panggilan di atas, mungkin universe Vampirnya jadi jauh lebih mengesankan. Kalo yg sekarang, terus terang aja gue malah kepeleset jadi inget Vampir ala "Human Drakula"-nya Srimulat jaman taun 80-an (yg biasanya diperankan Oom Paul Polii, dan setiap kali muncul di panggung pasti seru, serem dan ngakak abiss)

Kritik lainnya adalah dalam hal desain sampul. Sorry, dengan pengalaman mendesain cover versi teremahan buat Twilight series yang demikian bagus, kenapa untuk yang ini desainnya kayak Novel-horror-wannabe-kacrut-adaptasi-dari-film macamnya Kuntilanak Beranak atau Kolong Jembatan Casablanca (whatever! What do I care?) gitu? Covernya gak bisa mencerminkan actions ataupun gore, even sex(kalo memang mo jual itu) yang ada dalam buku. Instead, covernya cuma menonjolkan kesan suram rumah tua dengan overblown-Moon serta beberapa codot beterbangan. Gak kelas, kalo buat gue sich, malah paduan dari desain cover seperti itu plus judul "Married With Vampire" justru membuat gue sempat mengira it's just another comedy-sotoy works, atau another kumpulan catatan harian dari seorang blogger pengikut mazhab "Kambing Jantan" yang kebetulan sedikit lebih sakit daripada 'nabi'nya (hehehe). Beruntung ada sinposis di back cover yang sedikit menjelaskan bahwa novel ini 'beda'.

Usul gue? Gak jauh-jauh, dah. Ilustrasi gedung Lawang Sewu dengan style dark/ gothic with empty streets dan rumput meranggas etc, terus seorang laki-laki (Lang) tampak punggung sembari enyeret kampak berdarah atau katana, gitu. It would tell a thousand stories!

Oh iya, dan Font Judul ala tulisan berdarah di halaman-halaman dalam. It's just so yesterday peninggalan jaman Printshop. Satu kata dari gue: Kamse'upay!

Akhirul kata, review ini kututup dengan pembelajaran bahwa unbelievability factor sesungguhnya masih bisa kita manage, atau siasati, dengan cara membatasi lingkup setting di dalam universe kita. Dengan pengolahan semacam itu, kita harapkan pembaca masih dapat terlarut dalam setting yang kita ciptakan dan dapat ikut menikmatinya, alih-alih terganggu atau ngotot merasionalisasikan semuanya.

Buat mas Joko, karyanya keren, boss. Dan saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda sudah menjanjikan sekuel dengan judul: Married With A Vampire #2: Bloodlust (background sound: Woooooh,..). Penuhilah janjimu! Awas, ya, kalo gak keren juga! He he he,...

FA Purawan

Jumat, 23 Januari 2009

Ranah Sembilan, a Novel (Dewi Sartika - 2008)



Penerbit: OASE bekerja sama dengan Penerbit Sembilan - Publishing
Editor: Yessy, Tofik M, Anisa Ami
Perancang Sampul: Tutu, Urip Saputra
Layouter: Restu Damayanti
Ilustrator: Poetra
Tebal: 247 halaman

Wah, ini satu lagi kasus menarik.

Coba, apa yang anda pikirkan terhadap sebuah kisah berikut ini:

Alkisah, tersebutlah sebuah tempat yang dikenal dengan julukan Ranah Sembilan, sebuah wilayah di mana sembilan kekuatan saling berhadap-hadapan menjaga keseimbangan semesta persilatan.

Delapan perguruan utama: Partai Naga, Partai Bulan, Partai Bintang, Partai Matahari, Partai Teratai Merah, Partai Macan Putih, Partai Bangau Biru, Partai Kipas Terbang, bahu membahu menyatukan upaya dan mengesampingkan ego masing-masing, guna menjaga Gerbang Lembah Iblis, dimana satu kekuatan tak terkalahkan, satu kekuatan Hitam, satu yang harus dijaga sepanjang jaman, memancangkan panji-panjinya. Sang Kaisar Langit, pemilik ilmu tertinggi di seluruh Jagat, beserta lima murid yang nyaris tak tertandingi: Dewa Air, Dewa Petir, Dewa Api, Dewa Angin, Dewa Bumi.

Menjanjikan, eh?



Coba take alook at this, deskripsi karakter yang termuat di web-site sembilan publishing:


BIXI

Cowok berkepribadian ganda ini bukan orang jahat, juga bukan orang baik. Kalau punya kemauan pasti akan dikejarnya. Murid tertua dari Kaisar Langit ini termasuk jenius dan memiliki level imdok tertinggi (level 8 tingkat tengah) padahal usia aslinya baru 25 (mau masuk 26). Kepribadiannya yang lain adalah bocah perempuan berusia 10 tahun yang menguasai ilmu bidadari. Senjatanya, macam-macam, tapi lebih pada kemampuan jurus-jurusnya. Orangnya teramat percaya diri. Memiliki simbol di keningnya sebagai simbol Dewa Api. Pergi bertualang dengan Lea karena kepribadiannya yang lain menyukai Lea. Agak-agak tidak peduli, kecuali hal-hal yang dianggapnya penting yang kadang-kadang malah mengagetkan orang sekitarnya (misal, kalau marah karena bonekanya hilang, dia bisa membunuh siapapun yang disangkanya merusak bonekanya) minuman favoritnya tuak, terutama yang beraroma harum dan manis dan kue-kue yang rasanya manis. Lebih suka mengembara, tapi kadang-kadang kalau bosan kembali ke Lembah Iblis dan tinggal di sana untuk beberapa minggu atau bulan.

Keren, penggambaran karakter yang cukup unik.

Tambahkan keterangan: "Pemenang Sayembara Novel DKJ 2001 + Juara 2 Adikarya IKAPI 2005"

So, you will think you got good stuff, here? Think again.

Buku ini merupakan kasus unik, sebab gabungan dari beberapa faktor "juara" ternyata belum tentu menghasilkan material juara (please excuse the pun). Maksud saya, buku ini punya basic plot set yang menarik, ide yang boleh juga, bahkan dikerjakan oleh semacam team (liat aja editornya terdiri dari 3 orang, desain sampul 2 orang!), dan pengarangnya pun "sudah punya nama".

Singkat aja, apa yang membuat faktor-faktor juara dalam buku ini tak berhasil menjuarakannya di mata saya? Jahitannya kacau.

Jahitan pertama, adalah pengisian setting. Well, pengarang udah bikin kerangka setting yang potensial, sesungguhnya. Ada suatu wilayah dalam ranah fantasi persilatan dimana delapan perguruan bersama-sama memagari sebuah perguruan yang dianggap sesat demi mencegahnya melakukan kekacauan. Mungkin agak mengingatkan temen-temen pada setting Thio Bu Ki di film Tai Chi Master yang dibintangi Jet Lee. Bisa dibayangkan betapa banyak kisah seru bisa dibangun di dalamnya.

Sayang, kain yang bagus itu dijahit dengan detail-detail yang nggak sinkron. At least, bagi saya nggak sinkron. Entah kalo pengarang mau memaksakan sih boleh-boleh aja. Detail yang saya maksud adalah hal-hal 'kecil', misalnya seperti konvensi penamaan para karakter. Dalam dunia Ranah Sembilan, nama-nama hadir begitu saja tanpa koherensi, tanpa latar belakang budaya yang meyakinkan. Berkali-kali saya harus mengerutkan kening dalam ketidak percayaan, bagaimana pengarang bisa begitu aja come up dengan nama-nama seperti Amon, Sion, Gillian, Bixi, bahkan saya sempat mikir kenapa orang-orang Ranah Sembilan bisa mentah-mentah menelan nama Lea dan Diana begitu aja dalam dunia mereka (Well, helloooow reviewer,... di tengah-tengah cool names like, Gillian,.. like,.. Bixi,.. nama Diana malah jadi sound sooo plain, gadis desa, ya gak siih? Selera lo payah, deh --from an anonymous dissatisfied review reader:) )

Yeah, ehm. Oke,... terusin.

Detail gak make-sense lain adalah bagaimana setting budaya Ranah Sembilan diolah oleh pengarang. Di satu saat Ranah Sembilan terasa bagai setting silat Tiongkok, di saat lain terasa seperti setting Lord of the Rings. Tidak ada 'sense' budaya yang teguh memfondasikan cerita. Even untuk sekedar budaya rekaan ala Fantasy, Ranah Sembilan terasa sangat kurang solid. Dalam gambar ilustrasi saya juga mendapatkan tokoh yang digambar mengenakan sepatu boot berkancing paku ala cyberpunk yang tidak sinkron dengan setting (Dateng dari mana tuh, teknologi kancing?). Tampaknya untuk aspek budaya ini pengarang asal comot atau asal jeplak aja, yang penting ceritanya jalan. Well, gak tau kalo untuk pembaca lain, tapi kalo untuk gue, cara penulisan semacam itu akan langsung membuat disbelieve gue meningkat tajam. Jadinya gue susah meyakini dunia ciptaan pengarang alih-alih menikmatinya.

Kegagalan pengarang membuat setting yang meyakinkan, telah membuat novel ini jadi terasa 'shallow', kalo menurut gue sih.

Dan akibatnya ke logika gimana? Ya ndilalah sama dan sebangun kacaunya. Banyak hal gak logis berlangsung dalam alur cerita Ranah Sembilan. Lea dan Diana dari Dunia yang sama dengan kita (Jakarta), tiba-tiba saja kejeblos masuk dalam Ranah Sembilan setelah melewati sebuah pintu yang dibuka dengan kunci ajaib (mirip konsep key maker dalam Film Matrix). Kuncinya dikasih oleh seorang kakek misterius,... (Arrrrgh, plot Bobo banget!) Eh ladalah, mengalami kejadian musykil kayak gitu reaksi para karakter utama itu terasa gak logis. Udah gitu orang-orang di Ranah Sembilan juga bertingkah tak kalah aneh, masak liat handphone si Lea, kaleng hairspray, korek api gas, kagak ada yang bereaksi gimana gitu,... padahal itu barang yang suppose to be sangat 'alien' dalam Dunia Ranah Sembilan.

Kalau kita mempelajari alur dalam sebuah novel fantasy (manapun), maka akan senantiasa ada satu 'titik' yang kita sebut aja sebagai "moment of truth", yaitu sebuah titik dimana terdapat semacam peralihan dari Dunia kita ke Dunia Fantasy. Di titik itu, pengarang mulai 'memasukkan' konsep fantasynya ke dalam wilayah pemahaman pembaca. Moment tersebut dapat berada di bagian mana saja di buku, walau umumnya memang terletak di bagian-bagian awal. Boleh jadi ada di Bab 2-3, boleh jadi sudah ada sejak kata pembuka pertama (PS: Satu eksekusi moment of truth yang cukup berani pernah dilakukan oleh Sekar Ayu Asmara dalam bukunya "Pintu Terlarang", moment of truth itu baru diintroduksi pada bab terakhir, membuat pembaca shock abisss :), keren!)

Contoh moment of truth: dalam cerita Narnia, misalnya saat si kecil Lucy memasuki lemari tua dan muncul di sebuah alam aneh bersalju. Atau dalam Harry Potter, pembaca menyadari suatu setting yang 'tak biasa' ketika seorang kakek tua berkacamata bulan sabit menjentikkan korek zippo dan lampu jalanan mati satu per satu.

Pada titik tersebut, pengarang mengintrodusir keberbedaan antara Dunia yang dikisahkan dalam novel, dengan Dunia pembaca sehari-hari (hence the term 'Fantasy' came from). Cara introduksi yang paling umum adalah dengan menggunakan sudut pandang tokoh utama, yang baru memasuki dunia Fantasy itu dan terpapar pada hal-hal yang 'berbeda' dengan dunia sebelumnya. Atau bisa juga pengarang langsung membeberkan narasi mengenai perbedaan tersebut, dan menempatkan pembaca sendiri sebagai saksi yang mengamati perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga perlahan-lahan pembaca 'masuk' ke dalam Dunia Fantasy yang diciptakan pengarang.

Di sinilah proses kritikal sedang terjadi. Bila pengarang tepat membawa pembaca 'tour' masuk ke dunia Fantasynya tanpa memaksa, maka pembaca akan hidup di dalamnya, mempercayai setiap aspek yang digambarkannya, dan mulai ikut bertualang bersama tokoh utama dalam mencapai tujuan si tokoh. Tapi bila gagal, maka pembaca akan berdiri di pinggir ring sambil bersikap kecewa dan melontarkan kritik-kritik ketidak percayaan terhadap cerita.

Satu aspek penting dalam pengenalan setting baru --selain aspek perbandingan visual antara Dunia nyata dengan Dunia Fantasy-- adalah reaksi para tokoh terhadap keberbedaan Dunia tersebut. Reaksi para tokoh ini akan mewakili reaksi pembaca, apabila dihadapkan pada situasi yang sama. Bayangkan kalau anda bangun tidur dan tiba-tiba menemukan diri anda terapung-apung di atas sebuah sekoci di tengah samudra. Apa reaksi anda? Apakah akan menjerit, "Mamiiiiii,...!!!!", atau melihat pergelangan tangan, "Huaah, jam berapa sekarang? Mampus gue bakal telat masuk sekolah, neh."

Lalu dalam tahapan pengenalan berikutnya, mulai terjadi relasi psikologis sang tokoh dengan lingkungan barunya. Dia mulai mengenali kebiasaan-kebiasaan baru, gejala alam yang baru, mulai dapat 'dekat' dan memahami local people, dan mulai dipahami juga oleh local people. Semua merupakan proses yang akan diikuti oleh pembaca, tidak saja dalam rangka mendeliver cerita, tetapi juga dalam rangka memasukkan pembaca dalam suasana yang sama. Proses ini tidak bisa disepelekan, sebab melalui proses inilah kelak pembaca dapat memahami cerita secara utuh, termasuk memahami motif-motif tindakan dari para tokoh dalam novel tersebut, dan signifikansinya terkait situasi dan kondisi yang ada.

Ketika proses ini tak ada, hasilnya adalah 'logika loncat' seperti yang saya rasakan dalam Ranah Sembilan. Adaptasi dua kakak-beradik berusia 17 tahun itu di sebuah dunia asing misterius sangat luar biasa cepat, sehingga saya langsung berkesimpulan bahwa untuk mereka pindah dimensi adalah pekerjaan sehari-hari. Tengok reaksi Lea berikut ini,

"Rasa kelapa. Padahal aku ingin kacang ijo..." (hal 20).

Saat itu Lea mengomentari rasa roti yang dimakannya, Roti yang berada dalam kantong belanjaan yang ikut terteleportasi ke Ranah Sembilan. Time-line, sekitar 5 menit semenjak tersadarkan diri di sebuah tempat asing. Hmm,... dalam novel lain mungkin sang tokoh utama already muntah saat menyadari bahwa dia terbuang ke suatu dimensi lain, alih-alih makan roti,.. hehehe,...

Kalau menurut saya sih, pengarang kurang berhasil mengeksekusi moment of truth ini sehingga Dunia Ranah Sembilan jadi kurang terasa meyakinkan dan polah tokoh-tokoh utama Lea dan Diana menjadi kurang begitu mengesankan. So jadilah masalah dalam hal detail setting dan logika.

Kemudian kelemahan logika lain yang perlu juga disorot adalah penggunaan konsep mata uang dalam sebuah setting Fantasy, terutama setting Fantasy pra-modern. Dalam Ranah Sembilan, mata uang yang digunakan adalah Zeni. Harga budak sekitar 10.000 Zeni-an, dan harga pengobatan Mata untuk kasus kebutaan, adalah 10 juta Zeni. Well, ada sedikit miss di sini. Dalam sebuah setting kebudayaan pra modern, alat tukar adalah benar-benar barang-fisik yang ditransaksikan secara fisik. Artinya setiap kali 'membayar', maka akan dilakukan secara si A memberikan alat tukar (uang) kepada si B, langsung hand to hand. Oleh karena itulah, dalam sebuah kultur pra modern, value alat tukar umumnya menjadi sangat sederhana. Misalnya cuma 1 keping perunggu, terus mungkin 1 keping perak untuk 1000 perunggu, dan 1 keping emas untuk 1000 perak. Oleh karena sifatnya yang ditransaksikan hand-to-hand, akan menjadi sangat tak praktis bila seorang pembeli dan penjual harus menghitung juta-an kepingan Zeni one-by-one. Unless, settingnya memungkinkan orang menghitung uang berdasarkan beratnya dompet atau bobot kantong uang, hehehe.

Implikasinya, dalam budaya semacam ini nyaris tak terbayangkan sebuah nilai harga yang mencapai angka jutaan, wong ribuan keping saja udah bikin jari kapalan. Orang akan lebih cenderung menggunakan misalnya 3 keping emas, dimana nilainya setara dengan tiga juta keping perunggu. So, angka sepuluh juta Zeni itu secara logika setting nggak masuk akal, lebih masuk akal bila menjadi katakanlah 10 keping GoldZeni, ato apa gitu, dimana nilai itu merupakan nilai yang sangat mahal bagi orang-orang Ranah Sembilan.

Konsep juta-milyar, itu baru ada pada konsep moneter modern, dimana nilai uang adalah virtual alias maya, tidak mengikuti barang fisik tertentu. Makanya jumlahnya bisa juta-juta, dan transaksinya bisa pakai kartu kredit, hehehe,...

Tapi kan bisa dibikin mata uang 10 Zeni, 100 Zeni, 1000 Zeni etc? Kayak uang Rupiah. Well, bisa aja, tapi konsep seperti itu membutuhkan adanya suatu sistem moneter yang melatar belakangi setting Ranah Sembilan, sebab artinya kan harus ada pihak yang MENCETAK (atau men-cor?) uang-uang tersebut, menjaga peredarannya laksana Bank Indonesia, mencegah pemalsuan, dll. Nota bene, sudah mengandung adanya sistem perbankan, ya itu mah moneter modern, lah. Bahkan sudah mengandung adanya suatu Pemerintahan yang kuat sebagai backing sistem moneter tersebut.

Untuk karakterisasi, problemnya cukup unik juga. Pengarang piawai bikin karakter dasar dengan ide-ide segar, tapi anehnya gagap dalam mengembangkan karakter dasar tersebut. Misalnya tokoh Diana, yang dikatakan berusia 17 tahun, artinya masih sekitar usia SMA, lah. Tapi di Ranah Sembilan dia ujug-ujug menguasai ilmu kedokteran (sampai se ekstrim punya kemampuan mengoperasi retina mata orang! Woo hoo, SMA-nya di mana tuh biar gue buruan daftarin anak gue dari sekarang!!). Untuk keahlian ini pengarang menyelipkan informasi bahwa Diana suka membaca buku-buku kedokteran, plus belajar sama tokoh Tabib Gila dalam waktu seminggu. Yeah right, dan gue bisa gantiin SBY cukup dengan membaca "The Idiot Guide to Become a President"!

Karakter Bixi yang punya double personality juga merupakan karakter yang menarik. Sebetulnya banyak kejadian heboh yang bisa dikembangkan dari karakter tersebut, yang dalam novel ini kurasakan masih belum maksimal. Di web site juga tertulis indikasi adanya persaingan asmara antara para Dewa murid-murid Kaisar Langit, yang sayang sekali kurang begitu dikelihatan dalam novel.

Satu detail yg gue anggap gak perlu, adalah penggunaan istilah 'imdok' untuk mengganti istilah tenaga dalam. Sesuatu yang terasa mubazir, sebab istilah 'tenaga dalam' juga tetap dipakai oleh pengarang, dan kata imdok itu sendiri juga gak punya fungsi apa-apa lagi selain dipakai sebagai: imdok. Persoalannya, tanpa mengganti istilah "tenaga dalam" dengan "imdok" pun pembaca ngga kehilangan apa-apa, ga ngaruh. Itu seperti mengganti kata Sendok dengan Cungpu, tapi kemudian gak jelas kebutuhannya dalam cerita.

Kalo kita belajar dari Harry Potter yang menciptakan kata "Muggle", kita masih bisa menangkap keselarasan kata tersebut dengan bahasa induknya (bahasa Inggris), dan dari segi ekspressi juga mengandung rasa 'merendahkan' yang mewakili pikiran para penyihir terhadap orang biasa. Untuk kata 'imdok', biar saya bulak-balik kiri-kanan depan-belakang saya gak bisa punya feeling dari mana munculnya kata tersebut dan apa pentingnya kata tersebut diciptakan, sementara penggunaan 'tenaga dalam' sendiri sudah cukup sufficient dan gak merusak cerita in any way. Kenapa bisa begitu? Mungkin masalah terbesar adalah tidak adanya constructed language yang memback-up keberadaan kata tersebut, sehingga terkesan kata itu muncul aja dari udara kosong.

Terus terang, gue sempat mengira buku inilah yang sudah memenangkan penghargaan sebagaimana tertera di atas, sesuai informasi yang saya ambil dari sampul depan buku. Wajar dong, bila gue mengira demikian. Makanya setelah membaca sekitar dua bab, gue sempat terheran-heran, apa ada yang aneh dengan otak para juri DKJ 2003, materi kayak gini (kacaunya) koq bisa didapuk jadi juara. Saking heran bin penasaran, gue search di internet, dan barulah gue tahu bahwa yang dimaksud "Juara" adalah sang pengarangnya, Dewi Sartika, melalui sebuah novel berjudul Dadaisme, Oh, gitu rupanya. Memang sampul itu sedikit menipu, hehehe,.... walau gak kriminal-kriminal amat. Ya gapapa lah.

Jahitan berikutnya yang kuanggap kacau, adalah plotting. Dan ini pun bisa menjadi catatan unik. Garis besar plottingnya sebetulnya standar, tentang petualangan dua orang asing di sebuah negeri pesilat, menghadapi intrik-intrik persilatan seperti pencurian kitab-kitab penting, pendekar mengambil murid, jagoan tanpa tanding, usual Kho Ping Hoo stuff. Di luar plot "Terlempar ke Dunia Lain" yang udah terlalu klise itu, sebenernya alur cerita Ranah Sembilan gak terlalu jelek. Apalagi pengarang mengisinya dengan variasi karakter yang, jujur aja, cukup menarik. Tapi ada satu hal yang membuat novel ini menjadi jatoh ke level pretensiusisme (halah!) yang membuatnya gak enak dinikmati secara gak perlu.

Pengarang menerapkan teknik non-linear dalam alur penceritaannya. Maju-mundur, loncat depan-belakang-samping, etc. Lantas apa yang aneh? Toh banyak penulis menerapkan strategi yang sama, untuk membuat alur menjadi lebih menggigit.

Well, kalo menurut gue sih, penerapan alur non-linear dalam kasus ini gak terlalu tepat, atau gak tereksekusi dengan bagus. Yang ada, jadinya pembaca seperti dibolak-balik secara nggak perlu dan mencecerkan kenikmatan membaca di sepanjang jalan. Entah gimana, gue merasakan alur loncat-loncat yang digunakan pengarang justru memadamkan efek klimaks dari cerita alih-alih membuilding-up tension sebagaimana yang diinginkan. Akibat dari loncat-loncat ini pula, perkembangan karakter tiap tokoh menjadi kurang terasa, sebab di sisi pembaca tidak cukup sempat tumbuh 'intimacy' untuk menyelami pribadi atau persoalan masing-masing tokoh, padahal tiap tokoh sudah diset memiliki basic character yang menarik untuk dieksplorasi.

Dan 'gong'nya kekacauan plot ini justru berada di akhir halaman, bahwa setelah membalik 247 halaman dengan penuh kesabaran, gue gak menemukan ENDING! Gila, ini ending-gantung-paling-gantung yang pernah gue temuin, dan betapa ingin gue menggantung penulis yang bikin ending gantung segantung ini,...hehehe. At the end, cerita gak bergulir ke mana-mana sebab tidak ada klimaks yang signifikan. Seolah-olah semua tokoh akhirnya duduk di akhir halaman bersama-sama, dan kompak ngomong sama pembaca, "Tungguin kita di sekuel-nya yaaa!" (Hyperbolic expression intended!). Il-fil banged, gue!

Kelemahan jahitan yg lain adalah dalam ilustrasi. Penerbit memilihkan ilustrasi ala Manga yang eksekusinya agak kasar. Untungnya gambar discan dalam proporsi kecil-kecil, sehingga tampak lebih rapih. Tapi terus terang aja gaya manga menurut gue gak terlalu kuat mendukung cerita, apalagi ada masalah 'saltum' seperti yang sempat gue singgung di atas. Di dalah satu halaman ada gambar pencarian Buronan Senyo Gelap, pembunuh berdarah dingin, yang digambarkan memakai sesuatu serupa Jaket kulit dipadu-padankan dengan sesuatu serupa T-shirt, mengingatkanku pada bintang sinetron Korea. Sekali lagi, bukan gambarnya jelek, tapi dalam genre Fantasy, semua aspek harus bisa saling melengkapi untuk membuat dunia yang believable dalam pikiran pembaca. Dan khusus untuk ilustrasi, harap ingat bahwa dalam ilustrasi ada part yang tampak jelas bagi pembaca, yaitu properties (barang-barang, pakaian, aksesoris). Properties itu harus kompak dengan konsep settingnya. Kalo gak kompak kan jadinya aneh.

Tapi BTW, novel ini menghadirkan ilustrasi peta yang bagus, dan desain sampul yang lumayan, terutama dalam hal keberanian membuat gimmick nge-bolongin cover dengan bentuk mirip angka sembilan. Yah, bikin terasa fresh aja, dan menjadi menarik di rak penjualan.

Sisi positif lainnya buku ini, adalah bahasa yang terstruktur baik. Ga percuma lah, pengarang jadi juara DKJ, memang kemampuan tulisnya sudah prima. Mungkin genre Fantasy-nya aja yang masih belum dikuasai oleh beliau, sehingga jahitannya jadi gagap begini.

So, pelajaran apa yang bisa kita petik di Ranah Sembilan? I guess: Setting-setting-setting, detail-detail-detail, logika-logika-logika

Mau-mau-mau,..???


FA Purawan

Selasa, 09 Desember 2008

NOCTURNAL (Poppy D. Chusfani - 2008)



Data buku:

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: tak tertera, tapi pada Ucapan Terima Kasih, pengarang menyebut nama: Anas
Desain Sampul: eMTe
Tebal: 254 halaman

Apa jadinya, jika JK Rowling menuliskan buku pertama Harry Potter hanya setebal 200 halaman?

Apakah buku itu akan tetap meledak dan menempatkan JK Rowling dalam statura nya seperti sekarang ini? Apakah Trio Harry, Hermione, dan Ron akan tetap menjadi tokoh-tokoh yang dicintai oleh jutaan pembaca? Apakah buku itu akan tetap difilmkan oleh blockbuster studios dan menghasilkan impact yang demikian dahsyat pada budaya pop kita di abad ini?

Well, gak usah sampai semuluk itu, deh. Yg langsung aja: apakah kita, sebagai pembaca, akan merasa puas dengan porsi sebuah buku Harry Potter yang cuma 200-an halaman.

Itulah, pertanyaan yang aku ajukan terhadap Nocturnal, sebuah karya Fantasy dari pengarang Poppy D Chusfani yang diterbitkan oleh salah satu penerbit besar Gramedia Pustaka Utama.

Kenapa gue mempertanyakan hal tersebut? Well, lanjutin aja baca review ini.

Tahu kenapa gue demen ama steak Abuba? Rasa dagingnya enak, servisnya cepet gak neko-neko, harganya pas tapi yg pentiiing: porsinya pas. Gak kebanyakan, tapi juga gak kedikitan.

Kebayang, nggak? Apa enaknya makan steak dengan daging seukuran tempe goreng standar. Biarpun rasanya nendang, biarpun harganya lebih murah. Teteup aja kita akan mendecak gak puas, celingukan cari-cari tambahannya, dan kalo gak tersedia, doesn't matter bahwa yg sepotong kecil itu sebenernya telah dimasak dengan lekker, tetep aja kita akan memaki-maki si restoran atas kepeditannya bikin menu.

Itulah case Nocturnal menurut gue. Sebuah karya yang sesungguhnya bagus dan solid, namun 'dipaksa' tersaji terlalu sedikit, sehingga alih-alih puas, membacanya seolah seperti menyantap steak seukuran satu gigit doang.

Apa? Sekedar teaser katamu? Agar pembaca penasaran dan memburu sekuel-sekuelnya? Well, untuk genre tertentu, mungkin rumusan itu bisa benar. Tapi untuk Fantasy, segmen pembacanya gak akan puas dengan cuma disuguhi porsi setara nasi kucing. We want more! Kurasa memang orang-orang semacam JK Rowling sangat paham akan hal itu, sehingga dia tidak terima saran agar Harry Potter edisi pertamanya dicetak dalam sub episode kecil-kecil (sebagaimana menurut pendapat industri buku saat itu, porsi yang aman buat penulis pemula), padahal di kala itu dia sendiripun masih desperate writer looking for a job.

Bicara kualitas, harus diakui bahwa Nocturnal dikreasikan secara top quality. Desain covernya cantik, dengan ilustrasi grafis yang bagus punya, karya eMTe (heran, ngapain juga menyamarkan identitas untuk sebuah karya yang layak puji? Tapi ga tau juga, yah. Siapa tahu nama eMTe ini sudah already kondang sebagai ilustrator sampul, cuma guenya aja yang gak gaul). Yeah, logo kecil di sudut itu memang norak dan menganggu, well, what the heck, anggep aja sticker yg ditempel sembarangan oleh balita. Secara keseluruhan, desain cover depan-belakang is very good.

Dalam aspek penulisannya sendiri, pengarang Poppy D Chusfani, yang juga merupakan salah satu penerjemah handal jajaran Gramedia, tidak mengecewakan. Kisah Adelia sang princess (calon Baroness) di negeri rekaan Adlerland bergulir lancar dengan berbagai tantangan dan konflik khas seputar 'reluctant hero' sampai menemukan klimaksnya di akhir cerita.

Plot ceritanya antara standar dan non-standar sekaligus. Bagian standarnya: well, tokoh protagonis cewek yang somehow punya lineage bangsawan tapi ended up bersekolah di Jakarta dengan kehidupan ala tokoh ChickLit biasa yang missi hidupnya gak lebih tinggi dari sekedar ingin jadi penari ballet, and so on, and so on. Kemudian tiba-tiba masuklah plot non-standar berupa panggilan untuk 'pulang' ke Adlerland, tanah leluhur para Nocturnal. Di sana' kehidupan Adelia berubah 180 derajat sebagai calon baroness istana klan Nocturnal, memimpin the whole clan doing battle with para penghuni Transylvania just across the hill (you know what, kan?). Jelas itu plot non-standar, and a very delicious one! (Oke-oke, the princess part emang ga terlalu non-standar buat ChickLit, tapi akui aja, being a member of the cat people is not on every ChickLit's list. Heheheh).

Yang membuat cerita menjadi menarik, adalah atensi pengarang yang cukup sempurna terhadap detail. Ada banyak aspek dalam universe Nocturnal, dan semuanya diperhatikan dengan teliti oleh pengarang. Dari sisi tokoh Adelia, yang menggilai ballet, pengarang berhasil menanamkan aspek ballet ini secara detail (dan pengarang memang udah belajar ballet sejak 10 tahun, so pengetahuannya tentu sangat bermanfaat untuk menghidupkan sang tokoh), berikut beberapa istilah khusus ballet yang membuat aroma balletnya memperkuat believability.

Setting Adlerland juga cukup rapi dan rinci, termasuk pemandangan alam dan situasi landscape (istana Raja, istana baroness dll), memperkuat nuansa Fantasy yang ingin ditampilkan pengarang. Setiap aspek dalam setting juga hadir secara wajar dan tepat.

Bahkan detail budaya pun tak dilupakan oleh pengarang. Budaya Jakarta hadir secara pas, kemudian budaya Adlerland yang semi Jerman plus situasi aristokrat dalam setting istana. Saya suka dengan small touch yang mengena, seperti panggilan Adelle untuk nama Adelia di kalangan orang-orang Adlerland, atau malah menjadi panggilan sayang "Ada". Sekali lagi, small touch, but sweet dan menyebabkan impact suasana yang berbeda.

Jika ada yang perlu dikritik dalam hal setting ini, adalah kurang signifikannya peran "Indonesia" dalam universe Nocturnal. Adelia yang berasal dari Jakarta tampak begitu blend dengan Negeri Adlerland yang berbahasa Jerman atau Inggris, dan dalam beberapa hari saja sudah menjadi orang Adlerland sejati, kagak terasa lagi sebagai anak Indonesia kecuali busana kebaya yang digunakan untuk menghadiri pesta di Istana raja. Well, serasa nggak ada dampaknya terhadap plot, apakah si Adelia itu besar di Indonesia, atau di Filipina, atau di Afrika.

Pengarang juga sudah membuat setting yang potensial banget buat menggerakkan plot. Ada 'putri' yatim yang harus menyesuaikan diri dalam kehidupan baru yang sangat asing, ada kaum manusia berkemampuan khusus yang punya sembilan nyawa, ada kaum Vampir, ada pertarungan wilayah kekuasaan antara Kerajaan Adlerland dengan kaum Vampir Transylvania, ada musuh dalam selimut,... well basic settingnya udah asyik, dan pengarang sudah mengembangkannya secara cukup mengasyikkan.

Paduan dari setting dan plot yang solid ini melahirkan kisah yang enak untuk dinikmati, dan terus terang membuat sekuel-sekuelnya menjadi layak untuk ditunggu. Saya hanya punya sedikit catatan kecil dalam hal penyusunan setting oleh pengarang.

Misalnya istilah Nocturnal untuk menggambarkan klan manusia kucing (alias manusia yang diberkahi kekuatan kucing dan memiliki sembilan kali kesempatan hidup alias sembilan nyawa). Well, 'Nocturnal' sendiri adalah istilah kata sifat yang bermakna 'aktif di malam hari', umumnya digunakan terhadap hewan-hewan yang mencari makan di waktu malam dan tidur di waktu siang. Not necessarily refer ke kucing, sebenernya. Sampai saat ini saya juga masih iseng cari-cari istilah yang merefer ke manusia-kucing di internet, sayang belum dapet juga. Inget dulu ada film Cat-People, mungkin ini referensi paling dekat dengan kaum Nocturnal-nya Poppy, tapi bedanya di film Cat-People orang-orangnya bisa bener-bener bertransformasi menjadi kucing garong, hehehe.

Artinya penggunaan istilah Nocturnal mungkin agak tidak tepat. Mungkin malah lebih eksotik kalo bisa dapet istilah yang berbau-bau bahasa Mesir.

Kemudian exact nature-nya Nocturnal ini juga rasanya masih belum jelas. Mungkin akan diperjelas dalam sekuel. Tapi buat saya ada satu dimensi yang 'hilang' ketika pengarang mengolah setting ini dalam cerita, yaitu ketiadaan aspek 'magic' dalam universe Nocturnal. Kelebihan manusia Nocturnal dalam novel ini adalah sebatas kemampuan fisik yang lebih kuat, lebih cepat, lebih ganas, dan sense-nya lebih acute dari manusia biasa (termasuk juga adanya sembilan nyawa itu). Tapi sebabnya apa? Kind of magic, juga kan? Lawannya, para Vampir, juga hanya tampil lebih-kurang sama secara fisik. Nah, di sini aspek magic tidak terlalu diolah, terkesan diabaikan. Padahal ruang untuk bermain magic sangat besar di sini, mengingat settingnya sangat membuka peluang ke arah sana. Itu sebabnya 'kekalahan' sang raja Vampir di tangan Adelia menjadi sedikit kurang logis, sebab sang raja yang sudah berusia tujuh ratus tahun seharusnya punya kekuatan magic yang gak kecil,....

Jadi kesannya, setting banyak dipengaruhi oleh setting film-film Vampir Hollywood yang lebih mengedepankan aspek fisik.

Catatan lain tentang nama juga, adalah penamaan Adlerland,... gimana yah, rasanya koq kurang berasa 'Jerman',... hehehe. Ga tau deh, apakah sebenernya secara ilmu pembentukan kata udah benar atau belum. Tapi kupikir mengingat tetangganya adalah Transylvania, Rumania, mungkin nama yang cocok adalah yang ada bau-bau "Nia" juga, kali-kali seperti Adlervania, getoh (hehehehe).

Di luar catatan tersebut, menurut gue sih Nocturnal sudah merupakan karya yang 'genap', alias segala sesuatunya sudah berada dalam pertimbangan yang pas.

Tinggal,.... my biggest complaint: Semua terasa berlangsung terlalu singkat!!

Yah akibat cuma 254 halaman, apa mau dikata seperti nonton LOTR dalam bentuk condensed. Pengarang sudah berusaha untuk membuat irama baca yang mengalir namun tetap kompak. Saya akui dia cukup berhasil. Tapi sebagai penikmat Fantasy, saya ngerasa banget bahwa cerita ini sesungguhnya baru 'pas' bila dibikin lebih 'kaya'.

Seperti yg saya bilang, apa rasanya baca Harry Potter cuma 200 halaman? Saya akan miss suasana Hogwarts, saya akan kehilangan rasa mengenai bagaimana murid-murid Hogwarts di tahun pertama, kedua, ketiga, kehilangan mata-pelajaran Hogwarts yang seru-seru, kehilangan romatika Quidditch dan seterusnya,..... semua hal yang mensignifikansi kehadiran Dunia Harry Potter dalam imajinasi saya. Semua hal yang menyebabkan Harry Potter tak sekedar cerita tentang anak laki-laki yang bersekolah sihir.

Betapa gemesnya saat membuka-buka halaman Nocturnal, kala saya merasakan perasaan yang sama, ingin agar part ini-itu lebih diperluas dan diperkaya lagi. Karakter Adelia yang walaupun sudah cukup bagus diolah pengarang, tetap terasa perlu lebih 'dalem' lagi, konflik-konfliknya, perkembangan karakternya,... semuanya terasa perlu lebih. Karakter lainnya pun deserves halaman lebih. Bahkan si Vladimir sang antagonis pun, rasanya perlu dapat porsi tambahan halaman.

Yah, saya nggak bisa terlalu menuntut.

Tapi judging dari kemampuan pengarang mendeliver ceritanya dalam format 254 halaman ini, saya bisa memperkirakan bahwa beliau sebenernya punya kemampuan untuk mendeliver lebih dari itu (dan tetap bagus!). Tuntutan 250 halaman, kalau boleh saya tebak, ya gak lain berasal dari pihak penerbit, mungkin dalam rangka strategi.

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa bikin buku di Indonesia sebaiknya jangan tebal-tebal, sebab:

a. Harga kertas mahal, harga buku nantinya jadi mahal
b. Orang Indonesia nggak demen buku tebal
c. Resiko penerbit kalo bukunya gak laku akan lebih tinggi bila buku tebal.

Jadi cukup bijak bila penerbit tidak berani cetak buku tebal-tebal, cari aman.

Tapi entah, bagaimana saya harus ambil posisi, jika ada pengarang sepotensial Poppy terhalang kemajuannya akibat strategi cari aman penerbit. Well, toh penerbit bisa melihat materi-nya, dan apakah materi seperti karya Poppy ini tak mampu menimbulkan rasa percaya diri penerbit akan kualitas pengarangnya? Ironisnya hal itu justru dilakukan oleh penerbit gede! Mungkin malah bener kata orang, semakin gede justru semakin sulit ambil resiko.

Kalau saya coba merefleksikan, memang saya lihat jarang banget GPU mau nerbitin karya pengarang lokal, yang tebal. Keluaran GPU rata-rata tipis, dan mainnya di segmen aman seperti Teenlit (Even Nocturnal juga di'paksa'in masuk ke genre Teenlit!). Terbitan tebal GPU hanyalah di novel-novel terjemahan yang udah jelas lakunya di luar negeri. Emang jelas banget niat main amannya.

Tak heran bila GPU gak pernah mencatat block-buster, katakanlah sebagaimana Bentang-Mizan menangguk sukses lewat Tetralogi Laskar Pelangi (Nah, sekali lagi apa jadinya Laskar Pelangi bila tebalnya cuma seratus halaman? Hehehe,...). Yah, seperti kata orang, no pain, no gain!

Tapi anyway, adakah cara untuk menambah kepercayaan diri GPU? Setidaknya jika mereka punya jajaran penulis sebaik Poppy D. Chusfani (dan kita tahu lah, GPU punya standar kebahasaan yang bagus sekali), mustinya mereka tidak usah takut ambil peran sebagai garda depan literasi Fiksi Fantasi Indonesia, yang bener-bener berani nerbitin buku Fantasy yang memuaskan pembaca Fantasy Indonesia. Nggak ada salahnya dong, aku berharap? Soalnya menurut gue secara infrastruktur knowledge, know-how, maupun SDM mereka udah mumpuni. Yang belum ada cuma Visi dan keberanian aja.

Terus-terang itu pertanyaan yang tak mudah dijawab. Dan best we leave that as it is. Hanya satu yang jadi harapan saya, untuk Poppy: jangan kau kekang kreativitas yang luar biasa itu, dan kalau memang mungkin, please wujudkan your Nocturnal Universe in it's fullest potential! Gue percaya banget sama karya kamu!

Salam

FA Purawan

Sabtu, 22 November 2008

TANRIL - Epik Ho Wuan Siang (Nafta S. Meika - 2008)


Data buku:

Penerbit: AKOER
Editor: Aries Rayaguna Prima
Tata Letak Isi: Ibenk Bonanno
Fotografi: Andry Photography
Tebal: 405 halaman


Keren,....... Banget.

Maghrib tanggal 17 November 2008, saya menutup buku karya Nafta S. Meika ini dengan perasaan puas campur aduk, seolah-olah ledakan Chi sang tokoh pendekar dalam buku ini masih terngiang-ngiang dan mengaduk-aduk Chi saya sendiri, menjadikan tubuh panas dingin dan kepala seperti melayang dalam ekstase.

Duile, segitu hebohnya pengaruh sebuah novel?

Well, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Boleh jadi pengalaman yang saya rasakan kali ini adalah semata akibat dari sinkronitas sebagai penggemar silat yang menemukan kisah silat yang demikian cucok di hati, hehehe,... seperti tumbu ketemu tutup, seperti jejaka ketemu jodoh.

Atau, simply karya Nafta memang merupakan sebuah masterpiece? Ups, mungkin saja aku terlalu terburu-buru. Kata orang, satu karya belum dapat membuat kau bicara masterpiece, harus dikomparasi dengan karya-karya lainnya dulu. Sekalipun sudah pernah ada karya lain dari pengarang yang lebih dulu terbit (Rhadamanthus: The #1 Campus Hacker - 2005), Tanril ini tetap didapuk sebagai sebuah karya debutan, alias karya pertama dari seorang Sarjana Teknologi Pangan dari Universitas Pelita Harapan. Entah mungkin maksudnya "pertama" dalam konteks genre silat atau apa, kurang tahu deh.

Tapi jelas, bahwa terhadap karya ini, saya terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dalam menggelar review saya, karena kiranya dengan cara yang biasa tidak akan mempan. Oleh karena itulah, sebelum menulis saya sudah mempersiapkan setumpuk panah-panah beracun, gendewa wasiat peninggalan Majapahit, pedang pusaka Bu Tong Pay yang selama ini saya simpan di safe deposit box BCA, keris Nagasasra yang saya titipkan di kantor redaksi Buana Minggu, sederet botol-botol penuh racun tujuh dunia, empat kitab pusaka Shaolin Wetan yang demikian wingit rahasianya sampai orang-orang Shaolin sendiri gak tahu bahwa ada Shaolin Wetan, serta dua belas jilid buku strategi perang dari Negeri Utara sampai Selatan. This one, harus dihadapi dengan sangat serius dan penuh perhitungan.

Tanril, di saat pertama kucomot dari rak buku Gramedia, muncul di antara sederetan novel silat baru yang terbit bersamaan di kisaran bulan Oktober. Kalau tak salah ada dua judul selainnya: Pelangi di Glagahwangi (S. Tidjab) dan serial Pangeran Anggadipati (Saini KM, yg tiga seri). So, positioning awal-nya kukira sebangun dan sejenis dengan genre silat klasik Nusantara yang sedang mengalami (sedikit) revitalisasi itu (dengan penuh harapanku, agar pasar pun menyambutnya. Jangan sampai genre silat mati!). Otomatis kupikir novel ini tak akan beda terlalu jauh.

Namun kulihat sedikit keganjilan pada cover novel. Ada kekurang-harmonisan layout yang membuatku mengerutkan kening. Cover depan bergambar foto sebentuk Cincin kepala Naga berlatar putih yang resik, dengan tulisan kapital TANRIL (huruf I-nya diganti semacam foto tusuk konde China). Rapi jali sehingga berkesan desain layout novel modern (jadi ingat covernya "Gelang Giok Naga"). Kalo rumah, maka padanannya adalah konsep rumah modern minimalis. Tapi Cover belakangnya secara cukup ancur digelar menurut pakem layout Metromini: Lukisan ilustrasi Silat Cina klasik dimontase dengan dua textbox dengan font berantem-sangat. Satu font Arial, dan di bawahnya font miring-sambung di-bold. Padat, memusingkan mata, dan sangat tak berselera dibandingkan cover depan. (DAS!! Sebuah sengkatan kaki kananku berjuluk jurus "Kepodang Jantan berbulu Kuning membersihkan tongkol Jagung di Pagi Bulan Desember" mengena telak, membuat pendekar Tanril terjerembab! Ha ha!)

Coba, cover depan dan belakang gak kompak. Yang bikin mungkin dua orang berbeda.

Tapi toh isi teks box itu membuat lenganku, yang hampir mengembalikan sang buku aneh ini ke tempatnya, terhenti. "Fantasi unik,...Kho Ping Hoo Kontemporer,...menggabungkan The Matrix dan Sin Tiauw Hiap Lu,....". Entah who the hell yang bikin endorsemen ini, tapi yang jelas aku jadi tertarik.

Walau sinopsis yang berada di box tulisan miring-sambung-bold itu juga tak menolong banyak, sebab sangat terkesan sebagai sinopsis Kho Ping Hoo-iyah biasa, cuma ada satu detil kecil yg bikin curious, ada nama "Kurt Manjare" disebut sebagai "pendekar eksentrik yang pilih tanding". Kurt? Nama pendekar yang nggak umum. (Dan kurasakan si Pendekar Tanril mulai pasang kuda-kuda. Hawa pembunuhnya mulai menggetarkan udara. Tapi aku tak gentar,...). Sepotong nama kecil itu membuat instingku bekerja. Something is not right, here,.... ada yang gak biasa, dan it's worth an investigation. So, berpindahlah buku itu ke kantung belanja gue.

Dan saat gue buka halaman pertama,.... mataku langsung mengeluarkan tangisan darah: ALAMAK, TULISANNYA KECIL-KECIL BANGET! Dengan font sekecil itu memadati sehalaman kertas, saya seperti melihat sebuah naskah di kertas ukuran Folio ber font 12 difotokopi perkecil 30%. Bayangin 'cape-deh'nya. (pedang Bu Tong Pay ku langsung menyambar bagai angin moonson, sebuah pembedahan telak pada layout isi, si Pendekar Tanril tak bisa lari kemana-mana lagi. Mampuslah si Ibenk Bonanno itu,.. hihihi). Entah apa maksud penerbit dengan mencetak siksaan mata seperti itu. Jelas genre buku ini adalah konsumsi awak usia separo baya yang matanya sudah pada lamur. Apa harus bawa-bawa suryakanta, lah kami? Anak-anak muda pun mana pulalah tertarek membaca novel bertuliskan mungil begitu ropa.

(Kupersiapkan pukulan terakhir di bidang layout dengan jurus "Badak Ngajugruk Nyaruduk tanpa Ampun" yang dijamin membuat Pendekar Tanril tertekuk sembilan lipatan). Dan pengarang (atau layouter?) juga membuat blunder kedua: paragraf ala Amerika tanpa hanging indent (seperti layout blog ini) yang kurang familiar untuk novel, serta kekacauan konvensi penggunaan huruf italic (huruf miring) pada teks. Yang terakhir ini, bagiku benar-benar membuatku kacau. Dialog ditulis dengan huruf miring, membuat otakku acap salah menerjemahkannya menjadi bahasa pikiran si tokoh. Ada juga narasi yang dicetak miring, tanpa jelas apa penyebabnya. Terus terang saja, tempo membaca saya jadi melambat secara signifikan akibat hal ini. Saya butuh 3 mingguan untuk menyelesaikan Tanril, despite cerita dan penulisan yang sesungguhnya bener-bener memikat gue.

Jadi, satu hal yang saya pelajari hari ini: Eksperimen penulisan paragraf non-konvensional, jarang-jarang-jaraaang sekali bisa berhasil. So beware.

Kemudian satu lagi glaring nuisance yang saya temukan di buku Tanril: Settingnya nya ga jelas mau ke mana. Awalnya kupikir setting ala Tiongkok berkat penamaan-penamaan bahasa Mandarin serta suasana yang mirip dengan settingan Kho Ping Hoo. (Keris Nagasasra mulai dicabut dari warangka-nya, menyambar cahaya kuning menyilaukan,...). Tapi kemudian muncul nama yang aneh, Wander Natalez Howard, kadang dipanggil Wuan,... terus nama-nama lainnya tak kalah aneh, Kokru, Fyure, Miar, Asyu, Chiru'un, Kota Fru Gar, Kurt Bodan Manjare, sampai pada Kerajaan Telentium,.... baru gue tersadar,... ini rupanya adalah sebuah Setting Fantasy! (Aku berdiri gamang, terpaku dalam ketertegunanku. Pendekar Tanril mengembangkan kedua tangannya ke samping, tersenyum samar, dan mulai mengibaskan tangan diikuti lengan bajunya berkebut ringan. Energi serupa asap kabut berwarna kelabu meluncur, sebagian besar menerjang kilau Nagasasra dan membuatnya redup bak pelita kehabisan minyak. Shin Jin Li Zan, tingkat pertama. Batinku tergetar, tapi aku berusaha bertahan dengan memperkuat kuda-kuda,...).

Selanjutnya novel membanjiri saya dengan nama-nama asing yang kini menjadi eksotis berkat paradigma yang sudah berubah. Karena ini setting Fantasy, saya jadi mulai bisa mentolerir nama-nama aneh yang 'tak pada tempatnya' bila kita menggunakan paradigma setting Tiongkok. Tapi jangan keburu senang, sebab saya tetap akan membaca secara kritis, terutama untuk menemukan apakah keberadaan nama-nama ini kontekstual atau sekedar asal tempel. Setidaknya, saya akan menemukan apa efek nama-nama ini terhadap eksistensi setting Fantasy yang sudah dibentuk pengarang. Apakah memperkuat, ataukah memperlemah setting.

Cerita novel ini sendiri sesungguhnya cukup klise sesuai pakem cersil. Ada seorang anak yang penyakitan (namun sesungguhnya memiliki potensi Chi luar biasa dalam dirinya) dari keluarga sederhana yang melalui perjuangan berliku menemukan guru yang mementaskan potensinya, kemudian menghadapi lawan berat sebagai salah satu ujian bagi ilmunya, sambil memecahkan tempurung diri-sejatinya melalui proses tersebut. Plot standar. (Aku menyunggingkan senyum pelecehku, "Dewa Selatan memandang rendah kepiting batu di bawah pasir", berharap membuat lawanku ciut nyali.)

Plot standar. Yang tidak standar adalah pengolahan setting dimana plot dimainkan. Harus saya akui, pemilihan latar belakang Tiongkok sebagai bahan dasar universe di Tanril merupakan salah satu approach yang unik untuk genre Fantasy. Sudah biasa bila pengarang kita menggunakan Setting ala Barat/ medieval, dengan kebudayaan pra Europa sebagai basis setting novel Fantasy mereka. Tidak terhitung sudah negeri-negeri berkastil dengan ksatria berbaju zirah, pedang double blade Eropah, konfigurasi Raja-Ratu-Pangeran-Putri yang monogamis dan berbentuk keluarga batih, petani yang tidak menanam padi melainkan gandum, peri, naga, penyihir, Elf, Kurcaci, Orcs, Troll, Goblin, Alkemis dan lain-lainnya bercita-rasa Eropah dikaryakan dan diolah oleh pengarang-pengarang kita, sehingga cenderung membentuk imaji tersendiri bahwa yang namanya 'Fantasy' pasti berlatar belakang 'kayak gitu-gitu'.

Approach 'adaptasi' yang mirip, tapi menggunakan latar belakang budaya yang berbeda, menjadikannya sebagai Fantasy yang fresh. Ya, kenapa harus Eropah? Kebudayaan Tiongkok rekaan juga tak kalah menariknya! Sama-sama mengandung elemen-elemen yang membuat cita rasa Fantasy terasa lekat di lidah. Ada Kebudayaan alternatif, ada kerajaan, ada karya seni (seni tenun kain ber-magic yang disebut Luan), bahkan sistem kerajaan yang mengadopsi Tiongkok juga terasa segar: ada Raja dan Permaisuri, ada Selir Pertama, Pangeran Pertama, Kedua, Ketiga, dan terasa ada sistem kerajaan yang lebih masif dari pada Eropah punya. Well, unik! Ada juga 'ARTS' (dari mana munculnya istilah bahasa inggris di universe Tanril ini?) untuk menyebutkan ilmu Silat, yang bukan hanya sekedar ilmu silat belaka, melainkan sudah menjadi suatu bagian dalam kebudayaan di dunia Tanril. Selain itu,ada sistem ekonomi yang berlandaskan pada komoditi 3 tanaman suci: Teh (Maliya), Kopi (Eniya) dan Cokelat (Kaliya), dimana keberadaan tiga tanaman ini dipengaruhi kondisi geografis, yang pada akhirnya mempengaruhi sistem politik dunia Tanril. Sebuah tata-aturan Universe yang lengkap! (Roh Hijau Gunung Biru -- Tingkat kedua dari Jin Li Zan dihembuskan oleh Pendekar Tanril melalui kedua telapak tangannya. Kuda-kudaku doyong ke belakang. Energi hijau ini tidak mematikan, tetapi membuat seluruh keberadaan seolah menjadi tunduk, berlutut di bawah pesona alam yang agung dan hangat. Aku memejamkan mata, berusaha memanggil Roh Gunung Es Utara agar diriku tetap diliputi hawa dingin sebagai energi penggores pena reviewku. Hooossss,... hoossss,... harus teteup obyektif! Hooossss,....).

Dan kebudayaan rekaan ini diperlengkap dengan sistem constructed languange (Con-lang), alias bahasa rekaan, yang ngaujubilah detailnya. Ada dua bahasa: Bahasa Clem (c) dengan Bahasa Zirconian (z), dalam kamus glosari yang kelengkapan detailnya membuat gue merinding. Bahasa Clem terkesan seperti bahasa Arabish, sementara bahasa Zirconia mirip bahasa Mandarin. Sekalipun pengarang tak memberikan rumus lengkap con-langnya, bagi yang membaca kamus glosari di halaman belakang dan petikan-petikan syair dalam either bahasa, pasti akan punya rasa bahwa Zirconian maupun Clem memiliki struktur dan makna lengkap sebagaimana sebuah bahasa utuh. Dan yang spesial buat novel Tanril, keberadaan bahasa ini sangat intergral di dalam cerita, termasuk dalam mengantarkan plot sekaligus memberi karakteristik Fantasy dalam setting yang sudah dibangun. Terutama bahasa Zirconia yang digunakan untuk menyenamai artefak kebudayaan penting dalam Universe Tanril, seperti karya seni Luan, nama-nama jurus arts, dan lain-lain. Dwi bahasa itupun hadir bukannya tanpa alasan. Bangsa/ Klan Clem saat itu 'menjajah' Zirconia. Akibat 'keakraban' pembaca dengan con-lang ini, nama-nama yang tadinya aneh seperti adonan nama eropah atau cina menjadi 'masuk' dengan rapih ke dalam universe. Sebuah keberhasilan telak, menurut gue.

(Pendekar Tanril maju selangkah, sementara tubuhku terlempar beberapa depa ke belakang. Pukulan Zirconian dan Clem begitu telak, membuat aku terpaksa melepaskan wilayah kedudukanku, dan majulah si Pendekar Tanril sambil menancapkan bendera: UNIVERSE SETTING: COMPLETE. Aku harus mengaku kalah untuk segmen ini!).

(Tapi, tentu saja aku belum menyerah! Kami sepakat mengaso sejenak. Pendekar Tanril memberi kesempatan padaku untuk mengatur napas dan memboreh luka-lukaku. Sambil duduk, kami bertukar teori mengenai ilmu Silat, ditemani cairan teh Maliya murni yang konon merupakan minuman raja-raja di Telentium ).

Dalam sebuah novel Silat, tentunya ilmu silat menjadi napas utama. Kalau dalam dunia Kho Ping Hoo, biasanya pertarungan silat dikaraterisasi oleh keberhasilan melumpuhkan lawan melalui totokan. Dalam dunia Miyamoto Mushashi, sang pemenang adalah siapa yang keluar hidup-hidup dengan katana di tangan. Bagaimana di dunia Tanril? Menarik sekali. Arts di Tanril memenangkan pertarungan melalui penghancuran fisik lawan dengan menggunakan tenaga yang diperkuat oleh Chi (alias tenaga dalam, alias 'The Force'). Dan seni silat dalam Dunia Tanril adalah seni mengolah Chi dari 'nol' sampai mencapai puncak optimalisasi yang bisa diraih manusia, alias nyaris tanpa batas (dengan sedikit catatan).

So, we're talking BIG FORCE right here! (catatannya, kelihatannya so far cuma si Wander aja yang memiliki kekuatan 'dewa' tersebut? Mungkin itu issue buat buku dua, kalleee??)

Chi dalam dunia Tanril digambarkan sebagai tenaga yang dibangkitkan oleh penggunanya, dan bisa disalurkan ke berbagai organ tubuh misalnya ke mata (untuk penglihatan ekstra perceptional), tenaga pukulan, penyembuhan, bahkan bisa disusupkan ke dalam benang-benang untuk ditenun menjadi Luan (albeit, sumber Chi dari Luan ini tampaknya agak misterius,....). Dalam pandangan mata ber-Chi, maka Chi seseorang pun dapat terlihat berupa warna-warna maupun bentuk-bentuk yang indah sekaligus menggiriskan. Dan dalam Universe Tanril, Chi ini dapat pula berinteraksi dengan empat unsur: Air, Api, Udara, Tanah. Well sekali lagi dalam Point of View genre Fantasy, sistem tersebut sudah dapat dikatakan lengkap. Apalagi pengarang berhasil merendanya secara integral ke dalam cerita.

(Kami bersiap, aku mulai mengeluarkan empat kitab pusaka Shaolin Wetan, sementara Pendekar Tanril memandangku dengan keheranan tingkat tinggi. Empat kitab kujejer sesuai mata angin: Utara, Barat, Timur, Selatan dengan diriku sebagai pusatnya. Setelah melalui serangkaian gerakan bukaan rumit, telunjukku menebas ke Timur, dimulai dengan Kitab Bintang Timur. Kitab melayang sepuluh senti, kemudian halaman demi halaman bergerak dalam fast-forward menampilkan jurus-jurus silat yang tak pernah terlihat di dunia manapun! Hah, jangan berani bicara jurus denganku!)

Perkembangan ilmu silat di Dunia Tanril berlangsung dalam bentuk pengolahan Chi, yg ibarat otot, dikembangkan sesuai dengan batas toleransi tubuh. Tentu saja di sini yang menjadi fokus adalah perkembangan Chi sang tokoh, si Wuan atau Wander. Metodenya tak usahlah dibahas. Tapi intinya kalau di Universe Tanril, 'jurus' adalah sesuatu yang tercipta oleh Chi itu sendiri, bukan serangkaian gerakan yang dilatih. Ini mirip konsep jurus dalam silat Nusantara, agak beda dengan konsep teknik bela diri Jepang atau Korea. Salah satu plot driver novel ini adalah bagaimana pengarang menggambarkan evolusi pencapaian ilmu si Wander. Mulai dari bocah penyakitan dan menjadi sansak teman-temannya, sampai menguasi 'Jurus' Shin Jin Li Zan tingkat 1: Kabut kelabu, tingkat 2: Roh Hijau Gunung Biru, tingkat 3: Putri Angin Emas, tingkat 4: Sabit Petir Merah, tingkat 5: Singa Kaisar Biru, tingkat 6: Katedral Samudra Aquamarine. Masing-masing jurus 'ditemukan' oleh Wuan dalam suatu proses pembelajaran, penyingkapan jati diri melalui pertarungan. Indah sekali prosesnya (dan penggambaran visual tiap jurus, pun!). Dan semuanya akhirnya meledak dalam satu klimaks pada jurus ultimatenya (untuk buku satu): Ho Wuan Siang.

Dalam battle finale-nya, jurus Ho Wuan Siang ini sempat keluar dalam skala terbesar dan terklimaks, yang sesungguhnya sedikit unbelievable dalam kaca-mata silat awam. Tapi menjadi mungkin dan sangat logis berkat kemampuan pengarang memberikan landasan mengenai kekuatan si Wander sesungguhnya.

(halaman-halaman fast forward mendadak berhenti. Buku Bintang Timur terjatuh ke tanah, PLUK!. Tubuhku masih bergaya tunjuk bintang timur, tapi jurusku telah meninggalkanku bersama semangat yang terbang meninggalkan wajah pucatku).

Mari bicara plot.

(Sigap kukemasi kembali kitab-kitab Shaolin Wetan ke dalam karung, dan segera kubabar meja kayu rendah, taplak kuning segi tiga, tabung bambu berisi tiga hio menyala dan kujejerkan botol-botol tujuh racun dunia, sekali lagi dibawah tatapan mata takjub si Pendekar Tanril. Kutangkap sekilas, tampaknya ia terbatuk; entah karena geli, atau karena bau hio. Awas saja. Setiap tetes dari botol ini mampu melahirkan aneka konflik, dan oleh karenanya merupakan sumber plot tak terkalahkan! Kutarik sebotol, dan kubersiap mencabut sumbat gabusnya sambil menatap Pendekar Tanril tajam-tajam)

Plot Tanril mengalir melalui beberapa anak sungai kisah. Sungai utama tentunya adalah evolusi ilmu arts si Wuan, seiring dengan perkembangan kepribadiannya. Anak sungai lainnya adalah kisah keluarga Wuan, romansa Kokru dan Naila (singkat tapi penting), kisah Kurt si guru Wuan berikut misteri latar belakangnya dengan sang Raja, kemudian plot juga bergerak dalam drama keluarga kerajaan Telentium, Raja yang mangkat dan meninggalkan potensi perebutan kekuasaan antara para Pangeran, melahirkan intrik istana yang juga ternyata memiliki misteri yang bermuara pada Master Kurt. Plot silang menyilang dengan gesit dan selalu melahirkan kejutan alur, walaupun sedikit banyak bisa ditebak oleh avid readers. Semua cabang ini akhirnya bermuara pada perang saudara yang dilancarkan oleh Pangeran Pertama kepada Pangeran Ketiga, yang berklimaks di penyerangan kota Fru Gar (kota kediaman Wander) oleh Jendral Sulran dibantu empat murid utamanya: Damar, Toto, Gluka, dan Kaju, berkekuatan 250.000 prajurit melawan 1 pendekar.

Unbelievable, at first,..... but cukup sensible, at last. Setiap dari empat jendral itu memiliki kegemilangan strateginya masing-masing, termasuk dalam cara-cara mereka ber-show-down dengan Wander. Sekalipun kalah semua, saya harus mengakui kecanggihan taktik mereka. Dan karena mereka merupakan worthy opponent-lah, buku ini menjadi menarik.

(Pandanganku meredup lagi. Sebetulnya hati ini sudah bisa menduga, tapi gengsiku menghalangi segalanya. Nekat kucabut sumbat botol dan kutuangkan setetes racun. Walau ku sudah bisa perkirakan apa efeknya. Pendekar Tanril cuma mengangkat alis. Benar dugaanku, racunku menguap begitu saja..... plot sudah jauh lebih canggih dari yang bisa kucari-cari kelemahannya).

Plot twist yang paling canggih dan paling utama, adalah berkenaan dengan ujian terbesar si Wander sendiri, yaitu mengalahkan rasa takutnya. Terus terang bagian ini memang sama sekali nggak gue sangka. Salut bener. Walau di ujungnya memang jadi ada misteri baru, terutama mengenai satu tokoh yang baru muncul menjelang akhir buku.

(Memang tubuhku sudah babak belur, harga diriku pun sudah tergilas rata dengan tanah. Tapi masih ada satu harap, pusakaku yang paling dahsyat, Gendewa Majapahit dengan panah beracunnya, siap membidik karakter-karakter dalam buku ini, menelanjangi kelemahan mereka).

Dan karakter! Sesungguhnya merekalah yang paling bersinar dalam buku ini! Saya tidak segan memuji. Setiap 'tokoh' dalam buku ini adalah pribadi yang hidup, dan unik. Memorable, dan semuanya meng-infuse jiwa mereka dalam kisah dan menjalankan roda cerita sehingga mengalir lancar, saling menguatkan satu-sama lain. Mulai dari lingkaran Wander, ibunya Chiru'un, kakak lelakinya Kokru yang senantiasa melindungi dan kelak menumbuhkan semangat kependekaran dalam diri Wander; Kurt, Master misterius yang tidak mengajarkan seni berkelahi melainkan seni mengendalikan Chi, dan ternyata punya peran latar belakang yang sangat penting, ada si Kucing Tua, si pencuri lihay, lawan tapi kawan; Ada para Jendral jenius yang masing-masing pun punya karakter kuat: Damar yang jenius mekanik alat-alat perang, Toto yang jenius Strategi, Gluka yang perkasa, dan Kaju si pemimpin pasukan Elite. Bahkan karakter sampingan seperti Kepala Klan Pemegang Bulu Pusaka dari Landross pun, tampil mengesankan walau hanya dalam porsi kecil saja. Alamak, pokoknya semua karakter di novel ini ciamik semuah! Sulit untuk tidak menyukai any single person dalam novel ini terlepas peran protagonis atau antogis mereka terhadap cerita.

(Kemana mujizat gendewa ini? Semua panah rontok satu persatu! Aku meraung kecewa, dengan nekat aku meloncat dua ratus meter ke balik bukit. Mungkin ini jurus curang, tapi aku sudah kepepet. Aku menyembunyikan sepasukan Uruk Hai di belakang bukit. Boleh saja ilmuku kalah sepuluh level di bawah Pendekar Tanril. Tapi mari kita lihat siapa yang digdaya di medan perang! Dua belas jilid buku strategi perang kubagikan pada dua belas kaptenku, moga-moga mereka cepat belajar.)

Kejeniusan para Jendral,..... yak. Gue gak mungkin 'mempercayai' tokoh-tokoh jendral di sini, terutama jendral Sulran dan 4 muridnya, sebagai jenius bila tak ada adegan perang yang mengesankan gue, bukan? Well yes, si Nafta ini memang penulis yang cukup lengkap, bisa menjabarkan silat secara bagus, mengisinya dengan filosofi yang tak remeh bahkan menurut gue bernilai tinggi juga, dan sekaligus juga menghadirkan battle scenes yang,..... fenomenal.

Mungkin baru kali ini sebuah large scale battle dapat tergambar secara dahsyat dan meyakinkan dalam sebuah karya novel lokal. Even battle scene-nya Ledgard jadi terasa mengecil dibandingkan ini. Perang di Tanril tidak hanya main unjuk kekuatan, tapi juga mengandung strategi dan eksekusi strategi yang meyakinkan. Bagaimana kedahsyatan pasukan gajah, dan bagaimana dahsyatnya strategi yang mengalahkan pasukan gajah, misalnya.

(Aku melihat lautan gajah berderap sambil melengkingkan jeritan bak terompet bersahut-sahutan. Debu membubung tinggi dan jerit kematian pasukan garis depan tak tersamarkan. Gajah-gajah itu sungguh tak terhentikan! Aku menahan napas. Pasukan Uruk Hai ku masih berbaris di belakangku, ikut terpana menjadi penonton perang antara dua pasukan asing di hadapan kami. Lalu kami dikejutkan oleh sebuah bunyi melengking aneh. Serentak kami menoleh ke angkasa, dan kulihat itu, titik-titik berjatuhan, mula-mula satu, dua, seratus, lalu ribuan,.... ribuan bola api turun dari langit, menghujani gajah-gajah itu. Rupanya itu adalah ribuan tempayan berisi minyak yang disulut, dilontarkan oleh catapult dari balik bukit. Kami ternganga,... dan situasi pun berbalik, gajah-gajah menjadi kacau dan saling menerjang di antara mereka sendiri,...)

The best battle scene award 2008,...goes to Tanril!

(Aku tertunduk lesu. Jelas pasukanku tak ubahnya rombongan taman kanak-kanak hendak piknik, jika dibandingkan pasukan mengerikan itu. Salah seorang Uruk Hai menepuk-nepuk pundakku, menggeramkan kata-kata penghiburan. Dan kurasakan satu persatu mereka pulang meninggalkan ku sendiri di medan perang ini. Rupanya aku memang sudah kalah segala-galanya, dan mau tak mau harus menyerah. Kulihat Pendekar Tanril tersenyum, menghampiri ku. Dengan sedikit enggan, akhirnya kuserahkan bendera itu kepadanya.)

Dan The Best Fantasy di Fikfanindo, saat ini berpindah kepada TANRIL, Epik Ho Wuan Siang!

(Tapi sebelum aku kembali dengan menanggung beban kekalahan di pundak, masih secara keras kepala dan tak mau kalah, kubisikkan kata terakhir buat pendekar Tanril, "Aku baru akan mengakui kesempurnaan lo, kalau saja lo mendeskripsikan KOSTUM secara detail dalam novel itu. Karena itulah satu-satunya atribut yang nggak bisa kubayangkan, sehingga sedikit mengurangi suasana Fantasy yang ingin kuimajinasikan," begitu bisikku pada Pendekar Tanril, yang sempat membuat matanya terbelalak sejenak, dilanjutkan dengan anggukan paham di wajahnya yang bijak).

Buat Nafta, sejuta selamat. Anda layak mendapatkannya. Very Good Writing. Buat teman-teman lain, okelah hurufnya kecil-kecil, dan italicnya itu bakal bikin lo pade pusing. But it's a recommended read, nevertheless.

Salam,

FA Purawan

Minggu, 19 Oktober 2008

FIREHEART-Legenda Paladin: Sang Pemburu (Andry Chang - 2008)


Data Buku:

Penerbit: Sheila
Editor: Oktaviani HS
Setting: Sri Sulitiyani
Desain Cover: Weny
Korektor: Artika Maya/ Aktor


Kalau teman-teman perhatikan, dalam beberapa review ke belakang, anda tidak menemukan suatu judul baru karya fantasi. Itu sedikit banyak mencerminkan bahwa selama bulan Agustus-September 2008 ternyata tidak satupun buku Fiksi Fantasi karya anak negeri yang meluncur ke pasaran (pasaran yg biasa saya kunjungi, BTW. ga tau deh kalau ada pasaran di luar itu, hehehe).

Alhamdulillah, situasi tersebut berubah berkat terbitnya satu lagi karya Fiksi Fantasi lokal, pecah telor istilahnya, yaitu FIREHEART-Legenda Paladin: Sang Pemburu, karya pengarang Andry Chang yang diterbitkan oleh penerbit Sheila.

FIREHEART adalah sebuah karya Fantasy epik yang memposisikan diri sebagai bagian pertama dari sebuah trilogi, dimana hal tersebut disebutkan jelas pada pengantar dari Pengarang, sekalipun tidak ada penomoran dicantumkan pada cover (why not, sih?). Sebagai catatan tambahan, sejak lama sebelum buku ini terbit, pengarang sudah membuat sebuah blog di http://fireheart.tk sebagai saluran komunikasi mengenai buku bersangkutan serta pajangan sedikit cuplikan dari buku ini maupun karya sekuelnya. Dan tambahan menarik lainnya, bahwa buku kedua (dan ketiga?) sebetulnya sudah finish dalam bahasa Inggris (!) dan saat ini sedang dalam proses penerjemahan untuk diterbitkan sebagai sekuel.

Jadi, Andry Chang menuliskan novelnya langsung dalam bahasa Inggris dulu? Well, bukan cara yang lazim dalam mengarang, hehehe. Tapi tak apa, yang penting khan bagaimana hasilnya dalam bahasa Indonesia, ya gak?

Hal pertama yang menarik dari novel ini adalah desain sampulnya yang cukup rame yang menyedot perhatian. Bergambar seorang pendekar/ satria ala Manga dengan paduan warna merah/ jingga, ada tipografi FIREHEART yang bagus di bagian dahi sampul. Keren juga, hanya saja eksekusi wajah sang satria (hanya wajahnya aja!) yang menurut saya kurang rapih digarap, masih seperti gambar-gambar fans-fictions.

Dengan keseluruhan desain seperti itu, terkesan buku ini ditujukan buat pembaca selevel SMP atau SMA/ Kuliahan. Walau ternyata di dalam ceritanya sendiri memiliki target pembaca dewasa umum, dan memiliki elemen entertainment yang memang lebih mengarah pada pembaca dewasa umum.

Kisah FIREHEART sudah cukup biasa dijumpai dalam genre Fantasy, yaitu perjuangan kebaikan melawan kejahatan, namun memiliki suatu 'twist' yang cukup menarik juga. Demikian juga moral development yang dikandungnya, juga tidak biasa dan cukup bergizi. Sepanjang membaca buku ini, rasanya saya dapat menikmati gaya tulisan Andry tanpa kesulitan atau kening berkerut, berkat penerapan bahasa tulisan yang tidak neko-neko (tapi ada catatan mengenai ejaan). Dan memang, ada beberapa aspek yang menarik perhatian dari karya pengarang ini.

Perhatian pertama, pada adegan pembuka (yg sejak tulisan ini dibuat, ada forum yang ngebahas hal yang sama juga), yang secara setting mirip sekali dengan Novel Misteri Pedang Skinheald-nya Ataka buku pertama, Suatu kemiripan yang tidak mungkin tak saya singgung dalam review ini.

Adegan pembuka FIREHEART adalah adegan "penyegelan pedang" Kraal'shazar alias Pedang Iblis Pembantai oleh tiga orang penyihir: satu penyihir senior Azrael, satu penyihir elf perempuan bernama Carolyn, serta satu ilmuwan Theripedes. Di buku Ataka, ada adegan penyegelan pedang Skinheald oleh penyihir pria Greylay, seorang penyihir wanita, Mildebest dan seorang pria jenius, Pryraf.

Tentu saja, kemiripan ini terbuka untuk diinterpretasikan macam-macam oleh publik, sekalipun demikian publik pun harus mengakui bahwa hanya sebatas itulah kemiripan yang ada, selebihnya masing-masing novel memiliki orisinalitasnya sendiri-sendiri. Dan lagi, jalan cerita selanjutnya juga jauh berbeda.

Tapi bicara orisinalitas, saya justru punya perhatian kedua. Mengenai Setting (Apa barunya seorang FA Purawan ngomongin setting? Hehehe). FIREHEART menggunakan setting medieval barat secara utuh dipakai tanpa merasa perlu susah-susah menciptakan setting sendiri. Maka di dalamnya terdapat ras-ras manusia, elf, orc, hobgoblin dan sebagainya, dengan dunia Eternia yang berasa mirip dengan dunia apapun yang mengambil setting medieval. Kurasakan banget bahwa pengarang mengambil setting yang ada dalam game RPG semacam WarCraft series atau Dungeon & Dragon series. Salah satu indikasinya aku lihat di penggambaran kaum Orc yang lengkap dengan ciri-ciri fisik dan ciri budayanya, yang rasanya mirip dengan game WarCraft, termasuk juga konvensi penulisan namanya.

Nah, sedikit bertentangan dengan ajaran "Hayo seriuslah dalam menciptakan universe mu" dalam penulisan novel Fantasy (yg sering mengandung pengertian intrinsink: ciptakan duniamu sendiri), saya melihat bahwa kiat pengarang dalam memakai dunia yang "udah jadi," merupakan salah satu kiat aman, terutama bagi pengarang fantasy pemula. Yeah, kalo bikin sendiri susah, kenapa gak pakai yang sudah ada saja? Yang penting be serious with it, patuhi juga hukum-hukum yang sudah ada di dalam dunia tersebut sehingga engkau akan tetap konsisten. Nah, dalam hal ini saya amati bahwa pengarang juga tidak asal ceplokin dunia orang; pakai dipelajari dulu, diriset dulu secara memadai. Hal itu membuat pengarang jadi punya kepastian sikap dalam mengendalikan karakter-karakternya di dunia Eternia, karena udah paham apa batasan dan apa ruang-ruang yang bisa dipakai untuk manuver.

So, bukan termasuk kreatif dalam penilaian gue, tapi memang aman dan workable, nevertheless. Dan saya tidak serta-merta menilainya sebagai negatif.

Dan penerapan dunia ready made itu juga nggak tanggung-tanggung, kupikir, sebab dunia Eternia ciptaan (baca: terapan) pengarang kurasa cukup lengkap. Dia punya sistem keagamaan (sangat jarang disentuh di novel Fantasy) dengan Vadis sebagai tuhannya, sampai ke sistem ekonomi. dan perbankan. Sistem ekonominya sendiri menarik, sebab di dalam novel ini cukup clear, jelas, dan cukup 'masuk akal' bagaimana seseorang mencari uang di Eternia (walau cara pengiriman uang di bidang perbankan Eternia menurut gue udah di luar keterbatasan logika universe).

Antara lain, sebagai pemburu. Kalau kau menjadi pemburu Orc, maka kau bisa mengoleksi items yang bisa ditebus dengan sejumlah uang oleh pejabat pemerintah. Ini bisnis yang cukup lukratif, sehingga bahkan para pemburu sampai dapat mendirikan 'guild' segala. (Kurasa, dari sini juga sub judul: Sang Pemburu, berasal, yaitu menjelaskan status tokoh utama Robert Chandler sebagai si Orcbane alias pemburu Orc). Dan di guild ini kau bisa browsing proyek-proyek penangkapan Orc, Troll, bandit etc laksana pengumuman tender di instansi pemerintah. Lucu, tapi toh terasa cukup masuk akal untuk dunia Eternia.

Nah, keseluruhan setting yang memiliki dunia lengkap, ras penghuni yang beragam, serta sistem ekonomi. Di kepalaku langsung bersinar bola lampu: Franchise! Ya. Dunia Eternia memang sudah tergelar cukup lengkap bahkan bila akan 'dijual' sebagai setting game on-line, setting novel lainnya, atau apapun. Good idea.

Akan sangat gampang ngembangin sebuah game RPG yang dimulai dari, let's say, a Guild, kamu jadi pemburu kelas rendah memburu Orc, dapat uang, upgrade perlengkapan, sambil mengikuti kisah Robert Chandler di latar belakang, bahkan kalau kau beruntung, kau bisa ikut bergabung dengan pasukan pemburu yang masuk ke gua Kuil Enia bersama Robert Chandler! Saya pikir, boleh jadi pengarang memang sudah mempersiapkan Fireheart ini dengan commercial aspect in mind, dan saya menganggapnya sebagai suatu strategi bagus untuk napas yang lebih panjang.

Bicara alur ceritanya sendiri, buat saya cukup memikat walau tak membuat saya terkagum-kagum. Standar lah. Bahkan, karena terkait temponya sebagai sebuah kisah trilogi, bagian depan novel terasa agak melantur, saat pembaca harus mengikuti flash back riwayat Robert yang agak jauh ke belakang (satu sub-plot yang mendingan juga dibikin sebagai prekuel aja). Sampai lebih kurang setengah tebal buku, pembaca belum masuk ke konflik utama mengenai pedang tersegel.

Yap, persis game RPG di mana si pemain harus menjalani side-quest segala. Contohnya kunjungan ke negeri Kurcaci Grad, yang sesungguh tak terlalu penting dalam bangunan plot, sebab konflik-nya ternyata cuma konflik semu.

Untuk karakterisasi, well, tokoh-tokoh utama kupikir udah cukup klise ala Fantasy RPG Jepang, lah. Robert yang berwajah tampan tapi dingin, atau Carolyn yang berambut pink, serta Chris yang tolol dan naif, sangat mudah membayangkan tokoh-tokoh semacam itu berada dalam setting game. Setiap tokoh sudah tampak memiliki peran yang jelas, baik sebagai tokoh protagonis maupun antagonis. Ada beberapa tokoh yang kelihatannya sengaja diberi muatan misteri untuk membuat pembaca penasaran terhadap perannya selama di trilogi (which is akan banyak potensial di situ). Tapi sejauh yang saya baca, menurut saya karakter-karakter tersebut masih condong ke hitam-putih, masih kurang dalem. Untuk karakter Chris, apapun peran tersembunyi yang disematkan oleh pengarang terhadap karakter itu di kemudian hari, kurasa dalam buku satu ini tergolong sebagai suatu kesia-siaan yang menjengkelkan. Tapi oke lah, memang cukup potensial sebagai faktor kejutan kelak :)

Sekarang mari bicara hal-hal yang membuat saya kurang 'sreg' (jadi yang tadi itu masih termasuk 'sreg', toh??)

Pertama, masalah penamaan. Nama tokoh utama Robert Chandler, Carolyn, dan Christoper, nginggris banget. Memang masih sesuai sih dengan setting yang dipilih. Tapi saya masih kurang sreg, aja. Buat saya, mendingan pengarang bikin aja konvensi nama+julukan yang rasanya lebih fit dalam setting Eternia sekaligus memberi bobot karakterisasi tambahan pada para tokoh, misalnya nama seperti "Sage Hati Api" (Sage The Fireheart), sekalian aja Robert The Orcbane, atau Carolyn Tongkat Api atau apalah. Nama kayak gitu masih lebih 'bunyi' dibanding sekedar Robert Chandler.

Kemudian masalah jurus-jurus. Ada banyak banget jurus, euy! Termasuk summoning ala Final Fantasy juga. Semua jurusnya punya nama yang cantik-cantik. Persoalannya, kupikir pembaca hanya bisa mengingat sebagian kecil dari nama jurus-jurus yang mirip-mirip itu, alih-alih untuk mengingat bagaimana bentuk jurusnya. Gue sendiri hanya bisa mengingat dua jurus milik si Don Hernan, berkat penggambaran yang cukup deskriptif di saat pengarang menjelaskan jurus tersebut. Idealnya, harus ada waktu bagi pembaca untuk bener-bener meresapi jurusnya dan membayangkannya melalui beberapa sesi pertempuran, sebelum jurus tersebut dapat digunakan sebagai pengganti deskripsi aksi sang tokoh.

(Tapi di sisi lain, banyaknya jurus ini juga akan menjadi gimmick yang menjual bila cerita ini akan dibikin sebagai basis game RPG, secara bumbunya game RPG adalah adegan-adegan berantem menggunakan jurus-jurus, hehehe,...)

Kemudian, starting adegan Gua Enia, mulai banyak terdapat tokoh-tokoh sampingan, yang membuat petualangan memasuki gua itu terasa begitu massal dan mengalihkan perhatian pembaca dari POV tokoh utama si Robert Chandler. Begitu banyaknya yang masuk gua, dan yang jadi korban di dalam gua, sampai saya sendiri lost count. Lho kupikir tinggal dikit setelah masuk ke halangan anu banyak yang tewas, ga taunya koq masih banyak juga sisanya. Jadi dimensi volume dan jumlah menjadi agak kacau pada adegan masuk gua ini. Dan memang dalam pikiran saya, quest masuk ke gua adalah quest yang praktisnya dilakukan sekelompok kecil, bukan rombongan besar. Kalau mau besar lebih mendingan bikin quest masuk istana kuno aja,... hehehe.

Selain itu buat gue missi masuk Gua Enia ini kurang punya dasar plot yang jelas dan kokoh. Rasanya seperti sedikit dipaksakan, adanya suatu situasi dimana dua kelompok pendekar (terang vs gelap) harus masuk ke sebuah kuil (baca: Benteng) yang suppose to be dibuat dalam rangka mencegah pedang iblis diambil orang, tapi kemudian mengundang orang-orang agar menjebol sistem keamanannya secara bersama-sama! Buat gue sih gak masuk logika. Artinya, plotting pengarang kurang kuat di aspek ini.

Kemudian, tidak ada peta! Halah, di saat novel terbitan lain memiliki peta yang kukritik tidak sinkron dengan cerita, novel ini malah memiliki cerita yang badly (and rightfully!) needs a worldmap, tapi justru kagak ada! Dunia Eternia cukup kompleks dan dalam penceritaan kurasakan bener betapa butuhnya pembaca akan sebuah peta yang bisa menjelaskan posisi dan situasi alam Eternia. Moga-moga dalam terbitan seri 2 peta tersebut bisa dihadirkan oleh penerbit (karena setahu saya, pengarang pernah menyatakan bahwa beliau sudah membuat konsep peta untuk Eternia).

Kemudian, mengenai "Legenda Paladin", well,... boss, mana legendanya? Kasus sama dengan "Legenda Amigdalus"-nya Zauri nih, satu buku dibaca abiss kagak ketemu tuh legenda, at least something as important to be considered as legend dalam cerita ini, hehehe. Entahlah, kalo menurut gue sih mustinya sejak buku pertama pembaca sudah harus punya pemahaman mengenai legenda tersebut, apa relevansinya dan kepentingannya, sehingga pengarang akan mudah menjalinkannya dalam plot dan kisah. Dan bayangan gue sih, kalo ada yang namanya legenda PALADIN, mustinya kultur mengenai Paladin itu sendiri akan berbekas kuat dalam universe Eternia, dan akan sangat jelas terlihat di mata pembaca. Yang sekarang, gue rasa belum banget, tuh.

Yang terakhir adalah mengenai typesetting atau ejaan. Apakah memang tidak ada konvensi ejaan dalam tata-cara penulisan dialog dalam novel? Flow baca saya sangat terganggu dengan moda penulisan new paragraf setiap kali ada tanda petik dialog. Jadi setiap kali seorang karakter berbicara, maka lay-outer selalu menempatkan line dialognya sebagai paragraf baru, regardless konteks bicaranya bagaimana.

Sehingga sering suatu dialog yang sebetulnya merupakan kelanjutan dari aksi sebelumnya, menjadi putus-flow. Contohnya seperti ini:

Amir menjawab,

"Selamat Pagi, bu guru"

-----------------------

Padahal seharusnya lebih pas (sesuai konvensi?) bila dituliskan seperti ini:

Amir menjawab, "selamat pagi, bu guru".

----------------------

Akibat dari moda penulisan seperti di atas, terus terang saya membacanya jadi seperti terlompat-lompat (secara mental), dan ini sangat mengurangi kenikmatan membaca.

Padahal, buku ini menggunakan ukuran, jenis font serta pengelompokan spacing intra paragraf yang paling enak di mata. I wish buku lain seperti ini, alih-alih menggunakan font sans sheriff untuk body text dengan ukuran gede dan penulisan rapat-rapat yang membuat white areanya jadi malah lebih dominan dibanding huruf! Nah, untuk Fireheart, tulisannya enak di mata dan mudah dibaca.

Di luar semua kekurangan, saya menganggap serial Fireheart ini, walaupun belum menjadi sebuah epik atau saga yang memukau, tetap memiliki kelebihan berupa paket universenya yang lengkap dan well thought, sekalipun itu pinjaman dari universe eksisting lain. Demikian lengkapnya sehingga akan mudah bagi siapapun (tidak hanya pengarang) untuk membuat produk spin-off yang berlandaskan universe Eternia. Dan kurasa, hal itu merupakan suatu hal yang baru dan prestasi tersendiri dalam konteks industri penulisan Fantasy di tanah air.

Buat Andry Chang, selamat, dan cepetan dikebut aja tuh sekuelnya,... hehehe,...

Salam,


FA Purawan

Senin, 15 September 2008

IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi (Lian Kagura - 2007)



Data buku:

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Editor: Birulaut
Ilustrasi: Widhi Saputro
Desain Sampul: Widhi Saputro
Layout Naskah: Ricky Andy Yoga
Tebal: 256 hal

Tempat jalan-jalan favorit saya adalah toko buku. Dan salah satu toko buku yang saya favoritkan adalah MP Boookstore yang terletak di jalan Puri Sakti Jakarta Selatan, dekat kuburan Jeruk Purut. MP Bookstore menjadi favorit saya karena di sanalah saya biasa nongkrong sambil menanti usainya jam sekolah TK anak saya di hari Sabtu, dan selain itu, karena koleksi buku-buku yang cukup jarang saya temukan di toko buku lain.

Apa yang hebat dari koleksi buku-buku MP Bookstore? Adalah bagian buku-buku diskon di bawah tenda depan di parkiran, yang menarik minat saya. Sudah beberapa kali ini saya menemukan buku-buku clearance yang tidak pernah saya lihat terpajang di Gramedia atau toko buku lain. Tentu saja, to my ultimate pleasure, banyak di antaranya adalah buku Fiksi Fantasi karya pengarang lokal.

Jadi, ternyata cukup banyak karya lokal yang tidak pernah merasakan gengsi beredar di mall-mall atau "toko buku terkemuka" seperti iklan-iklan buku jaman dulu, dan tahu-tahu berakhir di clearance bin in a parking lot (sadis!). Sementara kita jejeritan mengeluhkan minimnya karya-karya fantasy lokal.

Tanya siapa.

So, here we are, salah satu buku 'baru' yang saya temukan di tumpukan clearance sale (diskon cuma 20%, siiih, ga clearance-clearance amat), berjudul IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi, karya Lian Kagura terbitan 2007. Covernya berwarna hitam (lagi-lagi!) bercampur merah marun, dengan gambar seorang pemuda duduk di sebuah singgasana, berlatar belakang perempuan cantik, serta serigala berbulu biru dan seorang bocah gundul bermata putih bersimpuh di kaki singgasana.

Well, langsung aja kesan Fantasy-Misteri menguar dari ilustrasi sampul, diperkuat dengan Typografi font berwarna merah darah yang oke banget. Sekilas mirip grafik Manga bergenre misteri. Dan di sinopsis halaman belakang, antara lain terdapat kalimat seperti ini: Ia ingin bangun, tapi tak bisa. Ia terjebak dalam mimpi itu.

Nah, satu lagi Fantasy yang bersetting dunia Mimpi!

Tak sabar saya buka buku itu dan mulai menikmati isinya. Pada lembar halaman pertama, pandangan mata langsung terbentur pada kalimat Basmalah dalam huruf latin. Ingatan saya langsung terpaut pada karya-karya Fantasy Islami yg pernah marak pada tahun 2002-2004-an. Hmm,... pada kemana semua itu sekarang, yah? Apakah sekedar euforia yang sudah padam? Tapi anyway, dengan pembukaan seperti itu saya langsung menduga bahwa novel ini akan memiliki nuansa Islami yang kental, minimal pasti ada tokoh uztad-nya.

Dan rupanya, pengarang ingin memulai kisahnya dengan sehalaman puisi yang sejujurnya nggak begitu mengesankan. Bukan pada isinya (yg bicara tentang cinta dan dipersembahkan pada Bunda), melainkan lebih pada tata letak baris-baris puisi yang nggak enak dipandang dan tak tahu apa maksudnya disusun demikian. Padahal kalau disusun wajar saja mungkin lebih 'dapet' maksudnya.

OK, enough of that. Kisah dibuka dengan bab pertama berjudul "Kesedihan itu Datang". Dan begitu saya membaca, saya langsung tertohok dengan suasana 'noir' yang teramat pekat. Kisah berputar pada tokoh Iori, seorang cowok SMA yang baru saja kematian Ibundanya. Pengarang bener-bener memberikan suasana stressful dan depresif banget, memainkan tragedi diramu dengan kenangan-kenangan, siapa yang nggak langsung berleleran karenanya. Kesedihannya tidak membuat saya ingin menangis, however, melainkan membuat saya begitu tertekan dan dimakan oleh rasa duka, seolah-olah saya sendiri ikut merasakan kesunyian dan kehilangan besar di hati saya. Merinding.

Menurut saya, kemampuan pengarang membuat suasana 'dark' itu adalah suatu keistimewaan penulisan. Dan bab pertama ini memang telah membuat tone seluruh novel langsung terdefinisi di depan. Yak, gelap dan muram.

Selanjutnya kisah mengalir dengan perjanjian gaib Iori dengan tokoh 'Humunkulus' yang mendatanginya dalam mimpi, mungkin konsepnya mirip 'The Sandman', semacam devil yang menguasai Dunia Mimpi. Humunkulus, yang secara unik digambarkan sebagai bersosok perempuan cantik namun bersuara maskulin (Bencoong, dooong?), menjanjikan akan menghidupkan kembali ibu Iori (dipanggil Ummi) dengan barter satu jiwa lain yang dicintai Iori, satu jiwa tiap purnama.

Manteeeb, premis 'cakar monyet' yang guaranteed membuat setiap pembaca penasaran. Siapakah yang menjadi korban-korban berikutnya? Bagaimana tokoh utama melepaskan diri dari perjanjian gaib itu?

Sejak perjanjian itu, secara tiba-tiba saja Iori mendapatkan Ummi-nya hidup kembali. Kebahagiaan pun kembali mengisi kalbunya, jenis kebahagiaan yang setara dengan dependensi oedipus complex tokoh Trapani di Novel Laskar Pelangi (good psychology, BTW, dan sangat manusiawi, koq). Namun setiap purnama Iori harus menjadi semacam eksekutor ritual pengorbanan di dunia mimpi, yang secara nyata menewaskan orang-orang dekat Iori, mulai dari paman, kakek, dst. Sampai akhirnya cewek pujaan hati pun harus ikut menanggung akibatnya (ouch! tragis banget). Selain itu Iori juga mendadak jadi punya kekuatan ekstra dan temperamen yang lebih ganas, dengan ciri mata berkilat merah, serta kostum jubah hitam yang cool sebagai bonus.

Lewat Tiga Purnama, Iori mulai gerah dengan korban-korbanan ini. Tentu saja plot kemudian berlanjut pada bagaimana upaya Iori (dan orang-orang dekatnya) untuk melepaskan diri dari cengkeraman Humunkulus, dimainkan oleh si Kim, sahabat Iori, di bawah bimbingan Uztad Judin (gotcha! Tuh, kan, ada uztadnya,.... hehehe,....)

Well, as we all can see, perjalanan plot lebih-kurang standar, lah, buat cerita-cerita semacam "perjanjian gelap" gini. Dan penyelesaian di bawah pimpinan uztad yang punya ngelmu kudu untuk melawan kesaktian Humunkulus juga terasa amat klise. Nyaris tidak ada yang baru dengan alur-alur cerita sejenis dalam Sinetron Hidayahiyah ato Kiamat Udah Ampir Mampir.

Serasa gak cukup klise, novel pun masih ditutup dengan 'petuah' mengenai hubungan pria-wanita yang digambarkan melalui adegan pernikahan tokoh Kim dan Yuni, oleh siapa lagi kalo bukan Uztad Judin (Petuah yang kelihatan seperti pesan sponsor partai karena sangat jauh berselisih tema dengan tema utama novel). Eh, Iorinya nggak tahu nasibnya kemana lagi. Mati, kayaknya, tapi gak jelas juga.

Kalo sekedar baca komentar sampai sini, saya yakin yang ada di bayangan temen-temen pasti plek-ketiplek adegan sinetron misteri Illahi. Tapi kalo sudah baca sendiri, niscaya ada satu hal yang akan amat membedakan novel Iori dengan kisah-kisah klise Islamiyah konvensional. Baik berdasarkan referensi Sinetron, atau berdasarkan referensi Novel sejenis (yg terakhir ini harus kuakui, relatif).

Apa yang membedakan Iori? Catat: Pengolahan alam mimpi-nya, top banget. Sebagian besar adegan di novel ini berlangsung dalam alam psikologis si Iori, dan alam itu terwujud (dengan penggambaran yang amat realistis) dalam kehidupan mimpi Iori saat berinteraksi dengan Humunkulus.

Dalam review Dream of Utopia, saya mengatakan alam mimpi DoU karya Sammy sebagai sebuah ilustrasi fantasy yang indah. Untuk Iori, keindahan justru ada dalam penggambaran alam mimpi yang dark dan nyaris psikosis (sakit jiwa). Alam mimpi dalam karya Lian adalah alam mimpi yang sangat cair, imaji dapat berubah wujud mengikuti keadaan mental tokoh bersangkutan (which is, memang demikian lah alam mimpi seharusnya), dan akibat adanya intervensi tokoh Humunkulus, alam mimpi Iori juga menjadi berwujud gelap dan meneror secara visual. Imaji-imaji potongan tubuh (mutilasi), ruangan yang terlantar, langit merah, kesunyian yang menggigit, membuat pembaca seperti dibawa ke alam yang sangat asing, sekaligus sangat nyata menggambarkan kondisi psikologis sang tokoh. Dan di beberapa situasi, alam mimpi Iori bahkan bisa menyelusup ke mimpi orang lain, sampai bisa untuk kirim 'salam tampar' segala.

Karena penggambaran alam mimpi yang keren ini lah, saya cukup confident untuk memasukkan Iori dalam kelompok genre Fantasy. Mungkin Fantasy-Supernatural-Islami, kali yeee,... Mungkin aja secara garis besar pengarang ingin membuat novel Supernatural-Islami aja. Tapi unsur fantasy memang nggak bisa diabaikan, mengingat banyak adegan penting novel ini memang berlangsung dalam setting dunia alternatif yaitu dunia mimpinya si Iori.

Even adegan klimaks, saat Kim dan Uztad Judin berusaha membebaskan Iori dari Humunkulus, juga berlangsung dengan cara Kim dan si Uztad me-raga sukma masuk ke dalam mimpi Iori.

Nah bicara adegan klimaks, ini juga rasanya yang agak mengecewakan. Perjuangan Kim, Uztad, dan Iori mengalahkan Humunkulus rasanya terlalu 'cemen'. Jagoan-jagoan itu keok menghadapi kesaktian si bencong, lalu dengan tanpa alasan tiba-tiba saja bisa terjadi 'transfer energi' antara ketiganya, sehingga Kim menjadi SuperKim yang perkasa menghantam lawan! Ahh,.. gitu banget. Sebagai sebuah novel yg sarat dengan nuansa Islami, mengapa penyelesaian masalah tidak dengan cara yang 'Islami'?

Udah gitu, ada adegan finale yang ngga gue mengerti. Mengapa --setelah Humunkulus berhasil dikalahkan pun-- si Iori kemudian mengambil langkah yang sangat kontra Islami, yaitu 'bunuh diri' menggunakan pisau pengorbanan? Untuk keperluan apa? Biar ketemu ibunya di alam baka? (Part ini sebetulnya kurang jelas diceritakan, tapi saya coba ambil kesimpulan itu aja).

Terus-terang, bagi pandangan Islam, itu salah banget. Nggak tahu deh kenapa Pengarang mengambil rute tersebut.

Sebenernya sih, kalo gue jadi yang mengarang (heheh, mulai deh ngusilin karya orang). Saat Humunkulus akan mengambil the next one yang kamu cintai, perlawanan Iori yang paling Islami seharusnya adalah,... "Yang kucintai hanyalah Allah!". Nah, habis perkara, silakan Humunkulus berurusan sama Yang Bersangkutan! Hehehe,... (Tapi itu kata gue, lho. Yang kalo dibikin novel, pasti gak lebih dari dua halaman udah kelar,.. hahaha. Di mana asyiknya, ya?)

Lepas dari masalah Islami atau kurang Islami, tentunya hal-hal seperti itu adalah hak prerogatif pengarang. Setiap pengarang tentu punya alasan sendiri atas pilihan-pilihan alurnya ataupun penyelesaian konflik dalam karyanya.

OK, masukan terakhir untuk novel Iori, adalah novel ini kelihatannya akan lebih bagus apabila pengarang (atau editor?) tidak semena-mena memotong adegan. Saya mendapat kesan bahwa dalam proses penulisan, sesungguhnya pengarang telah menulis lebih banyak dari draft final, dan telah terjadi pemotongan-pemotongan terhadap draft.

Lha, bukannya demikianlah proses normal dalam editing? Ya, proses normal, kecuali bila menghasilkan editan yang aneh, saya sebutnya 'jumping plots'. Ada beberapa tempat yang ketara bahwa ada sesuatu yg hilang dalam teks. Hal itu menjadi cukup parah ketika sesuatu yang hilang itu punya relevansi terhadap plot. Akibatnya pembaca jadi mengerenyit sebab terasa ada sesuatu yang hilang, atau lompatan adegan yang terasa tidak koheren.

Di luar kekurangannya yang menyebabkan saya ilfil dengan novel ini, karya ini saya puji dalam beberapa aspek: pertama dari keterampilannya mengantarkan suasana 'noir' yang keren banget, ekspresif banget; kedua karakter antagonis Humunkulus yang unik dan cukup mengesankan baik dari penampilan maupun karakterisasinya (Bad Guy Award 2008!), ketiga kedalaman psikologis para tokoh, terutama tokoh protagonis yang 'cacat mental' berhasil dihadirkan kecacatannya secara realistik, sehingga kita bisa paham banget kenapa Iori ngga bisa terima kehilangan ibu tapi bisa terima kehilangan kekasih.

Usul? Masih perlu dikasih usul? Ya kalo boleh usul, gimana kalo tokoh Uztad kita ganti aja dengan karakter lain yang lebih unik, misalnya mantan uztad yang sempat murtad (terus beriman kembali karena terlibat urusan ini), atau aki-aki gak penting yang ternyata menyimpan misteri sebagai musuh bebuyutan Humunkulus, atau apa lah, asal bukan uztad jagoan. Yang kayak gitu kayaknya udah terlalu generik, kurang cespleng!

Teruntuk Kang Lian, selamat atas Novelnya, kang!

Salam,


FA Purawan