Senin, 15 September 2008

IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi (Lian Kagura - 2007)



Data buku:

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Editor: Birulaut
Ilustrasi: Widhi Saputro
Desain Sampul: Widhi Saputro
Layout Naskah: Ricky Andy Yoga
Tebal: 256 hal

Tempat jalan-jalan favorit saya adalah toko buku. Dan salah satu toko buku yang saya favoritkan adalah MP Boookstore yang terletak di jalan Puri Sakti Jakarta Selatan, dekat kuburan Jeruk Purut. MP Bookstore menjadi favorit saya karena di sanalah saya biasa nongkrong sambil menanti usainya jam sekolah TK anak saya di hari Sabtu, dan selain itu, karena koleksi buku-buku yang cukup jarang saya temukan di toko buku lain.

Apa yang hebat dari koleksi buku-buku MP Bookstore? Adalah bagian buku-buku diskon di bawah tenda depan di parkiran, yang menarik minat saya. Sudah beberapa kali ini saya menemukan buku-buku clearance yang tidak pernah saya lihat terpajang di Gramedia atau toko buku lain. Tentu saja, to my ultimate pleasure, banyak di antaranya adalah buku Fiksi Fantasi karya pengarang lokal.

Jadi, ternyata cukup banyak karya lokal yang tidak pernah merasakan gengsi beredar di mall-mall atau "toko buku terkemuka" seperti iklan-iklan buku jaman dulu, dan tahu-tahu berakhir di clearance bin in a parking lot (sadis!). Sementara kita jejeritan mengeluhkan minimnya karya-karya fantasy lokal.

Tanya siapa.

So, here we are, salah satu buku 'baru' yang saya temukan di tumpukan clearance sale (diskon cuma 20%, siiih, ga clearance-clearance amat), berjudul IORI: Terperangkap di Negeri Mimpi, karya Lian Kagura terbitan 2007. Covernya berwarna hitam (lagi-lagi!) bercampur merah marun, dengan gambar seorang pemuda duduk di sebuah singgasana, berlatar belakang perempuan cantik, serta serigala berbulu biru dan seorang bocah gundul bermata putih bersimpuh di kaki singgasana.

Well, langsung aja kesan Fantasy-Misteri menguar dari ilustrasi sampul, diperkuat dengan Typografi font berwarna merah darah yang oke banget. Sekilas mirip grafik Manga bergenre misteri. Dan di sinopsis halaman belakang, antara lain terdapat kalimat seperti ini: Ia ingin bangun, tapi tak bisa. Ia terjebak dalam mimpi itu.

Nah, satu lagi Fantasy yang bersetting dunia Mimpi!

Tak sabar saya buka buku itu dan mulai menikmati isinya. Pada lembar halaman pertama, pandangan mata langsung terbentur pada kalimat Basmalah dalam huruf latin. Ingatan saya langsung terpaut pada karya-karya Fantasy Islami yg pernah marak pada tahun 2002-2004-an. Hmm,... pada kemana semua itu sekarang, yah? Apakah sekedar euforia yang sudah padam? Tapi anyway, dengan pembukaan seperti itu saya langsung menduga bahwa novel ini akan memiliki nuansa Islami yang kental, minimal pasti ada tokoh uztad-nya.

Dan rupanya, pengarang ingin memulai kisahnya dengan sehalaman puisi yang sejujurnya nggak begitu mengesankan. Bukan pada isinya (yg bicara tentang cinta dan dipersembahkan pada Bunda), melainkan lebih pada tata letak baris-baris puisi yang nggak enak dipandang dan tak tahu apa maksudnya disusun demikian. Padahal kalau disusun wajar saja mungkin lebih 'dapet' maksudnya.

OK, enough of that. Kisah dibuka dengan bab pertama berjudul "Kesedihan itu Datang". Dan begitu saya membaca, saya langsung tertohok dengan suasana 'noir' yang teramat pekat. Kisah berputar pada tokoh Iori, seorang cowok SMA yang baru saja kematian Ibundanya. Pengarang bener-bener memberikan suasana stressful dan depresif banget, memainkan tragedi diramu dengan kenangan-kenangan, siapa yang nggak langsung berleleran karenanya. Kesedihannya tidak membuat saya ingin menangis, however, melainkan membuat saya begitu tertekan dan dimakan oleh rasa duka, seolah-olah saya sendiri ikut merasakan kesunyian dan kehilangan besar di hati saya. Merinding.

Menurut saya, kemampuan pengarang membuat suasana 'dark' itu adalah suatu keistimewaan penulisan. Dan bab pertama ini memang telah membuat tone seluruh novel langsung terdefinisi di depan. Yak, gelap dan muram.

Selanjutnya kisah mengalir dengan perjanjian gaib Iori dengan tokoh 'Humunkulus' yang mendatanginya dalam mimpi, mungkin konsepnya mirip 'The Sandman', semacam devil yang menguasai Dunia Mimpi. Humunkulus, yang secara unik digambarkan sebagai bersosok perempuan cantik namun bersuara maskulin (Bencoong, dooong?), menjanjikan akan menghidupkan kembali ibu Iori (dipanggil Ummi) dengan barter satu jiwa lain yang dicintai Iori, satu jiwa tiap purnama.

Manteeeb, premis 'cakar monyet' yang guaranteed membuat setiap pembaca penasaran. Siapakah yang menjadi korban-korban berikutnya? Bagaimana tokoh utama melepaskan diri dari perjanjian gaib itu?

Sejak perjanjian itu, secara tiba-tiba saja Iori mendapatkan Ummi-nya hidup kembali. Kebahagiaan pun kembali mengisi kalbunya, jenis kebahagiaan yang setara dengan dependensi oedipus complex tokoh Trapani di Novel Laskar Pelangi (good psychology, BTW, dan sangat manusiawi, koq). Namun setiap purnama Iori harus menjadi semacam eksekutor ritual pengorbanan di dunia mimpi, yang secara nyata menewaskan orang-orang dekat Iori, mulai dari paman, kakek, dst. Sampai akhirnya cewek pujaan hati pun harus ikut menanggung akibatnya (ouch! tragis banget). Selain itu Iori juga mendadak jadi punya kekuatan ekstra dan temperamen yang lebih ganas, dengan ciri mata berkilat merah, serta kostum jubah hitam yang cool sebagai bonus.

Lewat Tiga Purnama, Iori mulai gerah dengan korban-korbanan ini. Tentu saja plot kemudian berlanjut pada bagaimana upaya Iori (dan orang-orang dekatnya) untuk melepaskan diri dari cengkeraman Humunkulus, dimainkan oleh si Kim, sahabat Iori, di bawah bimbingan Uztad Judin (gotcha! Tuh, kan, ada uztadnya,.... hehehe,....)

Well, as we all can see, perjalanan plot lebih-kurang standar, lah, buat cerita-cerita semacam "perjanjian gelap" gini. Dan penyelesaian di bawah pimpinan uztad yang punya ngelmu kudu untuk melawan kesaktian Humunkulus juga terasa amat klise. Nyaris tidak ada yang baru dengan alur-alur cerita sejenis dalam Sinetron Hidayahiyah ato Kiamat Udah Ampir Mampir.

Serasa gak cukup klise, novel pun masih ditutup dengan 'petuah' mengenai hubungan pria-wanita yang digambarkan melalui adegan pernikahan tokoh Kim dan Yuni, oleh siapa lagi kalo bukan Uztad Judin (Petuah yang kelihatan seperti pesan sponsor partai karena sangat jauh berselisih tema dengan tema utama novel). Eh, Iorinya nggak tahu nasibnya kemana lagi. Mati, kayaknya, tapi gak jelas juga.

Kalo sekedar baca komentar sampai sini, saya yakin yang ada di bayangan temen-temen pasti plek-ketiplek adegan sinetron misteri Illahi. Tapi kalo sudah baca sendiri, niscaya ada satu hal yang akan amat membedakan novel Iori dengan kisah-kisah klise Islamiyah konvensional. Baik berdasarkan referensi Sinetron, atau berdasarkan referensi Novel sejenis (yg terakhir ini harus kuakui, relatif).

Apa yang membedakan Iori? Catat: Pengolahan alam mimpi-nya, top banget. Sebagian besar adegan di novel ini berlangsung dalam alam psikologis si Iori, dan alam itu terwujud (dengan penggambaran yang amat realistis) dalam kehidupan mimpi Iori saat berinteraksi dengan Humunkulus.

Dalam review Dream of Utopia, saya mengatakan alam mimpi DoU karya Sammy sebagai sebuah ilustrasi fantasy yang indah. Untuk Iori, keindahan justru ada dalam penggambaran alam mimpi yang dark dan nyaris psikosis (sakit jiwa). Alam mimpi dalam karya Lian adalah alam mimpi yang sangat cair, imaji dapat berubah wujud mengikuti keadaan mental tokoh bersangkutan (which is, memang demikian lah alam mimpi seharusnya), dan akibat adanya intervensi tokoh Humunkulus, alam mimpi Iori juga menjadi berwujud gelap dan meneror secara visual. Imaji-imaji potongan tubuh (mutilasi), ruangan yang terlantar, langit merah, kesunyian yang menggigit, membuat pembaca seperti dibawa ke alam yang sangat asing, sekaligus sangat nyata menggambarkan kondisi psikologis sang tokoh. Dan di beberapa situasi, alam mimpi Iori bahkan bisa menyelusup ke mimpi orang lain, sampai bisa untuk kirim 'salam tampar' segala.

Karena penggambaran alam mimpi yang keren ini lah, saya cukup confident untuk memasukkan Iori dalam kelompok genre Fantasy. Mungkin Fantasy-Supernatural-Islami, kali yeee,... Mungkin aja secara garis besar pengarang ingin membuat novel Supernatural-Islami aja. Tapi unsur fantasy memang nggak bisa diabaikan, mengingat banyak adegan penting novel ini memang berlangsung dalam setting dunia alternatif yaitu dunia mimpinya si Iori.

Even adegan klimaks, saat Kim dan Uztad Judin berusaha membebaskan Iori dari Humunkulus, juga berlangsung dengan cara Kim dan si Uztad me-raga sukma masuk ke dalam mimpi Iori.

Nah bicara adegan klimaks, ini juga rasanya yang agak mengecewakan. Perjuangan Kim, Uztad, dan Iori mengalahkan Humunkulus rasanya terlalu 'cemen'. Jagoan-jagoan itu keok menghadapi kesaktian si bencong, lalu dengan tanpa alasan tiba-tiba saja bisa terjadi 'transfer energi' antara ketiganya, sehingga Kim menjadi SuperKim yang perkasa menghantam lawan! Ahh,.. gitu banget. Sebagai sebuah novel yg sarat dengan nuansa Islami, mengapa penyelesaian masalah tidak dengan cara yang 'Islami'?

Udah gitu, ada adegan finale yang ngga gue mengerti. Mengapa --setelah Humunkulus berhasil dikalahkan pun-- si Iori kemudian mengambil langkah yang sangat kontra Islami, yaitu 'bunuh diri' menggunakan pisau pengorbanan? Untuk keperluan apa? Biar ketemu ibunya di alam baka? (Part ini sebetulnya kurang jelas diceritakan, tapi saya coba ambil kesimpulan itu aja).

Terus-terang, bagi pandangan Islam, itu salah banget. Nggak tahu deh kenapa Pengarang mengambil rute tersebut.

Sebenernya sih, kalo gue jadi yang mengarang (heheh, mulai deh ngusilin karya orang). Saat Humunkulus akan mengambil the next one yang kamu cintai, perlawanan Iori yang paling Islami seharusnya adalah,... "Yang kucintai hanyalah Allah!". Nah, habis perkara, silakan Humunkulus berurusan sama Yang Bersangkutan! Hehehe,... (Tapi itu kata gue, lho. Yang kalo dibikin novel, pasti gak lebih dari dua halaman udah kelar,.. hahaha. Di mana asyiknya, ya?)

Lepas dari masalah Islami atau kurang Islami, tentunya hal-hal seperti itu adalah hak prerogatif pengarang. Setiap pengarang tentu punya alasan sendiri atas pilihan-pilihan alurnya ataupun penyelesaian konflik dalam karyanya.

OK, masukan terakhir untuk novel Iori, adalah novel ini kelihatannya akan lebih bagus apabila pengarang (atau editor?) tidak semena-mena memotong adegan. Saya mendapat kesan bahwa dalam proses penulisan, sesungguhnya pengarang telah menulis lebih banyak dari draft final, dan telah terjadi pemotongan-pemotongan terhadap draft.

Lha, bukannya demikianlah proses normal dalam editing? Ya, proses normal, kecuali bila menghasilkan editan yang aneh, saya sebutnya 'jumping plots'. Ada beberapa tempat yang ketara bahwa ada sesuatu yg hilang dalam teks. Hal itu menjadi cukup parah ketika sesuatu yang hilang itu punya relevansi terhadap plot. Akibatnya pembaca jadi mengerenyit sebab terasa ada sesuatu yang hilang, atau lompatan adegan yang terasa tidak koheren.

Di luar kekurangannya yang menyebabkan saya ilfil dengan novel ini, karya ini saya puji dalam beberapa aspek: pertama dari keterampilannya mengantarkan suasana 'noir' yang keren banget, ekspresif banget; kedua karakter antagonis Humunkulus yang unik dan cukup mengesankan baik dari penampilan maupun karakterisasinya (Bad Guy Award 2008!), ketiga kedalaman psikologis para tokoh, terutama tokoh protagonis yang 'cacat mental' berhasil dihadirkan kecacatannya secara realistik, sehingga kita bisa paham banget kenapa Iori ngga bisa terima kehilangan ibu tapi bisa terima kehilangan kekasih.

Usul? Masih perlu dikasih usul? Ya kalo boleh usul, gimana kalo tokoh Uztad kita ganti aja dengan karakter lain yang lebih unik, misalnya mantan uztad yang sempat murtad (terus beriman kembali karena terlibat urusan ini), atau aki-aki gak penting yang ternyata menyimpan misteri sebagai musuh bebuyutan Humunkulus, atau apa lah, asal bukan uztad jagoan. Yang kayak gitu kayaknya udah terlalu generik, kurang cespleng!

Teruntuk Kang Lian, selamat atas Novelnya, kang!

Salam,


FA Purawan

Rabu, 10 September 2008

TRANSPONDEX: Mesin Cinta Lintas Waktu (Ronny Fredila - 2006)



Data Buku:
Penerbit: GagasMedia (Seri FantasyLit)
Editor: Denny Indra
Desain Cover: Hendrayanto
Tata Letak: Wahyu Suwarni
Tebal: 282 Hal


Kalau lihat sub-judulnya saja, niscaya saya juga tidak akan percaya kalau Novel karya Ronny Fredila, Staff Swalayan Hypermart ini, merupakan sebuah novel fantasy. Bayangan apa yang melintas saat membaca kalimat, "Mesin Cinta Lintas Waktu"? Uaah, mesin cinta, Jek.

Apalagi dipadu dengan desain cover warna merah, dengan siluet tubuh seorang wanita yang mengesankan bayang-bayang tanpa busana, O.M.G., rasanya frasa "Mesin Cinta" jadi memiliki arti tersendiri (wink-wink).

Tak heran bila judul Transpondex bagiku langsung menimbulkan asosiasi judul obat kuat semacam Viagra, Cialis, seperti yang sering terlihat di plank toko A Ceng atau A Kiaw (Ho'oh, gue cuma lewat, koq,...)

Padahal, Transpondex adalah singkatan dari suatu istilah yang cukup Tekno: Transportation Machine for Dimensions and Time Exchange, mesin transportasi untuk keperluan pertukaran Dimensi dan Waktu. Gimana, keren, kan? Dan alat "Time-Machine" inilah yang kemudian dilabeli sebagai 'mesin-cinta'. Jadi kawan-kawan, tolong hapuskan saja bayangan anda mengenai mesin cinta yang lain yang berada di luar lingkup novel ini,... hehehe.

Setelah sekian kali saya terpapar oleh genre Fantasy Kerajaan, Ksatria, Peri dan Penyihir, akhirnya mampir lagi sebuah genre Fantasi Fiksi Ilmiah terbitan tahun 2006, lagi-lagi tak saya temukan di toko buku melainkan di Pameran Buku IKAPI, yang menandakan bahwa novel ini tinggal memasuki fase bersih-bersih gudang. Oh, begitu kejamnya kah para penerbit terhadap kehidupan genre Fantasy,... hehehe,... apa boleh buat, hukum pasar memang berlaku di sini. Kalo bukan buku laris, jangan harap dapat kesempatan napas panjang. Sedih, tapi memang demikian alam sudah menggariskan.

So, kembali ke novel. Transpondex adalah sebuah karya yang diposisikan sebagai "Science Fiction" oleh GagasMedia melalui seri FantasyLit (baca secara Inggris, ya. Jangan baca secara Indonesia, agak-agak saru). Setelah saya baca, well ada sebagian kecil plot driver yang memang berbau ilmiah, terutama mengenai konsep dimensi waktu dan time-space continuum. Tapi kalau saya boleh berkomentar, sesungguhnya novel ini lebih dominan sebagai sebuah roman aksi berbau tekno, aja. Soalnya aspek time-travel agak kurang begitu didekati secara ilmiah di sini, melainkan secara populer aja, mirip dengan angle film Back to The Future I, II, & III yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi oleh Michael J. Fox itu.

Tapi jujur aja sih, biarpun ngga ilmiah, spekulasi time-travel di novel ini diramu secara meyakinkan dengan logika cukup terjaga, dan mampu mendrive sebuah cerita roman aksi yang lumayan menghibur. Masuk juga konsep-konsep paralel universe dll sebagai bumbu. Tidak terlalu baru, sih. Tapi setidaknya cukup fresh untuk khasanah novel lokal.

Selain aspek 'fiksi ilmiah' berupa time travel, karya ini juga memiliki aspek lain yang cukup kuat, yaitu sebagai sebuah novel silat. Jadi tepatnya adalah sebuah novel silat dalam setting futuristik. Nah, aspek ini malah aku pikir lebih dominan sebagai penggerak dan pewarna cerita, di mana hampir adegan penting novel ini di dominasi oleh pertarungan silat antara tokoh-tokoh protagonis dengan antagonis.

Jadi singkatnya cerita novel ini adalah sebagai berikut: Tokoh utama si Rima anak SMA, memiliki Ayah bernama Prof. Suhendra yang punya obsesi untuk menciptakan mesin waktu guna kembali ke masa lalu dimana Maminya Rima dinyatakan hilang dalam sebuah penerbangan komersial. Prof. Suhendra bekerja sama dengan Prof. Mohindra dan seorang Prof lagi yang misterius, berhasil memecahkan sandi sebuah manuskrip dari jaman Majapahit yang mengindikasikan cara membuat sebuah mesin waktu, dan ceritanya si prof berhasil membuat mesin waktu yang dinamakan Transpondex. Namun tepat pada saat si Prof melakukan test perdana alat itu, tiba-tiba masuk lah sekelompok prajurit futuristik dari the other side, yang langsung menculik si Prof, dengan pesan bahwa alat si Prof sudah membuat anomali dalam ruang-waktu, sehingga masa depan menjadi kacau dan ada tokoh-tokoh dari jaman yang berbeda menjadi campur aduk di masa depan. Si prof diculik untuk memperbaiki semuanya, albeit di bawah ancaman bedil.

Tentu saja, si tokoh kita yang ternyata cukup jago silat, harus ikut menyusul ke masa depan untuk menyelamatkan sang ayah.

And listen to this: di masa depan sang tokoh bertemu dengan Kerajaan Majapahit in the Future, menjadi murid Nenek Srikandi, bergabung dengan Pandawa Empat: Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa, untuk melawan raja Tapak Lodaya (yg menggulingkan Hayam Wuruk), yang disupport oleh Pasukan Kurawa dibawah pimpinan Dursasana, Duryudana dan lain-lainnya.

So you see, it's yet another cerita wayang dalam setting non-wayang. Sejenis dengan Arjuna mencari Cinta, tapi dalam tempo beberapa abad lebih Futuristik, hehehe. Dan silat menjadi menu utama.

Dengan ramuan seperti ini, saya menganggap pada akhirnya Novel ini berusaha merevitalisasi karakter-karakter pewayangan dalam setting yang berbeda dari pakem. Istilahnya, pengarang ingin menggunakan Arjuna dkk dalam setting futuristik, ya kemudian dibuatlah plot time-travel dan kekacauan time-space continuum yang memberi pengarang alasan yang 'valid' untuk mempertemukan tokoh-tokoh sejarah yang berasal dari jaman yang berbeda dalam satu belanga. Akhirnya yang kejadian adalah Rima bertemu Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa, Srikandi, Prof Drona, Dursasana, Duryudana, Bill Gates, sampai Hitler segala, dalam ramuan campur aduk yang, well,.... sensasional, tapi nggak 'dalem'.

Maksudnya, karakter-karakter sejarah ini gak punya kepribadian yang utuh, sekedar sensasi yang dipinjam untuk melancarkan cerita aja. Persis karakter game fighting semacam Street Fighters ataupun Tekken.

Selain dari suasana persilatan futuristik, novel ini juga menghadirkan aroma teenlit dalam setting Rima di jaman kini, ada sekolah, ada tawuran, ada cowok pedekate, ada dream guy, well, the usual stuff. Cuma di akhir aja pengarang memberi twist yang menggabungkan dua setting berbeda itu dalam konklusi yang mendekati napas teenlit juga.

Jadi alurnya kira-kira: 1> Setting Kini, 2> Setting Futuristik menyita mayoritas halaman, 3> kembali ke setting kini sebagai konlusi.

Terus apa yang bisa diambil dari novel ini? Well, kalo temen-temen baca ramuan setting di atas, tentu temen-temen akan berasumsi bahwa novel ini memiliki setting amburadul hasil dari ramuan karakter asal tempel. Nyaris bener. Tapi di sisi lain pengarang punya suatu kelebihan yang mengakibatkan setting amburadul ini masih bisa 'jalan' sebagai sebuah novel hiburan.

Yaitu, kelebihan pengarang, adalah cara bercerita yang cukup mengasyikkan ditunjang oleh logika yang kuat 'ngejagain' plot dan setting. Dengan gaya penulisan yang rileks, jujur apa adanya namun tetap terangkai secara baik dan benar, pengarang memberi saya stamina untuk bisa menyelesaikan buku ini cukup dalam tiga hari. Kemampuan menjaga logika cerita membuat saya tidak terlalu banyak nanya atau banyak berhenti (misalnya ngebolak-balik ke halaman depan lagi karena ada yg rasanya aneh), sebab pengarang senantiasa menjaga agar informasi logis dalam plotnya tetap tersedia pada point dimana diperlukan.

Dan ini berarti memang usaha yang harus seksama, sebab plot time related chaos emang bukan topik logika yang 'gampang' dicerna, apalagi di sisi pengarang yang harus lebih menguasai hubungan sebab akibat lintas waktu. Paling tidak, walau plot hole masih terasa di sedikit tempat, pengarang berhasil mendeliver cerita menjadi suatu alur yang cukup koheren. Tapi dalam aspek logika, pengarang juga agak 'kejeblos' justru di akhir cerita, yaitu time-space continuum yang rusak ternyata bisa bener lagi karena faktor 'kebetulan'. Ah ketahuan, lagi buru-buru pengen nyelesaikan novelnya, tuh. Hehehe,...

Masuknya tokoh Bill Gates dalam cerita menggantikan Prof Drona, juga terasa agak dipaksakan. Tapi apa mau dikata, toh setting karakternya memang sudah dibuat amburadul dari sononya, sehingga twist semacam itu memang sah terjadi dalam setting cerita ini. Termasuk ujug-ujug muncul tokoh (Adolf) Hitler yang bisa silat sebagai the ultimate nemesys.

Kelebihan lain adalah adegan silat yang cukup seru, dan lumayan menerapkan prinsip-prinsip ilmu silat ala standar. Silat ini cukup memberi warna yang unik pada novel, serta memberi adegan aksi yang seru dan gegap gempita. Walau sebagai catatan, penggambaran adegan silat secara apa-adanya (keluarin jurus ini-itu dengan kedahsyatan ini-itu, efeknya ini-itu) memang cukup bisa menghadirkan aksi, namun belum tentu menimbulkan kesan mendalam terhadap pembaca. Mungkin analoginya adalah nonton film kung-fu mainstream Hongkong yang minim special effect, vs Chrouching Tiger atawa Hero yang penuh efek visual indah. Mana pertarungan yg lebih meninggalkan kesan?

Jujur aja, ngga ada perkembangan plot yang cukup berarti sepanjang novel, laksana pop corn movie biasa aja. Paling ada satu cabang plot yang cukup menyita emosi dan karenanya jadi perhatian khusus saya, yaitu saat Rima dan ayahnya finally bertemu dengan Maminya. Itu adegan yang paling monumental, saya rasa.

Juga menjadi suatu pertanyaan buat saya, di tengah generasi dua ribuan ini, apakah tokoh-tokoh pewayangan seperti Arjuna, Bima, dkk itu masih 'bunyi'? Untuk gerenasi 80-an macam saya, karakter Arjuna memang masih lekat dalam ingatan sebagai sosok 'Cowok Ultimate' dalam dunia wayang. Saya bahkan masih sempet nonton wayang orang Sriwedari di Solo jaman saya kelas 5 SD, dari jam 8 malem sampai jam 3 pagi. Tapi sekarang semua sudah menjadi dunia lama yang terlupakan oleh Indonesia. Saya kira pemilihan tokoh-tokoh pewayangan untuk dimasukkan ke setting modern menjadi usaha yang tak terlalu efektif, simply karena generasi sekarang udah gak kenal siapa itu Arjuna dkk.

Sebagai konlusi dari pembelajaran kita kali ini dengan topik studi Novel Transpondex, ya mungkin singkat aja: kalo pengarang dapat menjaga logika ceritanya secara pas, maka setting amburadul pun ternyata masih bisa workable, at least untuk sekedar menjadi novel ini enak dibaca aja, tanpa harus menyisipkan missi atau harapan-harapan lebih dari itu.

Dan nyatanya, novel ini memang masih lebih bisa dinikmati dibanding the other terbitan GagasMedia FantasyLit yang barusan juga saya review,.... (wink)

Mas Ronny, it's been a nice reading!

Salam,


FA Purawan

Selasa, 02 September 2008

CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core (Chandra Adhitya Winarno - 2007)


Data buku:
Penerbit: Gagas Media
Penyunting: Feba Sukmana
Penata letak: Yanto
Desain sampul: Okeu Yoseph Kurniawan
Tebal: 325 halaman

Hitam, adalah warna terkeren buat sebuah cover novel. Setidaknya begitulah anggapan saya selama ini (itu juga yang membuat saya mengeset blog saya dengan warna hitam, hehehe). Seolah ada otoritas tersendiri yang dipancarkan oleh warna ini, yang membuat siapapun yang melihat tak berani bermain-main dan menganggap saya serius, serius kuadrat. Apalagi, kalau Hitam dipadukan dengan Gold, hmm,.. tidak saja serius, tapi juga high-class. Demikian yang saya rasakan saat melihat cover novel CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core karya Chandra Adhitya Winarno ini. Balutan warna hitam dengan font keemasan membuat novel ini terkesan ningrat, membuat saya berharap-harap muluk terhadap isinya,...

Tapi, ooops, kelihatannya Jurus Judge by The Cover terchallenge lagi, di sini. Apa ini? Tulisan Cardan yang --walaupun jelas dan paduan putih-emasnya cukup serasi-- kenapa dibikin membesar di tengah seperti sign SIRKUS? Tapi emblem garuda pudarnya looks soooo cool! Oh, rupanya paduan tulisan Cardan dan emblem mengesankan bentuk perisai, well boleh juga. Yang paling bagus di cover ini adalah pemilihan Font & tata letak tulisan Inside & Outside The Hinkal Core. Hanya sayang, lukisan garuda itu harusnya bisa lebih detail.

Cover yang keren, karya Okeu Yoseph Kurniawan.

Dan sampai sini udah dapat di sum-up kesimpulan atas seluruh novel. Yaitu: Covernya keren.

Novelnya sendiri, gimana?

Sayangnya, ya cuma itu yg bisa kubilang: Covernya keren. Novelnya,... jeblok.

Menurutku ini novel terburuk yang pernah mampir di blog gue, untuk saat ini. Aaaakh?! (disbelief), benarkah? Demikian 'nista'nya kah? Apa dosa yang sudah dilakukan pengarang dalam menulis novelnya?

Ugh. Mungkin dosanya hanya satu, yaitu pengarang belum bisa menulis. Titik. Saat seorang pengarang yang tidak bisa menulis berusaha err, menulis, maka segenap ide besar yang ada di kepalanya jadi rapuh seperti kastil pasir disapu ombak. Hilang semua keindahan kecuali tinggal onggokan tumpukan kata-kata yang memusingkan.

Seberapa parah, sih, kemampuan penulisan pengarang? Well, aku tampilkan berupa contoh saja, yah.


Dari Novel Cardan, hal. 1 - 2:

Langit malam ini sangat indah, ketiga bintang yang selalu menerangi malam memancarkan cahaya berbeda warna putih, merah dan biru. Para leluhur menamakan bintang putih Joan, Sanggu untuk bintang merah, dan Colt untuk bintang yang berwarna biru. Mereka menganggap bintang-bintang tersebut sebagai lambang tiga elemen, yaitu udara, api, dan air.

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Tolan. Sebuah kerajaan kecil dengan letak strategis, tepat di tengah-tengah Garinka. Tolan adalah kerajaan transit bagi para pedagang dari seluruh pelosok Garinka. Tak heran, hal ini membuat Tolan menjadi sebuah kerajaan yang cukup makmur. Dan karena itu juga, Tolan menjadi kerajaan terbesar di Garinka.

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan. Sebuah perang besar antara Tolan dan Sync, perang antara dua kerajaan yang sudah saling bermusuhan sejak ratusan tahun lalu. Mereka menamakannya perang Zonega.

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku..., pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

---------------------------------------------------


Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. The whole prolog aku salinkan dengan tujuan agar pembaca blog ini dapat meresapi 'opening' seperti apa yang dituliskan oleh pengarang sebagai indikasi cara dia bercerita selanjutnya di buku tersebut.

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting yg menghiasi langit malam). (2) Sebuah negeri bernama Tolan (tapi Garinka-nya apa gak dijelasin), (3) Situasi politik Tolan,...

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.

ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek "Jendral", sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke "pasukan yang begitu membabi buta". Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.

yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri! So, the whole paragraph is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.

(Kena busur aja luka? cemen banget,..... iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep anak panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?). Atau 'busur' dianggap sebagai kata kerja?

Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg "BABI PERGI,... BABI PULANG" itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,...?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich? Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? Menurut gue sih, contoh prolog ini memberi indikasi tak terbantahkan bahwa pengarang masih belum menguasai tata penulisan yang benar (tak usah dulu ngomongin 'baik' dalam dua serangkai 'baik dan benar'). Walau jelas aku sudah punya masukan dalam aspek-aspek logika, tapi terpaksa masukan itu aku simpan dulu sebab pengarang menghadapi problem yang lebih besar, yaitu kemampuan menuangkan ide secara benar melalui tulisan.

Itu, lho, pelajaran Subyek-Predikat-Obyek, itu lhooo,....

Lha kalo seorang pengarang belum bisa menuliskan kalimatnya secara benar, bagaimana dia akan berhasil mentransfer ide ceritanya? Dan Hallooow,... para editornya lagi pada ngopi-ngopi di mana sih? Kalimat kayak di atas itu koq bisa lolos? Padahal itu di bab awaaaal banget, loh? (Wajar bila Editor agak loose di tengah-tengah buku. Tapi gimana kalo udah loose sejak AWAL buku?)

Untuk selanjutnya, penyakit yang sama melanda seluruh naskah sehingga membuat buku ini menjadi terlalu sulit untuk dicerna. Saya sendiri harus membaca bagai orang buta berjalan. Maju-stop-maju-stop-maju-stop dst. Satu bulan lebih untuk buku cuma setebal tiga ratus halaman.

Oke, kalau saya cuma mencela, ya semua orang bisa mencela, ya nggak? Lantas apa yang bisa dipelajari dari karya ini supaya pengarang dan temen-temen aspiran penulisan Fantasy dapat membuatnya lebih baik lagi?

Pertama, mungkin dari segi penyusunan kalimat s.d.a., ya. Biarpun kita masih punya ruang untuk 'mempermainkan' struktur kalimat secara kreatif, tetap saja ada aturan utama yang harus diikuti. Dan aturan itu memang ada sejak dulu karena suatu alasan, yaitu agar ide dapat terkomunikasikan secara tepat, dengan tetap memelihara kewarasan dan keruntutan berpikir pembacanya :) Kalau pengarang keenakan mengaduk-aduk pikiran pembaca dengan jumbling words, maka dia belum bisa dikatakan sebagai pengarang, melainkan psikopat, hehehe.

Kedua, mungkin pengarang juga perlu mengembangkan 'sense' untuk pemanfaatan kata/ istilah. Bagaimanapun, istilah tidak dapat dipertukarkan secara terlalu merdeka, sebab setiap kata atau istilah sesungguhnya memiliki pengertian khas, yang bila salah pakai akan mengaburkan atau mengacaukan makna. Berikut contoh kasus di Cardan:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang lebih pendek darinya--tiba-tiba meremas tangan Aras dan berkata, "Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!"

Well, secara kalimat, paragraf contoh di atas tidak punya masalah berarti. Tapi kalo anda menganggap kalimat di atas tidak 'bermasalah', mungkin cara berpikir anda masih menggunakan gaya penulisan berita, bukannya gaya penulisan cerita. Pada 'gaya berita', kalimat adalah fakta kering, sekedar mendeskripsikan kejadian tanpa penafsiran lebih lanjut. Dalam 'gaya cerita', sebuah kalimat dibaca secara tafsir, pembaca berusaha memahami adegan dengan menggunakan imajinasi yang digiring oleh naskah.

Coba aja bayangin adegan ini: si pria MEREMAS tangan Aras, di suatu toko. Untung aja ngomongnya nggak gini, "Tangan yang kuat, ya boooo,..." (gedubrak.com)

Saya temukan banyak kekeliruan semacam itu di sekujur novel, sehingga semata susunan pengkalimatan yang dibikin oleh pengarang jadi gagal untuk mendeliver cerita sebesar ide yang dimilikinya, bahkan menggiring ekstra tafsir yang terkadang menggelikan, seperti contoh di atas.

So, gimana supaya kalimat di atas tidak disalah-tafsirkan sebagai 'gay novel'? (tentu saja, kita tidak usah capek-capek memikirkan hal ini bila si pengarang memang meng-intensikan novelnya sebagai 'queerlit'! Ha ha, tapi saya kira bukan itu intensi pengarang, tentunya?)

Tentu saja, pengarang musti memperhatikan setting dan cara berinteraksi yang tepat, dan pada akhirnya memilih istilah yang tepat. Saya akan memberi alternatif semacam ini:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang tak melebihi pundak Aras-- tiba-tiba berhenti di sisinya dan mengamati tangan Aras penuh minat. Lalu tanpa permisi ia meraih pergelangan tangan Aras dengan pegangan sekuat penjagal sapi. Aras meringis kesakitan sekaligus keheranan, dan mencoba melawan dengan menarik lepas tangannya. Si Baju Zirah justru tertawa girang dan membetot tangan Aras lebih kuat lagi, membuat Aras harus mengerahkan tenaganya lebih besar lagi. Terjadi tarik-menarik yang cukup ulet, sampai akhirnya Si Baju Zirah melepas tangan Aras sembari terbahak, "Ha ha ha, hebat kau, nak! Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!" ujarnya dengan nada memuji yang tulus.

Pelajaran ketiga, adalah bahwa pembaca tidak bisa dijejali dengan terlalu banyak nama. Saat pengarang mengintrodusir SETIAP nama kepada pembaca, pembaca harus membuka file ingatan guna memasukkan nama itu dalam konstelasi cerita. Kenapa, sebab pembaca harus mengingat tokoh tersebut, apa posisinya, apa perannya, dalam cerita, ketika menjumpai nama itu seratus dua ratus halaman sesudahnya. The bad di Cardan, adalah terlalu banyak nama yang tidak cukup diikat dengan konteks, akibatnya terlalu banyak open file di kepala pembaca, yang membuat pembaca menjadi mudah tersesat.

Tata penamaan terkesan masih separuh asal. Pengarang menciptakan konvensi tiga nama untuk kebanyakan tokoh-tokohnya, seperti Aras Boma Palawa, Divin Shinta Wordane, Zavier de Voco dan lain-lain. Tapi sungguh sulit mengingat rangkaian tiga nama tersebut karena pengarang tidak punya konvensi mengenai cara mengintrodusir nama-nama tersebut.

Umumnya, nama-nama rumit/ kompleks harus diintrodusir seawal mungkin, setidaknya pada saat tokoh bersangkutan pertama kali dihadirkan oleh pengarang di panggung cerita. Dalam novel ini, nama Putri Divin termasuk yang diintrodusir pada saat yg tepat. Tapi jangan lah menghadirkan nama lengkap tiga kata itu setelah melewati sekian puluh halaman, guaranteed, pembaca akan sulit mengingatnya. Sebagai contoh, nama Aras Boma Palawa baru muncul di bab 3, sebelumnya hanya Aras saja. Dan kemunculan nama lengkap itupun tidak memiliki signifikansi apa-apa, muncul begitu saja dalam kalimat, "Pada waktu yang sama di dalam hutan Dio, Aras Boma Palawa merebahkan tubuh di tanah yang dihiasi pepohonan yang luar biasa besar dan lebat".

Di luar konvensi nama-tiga-kata, saya juga punya problem dengan nama asal caplok. Bagaimana sebuah nama ARAS BOMA PALAWA, bisa hadir di setting Cardan ini? Bagaimana bisa ada nama SHINTA di antara DIVIN WORDANE, gimana ada nama ZAVIER DE VOCO? Apakah setting novel bersentuhan dengan budaya India atau Spanyol? Belum lagi inkonsistensi nama-nama panggilan. Aras dan Divin dipanggil berdasarkan nama depannya, tapi Voco, dipanggil berdasarkan nama belakang.

Demikian juga dengan konsep locale yang agak sulit dimengerti, dan tak dijelaskan lebih jauh sehingga membingungkan pembaca, seperti:

Apa itu Garinka, sebuah benua, atau Kerajaan? Apa hubungannya dengan kerajaan Tolan, lalu ada kerajaan Memoard, ada Sync, ada Zonega? Ada pula nama Hinkal di dalam kerajaan Tolan, apakah maksudnya nama Kota Hinkal? Nama-nama tempat ini tidak dilengkapi dengan penjelasan yang memuaskan, setidaknya untuk memudahkan pembaca dalam membayangkannya.

Tampaknya memang pengarang menggunakan strategi 'imajinasi tak terbatas' dalam mengarang nama-nama di novelnya, sehingga seakan-akan nama-nama itu diambil secara sembarangan, dari berbagai sumber. Beberapa nama malah mengesankan bahwa pengarang menggunakan buku manual komputer sebagai referensi penamaan, tengok aja nama-nama: Sync (dari Synchronization), Memoard (seperti Memory, kan?), Links (pranala), Ada Hinkal 'Core' (Core duo?), Logite (Logitech?), Alt (liat, di keyboard lo tuh!). Yah, sebagai proses kreatif sih, nggak salah-salah amat. Tapi setidaknya tetap harus ada reasoning yang memadai dalam proses pengarang menciptakan nama-nama untuk digunakan dalam universenya. Paling dikit, ya agar bisa mensustain 'believeability', dah.

Misalnya, menggunakan nama-nama yang diambil dari dunia komputer seperti di atas, untuk setting novel sci-fi atau techno-thriller. Atau menggunakan nama-nama binatang untuk setting semi fabel (contohnya di novel Anansi Boys-nya Neil Gaiman). Kesesuaian semacam itu akan memudahkan imajinasi pembaca, serta memberi nuansa 'aura' yang pas buat novel.

Lantas, apa sisi positif Cardan?

Satu hal yg bisa saya sebutkan, plot (dalam pengertian yang amat-amat-amat-amat dasar) cukup memiliki daya pikat, dan ada ide 'besar' di belakangnya. Kalau bicara susunan plot, Cardan cukup standar buat kisah-kisah Fantasy, bahkan plot Cardan menjadi lemah akibat kurang kuatnya hubungan sebab-akibat digelar di dalam jalinan kisah novel ini. Tapi pengarang memiliki beberapa cabang plot yang tak biasa, yang cukup memberikan kejutan kecil. Antara lain pengkhianatan Raja Links, yang walaupun motifnya terasa ngga substansial, telah membuat novel ini memiliki 'warna' yg beda. Demikian juga keberanian pengarang untuk mengakhiri novelnya dengan situasi tragik, sesuatu yang jarang dilakukan oleh penulis kita.

Tentu maksudnya dapat diraba, yaitu dengan tragik ini, pengarang berharap untuk menumbuhkan rasa penasaran yang kuat di sisi pembaca, agar termotivasi untuk membeli sekuelnya. Dan saya pikir itu strategi yang cukup bagus.

Sayang sekali, strategi itu tidak berhasil 'mengugah' buat saya, dikarenakan sekujur novel telah dikerjakan secara too bad, badly written sehingga saya tidak berselera bahkan untuk membacanya ulang, alih-alih ngikutin serialnya sampai selesai. Seperti koki yang punya bahan-bahan makanan yang bagus dan mahal, tapi ngga bisa memasak dan mencampur bumbu yang enak. Hasil akhirnya ya tetep aja orang jadi ogah memakan masakannya.

Kan jadi sayang, ya?

Buat pengarang, selamat, karya pertama anda sudah eksis. Emang (karya yang ini) masih belum bagus buat saya, tapi bukan berarti anda ngga bisa menelurkan karya bagus di masa mendatang. Terus aja perdalam skill menulis anda, belajarlah sama ahlinya! Sukses, dah!

Salam,

FA Purawan

Jumat, 08 Agustus 2008

ZAURI: Legenda Sang Amigdalus (dian k - 2006)


Data buku:
Penerbit : Grasindo
Editor : Mira Rainayati
As. Editor : Veronica B. Vonny
Penata Isi : Suwarto
Desainer Sampul : Bene
Tebal : 309 halaman

Penghargaan:
- Juara 2 Adhikarya IKAPI 2007
- Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007, kategori Penulis Muda Berbakat.

Nah, ada pemenang award masuk sini :)

Lantas menjadi 'beban' buat reviewer, apa yang harus reviewer tulis? Kalau bikin review kritis, ntar bisa dipertanyakan, "Siape loh?" mengingat orang-orang yang lebih 'ngerti' aja sudah menempatkan buku ini sebagai sebuah karya yang mendapatkan penghargaan (baca: jadinya pasti berkualitas, dongs). Tapi kalo bikin review positif, bagaimana dengan standar yang dimiliki reviewer? Apakah bukan berarti reviewer sudah mengorbankan standarnya demi menyesuaikan diri dengan penilaian sekumpulan juri?

Bingung, yah?

Untung saja aku gak menempatkan diriku sebagai 'reviewer', heheh. Karena aku pakai kacamata pembelajar, apapun akan kuanggap positif, karena dari kondisi apapun kita selalu dapat menarik pelajaran sebagai salah satu 'jalan' menuju peningkatan skill maupun wawasan kita dalam membuat karangan.

Novel Zauri sesungguhnya sudah lama diterbitkan. Saya bahkan sudah sempat berkenalan dengan pengarangnya sebelum saya membaca novelnya. Insya Allah, hal itu tidak membiaskan pembelajaran saya, dah. Novel ini baru saya baca sebab saya baru mendapatkan kopinya dijual di Pameran IKAPI bulan Juli 2008 lalu, sudah lama saya cari-cari di toko buku tak pernah ketemu. Sampai sempat saya pertanyakan pada pengarang, apakah bukunya mengalami masalah distribusi, koq sebagai sebuah karya yang menang penghargaan, tidak mudah dijumpai di toko buku. Padahal sumber pencarian utama saya biasanya toko buku Gramedia, dan Zauri adalah terbitan Grasindo yang nota-bene anak perusahaannya Gramedia!

Clearly, kalo jaringan toko buku Gramedia aja nggak memajang buku ini, bisa berarti stok habis dan belum ada cetakan ulang. Kalau belum dicetak ulang, kemungkinan terbesarnya adalah, novel ini tergolong 'slow moving', alias kurang laku. Nah, pertanyaannya kenapa sebuah buku pemenang penghargaan bisa gak laku? (well, di negeri kita ini, memang antara 'bagus' dan 'laris' itu belum tentu sekutub, hehehe). Tapi kelihatannya ada satu faktor, yaitu desain sampul. Tapi mendingan aku bahas belakangan aja, kali yee,..?

Sekarang mengenai ceritanya dulu. Zauri bercerita tentang petualangan seorang putri raja, Putri Regia, beserta sidekick-nya Nina, yang disihir oleh penyihir kerajaan menjadi seorang gadis amnesia tanpa identitas dan se(orang/ ekor?) peri. Akibat keamnesiaannya itulah, si putri bertualang ke sana-kemari sampai terlibat intrik kerajaan negeri tetangga dan negrinya sendiri.

Dalam petualangannya, sang putri disupport oleh a slew of characters, mulai dari Dios, pemburu/ pendekar muda yang kharismatik; Kid, si pencuri cilik yang 'dewasa' sebelum waktunya; Dainty, si gadis pemilik kedai minum yang cantik, cerdas dan menjadi rival Regia dalam menarik perhatian Dios; Zen, pangeran negeri tetangga yang suppose to be tunangannya Regia (yang nggak diminati oleh Regia), serta sepasang tokoh komikal Mayorka dan Bruno, yang nama aslinya tak saya ketahui sampai cerita berakhir.

Secara umum, pengarang berhasil menciptakan karakter-karakter yang cukup believable, dan masing-masing memiliki ciri yang khas, yang mampu men-drive cerita sesuai plot yang digariskan pengarang. Lihat saja, tanpa perlu penggambaran yang berbusa-busa pun, pembaca langsung bisa menyelami karakter-karakter tersebut. Memang dalam kubu yang ekstrim, orang dapat mengatakan bahwa karakterisasi semacam itu cenderung stereotipe. Menurut saya, sebagai dasar karakter, stereotipe nggak jadi masalah. Toh yang penting adalah bagaimana pengarang memainkan karakter itu selanjutnya, dan kemudian mengembangkan para karakter sesuai universe cerita tersebut. Dan dalam aspek ini, kulihat pengarang sudah cukup berhasil, walau tidak terlampau mendalam. Which is memang konsisten dengan tone dari novel itu sendiri.

Novel Zauri memang memposisikan diri sebagai Roman-Fantasy remaja, dengan tokoh-tokoh yang lebih masuk ke kategori area 'feminin'. Dalam hal ini saya tidak menginterpretasikan tokoh-tokohnya sebagai bertingkah laku 'feminin' (tokoh utama malah justru digambarkan rada tomboy). Melainkan seperti aliran 'shojo' dalam khasanah manga Jepang. Itu semacam aliran menggambar komik dimana tokoh-tokohnya memiliki atribut feminin yg menonjol, biasanya dalam profil wajah, tarikan garis, pilihan kostum, dan umumnya ditargetkan ke pembaca kaum cewek. Membaca Zauri, saya pun merasakan adanya similaritas antara cara bercerita atau cara deskripsi pengarang, dengan cara manga shojo bercerita maupun berdeskripsi.

Nah, entah karena ke-shojo-annya, atau memang demikian gaya penulisan pengarang, Zauri tampil sebagai sebuah teks yang enak dibaca. Demikian 'terang' dan mengalir. Dia tidak sibuk dengan konsep yang kompleks dan jelimet, atau dengan aksi yang bombastis, atau konflik batin bersigi konspirasi multi partai dalam selimut. Simpel aja, sebuah cerita yang enak diikuti dan dengan ramah mengajak pembaca ikut di dalam petualangan Regia, dan mengandung elemen aksi maupun humor yang pas. Kurasa, teknik penulisan yang berpegang pada kesederhanaan kalimat dan deskripsi langsung, merupakan teknik yang telah membuat novel ini menjadi mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Dan jika hal itu merupakan nilai plus, kurasa nilai plus semacam itulah yang telah mengangkat posisi Novel ini menjadi layak untuk mendapatkan penghargaan.

Walau tentu saja, akibat dari kesederhanaan itu, jadi cukup banyak aspek yang tak tuntas dibahas dalam 309 halaman. Itu adalah satu sisi lain dari mata uang yg sama. Terus terang saya tidak cukup puas dengan berbagai alasan yang (seharusnya) menjadi latar belakang hubungan sebab-akibat yang terjadi di dalam novel. Banyak hal seolah sudah ditempatkan oleh pengarang secara apa-adanya, dan pembaca yang kritis terpaksa 'terima jadi' ikut mengalir bersama pembaca-pembaca gak kritis ke sungai plot.

Beberapa lubang logika, rasanya sudah disebutkan oleh beberapa review, dan kayaknya saya cenderung menyetujuinya. Saya sendiri menilai lubang logika yang ada tidak terlalu fatal. Hanya sekedar semacam ketidak puasan karena kurang 'lengkap' aja.

Beberapa yang saya rasakan masih kurang memuaskan antara lain:

Status Erica sebagai penyihir istana. Rasanya aneh, aja. Ada seorang penyihir berkekuatan luar biasa (bisa merubah orang menjadi peri) bisa diterima berkeliaran di sebuah istana. Mengapa Raja dan Ratu tidak menganggap orang-orang semacam itu sebagai ancaman? Kurasa bukan cuma Regia yg bisa dibikinkan duplikat, sang Raja sendiri pun dapat dibegitukan oleh Erica, bukan? Ini terutama karena Raja sendiri tidak dikatakan mampu mengimbangi sihir Erica atau sejenisnya, bahkan ketika putrinya sendiri digantikan boneka, ia tidak notice (Ini pasti tipikal Raja yang sangat sibuk sehari-hari di kantornya! :))

Alasan Dios menolong Regia di tengah hutan, sepertinya cenderung klise dan inkonsisten. Tak ada gunanya Dios bersikap dingin atau galak saat menolong seseorang yang tampaknya tersesat di tengah hutan, kecuali bila Dios sudah punya sentimen negatif terhadap orang itu sebelumnya. Karakter Dios sebagai loner tidak cukup kuat untuk menjustifikasi keaseman sikapnya terhadap Regia, yang tak berdasar itu.

Adanya Peri kupikir cukup out of context di dunia tersebut. Di satu sisi sistem kemasyarakatannya tidak terlihat akrab dengan Peri (tidak ada indikasi keberadaan peri di istana, dalam artefak budaya, etc), tapi di sisi lain beberapa warga (misalnya Nenek Luina) tahu adanya Istana Peri di hutan,...ada familiarity dengan peri, tapi tak tampak ada intergrasi budaya. Orang-orang tidak kelihatan asing melihat Mio (wujud peri Nina) terbang berkiter-kiter di dekat Kayla (wujud amnesia Regia), reminiscence of Tinkerbell to Peter Pan. Tapi koq tidak ada peri lain yang ngikut orang lain juga? Dengan tidak adanya integrasi antara budaya manusia dengan budaya peri, kesannya peri itu menjadi setara dengan hewan, atau insignifikan, atau bahasa lugasnya: tempelan dalam bangunan universe.

Berdasarkan keberadaan istana Elgamb yang 'melayang' karena disupport oleh kristal, juga topik utama novel yaitu kristal Zauri yang punya kekuatan dahsyat dan merupakan elemen utama plot novel ini, saya bisa mengatakan bahwa seharusnya novel ini menempatkan Kristal sebagai sentral kebudayaan di dalam novel. Seluruh kehidupan di dalam novel ini bertumpu pada kristal, sebagaimana seluruh kehidupan di Bumi bertumpu pada Minyak Bumi.

Ini masih kurang diolah. Padahal kalau mau diolah, hasilnya akan tumbuh sebuah kebudayaan rekaan yang amat kaya, dan tidak cuma menghasilkan produk budaya berupa kristal penyangga istana/ jembatan, kristal zauri, atau kristal fusan. Ia akan menghasilkan suatu karakter negeri kristal yang melingkupi seluruh aspek kebudayaan di novel Zauri, karena di universe ini, kristal adalah sumber energi yang tak terbatas.

Artinya, peran para Karphatian (sebagai pengendali kristal) bisa lebih sentral. Artinya, akan banyak pengembangan teknologi eksotis yang menggunakan kristal. Artinya, akan banyak kosa kata khas untuk kristal atau hal-hal terkait kristal, yang menunjukkan betapa tingginya posisi benda tersebut dalam tatanan kemasyarakatan di Zauri. Artinya, pengarang akan punya karya cipta berupa sebuah dunia fantasy yang benar-benar unik.

Pertanyaannya, apakah itu perlu? Toh, dengan hanya bermodalkan plot sederhana dengan penokohan standar seperti ini, Novel Zauri sudah mendapat penghargaan, bukan?

Nah, ini terpulang sama pengarang sih, mau jadi penulis yang cepat puas, atau penulis yang terus berkembang menjadi lebih baik. Heheheh,...

Kemudian mengenai penamaan tokoh maupun properti di dalam Zauri. Pengarang punya strategi memberikan nama-nama yang singkat dan mudah diingat, which works seplendedly :) Nama-nama seperti Regia, Kid, Dainty, Dios, Mayorka dan Bruno, rasanya udah cukup 'bunyi' di pikiran secara baik dan 'pantes'. Tapi nama seperti Nina, Kayla, Mio, Zen, Jort, Erica,,.. well,... rasanya nggak terlalu megang untuk dunia Zauri. Juga nama peroperti seperti Fusan, Bubaglob (spelling perlu check), Dahl, Aurgis (spelling perlu check), Mohaz, minuman... (halah, lupa juga nama minumannya, tar dicek dulu! Bukunya keselip dimana lagih?), juga rasanya nggak terlalu menimbulkan excitement. Gimana ya, it's just names, bukan karakter.

Terakhir mengenai ketidak puasan ku adalah mengenai sub judul Novel ini, yaitu "Legenda Sang Amigdalus". Gimana ya, ditaruh di sub judul, tapi keberadaan legenda itu sendiri cuma terasa sebagai sampiran setting, bukan inti cerita. Salah satu parameternya adalah: Sampai akhir cerita pembaca pun masih belum ngeh banget Amigdalus itu apa, kecuali bahwa si Mario, si pemenang Amigdalus award tahun ini, adalah penjahat yang akhirnya dikalahkan Dios berkat bantuan keajaiban kristal Zauri.

Nah, sekarang gimana kalo kita omongin kritik gue yang paling utama untuk buku ini, yaitu desain covernya!

Menurut gue sich,... desain cover Zauri belum tergarap secara memuaskan, dan yang agak berbahaya adalah bahwa desain ini berpotensi menghalau pembaca potensial mengeluarkan buku ini dari buying list mereka. Apa yang kurasa menyebabkan hal itu? Faktor paling menonjol adalah font tulisan Zauri, yang selain sukar dibaca, juga mengesankan ekspresi seram/ horror. Padahal apakah hal itu konsisten dengan karakter kristal Zauri? Apakah ke-horror-an ini konsisten dengan tone Novel yang cenderung ringan dan ramah itu? Lantas apa pertimbangannya menggunakan Font ala Frankestein, itu? Cacat font juga terjadi di sampul belakang, membuat sinopsisnya menjadi susah dibaca secara tak perlu.

Pikir aja deh, dalam membeli buku yang terbungkus plastik, apa yang membuat sebuah buku berpindah dari rak menuju tas belanja? Pertama: Cover, Kedua: Sinopsis/ Endorsement. Dan dua-duanya gak support ke isi buku Zauri. Oh, dan ada Ketiga: Karena gue kenal/ nge-fans pengarangnya,... hehehe.

Jadi sorry aja, walaupun secara teknis desain sebetulnya cover sudah dikerjakan secara bagus, rapih, grafis ilustrasi pedangnya keren (tapi pedangnya terlalu tipis, gak menarik perhatian), Cover itu sendiri gagal mencitrakan isi Novel untuk menarik prospective buyer, atau at least telah menghalau pergi prospective buyer dengan keseraman pencitraan yang tak perlu.

Tapi, apakah tuduhanku ini valid? Hmm,.... susah juga, ya. Ga ada bukti angka yang sahih, semua hanya berdasarkan spekulasi aja. Tapi paling tidak, kalau pun gue mau menyodorkan konsep cover apa yg kira-kira akan 'pas' buat Zauri, mungkin setidaknya gue akan memberi saran perubahan untuk Fontnya aja. Mungkin Font yg lebih intergratif dengan grafis kristal (misalnya huruf A-nya diganti gambar kristal etc), untuk memperkuat imaji negeri Kristal di universe Zauri. Plus, stempel informasi mengenai penghargaan juara II yg diperoleh Zauri, seperti cara novel-novel luar mempromosikan "New York Time's Best Seller" dan sejenisnya itu.
Akankah bakal laku? Well, siapa bisa jamin? Lagian masih ada sejuta masalah dalam distribusi yang menentukan keberhasilan pemasaran sebuah buku. Tapi setidaknya, dengan desain 'manis' novel Zauri akan tampil lebih utuh sesuai dengan harkat dan martabatnya! (Apaaa, siiiih?)

Anyway, buat dian, sekali lagi selamat untuk novel perdananya, selamat buat penghargaan & nominasinya, karya-karya selanjutnya ditunggu, ya!

Salam,



FA Purawan

Sabtu, 26 Juli 2008

DREAM OF UTOPIA: Maiden of Tears (Sammy Balladrom - 2008)

Data Buku:
Penerbit: Diwanteen
Editor: F Assegaf & Achmad Rifki
Setting & Layout: mps creativa
Sampul: Faisal Rangga
Tebal: 565 halaman.

Mimpi, adalah langkah pertama seorang manusia memasuki dunia fantasi. Ga berlebihan anggapan itu, mengingat di situlah gerbang pertama kita menyadari bahwa ada 'dunia' lain di balik dunia yang kita kenal. Dan di 'dunia' itulah kita mulai mengalami sebuah dunia yang tanpa batas wilayah, tak berbatas ruang dan waktu, di mana kita bisa menjelajah tanpa halangan, satu-satunya pembatas hanyalah ketika tiba waktu pagi :)

Mimpi, adalah Fantasy dalam bentuk yang paling dikenal oleh umat manusia.

Tak heran, bahwa banyak kisah Fantasy yang lekat dengan dunia mimpi. Mungkin cerita Fantasy paling awal yang saya kenal yang terkait mimpi ini adalah kisah Alice in Wonderland. Dan tentunya, masih banyak kisah Fantasy yang punya hubungan lekat dengan mimpi. Dan seluas dunia mimpi itu sendiri, kupikir apa yang bisa digali dari dalamnya sebagai bahan pembuatan cerita Fantasy bisa dianggap tak terbatas, seluas imajinasi manusia.

Dream of Utopia, sebuah novel perdana dari pengarang yang baru lulus SMA, Sammy Balladrom, termasuk salah satu yang menggali dunia mimpi ini secara kreatif.

Tersebutlah Alvernod Wolfric, dipanggil Verno, seorang remaja di kota Magestone, USA, yang mendapatkan sebuah tawaran aneh, untuk bergabung dengan dunia mimpi Dream Utopia, dimana setiap anggotanya bisa keluar dari mimpi mereka yang semu, dan masuk ke dalam mimpi yang nyata (maksudnya realistik). Di Dream Utopia, mereka dapat mengalami sebuah dunia alternatif yang memukau, alam yang amat berbeda, Elfa, Animala, Planta, dan kekuatan-kekuatan sihir. Setiap kali mereka tidur di alam nyata, akan terbangun di Dream Utopia. Dan sebaliknya, bila tidur di Dream Utopia, akan terbangun di Dunia nyata. Dan bonusnya, tubuh tetap segar seperti biasa. Dan advantage-nya, di dunia Dream Utopia, kamu akan tetap mengingat segala hal yang terjadi baik di dunia nyata maupun di Dream Utopia, sementara disadvantage-nya, di dunia nyata kamu akan melupakan apa yang terjadi di Dream Utopia (Now, why would somebody want to have that, beats me! Apa gunanya bermimpi indah kalo gak bisa mengingatnya?).

Ini premis yang sangat menarik, dan easily sangat workable untuk dikembangkan dalam sebuah novel. Gini dong, bikin ide, gak usah susah-susah, gak usah grande-grande-an, sederhana tapi langsung bisa nge-gas. Berkahnya, penulis bisa lebih concern mikirin aspek kepenulisan untuk membuat ceritanya menjadi lebih memikat pembaca.

Membaca Dream of Utopia, saya sungguh terkesan. Pengarang memiliki kemampuan bertutur yang lancar dan terang, dengan balancing yang pas antara action, narasi dan dialog. Pengarang memang memilih setting non Indonesia, dengan alasan yang hanya diketahuinya sendiri mengapa. Tapi penerapan setting non-lokal (dalam hal ini nuansa negeri paman Sam) berhasil diterapkan secara baik dan natural. Kalo saya bilang bahwa kesannya persis seperti membaca novel terjemahan dari pengarang luar nagri, jangan buru-buru anggap itu sebagai komplimen, karena buat saya bisa nulis kayak orang bule itu nggak terlalu membanggakan. Menjadi komplimen ketika saya merasakan tulisan Sammy lancar tanpa memaksa, sekalipun bersetting bukan Indonesia. Artinya pengarang sudah melakukan balancing yang amat baik untuk menjaga agar tulisannya dinikmati secara konsisten dan koheren. Ada banyak karya tulis lokal yang secara aneh memposisikan orang Amerika seperti berpikir dan bertindak secara Indonesiawi (kalau orang indonesia berpikir dan bertindak secara Amerikawi, itu udah gak aneh lagi sekarang, hehehe). Rasanya style menulis pengarang sudah bebas dari kesalahan-kesalahan gegar budaya, seperti penulisan dialog "Dong, Deh" dan semacamnya dalam setting yg supposedly non-Indonesia, dan juga berhasil membuat bahasa percakapan dalam dialog menjadi tak terlampau kaku atau 'maksa'.

Hanya ada sedikit banget kesalahan, yang hanya mungkin dipersoalkan oleh mulut-mulut cerewet macem gue punya, hehehe. Misalnya penyebutan Mrs. untuk tokoh-tokoh gadis yg masih pada remaja (kudengar cukup lazim untuk kesopanan? tapi karena konteksnya disini penyebutan kepada mereka selaku siswi, mustinya yg lebih tepat adalah Miss). Kemudian nama Verno, dipanggil singkat sebagai "Ver,.." koq rada aneh untuk orang Amerika. Mustinya sebagaimana nama Dalton yang dipanggil "Dalt,", Verno juga lebih cocok dipanggil, "Vern,"

Selebihnya, cukup perfect. Dan kelebihan lain yang saya rasakan adalah keberhasilan Sammy untuk membuat "page turner", alias novel yang membuat kita mampu membaca terus dan gak terasa membalik halaman demi halaman. Membaca Dream of Utopia, sekilas terasa bagaikan membaca Harry Potter, dan ITU adalah sebuah komplimen!

Proficiat juga untuk dunia fantasi yang diciptakan oleh Pengarang. Benar-benar dunia yang dipenuhi imajinasi. Dunia Dream Utopia adalah bagaikan dunia dongeng, dan pengarang berhasil menggambarkan itu melalui deskripsi yang amat kaya, melibatkan warna-warna, bentuk-bentuk fantasi, hewan fantasi, sampai dengan konsep fantastik (misalnya rumah pohon raksasa Yggdrasil yang terdiri dari ribuan kamar). Begitu mudah dibayangkan oleh pembaca, sekaligus rasanya begitu mudah divisualisasikan secara indah oleh seorang ilustrator kompeten. Dan yang penting, saya merasakan bahwa semua khayalan itu memang hadir pada tempatnya, tidak terasa seperti mengada-ada atau tempelan (biasanya terasa demikian apabila sistem logikanya kedodoran).

Mari saya ambilin contoh:

Terbentang luas hamparan rumput hijau kebiruan--hamparan rumput di dalam sebuah pohon raksasa--memantulkan sinar matahari dari embun-embun yang menggantung di ujung rumput. Bunga peony, chrysanthemum, hyacinth, hydrangea biru dan merah jambu, jasmine, anggrek, ros, melati, dahlia, kamboja, dan berbagai bunga liar menjalar menguasai seluruh bebatuan dan pilar-pilar menjulang--seolah menunjukkan keanggunan luar biasa yang mereka miliki. Patung-patung berbentuk animala dan elfa tersusun rapi mengelilingi lingkaran tengah pohon.

Sebuah kolam besar terlihat tak jauh dari hadapan mereka, dikelilingi oleh tujuh kolam segitiga yang lebih kecil, airnya sebening kristal, serta memunculkan pelangi lengkung sempurna di atasnya. Puluhan ikan melompat dari dalamnya, ikut menghirup udara segar yang ada--menyapa mereka dengan kombinasi warna bagai lukisan seorang maestro. Beberapa Elfa berpakaian gaun mengkilap bermain berpasangan, membentangkan sayap-sayapnya yang mungil, melayang menyenangkan di atas permukaan rumput. Kelinci dan tupai berjalan kesana-kemari, melompat dengan riang. Lapangan rumput ini dikelilingi pilar-pilar cokelat, membentuk lingkaran pohon yang tingginya entah berapa lantai. Pohon raksasa ini terlihat bagai tabung berongga. Di kiri-kanan terlihat lorong lebar--sebenarnya membantuk lorong lingkaran--berlantaikan marmer, campuran warna coklat dan peach.

(suasana di dalam Yggdrasil, hal. 158-159)



Masih banyak yg lebih bagus dari ini, cuma saya males ngetikin semuanya, hehehe,.. mendingan baca aja bukunya sendiri. Dan rasanya ini novel layak baca, kalaupun sekedar cuma ingin menikmati penggambaran dunia Dream Utopianya aja! Wisata Fantasi, adalah salah satu elemen daya tarik yang hanya ada di genre Fantasy. Pengarang cukup pandai untuk memanfaatkannya semaksimal yang ia bisa.

Hal lain yang patut dipuji dengan dua jari jempol adalah kreativitas Pengarang dalam memberi nama-nama, terutama nama-nama property dalam dunia Dream Utopia-nya. Pengarang mampu memadu-padankan istilah-istlah bahasa Inggris menjadi suatu nama baru yang tetap konsisten dengan konsep baru yang dinamainya itu. Penamaan ini memberi excitement tersendiri dalam konteks fantasy, serta memunculkan definisi khas yang langsung lekat dalam imajinasi pembaca. Lihat beberapa contoh berikut ini:

Eleafator: magic lift yang terbuat dari anyaman daun
Aerosnake: Ular raksasa bersayap, bisa terbang, sering dipakai sebagai sarana transportasi udara
Elfiend: Elf yang berasal dari Dark Utopia, musuh Elfa
Dolphant: Animala persilangan Dolphin dan Elephant, berbentuk lumba-lumba yang memiliki gading, dipakai sebagai sarana transportasi air.

Pengarang juga memiliki sistem sihir yang cukup solid, disebutnya sebagai Natural Arts yang terdiri dari:

Hydromancy
Pyromancy
Aeromancy
Psychomancy

Tentunya masing-masing terkait dengan elemen yang diwakilinya: Air, Api, Angin, Jiwa.

Pendeknya, untuk buku yang satu ini, pengarang tampak sudah mempersiapkan Universenya secara lengkap dan detail, satu hal yang sangat saya puji untuk sebuah karya literasi Fantasy.

Selain setting yang unik dan komprehensif, jangan lupakan karakter-karakternya. Untuk karakter ini menurut saya sudah cukup standar dan bagus. Ada Verno si tokoh utama, Marsha yang juga menjadi lead role, Claire yang cerdas, Fantasia (Fan) yang artis penyanyi terkenal, dan masih banyak tokoh lain manusia maupun Elfa yang tampil cukup sesuai porsi masing-masing, membentuk susunan cast yang cukup menghidupkan cerita. Miriplah dengan tipikal tokoh-tokoh ala Harry Potter, sekalipun mungkin dalam hal karakterisasi masih kalah matang. Untungnya, hal ini masih bisa dikejar dan dikembangkan dalam novel sekuel. Setting yang solid akan sangat memudahkan hal ini.

Lantas apa yang bisa saya utarakan sebagai masukan?

Well, sebagai sebuah karya perdana, rasanya terlalu too good to be true, ya, kalo gak ada kelemahan? Hehehe,... menurut saya sih ada sedikit kelemahan yang bukan bersumber dari kemampuan pengarang dalam menulis atau berfantasi.

Di bagian-bagian awal, tempo cerita terasa enak melaju, dengan actions yang cukup memikat walaupun latar belakangnya kurang dijelaskan. Tak apa, sebab pembaca sadar bahwa cerita masih baru mulai. Memasuki bab Ujian ke Dream Utopia (masuk dunia mimpi rupanya harus diuji dulu), plot tambah memikat. Walaupun logika saya sempat berkali-kali terchallenge, berkali-kali pula saya menegasikannya, memaklumkannya semata karena emang lagi enak ngikutin ceritanya aja. Apalagi saat masuk dunia Dream Utopia secara utuh, wuah, saya sampai terkagum-kagum. Kira-kira sampai pertengahan buku setebal 500-an halaman ini.

Pas sampai pertengahan,.... (biasa, syndrom buku tebal!), mulai terasa slowing down. Aspek penceritaan tetap bagus, sih, cuma sebagai pembaca saya mulai bertanya-tanya. Ada cukup banyak pertanyaan yang saya ucapkan, antara lain (1) apa sih tujuan dari plot-plot ini? (2) mengapa rasanya mulai 'aneh', (3) saat fokus-fokus mulai bergeser pada konflik dan masalah, saya jadi check back dan memperhatikan kembali apa yang sudah terjadi dan apa arah pengarang selanjutnya.

Bukan salah pengarang sepenuhnya. Biasalah dalam suatu novel, pembaca akan disuguhi hal-hal memukau di bagian depan, sebelum kemudian mulai masuk ke inti permasalahan. Setelah hal-hal ajaib di awal mulai terasa biasa-biasa aja, otomatis otak saya akan mencari-cari masalah. "Trus ngapain, neh?" begitu kali, jika si otak bisa ngomong. Akibatnya, otak mulai menguraikan segala anomali yang dirasakannya. Saya harus berulang kali mengingatkan otak saya bahwa ini dunia mimpi, anomali itu dimungkinkan oleh logika cerita. Tapi dasar otak, teteup aja ngotot.

Beberapa hal ditanyakannya,

"Aneh deh, ngapain untuk masuk Dream Utopia aja pakai tes-tes yang segitu aneh? Udah gitu, apa relevansi tes-tes itu kemudian?"

"Dream Utopia ini ada yang ngatur (merintah), ya? Dan pemerintahnya itu ternyata tukang 'tipu'! Ternyata mereka ngerekrut anak-anak itu cuma untuk dijadikan pasukan melawan Dark Utopia. Kalo gue jadi orang tua murid di Yuna, gue udah bikin petisi, tuh."

"Dream Utopia sudah berusia 20.000 tahun lebih, dan ADA yang menciptakan!! Koq ngga hal itu ngga terefleksikan dalam cerita secara memuaskan?"

"Anak-anak ini di dunia nyata udah sekolah, eh di Dream Utopia SEKOLAH LAGI! Sekolah untuk mempertahankan diri, katanya. Lhah, kenapa gue harus mau masuk dalam dunia mimpi yang sama bahayanya dengan dunia nyata? udah gitu SEKOLAH! Boy I hate that word!" (Harap maklum, otak saya memang membenci sekolah, semata berdasarkan pengalamannya selama sembilan belas tahun di sistem pendidikan RI. Well, dia memang nggak bisa disalahkan, hehe).

"Kalo orang mati di Dream utopia, di dunia nyata dia mati juga gak ya?"

Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, saya hanya nyengir aja menanggapinya.

"Untuk apa orang 'hidup' di Dream Utopia?"

Tek, untuk yg satu ini, terpaksa saya tercenung.

Well, mungkin di titik itulah ide saya dengan ide Sammy Balladrom gak ketemu. Saya orangnya terlalu serius, sehingga nggak bisa menemukan apa point terpenting dari all the fuss about this dream world, apabila segala alasan dan segala konflik mengenainya tidak terjelaskan secara memuaskan. Saya tahu, kadang Fantasi tidak selalu membutuhkan penjelasan. Tapi sebagai pembaca, saya paling malas kalau masih ada ruang-ruang kosong di kepala saya.

Ada orang bikin sebuah dunia mimpi Dream Utopia dua puluh ribu tahun yang lalu, untuk motivasi yang belum dijelaskan, dan lantas ada dunia lawan berupa Dark Utopia, yang mati-matian berusaha menerobos portal ke Dream Utopia untuk maksud yang juga kurang jelas. Bahwa Dark Utopia juga dianggap the bad guys, okelah. Tapi penjahat di dunia nyata aja ada alasannya kenapa jadi penjahat. Kemudian selama ini Dream Utopians merekrut warga Magestone melalui surat bersampul hijau itu, kenapa? Masih menjadi pertanyaan menggantung.

Gara-gara pertanyaan tersebut, upaya saya menikmati setengah buku ke belakang terus terang menjadi terganggu. Bukan salah pengarang, tapi salah saya sendiri. Gara-gara itu, konflik utama novel mengenai usaha para Guardiana mengantar Maiden of Tear ke Havarma Coast menempuh kesulitan (yg rasanya merupakan semacam ujian juga, karena sebetulnya mereka bisa lewat jalur lain yang lebih nyaman) guna menutup Portal, menjadi perjalanan yang tak terlampau menarik lagi bagi saya. Itulah jeleknya otak saya. Ketika masalah utamanya belum diaddress secara memuaskan, otak saya langsung menegasikan hal-hal lain sebagai sekedar tempelan belaka.

Padahal, apabila saya membaca tanpa prasangka apapun, jalinan cerita tetap merupakan kisah memukau yang sulit dicari tandingannya. Dream Utopia menetapkan siapa Maiden of Tear yang ke tiga belas, kemudian melakukan ujian (lagi) untuk mendapatkan Guardiana, kemudian Maiden of Tear dan Guardiana menempuh perjalanan berbahaya, memasuki alam Dream Utopia yang semakin ajaib, memecahkan berbagai persoalan, sampai akhirnya showdown melawan pasukan Dark Utopia di portal Havarma Coast. Padahal ada Treetop Lodge, padahal ada Lake of Undine (yang demikian imajinatif), padahal ada paduan suara Fan dan Syrenia yang memukau (sayang menyanyinya pakai bahasa Elfa yang kurang meyakinkan. Kalo dibikin pakai bahasa Inggris dengan makna yang pas, kurasa akan jauh lebih menggetarkan!), adegan klimaksnya juga terasa a wee bit keburu-buru, padahal ini sebuah kisah seru, sebetulnya :)

Jadi, kesimpulannya sebagai masukan saya: kalau pengarang berkenan memuaskan otak saya, please kembangkan sebagian plot untuk memperjelas misteri mengenai Dream Utopia yang belum tersingkap ini. Kenapa semua hal menjadi seperti sekarang. Tapi kalo gak berkenan, ya ga apa-apa juga, sih. You already have a great story :)

Sebagai penutup, saya mo kritik dua hal yang kurasa bukan porsinya Pengarang, tapi porsinya Penerbit.

Pertama mengenai sampul, yang kurasa sangat tidak do justice terhadap naskah top notch-nya pengarang ini. Ilustrasi sampul berupa gambar kepala cowok yang tiduran di rumput sambil menutup matanya. My God maksudnya apa? Ekspresi anak itu seperti anak bule yang lagi mikir "Cilaka, gue lupa ngerjain PR Mrs. Easton,", atau mungkin ekspresi si bintang basket yang lagi nyaris pingsan dan mimisan akibat kehantam bola basket di kepala. Nggak banget!! Font judul terlalu tipis dan kurang kontras (warna hijau keemasan di atas latar belakang warna hijau), sehingga ngga langsung terbaca di antara deretan buku di rak pajang. Cover belakang berisi sinopsis kepanjangan yang ditulis dengan huruf berfont ukuran 6 point, kali. Nggak kebaca di mata gue yang udah plus-minus-silindris ini!

Jangan salahkan pengarang, bila penjualan buku kurang menggembirakan. Itu akibat dari bad cover design!


Pokoknya, desain cover Dream of Utopia ini bener-bener merusak jurus "Judge by the Cover" gue, karena pertama kali ngelihat, jujur gue ngerasa ni buku 'murahan' banget, pasti ceritanya norak. Dan amboi ketika saya salah 100 persen, maka kesalahanku itu aku timpakan back-to-back pada desainer sampulnya! He he he,... (sorry ya mas ilustrator, saya tahu pemilihan gambar sampul bukan semata-mata ada di Anda, koq).

(Kalau saya ditanya ilustrasi apa yang pas buat sampul buku ini? Jawaban saya udah pasti: Gambar Pohon Yggdrasil, yang dilukis oleh ilustrator Fantasy yang kompeten.)

Yang Kedua, adalah mengenai Judul: Dream of Utopia.

Pertama baca judul itu di rak pajang, saya sempat mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang janggal. Kupikir-pikir lagi makna kata-kata itu menjadi, "Memimpikan (suatu) Utopia", tapi mustinya inggrisnya adalah Dreaming of an Utopia. Atau mungkin "Mimpinya si Utopia", koq masih aneh ya? Ah! Pokoknya itu terasa seperti Bahasa Inggris yang 'salah', aja.

Lantas di dalam bukunya, pengarang secara konsisten dan benar selalu menuliskan Dream Utopia, bersanding dengan Dark Utopia, atau Orientation Utopia, which is kuanggap benar karena masing-masing jelas menyebutkannya sebagai suatu nama tempat yang memiliki properti sifat-sifat tertentu.

Dan belakangan, aku dapat statement dari pengarang bahwa judul aslinya memang Dream Utopia, tapi kemudian 'curiously' disampul tercetak Dream of Utopia dengan sub judul: Maiden of Tears (Di halaman dalam aja masih tercetak judul original, Dream Utopia (Perjalanan di Dunia Mimpi)).

Aku nggak tahu kenapa dan darimana sang Penerbit punya ide se-misleading itu, tapi dugaan sementaraku saat ini adalah bahwa ini merupakan usaha para Agen Dark Utopia yang sedang menjalankan misi mencegah buku Dream Utopia laris di kalangan penggemar Fantasy (halah!)

Well, demikian aja kritiknya. Sedikit, khan? Kurasa dengan segala kelebihan dan pesona yang dimilikinya, nggak berlebihan bila untuk saat ini, Dream of Utopia karya Sammy Balladrom aku nobatkan sebagai The Best Fantasy in my List, menggeser posisi Ledgard, untuk sementara.


So, untuk Sammy, selamat datang penulis Fantasy baru Indonesia! You have a great work! Lanjutannya kami tunggu.

Untuk temen-temen penggemar Fantasy, kurasa tidak salah kalau aku rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Layak beli, juga lah. Please support para pengarang potensial dengan membeli bukunya, jangan minjem atau nge-ebook. Biar gimanapun, kalo ga ada profit, ga mungkin bisa terbit kisah lanjutannya, dan kita juga yang rugi. He he he,...

Salam,


FA Purawan

Minggu, 06 Juli 2008

ENTHIREA: Pertempuran Dua Dunia (Aulya Elyasa - 2008)



Enthirea,

Kalo temen-temen kemudian merasa terkenang pada yang ijo-ijo royo-royo, jangan keburu merasa heran dulu, atau lantas mendaftarkan diri pada paguyuban Green Peace, atau World Wildlife Fund, ato lebih ekstrim lagi, ke majalah Trubus.

No, it's only your uncosciousness' kicking in. Kalo anda tau-tau mikir yang ijo-ijo, itu kemungkinan karena Enthirea adalah otak-atik 'kreatif' dari kata: Anthurium, tanaman berdaun hijau lebar yang bikin banyak orang jadi sinting dan nekat membeli dedaunan dengan harga milyaran. Nah kalo kebeneran ada ulet ga sengaja jatoh ke pot anthurium itu dan memakan sedikit daonnya, tuh, si ulet baru aja makan makanan ulet TERMEWAH sedunia! He he he,...

Coba deh, mirip khan? Enthirea, Anthurium,...

Boleh aja dibilang sebagai kreativitas, namun sadly, that's the only thing 'creative' about this book.

(He he he, mungkin gue memang a bit exagerated. Okelah, masih banyak kreativitas lain. Tapi akui aja, kalimat di atas itu memang provokatif dan atraktif, khan?)

Pengarang, Aulya Elyasa, adalah seorang Psikolog berusia 25 tahun, yang sekalipun sudah banyak berkecimpung dalam dunia penulisan, antara lain berupa puisi, psikologi populer dan fiksi fantasi, menyatakan bahwa Enthirea adalah novel pertamanya, yang direncanakan akan terbit sebagai Trilogi. Punya moto: CARPE DIEM (mottonya alm. Fuad Hassan juga, yach?), dan saat ini sedang menyelesaikan buku kedua Enthirea: Delapan Pelindung.

Which is, menjadi saat yang tepat untuk buru-buru menginformasikan review ini kepada beliau, supaya ada kesempatan bagi pengarang untuk habis-habisan memperbaiki teknik penulisannya. Dan kalau kubilang habis-habisan, itu bisa berarti sepuluh kali battle di Helm's Deep pun belum tentu bisa memenangkan kelemahan novel ini (yang belum tahu Battle of Helm's Deep, baca dulu The Two Towers, kali ye). Well, yeah, buku satu ini memang masih merupakan karya yang 'lemah' banget. Justru menjadi pertanyaanku, apakah sebaiknya pengarang melanjutkan kelemahan yang sama ke buku dua (sehingga jadi konsisten), atau banting setir dan memperbaiki buku kedua sehingga menjadi suatu karya yang 'melompat' dari buku satu. Dilema, oh dilema,....

Enthirea adalah sebuah kisah Fantasy epik klasik dengan plot klasik: seorang nobody yang ternyata merupakan somebody yang bertugas untuk menyelamatkan everybody.

Pusing? Ala begitu aja koq pusing. Coba anggap nobody adalah 'Hobbit dari Shire', Somebody adalah 'Ring Bearer', dan Everybody adalah 'Middle Earth', sounds familiar? Sekarang ganti nobody menjadi 'Penebang Kayu', Somebody menjadi 'Pelindung', dan Everybody menjadi 'Benua Enthirea'. Jadi jelas, khan? Kalo mau motif, tambahkan seorang Dewa Kegelapan (Orgath) yang bermaksud menguasai Dunia. Dan biar rame, tambahin Elf, Kurcaci dan Goblin along the way.

And, you've got a story, right? Sayangnya, tidak sesimpel itu. Sebuah 'story' baru bisa eksis apabila ada believability. Dan untuk bisa meyakinkan dan mempengaruhi pembaca, ada banyak hal yang harus digarap. Sayangnya, Enthirea belum maksimal menggarap hal-hal ini.

OK, bagaimana saya melihat Enthirea sebagai suatu keseluruhan? Saya melihatnya sebagai sebuah karya di mana pengarang merencanakan plot dengan cukup matang, membuat kerangka cerita yang baik, tetapi tidak menyulam, merangkai dan menjahit plot itu dengan kata-kata, kalimat, dialog, narasi, dan deskripsi pilihan yang menjadikannya selembar 'kain' cerita yang memukau.

Kalau mau dirangkum, area kelemahan Enthirea ada di dalam hal-hal ini:


  1. Setting yang kurang meyakinkan

  2. Logika yang kacau

  3. Dialog yang 'corny'.

Bicara urut nomor, deh.


Untuk setting, pengarang tampaknya sudah memikirkan cukup dalam. Adanya peta di halaman belakang novel juga cukup membantu (walaupun akhirnya terasa ada kekacauan kala membandingkan peta dengan deskripsi dari pengarang. Tar kubahas). Penamaan tempat maupun tokoh juga seperti sudah memikirkan kaitan antara nama-nama tempat dengan latar belakang penamaannya, atau penggolongannya (walau tak sekompleks yang kuharapkan dari seorang penulis dewasa, tapi mungkin beliau punya alasan tersendiri terkait target pasar) demikian juga dengan nama-nama tokoh. Walau jujur, gue agak ketawa saat pengarang menetapkan tokoh utama dengan nama Elyaz, alter ego banget sih. Tapi itu normal dan hak pengarang, anyway.

Namun kelemahan setting sangat terasa dalam hal 'penghidupan' setting guna mendukung cerita, supaya cerita menjadi hidup di pikiran penonton dan setting menjadi bagian dari cerita; bukan sekedar seperti panggung tempat para aktor beraksi, atau diorama di museum-museum yang diam membeku di bawah tatapan mata pengunjung. Membaca Enthirea rasanya seperti membaca sebuah business report: Tadinya gini, abis itu gini, kemudian nantinya akan menjadi gini, tetapi masih ada gini, dst. Sibuk, dan gak sempat lihat-lihat keindahan, padahal meetingnya di Bali,... hehehe. Kembali, hiperbola ku aja sih.

Menurut saya kelemahan pengarang adalah terlalu irit dalam mendeskripsikan situasi, property, landscape, bahkan tokoh-tokoh dalam novelnya. Memang, novel ini memiliki POV orang pertama (tokoh Aku) sebagai narator cerita. POV pihak pertama cenderung membatasi daya ungkap kepada Pembaca, sebab seluruh hal di novel itu menjadi 'terfilter' oleh pikiran perasaan dan tindakan tokoh utama. Tapi POV itu tak lantas harus membuat deskripsi menjadi minim, kan? Padahal sebagai novelis fantasy, pengarang punya tugas yang obvious, yaitu menghidupkan fantasi pembaca!

Dan Goblin! Kenapa masih pada ngotot menggambarkan Goblin sebagai sosok Orc? Goblin itu mempunyai gambaran tipikal seperti kakek-kakek cebol berkepala besar, bukannya monster besar berkulit gelap. Melihat 'kekeliruan' sosok Goblin ini, kemudian keberadaan Dark Elf, mungkin pengarang terinspirasi dari konfigurasi rasial yang ada di novelnya Ataka. Atau kalo gak gitu, berarti ada deskripsi ganda mengenai goblin ini di dunia mitologi barat.

Bicara point 1, Setting, saya hanya dapat mengatakan bahwa Pengarang belum berhasil mengolah settingnya menjadi suatu bangunan yang believable, dikarenakan -mungkin- oleh deskripsi yang minim. Kalau mau diperbaiki, mungkin dengan memperkaya detail dan menguatkan relasi setting dengan tindakan para tokoh. POV orang pertama sesungguhnya cukup potensial untuk mendeliver setting secara detail sekaligus berimbuhan emosi dan nilai sesuai karakter tokoh utama, bisa detail sekaligus unik. Di tangan pengarang yang mumpuni, Fantasy POV orang pertama bisa menjadi feast yang luar biasa. Tentunya untuk itu, diperlukan sistem logika yang 'masuk akal' sebagai perekat dan penjelas.

Logika, nah ini yang kacau abbasss,... saya akan menjabarkan melalui beberapa contoh:

Pada penyerangan Faerun, dikatakan pasukan penyerang terdiri atas 3000 infantry, 500 pemanah, dan 5 raksasa tempur, sementara di pihak Faerun terdiri atas 1000 sukarelawan yang cukup mampu memanah karena merupakan pemburu andal. Ditambah dengan Elyaz sebagai pelindung, Lefial dan Arvea sebagai Elf yang menguasai sihir-sihir dahsyat. So the odds will simply be 1:3 atau 1:4. Udah gitu dalam paruh pertama adegan perang, ternyata para jagoan dan penduduk Faerun sudah dapat mengeliminasi 1500 lawan berkat penggunaan sihir dan panah. Nah, sampe sini kan oddsnya sudah berubah tinggal 1:2. Tapi pengarang tetap me'nambahkan' jumlah penyerang agar terkesan overwhelming dengan menyebutkan Goblin yang berjumlah 'ribuan'.

Well, memang Faerun pada akhirnya harus jatuh, cuma pengarang kurang berhasil memberikan situasi yang logis dalam peperangan ini karena logika perangnya kurang berjalan.

Logika perang di pegunungan Arga juga demikian, sejumlah 15.000 pasukan antagonis melawan 10.000 pasukan protagonis yang diuntungkan oleh situasi alam. Kalo pengarang lebih mempelajari ilmu strategi perang terutama bagaimana sifat-sifat infanteri, kavaleri dan artileri, serta bagaimana pengaruh kekuatan di antaranya, kayaknya pengarang bisa membuat adegan perangnya lebih believable. Perangkatnya udah ada, koq.

Tapi main-main dengan angka, ini juga masih harus dipertimbangkan oleh pengarang. Bikin pasukan dengan jumlah besar, itu secara universe Fantasy, sebetulnya susah, lho. Untuk mencapai hitungan 10.000 pasukan saja, seharusnya effortnya nggak main-main, mulai dari harus mencari orang-orang berfisik sehat dengan rentang usia yg cukup (ada persoalan demografis), kemudian menyediakan tempat latihan, perlengkapan, logistik dan lain sebagainya, perang on-foot semacam itu akan membutuhkan empat-lima tahun sekedar untuk persiapannya saja!

Ambil contoh perang Mataram, yang untuk jalur perjalanan pasukan saja, logistiknya menjadi demikian besar dan kompleks, meninggalkan jejak-jejak peradaban sampai sekarang berupa kampung-kampung dengan penamaan terkait Mataram. Untuk mencapai Batavia, sekedar buat numpang lewat aja Sultan Agung harus 'menaklukkan' banyak daerah terlebih dulu, baik melalui penaklukan fisik maupun diplomatis, yang tentunya ngga cuma dalam semalam.

Dalam setting LOTR, bahkan Saruman yang mampu menciptakan "tens of thousands" pasukan Uruk-Hai, sampai memerlukan untuk menghancurkan hutan-hutan di sekitar Eisengard dalam skala yang mampu membuat Treebeard murka seketika (yang pastinya sangat cepat untuk ukuran Ents!).

Artinya, makin besar jumlah pasukan pun akan makin besar effort untuk membuatnya, termasuk effort politis, effor budaya maupun effort logistik.

Bandingkan dengan komposisi pasukan bayaran Arga yang bisa mencapai 10.000 (padahal dalam deskripsi camp-nya, tidak terkesan sampai berjumlah segitu besar). Pertanyaan sederhananya: SIAPA yang mampu membayar untuk pasukan sejumlah itu? Tidak ada kerajaan yang memerlukannya, dan tidak ada background situasi politik yang memotivasi tersedianya military reserve sampai segitu banyak. Bahkan konsep pasukan bayaran aja gak begitu jelas di novel ini.

"Tapi kan gue bikin cerita Fantasy, dimana semua kemungkinan dapat terjadi?" biasanya akan muncul pembelaan seperti ini. Well, boss, JUSTRU dalam cerita Fantasy (yang bener), pengarang punya tugas untuk menjelaskan semua kejadian mengikuti sistem logika yang dapat diterima oleh pembaca, terserah itu logika sesuai dunia nyata, atau logika ciptaan pengarang sendiri. Tanpa di-back-up sistem logika yang kokoh, alih-laih menjadi literary Fantasy, karya tersebut akan cuma mampu berada dalam kelompok 'pure-ngayal'.

Kemudian contoh lagi mengenai logika lokasi sesuai deskripsi pengarang. Ini simpel aja, sebab bisa diperbandingkan dengan gambar peta yang disupply oleh pengarang; Mengenai jalur perjalanan dari Eslunia menuju Pegunungan Arga. Lihat kutipan ini:


"Dari Eslunia, kita akan berjalan ke Utara melewati gunung Ro. Dari situ kita akan berjalan ke arah Tenggara sampai kita menemukan mata air Fianha. Perlu aku sampaikan pada kalian, sebelum mencapai mata air Fianha, kita akan melewati perbukitan Krana yang terbentuk dari karang yang sangat terjal dan berbahaya. setelah kita sampai di Fianha, kita akan meneruskan perjalanan ke Timur menuju pegunungan Arga, kalian mengerti. Apakah ada pertanyaan?"

Coba liat petanya dulu,...


Nah, kalo gue ikut di sana, gue pasti akan bertanya, "Ngapain susah-susah? kita jalan aja ke Timur terus, kemudian ke Utara dikit, pastilah ketemu Pegunungan Arga (versi Pengarang), which is beda sama versi pembuat peta!" hehehe,...

Nah kalau mau konsisten sama Peta, harusnya briefingnya sangat sederhana, "Kita jalan ke Utaraaaa,... terus, nanti ketemu lah sama pegunungan Arga!"

Inkonsistensi ini, menunjukkan bahwa pengarang agak mengabaikan aspek logika lokasi dalam novelnya. Emang sih, menggambarkan sebuah lokasi fantasi adalah hal yang amat sulit, saya akui hal itu. Belum tentu bayangan yang ada di kepala pengarang dapat terjabarkan secara tepat di pikiran pembaca. Itu sebabnya pengarang Fantasy kerap membuatkan peta imajiner untuk pembacanya. Tapi janganlah kemudian pembuatan peta itu hanya jadi faktor gimmick doang, tetap harus in-line dengan setting ceritanya.

Satu aspek logika alam juga jadi kacau di novel ini.

Pada sub-plot masalah mata air Fianha yg disabotase oleh pasukan kegelapan sehingga menjadi keruh & berbau, dikisahkan bahwa sabotase dilakukan dengan cara menancapkan semacam tongkat sihir di tengah sungai Elstran yg merupakan pelimpahan dari mata air Fianha. Nah, gak logisnya adalah bagaimana sesuatu di hilir bisa berpengaruh pada mata air di hulu.

Hukum air sudah jelas berlaku bahwa apa-apa di hulu akan berefek ke hilir, tapi tidak sebaliknya. Terserah kalo pengarang mau memainkan kartu sihir di sini, tapi setidaknya logika yg lempeng kudu tetep dijaga.

Logika menjadi semakin bubrah bila mengingat bahwa sabotase ini membuat mata air Fianha menjadi tidak enak diminum, sementara air minum suppose to be diambil langsung dari sumbernya, dan sumbernya dikatakan tidak tercemar!

Jadi, pengarang ingin membuat situasi di mana pencemaran di hilir membuat rasa air di mata air (yg tidak tercemar) menjadi rusak! Sungguh nggak kena ke logika mana pun. Kenapa nggak dibikin saja bahwa mata airnya yang memang disabotase. Toh pengarang dapat saja membuat posisi mata air tersebut berada dalam gua yang jauh di dalam tanah, yang rupanya sudah dikuasai musuh, dan kemudian musuh menancapkan tongkat sihir di situ bla, bla, bla. Itu jauh lebih masuk akal.

Masih ada gegar logika yang lain, misalnya bagaimana jagoan yg terkepung koq bisa begitu saja meloloskan diri dengan berlari (biasanya meninggalkan comrade in arms nya dengan melodrama, "Cepat! Selamatkan dirimu! Kau terlalu penting untuk mati! Dan seterusnya lo pasti dah tau dah! Kalo lo mati sekarang, sekuelnya bakalan gak terbit!") dan seolah-olah di saat itu para pengepung seperti memutuskan untuk berkumpul di satu sisi saja dan memberi peluang pada si jagoan untuk lolos tinggal glanggang colong playu...

Terus Elf Hitam Zatra yang merampok Elyaz di tengah hutan, jebul-jebule adalah seorang jendral intelijen dari kerajaan Elf Hitam. Kalo temen-temen nanya ngapain seorang jendral nyambi jadi perampok di hutan? Gue mungkin cuma bisa jawab: sejak BBM naik, apapun bisa terjadi, man!

Terus ada adegan si Zatra ini, yang mampu bergerak secepat The Flash, menggunakan kesaktiannya untuk melenyapkan debu-debu pasir beterbangan menutupi pandangan, dengan cara berlari cepat mengelilingi debu sehingga debu-debu itu terangkat ke udara dan hilang. Well, satu hal yang lupa dipikirkan, debu kena angin, bukannya menghilang malah makin kacau semuanya, lah! Angin yang mengangkat debu di tengah justru akan menyedot debu dari samping dan seterusnya,...

Need I say more? Cyukyup, kali ye,...

Lalu mengenai dialog yang saya bilang 'corny'.

(BTW, corny itu apa sih, kak?)

Naaa, itu juga yang gue kagak tahu percis. Masak, dialog kayak 'jagung'? He he he, dasar gue sok pakai istilah asing yg gue gak tahu artinya. Tapi terserahlah, buat gue dialog di Enthirea tidak terasa enak dicerna, dan banyak yang terasa dipaksakan. Kalau boleh menduga, sepertinya karena Pengarang terlalu kompulsif menyebut nama tokoh dalam dialog.
Ini buat contoh, tapi imajiner aja ya, supaya bisa hiperbolis dikit :)


"Gunsa kau hendak kemana?"
"Elyaz aku hendak ke tebing itu."
"Gunsa untuk apa kamu ke tebing itu?"
"Elyaz aku ingin mengamati matahari terbenam"
"Gunsa maukah kau kutemani"
"Boleh saja Elyaz"
"Ehm, Gunsa, betapa indahnya matahari terbenam"
"Betul Elyaz, ha ha ha"
"Gunsa apa yang kau ingat"
"Elyaz aku teringat kampung halamanku"


Sampai sini, udah eneg, belum? Berasa sinetron latino gak seh? Apakah setiap bicara kita 'wajib' menyebut nama lawan bicara? Cukup banyak dialog dibabar dengan cara seperti itu, sampai pada porsi ter-notice oleh ku dan membuatku ingin menjedot-jedotkan jidat ke tembok kamar. Sumpah gue nyaris gak percaya kalo yang menulis dialog seperti ini adalah bukan seorang anak SMP berusia 14 tahun bernama Ataka. Wait,... Ataka bikin dialog way better than this!

Kurasa, banyak sekali yang harus diimprove oleh pengarang dalam hal merangkai dialog. Selain kekurang wajaran dalam menyebutkan nama-nama person terlampau sering, sebagian besar dialog dalam novel juga belum berhasil mendeliver emosi dan motivasi dari pengucapnya, dengan demikian dialog tidak berfungsi membangun karakterisasi para tokoh. Oleh karenanya, tokoh-tokoh di novel ini jadi terasa dangkal, terlepas apakah itu merupakan intensi pengarang atau tidak.

Sekedar pendapat pribadi saya aja: menurut saya dialog adalah nyawa sebuah novel, yang sangat mencerminkan ciri khas gaya seorang pengarang. Mungkin saja banyak pengarang bisa menghasilkan gaya yang 'mirip' saat menuliskan deskripsi suatu lokasi, misalnya. Tapi kalau sudah bikin dialog, biasanya ciri khas penulis itu langsung muncul. Dan dialog pun mampu menggambarkan banyak hal, nggak cuma content yang diomongin sang tokoh saja. Energi peristiwa novel banyak berpusar di perihal dialog ini. So, dialog itu puenting, boss. Jadi, kalau seorang pengarang meningkatkan kemampuannya merangkai dialog, menurutku itu sudah berarti si pengarang sedang mendevelop gaya penulisan khas nya.

Buat gue, pengarang yang top banget penulisan dialognya, sampai saat ini adalah Arswendo Atmowiloto. Well, yours may vary. Ga papa. Yang penting bagaimana kita belajar dari para senior itu untuk ngedevelop gaya yang pas buat kita sendiri.

Okeh (tarik napas panjang), selain tiga faktor yang perlu diimprove di atas, kupikir Enthirea adalah sebuah gagasan yang cukup workable untuk sebuah novel. Pengarang nyata-nyata sudah membangun plotnya dengan cukup bagus, antara jalan lurus, tikungan maupun persimpangan semuanya saling terkait dan saling menunjang. Karakter masing-masing tokoh juga cukup terbangun, walaupun belum sampai pada kedalaman yang 'pas' untuk pembaca dewasa; kalau untuk pembaca remaja, udah lumayan cukup, lah. Plot twist di ujung novel pun mampu menimbulkan efek kejut pada diri pembaca dan membuat penasaran akan buku sekuelnya. Padahal, love storynya cukup kacangan sebelum plot twist itu,... hehehe,...

Bicara love story, pengarang memang menyelipkan kisah cinta antara tokoh utama dengan love interestnya, seorang putri Elf berusia 500 tahun (cinta memang gak pandang usia, man!), yang digambarkan sangat platonic, kagak ada passion-passionnya acan. Angle ini menyebabkan saya berpikir bahwa novel ini memang ditargetkan untuk pembaca remaja. Dan menurut gue sih, memang cukup pas lah buat sekitar remaja SMP-an, yang belum kenal apa itu pheromone :).

Demikian pula adegan-adegan kekerasan digambarkan cukup terkendali, dalam arti gak mengumbar darah secara berlebihan sebagaimana sering kukritik di novel-novel bertarget remaja (sic!). Cuma ada satu 'cacat' aja dalam menggambarkan hubungan tokoh Alator dengan calon istrinya Frigga, yang dikatakan "menghabiskan waktu malam dengan Frigga". Well, ga frontal nudity gitu, sich. Tapi gue berharap pengarang bisa sedikit wise untuk menghindarkan kesan "R" rating pada novel yang akan dibaca remaja-remaja SMP ini. He he he,...

Tumben, gue baru menyentuh desain cover dan ilustrasi di bagian akhir review, nih?

Well, untuk desain cover sih buat gue rasanya cuma so-so aja ya. Gak terlalu bagus, tapi masih dalam satu league dengan novel-novel bertarget bocah SMP, dengan warna-warna biru-kuning-merah menyolok. Ada gambar nemesys berbaju zirah yang mengesankan musuh besar, serta gambar empat jagoan berjajar. Di bagian dalam, ada ilustrasi empat jagoan yang sama dengan sedikit keterangan detail. Di halaman belakang ada gambar Peta Enthirea.

Cuma ada satu rasa penasaran saya aja. Desain cover dan ilustrasi dikerjakan oleh Catur Ary, yang nampaknya sudah mengerjakan sebagian besar ilustrasi untuk buku Fantasy yang ada. Dan terutama yang mengerjakan Ledgard, yg pernah aku puji. Pasalnya, koq eksekusi mas Catur di Ledgard beda banget dengan di Enthirea, ya? Di sini kayaknya kurang begitu rapih. Coba aku sandingkan contoh perbandingan berikut:

Gak tahu apa penyebabnya, moga-moga bukan karena honorarium yang beda, ya mas! He he he,...

OK kawan-kawan, demikianlah kesan saya setelah membaca Enthirea buku pertama: Pertempuran Dua Dunia. Satu hal yang ingin aku masukkan sebagai catatan penutup:

Saya tampak cerewet banget mengkritisi aspek logika dan setting dalam sebuah novel fantasy, demikian cerewetnya sampai mungkin saja pembaca (atau pengarang) akan mempertanyakan, "Untuk apa seserius itu? Santai ajalah, yang penting kan novel ini dapat dinikmati?". Seolah-olah saya 'tega' menghancurkan karya orang hanya gara-gara saya nggak puas dengan aspek teknis semacam logika dan setting universe.

Well, moga-moga sikap ini dapat dimengerti sebagai perwujudan perhatian dan caring terhadap perkembangan penulisan Fantasy lokal. Saya berangkat dari pengamatan bahwa tradisi penulisan fantasy lokal belumlah berakar kuat. Apalagi bila kita belajar dari sejarah literasi di Indonesia, genre Fantasy 'practically' baru muncul setelah euforia Harry Potter merambah dunia. Saya inget betul, Gramedia baru menerbitkan terjemahan Lord of The Rings setelah Harry Potter, dan itupun kukira ditrigger oleh produksi Film Lord of The Rings-nya Peter Jackson. Padahal LOTR sudah dianggap karya klasik Fantasy sejak puluhan tahun!

Karena 'kependekan' sejarahnya, dan minimnya referensi, wajar bila masih banyak pengarang kita belum 'grip' banget apa yang disebut dengan kisah Fantasy itu seharusnya, dan masih rancu dengan segala aspek yang berbau 'khayal' semata. Padahal Fantasy pun tetap mengacu pada pakem-pakem dasar penulisan di dalam genre apapun, yaitu bangunan setting dan bangunan logika yang 'utuh' untuk mengantarkan cerita. Perbedaannya hanya pada model bangunan setting & logikanya saja, yang masih terbuka untuk didefinisikan kembali oleh pengarang, dalam batas-batas yang masih bisa diikuti (dan dipercayai) oleh pembaca.

Dan memang, dengan terbukanya definisi, pengarang justru harus lebih serius dalam mengembangkan universe yang diciptakannya, harus lebih hati-hati dan lebih seksama. Tak seperti genre novel drama umum, yang universenya sudah tergelar dalam bentuk jadi, universe fantasy adalah ibarat kertas kosong yang harus secara hati-hati dirancang oleh pengarang. Karena kalo merancang universe-nya 'bolong', itu akan menyedot seluruh cerita ke dalam selokan 'unbelievability' bagaikan bath-tube dibuka sumbatnya. Cerita akan kehilangan kredibilitas dan kehilangan enjoyment.

Anyway, kuliahnya segini aja, gak usah berat-berat. He he he,... Kan lebih enak belajar bersama-sama, sambil nge-review karya-karya lokal yang terus bermunculan, dan berkatnya kita bisa memperbaiki karya-karya yang akan datang. Sebuah proses yang pastinya, menyenangkan!

Buat mas Aulya Elyasa, selamat datang di jajaran penulis Fantasi Indonesia, kita tunggu karya-karya selanjutnya.


Salam,


FA Purawan