
"Bikin deg-degan tapi juga indah menyentuh,"
-- Nadine Chandrawinata, Putri Indonesia 2005
Sulit kupercaya.
Nadine, gitu loh,.....
Putri Indonesia, gitu looowh,... dua ribu lima. Siapa yang gak kenal?
Justu karena itulah gue bertanya-tanya. Dari sisi mana seorang Nadine (yang kita kenal) dianggap berkompetensi memberi endorsement. I mean, Seberapa literer sih, do'i? Secara, Nadine, gitu lowh,... seberapa doyan baca buku, sih, top model kita ini? Secara, Putri Indonesia, gitu lowh,... sejak kapan dalam konsep "beauty & brain"nya sebuah kontes putri-putrian juga termasuk unsur literacy?
(Hehehe, jadi geli sendiri ngebayangin juri bertanya seperti ini,...)
"Oke, Miss Indonesia, buku-buku apa yang biasa anda baca?"
"Owh, I just love reading books, especially science fiction writers" (jawaban harus dalam bahasa Inggres, kaleee)
"Oh, bagus sekali, contohnya buku-buku apa saja?"
"Well,... like Harry Potter serieees, and Java Joe seriees,.."
(penonton bertepuk tangan, juri manggut-manggut,...)
He he he, sirik nih reviewernya,.. Main jender dan prejudis banget!
Lantas, siapa sih, FA Purawan yang sok bikin review ini? Secara gitu looh, bikin novel juga baru satu, kagak terbit, lagih! Mending bagus? Doh, kena deh gue,.. :)
Tapi sejujurnya pertanyaan di atas memang langsung menyergap begitu menatap sampul JAVA JOE di Gramedia. Endorsement seorang Nadine dicetak di area sisi kiri atas cover, tempat yang secara alamiah merupakan daerah tatapan mata pertama pembaca. Demikiankah taktik marketing penerbit? Dengan memajang endorsement Nadine di posisi top, penerbit berharap menjaring interest generasi Nadine, tapi jadi menohok pertanyaan mengenai kapasitas intelektual bagi generasi gue, terutama concerning the novel, yha. Bukan Nadine-nya,... :p
Saat sebuah Novel "sci-fi" diendorse oleh seorang peragawati yang bukan sosok pembaca buku, seharusnya gue udah curiga. Tapi bisikan hati nurani terdalam, instink yang tertajam itu, harus terhapus oleh kekagumanku atas desain cover yang menarik, gambar kota futuristik dan sosok seorang pilot pesawat tempur F-16 a-la Top Gun (presumably Java Joe himself, ganteng dan sooo tampang 'anak Permias' banget). Apalagi endorsement di sampul belakang tak kurang dari Aristides Katoppo sampai berkomentar, "Pembauran kreatif antara kisah perburuan legenda ala Indiana Jones, penuh intrik konspirasi seperti X-files dengan latar fiksi ilmiah semacam Star Trek".
Apa yang kurang, coba?
Maka dimulailah petualangan Java Joe di tanganku, yang dibuka dengan BAGIAN I yang mengisahkan lakon klasik Rara Jonggrang secara ciamik, dengan gaya bertutur cerita hikayat a-la Langit K.H. (seri Gajah Mada) yang mengasyikkan. Terus terang, bagian ini memang memikat, dan berhasil mempengaruhi paradigma pembaca bahwa peristiwa inilah yang akan menjadi fondasi tema utama Novel selanjutnya.
Masuk BAGIAN II, pembaca dibawa ke suasana dua millenia kemudian, pada tokoh kita JAVA JOE (sebagai sebuah nama panggilan, cukup OK. Tapi kalau ini merupakan nama benernya si tokoh, sesungguhnya cukup menggelikan), dalam ending missi atariksanya ke Mars yang cukup heroik dan men-set tone keseluruhan dalam hal aspek heroisme sang tokoh. Yaitu sebagai action hero yang tanggap menyelesaikan berbagai masalah dan menguasai skill action yang tinggi (termasuk skill teknologik on the way).
Missi luar angkasa di bab ini dan bab terakhir, merupakan nilai plus novel 'science-fiction' ini, yang ditulis oleh J.H. Setiawan pada tahun 1997 (udah cukup lama sebetulnya, sehingga kelengkapan riset mengenai penerbangan antariksanya perlu saya acungi jempol) namun baru terbit tahun 2008. Dalam adegan pendaratan pesawat Conqueror di Stasiun Angkasa Skyfleet, tergambar situasi penerbangan antariksa yang cukup realistis, penerapan hukum-hukum hampa udara yang teliti serta lingkungan angkasa luar yang 'correct' secara teoritis, seperti partikel-partikel antariksa yang mampu mengancam kendaraan-kendaraan antariksa, shield technology, laser guided landing dll. Ini jarang banget disinggung novelis 'sci-fi' kita.
Selain itu, realisme setting space fleet juga terasa kental berkat kejelian pengarang menetapkan setting awak pesawat, mulai dari Pilot, co Pilot, Helm Officer, Engineering Officer, Tactical Officer dll. Ini juga yg sering overlook dalam penulisan antariksa kita. Padahal, referensi pengawakan ini sudah cukup banyak kita kenal melalui film-film seperti Star Trek dll. Realisme lainnya yang juga berhasil mengangkat adegan-adegan antariksa adalah dialog-dialog komando dan radio 'chatter' yang khas dalam proses komunikasi radio antara pesawat dengan stasiun pengendali. Memang rangkaian dialog dalam novel ini merupakan salah satu kekuatan si pengarang yang mampu membuat novel ini enak dinikmati dan terasa realistis. Kadang kalo udah begitu, akurasi atau keilmiahan jadi bisa dianggap nggak perlu dipusingkan.
Kalau ada yang perlu dikomentarin, mungkin sekedar ketidak-tepatan pangkat Pilot dan co-Pilot dalam setting space flight. Umumnya space flight mengikuti sistim komando kapal selam atau naval fleet, dimana posisi kemudi dipegang oleh Helm Officer, bukan pilot. Dan untuk posisi pimpinan di dalam pesawat antariksa dipegang oleh Captain, dan First Officer sebagai wakilnya. Juga, penerbangan ke orbit Mars dalam rangka pendaratan dan penghantaran supply ini sesungguhnya tidak terlalu memerlukan medical officer, sebagai gantinya justru perlu ada Comm Officer.
Tapi ini kekurangan kecil, nggak mempengaruhi jalannya cerita serta heroisme Java Joe yang ingin ditonjolkan.
Nah, bicara heroisme, nich. Rasanya inilah faktor yang bagi saya menjadi let-down factor buat novel ini. Begitu pengarang starting on Java Joe's heroic exploits, buat gue image sci-fi novel ini langsung melorot ke titik terendah, tergantikan oleh imej lain.
Bukannya imej lain itu jelek. Nggak juga, koq. Cukup keren dan nggak biasa buat novel lokal juga. Cuma pasalnya gue nggak lagi menganggap Java Joe sebagai novel Sci-fi. Peran sci-fi Java Joe tamat riwayatnya begitu Java Joe tampil sebagai action hero di sana-sini. Imejnya langsung bersalin menjadi semacam tokoh James Bond, well,.. Indonesianisasi jagoan ala James Bond, tepatnya.
Paham, kan, kenapa jadi let down buat gue. Tokoh-tokoh jagoan macam ini udah soo old banget. Indonesia pernah punya Naga Mas, dan entah apa lagi, banyak, semenjak euforia James Bond di tahun 60-70-an. Ciri khasnya tokoh ini merupakan cowok macho yang secara mengagumkan (baca: unbelievably) bisa terampil dalam berbagai hal dan menyelesaikan segala masalah dengan berbekal jurus-jurus action.
Java Joe, sadly, akhirnya nggak lebih dari James Bond Indonesia yg lahir di AS, besar di AS, SMA di Jakarta dan kuliah di Barnett College, AS lagi. Kuliah Teknologi Aeronautika, yang salah satu mata kuliahnya arkeologi, dan saat tugas kuliah arkeologi membentuk tim Tomb Raider yang menjarah makam di Persia untuk menemukan kunci Istana Solomon, dan lulus masuk Skyfleet Academy untuk jadi pilot antariksa, dan kelihatannya ada kurikulum komputer programming sampai dengan keprajuritan segala. Komplit-plit, bo, sebagai James Bond center. Entah apakah selengkap itu pula training program di NASA, hehehe,....
Sejak kepulangan dari Mars (dengan clever pun: orang ke tujuh belas, misi ke tiga), Java Joe menjalani petualangan sci-fi berbalut sejarah dengan latar belakang konspirasi internasional. Dibantu oleh Chavez si Hacker jempolan, Sarah Lou si wartawati mantan tetangga masa kecil dan calon pacar tapi batal, Cynthia si dokter genetika mantan pacar SMA. Diburu-buru oleh komplotan Black Baron (rampok dungu tapi bossy, gitu), dan prajurit genetik IMPAC,... Sibuk bener, euy,..
Dan kesibukan itu jadi semakin terasa mendera-dera pembaca akibat nggak fokusnya 'tujuan' dari berbagai plot yang berseliweran ini.
Salah satu masalah utama bangsa kita sekarang, mungkin, kelihatannya adalah: Satu masalah aja belum cukup. Gak nendang, istilah kata. Jadi pengarang merasa perlu memasukkan multitude of problems di tangan Java Joe, mulai dari missi menyingkap rahasia prasasti Gandrung Wicaksana, misteri purnama perak, misteri inner planets alignment, misteri kalung warisan, misteri Operation Phoenix, misteri hubungan Joe dengan Sarah, dengan Cynthia, misteri rivalitas antara Sarah dan Cynthia, misteri professor Jones, misteri Pegasus, misteri Neogaia, misteri proyek Janus, misteri Area 51. Dengan sebanyak itu persoalan, dengan cuma dikasih jatah dua ratus halaman, tentu wajar jika banyak hal gak sempat diselesaikan oleh sang jagoan Java Joe,.. hehehe.
Akibat dari banyaknya misteri yang (seharusnya) saling berjalin membentuk konklusi di akhir novel, sebagian penggarapan misteri jadi terbengkalai dan terasa semata sebagai tempelan, agar persoalan kelihatan 'grande' belaka. Sebagian memang berhasil. Contohnya percakapan intelijen tingkat tinggi Neogaia, proyek phoenix, satelit hawkeye, dll, dibabar secara cergas mengesankan seperti novel-novel Crichton. Dialog yang dimainkan Spender, salah satu petinggi IMPAC (the bad guys) tampak berkelas, gak kayak intel tingkat RT, deh pokoknya. Tapi setelah semua hal yang keren-keren itu diaduk dan dicampur dalam sebuah masakan berbumbu action, pembaca ditinggali dengan sejumlah pertanyaan yang tak tuntas.
Mungkin saja Java Joe telah berhasil menyelamatkan Bumi dari spaceghost Pegasus. Tapi dia nggak berhasil menyelamatkan pembaca dari tumpukan pertanyaan. Terus apa hubungannya si Rara Jonggrang? Disebutkan adanya operasi Phoenix yang melibatkan si Rara Jo sebagai code name: Phoenix, tapi pembaca dibiarkan merana tanpa kejelasan, maksudnya apa seeeh,...??? Apa hubungan Rara Jonggrang dengan Neogaia? Dengan Pegasus? Ke mana urusannya setelah dua ribu tahun Rara Jonggrang disimpan di dalam candi, terus jebul-jebul bisa bangun oleh ilmu 'sleeping beauty' yang dimiliki Java Joe (!). Koq begitu aja, terus hubungannya dengan purnama perak yang katanya hanya terjadi limaratus tahun sekali saat planet-planet dalam posisi sejajar, apa? Sungguh, ini ibarat ngasih trailer yang ciamik di depan, tapi di dalam film-nya sendiri trailer itu tidak terintegrasi sebagai cerita yang konklusif. Yang lebih sadis lagi, novel ini punya sub judul: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang, yang bener-bener dibikin rahasia sampai cerita berakhir!
Yang paling gue gemes, kilah "energi murni" yang dimiliki Rara Jo sebagai salah satu motivasi tertinggi dibangkitkannya putri tidur itu, ternyata ngga ada efek apa-apa pada cerita. Rara Jo-nya malah kena,....... (ada plot twist), yang nggak akan gue ceritain sebab itu 'harta'nya pengarang, tapi let me tell you that gara-gara itu gue jadi gedeeeeeggg banget!!
Mengenai Karakter dalam Novel, secara keseluruhan sih asyik-asyik aja, cukup unik dan realistis. Java Joe yang ganteng tapi takut cewek (atau bahasa lainnya, nggak gampang 'serrr', kecuali ketemu soulmate), Chavez, tipikal sidekick jenius yang adegan hackingnya cukup mencuri momen, Professor Jones yang secara implisit dikesankan sebagai Indiana Jones (soalnya punya Cambuk dan Topi yang dikenakan dalam adventure di masa lalu. Siapa lagi, coba? hehehe), team Skyfleet yang cool abiss (I started to sound like MTV Generation! hiiiii), perkecualian untuk tokoh cewek Sarah Lou dan Cynthia, yang somehow karakternya malah meredup terutama setelah dipertemukan dalam satu lokasi oleh pengarang. Saya nyaris nggak bisa membedakan perilaku keduanya dalam setting itu. Sebenernya sih, seluruh tokoh-tokoh di atas mampu mengantarkan dialog yang hidup dan sangat suspense, gitu lowh!
Tapi sebagai sebuah orkestrasi, saya sayangkan tokoh-tokoh menarik ini nggak berhasil di conduct oleh pengarang menjadi penyajian yang harmonis dan men'deliver' story. Semata-mata bukan karena main musiknya jelek, tapi karena partiturnya nggak jelas.
At the end, gue menutup buku 234 halaman ini dengan kekesalan yang sama jika kita masuk bioskop untuk sebuah film festival (maksudnya film berkelas), dan ternyata ended up keluar dari sebuah pertunjukan popcorn movie. Sayang-sayang banget. Padahal trailernya udah cakep abiss (kayak Nadine). Persis seperti nonton Mission Impossible-nya Tom Cruise. Keren, busy, action-packed, tapi somehow hollow inside.
Maka kalo boleh saya yang masih awam ini kasih saran, dengan raw material yang sebenernya udah bagus, serta gaya penulisan yang udah punya ciri dan kena ke market, baiknya novel ini ditulis ulang dengan penambahan halaman, serta perubahan tata-letak berupa komposisi white area nya diperbesar (sehingga ukuran kolom tulisannya lebih kecil, kira-kira seperti format novel pocket-book luar negeri). Penambahan halaman akan memungkinkan penambahan dan pengembangan cerita/ sub plot sehingga semua masalah yang ada di dalam buku ini bisa diperjelas dan disambungkan satu sama lain tanpa rasa terburu-buru. Perbaikan tata letak sekedar agar membuat buku ini lebih enak dibaca aja.
Tapi teuteup,.... ini tetep bukan novel Sci-fi, walaupun memiliki elemen space setting yang jauh lebih oke dari novel sci-fi kebanyakan kita. Ini masuk ke novel Action Pop. Joe, pindah sana, ke rak nya mas James Bond, Naga Mas, dan kawan-kawan. Kayaknya mas James juga punya adegan Space yang keren, sama kayak kamu, tuh, di novel Octopussy.
Soal action dan romansa-nya? Iya deh, iya,.... cukup bikin deg-degan tapi juga indah menyentuh, koq. Tapi inget ini "standar Nadine", lho ya,... got it?
Salam,
FA Purawan