Jumat, 07 Maret 2008

LESTI: Nyatakah Dia? (Soehario Padmodiwirio - 2006)

Sebuah pertanyaan jitu. Nyatakah dia? Dan setelah membaca tuntas novel ini, saya juga ingin bertanya, NYATAKAH NOVEL INI? (yang artinya: Beneran, nih? serius, nih? bener-bener niat bikin novel ato bikin,....???)

Kebetulan saya nggak kenal bapak Hario Kecik. Tapi masyarakat sudah terlanjur mengenal beliau sebagai salah satu tokoh Nasional yang terlibat dalam peristiwa bersejarah di negeri ini. Itu berarti, it counts, to listen to what he's about to say in this novel. Dan ketika dalam sampul belakang dikatakan, "Novel ini sepertinya sebuah novel Science Fiction yang ditulis oleh seorang penulis Indonesia", terus terang, aku 'terbeli' olehnya. Apalagi kemudian ada gejala-gelaja koneksi antara temuan fosil dengan legenda Ratu Roro Kidul, gue ngga lagi cuma 'terbeli', melainkan udah terobral sekalian.

Dan,.. just to discover,... menjadi tokoh sejarah gak berarti otomatis menjadi tokoh piawai dalam menulis novel. Tapi anehnya, apakah terpengaruh oleh kesepuhan beliau, atau mungkin juga oleh bobot pemikiran beliau, Novel ini biarpun gak memuaskanku, tetapi juga nggak mampu (terlampau) mengecewakanku.

Terus terang, rasanya seperti mendengarkan dongeng kakek. Ngalor-ngidul, ngawang-ngawang, kadang-kadang aneh (karena nggak ngerti, udah beda jaman), tapi tetap mengasyikkan. Kalo pun si kakek sibuk menerangkan sesuatu menurut bahasanya yang ruwet di telinga kita, akhirnya kita tetap mengapresiasi dan bertepuk tangan pada kakek, sebelum kakek permisi tidur siang dan kita kabur mencari udara segar,.. :)

Pertama kali kubuka buku, yang kubaca justru halaman belakang dimana ada biografi penulis. Dan JLENG! Sederet pelatihan Militer, jalur kepangkatan yang 'beneran', associate science di Rusia, sampai sejumlah tanda jasa yang hanya bisa kuimpikan jika main game Wing Commander di komputer,... he is really a serious, mean, warrior! Saya mencatat dalam hati, kalopun orang ini gagal menulis novelnya, dia tetap merupakan nara sumber yang luar biasa kompeten untuk diajak berkonsultasi tentang APAPUN mengenai Perang.

Dan skill itu sempat pula terintergrasi dalam plot novel, dan memberi latar belakang yang cantik dan believable di dalam setting perang revolusi kemerdekaan Indonesia di dalam novel ini.

Salah satunya yang membuat gue terkagum-kagum, baru kali ini aspek strategi logistik diperhitungkan dalam plot novel (jadi inget kritik gue ke Novel Reinhart, novel pak Hario ini langsung menjawabnya!). Dalam setting Agresi Belanda ke II tahun 1947, komando gerilya republik menjalankan siasat 'menanam singkong' di kebun-kebun pedalaman di atas gunung. (Albeit, kalo dalam cerita novel, pekerjaan ini dilakukan oleh pasukan ghoib).

Untuk pola pikir kita yang cetek-cemetek ini, tentu tindakan semacam itu akan 'nggak ter-register' sebagai suatu strategi perang. Bah! Bahkan akan langsung kita pandang sebagai insignifikan, tenggelam dalam grandeur bayangan seorang raja di atas punggung kuda melambaikan pedang berkilat.

Ntar dulu, kawan,... justru kebun singkong ternyata merupakan salah satu elemen perang gerilya yg penting! Begini,... pasukan gerilya, tentunya kita sudah tahu bahwa mereka berperang dengan taktik serbu konvoi musuh, bikin kejutan kecil, kemudian segera mundur. Pasukan tidak digabung dalam jumlah besar, melainkan terpecah-pecah dan berlokasi di tempat-tempat sulit.

Nah,.. makan apa, mereka???

Sumpah, sebelum membaca novel ini, yang ada dalam benakku tentang perang gerilya adalah para prajurit republik itu makan nasi di dapur umum yang dimasakin beramai-ramai oleh warga desa.

Novel ini menyadarkan gue bahwa dalam situasi perang gerilya, hal itu sebenernya nyaris gak mungkin! Pertama-tama, desa adalah tempat komando strategis dan logistik yang pertama kali bakalan dikuasai oleh musuh. Jadi pasukan Belanda yg lebih kuat, pastilah pertama-tama akan menduduki desa lebih dulu. Mulai dari desa yg besar, terus menyisir sampai ke gunung. Sumber daya logistik, beras, udah pasti dikangkangi lebih dulu. Warga desa, sesimpati apapun terhadap perjuangan, akan sulit membuat dapur umum seperti bayangan di film-film.

So pasti, gerilyawan hampir mustahil mengkonsumsi beras. Dalam posisi ini, sangat masuk akal bila singkong hadir menjadi sumber karbohidrat alternatif bagi para pejuang. Dan singkong bisa ditanam di titik-titik strategis, maintenance free, bahkan dilewatin oleh tentara belanda yg nggak tahu kegunaannya dan dianggep tanaman liar. Itu baru strategi jenius!

BTW, strategi singkong dan penerapan konsep-konsep ilmu perang yang tentunya merupakan keahlian si pengarang, merupakan sisi positif novel ini, dan menurut gue inilah yg paling ku apresiasi dalam kaitannya dengan ilmu penulisan novel sci-fi/ fantasy.

Untuk penokohan dan perjalanan plotnya sendiri, mungkin memang nggak cocok dengan audience muda, ya. Tokoh utama bernama SUTOPO, well, it's kinda outdated. Tapi saya pikir pak Hario Kecik memang nggak menargetkan generasi masa kini sebagai segmen pembacanya. Dia lebih mengarah ke pembaca yg sudah matang, senior citizen, lah. Sehingga sekujur novelnya memang merupakan ekspresi dari ide-ide spiritualis yang beliau rasakan, seiring ngetrendnya pemikiran new-age macam itu di masyarakat kita.

Having said that, ini novel memang ngga begitu niat jadi novel, heheh. Mungkin lebih tepat sebagai wahana pak Hario dalam menuangkan ide-ide filsafati-nya, menggunakan cerita sebagai sekadar medium.

Akibatnya, kita juga jangan terlalu berharap menikmatinya sebagai novel. Bakal berat, bo. Seperti makan daging steak setengah kilo. Emang lezat bergizi, tapi lama-lama perut begah.

Contohnya aja nih, cara bertutur yang bener-bener berstyle "ceramah". Satu tokoh bisa mengatakan sesuatu dalam SATU paragraf yang memakan sampai dua halaman baru ketemu tanda dua koma tutup ("). Gila, kan. Tokoh Lesti, perempuan semi android itu, paling banyak melakukan ini terutama kalo sedang menjelaskan "ini-itu" seputar tema utama novel (yang artinya: sebagian besar kisah novel dituturkan dengan cara ini!).

Cara mengatakannya pun ngga seperti berdialog, melainkan seperti dosen berceramah di hadapan mahasiswa :)

Emang, pengarang bisa seperti Mobil GAZ (merk mobil jeep perang Rusia jaman dulu) ngabisin bensin kalo udah urusan ekonomi kata. Hehehe,... emang boros banget. Bayangin aja, beliau 'tega' nulis judul bab yang bahkan panjangnya ngelebihin satu halaman! Liat nih:

(Bab 30) LESTI MENERANGKAN SECARA GARIS BESAR TENTANG PERKEMBANGAN BARU-BARU INI DALAM BIDANG TEKNOLOGI TINGGI DAN PERUBAHAN KONSEP HUBUNGAN POLITIK INTERGALAKSI DARI PERADABAN-PERADABAN DI ALAM SEMESTA KITA, DARI SUATU POLITIK SALING MENCURIGAI DAN PERMUSUHAN MENJADI KONSEP POLITIK KERJA-SAMA DI SEGALA BIDANG KARENA DIDORONG OLEH KESADARAN BAHWA KEHIDUPAN DAN SEGALA-GALANYA DI ALAM SEMESTA KITA INI BISA MUSNAH OLEH SUATU BENCANA ALAM YANG DISEBABKAN OLEH SUATU PERKEMBANGAN DIALEKTIS DETERMINIKAL YANG OBJEKTIF DARI PUSAT-PUSAT PERGOLAKAN ENERGI DI BEBERAPA LOKASI DALAM ALAM SEMESTA KITA. PUSAT-PUSAT ENERGI INI DALAM SUATU PROSES MENURUT HUKUM "QUANTUM-PHYSICS" YANG SEBETULNYA SUDAH DIMULAI SEJAK TERJADINYA "BIG-BANG", DAPAT MENJADI PROSES YANG "MUNDUR" ATAU "BERBALIK" DAN AKHIRNYA BISA MENJADI PROSES "PENGERUTAN" YANG TERUS BERLANGSUNG, SEHINGGA AKAN MENIADAKAN SEGALA APA YANG TELAH DIKREASIKAN OLEH "BIG-BANG" KARENA DITEKAN MENJADI KECIL TAK TERHINGGA, TERMASUK KEHIDUPAN DAN PERADABAN KITA INI

Believe me, untuk menuliskan judul ini, satu halaman aja gak cukup! (sengaja gue sebut dua kali, saking terperangahnya,.. hehe).

Dari judul seperti itu, kurasa udah pada bisa ngebayang gimana isi paragraf selanjutnya! Hehehe,...

Tapi di luar teknik bertutur yang unik seperti itu, sebenernya buah pikiran pengarang cukup asik, ide-ide new agenya cukup seru-lah untuk menambah pemikiran kita. Buang istilah-istilah ruwet seperti "Dialektif Determinikal yang Objektif" (dan masih banyak lagi, I warn you!), maka sebenernya cukup bernas ide cemerlang yang bisa kita nikmati. So, butuh kesabaran untuk memahami novel ini. Sebuah tugas yang cukup berat di tahun 2008, lho. heheh.

Di luar kerumitan-kerumitan kosmologis determinis aktif itu :), sebenernya penulisan novel pak Hario ini cukup mengasyikkan. Penggambaran tokoh Lesti, biarpun namanya nggak banget, meleset dikit jadi, Lesbi :p ; kecantikan sosoknya sedemikian rupa berhasil digambarkan sehingga aku sendiri pun jadi naksir dan pengen ketemu :) Kemudian satu highlight lagi yang saya puji adalah kemampuan beliau untuk membuat wisata kuliner secara imajinatif menjadi demikian menggoda. Kalo sudah menguraikan makanan (dan hebatnya, beliau banyak menguasai makanan-makanan tempo dulu yg nggak kita kenal lagi di jaman sekarang), maka pasti terbit liur pembaca, dan timbul penasaran di mana kita bisa mendapatkan masakan seperti itu.

So, emang akan sulit menilai buku ini. Di satu sisi berasa ngawur se-edan-edannya (bukan dalam sisi 'gokil', tapi dalam sisi menabrak pakem penulisan novel seperti orang tua oldtimer yang nggak lagi peduli sama pemahaman generasi anak-cucu) sehingga mau gak mau bikin kita ingin ketawa ngakak dengan perut begah, tapi di sisi lain ide-ide yang dicetuskan memang menarik untuk diolah lebih jauh.

Ibaratnya, pak Hario memang bener punya ide "emas" saat melihat fosil makhluk purba di pantai Pacitan tahun 1947, sebagaimana dikisahkan dalam pengantar. Sayang aja, pada saat dituangkan, ide-ide emas itu jadi tersaru oleh 'sampah' kata-kata yang menjauhkan pembaca ke muara kebegahan.

Pak Hario, hormat militer! Selamat datang di Fiksi dan Fantasi Indonesia, and,.. happy voyage!

Salam,
FA Purawan

2 komentar:

Obituaries mengatakan...

Mas, review-nya bagus, sepertinya Anda memang sangat menyukai dan mendalami genre fantasi dan fiksi ilmiah. Saya jadi ingin sekali baca buku Lesti ini. Di mana ya saya bisa beli buku ini? Karena di Bandung susah sekali mencarinya. Thanks.

datyo mengatakan...

saya pernah baca memoar pak Hario ini, sangat menarik ketika menceritakan peristiwa perang kemerdekaan. Kalo Lesti belum pernah baca dan nggak pengen baca, sudah Kayaknya membosankan ya kebayang dari resensi anda.hehe