Minggu, 20 November 2011

VANDARIA SAGA: Harta Vaeran (Pratama Wirya - 2011)

By Melody Violine

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Ilustrasi & Perancang Sampul: Ecky Oesjadi
Tata Letak: Mulyono
Pencipta Hikayat: Ami Raditya
Ilustrasi: Tim Ilustrasi Vandaria Wars
Tebal: 517 halaman

Prakata, sebelum kita mulai.
Fikfanindo kedatangan pena baru lagi untuk mereview karya-karya fiksi fantasi lokal yang semakin cepat dan makin banyak terbit. Kali ini perkenalkan
Melody Violine, salah satu penerjemah sekaligus novelis yang sudah menelurkan dua novel (Teenlit, yang Fantasy-nya kapan, Mel?). Let's sing our welcoming anthem buat Melody, semoga produktivitas reviewnya bisa menyaingi derasnya review-review dari pendekar eksisting fikfanindo... (deras apanya? hehehehe).

Dan satu sisipan komen dari saya: Tak seperti biasanya dimana redaktur senior fikfanindo (Om Sotoy dan Miss Cynis) acap ikut campur ngegeratakin karya review kontributor (yang dipereufimisme dengan istilah 'menyelaraskan-dengan-nada-sok-teu-nya-blog-ini', maka review Melody kami biarkan 'apa adanya'. Soalnya konon review ini mau disertakan dalam lomba review yang diselenggarakan oleh Tim Vandaria Saga. So kami gak usik-usik dulu, biar para juri lebih enak-hati untuk memenangkan review ini (bila menang), atau kami gak disalah-salahkan bila review ini tidak menang (hehehe, Pisss semuanya!)

Salam, FA Purawan


==================================================================

Pertama melihat cover Harta Vaeran, entah kenapa langsung naksir pengen beli, mungkin karena latar belakangnya yang cenderung putih bikin mencolok di antara hamparan cover warna-warni. (Sebenarnya, saya buru-buru beli juga karena takut ga kebagian novel ini di toko buku Depok yang kalo pagi-pagi diskonnya oke banget itu.) Gambarnya bagus tapi sayang posenya biasa banget. Andaikan pose pada bagian "Tokoh-tokoh" yang dipajang di depan pasti lebih sip tapi ga muat kali ya. Artwork-nya membuat saya tidak menyesal telah menjungkir balik dompet (supaya duitnya keluar banyak). Kritik untuk artwork-nya adalah kelima tokoh ini masih terlalu mirip untuk dianggap berasal dari ras-ras yang berbeda.

Kita balik ke halaman-halaman pertama, ada keterangan singkat mengenai "Tokoh-tokoh" utama, yaitu Karnthe Jahlnow (Pemburu Harta Karun), Saeliya Aerankah (Penyihir Tempur), Fukhoy-ri (Pengumpul Pengetahuan), Za'zestay Karin (Pedagang Pejuang), dan Certeus Kateriol (Pengelabu Mata). Tapi nama tokoh utamanya itu lho, kurang enak diucapkan. Alhasil setiap kali saya melihat nama Karnthe, saya tidak ikut mengucapkannya di dalam hati.

BTW, Saeliya mengingatkan saya kepada vampir wanita di Suikoden 2, Sierra Mikain. Mereka juga sama-sama penyihir, tapi Sierra molor mulu sementara Saeliya paling disiplin tampaknya, hahaha.

Mungkin karena sudah didukung oleh gambar, novelisnya sendiri malah terbatas dalam mendeskripsikan rupa para tokohnya. Tapi terlepas dari itu, karakterisasi kelima tokoh utama ini, baik dalam dialog maupun tindak-tanduk, cukup berciri khas. Saya paling suka reaksi mereka dalam keadaan terjepit: Karnthe menyebut-nyebut bapaknya (anak papa banget deh), Saeliya berdoa kepada Zahm, dll. Satu masalah dalam karakterisasi adalah ciri khas kebahasaannya kurang. Maksud saya, karena para tokoh utama ini berasal dari empat kerajaan yang berbeda, walaupun menggunakan satu bahasa ketika berkomunikasi, masa tidak terasa bedanya. Misalnya, kalau orang Indonesia, Arab, Amerika, dan Argentina berkumpul lalu mengobrol dengan bahasa Inggris, pasti sedikit-sedikit ada beda pemilihan kata atau struktur kalimatnya. Tapi ya kita anggap sajalah Karnthe dkk sama2 fasih sempurna dalam bahasa universal mereka.

Balik lembar berikutnya, lho kok langsung cerita? PETANYA MANA? T_T Jujur ini hal yang paling disayangkan dari novel Harta Vaeran. Dengan kuatnya tim ilustrasi Vandaria Wars, masa petanya ketinggalan?

Apesnya lagi, saya tidak mendapatkan bonus kartu yang dijanjikan *ratapan anak tiri*. Tapi saya berterima kasih kepada novelisnya sendiri, Pratama Wirya, yang sudah berusaha mencarikan gantinya, walaupun tidak dapat. Mungkin ada orang yang mengambil kartu jatah saya dan ini ganjaran karena waktu kecil saya pernah melakukan hal serupa untuk stiker hadiah produk keju (kualat 15 tahun kemudian), lol.

Alur cerita Harta Vaeran yang sederhana didukung oleh semesta Vandaria yang begitu kompleks, jadi sang Pencipta Hikayat, Ami Raditya, berperan besar di sini. Bagi pembaca yang awam dengan Vandaria Wars atau Vandaria Saga (seperti saya), coba baca dulu halaman-halaman terakhir Harta Vaeran. Di situ ada penjelasan singkat mengenai Tim Kreatif Vandaria Saga dan dunia fiktif-fantasi Vandaria.

Apa itu Vandaria Saga? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu dulu Vandaria Wars, yaitu permainan kartu Indonesia yang pertama kali muncul sebagai bonus majalah ZIGMA pada tahun 2006. Vandaria Wars sudah punya banyak ekspansi, bahkan pernah digelar acara National Championship Vandaria Wars pada Agustus 2008.

Vandaria Saga sendiri adalah konsep dunia Vandaria Wars yang terpusat kepada persaingan dominasi manusia dengan frameless. Bisa kita lihat di situs resminya (vandaria.com) bahwa sejarah Vandaria bisa dibagi menjadi enam zaman, yaitu Era Tiga Negeri Awal, Era Kaum Naga, Era Negeri-Negeri Kuno Manusia, Era Kekuasaan Frameless, Era Persamaan Derajat Manusia-Frameless, dan Era Kekuasaan Manusia. Selain sejarah, hikayat Vandaria Saga juga meliputi metafisika, budaya, organisasi, negeri, tokoh, dan religi alam. Lengkapnya unsur-unsur Vandaria Saga yang telah disusun dengan rapi ini membuat kita bisa membayangkannya sebagai dunia yang utuh.

Harta Vaeran berlatar waktu Era Persamaan Derajat Manusia-Frameless. Namun, novel-novel Vandaria Saga yang akan menyusul mengambil latar waktu yang berbeda-beda, misalnya novel Sang Raja Tunggal yang saya tebak akan berlatar zaman sebelumnya, yaitu Era Kekuasaan Frameless. Novel Vandaria Saga lain yang baru terbit, Ratu Seribu Tahun (dengan harga lebih 'sadis' daripada Harta Vaeran), sepertinya mengambil latar zaman yang lebih lampau lagi. Meskipun garis besar sejarah Vandaria sudah dipaparkan di situs resminya, saya tetap berharap novel-novel Vandaria Saga bisa memberikan memuaskan pembacanya dengan informasi-informasi baru yang membuat kita berpikir… oooh, begitu rupanya!

Bisa jadi novelisasi Vandaria Saga memelopori setidaknya dua tren. Pertama, menggubah suatu franchise (selain film) menjadi novel. Ini pernah dilakukan oleh tim kreator seri game Assassin's Creed yang dua novel di antaranya sudah diterbitkan di Indonesia dan cukup laris (penerjemahnya, uhuk uhuk, saya sendiri *kabur*). Kedua, tren "Saga", maksud saya beberapa penulis berbeda menggarap novel masing-masing berdasarkan hikayat yang sama. Mungkin tidak semua pengarang suka melakukan ini, tapi senang juga kan melihat fikfanindo semakin ramai?

Bisa ditafsirkan juga bahwa semesta Vandaria Saga mengajak para penulis fantasi lokal untuk merangkai cerita yang lebih kokoh, dari masa terbentuknya peradaban hingga "masa kini" yang menjadi seting cerita pada novelnya, bahkan "masa depan". Tidak sabar rasanya melihat novel2 fikfan lokal nantinya yang terinspirasi dari lengkapnya sejarah Vandaria Saga.

Oke, mulai dari sini ada spoiler-spoiler ringan ya ^_^

Seperti kata saya tadi, inti cerita Harta Vaeran sederhana saja: Karnthe Jahlnow (grrr, ngetiknya aja salah mulu) mengikuti jejak ayahnya menjadi Pemburu Harta Karun. Meski sempat bimbang karena warga kerajaannya sangat menjunjung kekesatriaan, Karnthe memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Sewaktu ayah Karnthe, bernama Franks (kenapa namanya ga dituker aja ya ya ya???), membuka-buka hasil perburuannya yang terakhir, Karnthe menemukan simbol Harta Vaeran yang legendaris. Vaeran Irvanaah sendiri adalah frameless (ras mirip manusia yang berkekuatan sihir) penyihir legendaris yang hidup beberapa ribu tahun sebelumnya. Dikirimlah Karnthe ke kota untuk bertemu mantan rekan satu tim ayahnya, yaitu Saeliya. Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan Fukhoy-ri, Certeus, dan Karin. Setelah menempuh berbagai petualangan unik dan rintangan antik, apakah akhirnya mereka mendapatkan Harta Vaeran yang paling berharga?

Sebagian dari hikayat Vandaria Saga yang diungkit dalam Harta Vaeran adalah bahwa ribuan tahun yang lalu ada kerajaan adikuasa bernama Edenion. Konon kerajaan ini diskriminatif dalam arti mengagungkan frameless dan mengucilkan manusia. Karena tidak setuju dengan diskriminasi ini, Sang Raja Tunggal mendirikan Kerajaan Nirvana yang menjunjung permsamaan derajat antara frameless dengan manusia. Dengan semakin kuatnya Nirvana, perang pun tak terelakkan untuk menentukan kerajaan mana yang terkuat di dunia Vandaria. Nirvana menang dan Sang Raja Tunggal berkuasa hingga masa hidupnya Karnthe dkk. Dengan runtuhnya Edenion, lahirlah negeri-negeri baru, termasuk Kerajaan Blackmoon tempat kelahiran Karnthe. Disebutkan bahwa keluarga Irvanaah adalah keluarga frameless yang berpengaruh dalam tampuk kepemimpinan Kerajaan Nirvana, tapi tidak diungkit-ungkit apakah Vaeran sendiri pernah berperan dalam politik.

Keluhan utama saya adalah novel setebal 517 halaman ini tidak punya twist, bahkan tidak ada konflik internal yang berbuntut panjang. Misalnya, Saeliya yang frameless murni sempat memandang rendah Fukhoy-ri yang separuh frameless (cuma memandang dengan dingin, sama sekali tidak seseru Draco Malfoy mengatai Hermione "Mudblood" lalu Hermione balas menggampar Malfoy). Saeliya dengan mudah mengalah setelah dicecar oleh Karnthe (yay! berhasil ga salah ketik! oh well…).

Konflik lain di dalam kelompok mereka adalah keraguan Karnthe dkk terhadap Karin. Siapakah Karin sebenarnya? Apakah Karin malah sengaja menjebloskan mereka ke dalam marabahaya? Lagi-lagi, mereka dengan mudah mempercayai Karin hanya dalam beberapa halaman.

Saya juga gemas karena setelah selama ratusan halaman bertanya-tanya siapakah itu sebenarnya Vaeran Irvanaah, tidak ada jawaban yang memuaskan. Karnthe dkk melanglang buana menghadapi petunjuk dan rintangan yang mengindikasikan kenyentrikan sang penyihir, misalnya Vaeran mengurung penyair kesukaannya yang dia anggap tidak menggubah syair bermutu lagi. Tapi semua itu terlupakan begitu saja pada akhir cerita, seakan-akan yang penting Karnthe dkk sudah mendapatkan harta dan kekuatan, bukan pencerahan mengenai siapakah dan seperti apakah Vaeran Irvanaah sebenarnya.

Bagaimana dengan petualangan dan rintangan-rintangannya? Rintangan pertama, menjarah petunjuk Harta Vaeran dari museum (yap, museum, as boring as it seems) seperti ada hanya demi menghadirkan tokoh Certeus. Memang mereka harus repot-repot menjalankan misi meringkus kelompok pemberontak di ibukota Kerajaan Nirvana, tapi tapi tapi bagi saya yang merindukan petualangan besar di tempat yang eksotis, bagian ini membuat saya tersendat-sendat membaca Harta Vaeran.

Saya suka cara pengarang mencari jalan keluar untuk rintangan-rintangan selanjutnya, cerdas! Karnthe dkk bahkan memanfaatkan sifat alami frameless untuk membebaskan diri dari kunkungan kaum ini. Lumayan cerdas juga untuk bagian pemecahan petunjuk2 dari Vaeran yang nyentrik tapi jangan berharap petunjuk2nya serumit film National Treasure juga ya.

Bisa jadi hal lain yang sempat menyulitkan saya membaca Harta Vaeran adalah gaya bahasanya… terlalu terjemahan. Berkali-kali saya berpikir "kalimat ini kan bisa diterjemahkan menjadi seperti ini". Ada terlalu banyak kata "adalah", "apakah", dan "sebuah", termasuk dalam dialog, sehingga penuturannya terasa agak kaku. Juga ada banyak pengulangan seperti "mereka melakukan ini. mereka melakukan itu. mereka melakukan hal lain lagi" (struktur kalimat yang sama dengan subjek yang sama digunakan tiga kali berturut-turut).

Tapi pada dasarnya penulisan Harta Vaeran sangat rapi, jadi setelah terbiasa dengan gayanya, kita bisa lancar membacanya. Ada sedikit salah eja, tapi masih bisa ditoleransi (tidak sampai sepuluh kali dari 520-an halaman). Cuma pada halaman 212 ada satu paragraf yg berisi 3 kalimat langsung dari tokoh2 yg berbeda (sengaja atau lupa pencet enter?)

Satu hal yang perlu dipertanyakan, kenapa peran Karnthe sebagai tokoh utama kadang-kadang tenggelam oleh tokoh-tokoh lain? Mencolok semborononya iya, hahaha. Tokoh yang paling sering mengerahkan kekuatannya adalah Saeliya, akalnya adalah Fukhoy-ri. Karnthe sendiri baru mikir setelah ditampar Saeliya (oke di bagian ini asli lucu deh xD ). Tapi tidak apa-apalah, Karnthe banyak berguna di petualangan terakhir.

Oiya, keluhan sampingan saya berhubungan dengan bocoran ending novel Vandaria Saga lainnya, tepatnya Sang Raja Tunggal. Endingnya, yaitu kerajaan mana yang menang, blak-blakan disebutkan dalam Harta Vaeran. Sebenarnya ini tidak jadi soal bagi pembaca yang sudah lama mengenal Vandaria Saga, tapi bagi pembaca baru seperti saya, itu spoiler berat T_T. (Umm, bagi yang tidak suka spoiler juga sebaiknya jangan berkunjung ke laman hikayat di vandaria.com.)

Pada akhirnya, Harta Vaeran layak dikoleksi walaupun jelas masih jauh dari sebuah mahakarya. Harganya berat sih, jadi diskon atau buntelan rasanya wajib menyertai cara Harta Vaeran sampai ke tangan kita ;)


Melody Violine


Melody Violine pernah menulis dua novel remajanya (semacam teenlit) yang telah diterbitkan dengan nama pena El Ovio (Behind the Scenes Story dan Daun Muda). Kalau ditanya kapan menulis novel lagi, ia akan menjawab, “Nanti kalau udah selesai kuliah.” Nah, kalau ditanya kapan selesai kuliah? Jawabannya, “Masih lama.” *sambil ketawa putus asa* Begitulah derita mahasiswa pascasarjana yang masih belum memulai penelitiannya dalam bidang linguistik. Sebagai pelampiasan, sekarang ia menerjemahkan novel-novel fiksi seperti seri The Mortal Instruments dan Assassin’s Creed: Renaissance. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

32 komentar:

Truly Rudiono mengatakan...

Dear Melodi
Apapun komenmu, kita masih tetap janjian di Perpus buat transaksi peminjaman buku non koleksi perpus dan pelimpahan tahu isi he he he

Anonim mengatakan...

Ni artinya, review HV ga jadi di tek sama Om Pur y? hmm...Om, direview dong, pasang di goodreads juga gpp. Pengin ngerti aja pendapatnya situ tentang HV ini hehe

@Melody, reviewnya ngirit amat :P Kalo diliat, HV ini bau RPG nya nyengat banget gak? Gw blon beli sih, soalnya rada trauma sama yang model ginian.

Anyway, moga menang deh di lomba Review VS!

@Om Pur + Ms. Luz, jangan kelamaan napa ninggalin blog ini, garing juga gak ada review sotoy buat diketawain hehe (Yeah, bener, niat ane emang jahat kok, Opps!)

Cheers,
^^d

Tob

Anonim mengatakan...

hello agan sista, ane pengunjung baru, salam kenal semuamuanya. ^^v
@Mel Reviewnya singkat, padat, nan Enjoyable. Ngomongin Vandaria jadi ngobrak abrik koleksi TCG Ane yg uda lama ane segel.. Ketemu dah 2 deck Vandaria(kaga ngerti juga rulenya). Jadi tertarik bwt baca ni Novel. Penasaran sm universenya.

@om pur & tante Luz, mau nanya ni, ane gi nulis novel fantasi, universenya uda komplit, and latar dunianya berpusat pada zaman Steampunk (pseudo-fantasi zaman rennaissance X baroque).
nah, komponen2 penunjang sprti gaya rambut, fashion, sama kelas sosial tu penting ga dalam pendeskripsian universenya?
1 lg, klo karakter2 utamanya punya gaya rambut/fashion yg terlalu futuristik, biar tampak keren, dan uda jauh dari pakem universenya itu sendiri, hukumnya gimana om/tante?
Semoga dijawab secepatnya. Hehe

sekali lagi salam kenal semuanya.
Thanks
-Daeva. H

FA Purawan mengatakan...

@Daeva,

Pertama-tama, Luz itu masih ting-ting, jadi jangan panggil dia Tante, bisa runyam akibatnya. apalagi setelah dia pulang dari Melbourne dengan membawa ilmu Didgeridoo Maut warisa tetua aborigin yang jadi kadinas ajeb-ajeb gurun pasir di sono :)

Nyang kedua, mengenai komponen2 penunjang sprti gaya rambut, fashion, sama kelas sosial tu penting ga dalam pendeskripsian universenya?

Gini Dae, kalo jawaban gue, semua kembali pada setting. Dan properti adalah pencerminan dari setting tersebut. Katakanlah sebagai perwakilan dari setting dalam bentuk konkritnya.

Yang terpenting adalah, kalo kamu sudah nyusun dengan setting dengan benar, tentunya kamu akan punya sejumlah aturan sebab-akibat yang mendasari setting tersebut, dan aturan itu juga yang menentukan apakah sebuah properti menjadi mungkin atau nggak mungkin ada dalam setting kamu.

Misalnya, dalam sebuah dunia yang hanya terdiri atas lautan, adanya cuma hewan-hewan ikan laut belaka, tidak mungkin tiba-tiba ada properti berupa pakaian atau perabot dari kulit sapi (kecuali ada kemungkinan sapi nya impor dari planet lain. Dan Again, itu berarti merubah setting). Bahwa ada properti yang memiliki atribut SEPERTI kulit sapi (teksturnya, kekuatannya, penggunaannya) tentu masih dimungkinkan misalnya dengan memodifikasi jenis ikannya.

Nah artinya bagaimana kita mengolah universe, akan sangat tergantung pada setting tersebut.

Properti penting atau ngga? Yang penting banget. Tentunya dalam pendeskripsian, harus memiliki keseimbangan dengan unsur cerita yang lain.

1 lg, klo karakter2 utamanya punya gaya rambut/fashion yg terlalu futuristik, biar tampak keren, dan uda jauh dari pakem universenya itu sendiri, hukumnya gimana om/tante?

Maksudnya fashion futuristik itu apa? Balik lagi sama setting. Mau futuristik dalam hal teknologi (pembuatannya) atau dalam hal estetikanya? Kalau estetika, misalnya rabut ditata model sarang lebah dua meter, sepanjang bisa dilakukan dengan teknologi yang ada, ataupun praktis dibandingkan dengan properti lain yang ada, ya ga dianggap ngelanggar pakem, gapapa.

Tapi kalo fashion itu memerlukan sebuah teknologi yang belum ditemukan, misalnya sesederhana tata rambut sasakan aja tapi butuh hair dryer sama hairspray, sementara settingnya tidak memungkinkan ada dua barang tersebut, ya itu berarti penerapan properti yang salah, artinya ngerusak setting dan logika cerita.

Salam,

FAPur

Melody Violine mengatakan...

@mba Truly
siiiip mba :D

@Mas Tob
iyah RPG banget
berasa lagi main game RPG
keliling2, ngumpulin artefak, ngumpulin temen
trauma kenapa tuh? siapa tau ga ada di Harta Vaeran :)

@Mba Daeva
iya, aku biasanya bikin review pendek2, hehehe
ini udah dikonsultasikan dulu dengan Om Soto(y) n Luz xD

makasih banyak buat semua yang udah baca review aku :*

Luz Balthasaar mengatakan...

@Anonim, kekeke. Bukannya mau ninggalin lama. Bis bulan lalu saia kebanyakan dinas dan kelarin proyek. Ntar deh satu-dua minggu ini saia coba setor repiu ke Om Sotoy Tercinta. :D

*main didgeridoo*

@melody, Om Pur, saia tweet yah linknya. Saia baru buka inet sore ini, baru nyadar repiu Melody dah naek tayang.

@Daeva: buat jawab pertanyaan no. 1, gini. gaya rambut, fashion, itu penting untuk ditampilkan. Tapi daripada cuma dideskripsikan, lebih baik kalau itu deskripsi diintegrasikan dengan penceritaan dunianya.

Contoh penceritaan soal fashion dan norma yang saia ingat bagus itu seri The Hunger Games. Pas si naratornya lagi cerita tentang pesta orang-orang capitol, dia menggambarkan lifestyle mereka, dandanan mereka, dan kelakuan mereka yang hedon banget.

Jadinya, deskripsi itu ga terkesan infodump. Soalnya dipasin sama ceritanya.

Soal tatanan rambut yang keren tapi ngelanggar pakem universe, bergantung apakah kamu bisa mengajak pembaca untuk menerima kekerenan itu.

Kalau nggak bisa, mendingan jangan karena itu bakalan ngerusak tatanan cerita.

Moga-moga ngebantu ya

Luz B
Penyebar Virus CELANA DALAM KEMBANG-KEMBANG

vadis mengatakan...

Jadi, jelas kan kalo "The Bad A$$" di cerita ini adalah Mr. Vaeran Iervaanah! Yeah! Emang kadang nyebelin tuh frameless, gak jelas jasanya, lebih condong ke nyentriknya aja.

Melody Violine mengatakan...

@luz
iyaa baru tayang, makasiii :D


@vadis
emang sebel baca ini tokoh2nya disuru muter2 mulu sama Vaeran,
*spoiler dikit*
trus ujung2nya kita ga banyak tahu tentang Vaeran siapa *grauk grauk*

Anonim mengatakan...

@Om Pur makasi masukannya, and jawabannya.. uda mulai kebayang sekarang, hehehe o ya Futuristik yg ak maksud tu style ala harajuku di jaman Victorian (ralat dikit, bukan rennaisance, tapi victorian)...

@Mel wah, klo RPGnya kental banget, pas bacanya serasa di dalam itu RPGnya ga? :P

@Sis Luz Makasi Sarannya, nge avoid Infodump yah. well bisa diterapin nih :) yay... Salam "CELANA DALAM KEMBANG-KEMBANG" #LirikReviewsebelumIni. HOHOHOHOHO

Wah, dapet banyak ilmu nih nongkrong di Mari :D, asik2...

-Daeva. H

Melody Violine mengatakan...

@daeva
bener2 berasa deh,
kayak lagi main RPG tapi ga bisa ngatur chara2nya mau gerak ke mana
(lama2 gemes, hehee)
gara2 itu juga novelnya jadi tebel kali ya, tau sendirilah game RPG kan mondar-mandir mulu ^_^;

dejongstebroer mengatakan...

belum baca sih, tp ngintip dikit dari websitenya,,, :p

yg mau aq kritik di sini adalah penggunaan istilah "frameless" untuk suatu ras humanoid di dunia Vandaria.

memang sekali lagi ini adalah hak prerogatif pengarang/ pencipta istilah tersebut mengunakannya dlm karyanya, tetapi ALANGKAH BAIKNYA jika diganti istilah lain dlm bahasa indonesia atau istilah conlang (salah satu bahasa yg digunakan di Vandaria) yg artinya kurang lebih sama dengan "frameless"

mungkin ada yg sedikit terganggu dgn penggunaan istilah frameless ini *seperti saya* karena logikanya makhluk2 vandaria tidak ada yg bisa berbahasa Inggris, sehingga tidak mungkin tercipta istilah tersebut di dunia itu, kecuali jika bahasa yg digunakan penulis dlm menulis novel adalah bahasa inggris, istilah itu bisa dipakai.

FA Purawan mengatakan...

@dejong,

bener tuh. Aku juga penasaran dengan munculnya istilah frameless ini. Maksudnya apa toh?

Di satu sisi konsep ini unik buat Vandaria, tapi di sisi lain konsepnya juga nggak gampang dipahami pembaca.

Kupikir ada sejarahnya (dalam dinamika penciptaan universe dalam komunitas pecinta Vandaria) yang akhirnya menciptakan istilah ini sebagai suatu 'standar' dalam dunia vandaria.

Tapi apa yang namanya standar dalam satu komunitas, tidak otomatis dimengerti oleh pihak di luar komunitas. seperti halnya bahasa gaul remaja gak lantas otomatis dipahami oleh generasi non-remaja.

Maka penerapan istilah frameless di tengah-tengah pembaca fikfan non vandaria fans, terasa seperti gaya anak remaja yang asik menggunakan istilah-istilahnya sendiri dalam forum umum.

Makanya, orang luar-lah yang harus berusaha memahami sendiri apa maksudnya istilah itu.

BUat gue, the biggest complaint adalah dalam hal gak jelasnya peran 'frameless' ini dalam konstelasi universe vandaria. Apa pentingnya, apa keberbedaannya dengan kaum manusia umum, ada apa signifikansi perbedaan itu terhadap universe vandaria... apa efeknya?

FAPur

Kingrand mengatakan...

Terima kasih untuk review-nya.

Sealiya mirip Sierra ya? Hahaha :D

Rozmerga mengatakan...

Reviewnya bagus, enak dibaca. Terutama bagian yang Wirya ga bisa dapetin kartu penggantinya itu :p

Harta Vaeran memang bukanlah karya tulis Vandaria Saga yang paling bagus, tetapi merupakan jembatan penghubung paling bagus menuju universe Vandaria yang lebih kompleks.

Plotnya memang dibuat tidak berbelit, agar pembaca awam juga dapat mengikuti alur ceritanya, tanpa harus mengerti banyak tentang plot Dan linimasa Vandaria Saga diluar novel Harta Vaeran.

Vandaria Saga sendiri masih menyimpan banyak sekal rahasia di baliknya, bahkan yang di website itu belum ada apa-apanya... Jadi simak saja perkembangannya :D

Untuk masalah istilah 'frameless' dan mengapa ada as itu, meskipun saya bisa mencoba menjelaskan, tapi rasanya lebih baik Kingrand saja yang menjelaskan, sebagai empunya Vandaria Saga :D

FA Purawan mengatakan...

Apakah Kingrand adalah Ami Raditya? welcome to Fikfanindo!

Kalo Rozmerga siapa, ya? In the Name of Durgumm, Show yourself! (sambil baca-baca pantun frameless, yang dianggap mantera di dunia braceless dan backless :))

Danny mengatakan...

Wah, kayanya ini jadi review paling pendek yang pernah ada di fikfanindo. XD

Tapi thanks buat reviewnya. Cukup menjelaskan pendapat Melody sendiri soal Vandaria dan ekspektasinya.

@Om Pur: Rozmerga itu, dia juga salah satu konseptor Vandaria. Pencipta benua Elir, lebih tepatnya. Rozmerga itu nama karakternya yang bakal jadi tokoh utama di trilogi Elir. *Promotion mode: on*

Rozmerga mengatakan...

Hus Dan, deadlinemu besok loh, ayo balik nulis sana! :p

Jadi ya begitulah, kebetulan saya juga salah satu konseptor Vandaria yang juga akan menulis beberapa kisah Vandaria.

Kalau tidak ada halangan, novel trilogi yang saya tulis juga akan terbit tahun depan. Mohon dukungannya yah, teman2 fikfanindo :)

Melody Violine mengatakan...

@danny

ternyata emang pendek banget ya ^_^'
biasanya aku review cuma sekitar 500 kata, hehe

Novera Spadhe's Student mengatakan...

aku mau beli!

dejongstebroer mengatakan...

terlepas dari keberadaan istilah "framless" itu...

aq cukup terkesan dgn pembuatan "serial novel" Vandaria saga berikut dunia Vandaria sbg settingnya,, yg ternyata hasil kolaborasi bbrp konseptor n penulis, dimana msg2 konseptor/ penulis sepertinya memiliki hak cipta penuh terhadap bagiannya sendiri2,, dan disatukan dalam sebuah konsep conworld universe sbg settingnya

ini tdk sama seperti novel kolaborasi kebanyakan

Novera Spadhe's Student mengatakan...

Bener tuh dejo! Beda sama yang lain! Udah gitu yang bikin aneh tuh Saeliya-nya; matanya itu beda warna...! Tapi diliat dari segi usia, penulisnya nggak bilang masalah 'itu', tuh. Tapi ya nggak apa, lah. Bagus kok ceritanya.

dhea mengatakan...

ada novel baru judulnya the conquer oleh teman saya ramdhan habib, mohon di review

Novera Spadhe's Student mengatakan...

OK....eh, tapi siapa yang review? Aku juga ngga tau novelnya kayak apa.

Fauzi Atma mengatakan...

Om Pur, Ms. Luz. Numpang promosi ya. Ada yang mau pesan novel fantasi saya, Kristal Aracruz (muslihat 1)? Novel ini hanya dijual secara online dan berdasarkan pesanan.

Yang mau pesan, silakan kirim email ke fauziatma@gmail.com berisi

1. nama,
2. alamat lengkap,
3. nomor HP,
4. jumlah pemesanan,
5. keterangan ingin diberi testimoni atau tidak (karena memengaruhi ongkos kirim).

Keterangan lanjutannya bisa dilihat di sini, sini, dan sini.

Novera Spadhe's Student mengatakan...

Eh, tunggu sebentar. Sebenernya aku pengin biar Vandaria Saga ini di kartunkan. Ya kalo bisa difilmkan.

@Fauzi: Gimana sih caranya kirim e-mail?

Fauzi Atma mengatakan...

@Novera Spadhe cara paling gampang kirim e-mail: nyuruh bawahan. haha. :D

Novera Spadhe's Student mengatakan...

HOOO...Dasar!

Melody Violine mengatakan...

@dejong dan navera
kata empunya Vandaria
setiap frameless punya mata beda warna lho, hehehe
kayak kucing arab
dan pasti seru ya kalo vandaria dijadiin animasi :D

@rozmerga
iya aku ketinggalan di review ini lupa mau komplain soal istilah frameless, kan lebih enak "nirrangka" misalnya supaya bhs indonesia juga, hoho




btw, aku bikin cerpen tentang vandaria (maap numpang minta cabe)
silakan berkunjung ke vandaria.com - forum - galeri karya - padamnya bintang2 vaeran

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Aaaa, ketinggalan baca review baru! >.<


....


Hoo, selamat buat Melody yang udah jadi reviewer baru di fikfanindo! Review nya sangat jelas walaupun lebih pendek dari review-review yang lain :)

Hmm, aku setuju ama Tob. Cerita ini sangat berasa RPG-nya. Tapi mungkin seperti kata Rozmerga, Harta Vaeran ini memang dibuat nggak banyak twist-nya biar gampang dipahami sama orang-orang yang awam dengan Vandaria Saga.

Oh wait, itu tidak menjelaskan kenapa rasanya sangat RPG yah?

Hmm, kalau menurut pendapat DPK, dibuat seperti itu supaya para pembaca lebih bisa menikmati cerita Vandaria, karena biasanya pembaca fantasi itu juga pemain game RPG, walaupun ga semuanya seperti itu.

Nah, sekarang yang mau aku tanyain ama Melody (dan para pembaca Harta Vaeran lain), apakah dengan membaca Harta Vaeran kalian jadi lebih bisa mengerti dan terhubung dengan dunia Vandaria Saga?

Kalau iya, berarti tujuan buku ini, dengan segala kesederhanaan plotnya, tercapai. Kalau tidak, well, berarti format ini tidak efektif untuk mengenalkan sebuah universe fantasi baru.

Just a thought :)

PS: Buat Melody, mudah-mudahan review-mu menang ya! :D

Melody Violine mengatakan...

@dewi

bagi saya yang sama sekali tidak tahu apa2 tentang Vandaria sebelum baca Harta Vaeran, novel ini cukup memberikan pengantar yang jelas, dan benar bahwa kesederhanaannya turut membantu hal tersebut

semoga novel2 Vandaria berikutnya punya twist yang lebih menggoda bagi para penggemar fikfan ya :D

reviewku menang, hihihi

makasi banyak xD

Novera Spadhe's Student mengatakan...

@Mba Melody:OOO... gitu
thanks

Author mengatakan...

Ini kayaknya udah lama banget, jadi saya gak tau ada yang bakal reply atau enggak but at least I'm trying.

Juga ada banyak pengulangan seperti "mereka melakukan ini. mereka melakukan itu. mereka melakukan hal lain lagi" (struktur kalimat yang sama dengan subjek yang sama digunakan tiga kali berturut-turut).

Itu bisa dikasih contoh nggak ya? Dikutip dikit gitu dari bukunya. Sekedar mau tahu aja, kayaknya gaya nulis saya juga gitu. Mau belajar jadi lebih oke ceritanya.