Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

THER MELIAN Series (Shienny M. S.- 2011 - 2012)

Review by Luz B.



Tebal : 390 (Revelation) 460 (Chronicle) 502 (Discord) 509 (Genesis). Plus glosarium
Penyunting : saia tahu ada, tapi nggak ditampilkan di buku
Ilustrasi sampul : Shienny M. S.
Ilustrasi isi: Shienny M. S.


Bagi saia, susah merepiu proyek di mana saia punya keterlibatan, walau sangat sedikit. Tapi akhirnya saia pikir untuk menjadikan ini semacam tantangan baru. Demi experience points gitu. Sapa tahu satu saat saia level up sampai bisa melakukan pembantaian publik terhadap karya-karya sendiri.

Kesulitan lainnya, serial Ther Melian karya Shienny M. S. ini keluar lengkap dalam waktu relatif cepat. Alhasil, salah satu celaan favorit saia, yaitu, "Ea, plot gak selesai dan janjinya dilanjutin di sekuel yang ga keluar-keluar. Cape de~!" langsung batal demi hukum. Jadilah saia harus nyari-nyari celaan lain dahulu. 

Senin, 26 Maret 2012

DUNSA (Vinca Callista - 2011)

Review by Luz B.
 
 
Tebal: 441 halaman plus glosarium
Penyunting : Jia Effendie
Penyelaras : Ida Wajdi dan Fenty Nadia
Pewajah Isi : Aniza Pujiati
Desain Sampul : Dmaz Brojonegoro
 
 
Pada repiu saia sebelumnya saia menyebut rencana saia untuk merepiu satu seri Novel Fiksi Fantasi Indonesia yang terdiri dari empat buku. Tapi sebelum itu, untuk pemanasan, saia akan terlebih dahulu merepiu buku kali ini. Dunsa, karya Vinca Callista.
 
Saia mendengar buku ini dari gosip temen. Katanya Dunsa sempat menjadi trending topic di Twitter. Saia sendiri sih nggak dengar apa-apa. Saking kupernya, kali.
 
Untuk menebus dosa kuper itulah saia akhirnya beli dan baca buku ini. kalau berita trending topic di Twitter itu benar, maka sepertinya itu memang pantas terjadi. Buku ini mengandung beberapa contoh pemakaian elemen-elemen fiksi fantasi yang layak dibahas.
  

Minggu, 20 November 2011

VANDARIA SAGA: Harta Vaeran (Pratama Wirya - 2011)

By Melody Violine

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Ilustrasi & Perancang Sampul: Ecky Oesjadi
Tata Letak: Mulyono
Pencipta Hikayat: Ami Raditya
Ilustrasi: Tim Ilustrasi Vandaria Wars
Tebal: 517 halaman

Prakata, sebelum kita mulai.
Fikfanindo kedatangan pena baru lagi untuk mereview karya-karya fiksi fantasi lokal yang semakin cepat dan makin banyak terbit. Kali ini perkenalkan
Melody Violine, salah satu penerjemah sekaligus novelis yang sudah menelurkan dua novel (Teenlit, yang Fantasy-nya kapan, Mel?). Let's sing our welcoming anthem buat Melody, semoga produktivitas reviewnya bisa menyaingi derasnya review-review dari pendekar eksisting fikfanindo... (deras apanya? hehehehe).

Dan satu sisipan komen dari saya: Tak seperti biasanya dimana redaktur senior fikfanindo (Om Sotoy dan Miss Cynis) acap ikut campur ngegeratakin karya review kontributor (yang dipereufimisme dengan istilah 'menyelaraskan-dengan-nada-sok-teu-nya-blog-ini', maka review Melody kami biarkan 'apa adanya'. Soalnya konon review ini mau disertakan dalam lomba review yang diselenggarakan oleh Tim Vandaria Saga. So kami gak usik-usik dulu, biar para juri lebih enak-hati untuk memenangkan review ini (bila menang), atau kami gak disalah-salahkan bila review ini tidak menang (hehehe, Pisss semuanya!)

Salam, FA Purawan


==================================================================

Pertama melihat cover Harta Vaeran, entah kenapa langsung naksir pengen beli, mungkin karena latar belakangnya yang cenderung putih bikin mencolok di antara hamparan cover warna-warni. (Sebenarnya, saya buru-buru beli juga karena takut ga kebagian novel ini di toko buku Depok yang kalo pagi-pagi diskonnya oke banget itu.) Gambarnya bagus tapi sayang posenya biasa banget. Andaikan pose pada bagian "Tokoh-tokoh" yang dipajang di depan pasti lebih sip tapi ga muat kali ya. Artwork-nya membuat saya tidak menyesal telah menjungkir balik dompet (supaya duitnya keluar banyak). Kritik untuk artwork-nya adalah kelima tokoh ini masih terlalu mirip untuk dianggap berasal dari ras-ras yang berbeda.

Rabu, 03 Agustus 2011

ZODIAZ: Sang Penyembuh (Easter Patricia - 2010)

By Luz. B

Penerbit: KataKita
Editor: Joko Pinurbo
Proofreader: Farah Maulida
Desain Sampul: (Sengaja Ga Saia Tulis)
Tata Letak: Cyprianus Jaya Napiun
Tebal: 410 halaman plus glosarium
 
 
Setelah lama nggak bikin ripiu, akhirnya saia menyempat-sempatkan ngetik satu ripiu yang sebetulnya sudah pengen saia buat dari kapan taun. Judul buku yang ingin saia bahas kali ini adalah ZodiaZ: Sang Penyembuh oleh Easter Patricia. (Itu Z-nya gede bukan typo. Memang tulisannya begitu di dalam buku. Lanjut.)
 
Saia akan mengaku kalau (lagi-lagi) repiu saia tidak dilandasi itikad baik, semangat Pancasila, Undang-undang Dasar 45, Sumpah Pramuka, dan Janji Murid. Kenapa tidak? Karena pikiran pertama saia saat melihat cover buku ini adalah, "Nah, ini baru namanya cover yang minta di****!"
     

Sabtu, 02 April 2011

ICYLANDAR: The Elf's Kingdom (Dionvy - 2010)

Oleh Luz B.

 Penerbit: Pustaka Redemptor
Penyunting: Siswi Hapsari
Ilustrasi Sampul: Mario Diaz, Christian Chandra
Ilustrasi: Mario Diaz
Tebal: 684 Halaman

Kadang-kadang, aku berpikir kalau buku di Fikfanindo ini bisa dibagi menjadi empat jenis.

Pertama, Buku O. Nggak ada hubungannya sama Coffee O yang populer di Kerajaan Upin Ipin™ ya. Ini maksudnya Buku Oke. buku yang kalau dibaca bikin aku bilang, "Oke," dalam segala gradasinya, mulai dari "ga jeleklah" sampai "Gila anjr*tkerenbanget!!!"

Kedua, Buku NO. Kembali, ini nggak ada hubungannya dengan Nahdlatul Oelama (maksa deh,) maupun Nutup Oeban (maksaaaaaa,) tapi merupakan kependekan dari Nyaris Oke. Ini buku yang belum bisa kubilang bagus, tapi seandainya saja diperbaiki di beberapa aspek, akan kunilai lebih baik.

Ketiga, Buku GSK yang sama sekali ngga bermaksud nyebut GaSaK atau GuSraK apalagi Guruh SuKarnoputra. Ini adalah kependekan dari Ga Sengaja Kocak. Karya-karya macam ini rasanya ngga bisa ikhlas kubilang bagus. Namun, selama membaca, di dalamnya banyak hiburan-hiburan berupa keju dan kekonyolan yang bertebaran. Yang tentu saja asik dan bikin ngakak kalau dibahas di blog ini. 
   

Rabu, 09 Februari 2011

XAR & VICHATTAN: Seri Ahli Waris Cahaya BukuDua - Prahara (Bonmedo Tambunan - 2010)

Original review by Dewi Putri Kirana
Fine Tuned for Fikfanindo by FA Purawan and Luz B.

(Hosted by Guest Faeries: Pamanus Sotoyus dan Ceweka Sinisa)


Penerbit: Adhika-Pustaka.
Penyunting: Arie Prabowo & Leony Siregar
Ilustrasi Sampul: Imaginary Friends Studio; Hendryzero Prasestyo & Eko Puteh
Perwajahan Sampul & Isi: Lewi Djayaputra
Tebal: 425 halaman plus Glossarium


Pada suatu siang, DPK, seorang pembaca XAR & VICHATTAN: Prahara terlihat mendaki pegunungan berbatu. Berkali-kali ia merutuk gelisah, lalu memeriksa peta. Tiga hari sudah berlalu sejak ia meninggalkan Desa Cimea. Padahal, pedagang bertubuh tinggi besar dan membawa pedang-yang menjual peta itu-berkata bahwa Hutan Eros harusnya sudah tampak setelah dua hari perjalanan.

Sebentar kemudian DPK menemukan sebuah gua kecil di sisi tebing. Menurut peta, gua itu seharusnya bukan gua, tapi sebuah cabang jalan biasa. Biarin deh, pikir DPK. Ia sudah sangat telat. Sang pengarang, Bonmedo Tambunan, pastilah sudah lama menunggu. Dan kalau gue kelamaan, takutnya Om Boni keburu disantap ingenscorpus. Hiii~!

Minggu, 13 Juni 2010

THE CHRONICLES OF WILLY FLARKIES: Petualangan Memasuki Dunia Upside Down (Satrio Wibowo - 2010)


by FA Purawan

Penerbit: Imania
Penyunting: Wijdan Aljufry
Penerjemah: Dian Guci
Desain Sampul: Kebun Angan
Desain Isi: Dini Handayani
Tebal: 448 halaman.


Uhm, The Tough Case of Willy Flarkies Chronicles, atau mungkin tepatnya: The Chronic Case of (Disorderly Written) Willy Flarkies (and His) Upside Down World, or Downside World, Which One Is Correct, Anyway, And Oh So Upsidedownsidewayupdownrightdull Storytelling.

Serem amat, judul ini.

Yah, pada kenyataannya tidak seseram itu. Novel dengan judul panjang di atas sesungguhnya merupakan fenomena menarik, setidaknya untuk menggambarkan kesempatan dan kemungkinan luas yang (masih) ada di dalam ranah kepenulisan novel-novel Indonesia. Ada banyak possibilities yang bisa dieksplorasi oleh para aspiran penulis, aspiran penerbit, bahkan (sesuatu yang cukup 'baru' di sini:) aspiran agen literasi.

Agen literasi? Mari kita bicarakan itu setelah ngebahas novelnya dulu.

Novel berjudul unik ini, pada awalnya tak saya lirik, saat saya seperti biasa browsing di toko buku Gramedia. Tak aneh, sebab saya memang khusus hanya memburu novel-novel Fantasy lokal, dan si novel Willy Flarkies, awalnya, dengan judul inggris, tokoh-tokoh bernama barat dan ilustrasi cover ala novel terjemahan, membuat saya mengira buku ini hanyalah salah satu dari sekian banyak terbitan fantasy terjemahan yang latah dengan fenomena Harry Potter. Apalagi dengan endorsemen pak LKH yang tercantum di halaman depan yang nyata-nyata mengatakan bahwa ini novel terjemahan (dari bahasa Inggris).

Saya memang melihat nama lokal: Satrio Wibowo. Saya kira nama penerjemahnya.

Lalu satu kali saya menemukan buku yang tak berplastik. Saya buka halaman depan, saya temukan pula nama Dian Guci sebagai penerjemah. Makin kuat vonis bahwa ini novel terjemahan. Tapi jadinya ada fakta yang nggak masuk logika: Kalau ini novel terjemahan dan nama penerjemahnya Dian Guci, lalu siapa nama Satrio Wibowo di sampul depan? Dan yang membuat saya terbelalak adalah ternyata Satrio Wibowo adalah benar-benar nama pengarangnya.

Lho, ada novel lokal yang terjemahan? Siapa juga pasti garuk-garuk kepala.

Rabu, 26 Mei 2010

Nadi Amura (Alexandra J. W. - 2009)

By Luz B.


Penyunting: -
Penerbit: Shesanaga
Desain Sampul: Marcel Wetik
Ilustrasi: Marcel Wetik
Tebal: 456 halaman


Pertama-tama aku mungkin harus minta maaf sama para pembaca Fikfanindo. Om Soto(y) tampaknya masih sibuk, dan harus kuakui aku juga lumayan sibuk membenahi proyekku sendiri.
 
Di sela-sela mengerjakan bagian akhir proyekku, ijinkan aku menyajikan satu repiu untuk anda semua. Untuk hari ini, buku fiksi fantasi yang beruntung (sial?) menjadi tamu kita adalah Nadi Amura karya Alexandra J. W.

Banyak di antara anda semua mungkin belum pernah melihat Nadi Amura. Jangan panik, karena penyebabnya bukan minus mata yang nambah terus. Buku ini memang nggak dimasukkan ke toko-toko buku grup Gramedia atau Gunung Agung. Aku sendiri beruntung melihatnya di toko buku ak' sa. ra. di eX Plaza Indonesia. Jadi, jika anda berminat untuk berburu buku satu ini, silakan jajal di lokasi yang sudah kusebut.

Namun, sebelum berburu, tentunya anda mau lihat dulu apakah buku ini layak diburu atau nggak. So? On to da repiu!  
   

Minggu, 21 Maret 2010

ARQUELLA: The Beginning of the Destiny (Maaya Hiroshi - 2009)

By Luz B.

 
Penyunting: Topik Mulyana
Penerbit: Sygma Publishing
Pengarah Artistik: Fery Puwi
Pewajah Sampul: Kebun Angan
Pewajah Isi dan Penata Letak: Ade Truna, Tio
Tebal: 462 halaman
 

Mengambil break dari sela-sela mengerjakan novelku sendiri, perkenankan aku menggelar satu repiu hasil penugasan dari Boz Pur. Sekalian juga, sebagai filler sebelum si Boz kembali dengan salah satu masterpiece soto(y)nya. Sudara-sudari segala agama dan agami, Allow me to present to you... Arquella, The Beginning of the Destiny karya Maaya Hiroshi.
   
Aku ngelihat buku ini benernya udah lama, tapi ga kunjung tergerak untuk mengambil. Alasannya? Empat hal. Pertama, cover yang no very. Idenya menarik sih; ada unsur api dan air, dan peperangan, dan gambar seorang cowok berbaju besi dan berpedang. Sampai disini, aku memujinya karena gagasan ini udah sangat memadai untuk menggambarkan isi cerita. Tapi sapa seh yang punya ide naruh gambar cewek pake gaun putih di depen cover?
 

Selasa, 02 Maret 2010

Another World Elmore (Aulia M. Firmundia - 2009)

By Luz B.

Penerbit: Bestari Buana Murni
Editor: A. G. Adil
Desain Kover: Melati Harum Pandan Wangi
Layout: Irnawati
Tebal: 320 halaman

Setelah cukup lama nggak bikin repiu, karena disibukkan juga oleh proyek novel dan blogku sendiri, aku akhirnya dapat waktu untuk menyelesaikan sebuah buku fiksi fantasi baru berjudul Another World Elmore karya Aulia M. Firmundia, atau biasa dipanggil Uliel. Sedikit background-info, pengarang rupanya masih remaja, dan masuk 15 besar penulis berbakat Bookfrenz Writing School. yang didirikan oleh Elie Mulyadi. Bookfrenz ini sendiri rupanya adalah sebuah sekolah menulis untuk remaja, yang mengadakan kompetisi untuk menyeleksi karya-karya penulis remaja yang layak terbit.

Senin, 11 Januari 2010

Eurgava: Epos Awal Dunia Sudarot (I Tsu Baskara - 2009)

By Luz B


Pengarang: I Tsu Baskara
Editor: Faiz Ahsoul
Penerbit: Lintang Books
Design sampul : E. Bendung W.
Ilustrasi Isi : I Tsu Baskara
Tebal: 306 halaman


Sejak menyelesaikan review terakhirku sebelum yang ini, aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk perawatan intensif di Rumah Sakit Spesialis Korban Fikfan. Akhirnya aku dinyatakan cukup sehat untuk kembali membuat ulasan. Walau tentu saja bapak dan ibu dokter yang budiman/budiwoman di sana berpesan untuk tidak bikin ripiu yang berat-berat dulu. Karena itulah aku memilih sebuah buku yang kelihatannya bukan jenis fikfan uber-njelimet. Judulnya? Eurgava: Epos Awal Dunia MakEro... eh, Sudarot.

Belum apa-apa aku sudah ketularan sifat salah satu karakter di novel ini, yang punya hobi asal nyebut nama. Duh. Tapi soal itu disimpan dulu deh untuk nanti.



Seperti biasa, mari kita mulai dari cover. Gambar dua orang tokoh utama cerita, satu bawa pedang, satu bawa panah. Pewarnaan keren, layout menarik. Usut punya usut, yan g ngerjain ternyata E. Bendung W., sama dengan yang ngerjain ilustrasi untuk Pinissi: Hikayat Orang-Orang Setinggi Lutut oleh Mama Piyo. Buat Bang Bendung, keren! Merah, kuning, putih bercampur jadi kesatuan yang nonjok tapi ga bikin sakit mata. Jujur aku ngambil buku ini salah satunya karena tertarik sama cover.

Balik ke cover belakang, wele, ga ada sinopsis. Ga terlalu ngaruh buat aku sih karena cover depannya sudah win banget. Tapi apa ini? *gasp!* Endorsemen!

Gyaaaaa~! Tidaaaak~!

Aku punya alasan kurang suka sama makhluk satu ini. Endorsemen penting buat marketing, tapi kalau wujudnya berupa janji-janji surga yang kayaknya too good to be true, pastilah aku kepancing ngenye'. Mari kita lihat kutipan sebagiannya di bawah ini...


"...Dunia Sudarot sangat imajinatif dan detail... [penulis] memberikan cerita fantasi yang hidup."

"...petualangan keren untuk remaja!"

"...Ramuan imajinasinya, menjadikan kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Bahasanya mengalir, karakteristik tokoh dan setting begitu kuat, mencitrakan penulis yang begitu lekat akan pemahaman emosi, sosial, analitik, imajinatif yang dilandasi intelektual (ISEAK).


Heh.

Endorsemen pertama dan kedua, lumayan. Wajar dan nggak terlalu bawa-bawa angin surga, walau kedengerannya biasa banget. Udah berapa novel sih yang majang kata "penulis remaja," "detail," dan "imajinasi" buat ngedongkrak nilai jual fikfan?

Endorsemen yang ketiga, waduh. No very deh. Ngerti, kita perlu jualan. Namun, jika kita memang ingin membantu penulis-penulis muda, caranya bukan dengan membebani buku mereka dengan endorsemen yang dibumbui istilah canggih tapi sama sekali ngga membantu mempromosikan isinya. Maksudku, memangnya remaja bakalan beli buku ini karena buku ini mengandung ISEAK? Boro-boro. Peduli ISEAK itu apaan aja belum tentu.

Sekali lagi, para endorser, pleeeeeease kalau kasih endorsemen ke buku bikinlah yang bunyinya tulus dan nggak muluk. (Did you even read the book, BTW?) Biarkanlah urusan kecap-mengecap tetap menjadi kerjaan para politikus.

Baik, mari kita mulai dari halaman pertama. Kata pengantar... dan pengenalan ras serta kota. Hm? Apaan nih? Kebanyakan novel fantasi yang aku tahu glosariumnya di belakang. Tapi ini kenapa di depan ya? Aku jadi kepikiran bahwa salah satu masalah terbesar dalam membuat dunia fiksi fantasi adalah menciptakan dunia yang bisa menarik pembacanya ke dalam buku. Dan deskripsi, tentunya, merupakan salah satu unsur yang potensial dimainkan untuk membuat dunia fiksi fantasi terasa 'hidup'.

Namun, sudara-sudari, untuk bermain deskripsi kita memerlukan kiat dan siasat. salah satu masalah yang sering kualami, deskripsi seringkali memutus aliran cerita. Jadi aku berusaha mencari teknik yang tepat untuk mengintegrasi deskripsi biar cerita gag terasa kayak film yang tiba-tiba di-pause agar penulis bisa menggambarkan apa aja yang ada di layar.

Dan rupa-rupanya pengarang Eurgava punya trik lain untuk mengakali masalah ini: kasih deskripsi dunianya di depan dulu, biar pembaca punya bayangan akan dunianya sebelum mereka terjun ke setting. Jadi nanti di dalam tinggal ngasih cerita, nggak usah musingin deskripsi lagi.

Boleh juga, tapi barangkali nggak akan berhasil untuk semua orang. Problemnya gini: Kalau aku baca cerita, aku peduli sama ceritanya pertama-tama. Nama-nama tempat, ras, dan deskripsi mereka cuma sekumpulan kata-kata dengan susunan huruf aneh sampai aku merasa masuk ke dalam dunia cerita. Mengapa aku harus peduli apa itu Kota G'ufaot, ras Rihd, dan lain-lain, bagaimana bentuknya, bagaimana rupa bangunan dan penduduknya, jika aku belum tahu apa perannya di dalam cerita?

Cerita fiksi, sudara-sudari, bukanlah naskah undang-undang dimana semua istilah harus ditaruh di pasal satu dan kalau anda skip dan kemudian nggak ngerti pasal berikutnya berarti salah anda selaku pembaca. Mengapa? Undang-undang bisa dipaksakan, sedangkan kenikmatan membaca tidak. Dan sementara separuh kenikmatan membaca bergantung pada selera dan cara berpikir si pembaca, kukira adil jika kukatakan bahwa separuhnya lagi bergantung pada teknik si penulis untuk membuat naskahnya bisa dinikmati.

Tapi di sisi lain, kita juga bisa memakai penjelasan di depan itu dengan cara lain. Lewatin aja dan langsung baca cerita. Begitu ketemu istilah aneh, balik lagi ke halaman depan untuk baca deskripsinya: "Oh, jadi yang namanya Kota Tura itu gini loh."

Ujung-ujungnya tetep, aku harus berhenti baca cerita demi balik halaman dan ngelihat deskripsi. Dan kalau udah gini apa bedanya dengan deskripsi mentah, selain bahwa teknik ini lebih bikin capek karena harus balik-balik halaman dulu?

Kesimpulan? Marilah kita semua berusaha untuk terus mengasah cara bercerita. Dan berkaitan dengan ini aku ingin menyinggung soal bahasa. Secara keseluruhan, buku ini lebih bisa dibaca daripada... uh, a certain Epic Fail, tapi kadang-kadang aku menemukan kalimat semacam...


Rupanya telah terjadi percekcokan di antara keduanya yang berakhir dengan leher Jouhdin dicekek...


atau,


Mulut Dohika sudah siap-siap mau nyrocos lagi...



Apakah kita tidak boleh memakai kata yang tidak baku? Boleh saja, tapi ajukan pertanyaan ini sebelumnya:

Pertama, apakah ketidakbakuan itu diperlukan untuk menyampaikan maksud tertentu yang tidak mungkin disampaikan dengan cara baku, atau murni khilaf binti kepeleset?

Kedua, Apakah kalimat/kata tidak baku itu merusak suasana/setting cerita, atau justru menarik pembaca ke dalam dunia cerita?

Contoh penggunaan istilah tidak baku ini barangkali bisa kita ambil dari penggunaan istilah tiarawan/tiarawati dalam buku Xar&Vichattan: Takhta Cahaya oleh Bonmedo Tambunan. Kedua istilah itu jelas nggak ada dalam bahasa Indonesia, tapi cocok dipakai karena tiarawan/ tiarawati di dalam cerita tersebut rupanya adalah suatu kelompok tersendiri yang berbeda dari biarawan/ biarawati.

Berikut, mari kita melihat ceritanya sendiri. Pada dasarnya buku ini adalah bagian pertama dari sebuah Tetralogi. Yang bisa diterjemahkan sebagai: "Cerita ini belom kelar, jadi kalau ada karakter yang kurang dikembangkan, plot yang putus, dan hal-hal yang belum dijelaskan, jangan dikritik dulu, Mbak/ Bang. Tunggu sekuelnya, yang (bisa) keluar nanti (dan bisa juga nggak)."

Entah tren atau gimana, fiksi fantasi Indonesia punya kecenderungan menyajikan cerita nggak selesai yang (katanya) akan diselesaikan di sekuelnya. Entah sudah berapa kali aku denger alasan kayak gini, dan sekuel yang dijanjikan itu pun nggak terbit-terbit karena berbagai alasan. Nggak sepenuhnya salah pengarang, memang, karena dunia penerbitan di Indonesia memang punya alergi menerbitkan buku tebal. Jadilah satu cerita utuh dicacah jadi berlogi-logi.

Untuk satu hal ini nggak adil kalau aku ngenye' lebih jauh, jadi marilah kira berdoa sesuai dengan agama dan agami masing-masing supaya tiga buku lain dari Tetralogi Eurgava tidak menjadi janji semata.

Lalu? Apa yang sudah tersaji pada seperempat bagian tetralogi ini? Aku menangkap dua story arc besar: pertama adalah petualangan Aburo Eurgava Sang Pengawal, bersama para ksatria dari kesatuan White Legions, untuk menangkap seorang pemberontak di Kota G'Ufaot. Dan, kedua, ketika si pemberontak sudah tertangkap, Aburo dan kawan-kawan dikirim ke Kota Tura untuk menyelidiki serangkaian penyerangan terhadap Kelompok Penyihir Sorkrus. Dua cerita besar ini (kelihatannya) nggak berkaitan kecuali oleh kehadiran satu tokoh dari story arc 1 yang bergabung di story arc 2, dan diakhiri dengan ending yang ketebak dari 4/5 bagian cerita.

Singkatnya: Lurus. Plot cuma menceritakan tokoh ini kesini, melakukan ini, berantem dengan si A, si B, si C memakai pedang dan panah dan sihir dengan mantra begini dan begini, sampai akhirnya terjadi ini. Buku-buku ini bener-bener menerapkan rumus standar yang biasa dipakai di media-media fiksi fantasi.

Nggak hanya secara garis besar. Kalau kita lihat satu-persatu, bahkan unsur-unsur cerita juga pake rumus standar ini. Tokoh utama, misalnya, adalah orang yang bermasa lalu agak misterius, chosen one yang punya tanda di badannya. Dan sihir, walaupun ada bermacam-macam, pada intinya cuma sesuatu yang dikeluarkan dengan mengucapkan mantra-mantra aneh. Padahal, untuk menghidupkan suatu novel fantasi, pengarang perlu lebih dari sekedar glosarium penuh kata-kata asing yang susah dieja.

Satu hal yang bikin bingung, Aburo Eurgava si tokoh utama ini digambarkan jauh lebih jago dan kuat dibanding yang lain di dalam tiap pertempuran. Demikiannya kuat sampai ada plot device di dalam cerita ini yang dipakai beberapa kali, dimana para Ksatria White Legions harus melakukan sesuatu, terus gagal, dan Aburo Eurgava tampil sebagai dewa penyelamat.

Lho, apa salahnya dia kuat kalau dia tokoh utama? Nggak salah, cuma bikin bingung karena sebagai kontrasnya para Ksatria White Legion, terutama Dohika, digambarkan terlibat selalu terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran anak kecil, konyol, sok tahu, dan suka salah sebut nama.

Loh, apa salahnya (lagi)? Nggak salah (lagi), tapi bikin aku bertanya-tanya bagaimana Dohika bisa masuk White Legions yang (katanya) elit itu, dan mengapa, kalau Aburo lebih kompeten, bukan dia yang direkrut ke dalam White Legions? Mengapa statusnya dia cuma Sang Pengawal, dalam arti, cuma jadi pengawal Dohika? (Dan elit banget Dohika, baru prajurit aja bisa punya pengawal. Gimana kalau udah Jenderal?)

Jangan bilang pliss kalau pertanyaan ini akan dijawab di sekuelnya...

Berikut, aku pengen bicara soal tokoh. Pengarang ini masih remaja, dan saat menciptakan tokoh, seorang pengarang meletakkan sesuatu di dalam dirinya kepada para tokoh itu. Jadi, jika tokoh-tokoh Eurgava masih mencerminkan keremajaan, baiklah, dipahami. Dohika dan Auvii, misalnya, digambarkan berkelahi karena hal-hal kecil semacam ledek-ledekan dan hutang. Tapi pengarang juga bisa membuat tokoh-tokoh yang lebih tua macam Jouhdin dan Bashkra bertingkah dan bicara sesuai usia mereka, walau memang ada 'rasa tinggalan' yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh tua ini diciptakan oleh anak muda.

Masih berhubungan dengan tokoh, tata nama dalam cerita ini menurutku masih kurang. Kesatuan rasa pada nama dan istilah yang menunjukkan ras atau kebangsaan belum terlihat. Dan kalaupun mau pakai nama/istilah yang nggak menunjukkan kebangsaan atau ras, nama-nama yang dipakai masih belum memiliki kesatuan yang menunjukkan bahwa nama itu adalah khas dunia Eurgava. Yang kumaksud kesatuan rasa ini bisa diamati pada marga Batak misalnya, ada Sitorus, Siahaan, Situmorang, Sisingamangaraja. Terasa kan kesatuan rasa yang mengidentifikasi semua itu sebagai nama Batak, yang tentunya bisa dibedakan dari nama Jawa, (Soeroso, Brojonegoro, Barghowo, S*silo B*mb*ng Yudh*y*n*, dst) atau nama Belanda (Marijke, Famke, Willem, Jan Pieterszoon Coen. ;P)

Bahkan barangkali nama-nama tokoh yang ada di dalam buku ini adalah nama teman-teman pengarang yang diutak-atik. Dohika, misalnya, adalah utak-atik dari Andhika. Dhika nya itu loh, kalau ditulis pakai katakana Jepang, kan jadi Dohika. Trus Saputrus... heh. Ada teman yang namanya Saputra, -a nya tinggal diganti -us. Kayak doktoranda dan doktorandus. Dan Bashkra... ini nama pengarang sendiri, ‘kan? Baskara. Heheh.

Kreatif? Ya. Membantuku mendapat 'rasa' dunianya? Belum.

Satu hal yang barangkali ingin kupuji dari buku ini adalah ilustrasinya. Bukan karena sangat "wah," tapi karena ilustrasi ini cukup baik kalau ingat yang bikin ini masih remaja SMU. Caranya mengambil sudut gambar, mengambil momen-momen yang pas untuk diilustrasikan, dan pembagian panel untuk ilustrasi ala manga, semua menunjukkan kalau penulis ini punya potensi lumayan buat jadi komikus. Favoritku adalah ilustrasi komik 3 kotak di halaman 203 yang kayaknya terinspirasi dari yonkoma (walau rada ga nyambung ke cerita.)

Jadi? Is this book a win or a fail? Aku nggak akan bilang jelek, terutama setelah kejadian dengan a certain Epic Fail yang traumatik itu. Ada beberapa poin baik dari karya ini, dan ada juga yang masih terperangkap pada pola-pola standar yang diikuti penulis fikfan pemula yang keranjingan main game: chosen-one-ketemu-sidekick-bikin-party-lawan-musuh. Menjadi gamer/pecinta anime-manga memang bisa menjadi aset untuk membuat fiksi fantasi, tapi hendaknya kita ingat bahwa menulis novel adalah seni yang berbeda dari menonton anime atau main game, dan setiap seni punya 'bahasa' sendiri-sendiri.


Luz Balthasaar

Senin, 21 Desember 2009

SUMMONSTER: Ancaman dari Kegelapan (Rudiyant - 2009)

By Luz B

Pengarang: Rudiyant
Editor: Felicia Suwardini
Penerbit: Cyan Publisher
Design sampul dan layout: Haridesign
Tebal: 390 halaman


Sebenarnya, beberapa rekan di Forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri di Pulau Penulis sudah lama meminta aku untuk menulis tentang novel satu ini. Dan sekali lagi, sudara-sudari segala agama dan agami, reaksi pertamaku adalah... meremehkan.

Harap maklum, untuk urusan remeh-meremehkan aku memang susah tobat. Apalagi sekarang udah bukan musimnya segala sinetron hidayahiyahtantowiyahyah yang mengajak kita kepada kebaikan tapi menggambarkan hukuman dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan cara yang nyaingin kesadisan ilustrasi psycho manga.

Mengapa aku meremehkan buku ini? Pertama, covernya yang kelihatan dibikin ngasal. Warna merah, ungu, dan item dan gambar dari berbagai sumber diulek seenaknya tanpa diolah menjadi kesatuan yang menarik. Di cover depannya ada naga, background hutan, petir dan foto seorang oknum yang kayaknya pengarang, (tapi bisa juga bukan,) masang pose dan ekspresi yang (dia pikir) keren. Dan si oknum ini nangkring di belakang judul dengan Font Harry Potter: Summonster: Ancaman dari Kegelapan.

Sampai disini ada bagian diriku yang langsung mencap bahwa si pengarang ini narsis sekali. Namun, mari kita bahas cover ini secara adil. Foto itu bisa yang bersangkutan, dan bisa jadi bukan. Dan kalaupun benar foto pengarang, sebetulnya bisa diterima.

Pertama, karena itu haknya dia. It's his book.

Dan kedua, karena paling tidak foto si pengarang itu asli ide, buatan, dan muka dia sendiri! Bandingkan dengan apa yang terjadi di cover belakang: Dengan terang-terangannya si desainer cover menempelkan gambar karakter Vivi Ornitier dari Final Fantasy IX. Ya amplop...

Aku tahu negeri tercinta kita kurang memperhatikan hak kekayaan intelektual, tapi ini? Terang-terangan mencomot gambar dari sebuah game yang cukup dikenal untuk tujuan komersil bisa diterjemahkan sebagai permintaan untuk dihujat oleh penggemar game itu. Jadi, pengarang dan desainer cover yang terhormat, kalau ada hujatan berkenaan dengan cover yang menyayat-nyayat hati anda, nggak usah jejeritan kayak orang-orang caper baru masuk infotainment. Anda sendiri yang minta didzolimi.

Lepas dari pembajakan yang benar-benar tidak tahu malu itu, aku disambut oleh sinopsis yang ditulis dengan font ultra-ruwet yang bikin malas baca. Sebagai servis untuk para pembaca Fikfanindo, ini aku copaskan...

Ini adalah cerita besar yang akan aku torehkan dengan pedang di tanganku. (Sekarang aku ngerti kenapa font itu sedemikian ruwet. Nulisnya pake pedang getoh!) Penuh kemelut dan intrik yang aku sendiri ragu. Karena tanpa sadar aku telah terseret masuk jauh ke dalamnya. Bahkan akhirnya aku takut, bisakah aku kembali ke jalanku.

Para Summoner, pemilik makhluk suci satu persatu tewas mengenaskan. Sumont-Sumont menjadi liar ketika berada di tangan yang salah. Kehancuran alam dan dunia terasa sedekat kerlipan mata. Kitab aneh yang dapat memanggil dan menghidupkan kembali arwah para petarung legendaris muncul. Kekacauan akibat dendam dan ambisi saling tumpang tindih. Belum lagi dendam para ras Black Centaur, urusan para Elf, Dwarf, Mermaid dan Black Magioch. Semua terlihat kisruh.


Bersama keempat sahabatku, kami harus bisa menyelesaikannya dan kembali pulang untuk menjalani kehidupan normal yang sesungguhnya. Walau aku yakin ini akan sulit. Sebab cerita legenda ini, aku yakin akan menjadi kenangan abadi di benak semua orang. Atau paling tidak dapat menjadi dongeng orangtua kepada anaknya sebelum terlelap." (Hmm... orang tua macam apa yang mendongeng soal dendam, memanggil arwah, dan kehancuran dunia pada anaknya yang mau tidur?)


Sinopsis diatas disusul dengan pencantuman endorsement dengan font yang jauh lebih mudah dibaca. Endorsement ini diberikan oleh oleh oknum anonim dengan bunyi sebagai berikut:

Rudiyant benar-benar mampu menerbangkan imajinasi ke Negeri Khayalan di batas tertingginya. Semua terlihat rumit pada awalnya, terlalu banyak urusan dan kepentingan. Belum lagi jumlah karakter yang memiliki karakteristik aneh, unik, konyol dan terhitung hebat-hebat dengan berbagai persoalannya. Rudiyant sosok penulis berkelas!

Lagi-lagi pernyataan yang ngasih beban berat ke si pengarang dan si buku bahkan sebelum cerita dimulai. Aku nggak ngerti kenapa banyak kecenderungan begini dalam buku-buku fiksi fantasi, tapi baiklah...

Penulis berkelas.

Statemen ini kuterima sajalah. Perkara kelas apa--kelas terbang, kelas bantam, kelas bulu, kelas welter, kelas berat, kelas satu es-em-a, kelas kambing--silakan anda putuskan sendiri setelah menelaah buku ini.

Hal berikutnya yang bikin aku ngeremehin buku ini adalah ukurannya. Nyaris seukuran buku saku, dengan tebal 390 halaman. Dikit. Jadi kukira aku pasti bisa menghabiskan buku ini dalam waktu kurang dari 3 hari. The Hunger Games yang jauh lebih tebal saja bisa kuselesaikan kurang lebih 5 jam.

Makanya, ketika seorang teman di FFDN bilang "nggak kuat baca buku ini," aku langsung berkata pada yang bersangkutan, "Kirim sama aku aja, tar aku yang baca dan nulis repiu!"

Dan aku nyeseeel berat nggak mendengarkan nasihat teman dan nyuekin wangsit ghoib berupa tindak pembajakan superpicis di sampul, hanya karena aku ingin menjadi anak baik yang tidak menilai buku dari sampul belaka.

Sungguh, Summonster nggak bisa dibilang "jelek," karena naskah "jelek" sekalipun seharusnya bisa membuatku ketawa nelangsa lewat plothole ngaco atau dialog konyol atau klise menggelikan. Namun, Pakcik dan Makcik, naskah satu ini rupa-rupanya sudah demikian teruk hingga sulit mencari hal yang menarik di dalamnya. Tingkah polah tokohnya bikin kesal, bolong-bolong dalam plotnya alih-alih lucu malah bikin males baca, dialognya so stoopid it will probably scar your brain, seperti berikut ini, ketika dua tokoh cerita ketangkep lagi ngupingin kawanan Black Centaur:

Viron garuk-garuk rambut kepalanya yang tidak gatal, dia berpaling ke Nadiav, "Orang itu ngomong apa Nad...?"

"Katanya kita mengikuti pasukan mereka sejak kemarin...!"

"Ah, mereka bisa saja. Memangnya mereka pikir kita ini kurang kerjaan, apa?" Viron memperlihatkan wajah kurang setuju atas tuduhan pada dirinya. "Memangnya mereka mau kemana sih, kok sampai menyangka kita mau mengikutinya?"


Nadiav menggeleng, "Mana kutahu? Jangan-jangan rombongan mereka ini mau kondangan kali ya...?"


See? Ini sebabnya aku perlu hampir 1 bulan untuk membaca buku ini.

Maka biar kusimpulkan pelajaran yang kudapat dari kebandelanku kali ini: some things can get beyond ugly. Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya kekuatan tak manusiawi macam apa yang dimiliki pengarang hingga bisa menghasilkan sesuatu seluarbiasa ini.

Mari kita mulai dari plot. Bab 1 langsung memasuki inti permasalahan: Bahwa di dunia Summonster dikenal keberadaan sumont, "arwah suci yang mendekam di dalam spirit crystal yang bisa dipanggil oleh seorang Summoner untuk bertempur." Dalam bahasa Final Fantasy, tergantung dari dialek yang digunakan, Sumont ini kiranya bisa diterjemahkan sebagai Esper/ Summon/ Guardian Force/ Eidolon/ Aeon/ Totema.

Dan alkisah, Di sebuah pondok terpencil, Kakek Ibranz menerima berita bahwa salah satu dari Sumont ini dicuri, dan memperkirakan bahwa si pencuri akan memakai sumont tersebut untuk bertempur pada semacam perang akbar yang akan terjadi pada tanggal 10 bulan 10. Bagaimana ia tahu akan ada peristiwa 10/10? Dari ramalan gurunya yang disampaikan 3 bulan sebelum cerita dimulai.

Maka, logis kiranya jika kakek Ibranz langsung mengirimkan dua protagonis kita, Viron dan Nadiav, untuk menemui gurunya demi menanyakan apa kiranya yang akan memicu pertarungan besar itu.

Hmm... kemaren pas dikasih tahu soal ramalan itu kenapa gag sekalian yah nanyain penyebabnya? Oh well. Ini bisa dijelaskan dengan apa yang kusebut sebagai Postulat Plot Klise Fiksi Fantasi #1: Yang namanya ramalan selalu always itsumo benar. Sebab itulah orang-orang di dunia fiksi fantasi nggak pernah merasa perlu bertanya kalau mau memulai perang atau membunuh seseorang. Mereka selalu menempatkan akalbudi dan pikiran sehat di nomor sekian setelah ramalan.

Cerdas sekali.

Dari titik awal ini, plot berkembang. Aneka pihak/ grup/ organisasi rupanya memutuskan untuk berpartisipasi pada perang akbar 10/10: Kerajaan Valion, Kelompok Red Death, Pasukan Ratu Iblis, Bangsa Mermaid, Black Centaur, grup Black Magioch. Kecuali Kerajaan Valion, semua pihak ini ceritanya berperang karena menginginkan Devdilbook, sebuah kitab yang bisa membangkitkan orang mati, entah untuk dihancurkan atau dipakai membangun pasukan demi memenuhi Motif Penjahat Klise Fiksi Fantasi #1: Menguasai Dunia.

Dan turut terjebak di dalam peperangan ini adalah lima pemuda-pemudi yang terbawa dari dunia kita, terpisah, lalu bertemu kembali di dalam peristiwa 10/10 setelah mengalami nasib yang berbeda-beda.

Apa plot ini bisa menjadi kisah yang menarik? Kukira bisa, walaupun ya... ini plot fikfan standar. Mengingat aku juga kurang mengerti kekuatan misterius apa yang membuat plot ini sama sekali tidak menghibur--dalam arti bahkan tidak membuatku ketawa nelangsa karena kekliseannya-- aku menebak bahwa masalah pertama terletak pada pilihan suasana dan cara bercerita.

Curhat sedikit: Saat menulis, aku selalu merasa bahwa salah satu bagian paling sulit adalah menentukan suasana cerita. Apakah cerita ini akan muram dan gelap dan bikin depresi atau kocak cerah ceria? Dan misalnya suasana cerita ini berubah-ubah, bagaimana menampilkannya agar cerita itu tetap punya satu "rasa" tersendiri, alih-alih menjadi tambalsulam dari berbagai cerita/game/komik/film yang sudah ada?

Kukira penulis salah satunya tersandung di sini. Yang bersangkutan membuat cerita tanpa bisa memutuskan apakah cerita ini mau jadi fantasi serius macam Harry Potter, Narnia, His Dark Materials, atau fantasi komedi ala Discworld-nya Terry Pratchett. Oleh karena itu, mari kita lihat naskah ini dari dua sisi.

Pertama, sebagai fantasi komedi, humor dalam cerita ini terlalu sedikit. Dan sekalinya ada, yang paling lucu pun cuma bikin aku ketawa garing 3 detik. Nih kukutip contohnya:

Ibranz tersenyum kepada muridnya yang terhitung masih sangat belia itu, "kamu pikir untuk apa aku memberikan pedang itu padamu? Kalau cuma untuk berdiam diri ditempat ini kurasa kamu tidak membutuhkan pedang. Untuk latihan sehari-hari kurasa pedang kayu saja cukup untukmu...!"

Mendengar kalimat terakhir Ibranz, si gadis langsung tersenyum. "Jadi kamu masih menggunakan pedang kayu dalam latihan...?" ejek Nadiav. "Payah sekali! Asal Kamu tahu ya, sejak setahun yang lalu guruku sudah memperbolehkanku menggunakan senjata betulan dalam latihan...!"


Ibranz Tersenyum, "kamu itu belum tahu siapa Viron, Nadiav...? Dia itu... pegang pisau aja kepotong, apalagi kalau pegang pedang?"

Para pembaca yang terhormat, apakah anda ketawa saat membaca tiga paragraf diatas? Ada orang yang bilang aku kurang memahami fantasi "ancur", demikian istilah rekan-rekan forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri untuk fantasi komedi. Tidak begitu, sebenarnya; untuk menjadi bisa disebut komedi, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi suatu karya, yaitu--seperti penampilan TeamLo di Inbox pagi SCTV--ia mengandung kelucuan yang cukup memuaskan selera umum. Itu aja.

(Walau tentu akan lebih baik lagi kalau mereka mau cerdas dan lucu seperti Project Pop.)

Nah, aku paham bahwa penulis ini punya track-record Juara II cerita konyol Gramedia 2008 dan pernah menerbitkan buku humor, tapi buku ini sendiri buatku sama sekali nggak ada lucu-lucunya. Lucu garing aja nyaris nggak, apalagi lucu beneran.

Namun, tentunya valid kalau kita katakan bahwa lucu itu relatif, jadi jika anda meragukan penilaian ini, fair enough. Silakan beli atau pinjam Summonster dari teman anda dan sampaikan pendapat anda setelah membacanya sendiri. Aku tunggu di reply loh, heh, heh, heh...

Nah, kedua, kalau Summonster ini mau jadi fantasi serius, sebetulnya lebih masuk akal, dan kukira penulis juga niatnya sebetulnya kesini. Terbukti dari sinopsis di sampul bahwa cerita ini banyak menggambarkan perang, kehancuran, darah, pemanggilan arwah. Masalahnya, dengan latar semacam itu, joke-joke garing crispy yang diselipkan si penulis jadi mengurangi keseriusan dan kelarutan pembaca di dalam dunia cerita. Ditambah lagi kesukaan penulis untuk menggambarkan dan menjelaskan dunianya dengan istilah-istilah role-playing game semacam...

"Itu Potion, sangat berguna untuk mengembalikan staminamu!"

atau...

"Mp-ku habis ketua! Aku tidak sanggup lagi!"

atau...

Di api, untuk level awalnya berupa bola api, yaitu Fire. Tapi untuk level keduanya bernama Flame, serangan api sebesar kerbau dewasa yang bisa dibayangkan seperti apa kobaran apinya?

Benar-benar mengerikan...!

Ini tiga element dari beberapa element... Konon, puncak serangan element api adalah Hell Grab, Lautan Api Neraka, yang pastinya membutuhkan banyak Mp untuk melakukannya!


Aduh, banget.

Pembaca yang terhormat, ijinkan aku bertanya, apa alasannya seseorang mau baca novel seharga 30k perak yang dibuat seolah-olah RPG kalau dia punya akses ke console (minimal main PS2 dirumah temen) dan bisa main RPG beneran (kaset bajakan dijual 10-15k rupiah?)

I can think of several reasons, actually:

1. Dia nggak punya jari untuk mencet gamepad, (tapi kalau gini ya dia nggak bisa balik halaman buku juga kan... kecuali ada yang balikin.)

2. Dia buta, jadi dia nggak bisa lihat TV (dan ga bisa baca buku juga, kecuali ada yang bacakan untuk dia, atau buku itu ditulis dengan huruf braille, atau dibuat jadi audiobook; pula, di Indonesia ini ada kok kasus orang tunanetra yang hobi bermain game... uhuk*Ramaditya*uhuk...)

3. Dia mati otak/tidak punya IQ yang cukup untuk bisa main game (dan kalau begini toh kemungkinan besar dia ga bisa baca buku juga.)

Dengan logika sederhana ini kita bisa melihat bahwa novel yang dibuat seperti RPG hanya menarik untuk 1) orang yang nggak punya jari dan punya teman yang mau balikin halaman buku untuk dia, dan 2) orang tunanetra yang namanya bukan *uhuk*Ramaditya*uhuk* dan punya teman yang mau bacakan cerita itu.

Dan... oh ya, tentu saja, pasar bisa diperbesar untuk 3) kaum tunanetra yang penasaran dan rela memboroskan waktu mereka, kalau cerita ini diterbitkan dalam audiobook/edisi braille.

Baiklah, perhitungan diatas barangkali berlebihan, tapi maksudku tentunya tersampaikan: Nggak ada gunanya kita memakai deskripsi ala RPG di dalam sebuah novel fantasi yang serius. Itu nggak membuat novel menjadi lebih menarik atau lebih mudah diterima oleh gamer. Jangankan di dalam novel yang dibuat ala-RPG; di dalam RPG sungguhan aja, pernahkah anda menemukan FMV/cutscene seperti yang terjadi di bawah ini...?

"Cloud! Tolong! MP-ku menipis! Aku tidak bisa lagi memakai Summon Bahamut zero!"

Mendengar namanya dipanggil, si pemuda pirang meluncur turun dari kepala Midgar Zolom sambil menggoreskan Buster Sword di sepanjang punggung ular raksasa itu.

"Hiaat! Terimalah ini! Command Materia 2xCut!"


Gelombang tenaga Materia 2xCut yang menyeruak dari pedang besar si pemuda dengan cepat menyebabkan tubuh lawannya terbelah dua. "Tidaaaak!" si monster berteriak. "Aku punya 15.000 HP! Tidak mungkin... sedemikian mudahnya... kalah! Aaaaargh!"


Tanpa menghiraukan erang kesakitan makhluk buas, si pemuda lalu melompat. Ia mendarat mantap, membelakangi tubuh lawannya yang tumbang menjadi dua potongan yang menghempaskan debu di kiri-kanannya. Lalu ia mengulurkan tangan pada gadis yang memanggil namanya tadi.

"Jangan takut Tifa! Aku masih punya Potion! Ini--ambillah!"

Tifa melotot. Kesal. Tiba-tiba saja limit break gauge-nya terisi penuh. Langsung saja ia melakukan serangkaian tendangan dan pukulan yang diakhiri Limit Break terkuatnya, Final Heaven. "Bodoh!" teriaknya sambil terus menghajar Cloud. "Potion itu untuk memulihkan HP, Bukan MP! Elo kan jagoannya. Kok yang geto aja gag mudeng seeeeh?! MAMPUSSSSS!!!! Hiaaattt!! Tendangan Kincir Berputar!!!"


Mohon maaf untuk seluruh penggemar Final Fantasy VII yang membaca artikel ini. (Siapa bilang aku nggak bisa menikmati fantasi komedi? Heh, heh, heh...)

Baik. Ehem. Setelah melihat plot dan suasana cerita yang kacau, mari kita tinjau karakter dan dunia itu sendiri. Aku nggak akan ngebahas satu persatu karakter maupun tempat-tempat ataupun benda di dalam dunianya, karena kayaknya ga ada yang bisa kita pelajari kalaupun kita bedah semuanya satu-satu. Yang menarik dari karakter-karakter dan benda-benda dan dunia Summonster hanyalah satu: naming konyol yang kayaknya mengatakan "Aduhh, jadiin gue sasaran plesetan/cela dong plissss..."

Baca sendiri deh...

1. King Dradont. Oh no you don't.

2. Jenderal Watduks. "What?" *duks* Kayak sound effect orang yang lagi gubrak ke lantai karena guyonan gag lucu.

3. King Vadeworth. Hmm... Darth Vadeworth.

4. Ratu Dsaustet. Sounds like Ratu Santet.

5. Kitab Devdilbook, yang suka diplesetin sebagai kitab Devilgoblok oleh salah satu tokoh. Not that it is funny, though.

6. Difficult Jungle. Hutan yang sulit dilalui karena dipenuhi monster kuat-kuat. Oh yeah, jenius. Kreatif banget penamaannya.

7. Big Croakodille. Croaking crocodile kali yah? Nggak lucu ah.

8. Sumont Gurithae... yang rupanya berbentuk, surprise, surprise, gurita raksasa.

Nama-nama ini mungkin lucu untuk suasana fiksi fantasi komedi, tapi untuk fikfan serius, kukira terang-terangan salah tempat. Sekali lagi, ngocol hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Selain itu perlu diperhatikan tipe humor yang sesuai dengan cerita. Kalau tone cerita dark, cobalah humor dark/sarkastis/sadis. kalau tone cerita memang komedi, slapstick atau humor-humor sugestif mungkin tepat. Jangan humor slapstick dipakai untuk cerita serius di suasana serius pula. Ya jelas gag kena dunk.

Pembaca yang terhormat, sebetulnya aku ingin lebih dalam menelaah buku ini dalam usaha untuk memulung apa-apa yang masih berguna sebagai pelajaran. Sayangnya, aku cuma manusia yang HP-nya terbatas, sementara buku yang awalnya kuremehkan ini ternyata merupakan lawan yang lebih parah daripada boss-boss rahasia semua RPG. Untuk itu biar kusimpulkan sari dari reviewku kali ini: Jangan membajak gambar game untuk cover atau ilustrasi, jangan menulis fantasi serius dengan deskripsi teknis-RPG, dan kalau mau ngocol pertama-tama pastikan dulu kalau anda itu lucu.

Untuk Bang Rudiyant, kuucapkan selamat: (Sum)monster Anda adalah mahkluk pertama yang sukses ses ses ses menghabiskan HPku! Beruntung aku masih punya persediaan Phoenix Down dan Megalixir untuk memulihkan diri.


Luz Balthasaar

Sabtu, 14 November 2009

AERIAL (Sitta Karina - 2009)

By Luz B


Editor: -
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul: Dianing Ratri
Pengerjaan Sampul: Marcel A.W.
Tebal: 319 halaman


"Kamu familiar. Bau darahmu familiar."
"Aku sama sekali tidak mengenalmu."
"Kau tahu siapa aku, Putri."

Ehem. Putri.

Menjadi makhluk skeptis kadang-kadang ada kekurangannya sendiri. Salah satunya, aku langsung merinding kalau dalam sebuah novel ada tokoh cowok yang digambarkan dingin-dingin-ketus dan terus-terusan manggil ceweknya dengan sebutan "Tuan Putri."

Tapi okelah, aku nggak bisa bilang Aerial jelek hanya itu. Jadi mari kita amati buku ini dengan lebih seksama. Dari sampul depan, sangat menarik. Ilustrator sampul mengerjakannya dengan ilustrasi cat air yang bagus, dan ide yang menarik. Matahari dan bulan di sudut berlawanan, dipasangkan dengan cowok dan cewek yang juga ditaruh berlawanan. Daratan ngambang di tengah, dengan pohon-pohon dan air terjun. Pas buat buku dongeng.



Balik ke cover belakang, bertemulah aku dengan tiga kalimat yang sudah kukutip di atas berikut sinopsis. Lalu tibalah kita di baris terbawah. Rupanya ada komen dari editor sebuah majalah remaja, sebagai berikut:


"Reading this novel, I keep on trying to visualize every detail from Sitta's great imagination..."


Great imagination. Baiklah, itu kata kunci yang kutangkap dari endorsemen pertama. Dan yang kedua,


"Sitta Karina adalah penulis novel remaja berjiwa sastra."


Nyastra. Itu kata kunci yang kedua.

Berani juga para endorserwan/endorserwati tersebut ngasih predikat yang segitu berat ke novel dan pengarang ini, wekekeke...

Setelah selesai membaca, aku bisa mengatakan bahwa plot cerita Aerial secara garis besar setia pada sinopsis sampul belakang, yang berarti, kira-kira begini: Sadira dan Hassya adalah Putri Negeri Cahaya dan Pangeran Negeri Kegelapan. Dan klan mereka bermusuhan ala Romeo dan Julio. Kenapa musuhan? Rupanya karena Negeri Cahaya disinari matahari, sementara Negeri Kegelapan nggak. Jadi, Negeri Kegelapan ingin merebut wilayah cahaya, dan sebagai akibatnya, Negeri Cahaya berniat menyerang duluan Negeri Kegelapan.

Lucunya, untuk apa orang-orang Negeri Kegelapan ini pengen sinar matahari, kalau mereka langsung kebakaran kulit begitu kesengat terik? Okelah, pengarang bilang bahwa bangsa kegelapan juga "butuh," ingin "menikmati" dan "memanfaatkan" matahari. Tapi caranya menikmati matahari gimana? Butuh buat apa, juga gag disinggung. Dan kenapa harus matahari, lha wong selama ini terbukti mereka bisa hidup tanpa sumber daya satu itu?

Jadi tolong jangan salahkan aku kalau ngebayangin bangsa Kegelapan ini ternyata punya hobi rahasia berbaring di bawah matahari, kebakar sambil menggelepar-gelepar tapi teriak-teriak nikmat.

Masochistic sunbathers.

Dan mengenai memanfaatkan, dari ucapan penasihat raja kegelapan di hal. 50, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka juga belum tahu cara memanfaatkan matahari. Meskipun begitu, saudara-saudara, mereka mau menyulut perang demi mendapatkan sesuatu yang alih-alih mereka ketahui cara memanfaatkannya, justru bisa berbahaya bagi mereka.

Bukan hanya masokhis, rupanya; mereka juga korslet otak.

Cerita berlanjut. Hassya dan Sadira, awalnya saling benci, kini jatuh cinta. Bersamaan dengan itu, Isla, sepupu Sadira, juga jatuh cinta sama orang lain dari negeri Kegelapan. Sayangnya ramalan kuno berkata bahwa dunia mereka bakalan kiamat kalau ada orang dari Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan yang bersatu. Namun, dengan gigih mereka berempat bertekad untuk menghentikan perang dan mencegah kehancuran.

Nah, apa yang dilakukan para jatuhcintawan dan jatuhcintawati yang sudah kusebut diatas untuk menghentikan perang dan mencegah kehancuran? Eng-ing-eng! Isla dan pacarnya membuat rencana rahasia demi perdamaian yang garis besarnya adalah meriset krim anti matahari untuk rakyat Kegelapan supaya mereka bisa berbagi matahari tanpa harus berperang.

Bigsweat. Itu reaksi awalku, yang jujur kuakui terlalu ngenye'. Karena itu mari kita berpikir positif. Bukankah ini unik? Berapa banyak novel menawarkan konsep perdamaian lewat sunblock? Lagian ini cocok dengan penempatan tokoh Isla yang katanya cantik dan cerdas, dan doyan bikin penemuan-penemuan aneh seperti "alat pembuat busa sabun" (hlm. 29)

Sedikit catatan iseng, aku juga punya alat pembuat busa sabun. Namanya loofah, a.k.a spons mandi. So, apparently, in that universe, they need a genius to create something that has the exact same function as a simple loofah. Considering this fact, how smart can the rest of them possibly be?

Sedangkan Antya, adik Sadira, punya cara lain untuk menciptakan perdamaian. Bersama seekor kuda terbang ia berusaha memanggil penolong dari dunia lain, yaitu Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu di Jakarta. Untuk apa? Dua hal.

Tujuan 1: cameo/promosi semata dengan membuat kaitan dengan buku karya Sitta Karina yang lain. Kenapa aku bilang semata? Karena di dalam tubuh Sadira dan Hassya, Sashika dan Laskar nggak berbuat apa-apa selain ngucapin beberapa dialog yang rasanya seperti diselipkan ke dalam buku sekedar supaya pembaca ingat kalau ada orang lain di dalam tubuh kedua pangeran dan putri itu. Kalau dialog-dialog selipan itu dihapus, aku rasa nggak akan ada ngaruhnya ke plot utama, dan nggak ngurangin greget cerita juga.

Tujuan 2: Untuk membuat Sadira dan Hassya semakin lengket.

Tunggu dulu. Bukankah katanya, kalau ada orang dari Klan Cahaya dan Klan Kegelapan yang bersatu, dunia kiamat? Ramalan memang belum tentu benar, tapi bagaimana orang-orang ini bisa tahu legenda itu keliru?

Nggak ada penjelasan dari pengarang. Jadi aku tergoda untuk membuat penjelasanku sendiri, yaitu,

a. bahwa para tokoh pasifis ini sebenarnya anggota Sekte Hari Kiamat, dan berniat mencegah perang dengan mengkiamatkan dunia lewat perkawinan mereka, (logis kan, Kalau kiamat, perangnya pasti gag jadi, wekekeke,) atau, yang nggak terlalu fatalistik,

b. mereka menerima wangsit ghoib dari pengarang yang tahu bahwa legenda itu sebetulnya sama sekali nggak penting dan bisa dicuekin!

Para pembaca blog Fikfanindo yang berpikiran kritis,

Kebolongan plot seperti yang kusebut diatas nggak berakhir disini. Demi menghindari spoiler, kukatakan saja kalau ada banyak sekali motif, logika, dan alasan di sepanjang buku yang kacau beliau, atau sedikitnya, kabur. Apakah ini karena diedit sehingga ada bagian-bagian penting yang hilang, atau memang kacau beliau dari sananya, entahlah. We may never know. Or care.

Hal berikutnya yang selalu menarik perhatianku adalah nama-nama tokoh. Kalau dilihat secara sendiri-sendiri, beberapa tokoh namanya bagus sekali. Laskar Adhyaksa, dan Sashika Amunggraha, terutama. Ini nama yang bunyinya Indonesia dan kedengaran enak, dan kupikir nggak pasaran. Thumbs up.

Ada juga nama yang nanggung, setengah Indonesia setengah bule celup, kayak Sirril Syadiran. Ada nama yang kayak nama OS jadoel (Neosys), menganut Jepangisme (Kaien, Ginta), kebarat-baratan (Fletta, Raoul, Franconia) dan berbau Irlandia. (Toireann, Isla, Blath. Yang terakhir ini buatku rasanya aneh karena blath artinya "bunga", klo gag salah, sementara yang punya nama ini cowok.)

Nama-nama ini nggak dengan sendirinya jelek. Yang membuatku protes adalah, nama-nama ini eksis di dalam dunianya secara berantakan. Bayangkan, dua pangeran Kerajaan Kegelapan bisa-bisanya satu dinamai Toireann, dan satunya lagi Hassya. Satu nama Irlandia, satunya Indonesia. Trus ada dua bersaudara Klan Kegelapan satunya bernama Aro, satunya lagi Kanti. Satu bau-bau Romawi, satunya lagi Indonesia.

Ortu mereka pada kenapa tuh pas ngasih nama anak kedua? Dideportasi?

Nama berasa Jepang macam Kaien dan Ginta juga nggak jelas bagaimana bisa eksis dalam dunia dimana hampir sebagian besar bernama Barat. Apalagi Raja Adhyasta, raja Cahaya. Kok dia bernama Indonesia padahal rakyatnya punya nama macam Elena, Micchal, Finn, Jedidah, Nenna, Falkor, dst?

Keporak-porandaan juga terjadi di setting dunia cerita Aerial. Katanya dunia ini terjadi di dimensi yang berbeda, lah, kok ada perang antara orang Viking dan Atlantis di mitologi dunia yang bersangkutan? Dan kenapa juga mereka menyebut Aphrodite dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang di dunia nyata?

Bener, di dunia lain bisa saja ada orang Viking dan Orang Atlantis. Philip Pullman di His Dark Materials juga menaruh setting Oxford yang bernama sama dengan suatu lokasi di Inggris. Namun, nama ini ga berasa asal comot. Phillip Pullman memakai nama itu dengan memasukkan deskripsi dan properti dunia yang pas, misalnya dengan menunjukkan kehadiran daemon, atau menyebut arus listrik bukan sebagai "electric current" tapi "anbaric current," yang membuat aku menerima kalau ini Oxford yang berbeda.

Nah, kalau di Aerial? Bisa memang kita mengasumsi kalau itu orang Viking dan Atlantis dan Aphrodite lain. Namun, tanpa penjelasan, deskripsi, maupun properti dunia yang gamblang mendukung bahwa itu adalah Atlantis lain, Viking lain, maupun Aphrodite lain, rasa bahwa itu cuma nama comot-tempel akan tetap menghantui aku.

Bicara soal deskripsi serta properti dunia, bukannya pengarang sama sekali nggak ngasih gambaran akan dunia maupun benda-benda apa aja yang ada di negeri ini. Masalahku adalah, benda-benda itu ditempatkan sebagai anakronisme yang lagi-lagi nggak ada penjelasannya.

*Pembaca blog serempak melempar tomat* "Boooh! Sok Pintar loe, pake istilah anakronisme segala! Sok Canggehhh!!! Sotoyyyy!!!"

*ngelap jus tomat dari muka pake sapu tangan Pierre Cardin*

Oke. Maafkan aku karena demen banget make kata-kata canggih. Maksudnya biar aku terlihat so(k)phisticated gitu lowh, wekekeke...

Buat yang kurang familiar dengan anakronisme, hewan satu ini adalah, sederhananya, istilah untuk menggambarkan penempatan suatu properti di dunia yang mustahil secara alur waktu. Contohnya, mari kita ambil dari satu novel yang pernah dibahas oleh Om Pur: Kamera digital dan senter yang dinamai Ki Cahya Sumilak di The Prince Must Die (Langit Kresna Hariadi).

Anakronisme biasanya dikasih alasan atau latar yang membuatnya bisa diterima di dalam dunia cerita itu, seperti yang terjadi di The Prince Must Die: kamera dan senter itu dibawa ke jaman Singosari oleh seseorang yang melakukan time-travel. Kalau tidak ada penjelasan, barangkali anakronisme itu dimaksudkan untuk humor. Komik-komik Asterix karya R. Goscinny dan A. Uderzo banyak menampilkan yang semacam ini, misalnya cameo The Beatles yang jelas nggak mungkin ada di jaman Inggris jajahan Romawi (Asterix di Inggris), atau fashion show ala Galia (Asterix: Mawar dan Pedang Bermata Dua).

Kalau suatu anakronisme nggak ada penjelasannya dan tujuannya bukan untuk humor, barangkali itu kesalahan yang nggak disengaja. Atau boleh nyomot seenak jidat.

Nah, di Aerial, cerita kayaknya diset di negeri dongeng-fantasi-medieval, terbukti dari adanya gaun putri-putrian dan kuda-kudaan dan pertarungan dengan pedang dan panah. Tapi kok di hal. 26 disebut kalau Negeri Cahaya sudah "mengembangkan teknologi yang dapat menekan kadar karbohidrat di dalam makanan utama mereka, sehingga tidak menyebabkan kegemukan." Hah? Kapan para pangeran-dan-putri-dongeng-medieval ini belajar soal karbohidrat dan obesitas? Dan ide "kurus adalah indah" itu adalah cara pandang yang relatif modern, nggak ada di abad pertengahan.

Apa pengarang ngasih penjelasan soal kenapa ini terjadi? Nggak tuh.

Untungnya, kekacauan macam ini jauh berkurang di bagian belakang-belakang, terutama karena Isla dan penemuan-penemuan anehnya nggak lagi banyak dibahas. Namun, lepas dari kekacauan setting, muncul hal lain yang membuatku ngenye' lagi--karakter!

Aku menolak kalau teenlit/chicklit identik dengan karakter dangkal. Ada banyak teenlit yang karakternya cukup dalam. Sayangnya kebanyakan karakter di Aerial nggak memberi kesan yang kuat ke aku, karena peran, latar, atau motivasi mereka... yeah, well, *sob* dangkal.

Isla misalnya, disebut-sebut secara eksplisit sebagai cewek cantik yang berotak, lengkap dengan atribut buku dan alat-alat aneh. Tapi, ciri yang digembar-gemborkan penulis beda jauh dengan tindak-tanduk si karakter. Silakan kembali ke kasus loofah dan busa sabun yang sudah kusebut diatas.

Lalu Hassya, si pangeran kegelapan yang kata penulis dingin, tapi sifatnya panasan. Apa-apa harus diselesaikan dengan adu pedang, berkelahi, dan berantem. Kalau nggak pake tabok-tabokan, namanya banci. Dan saking ngerasa jantannya, dia menganggap ngasih makan burung sebagai tindakan yang "tidak laki-laki." Hmm... tunggu ntar deh kalau dia udah tua dan miara perkutut kayak Pak Haji depen rumahku!

Berikut, Toireann. Ini contoh karakter yang lumayan, walau jadi kurang berkembang karena porsinya sedikit. Kakak Hassya yang berusaha menciptakan perdamaian tapi sakit kepala karena saran-sarannya dicuekin. Pasalnya? Bapaknya, sang Raja Kegelapan, lebih milih ngedengerin pendapat gak logis dari penasihat bego seperti yang sudah kubahas di atas. (kembali, lihat hal. 50.) Poor guy. Nggak heran dia frustrasi.

Laskar dan Sashika: sebenernya latarbelakang mereka bagus. Laskar yang berangasan, dan Sashika yang pecinta alam. Sayangnya peran mereka cuma sebagai cameo.

Antya: adik tokoh utama yang perannya cuma memanggil Laskar dan Sashika. Sigh...

Dan yang terakhir, si tokoh utama, Sadira. Dia ini juga korban ketidaksinkronan antara gambaran pengarang tentang dirinya dan tingkah lakunya. Pengarang kayaknya setengah mati banget ngegambarin dan mencitrakan Sadira sebagai perempuan mandiri yang kuat dan--pake istilah sok kosmopolitan ah--smart, terlihat dari begitu banyak bagian narasi yang menceritakan bahwa Sadira tidak menyukai duduk tenang dan kegiatan-kegiatan serta tingkah polah kecewek-cewekan.

Lebih parah lagi, cara si penulis bercerita seakan-akan mencitrakan bahwa segala hal yang kecewek-cewekan itu sesuatu yang buruk. Alih-alih menunjukkan emansipasi perempuan seperti yang diniatkan pengarang, bukankah ini justru semakin menginferiorkan kegiatan-kegiatan perempuan sebagai sesuatu yang second-class, berada di bawah kegiatan-kegiatan macho macam berlatih tarung yang disukai Sadira the Warrior Princess?

My point is, karakter cewek yang kuat dan smart itu bukan berarti dia harus macho, bisa mengerjakan pekerjaan cowok, dan membenci hal-hal berbau cewek! Bandingkan ini dengan karakter Adel di Nocturnal (Poppy D. Chusfani), yang digambarkan lincah, berkekuatan super, bisa berpedang, dan justru semakin kuat sebagai seorang karakter karena ada bagian dirinya yang menyukai hal-hal girly, seperti tari balet.

Apalagi, 'kemandirian' Sadira itu digambarkan dengan kalimat-kalimat macam ini:


Sadira diperbolehkan berlatih fisik bersama Jenderal Arth asalkan setelah menikah nanti ia berhenti mengangkat senjata dan menjadi ratu sesungguhnya.

Bukan Sadira kalau otaknya nggak jalan. Tentu saja ia tinggal memanfaatkan perjanjian ini dengan tidak usah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.


Dan setelah pengarang gembar-gembor kalimat ini, tebak apa yang terjadi? Sadira bertemu Hassya, dan langsung deh segala atribut putri macho itu ilang, berganti dengan tingkah kecewek-cewekan yang (katanya) jelek. Si putri akhirnya nggak dapat kesempatan untuk memamerkan keahlian berantemnya, malah disandera, dan, mengikuti pakem nasib putri-putri nan basi, harus diselamatkan.

Benar-benar kuat. Dan smart.

Sedih.

Baiklah para pembaca yang terhormat, mari kita tutup sesi ngenye' kali ini dengan kembali pada kesimpulan endorsemen yang kutarik dari kata-kata bijak para endorserwan/endorserwati di cover belakang buku:


Aerial adalah suatu novel nyastra yang lahir dari great imagination.


*nangis terharu*

Mereka berdua memang sangat baik hati.




Luz Balthasaar

Minggu, 19 Oktober 2008

FIREHEART-Legenda Paladin: Sang Pemburu (Andry Chang - 2008)


Data Buku:

Penerbit: Sheila
Editor: Oktaviani HS
Setting: Sri Sulitiyani
Desain Cover: Weny
Korektor: Artika Maya/ Aktor


Kalau teman-teman perhatikan, dalam beberapa review ke belakang, anda tidak menemukan suatu judul baru karya fantasi. Itu sedikit banyak mencerminkan bahwa selama bulan Agustus-September 2008 ternyata tidak satupun buku Fiksi Fantasi karya anak negeri yang meluncur ke pasaran (pasaran yg biasa saya kunjungi, BTW. ga tau deh kalau ada pasaran di luar itu, hehehe).

Alhamdulillah, situasi tersebut berubah berkat terbitnya satu lagi karya Fiksi Fantasi lokal, pecah telor istilahnya, yaitu FIREHEART-Legenda Paladin: Sang Pemburu, karya pengarang Andry Chang yang diterbitkan oleh penerbit Sheila.

FIREHEART adalah sebuah karya Fantasy epik yang memposisikan diri sebagai bagian pertama dari sebuah trilogi, dimana hal tersebut disebutkan jelas pada pengantar dari Pengarang, sekalipun tidak ada penomoran dicantumkan pada cover (why not, sih?). Sebagai catatan tambahan, sejak lama sebelum buku ini terbit, pengarang sudah membuat sebuah blog di http://fireheart.tk sebagai saluran komunikasi mengenai buku bersangkutan serta pajangan sedikit cuplikan dari buku ini maupun karya sekuelnya. Dan tambahan menarik lainnya, bahwa buku kedua (dan ketiga?) sebetulnya sudah finish dalam bahasa Inggris (!) dan saat ini sedang dalam proses penerjemahan untuk diterbitkan sebagai sekuel.

Jadi, Andry Chang menuliskan novelnya langsung dalam bahasa Inggris dulu? Well, bukan cara yang lazim dalam mengarang, hehehe. Tapi tak apa, yang penting khan bagaimana hasilnya dalam bahasa Indonesia, ya gak?

Hal pertama yang menarik dari novel ini adalah desain sampulnya yang cukup rame yang menyedot perhatian. Bergambar seorang pendekar/ satria ala Manga dengan paduan warna merah/ jingga, ada tipografi FIREHEART yang bagus di bagian dahi sampul. Keren juga, hanya saja eksekusi wajah sang satria (hanya wajahnya aja!) yang menurut saya kurang rapih digarap, masih seperti gambar-gambar fans-fictions.

Dengan keseluruhan desain seperti itu, terkesan buku ini ditujukan buat pembaca selevel SMP atau SMA/ Kuliahan. Walau ternyata di dalam ceritanya sendiri memiliki target pembaca dewasa umum, dan memiliki elemen entertainment yang memang lebih mengarah pada pembaca dewasa umum.

Kisah FIREHEART sudah cukup biasa dijumpai dalam genre Fantasy, yaitu perjuangan kebaikan melawan kejahatan, namun memiliki suatu 'twist' yang cukup menarik juga. Demikian juga moral development yang dikandungnya, juga tidak biasa dan cukup bergizi. Sepanjang membaca buku ini, rasanya saya dapat menikmati gaya tulisan Andry tanpa kesulitan atau kening berkerut, berkat penerapan bahasa tulisan yang tidak neko-neko (tapi ada catatan mengenai ejaan). Dan memang, ada beberapa aspek yang menarik perhatian dari karya pengarang ini.

Perhatian pertama, pada adegan pembuka (yg sejak tulisan ini dibuat, ada forum yang ngebahas hal yang sama juga), yang secara setting mirip sekali dengan Novel Misteri Pedang Skinheald-nya Ataka buku pertama, Suatu kemiripan yang tidak mungkin tak saya singgung dalam review ini.

Adegan pembuka FIREHEART adalah adegan "penyegelan pedang" Kraal'shazar alias Pedang Iblis Pembantai oleh tiga orang penyihir: satu penyihir senior Azrael, satu penyihir elf perempuan bernama Carolyn, serta satu ilmuwan Theripedes. Di buku Ataka, ada adegan penyegelan pedang Skinheald oleh penyihir pria Greylay, seorang penyihir wanita, Mildebest dan seorang pria jenius, Pryraf.

Tentu saja, kemiripan ini terbuka untuk diinterpretasikan macam-macam oleh publik, sekalipun demikian publik pun harus mengakui bahwa hanya sebatas itulah kemiripan yang ada, selebihnya masing-masing novel memiliki orisinalitasnya sendiri-sendiri. Dan lagi, jalan cerita selanjutnya juga jauh berbeda.

Tapi bicara orisinalitas, saya justru punya perhatian kedua. Mengenai Setting (Apa barunya seorang FA Purawan ngomongin setting? Hehehe). FIREHEART menggunakan setting medieval barat secara utuh dipakai tanpa merasa perlu susah-susah menciptakan setting sendiri. Maka di dalamnya terdapat ras-ras manusia, elf, orc, hobgoblin dan sebagainya, dengan dunia Eternia yang berasa mirip dengan dunia apapun yang mengambil setting medieval. Kurasakan banget bahwa pengarang mengambil setting yang ada dalam game RPG semacam WarCraft series atau Dungeon & Dragon series. Salah satu indikasinya aku lihat di penggambaran kaum Orc yang lengkap dengan ciri-ciri fisik dan ciri budayanya, yang rasanya mirip dengan game WarCraft, termasuk juga konvensi penulisan namanya.

Nah, sedikit bertentangan dengan ajaran "Hayo seriuslah dalam menciptakan universe mu" dalam penulisan novel Fantasy (yg sering mengandung pengertian intrinsink: ciptakan duniamu sendiri), saya melihat bahwa kiat pengarang dalam memakai dunia yang "udah jadi," merupakan salah satu kiat aman, terutama bagi pengarang fantasy pemula. Yeah, kalo bikin sendiri susah, kenapa gak pakai yang sudah ada saja? Yang penting be serious with it, patuhi juga hukum-hukum yang sudah ada di dalam dunia tersebut sehingga engkau akan tetap konsisten. Nah, dalam hal ini saya amati bahwa pengarang juga tidak asal ceplokin dunia orang; pakai dipelajari dulu, diriset dulu secara memadai. Hal itu membuat pengarang jadi punya kepastian sikap dalam mengendalikan karakter-karakternya di dunia Eternia, karena udah paham apa batasan dan apa ruang-ruang yang bisa dipakai untuk manuver.

So, bukan termasuk kreatif dalam penilaian gue, tapi memang aman dan workable, nevertheless. Dan saya tidak serta-merta menilainya sebagai negatif.

Dan penerapan dunia ready made itu juga nggak tanggung-tanggung, kupikir, sebab dunia Eternia ciptaan (baca: terapan) pengarang kurasa cukup lengkap. Dia punya sistem keagamaan (sangat jarang disentuh di novel Fantasy) dengan Vadis sebagai tuhannya, sampai ke sistem ekonomi. dan perbankan. Sistem ekonominya sendiri menarik, sebab di dalam novel ini cukup clear, jelas, dan cukup 'masuk akal' bagaimana seseorang mencari uang di Eternia (walau cara pengiriman uang di bidang perbankan Eternia menurut gue udah di luar keterbatasan logika universe).

Antara lain, sebagai pemburu. Kalau kau menjadi pemburu Orc, maka kau bisa mengoleksi items yang bisa ditebus dengan sejumlah uang oleh pejabat pemerintah. Ini bisnis yang cukup lukratif, sehingga bahkan para pemburu sampai dapat mendirikan 'guild' segala. (Kurasa, dari sini juga sub judul: Sang Pemburu, berasal, yaitu menjelaskan status tokoh utama Robert Chandler sebagai si Orcbane alias pemburu Orc). Dan di guild ini kau bisa browsing proyek-proyek penangkapan Orc, Troll, bandit etc laksana pengumuman tender di instansi pemerintah. Lucu, tapi toh terasa cukup masuk akal untuk dunia Eternia.

Nah, keseluruhan setting yang memiliki dunia lengkap, ras penghuni yang beragam, serta sistem ekonomi. Di kepalaku langsung bersinar bola lampu: Franchise! Ya. Dunia Eternia memang sudah tergelar cukup lengkap bahkan bila akan 'dijual' sebagai setting game on-line, setting novel lainnya, atau apapun. Good idea.

Akan sangat gampang ngembangin sebuah game RPG yang dimulai dari, let's say, a Guild, kamu jadi pemburu kelas rendah memburu Orc, dapat uang, upgrade perlengkapan, sambil mengikuti kisah Robert Chandler di latar belakang, bahkan kalau kau beruntung, kau bisa ikut bergabung dengan pasukan pemburu yang masuk ke gua Kuil Enia bersama Robert Chandler! Saya pikir, boleh jadi pengarang memang sudah mempersiapkan Fireheart ini dengan commercial aspect in mind, dan saya menganggapnya sebagai suatu strategi bagus untuk napas yang lebih panjang.

Bicara alur ceritanya sendiri, buat saya cukup memikat walau tak membuat saya terkagum-kagum. Standar lah. Bahkan, karena terkait temponya sebagai sebuah kisah trilogi, bagian depan novel terasa agak melantur, saat pembaca harus mengikuti flash back riwayat Robert yang agak jauh ke belakang (satu sub-plot yang mendingan juga dibikin sebagai prekuel aja). Sampai lebih kurang setengah tebal buku, pembaca belum masuk ke konflik utama mengenai pedang tersegel.

Yap, persis game RPG di mana si pemain harus menjalani side-quest segala. Contohnya kunjungan ke negeri Kurcaci Grad, yang sesungguh tak terlalu penting dalam bangunan plot, sebab konflik-nya ternyata cuma konflik semu.

Untuk karakterisasi, well, tokoh-tokoh utama kupikir udah cukup klise ala Fantasy RPG Jepang, lah. Robert yang berwajah tampan tapi dingin, atau Carolyn yang berambut pink, serta Chris yang tolol dan naif, sangat mudah membayangkan tokoh-tokoh semacam itu berada dalam setting game. Setiap tokoh sudah tampak memiliki peran yang jelas, baik sebagai tokoh protagonis maupun antagonis. Ada beberapa tokoh yang kelihatannya sengaja diberi muatan misteri untuk membuat pembaca penasaran terhadap perannya selama di trilogi (which is akan banyak potensial di situ). Tapi sejauh yang saya baca, menurut saya karakter-karakter tersebut masih condong ke hitam-putih, masih kurang dalem. Untuk karakter Chris, apapun peran tersembunyi yang disematkan oleh pengarang terhadap karakter itu di kemudian hari, kurasa dalam buku satu ini tergolong sebagai suatu kesia-siaan yang menjengkelkan. Tapi oke lah, memang cukup potensial sebagai faktor kejutan kelak :)

Sekarang mari bicara hal-hal yang membuat saya kurang 'sreg' (jadi yang tadi itu masih termasuk 'sreg', toh??)

Pertama, masalah penamaan. Nama tokoh utama Robert Chandler, Carolyn, dan Christoper, nginggris banget. Memang masih sesuai sih dengan setting yang dipilih. Tapi saya masih kurang sreg, aja. Buat saya, mendingan pengarang bikin aja konvensi nama+julukan yang rasanya lebih fit dalam setting Eternia sekaligus memberi bobot karakterisasi tambahan pada para tokoh, misalnya nama seperti "Sage Hati Api" (Sage The Fireheart), sekalian aja Robert The Orcbane, atau Carolyn Tongkat Api atau apalah. Nama kayak gitu masih lebih 'bunyi' dibanding sekedar Robert Chandler.

Kemudian masalah jurus-jurus. Ada banyak banget jurus, euy! Termasuk summoning ala Final Fantasy juga. Semua jurusnya punya nama yang cantik-cantik. Persoalannya, kupikir pembaca hanya bisa mengingat sebagian kecil dari nama jurus-jurus yang mirip-mirip itu, alih-alih untuk mengingat bagaimana bentuk jurusnya. Gue sendiri hanya bisa mengingat dua jurus milik si Don Hernan, berkat penggambaran yang cukup deskriptif di saat pengarang menjelaskan jurus tersebut. Idealnya, harus ada waktu bagi pembaca untuk bener-bener meresapi jurusnya dan membayangkannya melalui beberapa sesi pertempuran, sebelum jurus tersebut dapat digunakan sebagai pengganti deskripsi aksi sang tokoh.

(Tapi di sisi lain, banyaknya jurus ini juga akan menjadi gimmick yang menjual bila cerita ini akan dibikin sebagai basis game RPG, secara bumbunya game RPG adalah adegan-adegan berantem menggunakan jurus-jurus, hehehe,...)

Kemudian, starting adegan Gua Enia, mulai banyak terdapat tokoh-tokoh sampingan, yang membuat petualangan memasuki gua itu terasa begitu massal dan mengalihkan perhatian pembaca dari POV tokoh utama si Robert Chandler. Begitu banyaknya yang masuk gua, dan yang jadi korban di dalam gua, sampai saya sendiri lost count. Lho kupikir tinggal dikit setelah masuk ke halangan anu banyak yang tewas, ga taunya koq masih banyak juga sisanya. Jadi dimensi volume dan jumlah menjadi agak kacau pada adegan masuk gua ini. Dan memang dalam pikiran saya, quest masuk ke gua adalah quest yang praktisnya dilakukan sekelompok kecil, bukan rombongan besar. Kalau mau besar lebih mendingan bikin quest masuk istana kuno aja,... hehehe.

Selain itu buat gue missi masuk Gua Enia ini kurang punya dasar plot yang jelas dan kokoh. Rasanya seperti sedikit dipaksakan, adanya suatu situasi dimana dua kelompok pendekar (terang vs gelap) harus masuk ke sebuah kuil (baca: Benteng) yang suppose to be dibuat dalam rangka mencegah pedang iblis diambil orang, tapi kemudian mengundang orang-orang agar menjebol sistem keamanannya secara bersama-sama! Buat gue sih gak masuk logika. Artinya, plotting pengarang kurang kuat di aspek ini.

Kemudian, tidak ada peta! Halah, di saat novel terbitan lain memiliki peta yang kukritik tidak sinkron dengan cerita, novel ini malah memiliki cerita yang badly (and rightfully!) needs a worldmap, tapi justru kagak ada! Dunia Eternia cukup kompleks dan dalam penceritaan kurasakan bener betapa butuhnya pembaca akan sebuah peta yang bisa menjelaskan posisi dan situasi alam Eternia. Moga-moga dalam terbitan seri 2 peta tersebut bisa dihadirkan oleh penerbit (karena setahu saya, pengarang pernah menyatakan bahwa beliau sudah membuat konsep peta untuk Eternia).

Kemudian, mengenai "Legenda Paladin", well,... boss, mana legendanya? Kasus sama dengan "Legenda Amigdalus"-nya Zauri nih, satu buku dibaca abiss kagak ketemu tuh legenda, at least something as important to be considered as legend dalam cerita ini, hehehe. Entahlah, kalo menurut gue sih mustinya sejak buku pertama pembaca sudah harus punya pemahaman mengenai legenda tersebut, apa relevansinya dan kepentingannya, sehingga pengarang akan mudah menjalinkannya dalam plot dan kisah. Dan bayangan gue sih, kalo ada yang namanya legenda PALADIN, mustinya kultur mengenai Paladin itu sendiri akan berbekas kuat dalam universe Eternia, dan akan sangat jelas terlihat di mata pembaca. Yang sekarang, gue rasa belum banget, tuh.

Yang terakhir adalah mengenai typesetting atau ejaan. Apakah memang tidak ada konvensi ejaan dalam tata-cara penulisan dialog dalam novel? Flow baca saya sangat terganggu dengan moda penulisan new paragraf setiap kali ada tanda petik dialog. Jadi setiap kali seorang karakter berbicara, maka lay-outer selalu menempatkan line dialognya sebagai paragraf baru, regardless konteks bicaranya bagaimana.

Sehingga sering suatu dialog yang sebetulnya merupakan kelanjutan dari aksi sebelumnya, menjadi putus-flow. Contohnya seperti ini:

Amir menjawab,

"Selamat Pagi, bu guru"

-----------------------

Padahal seharusnya lebih pas (sesuai konvensi?) bila dituliskan seperti ini:

Amir menjawab, "selamat pagi, bu guru".

----------------------

Akibat dari moda penulisan seperti di atas, terus terang saya membacanya jadi seperti terlompat-lompat (secara mental), dan ini sangat mengurangi kenikmatan membaca.

Padahal, buku ini menggunakan ukuran, jenis font serta pengelompokan spacing intra paragraf yang paling enak di mata. I wish buku lain seperti ini, alih-alih menggunakan font sans sheriff untuk body text dengan ukuran gede dan penulisan rapat-rapat yang membuat white areanya jadi malah lebih dominan dibanding huruf! Nah, untuk Fireheart, tulisannya enak di mata dan mudah dibaca.

Di luar semua kekurangan, saya menganggap serial Fireheart ini, walaupun belum menjadi sebuah epik atau saga yang memukau, tetap memiliki kelebihan berupa paket universenya yang lengkap dan well thought, sekalipun itu pinjaman dari universe eksisting lain. Demikian lengkapnya sehingga akan mudah bagi siapapun (tidak hanya pengarang) untuk membuat produk spin-off yang berlandaskan universe Eternia. Dan kurasa, hal itu merupakan suatu hal yang baru dan prestasi tersendiri dalam konteks industri penulisan Fantasy di tanah air.

Buat Andry Chang, selamat, dan cepetan dikebut aja tuh sekuelnya,... hehehe,...

Salam,


FA Purawan

Rabu, 10 September 2008

TRANSPONDEX: Mesin Cinta Lintas Waktu (Ronny Fredila - 2006)



Data Buku:
Penerbit: GagasMedia (Seri FantasyLit)
Editor: Denny Indra
Desain Cover: Hendrayanto
Tata Letak: Wahyu Suwarni
Tebal: 282 Hal


Kalau lihat sub-judulnya saja, niscaya saya juga tidak akan percaya kalau Novel karya Ronny Fredila, Staff Swalayan Hypermart ini, merupakan sebuah novel fantasy. Bayangan apa yang melintas saat membaca kalimat, "Mesin Cinta Lintas Waktu"? Uaah, mesin cinta, Jek.

Apalagi dipadu dengan desain cover warna merah, dengan siluet tubuh seorang wanita yang mengesankan bayang-bayang tanpa busana, O.M.G., rasanya frasa "Mesin Cinta" jadi memiliki arti tersendiri (wink-wink).

Tak heran bila judul Transpondex bagiku langsung menimbulkan asosiasi judul obat kuat semacam Viagra, Cialis, seperti yang sering terlihat di plank toko A Ceng atau A Kiaw (Ho'oh, gue cuma lewat, koq,...)

Padahal, Transpondex adalah singkatan dari suatu istilah yang cukup Tekno: Transportation Machine for Dimensions and Time Exchange, mesin transportasi untuk keperluan pertukaran Dimensi dan Waktu. Gimana, keren, kan? Dan alat "Time-Machine" inilah yang kemudian dilabeli sebagai 'mesin-cinta'. Jadi kawan-kawan, tolong hapuskan saja bayangan anda mengenai mesin cinta yang lain yang berada di luar lingkup novel ini,... hehehe.

Setelah sekian kali saya terpapar oleh genre Fantasy Kerajaan, Ksatria, Peri dan Penyihir, akhirnya mampir lagi sebuah genre Fantasi Fiksi Ilmiah terbitan tahun 2006, lagi-lagi tak saya temukan di toko buku melainkan di Pameran Buku IKAPI, yang menandakan bahwa novel ini tinggal memasuki fase bersih-bersih gudang. Oh, begitu kejamnya kah para penerbit terhadap kehidupan genre Fantasy,... hehehe,... apa boleh buat, hukum pasar memang berlaku di sini. Kalo bukan buku laris, jangan harap dapat kesempatan napas panjang. Sedih, tapi memang demikian alam sudah menggariskan.

So, kembali ke novel. Transpondex adalah sebuah karya yang diposisikan sebagai "Science Fiction" oleh GagasMedia melalui seri FantasyLit (baca secara Inggris, ya. Jangan baca secara Indonesia, agak-agak saru). Setelah saya baca, well ada sebagian kecil plot driver yang memang berbau ilmiah, terutama mengenai konsep dimensi waktu dan time-space continuum. Tapi kalau saya boleh berkomentar, sesungguhnya novel ini lebih dominan sebagai sebuah roman aksi berbau tekno, aja. Soalnya aspek time-travel agak kurang begitu didekati secara ilmiah di sini, melainkan secara populer aja, mirip dengan angle film Back to The Future I, II, & III yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi oleh Michael J. Fox itu.

Tapi jujur aja sih, biarpun ngga ilmiah, spekulasi time-travel di novel ini diramu secara meyakinkan dengan logika cukup terjaga, dan mampu mendrive sebuah cerita roman aksi yang lumayan menghibur. Masuk juga konsep-konsep paralel universe dll sebagai bumbu. Tidak terlalu baru, sih. Tapi setidaknya cukup fresh untuk khasanah novel lokal.

Selain aspek 'fiksi ilmiah' berupa time travel, karya ini juga memiliki aspek lain yang cukup kuat, yaitu sebagai sebuah novel silat. Jadi tepatnya adalah sebuah novel silat dalam setting futuristik. Nah, aspek ini malah aku pikir lebih dominan sebagai penggerak dan pewarna cerita, di mana hampir adegan penting novel ini di dominasi oleh pertarungan silat antara tokoh-tokoh protagonis dengan antagonis.

Jadi singkatnya cerita novel ini adalah sebagai berikut: Tokoh utama si Rima anak SMA, memiliki Ayah bernama Prof. Suhendra yang punya obsesi untuk menciptakan mesin waktu guna kembali ke masa lalu dimana Maminya Rima dinyatakan hilang dalam sebuah penerbangan komersial. Prof. Suhendra bekerja sama dengan Prof. Mohindra dan seorang Prof lagi yang misterius, berhasil memecahkan sandi sebuah manuskrip dari jaman Majapahit yang mengindikasikan cara membuat sebuah mesin waktu, dan ceritanya si prof berhasil membuat mesin waktu yang dinamakan Transpondex. Namun tepat pada saat si Prof melakukan test perdana alat itu, tiba-tiba masuk lah sekelompok prajurit futuristik dari the other side, yang langsung menculik si Prof, dengan pesan bahwa alat si Prof sudah membuat anomali dalam ruang-waktu, sehingga masa depan menjadi kacau dan ada tokoh-tokoh dari jaman yang berbeda menjadi campur aduk di masa depan. Si prof diculik untuk memperbaiki semuanya, albeit di bawah ancaman bedil.

Tentu saja, si tokoh kita yang ternyata cukup jago silat, harus ikut menyusul ke masa depan untuk menyelamatkan sang ayah.

And listen to this: di masa depan sang tokoh bertemu dengan Kerajaan Majapahit in the Future, menjadi murid Nenek Srikandi, bergabung dengan Pandawa Empat: Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa, untuk melawan raja Tapak Lodaya (yg menggulingkan Hayam Wuruk), yang disupport oleh Pasukan Kurawa dibawah pimpinan Dursasana, Duryudana dan lain-lainnya.

So you see, it's yet another cerita wayang dalam setting non-wayang. Sejenis dengan Arjuna mencari Cinta, tapi dalam tempo beberapa abad lebih Futuristik, hehehe. Dan silat menjadi menu utama.

Dengan ramuan seperti ini, saya menganggap pada akhirnya Novel ini berusaha merevitalisasi karakter-karakter pewayangan dalam setting yang berbeda dari pakem. Istilahnya, pengarang ingin menggunakan Arjuna dkk dalam setting futuristik, ya kemudian dibuatlah plot time-travel dan kekacauan time-space continuum yang memberi pengarang alasan yang 'valid' untuk mempertemukan tokoh-tokoh sejarah yang berasal dari jaman yang berbeda dalam satu belanga. Akhirnya yang kejadian adalah Rima bertemu Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa, Srikandi, Prof Drona, Dursasana, Duryudana, Bill Gates, sampai Hitler segala, dalam ramuan campur aduk yang, well,.... sensasional, tapi nggak 'dalem'.

Maksudnya, karakter-karakter sejarah ini gak punya kepribadian yang utuh, sekedar sensasi yang dipinjam untuk melancarkan cerita aja. Persis karakter game fighting semacam Street Fighters ataupun Tekken.

Selain dari suasana persilatan futuristik, novel ini juga menghadirkan aroma teenlit dalam setting Rima di jaman kini, ada sekolah, ada tawuran, ada cowok pedekate, ada dream guy, well, the usual stuff. Cuma di akhir aja pengarang memberi twist yang menggabungkan dua setting berbeda itu dalam konklusi yang mendekati napas teenlit juga.

Jadi alurnya kira-kira: 1> Setting Kini, 2> Setting Futuristik menyita mayoritas halaman, 3> kembali ke setting kini sebagai konlusi.

Terus apa yang bisa diambil dari novel ini? Well, kalo temen-temen baca ramuan setting di atas, tentu temen-temen akan berasumsi bahwa novel ini memiliki setting amburadul hasil dari ramuan karakter asal tempel. Nyaris bener. Tapi di sisi lain pengarang punya suatu kelebihan yang mengakibatkan setting amburadul ini masih bisa 'jalan' sebagai sebuah novel hiburan.

Yaitu, kelebihan pengarang, adalah cara bercerita yang cukup mengasyikkan ditunjang oleh logika yang kuat 'ngejagain' plot dan setting. Dengan gaya penulisan yang rileks, jujur apa adanya namun tetap terangkai secara baik dan benar, pengarang memberi saya stamina untuk bisa menyelesaikan buku ini cukup dalam tiga hari. Kemampuan menjaga logika cerita membuat saya tidak terlalu banyak nanya atau banyak berhenti (misalnya ngebolak-balik ke halaman depan lagi karena ada yg rasanya aneh), sebab pengarang senantiasa menjaga agar informasi logis dalam plotnya tetap tersedia pada point dimana diperlukan.

Dan ini berarti memang usaha yang harus seksama, sebab plot time related chaos emang bukan topik logika yang 'gampang' dicerna, apalagi di sisi pengarang yang harus lebih menguasai hubungan sebab akibat lintas waktu. Paling tidak, walau plot hole masih terasa di sedikit tempat, pengarang berhasil mendeliver cerita menjadi suatu alur yang cukup koheren. Tapi dalam aspek logika, pengarang juga agak 'kejeblos' justru di akhir cerita, yaitu time-space continuum yang rusak ternyata bisa bener lagi karena faktor 'kebetulan'. Ah ketahuan, lagi buru-buru pengen nyelesaikan novelnya, tuh. Hehehe,...

Masuknya tokoh Bill Gates dalam cerita menggantikan Prof Drona, juga terasa agak dipaksakan. Tapi apa mau dikata, toh setting karakternya memang sudah dibuat amburadul dari sononya, sehingga twist semacam itu memang sah terjadi dalam setting cerita ini. Termasuk ujug-ujug muncul tokoh (Adolf) Hitler yang bisa silat sebagai the ultimate nemesys.

Kelebihan lain adalah adegan silat yang cukup seru, dan lumayan menerapkan prinsip-prinsip ilmu silat ala standar. Silat ini cukup memberi warna yang unik pada novel, serta memberi adegan aksi yang seru dan gegap gempita. Walau sebagai catatan, penggambaran adegan silat secara apa-adanya (keluarin jurus ini-itu dengan kedahsyatan ini-itu, efeknya ini-itu) memang cukup bisa menghadirkan aksi, namun belum tentu menimbulkan kesan mendalam terhadap pembaca. Mungkin analoginya adalah nonton film kung-fu mainstream Hongkong yang minim special effect, vs Chrouching Tiger atawa Hero yang penuh efek visual indah. Mana pertarungan yg lebih meninggalkan kesan?

Jujur aja, ngga ada perkembangan plot yang cukup berarti sepanjang novel, laksana pop corn movie biasa aja. Paling ada satu cabang plot yang cukup menyita emosi dan karenanya jadi perhatian khusus saya, yaitu saat Rima dan ayahnya finally bertemu dengan Maminya. Itu adegan yang paling monumental, saya rasa.

Juga menjadi suatu pertanyaan buat saya, di tengah generasi dua ribuan ini, apakah tokoh-tokoh pewayangan seperti Arjuna, Bima, dkk itu masih 'bunyi'? Untuk gerenasi 80-an macam saya, karakter Arjuna memang masih lekat dalam ingatan sebagai sosok 'Cowok Ultimate' dalam dunia wayang. Saya bahkan masih sempet nonton wayang orang Sriwedari di Solo jaman saya kelas 5 SD, dari jam 8 malem sampai jam 3 pagi. Tapi sekarang semua sudah menjadi dunia lama yang terlupakan oleh Indonesia. Saya kira pemilihan tokoh-tokoh pewayangan untuk dimasukkan ke setting modern menjadi usaha yang tak terlalu efektif, simply karena generasi sekarang udah gak kenal siapa itu Arjuna dkk.

Sebagai konlusi dari pembelajaran kita kali ini dengan topik studi Novel Transpondex, ya mungkin singkat aja: kalo pengarang dapat menjaga logika ceritanya secara pas, maka setting amburadul pun ternyata masih bisa workable, at least untuk sekedar menjadi novel ini enak dibaca aja, tanpa harus menyisipkan missi atau harapan-harapan lebih dari itu.

Dan nyatanya, novel ini memang masih lebih bisa dinikmati dibanding the other terbitan GagasMedia FantasyLit yang barusan juga saya review,.... (wink)

Mas Ronny, it's been a nice reading!

Salam,


FA Purawan