Tampilkan postingan dengan label epik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label epik. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2009

SUMMONSTER: Ancaman dari Kegelapan (Rudiyant - 2009)

By Luz B

Pengarang: Rudiyant
Editor: Felicia Suwardini
Penerbit: Cyan Publisher
Design sampul dan layout: Haridesign
Tebal: 390 halaman


Sebenarnya, beberapa rekan di Forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri di Pulau Penulis sudah lama meminta aku untuk menulis tentang novel satu ini. Dan sekali lagi, sudara-sudari segala agama dan agami, reaksi pertamaku adalah... meremehkan.

Harap maklum, untuk urusan remeh-meremehkan aku memang susah tobat. Apalagi sekarang udah bukan musimnya segala sinetron hidayahiyahtantowiyahyah yang mengajak kita kepada kebaikan tapi menggambarkan hukuman dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan cara yang nyaingin kesadisan ilustrasi psycho manga.

Mengapa aku meremehkan buku ini? Pertama, covernya yang kelihatan dibikin ngasal. Warna merah, ungu, dan item dan gambar dari berbagai sumber diulek seenaknya tanpa diolah menjadi kesatuan yang menarik. Di cover depannya ada naga, background hutan, petir dan foto seorang oknum yang kayaknya pengarang, (tapi bisa juga bukan,) masang pose dan ekspresi yang (dia pikir) keren. Dan si oknum ini nangkring di belakang judul dengan Font Harry Potter: Summonster: Ancaman dari Kegelapan.

Sampai disini ada bagian diriku yang langsung mencap bahwa si pengarang ini narsis sekali. Namun, mari kita bahas cover ini secara adil. Foto itu bisa yang bersangkutan, dan bisa jadi bukan. Dan kalaupun benar foto pengarang, sebetulnya bisa diterima.

Pertama, karena itu haknya dia. It's his book.

Dan kedua, karena paling tidak foto si pengarang itu asli ide, buatan, dan muka dia sendiri! Bandingkan dengan apa yang terjadi di cover belakang: Dengan terang-terangannya si desainer cover menempelkan gambar karakter Vivi Ornitier dari Final Fantasy IX. Ya amplop...

Aku tahu negeri tercinta kita kurang memperhatikan hak kekayaan intelektual, tapi ini? Terang-terangan mencomot gambar dari sebuah game yang cukup dikenal untuk tujuan komersil bisa diterjemahkan sebagai permintaan untuk dihujat oleh penggemar game itu. Jadi, pengarang dan desainer cover yang terhormat, kalau ada hujatan berkenaan dengan cover yang menyayat-nyayat hati anda, nggak usah jejeritan kayak orang-orang caper baru masuk infotainment. Anda sendiri yang minta didzolimi.

Lepas dari pembajakan yang benar-benar tidak tahu malu itu, aku disambut oleh sinopsis yang ditulis dengan font ultra-ruwet yang bikin malas baca. Sebagai servis untuk para pembaca Fikfanindo, ini aku copaskan...

Ini adalah cerita besar yang akan aku torehkan dengan pedang di tanganku. (Sekarang aku ngerti kenapa font itu sedemikian ruwet. Nulisnya pake pedang getoh!) Penuh kemelut dan intrik yang aku sendiri ragu. Karena tanpa sadar aku telah terseret masuk jauh ke dalamnya. Bahkan akhirnya aku takut, bisakah aku kembali ke jalanku.

Para Summoner, pemilik makhluk suci satu persatu tewas mengenaskan. Sumont-Sumont menjadi liar ketika berada di tangan yang salah. Kehancuran alam dan dunia terasa sedekat kerlipan mata. Kitab aneh yang dapat memanggil dan menghidupkan kembali arwah para petarung legendaris muncul. Kekacauan akibat dendam dan ambisi saling tumpang tindih. Belum lagi dendam para ras Black Centaur, urusan para Elf, Dwarf, Mermaid dan Black Magioch. Semua terlihat kisruh.


Bersama keempat sahabatku, kami harus bisa menyelesaikannya dan kembali pulang untuk menjalani kehidupan normal yang sesungguhnya. Walau aku yakin ini akan sulit. Sebab cerita legenda ini, aku yakin akan menjadi kenangan abadi di benak semua orang. Atau paling tidak dapat menjadi dongeng orangtua kepada anaknya sebelum terlelap." (Hmm... orang tua macam apa yang mendongeng soal dendam, memanggil arwah, dan kehancuran dunia pada anaknya yang mau tidur?)


Sinopsis diatas disusul dengan pencantuman endorsement dengan font yang jauh lebih mudah dibaca. Endorsement ini diberikan oleh oleh oknum anonim dengan bunyi sebagai berikut:

Rudiyant benar-benar mampu menerbangkan imajinasi ke Negeri Khayalan di batas tertingginya. Semua terlihat rumit pada awalnya, terlalu banyak urusan dan kepentingan. Belum lagi jumlah karakter yang memiliki karakteristik aneh, unik, konyol dan terhitung hebat-hebat dengan berbagai persoalannya. Rudiyant sosok penulis berkelas!

Lagi-lagi pernyataan yang ngasih beban berat ke si pengarang dan si buku bahkan sebelum cerita dimulai. Aku nggak ngerti kenapa banyak kecenderungan begini dalam buku-buku fiksi fantasi, tapi baiklah...

Penulis berkelas.

Statemen ini kuterima sajalah. Perkara kelas apa--kelas terbang, kelas bantam, kelas bulu, kelas welter, kelas berat, kelas satu es-em-a, kelas kambing--silakan anda putuskan sendiri setelah menelaah buku ini.

Hal berikutnya yang bikin aku ngeremehin buku ini adalah ukurannya. Nyaris seukuran buku saku, dengan tebal 390 halaman. Dikit. Jadi kukira aku pasti bisa menghabiskan buku ini dalam waktu kurang dari 3 hari. The Hunger Games yang jauh lebih tebal saja bisa kuselesaikan kurang lebih 5 jam.

Makanya, ketika seorang teman di FFDN bilang "nggak kuat baca buku ini," aku langsung berkata pada yang bersangkutan, "Kirim sama aku aja, tar aku yang baca dan nulis repiu!"

Dan aku nyeseeel berat nggak mendengarkan nasihat teman dan nyuekin wangsit ghoib berupa tindak pembajakan superpicis di sampul, hanya karena aku ingin menjadi anak baik yang tidak menilai buku dari sampul belaka.

Sungguh, Summonster nggak bisa dibilang "jelek," karena naskah "jelek" sekalipun seharusnya bisa membuatku ketawa nelangsa lewat plothole ngaco atau dialog konyol atau klise menggelikan. Namun, Pakcik dan Makcik, naskah satu ini rupa-rupanya sudah demikian teruk hingga sulit mencari hal yang menarik di dalamnya. Tingkah polah tokohnya bikin kesal, bolong-bolong dalam plotnya alih-alih lucu malah bikin males baca, dialognya so stoopid it will probably scar your brain, seperti berikut ini, ketika dua tokoh cerita ketangkep lagi ngupingin kawanan Black Centaur:

Viron garuk-garuk rambut kepalanya yang tidak gatal, dia berpaling ke Nadiav, "Orang itu ngomong apa Nad...?"

"Katanya kita mengikuti pasukan mereka sejak kemarin...!"

"Ah, mereka bisa saja. Memangnya mereka pikir kita ini kurang kerjaan, apa?" Viron memperlihatkan wajah kurang setuju atas tuduhan pada dirinya. "Memangnya mereka mau kemana sih, kok sampai menyangka kita mau mengikutinya?"


Nadiav menggeleng, "Mana kutahu? Jangan-jangan rombongan mereka ini mau kondangan kali ya...?"


See? Ini sebabnya aku perlu hampir 1 bulan untuk membaca buku ini.

Maka biar kusimpulkan pelajaran yang kudapat dari kebandelanku kali ini: some things can get beyond ugly. Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya kekuatan tak manusiawi macam apa yang dimiliki pengarang hingga bisa menghasilkan sesuatu seluarbiasa ini.

Mari kita mulai dari plot. Bab 1 langsung memasuki inti permasalahan: Bahwa di dunia Summonster dikenal keberadaan sumont, "arwah suci yang mendekam di dalam spirit crystal yang bisa dipanggil oleh seorang Summoner untuk bertempur." Dalam bahasa Final Fantasy, tergantung dari dialek yang digunakan, Sumont ini kiranya bisa diterjemahkan sebagai Esper/ Summon/ Guardian Force/ Eidolon/ Aeon/ Totema.

Dan alkisah, Di sebuah pondok terpencil, Kakek Ibranz menerima berita bahwa salah satu dari Sumont ini dicuri, dan memperkirakan bahwa si pencuri akan memakai sumont tersebut untuk bertempur pada semacam perang akbar yang akan terjadi pada tanggal 10 bulan 10. Bagaimana ia tahu akan ada peristiwa 10/10? Dari ramalan gurunya yang disampaikan 3 bulan sebelum cerita dimulai.

Maka, logis kiranya jika kakek Ibranz langsung mengirimkan dua protagonis kita, Viron dan Nadiav, untuk menemui gurunya demi menanyakan apa kiranya yang akan memicu pertarungan besar itu.

Hmm... kemaren pas dikasih tahu soal ramalan itu kenapa gag sekalian yah nanyain penyebabnya? Oh well. Ini bisa dijelaskan dengan apa yang kusebut sebagai Postulat Plot Klise Fiksi Fantasi #1: Yang namanya ramalan selalu always itsumo benar. Sebab itulah orang-orang di dunia fiksi fantasi nggak pernah merasa perlu bertanya kalau mau memulai perang atau membunuh seseorang. Mereka selalu menempatkan akalbudi dan pikiran sehat di nomor sekian setelah ramalan.

Cerdas sekali.

Dari titik awal ini, plot berkembang. Aneka pihak/ grup/ organisasi rupanya memutuskan untuk berpartisipasi pada perang akbar 10/10: Kerajaan Valion, Kelompok Red Death, Pasukan Ratu Iblis, Bangsa Mermaid, Black Centaur, grup Black Magioch. Kecuali Kerajaan Valion, semua pihak ini ceritanya berperang karena menginginkan Devdilbook, sebuah kitab yang bisa membangkitkan orang mati, entah untuk dihancurkan atau dipakai membangun pasukan demi memenuhi Motif Penjahat Klise Fiksi Fantasi #1: Menguasai Dunia.

Dan turut terjebak di dalam peperangan ini adalah lima pemuda-pemudi yang terbawa dari dunia kita, terpisah, lalu bertemu kembali di dalam peristiwa 10/10 setelah mengalami nasib yang berbeda-beda.

Apa plot ini bisa menjadi kisah yang menarik? Kukira bisa, walaupun ya... ini plot fikfan standar. Mengingat aku juga kurang mengerti kekuatan misterius apa yang membuat plot ini sama sekali tidak menghibur--dalam arti bahkan tidak membuatku ketawa nelangsa karena kekliseannya-- aku menebak bahwa masalah pertama terletak pada pilihan suasana dan cara bercerita.

Curhat sedikit: Saat menulis, aku selalu merasa bahwa salah satu bagian paling sulit adalah menentukan suasana cerita. Apakah cerita ini akan muram dan gelap dan bikin depresi atau kocak cerah ceria? Dan misalnya suasana cerita ini berubah-ubah, bagaimana menampilkannya agar cerita itu tetap punya satu "rasa" tersendiri, alih-alih menjadi tambalsulam dari berbagai cerita/game/komik/film yang sudah ada?

Kukira penulis salah satunya tersandung di sini. Yang bersangkutan membuat cerita tanpa bisa memutuskan apakah cerita ini mau jadi fantasi serius macam Harry Potter, Narnia, His Dark Materials, atau fantasi komedi ala Discworld-nya Terry Pratchett. Oleh karena itu, mari kita lihat naskah ini dari dua sisi.

Pertama, sebagai fantasi komedi, humor dalam cerita ini terlalu sedikit. Dan sekalinya ada, yang paling lucu pun cuma bikin aku ketawa garing 3 detik. Nih kukutip contohnya:

Ibranz tersenyum kepada muridnya yang terhitung masih sangat belia itu, "kamu pikir untuk apa aku memberikan pedang itu padamu? Kalau cuma untuk berdiam diri ditempat ini kurasa kamu tidak membutuhkan pedang. Untuk latihan sehari-hari kurasa pedang kayu saja cukup untukmu...!"

Mendengar kalimat terakhir Ibranz, si gadis langsung tersenyum. "Jadi kamu masih menggunakan pedang kayu dalam latihan...?" ejek Nadiav. "Payah sekali! Asal Kamu tahu ya, sejak setahun yang lalu guruku sudah memperbolehkanku menggunakan senjata betulan dalam latihan...!"


Ibranz Tersenyum, "kamu itu belum tahu siapa Viron, Nadiav...? Dia itu... pegang pisau aja kepotong, apalagi kalau pegang pedang?"

Para pembaca yang terhormat, apakah anda ketawa saat membaca tiga paragraf diatas? Ada orang yang bilang aku kurang memahami fantasi "ancur", demikian istilah rekan-rekan forum Fiksi Fantasi Dalam Negeri untuk fantasi komedi. Tidak begitu, sebenarnya; untuk menjadi bisa disebut komedi, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi suatu karya, yaitu--seperti penampilan TeamLo di Inbox pagi SCTV--ia mengandung kelucuan yang cukup memuaskan selera umum. Itu aja.

(Walau tentu akan lebih baik lagi kalau mereka mau cerdas dan lucu seperti Project Pop.)

Nah, aku paham bahwa penulis ini punya track-record Juara II cerita konyol Gramedia 2008 dan pernah menerbitkan buku humor, tapi buku ini sendiri buatku sama sekali nggak ada lucu-lucunya. Lucu garing aja nyaris nggak, apalagi lucu beneran.

Namun, tentunya valid kalau kita katakan bahwa lucu itu relatif, jadi jika anda meragukan penilaian ini, fair enough. Silakan beli atau pinjam Summonster dari teman anda dan sampaikan pendapat anda setelah membacanya sendiri. Aku tunggu di reply loh, heh, heh, heh...

Nah, kedua, kalau Summonster ini mau jadi fantasi serius, sebetulnya lebih masuk akal, dan kukira penulis juga niatnya sebetulnya kesini. Terbukti dari sinopsis di sampul bahwa cerita ini banyak menggambarkan perang, kehancuran, darah, pemanggilan arwah. Masalahnya, dengan latar semacam itu, joke-joke garing crispy yang diselipkan si penulis jadi mengurangi keseriusan dan kelarutan pembaca di dalam dunia cerita. Ditambah lagi kesukaan penulis untuk menggambarkan dan menjelaskan dunianya dengan istilah-istilah role-playing game semacam...

"Itu Potion, sangat berguna untuk mengembalikan staminamu!"

atau...

"Mp-ku habis ketua! Aku tidak sanggup lagi!"

atau...

Di api, untuk level awalnya berupa bola api, yaitu Fire. Tapi untuk level keduanya bernama Flame, serangan api sebesar kerbau dewasa yang bisa dibayangkan seperti apa kobaran apinya?

Benar-benar mengerikan...!

Ini tiga element dari beberapa element... Konon, puncak serangan element api adalah Hell Grab, Lautan Api Neraka, yang pastinya membutuhkan banyak Mp untuk melakukannya!


Aduh, banget.

Pembaca yang terhormat, ijinkan aku bertanya, apa alasannya seseorang mau baca novel seharga 30k perak yang dibuat seolah-olah RPG kalau dia punya akses ke console (minimal main PS2 dirumah temen) dan bisa main RPG beneran (kaset bajakan dijual 10-15k rupiah?)

I can think of several reasons, actually:

1. Dia nggak punya jari untuk mencet gamepad, (tapi kalau gini ya dia nggak bisa balik halaman buku juga kan... kecuali ada yang balikin.)

2. Dia buta, jadi dia nggak bisa lihat TV (dan ga bisa baca buku juga, kecuali ada yang bacakan untuk dia, atau buku itu ditulis dengan huruf braille, atau dibuat jadi audiobook; pula, di Indonesia ini ada kok kasus orang tunanetra yang hobi bermain game... uhuk*Ramaditya*uhuk...)

3. Dia mati otak/tidak punya IQ yang cukup untuk bisa main game (dan kalau begini toh kemungkinan besar dia ga bisa baca buku juga.)

Dengan logika sederhana ini kita bisa melihat bahwa novel yang dibuat seperti RPG hanya menarik untuk 1) orang yang nggak punya jari dan punya teman yang mau balikin halaman buku untuk dia, dan 2) orang tunanetra yang namanya bukan *uhuk*Ramaditya*uhuk* dan punya teman yang mau bacakan cerita itu.

Dan... oh ya, tentu saja, pasar bisa diperbesar untuk 3) kaum tunanetra yang penasaran dan rela memboroskan waktu mereka, kalau cerita ini diterbitkan dalam audiobook/edisi braille.

Baiklah, perhitungan diatas barangkali berlebihan, tapi maksudku tentunya tersampaikan: Nggak ada gunanya kita memakai deskripsi ala RPG di dalam sebuah novel fantasi yang serius. Itu nggak membuat novel menjadi lebih menarik atau lebih mudah diterima oleh gamer. Jangankan di dalam novel yang dibuat ala-RPG; di dalam RPG sungguhan aja, pernahkah anda menemukan FMV/cutscene seperti yang terjadi di bawah ini...?

"Cloud! Tolong! MP-ku menipis! Aku tidak bisa lagi memakai Summon Bahamut zero!"

Mendengar namanya dipanggil, si pemuda pirang meluncur turun dari kepala Midgar Zolom sambil menggoreskan Buster Sword di sepanjang punggung ular raksasa itu.

"Hiaat! Terimalah ini! Command Materia 2xCut!"


Gelombang tenaga Materia 2xCut yang menyeruak dari pedang besar si pemuda dengan cepat menyebabkan tubuh lawannya terbelah dua. "Tidaaaak!" si monster berteriak. "Aku punya 15.000 HP! Tidak mungkin... sedemikian mudahnya... kalah! Aaaaargh!"


Tanpa menghiraukan erang kesakitan makhluk buas, si pemuda lalu melompat. Ia mendarat mantap, membelakangi tubuh lawannya yang tumbang menjadi dua potongan yang menghempaskan debu di kiri-kanannya. Lalu ia mengulurkan tangan pada gadis yang memanggil namanya tadi.

"Jangan takut Tifa! Aku masih punya Potion! Ini--ambillah!"

Tifa melotot. Kesal. Tiba-tiba saja limit break gauge-nya terisi penuh. Langsung saja ia melakukan serangkaian tendangan dan pukulan yang diakhiri Limit Break terkuatnya, Final Heaven. "Bodoh!" teriaknya sambil terus menghajar Cloud. "Potion itu untuk memulihkan HP, Bukan MP! Elo kan jagoannya. Kok yang geto aja gag mudeng seeeeh?! MAMPUSSSSS!!!! Hiaaattt!! Tendangan Kincir Berputar!!!"


Mohon maaf untuk seluruh penggemar Final Fantasy VII yang membaca artikel ini. (Siapa bilang aku nggak bisa menikmati fantasi komedi? Heh, heh, heh...)

Baik. Ehem. Setelah melihat plot dan suasana cerita yang kacau, mari kita tinjau karakter dan dunia itu sendiri. Aku nggak akan ngebahas satu persatu karakter maupun tempat-tempat ataupun benda di dalam dunianya, karena kayaknya ga ada yang bisa kita pelajari kalaupun kita bedah semuanya satu-satu. Yang menarik dari karakter-karakter dan benda-benda dan dunia Summonster hanyalah satu: naming konyol yang kayaknya mengatakan "Aduhh, jadiin gue sasaran plesetan/cela dong plissss..."

Baca sendiri deh...

1. King Dradont. Oh no you don't.

2. Jenderal Watduks. "What?" *duks* Kayak sound effect orang yang lagi gubrak ke lantai karena guyonan gag lucu.

3. King Vadeworth. Hmm... Darth Vadeworth.

4. Ratu Dsaustet. Sounds like Ratu Santet.

5. Kitab Devdilbook, yang suka diplesetin sebagai kitab Devilgoblok oleh salah satu tokoh. Not that it is funny, though.

6. Difficult Jungle. Hutan yang sulit dilalui karena dipenuhi monster kuat-kuat. Oh yeah, jenius. Kreatif banget penamaannya.

7. Big Croakodille. Croaking crocodile kali yah? Nggak lucu ah.

8. Sumont Gurithae... yang rupanya berbentuk, surprise, surprise, gurita raksasa.

Nama-nama ini mungkin lucu untuk suasana fiksi fantasi komedi, tapi untuk fikfan serius, kukira terang-terangan salah tempat. Sekali lagi, ngocol hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Selain itu perlu diperhatikan tipe humor yang sesuai dengan cerita. Kalau tone cerita dark, cobalah humor dark/sarkastis/sadis. kalau tone cerita memang komedi, slapstick atau humor-humor sugestif mungkin tepat. Jangan humor slapstick dipakai untuk cerita serius di suasana serius pula. Ya jelas gag kena dunk.

Pembaca yang terhormat, sebetulnya aku ingin lebih dalam menelaah buku ini dalam usaha untuk memulung apa-apa yang masih berguna sebagai pelajaran. Sayangnya, aku cuma manusia yang HP-nya terbatas, sementara buku yang awalnya kuremehkan ini ternyata merupakan lawan yang lebih parah daripada boss-boss rahasia semua RPG. Untuk itu biar kusimpulkan sari dari reviewku kali ini: Jangan membajak gambar game untuk cover atau ilustrasi, jangan menulis fantasi serius dengan deskripsi teknis-RPG, dan kalau mau ngocol pertama-tama pastikan dulu kalau anda itu lucu.

Untuk Bang Rudiyant, kuucapkan selamat: (Sum)monster Anda adalah mahkluk pertama yang sukses ses ses ses menghabiskan HPku! Beruntung aku masih punya persediaan Phoenix Down dan Megalixir untuk memulihkan diri.


Luz Balthasaar

Minggu, 06 Juli 2008

ENTHIREA: Pertempuran Dua Dunia (Aulya Elyasa - 2008)



Enthirea,

Kalo temen-temen kemudian merasa terkenang pada yang ijo-ijo royo-royo, jangan keburu merasa heran dulu, atau lantas mendaftarkan diri pada paguyuban Green Peace, atau World Wildlife Fund, ato lebih ekstrim lagi, ke majalah Trubus.

No, it's only your uncosciousness' kicking in. Kalo anda tau-tau mikir yang ijo-ijo, itu kemungkinan karena Enthirea adalah otak-atik 'kreatif' dari kata: Anthurium, tanaman berdaun hijau lebar yang bikin banyak orang jadi sinting dan nekat membeli dedaunan dengan harga milyaran. Nah kalo kebeneran ada ulet ga sengaja jatoh ke pot anthurium itu dan memakan sedikit daonnya, tuh, si ulet baru aja makan makanan ulet TERMEWAH sedunia! He he he,...

Coba deh, mirip khan? Enthirea, Anthurium,...

Boleh aja dibilang sebagai kreativitas, namun sadly, that's the only thing 'creative' about this book.

(He he he, mungkin gue memang a bit exagerated. Okelah, masih banyak kreativitas lain. Tapi akui aja, kalimat di atas itu memang provokatif dan atraktif, khan?)

Pengarang, Aulya Elyasa, adalah seorang Psikolog berusia 25 tahun, yang sekalipun sudah banyak berkecimpung dalam dunia penulisan, antara lain berupa puisi, psikologi populer dan fiksi fantasi, menyatakan bahwa Enthirea adalah novel pertamanya, yang direncanakan akan terbit sebagai Trilogi. Punya moto: CARPE DIEM (mottonya alm. Fuad Hassan juga, yach?), dan saat ini sedang menyelesaikan buku kedua Enthirea: Delapan Pelindung.

Which is, menjadi saat yang tepat untuk buru-buru menginformasikan review ini kepada beliau, supaya ada kesempatan bagi pengarang untuk habis-habisan memperbaiki teknik penulisannya. Dan kalau kubilang habis-habisan, itu bisa berarti sepuluh kali battle di Helm's Deep pun belum tentu bisa memenangkan kelemahan novel ini (yang belum tahu Battle of Helm's Deep, baca dulu The Two Towers, kali ye). Well, yeah, buku satu ini memang masih merupakan karya yang 'lemah' banget. Justru menjadi pertanyaanku, apakah sebaiknya pengarang melanjutkan kelemahan yang sama ke buku dua (sehingga jadi konsisten), atau banting setir dan memperbaiki buku kedua sehingga menjadi suatu karya yang 'melompat' dari buku satu. Dilema, oh dilema,....

Enthirea adalah sebuah kisah Fantasy epik klasik dengan plot klasik: seorang nobody yang ternyata merupakan somebody yang bertugas untuk menyelamatkan everybody.

Pusing? Ala begitu aja koq pusing. Coba anggap nobody adalah 'Hobbit dari Shire', Somebody adalah 'Ring Bearer', dan Everybody adalah 'Middle Earth', sounds familiar? Sekarang ganti nobody menjadi 'Penebang Kayu', Somebody menjadi 'Pelindung', dan Everybody menjadi 'Benua Enthirea'. Jadi jelas, khan? Kalo mau motif, tambahkan seorang Dewa Kegelapan (Orgath) yang bermaksud menguasai Dunia. Dan biar rame, tambahin Elf, Kurcaci dan Goblin along the way.

And, you've got a story, right? Sayangnya, tidak sesimpel itu. Sebuah 'story' baru bisa eksis apabila ada believability. Dan untuk bisa meyakinkan dan mempengaruhi pembaca, ada banyak hal yang harus digarap. Sayangnya, Enthirea belum maksimal menggarap hal-hal ini.

OK, bagaimana saya melihat Enthirea sebagai suatu keseluruhan? Saya melihatnya sebagai sebuah karya di mana pengarang merencanakan plot dengan cukup matang, membuat kerangka cerita yang baik, tetapi tidak menyulam, merangkai dan menjahit plot itu dengan kata-kata, kalimat, dialog, narasi, dan deskripsi pilihan yang menjadikannya selembar 'kain' cerita yang memukau.

Kalau mau dirangkum, area kelemahan Enthirea ada di dalam hal-hal ini:


  1. Setting yang kurang meyakinkan

  2. Logika yang kacau

  3. Dialog yang 'corny'.

Bicara urut nomor, deh.


Untuk setting, pengarang tampaknya sudah memikirkan cukup dalam. Adanya peta di halaman belakang novel juga cukup membantu (walaupun akhirnya terasa ada kekacauan kala membandingkan peta dengan deskripsi dari pengarang. Tar kubahas). Penamaan tempat maupun tokoh juga seperti sudah memikirkan kaitan antara nama-nama tempat dengan latar belakang penamaannya, atau penggolongannya (walau tak sekompleks yang kuharapkan dari seorang penulis dewasa, tapi mungkin beliau punya alasan tersendiri terkait target pasar) demikian juga dengan nama-nama tokoh. Walau jujur, gue agak ketawa saat pengarang menetapkan tokoh utama dengan nama Elyaz, alter ego banget sih. Tapi itu normal dan hak pengarang, anyway.

Namun kelemahan setting sangat terasa dalam hal 'penghidupan' setting guna mendukung cerita, supaya cerita menjadi hidup di pikiran penonton dan setting menjadi bagian dari cerita; bukan sekedar seperti panggung tempat para aktor beraksi, atau diorama di museum-museum yang diam membeku di bawah tatapan mata pengunjung. Membaca Enthirea rasanya seperti membaca sebuah business report: Tadinya gini, abis itu gini, kemudian nantinya akan menjadi gini, tetapi masih ada gini, dst. Sibuk, dan gak sempat lihat-lihat keindahan, padahal meetingnya di Bali,... hehehe. Kembali, hiperbola ku aja sih.

Menurut saya kelemahan pengarang adalah terlalu irit dalam mendeskripsikan situasi, property, landscape, bahkan tokoh-tokoh dalam novelnya. Memang, novel ini memiliki POV orang pertama (tokoh Aku) sebagai narator cerita. POV pihak pertama cenderung membatasi daya ungkap kepada Pembaca, sebab seluruh hal di novel itu menjadi 'terfilter' oleh pikiran perasaan dan tindakan tokoh utama. Tapi POV itu tak lantas harus membuat deskripsi menjadi minim, kan? Padahal sebagai novelis fantasy, pengarang punya tugas yang obvious, yaitu menghidupkan fantasi pembaca!

Dan Goblin! Kenapa masih pada ngotot menggambarkan Goblin sebagai sosok Orc? Goblin itu mempunyai gambaran tipikal seperti kakek-kakek cebol berkepala besar, bukannya monster besar berkulit gelap. Melihat 'kekeliruan' sosok Goblin ini, kemudian keberadaan Dark Elf, mungkin pengarang terinspirasi dari konfigurasi rasial yang ada di novelnya Ataka. Atau kalo gak gitu, berarti ada deskripsi ganda mengenai goblin ini di dunia mitologi barat.

Bicara point 1, Setting, saya hanya dapat mengatakan bahwa Pengarang belum berhasil mengolah settingnya menjadi suatu bangunan yang believable, dikarenakan -mungkin- oleh deskripsi yang minim. Kalau mau diperbaiki, mungkin dengan memperkaya detail dan menguatkan relasi setting dengan tindakan para tokoh. POV orang pertama sesungguhnya cukup potensial untuk mendeliver setting secara detail sekaligus berimbuhan emosi dan nilai sesuai karakter tokoh utama, bisa detail sekaligus unik. Di tangan pengarang yang mumpuni, Fantasy POV orang pertama bisa menjadi feast yang luar biasa. Tentunya untuk itu, diperlukan sistem logika yang 'masuk akal' sebagai perekat dan penjelas.

Logika, nah ini yang kacau abbasss,... saya akan menjabarkan melalui beberapa contoh:

Pada penyerangan Faerun, dikatakan pasukan penyerang terdiri atas 3000 infantry, 500 pemanah, dan 5 raksasa tempur, sementara di pihak Faerun terdiri atas 1000 sukarelawan yang cukup mampu memanah karena merupakan pemburu andal. Ditambah dengan Elyaz sebagai pelindung, Lefial dan Arvea sebagai Elf yang menguasai sihir-sihir dahsyat. So the odds will simply be 1:3 atau 1:4. Udah gitu dalam paruh pertama adegan perang, ternyata para jagoan dan penduduk Faerun sudah dapat mengeliminasi 1500 lawan berkat penggunaan sihir dan panah. Nah, sampe sini kan oddsnya sudah berubah tinggal 1:2. Tapi pengarang tetap me'nambahkan' jumlah penyerang agar terkesan overwhelming dengan menyebutkan Goblin yang berjumlah 'ribuan'.

Well, memang Faerun pada akhirnya harus jatuh, cuma pengarang kurang berhasil memberikan situasi yang logis dalam peperangan ini karena logika perangnya kurang berjalan.

Logika perang di pegunungan Arga juga demikian, sejumlah 15.000 pasukan antagonis melawan 10.000 pasukan protagonis yang diuntungkan oleh situasi alam. Kalo pengarang lebih mempelajari ilmu strategi perang terutama bagaimana sifat-sifat infanteri, kavaleri dan artileri, serta bagaimana pengaruh kekuatan di antaranya, kayaknya pengarang bisa membuat adegan perangnya lebih believable. Perangkatnya udah ada, koq.

Tapi main-main dengan angka, ini juga masih harus dipertimbangkan oleh pengarang. Bikin pasukan dengan jumlah besar, itu secara universe Fantasy, sebetulnya susah, lho. Untuk mencapai hitungan 10.000 pasukan saja, seharusnya effortnya nggak main-main, mulai dari harus mencari orang-orang berfisik sehat dengan rentang usia yg cukup (ada persoalan demografis), kemudian menyediakan tempat latihan, perlengkapan, logistik dan lain sebagainya, perang on-foot semacam itu akan membutuhkan empat-lima tahun sekedar untuk persiapannya saja!

Ambil contoh perang Mataram, yang untuk jalur perjalanan pasukan saja, logistiknya menjadi demikian besar dan kompleks, meninggalkan jejak-jejak peradaban sampai sekarang berupa kampung-kampung dengan penamaan terkait Mataram. Untuk mencapai Batavia, sekedar buat numpang lewat aja Sultan Agung harus 'menaklukkan' banyak daerah terlebih dulu, baik melalui penaklukan fisik maupun diplomatis, yang tentunya ngga cuma dalam semalam.

Dalam setting LOTR, bahkan Saruman yang mampu menciptakan "tens of thousands" pasukan Uruk-Hai, sampai memerlukan untuk menghancurkan hutan-hutan di sekitar Eisengard dalam skala yang mampu membuat Treebeard murka seketika (yang pastinya sangat cepat untuk ukuran Ents!).

Artinya, makin besar jumlah pasukan pun akan makin besar effort untuk membuatnya, termasuk effort politis, effor budaya maupun effort logistik.

Bandingkan dengan komposisi pasukan bayaran Arga yang bisa mencapai 10.000 (padahal dalam deskripsi camp-nya, tidak terkesan sampai berjumlah segitu besar). Pertanyaan sederhananya: SIAPA yang mampu membayar untuk pasukan sejumlah itu? Tidak ada kerajaan yang memerlukannya, dan tidak ada background situasi politik yang memotivasi tersedianya military reserve sampai segitu banyak. Bahkan konsep pasukan bayaran aja gak begitu jelas di novel ini.

"Tapi kan gue bikin cerita Fantasy, dimana semua kemungkinan dapat terjadi?" biasanya akan muncul pembelaan seperti ini. Well, boss, JUSTRU dalam cerita Fantasy (yang bener), pengarang punya tugas untuk menjelaskan semua kejadian mengikuti sistem logika yang dapat diterima oleh pembaca, terserah itu logika sesuai dunia nyata, atau logika ciptaan pengarang sendiri. Tanpa di-back-up sistem logika yang kokoh, alih-laih menjadi literary Fantasy, karya tersebut akan cuma mampu berada dalam kelompok 'pure-ngayal'.

Kemudian contoh lagi mengenai logika lokasi sesuai deskripsi pengarang. Ini simpel aja, sebab bisa diperbandingkan dengan gambar peta yang disupply oleh pengarang; Mengenai jalur perjalanan dari Eslunia menuju Pegunungan Arga. Lihat kutipan ini:


"Dari Eslunia, kita akan berjalan ke Utara melewati gunung Ro. Dari situ kita akan berjalan ke arah Tenggara sampai kita menemukan mata air Fianha. Perlu aku sampaikan pada kalian, sebelum mencapai mata air Fianha, kita akan melewati perbukitan Krana yang terbentuk dari karang yang sangat terjal dan berbahaya. setelah kita sampai di Fianha, kita akan meneruskan perjalanan ke Timur menuju pegunungan Arga, kalian mengerti. Apakah ada pertanyaan?"

Coba liat petanya dulu,...


Nah, kalo gue ikut di sana, gue pasti akan bertanya, "Ngapain susah-susah? kita jalan aja ke Timur terus, kemudian ke Utara dikit, pastilah ketemu Pegunungan Arga (versi Pengarang), which is beda sama versi pembuat peta!" hehehe,...

Nah kalau mau konsisten sama Peta, harusnya briefingnya sangat sederhana, "Kita jalan ke Utaraaaa,... terus, nanti ketemu lah sama pegunungan Arga!"

Inkonsistensi ini, menunjukkan bahwa pengarang agak mengabaikan aspek logika lokasi dalam novelnya. Emang sih, menggambarkan sebuah lokasi fantasi adalah hal yang amat sulit, saya akui hal itu. Belum tentu bayangan yang ada di kepala pengarang dapat terjabarkan secara tepat di pikiran pembaca. Itu sebabnya pengarang Fantasy kerap membuatkan peta imajiner untuk pembacanya. Tapi janganlah kemudian pembuatan peta itu hanya jadi faktor gimmick doang, tetap harus in-line dengan setting ceritanya.

Satu aspek logika alam juga jadi kacau di novel ini.

Pada sub-plot masalah mata air Fianha yg disabotase oleh pasukan kegelapan sehingga menjadi keruh & berbau, dikisahkan bahwa sabotase dilakukan dengan cara menancapkan semacam tongkat sihir di tengah sungai Elstran yg merupakan pelimpahan dari mata air Fianha. Nah, gak logisnya adalah bagaimana sesuatu di hilir bisa berpengaruh pada mata air di hulu.

Hukum air sudah jelas berlaku bahwa apa-apa di hulu akan berefek ke hilir, tapi tidak sebaliknya. Terserah kalo pengarang mau memainkan kartu sihir di sini, tapi setidaknya logika yg lempeng kudu tetep dijaga.

Logika menjadi semakin bubrah bila mengingat bahwa sabotase ini membuat mata air Fianha menjadi tidak enak diminum, sementara air minum suppose to be diambil langsung dari sumbernya, dan sumbernya dikatakan tidak tercemar!

Jadi, pengarang ingin membuat situasi di mana pencemaran di hilir membuat rasa air di mata air (yg tidak tercemar) menjadi rusak! Sungguh nggak kena ke logika mana pun. Kenapa nggak dibikin saja bahwa mata airnya yang memang disabotase. Toh pengarang dapat saja membuat posisi mata air tersebut berada dalam gua yang jauh di dalam tanah, yang rupanya sudah dikuasai musuh, dan kemudian musuh menancapkan tongkat sihir di situ bla, bla, bla. Itu jauh lebih masuk akal.

Masih ada gegar logika yang lain, misalnya bagaimana jagoan yg terkepung koq bisa begitu saja meloloskan diri dengan berlari (biasanya meninggalkan comrade in arms nya dengan melodrama, "Cepat! Selamatkan dirimu! Kau terlalu penting untuk mati! Dan seterusnya lo pasti dah tau dah! Kalo lo mati sekarang, sekuelnya bakalan gak terbit!") dan seolah-olah di saat itu para pengepung seperti memutuskan untuk berkumpul di satu sisi saja dan memberi peluang pada si jagoan untuk lolos tinggal glanggang colong playu...

Terus Elf Hitam Zatra yang merampok Elyaz di tengah hutan, jebul-jebule adalah seorang jendral intelijen dari kerajaan Elf Hitam. Kalo temen-temen nanya ngapain seorang jendral nyambi jadi perampok di hutan? Gue mungkin cuma bisa jawab: sejak BBM naik, apapun bisa terjadi, man!

Terus ada adegan si Zatra ini, yang mampu bergerak secepat The Flash, menggunakan kesaktiannya untuk melenyapkan debu-debu pasir beterbangan menutupi pandangan, dengan cara berlari cepat mengelilingi debu sehingga debu-debu itu terangkat ke udara dan hilang. Well, satu hal yang lupa dipikirkan, debu kena angin, bukannya menghilang malah makin kacau semuanya, lah! Angin yang mengangkat debu di tengah justru akan menyedot debu dari samping dan seterusnya,...

Need I say more? Cyukyup, kali ye,...

Lalu mengenai dialog yang saya bilang 'corny'.

(BTW, corny itu apa sih, kak?)

Naaa, itu juga yang gue kagak tahu percis. Masak, dialog kayak 'jagung'? He he he, dasar gue sok pakai istilah asing yg gue gak tahu artinya. Tapi terserahlah, buat gue dialog di Enthirea tidak terasa enak dicerna, dan banyak yang terasa dipaksakan. Kalau boleh menduga, sepertinya karena Pengarang terlalu kompulsif menyebut nama tokoh dalam dialog.
Ini buat contoh, tapi imajiner aja ya, supaya bisa hiperbolis dikit :)


"Gunsa kau hendak kemana?"
"Elyaz aku hendak ke tebing itu."
"Gunsa untuk apa kamu ke tebing itu?"
"Elyaz aku ingin mengamati matahari terbenam"
"Gunsa maukah kau kutemani"
"Boleh saja Elyaz"
"Ehm, Gunsa, betapa indahnya matahari terbenam"
"Betul Elyaz, ha ha ha"
"Gunsa apa yang kau ingat"
"Elyaz aku teringat kampung halamanku"


Sampai sini, udah eneg, belum? Berasa sinetron latino gak seh? Apakah setiap bicara kita 'wajib' menyebut nama lawan bicara? Cukup banyak dialog dibabar dengan cara seperti itu, sampai pada porsi ter-notice oleh ku dan membuatku ingin menjedot-jedotkan jidat ke tembok kamar. Sumpah gue nyaris gak percaya kalo yang menulis dialog seperti ini adalah bukan seorang anak SMP berusia 14 tahun bernama Ataka. Wait,... Ataka bikin dialog way better than this!

Kurasa, banyak sekali yang harus diimprove oleh pengarang dalam hal merangkai dialog. Selain kekurang wajaran dalam menyebutkan nama-nama person terlampau sering, sebagian besar dialog dalam novel juga belum berhasil mendeliver emosi dan motivasi dari pengucapnya, dengan demikian dialog tidak berfungsi membangun karakterisasi para tokoh. Oleh karenanya, tokoh-tokoh di novel ini jadi terasa dangkal, terlepas apakah itu merupakan intensi pengarang atau tidak.

Sekedar pendapat pribadi saya aja: menurut saya dialog adalah nyawa sebuah novel, yang sangat mencerminkan ciri khas gaya seorang pengarang. Mungkin saja banyak pengarang bisa menghasilkan gaya yang 'mirip' saat menuliskan deskripsi suatu lokasi, misalnya. Tapi kalau sudah bikin dialog, biasanya ciri khas penulis itu langsung muncul. Dan dialog pun mampu menggambarkan banyak hal, nggak cuma content yang diomongin sang tokoh saja. Energi peristiwa novel banyak berpusar di perihal dialog ini. So, dialog itu puenting, boss. Jadi, kalau seorang pengarang meningkatkan kemampuannya merangkai dialog, menurutku itu sudah berarti si pengarang sedang mendevelop gaya penulisan khas nya.

Buat gue, pengarang yang top banget penulisan dialognya, sampai saat ini adalah Arswendo Atmowiloto. Well, yours may vary. Ga papa. Yang penting bagaimana kita belajar dari para senior itu untuk ngedevelop gaya yang pas buat kita sendiri.

Okeh (tarik napas panjang), selain tiga faktor yang perlu diimprove di atas, kupikir Enthirea adalah sebuah gagasan yang cukup workable untuk sebuah novel. Pengarang nyata-nyata sudah membangun plotnya dengan cukup bagus, antara jalan lurus, tikungan maupun persimpangan semuanya saling terkait dan saling menunjang. Karakter masing-masing tokoh juga cukup terbangun, walaupun belum sampai pada kedalaman yang 'pas' untuk pembaca dewasa; kalau untuk pembaca remaja, udah lumayan cukup, lah. Plot twist di ujung novel pun mampu menimbulkan efek kejut pada diri pembaca dan membuat penasaran akan buku sekuelnya. Padahal, love storynya cukup kacangan sebelum plot twist itu,... hehehe,...

Bicara love story, pengarang memang menyelipkan kisah cinta antara tokoh utama dengan love interestnya, seorang putri Elf berusia 500 tahun (cinta memang gak pandang usia, man!), yang digambarkan sangat platonic, kagak ada passion-passionnya acan. Angle ini menyebabkan saya berpikir bahwa novel ini memang ditargetkan untuk pembaca remaja. Dan menurut gue sih, memang cukup pas lah buat sekitar remaja SMP-an, yang belum kenal apa itu pheromone :).

Demikian pula adegan-adegan kekerasan digambarkan cukup terkendali, dalam arti gak mengumbar darah secara berlebihan sebagaimana sering kukritik di novel-novel bertarget remaja (sic!). Cuma ada satu 'cacat' aja dalam menggambarkan hubungan tokoh Alator dengan calon istrinya Frigga, yang dikatakan "menghabiskan waktu malam dengan Frigga". Well, ga frontal nudity gitu, sich. Tapi gue berharap pengarang bisa sedikit wise untuk menghindarkan kesan "R" rating pada novel yang akan dibaca remaja-remaja SMP ini. He he he,...

Tumben, gue baru menyentuh desain cover dan ilustrasi di bagian akhir review, nih?

Well, untuk desain cover sih buat gue rasanya cuma so-so aja ya. Gak terlalu bagus, tapi masih dalam satu league dengan novel-novel bertarget bocah SMP, dengan warna-warna biru-kuning-merah menyolok. Ada gambar nemesys berbaju zirah yang mengesankan musuh besar, serta gambar empat jagoan berjajar. Di bagian dalam, ada ilustrasi empat jagoan yang sama dengan sedikit keterangan detail. Di halaman belakang ada gambar Peta Enthirea.

Cuma ada satu rasa penasaran saya aja. Desain cover dan ilustrasi dikerjakan oleh Catur Ary, yang nampaknya sudah mengerjakan sebagian besar ilustrasi untuk buku Fantasy yang ada. Dan terutama yang mengerjakan Ledgard, yg pernah aku puji. Pasalnya, koq eksekusi mas Catur di Ledgard beda banget dengan di Enthirea, ya? Di sini kayaknya kurang begitu rapih. Coba aku sandingkan contoh perbandingan berikut:

Gak tahu apa penyebabnya, moga-moga bukan karena honorarium yang beda, ya mas! He he he,...

OK kawan-kawan, demikianlah kesan saya setelah membaca Enthirea buku pertama: Pertempuran Dua Dunia. Satu hal yang ingin aku masukkan sebagai catatan penutup:

Saya tampak cerewet banget mengkritisi aspek logika dan setting dalam sebuah novel fantasy, demikian cerewetnya sampai mungkin saja pembaca (atau pengarang) akan mempertanyakan, "Untuk apa seserius itu? Santai ajalah, yang penting kan novel ini dapat dinikmati?". Seolah-olah saya 'tega' menghancurkan karya orang hanya gara-gara saya nggak puas dengan aspek teknis semacam logika dan setting universe.

Well, moga-moga sikap ini dapat dimengerti sebagai perwujudan perhatian dan caring terhadap perkembangan penulisan Fantasy lokal. Saya berangkat dari pengamatan bahwa tradisi penulisan fantasy lokal belumlah berakar kuat. Apalagi bila kita belajar dari sejarah literasi di Indonesia, genre Fantasy 'practically' baru muncul setelah euforia Harry Potter merambah dunia. Saya inget betul, Gramedia baru menerbitkan terjemahan Lord of The Rings setelah Harry Potter, dan itupun kukira ditrigger oleh produksi Film Lord of The Rings-nya Peter Jackson. Padahal LOTR sudah dianggap karya klasik Fantasy sejak puluhan tahun!

Karena 'kependekan' sejarahnya, dan minimnya referensi, wajar bila masih banyak pengarang kita belum 'grip' banget apa yang disebut dengan kisah Fantasy itu seharusnya, dan masih rancu dengan segala aspek yang berbau 'khayal' semata. Padahal Fantasy pun tetap mengacu pada pakem-pakem dasar penulisan di dalam genre apapun, yaitu bangunan setting dan bangunan logika yang 'utuh' untuk mengantarkan cerita. Perbedaannya hanya pada model bangunan setting & logikanya saja, yang masih terbuka untuk didefinisikan kembali oleh pengarang, dalam batas-batas yang masih bisa diikuti (dan dipercayai) oleh pembaca.

Dan memang, dengan terbukanya definisi, pengarang justru harus lebih serius dalam mengembangkan universe yang diciptakannya, harus lebih hati-hati dan lebih seksama. Tak seperti genre novel drama umum, yang universenya sudah tergelar dalam bentuk jadi, universe fantasy adalah ibarat kertas kosong yang harus secara hati-hati dirancang oleh pengarang. Karena kalo merancang universe-nya 'bolong', itu akan menyedot seluruh cerita ke dalam selokan 'unbelievability' bagaikan bath-tube dibuka sumbatnya. Cerita akan kehilangan kredibilitas dan kehilangan enjoyment.

Anyway, kuliahnya segini aja, gak usah berat-berat. He he he,... Kan lebih enak belajar bersama-sama, sambil nge-review karya-karya lokal yang terus bermunculan, dan berkatnya kita bisa memperbaiki karya-karya yang akan datang. Sebuah proses yang pastinya, menyenangkan!

Buat mas Aulya Elyasa, selamat datang di jajaran penulis Fantasi Indonesia, kita tunggu karya-karya selanjutnya.


Salam,


FA Purawan

Kamis, 12 Juni 2008

LEDGARD: Musuh Dari Balik Kabut (WD. Yoga - 2005)





Finally.

Apanya yang 'Finally'?

Finally untuk banyak hal. Tapi yang pertama kali bangeeet, adalah Finally akhirnya aku selesaikan membaca Novel ini, di Senin pagi 9 Juni 2008 dalam perjalanan bermobil dari rumah menuju kantor. Dan jika mengingat bahwa saya sudah membelinya sejak pertama kali terbit tahun 2005, maka bisa dikuak kenyataan bahwa saya perlu waktu tiga tahun untuk membaca sebuah novel!

Wow. Lama banget? Tentunya jadi lama, bukan karena novelnya segitu panjang ('cuma' 579 halaman, koq. Standar, lah). Tapi karena proses membacanya yg on-off, bahkan sempat dua tahunan nggak disentuh (belum juga lewat setengah buku), baru sejak sebulan belakangan saya terusin dengan niat: finish it! Supaya bisa saya masukin review di blog ini. Bisa lama gak disentuh? Tentu ada sebabnya, yang akan saya ulas nanti.

Finally kedua, adalah akhirnya aku menemukan sebuah Novel yang sudah dikerjakan secara well-done, dengan proses yang well-done, dan hasil akhir yang bisa kukatakan well-done!

Finally ketiga, bahwa akhirnya aku bisa menemukan sebuah Novel yang sedikit banyak bisa dijadikan role model untuk sebuah Novel Fantasy lokal, khususnya bagi para aspiran penulisan cerita fantasy.

Finally keempat, akhirnya aku bikin juga review novel ini, sedikit terlambat sebetulnya, mengingat review sejenis pastilah sudah bertebaran di Internet, secara udah banyak banget yg baca dan nge-review, udah tiga tahun overdue. Tapi, rasanya tak apa terlambat tiga tahun, mengingat Novel ini memang pantas mendapatkan ulasan yang mendalam, lagi, lagi dan lagi,... hehehe,...

Yeah. Ledgard, memang segitu bagusnya. Walaupun saya tidak akan menobatkannya sebagai novel yg sudah 'sempurna' dalam pandangan ideal saya, setidaknya Ledgard dapat saya anggap sebagai yang terbaik di antara karya-karya lokal bergenre Fantasy yang ada saat ini.

Mari kita mulai.

Seperti biasa, tentang pengarang. WD Yoga, sebagaimana menurut beberapa sumber di Internet, adalah pengarang berusia 24 Tahun yang sudah cukup dikenal publik, walaupun konon beliau memilih bergaya misterius. Susah, hehehe. Satu situs menyebutkan bahwa beliau adalah mahasiswa Pasca Sarjana UGM, sementara situs lain menyebutkan nama aslinya sebagai 'Mas Ganjar' (Ganjar Widi Yoga), konon mantan Ketua Forum Lingkar Pena Yogyakarta. Well, so much for being misterious,.. hehehe. Ga papa, lah. I think mas Yoga deserves to be famous, koq, untuk sumbangannya yang sangat bernilai bagi khasanah penulisan Fiksi-Fantasy di Indonesia. Sekaligus sebagai pertanggung-jawaban: BOZ, MANA LANJUTANNYA?? Hehehe,..

Apalagi, tanggapan publik pembaca Fantasy terhadap Ledgard memang cukup positif. Saya sendiri ikut menanggapi positif dalam perspektif yang agak berbeda. Buat saya, keunggulan Ledgard sebagai karya atau WD Yoga sebagai penulis ada dalam proses pengembangan dan pembuatan karya novel itu sendiri. Disebutkan bahwa dalam membangun Universenya, WD Yoga banyak meminta pendapat dan masukan dari sesama penggemar genre Fantasi dalam sebuah milis. Berdasarkan masukan-masukan inilah penulis kemudian menyempurnakan setting dan kisah dalam Novelnya.

Berikut adalah kutipan dari Rumah Buku Liliput (http://liliput.wikidot.com/sas-sus):




Yoga, yang lahir di Yogya pada 11 Mei 1981, melahirkan cikal bakal Ledgard: Musuh dari Balik Kabut di mailing list Fantasi Indonesia. Komentar, kritik, dan masukan dari anggota milis menjadi bahan untuk perubahan dan perbaikan yang terus-menerus dilakukannya.




Nah, proses inilah, teman-temanku, yang SEHARUSNYA ada dalam setiap penulisan Novel terutama yang bergenre Fantasy. Alasannya sangat sederhana. Dalam Fantasy, "We create Worlds", dan tugas untuk membuat sebuah universe lengkap sangatlah tidak ringan. Oleh karenanya kita pasti butuh pembanding-pembanding atau mata-mata yang mengamati setiap sudut, setiap aspek, dalam dunia ciptaan kita agar kita dapat membangunnya secara believable sehingga dapat dinikmati oleh pembaca sebagai suatu dunia yang utuh. Dengan mengumpulkan masukan dari orang lain, kita dapat membangun 'insight' yg lebih baik mengenai universe yg sedang kita susun. Dan menurut saya, itulah inti keberhasilan dari Ledgard.

Bottomline,.... Keseriusan.

Dan selaras dengan jurus "Judge by The Cover", keseriusan pengarang (beserta team penerbitannya) sudah muncul sejak Cover depan. Penggarapan grafisnya serius. Dengan cover berwarna dark blue bergambar pedang berlatar belakang arena pasca perang dan sepasang mata biru (mata felis?) memandang tajam. Indah. Beberapa pembaca berkomentar bahwa covernya kurang relevan terhadap cerita. Kalau menurut saya, cover itu sudah dengan tepat menggambarkan konsep "Musuh dari Balik Kabut" sesuai tema novel. Walaupun, kegelapan dark blue-nya memang mengesankan kesuraman membayang untuk seluruh halaman novel, seolah angle penceritaan novel ini akan gelap juga. Untuk jaman sekarang (2008), mungkin konsep yang lebih menjual adalah ilustrasi cover yg lebih 'grande' dengan imaji pertempuran menggunakan kapal-kapal 'melayang' yang merupakan fitur unik dunia Ledgard. Tapi granted, untuk bikin artwork kayak gitu (secara pantas), di kita belum ada yg mampu.

Keseriusan selanjutnya termaktub di halaman-halaman pertama, dimana pengarang mempampangkan ilustrasi para tokoh dalam novel Ledgard, mulai dari Nash, tokoh utama, Rhavi, Deedek, Vasthi dan seterusnya, termasuk Doggorin, binatang langka Ledgard yg ngga ada gunanya ditampilkan, kecuali mungkin sebagai penghargaan pada ilustrator Catur Ari yang sudah susah payah melukisnya,.. hehehe,... (dan memang detail sekali, bo!)

Untuk ilustrasi Catur Ari ini, saya acungkan enam jempol centaur :), eksekusinya sangat rapi-jali, seperti inilah seharusnya sebuah ilustrasi Fantasy dikerjakan. Namun bukan berarti tidak ada kritik. Kritik saya tertuju pada interpretasi atas sosok Nash, yg menurut saya kurang mengena. Tapi sejujurnya saya tidak terlampau menyalahkan ilustrator, sebab penggambaran karakter Nash oleh pengarang pun menurut saya memang kurang 'pas', sehingga wajar bila ilustrator pun nggak 'dapet'. Untuk tokoh-tokoh lainnya, saya rasa Ilustrator udah cukup 'dapet' deh. Selain itu, ada kritik mengenai desain kostum. Saya merasa keseluruhan kostum dalam ilustrasi itu masih kurang terolah. Saya merasa masih melihat mode/ fashion yang standar rekaan ilustrasi ala Indonesia, yg nota bene minim relevansi ke arah setting novel.

(Apa, sehhh, maksoed loe,...???)

Gini. Coba nonton DVD Lord of The Rings, yang Extended version. Setel bagian "Behind the Scene". Buat aspiran Fantasy, ketahuilah bahwa di bagian-bagian itulah the culture is being built. Salah satu yg membuat saya terkesan adalah interpretasi para filmmaker terhadap penggambaran konsep budaya Rohan (kaum penunggang kuda), bagaimana kultur Penunggang Kuda itu terpatri dalam bentuk-bentuk arsitektur sampai dengan busana dan detail ukir-ukiran baju perang, bendera, dan lain-lain. Lengkap sampai hal-hal kecil. Sehingga, semua 'bentuk' yang ada di dalam budaya tersebut senantiasa memiliki latar belakang kenapa sampai pada bentuk seperti itu. Contohnya busana Princess Euwyn dari Rohan digambarkan terbuat dari bahan yang melambai, ternyata berakar dari kekaguman para Rohirrim terhadap surai kuda yang dengan indahnya melambai saat kuda berderap di padang rumput Rohan. Tidak sekedar mengadopsi bentuk-bentuk kuda, tapi juga filosofi yang terkait dengan sifat kuda yaitu kekuatan yang berpadu dengan kelenturan.

Genre Fantasy sesungguhnya punya 'tugas' sampai ke sana. Saat pengarang menciptakan Dunia, ia juga menciptakan budaya, dan ia pun menciptakan segala perangkat di dalamnya, termasuk busana, dan,.... praktikalitas busana terhadap kehidupan budaya bersangkutan.

Dalam hal ini, penulis kita maupun ilustrator kita (Indonesia), masih harus banyak-banyak ngobrol dan belajar. Untungnya (atau ruginya, karena kita gak pernah lakukan/ peduli ?) kita punya referensi terkaya di dunia, terutama sekali kalau kita mau belajar melalui sejibun artefak budaya yang dimiliki oleh Nusantara. Pernah lihat wadah tempat obat suku Batak? Bentuknya bisa dari perak atau perunggu, berbentuk kerucut melengkung seperti terompet kecil. Memakainya digantungkan di pinggang. Dari situ aja kita seharusnya bisa bicara banyak mengenai kehidupan suku Batak pada masanya, kenapa bisa muncul wadah obat seperti itu, dan seterusnya.

Kembali pada ilustrasi Ledgard, kulihat hal ini lah yg masih kurang terolah. Bagaimana harusnya rancangan kostum seorang prajurit Ifarett? Bagaimana seorang prajurit Ifarett bisa berkelahi sebagaimana yang dilukiskan dalam novel, dengan komposisi pakaian yang seperti itu? Bagaimana fungsionalitas kostum seorang L'Darisai yang katanya prajurit elite? Kostum Ae-Sirri, koq kayak pakaian sutera pendekar China, sementara gaya perang Ae-Sirri lebih brutal mirip Indian. Sebagai prajurit dengan spesialisasi pelempar pisau terbang, saya tidak melihat kantong atau sabuk atau apalah, tempat pisau-pisau itu disimpan. Malah adanya semacam terompet di pinggang (wadah obat Batak? Ups!). Saya nggak mikirin kostum Ae-Sirri harus seperti pasukan wanita Amazon, gitu. Tapi setidaknya semakin dekat jarak pertarungan, harus semakin defensif lah pakaian yang dikenakan. Mungkin semacam seragam tempur dari kulit yang dikerjakan secara indah akan sangat cocok untuk Ae-Sirri. Cantik, tapi menggiriskan, dan memampukan penggunanya bergerak tanpa suara.

Terus-terang saja, bagi saya desain kostum yang digambarkan ilustrator masih tak jauh dari kostum ala tokoh-tokoh negeri dongeng di majalah Bobo. Artinya, belum dipikirkan secara mendalam. Dan sebagai akibatnya, kostum-kostum ini nggak berhasil memancarkan 'excitement' sebuah kisah fantasi sebagus yang sudah dituliskan pengarang di dalam Ledgard.

Hmm,... tugas yang berat buat ilustrator, heh? Terus-terang, iya. Pasalnya, hare gene mana ada ilustrator yg mikir sampe ke sana? Berapa harga jasa ilustrasi buku di negeri dengan budaya adiluhung seperti Indonesia, ini? Tragis. Oleh karenanya, kitapun terpaksa harus maklum se maklum-maklumnya. Toh, yang sudah dihadirkan oleh Catur Ari itu sudah bagus sekali, koq. Sekalipun saya yakin mas Catur bisa saja melakukan eksplorasi sebagaimana yang dilakukan para kreator LOTR, penghargaan terhadap jerih payah itu tidaklah sepadan. So, ada kualitas, ya ada harga, donk,.... hihihi,...

Keseriusan selanjutnya, adalah dalam hal PLOT. Bagus. Plot tertata dengan apik, dengan keunggulan komparatif yang melampaui karya-karya lainnya, khususnya dalam bidang politik. Pengarang dengan fasih mempertemukan berbagai ras dengan kecenderungan politiknya masing-masing, diramu dalam ketegangan politik antar ras di tengah penyerbuan bangsa misterius dari balik Kabut. Bahkan pertarungan politik internal di kalangan bangsa antagonis (yg ternyata tidak homogen) juga tersaji dengan mantap, sekalipun pengarang masih banyak menahan diri untuk menggambarkan bangsa apa mereka dan bagaimana latar belakangnya. Simpang-siur hasrat berkuasa antara tokoh-tokoh prominen di dalam novel ini telah memberikan setting situasi yang 'benar' untuk menjadi alasan peperangan maupun konflik yang terjadi dalam bangunan plot Ledgard. Siapa beraliansi dengan siapa karena apa untuk tujuan apa, semuanya dapat dijalin secara rapih.

Kalau mau dibilang ada kelemahan, mungkin konsep pertarungan kebaikan vs kejahatan yang klasik untuk kisah fantasy, malah cenderung nggak kelihatan. Di Ledgard, perang ya perang, dan yang lebih kuat yang menang. Penyisipan mengenai nilai-nilai 'kemanusiaan' (sub-plot Sicah), juga ngga jelas maunya apa, dan berefek apa pada cerita. Tapi dengan politicking yg terolah baik sebagai napas cerita, saya pikir ga jadi masalah. Susunan Plot cenderung linear. Tapi bumbu politicking-nya itu yang membuat cerita menjadi sangat bergizi. Kayaknya pengarang ini kuliahnya di FISIP, deh :)

Karakterisasi juga menduduki posisi plus, terutama untuk tokoh-tokoh pendamping. Sementara tokoh utamanya, dalam hal ini saya maksudkan Nash dan his object of Interest, Vasthi, menurut saya kurang memuaskan. Ada banyak hal yang membuat saya kurang puas, dan akan saya elaborasi setelah ini. Sekarang saya bicara mengenai konstelasi aktor-aktor lainnya aja dulu. Yang artinya, gak bisa lepas dari membicarakan konstelasi rasial yang ada di setting Ledgard.

Dunia Ledgard telah dengan gemilang menghadirkan beragam ras mitologis, yang saling berinteraksi secara meyakinkan. Ada manusia, ada ras Felis yang merupakan evolusi dari kucing (hehehe, sort of), Centaur yang punya nenek moyang kuda, Latlian yang saya pikir mungkin campuran amfibi/ ikan (?), dan ras dari balik Kabut yang kelihatannya keturunan Lizard. Juga ada pembagian negara-bangsa (sub kerajaan), serta ada kelas masyarakat magi (di sini istilahnya Esvath) yang menguasai 'Kekuatan' (a.k.a The Force) melalui berbagai unsur: Air, Tanah, Udara, Api, Jiwa, Raga.

Yang menarik, disebutkan adanya perbedaan penguasaan Kekuatan antara pihak Ledgard dengan pihak penyerbu, di mana pihak penyerbu memiliki kaum Magistra yang hanya bisa menguasai Kekuatan melalui medium tertentu. Menurut saya latar belakang ini cukup lengkap dan solid, dan terbukti mewujud secara sempurna dalam taktik pertempuran antara dua pihak. Semua keajaiban dapat dijelaskan secara logis dengan menggunakan penguasaan Kekuatan ini. Misalnya bagaimana kapal-kapal laut musuh bisa terbang di angkasa, menciptakan meriam energi dan lain-lain. Perwujudan Kekuatan di tangan Esvath, muncul melalui ilmu-ilmu Esvath Angin, Esvath Air dll yang juga konsisten bahkan sampai pada relasi antara aliran Esvath dengan karakter person yang mendalaminya. Rancak, dan rapih. Kagak asal-asalan.

Ada tokoh-tokoh yang mencerminkan stereotipe masing-masing ras, yang berhasil diolah cukup baik oleh pengarang untuk berfungsi secara strategik dalam mengantarkan plot.

Kemudian adegan action. Keren. Pengarang telah berhasil menghadirkan adegan-adegan peperangan secara detail dan never miss a spot. Action hadir dimana perlu, dengan efek excitement yang kuat dan menimbulkan rasa kepahlawanan. Nilai tertinggi bisa saya sematkan pada adegan-adegan pertempuran yang melibatkan kemampuan/ ilmu-ilmu Esvath, di situlah pengarang paling bersinar. Kembali, kurasa karena setiap kelebihan Esvath itu tidak dibuat-buat atau asal hocus-pocus aja. Kemampuan daya serang selalu berbanding terbalik dengan konsumsi daya yang dimiliki setiap aliran. Perhatikan saat Karra, si Esvath air mengundang 'kekuatan laut dalam' (sebangsa Jin kali yee?), ternyata ada harga yang harus dibayar.

Hanya saja ada sedikit glitch, pada adegan pertempuran klimaks Novel. Pengarang memenangkan pihak Ledgard berkat kehadiran bantuan 'pasukan' Esvath yang terdiri dari dua lusinan lebih Esvath, versus tiga atau empat kapal musuh yang diisi ribuan prajurit, dalam sebuah adegan save by the bell yang seru, mengingatkan pada adegan kejutan Gandalf membawa pasukan Rohan di klimaks Two Towers. Memang, sih, sedikit aja Esvath yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan-serangan ajaib yang dahsyat. Tapi dengan kekuatan begitu tinggi, posisi kaum Esvath jadi terasa canggung berada di tengah-tengah percaturan politik Ledgard. Bayangin aja ada kumpulan orang-orang dengan kemampuan destruktif demikian dahsyat yang berpusat di Puri Pualam. Either menjadi harusnya mereka menjadi penguasa tunggal, atau dibenci/ dicurigai rame-rame, kan?

Tampaknya pengarang harus lebih meng-establish kembali posisi kaum Esvath terhadap warga dunia Ledgard lainnya. Karena posisi yang sekarang kayaknya koq masih kurang begitu 'fit'. Atau, memang ini bakal jadi issue yang berkembang dalam buku sekuel.

Action lain yang seru adalah para prajurit wanita Ae-Sirri dengan pisau-pisau terbang dan teriakan "YIYIYIYYIYI!". Very cool.

Untuk penggambaran aksi prajurit berupa duel pedang maupun kontak fisik, saya merasa ada yang kurang 'dapet'. Rasanya koq ada pakem fisiologis yang terlanggar, apabila saya menyimak deskripsi pertarungan fisik dari pengarang. Misalnya ada adegan menyodok lawan pakai lutut, yang saya rasakan jadi canggung atau mustahil bila saya membayangkan posisi tubuh yang bersangkutan dari gerakan-gerakan sebelumnya. Entah, apakah memang saya yang kurang teliti membaca, telah salah menyimak, atau memang pengarang tidak begitu menguasai olah jurus secara fisik. Tapi secara keseluruhan tidak mengganggu, sih.

Nah, puas bicara komplimen, sekarang mari bicara kritik.

Pertama-tama soal nama. Nash, Rhavi dan Deedek, adalah nama-nama paling 'gak megang' di antara seluruh nama yang ada di Ledgard. Pertama kali baca aja, saya udah merasa 'ogah'. Ga tau kenapa. Yang paling parah, ya Nash itu. Tetep, gue juga ga tau kenapa. Mungkin sekedar teriakan alam bawah sadarku, bahwa 'Nash' doesn't sound like a hero to me, dan too bule. Rhavi, juga sounds like nama anak tetangga sebelah. Entah. Nggak jelek juga, sih. Cuma gak megang, aja. Nama-nama tokoh lain kurasa lebih bagus, dan lebih ada konsistensi. Paling bagus adalah nama-nama bangsa Felis.

Selain namanya gak 'pas', penggambaran karakter Nash juga kurang 'megang' (Ini lagi, gue banyak menggunakan term 'megang' di sini, untuk mengekspresikan 'rasa' yang terasa nggak pas. Karena sesungguhnya secara de-facto pengarang gak melakukan kesalahan apapun!). Berdasarkan input yang diterima pembaca, yang juga sudah diarahkan di halaman ilustrasi tokoh, Nash adalah seorang pemuda yang berpostur langsing tegap, punya kharisma dan tampaknya jago diplomasi. Konon dia juga prajurit Ifarett dengan pangkat pemimpin regu (setara kapten, lah).

Dari tutur kata yang dipilihkan oleh pengarang untuk tokoh ini, saya menangkap karakter Nash sebagai seorang yang politically correct. Segalanya berlaku by the book, bicara juga sopan / formil, sebagai seseorang yang mengedepankan diplomasi sebelum otot. Di sisi ini penggambaran karakter cukup konsisten. Tapi konsekuensinya dalam bayangan saya, Nash tidak cocok sama sekali menjadi seorang prajurit tempur. Paling banter sebagai polisi penjaga keamanan. Buat saya, seorang prajurit tempur, apalagi kelas infanteri yang langsung beradu pedang dengan musuh, harus memiliki semacam kebuasan dalam dirinya, semacam instink survival primitif, just to keep staying alive in the battle. Karakter yang penuh pertimbangan tidak akan selamat lebih dari lima menit di medan darah. Apalagi postur tubuhnya terlalu 'cemen' untuk mengadu pedang. He should be more brawnier, kalo memang mau dikedepankan sebagai prajurit. So, penggambaran Nash bertempur melawan Sicah di akhir Novel, bagi saya udah keluar dari karakter. Di benak saya, Nash tidak memiliki kemampuan tempur sekuat itu. Tadinya saya pikir karakter Nash lebih tepat digambarkan sebagai seorang negosiator, yang mungkin tergabung di keprajuritan dalam fungsi semacam itu. Atau sebagai semacam librarian.

Nash, jadinya merupakan sebuah karakter yang ngga koheren, dan menimbulkan kesan canggung. Padahal dialah Lead-Actor dari Novel ini. Udah gitu, relasinya dengan Vasthi pun bisa dikatakan demikian 'frigid', alih-alih disebut romantis sebagaimana diintensikan oleh pengarang. Dan sialnya, tokoh Vasthi sebagai tokoh protagonis utama pun memiliki karakter yg sama 'plastik'nya, sehingga relasi antara dua tokoh ini menjadi kurang 'menggairahkan' di mata pembaca. Saya tahu, pengarang memposisikan interaksi keduanya sebagai 'malu-malu tapi mau' yang supposedly menggemaskan, tapi jujur saja saya tidak terkesan.

Ada satu contoh adegan sebagai berikut:


Nash memerhatikan sekitarnya. Hampir seluruhnya ditumbuhi pohon-pohon besar. Rumput liar menutupi permukaan tanah dan rumpun bunga-bunga liar tumbuh di sana sini. Sekilas Nash bisa melihat serumpun mawar liar tumbuh di bawah pohon oak raksasa. Beberapa langkah ke kirinya ada beberapa rumpun jejak merpati dan beberapa langkah lagi ada armila hutan. Vasthi berhenti di hadapan sebatang pohon raksasa. Tingginya sampai beberapa tombak dan dahannya membentang lebar, membentuk payung hijau yang menutupi hampir separuh jalan menuju gerbang. Ia meletakkan tangannya di batang pohon tersebut dan membelainya lembut sebelum kembali berjalan.



Perhatikan hal-hal berikut ini:




  • Paragraf ini isinya all deskripsi, just point out the fact

  • Hanya ada 1 frasa yang memiliki konotasi emosi, yaitu 'membelai lembut'

  • Setelah paragraf itu tidak jelas makna yang diintensikan pengarang terhadap adegan ini. Harusnya ada hubungannya dengan Nash yang kebetulan sedang 'malu' untuk mengutarakan sesuatu kepada Vasthi.
Padahal, mungkin saja ini adegan yang cukup emosional bagi para tokoh. Vasthi, dia pulang ke perguruan tanah, dimana ia belajar menjadi Esvath Tanah. Mungkin saja pohon itu punya kenangan khusus atau something. Terus perasaan hati Nash yang maju-mundur itu juga mestinya lebih bisa dikaitkan dengan adegan tersebut. Sayang aja pengarang tidak memberikan sentuhan relevansi dalam adegan ini.

Sampai di sini, adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan kenapa aku sampai meletakkan buku ini selama dua tahun lebih.

Di luar Plot Buildingnya yang tertata baik, Novel Ledgard memiliki kelemahan besar dalam hal manajemen tempo bercerita. Saya pernah mengekspresikan kesan saya membaca novel Ledgard sebagai laksana bersepeda dari Bogor sampai Ancol, yang artinya terasa FLAT (datar). Hal itu saya rasakan banget pada paruh pertama buku (bahkan sebelum mencapai paruh pertama, saya sudah merasa bosan). Saya merasa pengarang menyeret-nyeret saya untuk suatu journey tanpa excitement. Mungkin saja dalam perjalanan itu sang Pengarang menunjukkan beberapa detail yang mempesona, landscape yang mengagumkan, memperkenalkan saya dengan orang-orang baru yang menarik, tapi saya tidak bisa terus-menerus berkonsentrasi pada seseorang yang bicara secara monoton, betapapun menarik topik yang dibicarakannya.

Saya berharap menemukan kejutan-kejutan menyenangkan atau menggairahkan di sini-situ, yang bisa membuat saya keep going on. Itu yang tidak ada pada paruh pertama Ledgard. However, separuh menjelang akhir, baru deh excitementnya melonjak. Itu pun hanya saya rasakan dalam adegan-adegan pertempuran. Begitu jeda dari pertempuran, secara membahayakan tempo bergerak kembali ke arah boring-state, yang untungnya tidak berlangsung lama. Tapi dari sini saya bisa membuat pembandingan bahwa flatness ini merupakan penyakit kronis di Ledgard, yang hanya bisa ditolong oleh kehadiran adegan aksi. Lantas, apa yang membuat adegan-adegan non-aksi terasa datar dan membosankan saya?

Ketika saya mencoba menganalisis, saya hanya mampu menemukan hal ini sebagai jawaban faktor flatness dari Ledgard: Gaya Bercerita. Lihat lagi contoh di atas. Tampaknya, pengarang agak bersikap tertib atau steril dalam berkisah. Nah, mungkin saya udah masuk ke ranah teknik bertutur, yang di satu sisi merupakan ciri pengarang. Jadi apakah saya boleh mengkritisi hal ini? Itu juga menjadi pertanyaan relatif. Tapi dari apa yang saya rasakan sebagai pembaca, Pengarang cenderung memilih cara bertutur deskriptif tanpa emosi. Seperti seorang ilmuwan yang menjelaskan suatu fenomena secara apa-adanya, dengan pilihan kalimat yang 'benar'. Padahal, bila yang kebagian bercerita adalah seorang ilmuwan 'gila', maka hukum gravitasi Newton pun bisa terasa begitu heboh. Mungkin saja pilihan inilah yang menyebabkan Ledgard menjadi begitu membosankan dan akhirnya saya meletakkannya selama dua tahun.

Kan sayang, bila akibatnya, saya kehilangan 'the real juicy part' yang berada di bagian akhir buku? Untung aja saya kemudian memutuskan untuk menghabisinya,.. hehehe. Jadinya, flatness itupun terbayar sudah.

Tapi setidaknya, dari pengalaman flatness ini saya jadi bisa mencoba belajar membandingkan. Apa teknik yang digunakan oleh J.K. Rowling dalam mengarang Harry Potter, sehingga saya bisa melibas halaman demi halaman tanpa merasai waktu? Atau di ujung ekstrim lainnya, bagaimana J.R. Tolkien bisa tetap memukau sementara detail yang ia sajikan jauh lebih rumit dan berlarat-larat, sehingga saat saya menutup buku adalah bener-bener saat mata saya sudah lelah. Bukan karena bosan. Rahasia itu, kawan-kawan yang baiknya kita temukan, agar kita pun bisa mengarang Fantasy sebaik mereka.

Jadi, biarpun endorser mengatakan bahwa gaya bercerita WD Yoga mirip JR Tolkien, please, jangan terlalu diambil hati. WD Yoga memang belum secanggih Tolkien, walau dia sudah memiliki kecemerlangannya sendiri dalam serial Ledgard ini. Dan dari base setting yang sudah dia pondasikan kuat-kuat melalui buku pertama, saya yakin dia dengan relatif mudah dapat membuahkan kisah yang lebih fleksibel di buku-buku selanjutnya (kalo pun berhasil diselesaikan, hahaha).

Ayo, mas Ganjar, buktikan bahwa you bukan one time wonder sebagaimana trend novelis Fantasy kita belakangan ini.

Dan buat para endorser maupun calon endorser, please stop comparing karya-karya ini dengan karya lain apalagi yang kualitasnya jauh di atas. Alih-alih memuji, endorsemen semacam itu malah dapat bermakna seperti olok-olok. Gak rela deh, gue!

Salam,


FA Purawan