Senin, 01 November 2010

BIRU INDIGO (Putra Perdana - 2010)


By FA Purawan


Penerbit: Voila (PT. Mizan Publika)
Penyunting: Nuraini Mastura
Penyelaras Aksara: Arief, Indah N.
Ilustrator: -
Desain Sampul: -
Tebal: 448 Halaman

"Namaku Elang, sopir taksi Surya. Hari ini aku telah menabrak seorang pemuda, dan aku mendapat firasat aneh bahwa aku akan berjumpa lagi dengannya."

"Namaku Amelia, siswi kelas 1 SMU 29. Hari ini aku telah membuktikan bahwa aku bisa menyembuhkan orang lain, dan aku tahu bahwa aku akan melakukannya lagi bila waktunya tiba."

"Namaku Rikko, Aku Junkie, dan aku cuma pengen satu hal. Aku pengen ... BOKER."


Bah, gue demen banget sama line ketiga itu! Hahahah. This author got style, dan gue cukup senang dengan gayanya, walau belum dapat kukatakan bahwa aku sudah puas dengan keseluruhan presentasi bukunya, yang berjudul Biru Indigo, karya pengarang Putra Perdana.


Kembali satu karya Fantasy 'supernatural' hadir dalam khasanah Fik-Fan Indonesia, hampir setipe dengan Novel Iluminasi karya Lisa Febrianti yang pernah diulas di sini. Novel Biru Indigo bercerita tentang tiga manusia yang masing-masing memiliki kelebihan adikodrati tertentu, dimana setting dan plot telah mempertemukan dan melibatkan mereka dalam suatu jalinan kisah. Dan tema 'indigo', yaitu sebutan untuk manusia-manusia berkemampuan spesial, menjadi tema sentral buku ini.

Mari kita lihat sampulnya. Paduan warna biru dan hitam sungguh cantik, dengan ilustrasi gambar Bulan biru berpendar melatar-belakangi suasana malam dan tiga sosok siluet: cewek main biola, cowok yang jadi penangkal petir (dengan sepasang kilat petir dari tangannya--cool), serta satu siluet tak jelas sedang membentangkan tangan, mungkin sedang bernyanyi seriosa. Siluet sayap elang menghiasi sudut kiri atas sampul, dan judul BIRU INDIGO berwarna putih berada di area kaki sampul. Keseluruhan taste-nya cucok deh buat gue, kecuali tambahan sub-judul berwarna kuning di bawah judul yang berbunyi: NOVEL DRAMA AKSI YANG MEMACU ADRENALIN DAN MENGURAI BENANG MERAH CINTA DAN KEHIDUPAN (yaah, kenapa harus bombastis seperti itu? Malah bikin turun kredibilitas.)

Sayangnya, tak disebutkan siapa yang telah merancang sampul cukup bagus ini.

Masih dalam aspek visual, terdapat ilustrasi di dalam buku berupa lambang-lambang yang sekaligus berfungsi sebagai penanda perpindahan POV/ sub Bab. Lambang-lambang itu memiliki hubungan dengan karakter unik masing-masing tokoh. Misalnya tokoh bernama Elang, seorang pembunuh bayaran, memiliki lambang coretan kepala elang. Amelia, yang punya alter-ego bernama Luna, memiliki lambang coretan setengah lingkaran bopeng-bopeng bak permukaan Bulan, sementara Rikko, yang punya alter-ego Awan & Petir, memiliki lambang awan dan lambang petir. Konsep perlambangannya oke, cuma teknis pembuatan gambar lambang, sayangnya masih seadanya. Juga tak ada informasi siapa yang membuat ilustrasi, sehingga gue pun curiga bahwa itu hasil desain dan coretan tangan pengarangnya sendiri.

Cerita bergulir pada ketiga tokoh, mulai dari adegan Amelia naik taxi yang dikemudikan Elang, tanpa sengaja menabrak Rikko (yang lagi berlari dikejar Preman). It's like, fate has gathered them all. Dari situ, kemampuan-kemampuan supernatural bermunculan, mulai dari Amelia yang bisa menyembuhkan luka parah, Rikko yang ternyata punya kekuatan dahsyat (sebagai alter-ego-nya: Petir), dan Elang yang ternyata,... hmm, apa kekuatan spesialnya Elang, ya? Rada ngak jelas. Saya hanya menangkap sosoknya sebagai agen rahasia assassin terlatih. No supranatural powers, kecuali jika kemampuan kecepatan belajar tinggi dianggap punya nilai supernatural.

Harus diakui, pengarang telah membuat sebuah cerita suspens yang tak biasa. Tema spionase diramu dengan konsep indigo, rasanya adonan yang cukup unik dan jeli dimunculkan di tengah percaturan novel tanah air.

Pengarang meramu kisahnya dengan silih-berganti memunculkan POV ketiga tokoh, menggunakan sudut pandang 'aku' masing-masing secara bergantian. Dengan metode ini, cerita berjalan relatif bertempo cepat. Dan lumayan, lah, pengarang mampu mempertahankan tiga gaya yang berbeda sebagai wakil dari tiga POV: Elang yang sistematis dan 'dingin', Rikko sang pemakai narkoba produk broken home yang pintar-pintar bodo, Amelia yang menyimpan kedahsyatan di balik kelembutan dan kepolosan 'anak SMA' nya. Yah, agak mirip karakterisasi Manga, tapi rasa Indonesianya masih terasa kuat, koq.

Namun tak urung, ada cacat dalam permainan 3 POV ini. Karena pengadeganan sesungguhnya berlangsung linear, perpindahan POV membawa konsekuensi pengarang harus 'mengulang' sedikit adegan guna menyambungkan dengan adegan sebelumnya. Contohnya gini:

POV A: Aku melihat si B memegang gelas dan menaruhnya di meja.

di POV B, adegan itu diulang lagi: Kuletakkan gelas di atas meja. Sudut mataku melihat A mengamatiku.

Sebagai pembaca, saya merasakan manajemen penceritaan jadi kayak maju lima langkah, mundur dua langkah, maju lagi lima langkah, mundur lagi dua langkah, begitu. Akibatnya di pertengahan, mulai terasa capeknya dan plot terasa gak maju-maju. Mustinya cukup seperempat bagian awal, atau kurang saja, dibikin pola semacam itu. Saya pikir pembaca sudah cukup teredukasi dengan style tersebut sehingga pengarang bisa lanjut dengan tempo cepat, langsung saja memforward plot. Saya yakin ceritanya bakal lebih terasa lancar.

Sebagai pembuka Bab/ section, pengarang juga menggunakan tanggal sebagai judul. Misalnya: 18 Oktober 2002. Funny, it should mean something, bukan? Sayangnya saya nggak tergerak untuk menganalisis tanggal-tanggal tersebut dalam kaitannya dengan alur. Ya saya lewatin aja tuh. Mungkin terlalu susah buat otak saya yang pas-pasan ini, hehehe.

Secara garis besar pilihan-pilihan adegan, pengarang berhasil memilih alur yang khas cerita laga. Banyak aksi tarung yang cukup mengesankan, sekalipun lebih banyak main di fisik. Ngga ada aksi levitasi, power-power ajaib dan semacamnya seperti di novel Iluminasi (ada sih tapi dikiiit), hanya sekedar daya tahan kelahi dan tenaga yang lebih hebat aja, sebagai perwujudan dari kekuatan supernatural para tokoh. Somehow memang lebih terasa realismenya, dibanding unsur fantasinya.

Satu hal yang saya suka, pengarang berhasil menghadirkan lawan-lawan yang menarik: si Preman Meong (namanya sih meong, tapi orangnya, mengerikan, booo) sebagai lawan beratnya Rikko, atau anggota-anggota pasukan rahasia Garuda Project eks tim operative-nya si Elang, yang bercall-sign nama-nama burung. Juga antagonis utama dimainkan oleh seseorang bernama Andi Vatar (Avatar) yang bersosok juragan perlente dengan kekuatan supranatural yang (masih) misterius (biarpun naga-naganya gue dah bisa nebak). Juga ada Solar yang lebih misterius lagi, apakah sosok ini alter-ego atau iblis betulan.

Ceritanya menganut pakem multiplot. Dari tiga tokoh utama, ada 3 main plot masing-masing, yang somehow saling beririsan membentuk plot besar. Plot Rikko terutama bergelut pada krisis identitasnya sebagai mahasiswa (berkepribadian 'ganda', makanya krisis, hehehe) dan hubungan asmara dengan Amel. Plot Amel selain soal hubungan pacaran 'terlarang' dengan seorang junkie, juga mengenai 'kenangan misterius'nya tentang kehidupan di masa lalu, dan persoalan yang dialami ayahnya dengan boss bernama Andi Vatar. Plot Elang, berkutat pada krisis karirnya dari direktur perusahaan pialang sukses yang seketika bangkrut menjadi sopir taksi, mencari siapa orang-tuanya, yang menyangkut juga pada karir rahasianya sebagai pembunuh bayaran di bawah boss besar (yang ternyata adalah) Andi Vatar.

Yah gita-gitu deh,... Jadi plotnya campuran antara ghost of the past, spionase, dan 'kebangkitan' (kekuatan terpendam). Masing-masing cukup terolah dengan baik, walau saya merasa harusnya bisa lebih mulus lagi. Mungkin itu tadi, kalau alurnya nggak tersendat oleh pengulangan akibat pindah POV. Terus ada juga cabang plot model sinetron, saat si Amel diculik oleh komplotan Boss Vatar, yang tentunya membuat para tokoh yang lain jadi terlibat missi penyelamatan. Yeeeaah, gak terlalu mengesankan, tapi it's working, lah.

Sisi spionase, yang termasuk jarang disentuh oleh pengarang lokal, dimainkan cukup mengasyikkan oleh pengarang. Penguasaan beberapa model operasi pengintaian, infiltrasi, tipe-tipe senjata, sekalipun saya selaku orang awam tak bisa meyakinkan akurasinya dengan kenyataan, tetapi saya cukup terbawa oleh suasana. Satu-satunya yg saya tahu adalah beberapa istilah beladiri, yang saya pikir cukup akurat.

Penokohan, lumayan terbangun. Karakter utama cukup believable, dengan persoalan masing-masing. Satu catatan aja untuk karakter Elang yang di awal merupakan eksekutif bonafide, tak jelas prosesnya tau-tau bangkrut sebangkrut-bangkrutnya menjadi sopir taxi. Well, kemana 'insting bisnis' yang konon dimiliki sebelumnya? Logika sinetroniyah juga rupanya. Seharusnya kemampuan yang sudah berharga tinggi (sehingga menghasilkan kesuksesan finansial di perusahaan yang dipimpin sebelumnya), akan masih memungkinkan dia berprofesi mirip, di tempat berbeda.

Tapi jangan-jangan si Elang memang sengaja memilih jadi sopir taxi untuk memenuhi suatu missi tertentu? Bisa juga sih. Saya menangkap ada indikasi seperti itu walaupun ngga jelas juga. Sisi Assassin-nya Elang memang rada misterius, kalau gak mau dibilang membingungkan. Kita yang mengikuti POV dia pun, bahkan nggak bisa menebak apa maunya si orang ini sesungguhnya. Tipikal spy, gitu kali ya? Hehehe. Tapi sepertinya ini jadi situasi gak nyaman buat pembaca. Udah POV orang pertama, koq masih gak dapet 'rasa'nya. Lain hal bila itu POV orang ketiga.

Perkembangan karakter yang gue suka adalah si Rikko. Nih orang, kalau difilmkan, akan jadi karakter yang asik dan hari-gini-banget. Dia sosok pemuda pemakai narkoba karena keluarganya broken-home, pikirannya serba simpel dan hanya tertuju pada obat doang (Vino G Bastian, bangeeet!), tapi harus memenuhi takdirnya dengan kebangkitan alter-ego Petir dalam dirinya, yang punya kekuatan dahsyat (bisa bergerak secepat hantu, super strength dll). Masalahnya si Petir bisa mengambilalih kepribadiannya, maka dia harus bisa menaklukkan Petir, yang artinya menaklukkan diri sendiri. Metode latihannya melibatkan sosok pendekar aneh asal Jepang yang juga menjadi pelatih bela diri Elang dan organisasi assassin-nya.

(segitu menariknya Plot Rikko, sehingga gue sempat berpikir apa tidak sebaiknya buku ini menggunakan POV tunggal orang pertama si Rikko aja. Sepertinya itu alternatif yang cukup masuk akal untuk mengantarkan cerita ini).

Gimana soal ending? Well, rada gantung, sih. Twist-nya cukup asyik, mengingatkan pada klimaks serial TV 'Heroes'. Jelas sekuel di depan mata, biarpun 'energi'nya koq kayaknya nggak begitu kuat. Memang beberapa masalah utama tampak belum selesai. Buku ini berakhir laksana pengakhiran sebuah episode serial TV macam 'Heroes' itu, yang mememinta penonton menunggu kelanjutannya. Masalahnya, saya sendiri, biarpun ada rasa ingin tahu, nggak merasakan dorongan yang cukup kuat untuk tahu kelanjutannya. So let's think over part yang dikatakan MEMICU ADRENALIN itu? Heheheh.

Nah, jadi, apa yang bikin saya nggak puas dengan keseluruhan presentasi buku ini, sekalipun sebenarnya banyak items favourable yang saya lihat?

Sederhana. Hanya soal layout. Kombinasi lambang-lambang, font jarang-jarang dan spasi ganda, sepertinya membuat buku ini nggak menyatu. Ruang untuk ilustrasi lambang terlalu banyak terbuang. Margin ki-ka terlampau lebar Too much white space, for my taste. Lalu banyak sekali terdapat efek suara DHUAR, CLEP, BLETAKK dan sejenisnya, yang menurut saya udah overdosis, ditambah tanda-tanda ekspresi yang kurang pada tempatnya, misalnya seperti ini:
!!!
atau
"..."
Satu paragraf begitu doang.

Kemudian banyak menggunakan dialog pendek yang memang di satu-sisi membuat tempo mengalir cepat. Tapi pada saat overdosis, jadinya terasa seperti adegan patah-patah.

Dan entah bagaimana saya merasa itu punya dampak ke cerita, sehingga terasa kurang menyatu, sekalipun secara mikroskopis saya merasakan gak ada masalah. Ini seperti masakan nasi goreng di sebuah restoran, yang, biarpun bumbu-bumbunya udah pas, dimasak dengan cara yang benar, tapi gara-gara potongan timunnya, irisan cabenya, ukuran dan model piringnya, senyum waitressnya, lama tunggunya, secara 'misterius' menyumbangkan rasa kurang puas saat mencicipinya.

Aneh? Iya ya, urusan karya sastra emang gak seprediktif matematika. Sampai kini, saya juga gak tahu bagaimana rumus yang paling mak-nyuss. Paling bisa yah, antisipasi semuanya yang kita bisa, bikin, terus lempar ke pasar. Gimana pembaca menilai.

Kalau saya selaku pembaca menilai Biru Indigo, well saya akan bilang: Riset bagus, karakterisasi oke, presentasi kurang oye.

Tabik,


FA Purawan

32 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Pertamax~

Kalo gw nangkep dari pembahasan ini, kyknya Biru Indigo ini bukannya jelek dari segi teknis ato cerita tapi lbh ke arah kurang memuaskan di aspek2 lainnya. :-? Am I rite?

Soal kover, gak bisa komentar byk krn justru buat gw kover kyk gitu kurang "wah" utk memikat hati gw mengambil dr rak buku.

Hehe.

Anonim mengatakan...

Font judulnya ringbearer alias Lord of the Ring ya?

Anonim mengatakan...

Wow... kayaknya masuk daftar buku yang musti dibaca :D

Soal si Elang, emang bener sih. Perusahaannya kan bangkrut. Dengan pengalaman dia, dia seharusnya bisa kerja di perusahaan lain. Kalo ga sekuritas, setidaknya bank atau jadi manager finance di perusahaan apa gitu. Kecuali kalo dia dipecat dengan tidak hormat (mungkin penggelapan uang atau apalah itu) dan reputasi dia jatoh, jadi dia ga bisa kerja di industri keuangan lagi. Tapi itupun bisa aja kerja di bagian lain, setidaknya masih desk job.

Tapi yah, kayak mas Pur bilang, mungkin ada hubungannya dengan profesinya yang sebagai spy/assasin. Kayaknya saya musti baca sendiri nih :D

Nice review, mas :)


Adrian

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Juun, kalo buat aku kovernya menarik banget, kerasa banget nuansa misteriusnya yang bikin penasaran.

Dan, like I said di GR, aku hampir banget beli buku ini, karena satu aspek lagi, yaitu sinopsis (atau blurb) di belakang bukunya. Menurutku sinopsisnya bikin aku penasaran banget, ada apa dengan ketiga tokoh itu dan gimana plot mereka bakal bersilangan.

Kayaknya aku rada lemah ama tipe plot beginian.

Hmm, kayaknya bagus juga ni buku buat jadi bahan pembelajaran, minimal buat belajar penokohan (dari segi Rikko) dan juga dari sisi plotting nya.

*nambah daftar buku yang mau dibeli*

Putra Perdana mengatakan...

Wah Mas Pur, makasih banget loh mau ngerivew buku saya. Keren banget reviewnya, saya bahkan nggak menyadari beberapa cacat-cacat yang udah saya buat kalo nggak ada yang bilang. Saya jadi belajar banyak dan berusaha untuk nggak mengulangi kesalahan yang sama di sekuelnya.

-Putra Perdana-

asnwords mengatakan...

@putra perdana
ini rencananya mau ada seri lanjutannya?
*penasaran.co.id

Putra Perdana mengatakan...

@asnwords

Tunggu aja sekuelnya, sedang dalam proses. Penerbitan buku itu kan prosesnya panjang dan lama

-Putra Perdana-

Anonim mengatakan...

Wah, wah, wah, udah ada lagi.
Asik review-nya.

Heinz.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

Untuk gaya penceritaannya kuakui memang cukup berbeda dari kebnyakan novel fikfan yg q bca, tp menurutku yang bikin agak gregetan itu di bagian fantasinya yang kurang banyak.. Untuk mas perdana, di sekuelnya nanti, aku request adegan fantasinya yang agak banyakan dikit ya, biar lebih seru gitu.. XD

okey okey..

Mantoel Toeink mengatakan...

Si Heinz gak semenggebu2 biasanya. Ada apa gerangan ini? :D

@Vina: Org2 berkemampuan inhuman msh terasa kurang fantasi? :-? Hmm, kadar fantasinya hrsnya dinaikin seberapa byk mnrt elu? *gw sekedar penasaran :D*

Hehe.

Cheppy mengatakan...

@Juu, mungkin maksud Vina tokoh-tokoh di buku ini kemampuannya kurang 'Fantastis'. Emang sih, gue pikir juga begitu. Tapi di sisi lain itu membuat situasi settingnya terasa lebih realistik.

Anyway itu pilihan dan otoritasnya si pengarang, hehehe

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@juu : gak usah langsung dinaikin 100%... 30% aja dulu.. XD soalnya kalo dibandingin keadaan fantastis dan keadaan biasanya.. itu perbandingannya 30 : 70, pertarungan fantasinya entah kenapa terasa dikit.. mungkin dari kovernya memang menjanjikan petualangan yang penuh adegan fantastis macam orang yang bisa ngeluarin petir *ehm, waktu pertama ngeliat kovernya kukira gitu lho.. hehe*, tapi dari awal cerita nyampe pertengahan aku malah lebih banyak ngerasa novel ini menceritakan rutinitas kehidupan dan konflik para tokoh.. yang diselipin teka-teki misterius.. dan akhirnya teka-teki itu terjawab satu persatu seiring berjalannya cerita.. untuk adegan fantasinya memang udah bagus.. tapi ya itu.. aku ngerasanya masih terlalu sedikit.. :)



@mas pur : sebenernya dari awal baca nyampe tengah-tengah aku belum nemuin sisi fntasi novel ini *maklum.. loadingku agak lelet*, pas diulang baca.. baru ketangkep 1-2 bagian yang mengandung unsuur fantasi bercampur teka-teki.. *itu bagian awalnya*, mulai dari tengah nyampe akhir.. baru deh dapet adegan tarung campur fantasi.. yaa.. walau menurutku.. gak terlalu banyak.. :)

Anonim mengatakan...

apa ada gak ya novel fiksi fantasy yang tidak terpengaruh JRR Tolkien , CS Lewis, JK Rowling, Dungen n Dragons, Heroes, Final Fantasy, Twilight, Paulo Coelho, dsb dsb...???

kita sebagai rakyat indonesia yang tercinta ini memang agak kesulitan mengembangkan daya khayal hingga perlu pemicu atau inspirasi dulu dari luar.

but that's my humble opinion
saya berharap sekali ada novel fiksi fantasi yang tidak membuat kening berkerut atau membenturkan jidat ketembok

Mantoel Toeink mengatakan...

@Vina: Pas ngeliat kovernya gw malah mengira ini ceritanya bykan misterinya ketimbang fightingnya. :)) Beda org beda interpretasi juga yah? :D :D Makanya pas tahu kalo ceritanya ttg org2 dgn skill super, gw menganggap itu lbh "fantasi" drpd yg gw harapkan. :D

@Mas Pur: Mgkn kejarannya si pengarang emg fantasi yg gak terlalu jauh dr realitas supaya pembaca bisa lbh dpt feelnya dan bisa berandai2 "wah, jgn2 ini bnran ada nih?" Taktik ala The Da Vinci Code? :D

@Anonim: Hmm, sejauh ini udah pernah baca apa aja yg membuatmu menganggap fikfan lokal gak lepas dari "inspirasi" para pengarang yang kamu sebut?

Hehe.

Cheppy mengatakan...

@Anonim, baca dong, Garuda-5 (wkwkwkwk).

Dijamin ga ada pengaruh luar :p. Tapi soal jedot jidat, gue ga bisa jamin soalnya itukan jidat elo, hehehehe.

Piss ya boss :)

Mantoel Toeink mengatakan...

Wheeww, Mas Pur gencar mempromosikan karyanya. :D :D Tapi gw cukup sepakat kalo Garuda 5 diklaim sebagai fikfan lokal yg gak terlalu "terinspirasi" dari pengarang2 yg disebutkan. :D :D

Hehe.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@juu : hehe.. kesan pertama tiap orang memang gak selalu sama.. kalo aku pertama kali ngeliat kovernya udah nangkep sih bakal ada adegan-adegan fantasinya.. *petirnya euy..* XD tapi ya itu, gak nyangka aja ternyata isinya terikat dengan realitas kehidupan yang sangat pekat.. aku malah ngira ceritanya bakal kayak heroes.. sekumpulan orang.. dengan kekuatan super.. memecahkan misteri bersama.. adegan tarung ala x-men... tapi ternyata..

tetetetettt!!! gak salah 100% sih, cuma beberapa perkiraanku ternyata meleset.. ^^a

tapi soal realitas kehidupan yang gak jauh dari kehidupan sekarang.. aku setuju 100%.. XD
mudah dicerna juga sih. hohoho..



@anonim : sekedar menambahkan.. selain garuda 5 nya mas pur, ada juga beberapa novel fikfan indo yang ngambil tema sejarah budaya asli indonesia.. judulnya sih aku lupa.. tapi waktu ke toko buku kemaren aku banyak nemuin novel2 fikfan indo yang idenya memang menyangkut adat dan kebudayaan indonesia..

Fiko mengatakan...

Gwe dah baca buku nya.awal2 gwe bingung gara2 alur nya.sampe2 gwe balik ke awal and ngapalin tanggal nya.hehehe.

terus terang buku nya ringan,ga lebay,dan gwe suka sisi spionase nya.mungkin karena kurang banyak baca novel spionase kali ya. :D

yang bikin kesel pas ending nya.nanggung abeeeesss.kirain pembaca suruh lanjutin cerita nya sendiri.eh ternyata pas baca blog ini,bakal ada lanjutannya.

@Mas Putra Perdana
Ga sabar mode on nieh.diangkat ke pilem mantap kaya nya nieh.dah kebayang pemain2 nya.

Rikko ---> Vino Sabastian (pas banget kaya kata mas pur).

Amel ---> bingun ma yang ini. asmirandah kali yahh.nge fans siyh.hahahha

Elang ---> Iko Uwais (jago brantem)

Roberto ---> indro warkop kali ya (soale kebayang nya roberto tu orang nya botak licin plus kumis tebel)

Andi Vatar ---> bingung,sapa yah..???

Anonim mengatakan...

Mas putra, aku setuju dengan komentar dari mas fiko diatas, menurut penilaianku buku ini termasuk sangat bagus.sayang bagian endingnya aja sangat buruk. endingnya sangat nanggung dan tidak ada tulisan apapun yang bertuliskan "end", "fin" atau "bersambung".
saya sampai sangat bingung, saat halaman akhir polisinya bilang tokoh andi vatar telah tewas, loh jadi yg di televisi itu apa???

Anonim mengatakan...

mas Pur, ini pertama kalinya nih ikutan komen di blog ini...
pengen tahu, gmana sih caranya buat judul yang menarik dan yang g terkesan 'maksa'???
habisnya, kalau sedang bikin cerita, selalu aja kendala yg plg besar tuh dari pemberian judul...
btw,, review nya oke-oke bgd.. jadi dpt masukan" yg oke...

salam,

sekar

eri mengatakan...

terima kasih tas postingnya..
senang membaca di blog anda..
kunjungi jg bahan bacaan saya :
jurnal ekonomi andalas

Cheppy mengatakan...

@Sekar,

Gimana bikin judul??

Wah, kayaknya itu pertanyaan tersulit. Soalnya untuk bisa bikin judul yang 'bagus' seorang pengarang harus dualllleeeeeem banget pemahaman akan bukunya sendiri.

Dan level gitu bisa susah, sekaligus bisa gampang (mungkin aja udah 'klik' sejak awal).

Mungkin aku hanya bisa share strategi aja. Kamu harus netapin dulu, mau 'menggugah pembaca' yang mana dan dengan cara kayak apa,

Contohnya kalau kamu ingin membuat pembaca remaja cewek tertarik, jelas probabilitas judul yang menggunakan kata "Cowok Ganteng" akan lebih tinggi dibanding "Lelaki"

Atau mau jadi pengundang kontroversi? Gunakanlah kata "Birahi" alih-alih "Asmara"

Atau kalau mau menyasar penggemar cerita detektif atau sejenisnya, gunakan kata "Misteri"

Yah, strategi-strategi itu harus in-line dengan target pasar kamu, maka kemungkinan besar juga akan jadi ga terkesan maksa (akan jadi 'maksa' kalo kamu ngetarget ke segmen yang gak pas, kan?)

Satu lagi sharing soal judul, kayaknya good idea jika selama mengarang, gunakan aja dulu Judul sementara, yang biasa disebut dengan WORKING TITLE. Tujuannya sekedar kasih kamu arah dan gak bingung, dan fokus pada proses penulisan.

Soalnya, pengalamanku, penerbit sering minta judul diganti dengan something yang sesuai dengan pemikiran marketing mereka. Di situ kamu baru pusing deh mikirin judul. Tapi gapapa yang penting kan naskahnya udah finish, hehehe.

Salam,

FAPur

Anonim mengatakan...

kerennnnn..novelnya keren sangat...membuat kita larut dalam cerita itu dan berimajinasi..luna..elang..awan..petir..T.O.P BGT...kalo bisa difilm kan aja nih..hehehehe

calvin mengatakan...

ini novel oke. tapi penggunaan kalimat one-liner bikin eksekusinya agak kurang efektif. tapi overall good.

Anonim mengatakan...

kata saya mah bagus ah....meski endingnya bikin bingung :(

Sriwahyuni mengatakan...

wah, salah satu buku favoritku :)

buku ini sangat mengagumkan... aku penasaran dengan kelanjutannya. bagaimana ya dengan andi vatar??
endingnya nanggung banget... bikin penasaran aja.

sukses selalu buat Putra Perdana.. semoga buku keduanya sukses :)

salam

Hyorikazu mengatakan...

bweehh,, hebat komentarnya mas.. XD

ini buku yg paling saya suka loh~
sewaktu saya baca buku itu y rasanya mengalir cepet gitu aja karena seru..
ternyata anda memperhatikan ampe ke detail2 itu yah :D

bener nih, seharusnya rikko yg jg org k 1 aja drpd si elang. Cz rikko lebih dapet klo bwt pemain utama
dan ini nih yg bikin saya jerit2.. kenapa endingnya kayak 'bersambung'
huwaaa kayak sinetron aja! D'X

tapi gapapa deh, lain kali mas Putra Pradana lanjutin novel Biru Indigo'nya yah. Biar ga nanggung nih
hehe :D

Anonim mengatakan...

woghh, sy kira pada masi anak2 tokohnya gara2 kovernya

ide lambang2 itu keren ya

dan 3 masalah jadi satu itu juga unik , menurut sy yang awam ini hehe

sy nemu istilah2 baru kayak spionase.. apa sih tuh ??

makasih review nya kak Pur, ini buku ada komedi nya yah?? kalo nggk tebel2 amat n kalo ada harga cuci gudang kyaknya sy baru mau baca :D #dzigh

soalnya bukan tipe sy ini, sy lagi nyari dark fantasy ._. #halah

-AC-

atika elsafina mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
atika elsafina mengatakan...

g da sambungan bukunya mas bro ?

bukunya menarik bwat baca. tapi akhirnya keg gantung gt..
pa memang sperti it ?

dwita aryanti mengatakan...

ga ada lanjutannya ta ituu?? kan nggak puas kalo baca setengah2..




haduh rikko sama amel gimana yaaa... kalo emang belum keluar lanjutannya buruan keluarin dong... ga sabar pengen tau lanjutannya

Monica.

Anonim mengatakan...

Coba ngerivew Supernova krya dewi lestari. Setelah q baca sih critax jg punya sifat fantasi. Keren deh bahkan masuk jajaran best seller sampai sekarang.