Kamis, 14 Januari 2010

ILUMINASI (Lisa Febriyati - 2009)


By FA Purawan

Penerbit: Kakilangit Kencana
Editor: Syaffrudin Azhar
Desain Sampul: Circlestuff Desugn
Tata letak: Jeffry
Ilustrator: Damuhbening
Tebal: 433 halaman


Tahun 60-an, suatu 'revolusi' dalam kebudayaan telah terjadi, merubah pandangan umat manusia terhadap konsep 'agama' maupun 'keberagamaan'. Lahirnya 'flower generations' saat itu bukan saja merupakan perlawanan politis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah (Amerika, terutama) yang terlalu aktif berperang di sana-sini, namun juga merupakan pendobrakan 'spiritual' terhadap lembaga-lembaga agamawi yang dianggap terlampau dogmatis. Pemberontakan itu antara lain terwujud dalam perilaku ekstrim semacam freesex dan drugs, yang dianggap mampu merepresentasikan simbol-simbol perlawanan terhadap nilai-nilai kemapanan (atau puritan, yang pada saat itu banyak bersumber dari kalangan agama), dan sebagai bentuk kekecewaan bahwa ritual agama yang ada tidak memberikan jawaban atas pencarian spiritual kaum muda pada saat itu.

Setelah bergenerasi berselang, di tahun 2000-an, mulai muncul pembelajaran bahwa freesex dan drugs gak membawa kita kemana-mana, kecuali dapet AIDS dan sakaw, hehehe. Tapi pencarian spiritualnya terus berlanjut, walau tak lagi dicari melalui penggunaan drugs. Dan pemahaman spiritual mulai bergerak dari ranah badaniyah ke ranah internal yaitu pemikiran dan pendalaman terhadap diri. Dalam kebudayaan modern sekarang ini, frasa mengenal 'diri sejati' atau 'mengaktualisasikan diri' menjadi kalimat yang populer, whatever it means.


Walau teteup, sih, proponent freesex gak juga ketinggalan jaman dengan menjual paham baru, dari yang "free to choose your sexual partner", menjadi "free to choose your sexual orientation". Dan ndilalah itu tetap selaras dengan konsep 'aktualisasi diri' berbasis definisinya masing-masing, heheheh. Namanya juga jualan ideologi, bisaaa ajah!

Wait, aku gak lagi ngomongin queerlit, lho, dengan opening ini. Mari kita kembali pada pemahaman spiritual di tahun 2000-an dengan konsep internal 'aktualisasi diri' tadi. Ini pandangan inti dalam spiritualis new age, dimana mereka percaya bahwa puncak spiritualitas manusia ada di dalam dirinya sendiri, dan melalui sebuah proses pencerahan, maka bungkus itu akan tersingkap dan manusia akan memasuki suatu pengertian baru yang menempatkan kita dalam 'maqom' yang lebih tinggi, sampai akhirnya kita semakin mendekati "Sang Pusat" dari segalanya.

Pandangan yang menurut sejarahnya bersumber dari spiritualisme timur macam India yang kemudian menyebar dalam bentuk Buddhisme, Taoisme, Zen, apa lagilah. Metode-metode semacam ini kemudian memasuki alam budaya Barat melalui kaum flower generations yang menekuni tradisi Yoga, meditasi, bahkan Martial Arts. Pada ujungnya, saat mulai diterima oleh masyarakat Barat yang kreatif, mulailah muncul pada produk budaya tertinggi mereka, yaitu Science, Literatur dan Film.

Dewasa ini kita mulai menerima banjir produk budaya bertemakan spiritualisme new age, terutama melalui Film, sebab kita bangsa yang kurang suka membaca dan lebih suka jadi penonton. Tengok film-film seperti Flatliners, Trilogi Matrix, Heroes dan sebagainya.

Particularily, serial Heroes, yang tampaknya secara khusus menjadi inspirasi dari salah seorang pengarang lokal yaitu Lisa Febriyanti, yang menuliskan novel ILUMINASI. To sum up, Iluminasi adalah our take on New Age Spiritual concepts yang mengambil setting mirip dengan serial Heroes. Dan sebagai karya yang berusaha mengangkat isu spiritual dalam bahasa kekinian, rasanya Iluminasi cukup bisa berbicara.

Iluminasi menceritakan keberadaan manusia-manusia "istimewa", the X-Men, manusia super, yang memiliki kemampuan extra-ordinary seperti kemampuan mind-control, levitasi, terbang, bergerak cepat, memancarkan listrik, memanjangkan anggota tubuh (cewek, BTW, so gak usah mikir terlalu jauh:)), meciptakan api, punya sayap di punggung, kemampuan regenerasi sel, dan lain-lain. Setting di Indonesia, dan dalam cerita ini, manusia super itu bergabung dalam dua kelompok: The White Lights (WL) dan The Pure Black (PB). Dan seperti kelompok elit di manapun, keduanya bersikap bermusuhan, dan konon permusuhan itu sudah terjadi sejak beribu tahun lamanya.

Manusia-manusia istimewa ini bisa menjadi istimewa berkat keberhasilan mereka mengejawantahkan potensi istimewa yang sudah terkandung dalam kode genetik mereka, melalui sebuah usaha pencerahan, atau, yup: Iluminasi.

Tokoh cerita, Ardhananeswari atau dipanggil Ar, adalah salah seorang manusia istimewa yang belum terbangkitkan. Dan mengikuti pakem 'the chosen one', si Ar ini menjadi minat dan rebutan bagi dua seteru WL dan PB, karena konon dia menguasai suatu kekuatan yang unik yang sudah dinanti-nantikan oleh para manusia istimewa sejak ribuan tahun. Plot buku ini kemudian mengalir menceritakan proses kebangkitan Ar berikut pendalaman kisah latar belakang para tokoh, saling keterhubungannya dan akhirnya berklimaks di manifestasi kekuatan Ar yang menjadi pusat konflik WL & PB.

Sebuah cerita yang menarik, dan plot yang cukup rapih. Maksud saya, pengarang gak semata-mata niru konsep serial Heroes dan cuma ngambil kulitnya aja seperti banyak dilakukan oleh 'fantasy' writers. Dunia Iluminasi adalah dunia yang punya alasan cukup solid. Para karakter memiliki kekuatan ajaib yang fungsional terhadap karakternya sekaligus terhadap cerita. Dan para karakter ini pun masih sangat terlihat sisi-sisi kemanusiaannya sekalipun mereka bukan 'ordinary' human. Memang ada kemiripan dengan karakterisasi serial Heroes, terutama dalam jenis-jenis kekuatan ajaib yang dimiliki, dan dalam asal muasal kekuatan tersebut, yaitu dari DNA. Tapi karakter-karakter di Iluminasi bergerak, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Dan itu membuat novel ini tak tampak sebagai copy-cat dari konsep Heroes.

Kemudian pengarang juga meramu ceritanya dengan konsep-konsep new age spirituals, yang walau mungkin terdengar 'baru' dalam khasanah literatur fiksi lokal, tak lagi asing bagi pembaca di Barat. Dalam hal ini karya Fiksi-Spiritual serial Celestine Prophecy karya James Redfield. Ada konsep-konsep yang merupakan adopsi dari Celestine Propjecy, seperti Sinkronitas ('kebetulan' yang mengandung makna), Dimensi-Dimensi yang eksis di 'atas' Dimensi kita, dan lain-lain.

Singkatnya paduan setting yang solid dan plot memikat, membuat buku ini memiliki dasar kualitas yang cukup bagus. Untuk penggemar ide-ide filosofi-spiritualis New Age, buku ini akan cukup diapresiasi berkat kandungan filosofisnya yang cukup tergarap. Masukan adegan-adegan action extra-ordinary yang cukup menghibur dan cukup 'masa-kini', menjadi bumbu yang menarik dan cukup mendatangkan suspense menghibur bagi pembaca.

Lantas apakah menjadi buku yang bagus menurutku? Well, satu aja yang kupikir menjadi aspek minus (walau bisa saja hal ini gak berlaku terhadap pembaca lain), yaitu 'styling', yang meliputi penggunaan (atau revitalisasi, tepatnya) kosa-kata non-umum dalam bahasa Indonesia. Pengarang tampaknya berambisi mengorek-ngorek sudut kamus bahasa Indonesia yang jarang dijamah orang, mencoba menemukan kata-kata baru di balik timbunan debu, dan mencoba memasangkannya di novel untuk membuat bahasa novelnya lebih 'bergaya' (dan nyatanya, pun, ada yang terbeli dengan style ini, sebagaimana endorsemen berikut: ...didukung kekayaan terminologi, perlambang, dan tuturan bahasa yang cantik... -Darminto M. Sudarmo, di cover belakang.)

Apakah aku terbeli? Well, sini aku list-kan dulu sebagian kata-kata 'new age' yang berhasil digali oleh pengarang:

- (air teh) yang hangatnya mulai lindang
- berkelindan
- lindap
- segali jenggut
- ripuh
- repih
- repah
- selingkung energi rindu
- hatinya berpesai-pesai
- asa nya perlina
- rancak yang berganduh pada samsara
- nanap memandang

dan lain-lain yang nggak lagi aku bisa temukan saat ini, hehehe.

Dengan pilihan kosa-kata semacam ini, tentunya teman-teman sudah bisa menduga gaya bahasa seperti apa yang digunakan di novel tersebut. Yak, mengarah ke puitis. Bahkan sampai ke dialog pun, 'puitisasi' itu masih terasa juga, sehingga menurutku beberapa part dialog itu rasanya tak wajar diucapkan di setting sehari-hari, kecuali dalam sinetron yang menggunakan efek kamera soft-focus, dengan suara mendesah, gitu deh. Dan catat, Novel ini masih jauh lebih enak dibaca dibandingkan novel L@n@ng yang --kira-kira-- menerapkan kiat yang sama.

Sorry, kalo pengandaian saya jelek dan gak tepat. Soalnya ga biasa nonton sinetron. Ho-oh, sumpe loh.

Sehingga, semuanya menjadi masalah selera. Tapi untukku, yang jelas jadi masalah koneksi, sebab gaya bahasa itu membuatnya jadi berjarak dengan pikiranku, dunia novelnya jadi kurang bisa kumasuki.

Kemudian aspek styling lainnya yang kurasakan cukup aneh, adalah kenapa pengarang harus menggunakan inisial untuk nama kota yang sebenernya sudah sangat obvious sehingga pembaca udah pasti ngerti kota mana yang dimaksud. Pulau B, Kota J, Kota B,... gue inget ini gaya novel aliran jaman baheula, taun 70-an, kali ya? Atau biasanya di artikel-artikel Oh-Mama-Oh-Papa atau Cerita-Cerita-seru.com (ups...) Entah apa maksud dan tujuan pengarang, sebab gak usah disingkat, tulis aja Pulau Bali, Kota Jakarta, Kota Bandung, pembaca nggak akan protes, koq.

Sementara untuk naming, pengarang malah mencampur Istilah Inggris seperti White-light (tapi pemimpinnya disebut: Kamitua. Ga cucok deh!), Pure Black, Ordinary, dll. Buatku, istilah Inggris di dalam novel ini gak terlalu 'masuk' ke dalam keseluruhan setting, terkesan tempelan untuk membuatnya ber-kekinian aja. Tapi gak parah juga, sih. Nama karakter dibuat singkat --umumnya satu kata, misalnya Shaman, Zero, Pijar, Agni, Speedy-- dengan alasan yang cukup pas, bahwa nama-nama itu merupakan pengganti nama asli mereka, dimana nama baru mengandung pengertian sesuai dengan kekuatan istimewa mereka (yah, gak semua mengikuti aturan itu, sih. Tapi itu adat yang berlaku di kalangan manusia istimewa).

So, nothing too bad, also nothing too special juga. Mengalir dan cukup pas, lah.

Catatan terakhir, adalah mengenai sampul.

Sampul yang di desain Circlestuff Design menampakkan sebuah pohon meranggas dalam kegelapan yang dijatuhi berkas cahaya dari sebuah lubang di langit ("Anjrit! Pakulangit!" gue hampir memaki, hehehe). Seberkas idea mengenai kata 'Iluminasi'. Tadinya aku bersikap netral aja terhadap desain sampul ini. Tapi sewaktu aku membuka sampul dalam dan melihat ilustrasi 'Lompatan 1' (Istilah lompatan digunakan sebagia pengganti istilah BAB, which is interesting), sebuah pendulum yang digambar oleh Damuhbening, aku hampir terlompat beneran. Sh*t! Harusnya lambang ini-nih yang dijadikan cover! Keren banget!

Well, I guess, itu hak prerogatifnya penerbit, aku ga boleh ikut campur. Tapi bagi yang paham kekuatan simbol dalam memasuki alam bawah sadar manusia (baca: konsumen), keberadaan lambang itu mestinya jangan dianggap remeh.

OKEH, jadi kesimpulannya, novel Ilumnasi ini sesungguhnya merupakan perwujudan idea yang keren dan sangat relevan untuk masa kini. Opini saya, kalau saja kemasannya bisa dibuat lebih masa kini --termasuk menyederhanakan dan mengkinikan gaya bahasa puitis dan et cetera itu-- maka novel ini bisa punya posisi yang lebih menohok pasar. Mbak Lisa, selamat atas karyanya. Moga-moga sekuelnya lebih seru!

Salam,


FA Purawan

19 komentar:

calvin mengatakan...

akhirnya ada novel yang kayanya oke... cari ah buat bulan depan :D

Anonim mengatakan...

Ehm, heroes versi Indo ternyata.
Tema menyelamatkan duniakah? Ato kick the bad guy only? Ato spiritual?
Tapi ngemeng-ngemeng Heroes juga aku ga gitu demen. Season 1 cuma betah ampe pertengahan, udah gitu eneg ampe belakang. Soalnya ternyata manusia spesialnya begitu bejibun. Misinya juga udah gag fokus. Villain super jago n keji serta Hero yang agak-agak bego.
Lalu season 2 dan 3-nya....Udah gag ngikutin lagi. Udah ill fill.
Kok malah jadi curhat heroes sih?
O ya, ini season (baca: sekuel) jugakah?

Salam, Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Baru kelar baca ini, dan menurutku sih, not bad. a Quick Review untuk nambah pendapat Om kita:

Buatku sih, buku ini masih lumayan nyaman dibaca. Aku bisa baca dalam 4 kali buka. Walau begitu, gaya bahasanya bukan jenis yang akan kusebut puitis. Pengarang menyandingkan kata yang jarang dipake dengan istilah-istilah hare gene macam 'sinkronisitas'.

Entah kenapa paduan ini membuatku merasa para "asa perlina" itu seakan mendayu-dayu dangdut, sementara kata-kata canggihnya terasa pretensius.

Ceritanya sendiri bagus di plot twist soal siapa yang jahat dan siapa yang baik. Barangkali ini alasan utamanya aku terus membaca. Tokoh-tokohnya aku nggak terlalu suka, gara-gara:

1) Ada arketipe Tuan Putri yang ditaksir semua cowok;

2) Ada clone Edward Cullen: "vampir" selalu harus digambarkan emo dan tersiksa atas keabadiannya. Masak sih segitu menderitanya, kalau dia selamanya cakep dan muda?

Menurutku, kalau orang itu abadi, kuat, dan selamanya cakep, lebih masuk akal kalau dia berpikir seperti tokoh Dr. Manhattan di Watchmen.

Sedangkan tema new age-nya... hmm... Kayaknya moral cerita cuma datang di bagian menjelang akhir: perjalanan fisik menuju dimensi lain bisa dianggap sebagai metafora bahwa pada intinya, untuk membuka pintu menuju pencerahan, manusia cuma perlu terus mencari kebijaksanaan (menemukan "Sophia".)

...yang kemudian membawaku pada kesimpulan: kalau cuma ini yang mau disampaikan penulis, berarti 80% buku ini berisi rebutan cowok/cewek, sedikit pertarungan ala X-Men, dan dialog tentang teori energi dan relativitas yang kelihatan canggih, tapi hampir selalu diakhiri dengan kalimat, "Kau harus menemukan jawabannya sendiri."

Heh. Ngeles dulu ahhhh...



Luz B

Cheppy mengatakan...

@Heinz, ada indikasi ke arah sana...

@Luz, soal the 'uber-female' itu ya? bener juga sih. Kayaknya pegarang memposisikan si tokoh sebagai persona yang menguarkan daya tarik kuat kepada lawan jenis.

Konsepnya jadi kayak betina yang mengeluarkan feromone yang membuat jantan lupa diri.

Well, I can see kenapa lo jadi kurang sreg :) Terlalu chicklit state of mind, gitu ya?

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur...

Bukan perkara chicklitnya Om, hehehe. Aku juga doyan chicklit dan teenlit tertentu, dan nggak segitu malu-malu mengakui itu.

Gubraksnya aku ini gara-gara novel mengusung tema 'tinggi' macam kesadaran spiritual, tapi konfliknya berputar di masalah petty jealousy yang disajikan ala sinetron.

"Cowo A suka sama Cewe B tapi cewe B sukanya sama cowo C, sementara itu Cewe D suka sama cowo A dan cemburu karena liat si cewe B ciuman sama cowo A, sedang alasannya si Cewe B cium si Cowo A cuma karena mau "menghentikan" si cowo A (dan sebenernya nggak usah pake dicium... didorong juga kan bisa tuh, atau diteriakin. Ngapain juga dia pake cium-cium sih, padahal tau itu di depan umum?)"

Premis tinggi,
eksekusi Cinta Fitri.

Go figure.



Luz B

Cheppy mengatakan...

@Luz,

Ah gue baru keinget part Cewe B mencium Cowo A itu,... yes, adegan paling No-Very...

wkwkwkwk

mulinnuha mengatakan...

Wow, sepertinya novel ini bisa dibilang lumayan ya, Om?
Pengen baca, soalnya aku penggemar Heroes (sampe ngoleksi dari semua episodenya) :D
Btw, ini tamat-satu-buku atau bakal ada lanjutannya?

Cheppy mengatakan...

@Mulinnuha,

Keren koq, asal jangan terus dibandingan apple to apple sama seri kesayangan kamu itu, hehehe.

Cerita sih tamat, tapi ada beberapa situasi yang bisa dikembangkan menjadi sekuel, tergantung pengarangnya sih...

Salam,

aninalf mengatakan...

Duh, turn offnya kayaknya di yang Luz bilang: soal percekcokan sepele.

Euuh, but caracterization-wise, this really had potential... Kinda annoyed by the stupid tendency that made it end that way.

Afandi M. mengatakan...

wah... lagi-lagi klo drama kayak superhero gini kok jagoannya gak jauh2 ma jagoan2 lain yang udah2 (baca: x-men & temen2nya)

Jadi bingung ama cerita yang ditampilin di novelnya; masalah percintaan yang gak berujung itu atau masalah misi utamanya?

ps: kok banyak banget yah cewe-cewe yang suka c cullen yg pribadinya kyk gitu... hue mendayu-dayu booo...

Ditunggu riview mas Pur ma mba Luz (klo gag salah :D), tp btw yg satu lagi mana yak (baca: Clover Hazuki)

Cheppy mengatakan...

@Affandi, Clover Hasuki berkonsentrasi di code programmingnya :)

Salam,

Afandi M. mengatakan...

@mas pur: code programming apanya mas? blognyakah? perbaikin html-nya?

Cheppy mengatakan...

@Afandi, yup, ngecek, ngetest dll, hehehe

Anonim mengatakan...

Luz B, bisa tahu kontak lengkapnya si beliau ini? Siapa tahu bisa memesan tulisan-tulisan kreatif untuk penerbit (suka deh, gaya tulisannya) :D

info kontaknya mungkin bisa dikirim ke sini?
fairitopia@gmail.com

Terima kasih yang banyak sekali.

F

Luz Balthasaar mengatakan...

@ Anonim "F"

Bisa aja sih, tar aku kasi, tapi bolehkah minta nama anda juga? Biar gag bingung nyapanya, gitu, hehehe.



Luz B.

Anonim mengatakan...

@Luz B

Waw, balas-balasan komen di thread yang rada ga tepat, jadinya. Aku dipanggil Fa, boleh. Aku editor di sebuah penerbit, juga anggota sebuah tim outsource naskah. Biar kesannya nggak sok misterius banget, mungkin ngobrol via chat aja. Adakah YM-id dari Bapak/Om Luz B yang bisa ku-add?

Terima kasih, sekali lagi, yang banyak sekali. Biar lebay.

Fa

calvin mengatakan...

mengutip komen cepat dari luz: ini novel sinetron abis :))

saking gregetannya, gue ampe skip ke halaman paling akhir buat tahu si ar jadian ama siapa terus balik lagi ke halaman 200-an buat ikutin jalan ceritanya. cinta segi banyak. hahaha.

Lisa Febriyanti mengatakan...

ehhm..sebenarnya ga ingin ikut nimbrung ke berbagai komentar dari pembaca Iluminasi. Tapi rasanya ketika malam ini googling lagi tentang Iluminasi, saya bisa menyatakan, resensi dan perbincangan ttg Iluminasi di blog ini paling kusuka, terutama 'geregetannya' hehehe...thanks guys. saya ga berkomentar lebih banyak lagi, karena setelah novel diterima pembaca, seluruh kesan adalah milik pembaca...

Salam,
Lisa Febriyanti


izky mengatakan...

Saya masih nyaman bacanya. Yup, meskipun ada bahasa yang gk biasa di pakaai. Tetapi yang sedikit mengganjal bagi saya ialah ketika 2 kubu ini melakukan pertempuran di ranah sembilan. Kox ada aturan mainnya ya?, kagak boleh main keroyokan dan itu dapat kesapakatan 2 kubu. Mungkin penulis agak terpengaruh dengan pertarungan pencak silat. Tapi seandainya seperti itu, kan malah banyak kasus yang main keroyokan