Rabu, 09 Februari 2011

XAR & VICHATTAN: Seri Ahli Waris Cahaya BukuDua - Prahara (Bonmedo Tambunan - 2010)

Original review by Dewi Putri Kirana
Fine Tuned for Fikfanindo by FA Purawan and Luz B.

(Hosted by Guest Faeries: Pamanus Sotoyus dan Ceweka Sinisa)


Penerbit: Adhika-Pustaka.
Penyunting: Arie Prabowo & Leony Siregar
Ilustrasi Sampul: Imaginary Friends Studio; Hendryzero Prasestyo & Eko Puteh
Perwajahan Sampul & Isi: Lewi Djayaputra
Tebal: 425 halaman plus Glossarium


Pada suatu siang, DPK, seorang pembaca XAR & VICHATTAN: Prahara terlihat mendaki pegunungan berbatu. Berkali-kali ia merutuk gelisah, lalu memeriksa peta. Tiga hari sudah berlalu sejak ia meninggalkan Desa Cimea. Padahal, pedagang bertubuh tinggi besar dan membawa pedang-yang menjual peta itu-berkata bahwa Hutan Eros harusnya sudah tampak setelah dua hari perjalanan.

Sebentar kemudian DPK menemukan sebuah gua kecil di sisi tebing. Menurut peta, gua itu seharusnya bukan gua, tapi sebuah cabang jalan biasa. Biarin deh, pikir DPK. Ia sudah sangat telat. Sang pengarang, Bonmedo Tambunan, pastilah sudah lama menunggu. Dan kalau gue kelamaan, takutnya Om Boni keburu disantap ingenscorpus. Hiii~!


Lagipula di depan pintu masuk gua itu ada kerangka berpakaian longdress merah dengan sulaman Aha**ea**a--sepertinya seragam semacam pendeta dari Summeria kuno, sedang berdiri memegang obor. Tak perl dipertanyakan bagaimana pemakai longdress yang malang itu bisa berada di sini. Cuma perlu korek api, penerangan sudah tersedia. Gampang.

Dengan santai DPK mencomot obor dan masuk ke gua. Kristal-kristal berkilauan memantulkan cahaya obornya, menghasilkan pemandangan indah. Sebuah relief keren banget terbentang di sebilah dinding, menggambarkan seekor rusa perak dan dua orang remaja perempuan. Latar belakangnya biru adem, dengan tulisan judul di bawahnya: XAR & VICHATTAN: Seri Ahli Waris Cahaya BukuDua - Prahara.

Wow, pikir DPK sambil menyapukan jari pada nama di bawah relief itu: Hendryzero Prasetyo dan Eko Puteh dari Imaginary Friends Studios. Pantes aja karya mereka sampai diabadikan jadi prasasti gini!

Tiba-tiba terdengar bunyi batu yang berisik. Pintu gua menutup! DPK berlari secepat mungkin ke mulut gua, tapi sia-sia. Ia terperangkap!

Panik, ia membuka peta untuk mencari jalan keluar lain. Jantungnya serasa berhenti berdegup. Gambar pada peta itu telah lenyap, digantikan tulisan hitam. “KENA KAU CLEOPETRA SAYANGKU!!! MWAHAHAHA!!! LOVE, DEDDY CORBUS-IER."

What the--?"

Dengan jengkel DPK membanting petanya. Sial! Pantas saja peta itu murah, dan pantas saja si pedagang sepertinya tidak asing. Terutama jelas sekarang kenapa mata belok si pedagang itu tak henti-henti berkedip padanya. Tapi yang paling mengerikan adalah: Deddy Corbus-ier ternyata jatuh cinta padanya!

Noooooooo~!!!

“Ehem, excuse moi~!"

Sepotong suara bernada sotoy tiba-tiba terdengar. Dua peri aneh muncul entah dari mana. Satu berwujud seorang pria setinggi jengkal dengan bentuk tubuh sebulet granat M69 dan sayap-sayap laler ijo. Satunya lagi berwujud cewek dengan dandanan lebay dan sayap-sayap tipis ala nyamuk DBD.

“Ehem, ehem,” kata Om Peri Laler dengan suara angkuh berwibawa. “Wahai Mbak-mbak! Ketahuilah bahwa kau baru saja memasuki wilayah kekuasaan Pamanus Sotoyus, pimpinan para peri penguasa elemen sotoy!”

“Dan saya, ponakan Pamanus,” timpal Peri DBD. “Ceweka Sinisa, pimpinan para peri penguasa elemen sinis!”

Baik Pamanus maupun Ceweka berpose dramatis-lebay ala Power Rangers dipadupadan koleksi fashion terbaru Barbie™ Lebay-Fairies Summer Collections.

“Wahai Mbak-mbak Nyasar! Nyatakan tujuanmu!"

“Eh, enak aja! Saya ga nyasar, tau!” Kata DPK sambil misuh-misuh. “Saya ini mau ketemu Om Bonmedo Tambunan, mau ngucapin selamat atas terbitnya XAR & VICHATTAN: Prahara, buku kedua dalam seri Ahli Waris Cahaya terbitan Adhika Pustaka. Kalau saya nggak salah, buku pertamanya, yang berjudul Takhta Cahaya, udah di-review oleh sesepuh blog Fikfanindo beberapa waktu silam, deh...”

Pamanus bersiul-siul pura-pura bego. “Pikpanindoh? Bonmedo Tambunan? Sapa tuh? Ga pernah dengar.”

“Sama,” sahut Ceweka. “Adhika Pustaka juga apa sih?”

DPK mengerundel. Sayangnya dia nggak punya raket listrik, jadi dengan terpaksa dia harus menahan-nahan diri dan sedapat-dapatnya menjelaskan maksud dan tujuannya kepada kedua peri geje itu.

“Pokoknya, saya ingin mengajak kita semua bersama-sama menyampaikan ucapan selamat yang sebesar-besarnya kepada Om Bonmedo Tambunan, karena telah berhasil melahirkan sekuel dari buku pertamanya, hal yang masih sangat jarang terjadi di dunia penerbitan buku fiksi fantasi di Indonesia ini. Saya juga salut kepada penerbit Adhika Pustaka, yang mau dan berani mengambil resiko, sehingga kisah Xar dan Vichattan ini masih bisa terus berlanjut, tidak terhenti di tengah-tengah, terkubur, dan akhirnya terlupakan begitu saja. Gitu lho!”

Kedua peri geje itu saling pandang. Pamanus lalu berdehem. “Oh, jadi buku cerita toh Mbak?"

“Ya iyalah!”

“Emang ceritanya soal apa?” kata Ceweka.

“Oh, di buku kedua ini, dikisahkan keempat ahli waris cahaya, Antessa, Dalrin, Gerome dan Kara, harus berpencar untuk melaksanakan tugasnya masing-masing demi menghambat pergerakan tentara kegelapan yang dipimpin oleh dua Panglima Maut, Shiba dan Corbus. Asyiknya ya, masing-masing dari ahli waris cahaya itu menghadapi rintangan dan masalah sendiri!

“Antessa misalnya, harus menyucikan Kristal Utama yang telah dicemari oleh Frigus Acerbus, sang ratu peri yang membelot pada kegelapan. Terus Dalrin diserahi tugas untuk menyucikan Ruang Hati Xar, sementara Gerome, ditemani dengan sang roh cahaya, angsa anggun Amor, harus mempertahankan desa Galad dari serbuan pasukan kegelapan. Dan terakhir Kara, bersama Tiarawati Gelda, menyelidiki isi Ruangan Terlarang di Perpustakaan Vichattan, berharap untuk dapat menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk mengalahkan kekuatan kegelapan!

“Kok,” kata Pamanus, “kayaknya standar yah?”

“Emang kayaknya pengarang mempertahankan formula plot dari buku satu,” kilah DPK. “Beberapa kelompok protagonis melaksanakan beberapa misi pada saat yang bersamaan, dan hasil dari satu misi akan mempengaruhi keberhasilan misi yang lain."

“Trus bedanya dimana?” sela Ceweka.

“Gini Mbak Peri. Bedanya, kalau di buku satu, plot terpecah menjadi dua misi, yaitu perjalanan ahli waris cahaya untuk mendirikan lagi kuil cahaya, yang harus berhasil demi menyukseskan pertempuran Xar dan Vichattan melawan pasukan kegelapan. Di buku dua ini, plot dibagi menjadi empat, yang saling terkait satu sama lain, dan juga penuh dengan twist-twist tak terduga."

“Nggak terduga? Ah, masa sih?"

“Ya jelas. Beberapa kali, waktu saya pikir satu plot sudah akan mencapai penyelesaiannya, dengan luwes (dan tega) pengarang melemparkan konflik lain, yang menyebabkan timbulnya plot lain. Jamin deh, ini bakal bikin kita penasaran--ini sebenernya mau diakhiri seperti apa konfliknya?”

Pamanus tiba-tiba mengepak-ngepakkan sayap lalernya dengan gaya siap-siap mau nyotoy, sambil bergumam-gumam. “Hmmm... kayaknya saya pernah dengar deh buku yang kayak gitu... di mana yaaa....”

“Kalau menurut saya sih,” kata DPK lagi, “sekilas, jalinan plot di buku Prahara sedikit banyak mirip dengan plot buku terbitan lain dari Adhika Pustaka (uhuk-uhuk-Akkadia:GerbangSungaiTigris-uhuk-uhuk). Entah memang pengarang terinspirasi oleh rekannya atau tidak, we may never know...”

Pamanus bisik-bisik ke Ceweka, “Psst, benernya, maksud gue, lempar-lempar konflik itu mekanisme standar. Been there, done that. Dan kayaknya itu dah harus kudu wajib given di dalam novel fantasi yang action-packed .”

“Iya, dah gitu bilang katanya mirip dengan plot novel lain pula,” balas Ceweka. “Jadi kalau gitu istimewanya di mana dunk?”

“Heeehh! Saya dengar kalian ngomong apa!” kata DPK sambil bakar Baygon lavender. “Jangan ngeremehin deh! Saya tahu, pengarang memang hampir selalu menggunakan formula ketegangan hampir-mati-tiba-tiba-ada-yang-nyelametin atau hampir-kalah-tau-tau-ada-yang-nolongin di tiap babnya. Namun hal ini tidak menimbulkan sindrom deus ex machina, karena dengan jeli pengarang telah menggambarkan bagaimana penyelamatan dan pertolongan itu sudah diusahakan dari awal konflik, sehingga tidak berasa ujug-ujug datang dan ujug-ujug saving-the-day!”

“Ah, masa,” bisik Ceweka ngenye’. “Bagian pengkhianatan seorang tokoh tuh. Kok mendadak dia jadi berkhianat karena cintrong. Bukannya ga masuk akal sih. People do crazy things for love, but in fiction, even crazy has its limits to be believable. Kalau Antessa aja bisa tenang dan bijak, saia kok nggak bisa nge-buy kalau Es-Xar dengan disiplin mental setinggi P**** bisa runtuh iman cuma gara-gara cinta masa lalu banget, apalagi karena dulu dia bisa memilih karir daripada *****s. Kayaknya ujug-ujug keluar karakter, gitu.”

“Itu mah situ aja kali yang kelewat banyak meminta,” gerutu DPK. “Yang pasti, di buku ini, konflik yang terjadi juga terasa semakin dewasa. Kalau di buku satu terasa segala permasalahan yang terjadi lebih seperti cerita untuk anak umur sepuluh tahun ke atas (dengan kata lain, hitam dan putih sangat jelas bedanya), di Prahara nuansa abu-abu dan dewasa mulai terasa lebih kental."

Mendengar kata “dewasa”, Pamanus langsung bermuka cling dan buru-buru bertanya. “Wuaduh, dewasa maksudnya gimana tuh? Akhirnya ada bagian S&M starring Shiba gitu?”

“Ya kagaklah, Om Laler Ijo! Ini tetap buku remaja, tapi konfliknya lebih dalam, gitu! Dalrin, misalnya, harus mengatasi kekecewaannya kepada Cahaya, karena membiarkan ayahnya gugur. Plus, dia juga harus membenahi hatinya yang rupanya mulai jatuh cintrong kepada Kara. Gerome juga harus menghadapi perasaan dendamnya atas Shiba, karena kemarahan itu justru membuatnya tak mampu menggunakan sihir Cahaya. Bahkan Antessa, yang selama ini terkesan paling dewasa, tenang dan bijak, harus menghadapi kehilangan yang sangat besar. Di antara mereka semua, mungkin hanya Kara yang jalur misinya halus mulus tanpa rintangan perasaan yang berarti."

“Lah, terus? Cuma gitu aja?

“Ya nggak. Nuansa dewasa tadi juga terasa dari perilaku tokoh-tokoh selain para ahli waris cahaya. Corbus sempat menuduh Shiba sebagai ‘mainan’ Khalash, sementara Shiba sendiri terang-terangan membalas bahwa Diagoni (seorang penyihir kegelapan) adalah pelacur Corbus. Belum lagi adegan mesra-mesaraan yang ada di sepertiga bagian akhir cerita, jelas bahwa cerita ini ditujukan untuk usia dua belas bahkan empat belas tahun ke atas (yang sebenarnya jauh lebih tepat, karena di buku satu, telah disebutkan bahwa Antessa sebenarnya berumur tiga belas tahun, Dalrin empat belas tahun, dan Gerome serta Kara sebaya dengan mereka). Jadi dari tingkat kedewasaan dan kerumitan plot, Prahara jauh lebih tepat sasaran dari pada buku Takhta Cahaya.”

Ceweka langsung full-on gossip mode. “Terus, terus? Gimana? Siapa jadian ama siapa? Shiba jadian sama Gerome nggak?”

“Ya nggak sih Mbak, padahal kayaknya asyik yah, hihihi,” DPK kakak-kikik. “Yang dominan disini kuma kisah cinta antara Dalrin dan Kara. Ini berpotensi menjadi bumbu cerita yang sangat sedap, hanya dibahas sebentar, bahkan hilang sama sekali di akhir cerita!”

“Yaaah, jadi batal gosip dong!”

“Iya. Sayang banget deh. Dalrin yang tadinya tak bisa mengenyahkan Kara dari pikirannya, menunjukkan kekhawatiran yang sama besarnya kepada Antessa, ketika Kara dan Antessa sedang menghadapi bahaya bersama-sama. Kalau memang kisah cinta ini dimaksudkan sebagai plot device yang cukup penting, seharusnya digambarkan Dalrin lebih mengkhawatirkan Kara daripada Antessa.

“Ahem, ahem!” Pamanus batuk. “Kok saya jadi dicuekin ini yah?"

“Ehehehe, maaf Om. Maklum, obrolan penggosip,” tukas DPK. “Tapi novel ini nggak cuma seru buat para penggosip saja. Ada bagian pertempuran pasukan kegelapan dan cahaya yang dahsyat. Sayang, saya menangkap kesan kalau pasukan kegelapan ini terlalu mudah kalah! Tentara kegelapan, yang tersusun dari berbagai macam makhluk kegelapan yang mengerikan, belum lagi diperkuat penyihir dan ksatria kegelapan, ditambah para Panglima Mautnya, bisa begitu saja tumbang di tangan para ahli waris cahaya beserta kedua roh cahaya. Memang sih, mereka mendapatkan bantuan dari banyak pihak, termasuk Vichattan, namun tetap saja rasanya kekalahan kegelapan tersebut terlalu mudah."

“Jadi ga seru dong?”

“Iya, tapi tenang saja. Di akhir cerita terdapat plot twist yang cukup tak disangka-sangka.”

“Apaan tuh?”

“Ya... saya nggak bisa kasih bocoran dunk. Yang pasti, entah ini kabar buruk atau kabar baik, ending buku ini jelas-jelas menunjukkan adanya sekuel. Marilah kita semua berdoa supaya buku ketiga seri Ahli Waris Cahaya ini bisa lahir dengan selamat, tidak prematur atau bahkan digugurkan dalam kandungan!”

“Lha, kok digugurkan, Om?” Ceweka mulai ngasal dengan suara sinetroniyah. “Gimana sih? Tanggung jawab dunk!”

“Lha, kok saia yang tanggung jawab?” timpal Pamanus dengan sama ngasalnya. “Situ dong, toh situ yang lebih Buas dari saia!”

Sementara mereka berdebat, DPK facepalm, dan mengingat-ingat apa lagi yang mau ia sampaikan pada Om Bonmedo.

 “Oh, iya. Mengenai karakterisasi. Kok di buku ini karakter antagonisnya malah terkesan lebih dalam daripada protagonisnya, ya? Tiap-tiap tokoh kejahatan diceritakan memiliki alasannya masing-masing untuk membelot pada kegelapan. Kalash misalnya, sang Pangeran Kegelapan, yang di buku Takhta Cahaya hanya digambarkan sebagai orang jahat, bersuara berat, dingin, kejam, bengis, dan lebih senang berada di ruangan yang gelap daripada melihat cahaya. Yah, tipikal bos musuh sebenarnya. Tapi, dengan adanya cerita background kenapa Kalash sampai membenci cahaya, karakternya jadi jauh lebih manusiawi, lebih nyata dan memiliki kedalaman. Begitu juga dengan Corbus dan Shiba, yang background-nya bahkan terkait langsung dengan misi para ahli waris cahaya.

“Karakter-karakter protagonis sebenarnya memiliki sifat, perilaku dan backgroundnya masing-masing yang berbeda satu sama lain, menunjukkan bahwa pengarang telah meluangkan banyak waktu untuk membuat masing-masing karakter tersebut. Sebut saja Tiarawati Lahana yang tangguh, pemberani namun lembut. Ka-Xar Ron dan Ren bersaudara yang ceria namun dapat diandalkan. Tiarawan Keltus yang tua dan bijak, Tiarawan Calborn yang narsis tapi minim ekspresi (kombinasi yang luar biasa sebenarnya)”

Sebagai Peri dengan kemampuan telisik-kalbu level 12, tentu saja Pamanus dan Ceweka bisa mendengar suara hati DPK itu, dan langsung nyeletuk, “Memang kami kombinasi yang luar biasa gitchu loh Mbak, hihihi.”

DPK mengambil Sofell dan memasukkannya ke pistol air. Sambil menembak dua peri rese yang nggak jera-jeranya gangguin dia sejak tadi, dia berpikir lagi kalau tiap-tiap karakter protagonis sebenarnya punya potensi menjadi karakter yang likeable. Sayangnya, tokoh-tokoh ini tidak diceritakan cukup dalam, sehingga karakterisasi mereka tidak tergali cukup jauh sehingga pembaca kurang bisa bersimpati dengan mereka. Tapi barangkali masalahnya karena pengarang tidak ingin membuat bukunya terlalu tebal, sehingga mengorbankan penokohan para protagonis sampingan.

Dia juga suka banget nama-nama para pimpinan peri, yang tampaknya merupakan sedikit plesetan dari bahasa-bahasa asing, seperti Latin atau Inggris, dari elemen yang diwakilinya. Contohnya Ignis Flamma, yang kedua namanya sama-sama berarti Api. Unda Aqua, yang artinya sama-sama Air. Terranum Humus, yang artinya Tanah, dan lain-lain. Sekali lagi, menurutnya itu berarti pengarang punya keseriusan dan upaya yang tidak sedikit untuk membuat dan membentuk karakter-karakter tersebut.

“Heaaaaaaaa!”

Pamanus mengelakkan semprotan air Sofell dengan slow-motion nan anggun, dan menendang pistol air dari tangan DPK. Ceweka menyusulkan serangan dengan nyemplungin pistol itu ke sungai bawah tanah. “Hahaha!” dia ketawa. “Sudah cukup puja-pujinya! Sekarang waktunya nyinissss!!”

Tanpa bisa dihalangi, sang pemimpin peri elemen sinis menyengat DPK dan menginfeksi yang bersangkutan dengan virus flu sinis. Akibatnya DPK kejang-kejang, dan ketika bangun, dia jadi ngenye’-in aneka typo dan kesalahan buku yang sebelumnya dia puja-puji.

“Mengenai penulisan, masih banyak terjadi kesalahan di buku Prahara ini. Ada tanda petik yang tidak pada tempatnya, percakapan yang harusnya ditulis miring tapi tidak, dan masih banyak lagi. Kesalahan yang cukup mencolok adalah bagaimana di bab pertama pengarang menuliskan Tiarawati Lahana berambut merah, sementara di beberapa bab setelahnya, rambutnya digambarkan berwarna coklat. Kesalahan juga terjadi di bab-bab akhir, ketika Pietas, yang adalah sang roh cahaya berbentuk rusa, salah ditulis namanya menjadi Amor. Bahkan kesalahan ini terjadi cukup berulang-ulang, membuat kenyamanan membaca jadi terganggu. Mudah-mudahan, pengarang bisa memperbaikinya di edisi revisi nanti.

“Di beberapa bagian lain, kata-kata yang ditulis rasanya seperti terjemahan langsung dari bahasa Inggris. Contohnya adalah Antessa jatuh terduduk di bagian belakangnya, yang sepertinya adalah terjemahan langsung dari “Antessa fell on her behind.” Sebenarnya lebih baik ditulis sebagai Antessa jatuh terduduk di pantat, atau kalau mau yang tidak terlalu vulgar (pemakaian kata pantat sepertinya tidak cukup cocok untuk cerita remaja), Antessa jatuh terduduk juga sudah cukup.

“Juga ada dialog “Petra, aku tahu kamu lebih besar dari ini.” yang sepertinya adalah terjemahan langsung dari “Petra, I know you’re bigger than this.” yang sebenarnya lebih bagus kalau dituliskan sebagai “Petra, aku tahu kamu lebih baik dari ini.” Mengingat background pengarang yang lama bermukim di luar negeri, sangat mungkin kalau dalam menulis, pengarang memang lebih cenderung menggunakan penulisan bahasa Inggris terlebih dahulu, baru kemudian diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia.”

“Hahaha, bagus, bagus!” kata Pamanus Sotoyus sambil nge-high-five sama Ceweka Sinisa, melihat virus sinis berhasil sukses. “Berikutnya giliran gue!”

Pamanus Sotoyus terbang ke udara dan menukik bak pesawat tempur. Dia melenting dari jidat DPK bak peluru mental. DPK terjatuh, dan begitu bangkit lagi, langsung terjangkit penyakit sotoyitis.

“Bagian yang sempat membuatku membatin “What the...!???” adalah bagaimana para penyihir Vichattan mengawasi jalannya pertarungan antara para ahli waris cahaya dengan pasukan kegelapan di sebuah layar putih raksasa yang ditempatkan di halaman kastil Vichattan. I mean, come on, proyeksi pertarungan di layar raksasa itu kan hasil karya para biarawan dan biarawati Xar, yang telah diceritakan mampu membuat proyeksi astral diri mereka (secara tiga dimensi) di tempat lain yang berkilometer-kilometer jauhnya dari tempat tubuh mereka berada. Kenapa juga para Es-Xar itu tidak memproyeksikan pertarungan tersebut dalam bentuk tiga dimensi, di hadapan para hadirin Vichattan? Rasanya efeknya akan terasa lebih magis dan megah, daripada sekedar, yaaaahhhh, nonton layar tancep bareng-bareng!

“Muwakakakaka!” Pamanus Sotoyus tertawa. “Akhirnya kita dapet anak buah baru, wakakakaka!"

“Iyah, Bener Om! Sekarang enaknya kita suruh apa yah?

“Heeem, apa yaaa?”

Sebelum Pamanus Sotoyus sempat ngasih komando, tiba-tiba dinding gua dijebol oleh seorang pria berbadan besar yang memegang pedang raksasa berwarna hitam. “CLEOPETRAAAAA!!! OH, CLEOPETRAAAA!!! DIMANA KAU SAYANGKU CINTAKU KASIHKU?!?!?!

“Itu Deddy Corbus-ier!” Ceweka berteriak panik.

“Sial!!!” rutuk Pamanus.

Dan memang sial bagi kedua gembong peri itu, Deddy Corbus-ier keburu melihat DPK yang masih terjangkit flu sinis dan sotoyitis. “CLEOPETRAAA!!!” teriaknya dramatis (nggak peduli DPK-nya sendiri enek). “PARA PERI ITU TELAH MELUKAIMU! TUNGGULAH! AKAN KUBALASKAN DENDAMMU, CLEOPETRAAAA!!!”

Deddy Corbus-ier menghantamkan pedangnya ke batu terdekat. Mata pedang itu hancur, mengungkapkan raket nyamuk raksasa yang tersembunyi di baliknya! Dengan liar Deddy Corbus-ier mengayun-ayunkan raket itu untuk menghalau para peri, mengejar-ngejar mereka melewati gunung, lembah dan sungai…

Sementara itu, di pintu gua, muncul Om Bonmedo Tambunan. “Halah, Mbak DPK? Dari mana aja? Saya nunggu-nunggu ga muncul-muncul, makanya saya nyari kamu, berdua sama Deddy Corbus-ier...”

Bak Petugas posyandu berdedikasi tinggi dan masih dengan kecepatan dan keluwesan gerak laksana -*uhuk-ballroom-dancer-uhuk-on-special-performance-uhuk-on-itenas-uhuhuhuk*, Om Bonmedo ngasih imunisasi sotoyitis dan antiflu sinis ke DPK. Setelah satu kali lagi sesi kejang-kejang, DPK pulih. Ia mengucapkan terima kasih kepada Om Bonmedo, dan berkata, “Sebenarnya banyak yang mau saya bicarakan Om, tapi karena sejak tadi saya udah ngesotoy dan ngesinis gara-gara dua peri geje tadi, untuk hari ini saya cuma mau bilang bahwa buku seri kedua Ahli Waris Cahaya, Prahara ini merupakan buku dengan jalinan plot yang baik, jajaran karakter yang sangat beragam dengan kedalaman yang cukup, dan twist yang cukup tak terduga!”

Om Bonmedo mengangguk dan pergi dengan puas menyongsong matahari terbenam.

Tapi rupanya masalah belum selesai.

“...meski sebetulnya unsur engagement buku ini masih di skala cukup alias biasa-biasa saja. Mungkin jika pengarang mampu membuat para tokoh ceritanya menjadi lebih melekat di hati pembacanya, buku ini akan menjadi mutiara di dunia fiksi fantasi Indonesia!”

Di bawah langit malam DPK tertawa, matanya berkilau oleh aura kesinisan dan kesotoyan...

To Be Continued...

Dewi Putri Kirana

Tentang Reviewer:
DPK adalah salah satu penulis dalam FANTASI FIESTA 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010 (Adhika Pustaka 2010), dengan karyanya CANDU AKSARA yang merupakan Karya Terbaik I Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2010. Saat ini sedang menyelesaikan novel pertamanya, Artefaktor.

Dan, yes, she wrote most of the sane part of this review. Leave the insane part to other names… heheheh *nyengir iblis*

29 komentar:

Anonim mengatakan...

Yes Dew,
And that part what i like most from your story. hehehe ups..

Ini ngomongin Xar Vuchattan yah?
Ah, gw dah kasih review pribadi lewat pm.
Dan gw menunggu dgn sangat tak sabar buku ketiga, yg mudah-mudahan bisa keluar dengan selamat tanpa banyak "cacat" bawaan seperti di buku 2 ini.

-Marchel-

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Tengkyuuuu Om Pur and Luz! *peluk-peluk* you two are the best!!!

Mudah-mudahan virus flu sinis dan sotoyis menjangkiti seluruh umat manusia mwahahahaha!!! XD

Bonmedo mengatakan...

Wahh ... Thank You Banget ya Alll atas Reviewnya :) *hiks terharu. Diusahakan yg berikutnya lebih baik nih. Yang pasti reviewnya ngebantu banget, terutama buat untuk lebih hati2 lagi di yg ketiga.

Dina Begum mengatakan...

Wah dasar penulis, reviewnya dibikin cerpen... ckckckck!! Jempol banget.

Mantoel Toeink mengatakan...

Setidaknya si Mbak Dewi gak sekalian kena rabies ... Kasihan amat DPK-nya ntar jadi Dewi Putri Kejang-kejang. :-?

Reviewnya rada terdistract krn ada unsur narasinya, tapi sejauh ini sih ketangkep apa yg mau disampaikannya. :P :P

Hehe.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

De - Dewi Putri Kejang-kejang??!!

Oh noooo~oooooo.....

:P

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Baidewi, namaku disingkat jadi DPK, berasa Bunga Citra Lestari yang disingkat BCL

Har har har XD

*muntah mode on*

Mantoel Toeink mengatakan...

Yg rada up to date selain BCL lah: IDP, Indah Dewi Pertiwi.

*pfft, msh ketawa2 krn Dewi Putri Kejang2*

Hehe.

Danny mengatakan...

Gila. Mbak Dewi habis digilir sama Om Pur + Luz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Healah, ternyata frame cerita perngacoan yang saia buat nggak diubah banyak sama Pamanus Sotoyus. @_@

Anyway, nice idea dengan nambah Lebay Fairies Barbie. >_< Peri Nyamuk Smangat!!!

Tapi ituh kok si A*a**eana dipajang2 tulangna? Tega amat Om sama cewe cantik?

...

Iya, itu pas bikin DPK memang saia mikirnya si Mbak BCL alias Kembang Imej Abadi. Maap muntah2nya. Sori banget.

Sori sengaja, hehehe.

~terbang mabur dengan kostum lebay peri nyamuk DBD~


Luz B

Anonim mengatakan...

Review ala cerpen featuring Pur + Luz.Totally yahud.

Heinz.

Cheppy mengatakan...

@Heniz, and sooo, gimana dengan elo? :p hayok setor buku apa kek,...?

@Luz, si Red Priestess cameo di situ gara-gara dikerjain sama some "Iblis Batu" dari dalam gua. Ditantang siapa berani lama-lamaan.

Soal Off Character, gue malah ngerasa Amor & Pietas, rada 'jatoh' wibawanya dibanding buku 1. Di awal, mereka punya status somewhat bak Deity.

Di buku 2, koq rasanya seperti just eternal pets.

Well,... I don't know...

Tapi tetep secara keseluruhan enjoyable story, sich! Dan terasa koq lebih 'mateng' dibanding buku 1 (di luar gejala rushing seperti yg lo bilang. Itu mah normal, lah *belajar dari kasus G.5.2*)

FA Pur

Anonim mengatakan...

@bang Pur
Ahak-ahak-ahak.
Malu dah.
Akhir-akhir ini bacaan aye kering kerontang. Terjerumus dunia nonton n gaming. Sedang berupaya membangkitkan mood.

Sorry boss.

Heinz

Fauzi mengatakan...

Mau tanya dong. Ada sebuah hutan. Orang-orang menghindari hutan itu karena disebut terlarang dan banyak yang hilang setelah masuk, selain ada asumsi banyak hewan buas di dalamnyal. Istana pusat kerajaan ada di dalamnya dan ada jalan akses ke sana. Logis enggak? Kalau enggak logis, mohon alasannya. Trims sebelumnya. Lagi editing novel nih. :D

Cheppy mengatakan...

@Fauzi,

Deskripsi kamu masih menyisakan banyak pertanyaan, sebelum bisa dijawab logis atau gak logis.

Itu pusat kerajaan dimana sisa wilayah yang lain berada di luar hutan? Bagaimana istana mensupport kehidupannya? Bagaimana jalannya logistik? Bahan makanan dll, kalau jalan menuju istana aja susah bin wingit.

Kalau istana itu sendiri ternyata self sustainable, ya bisa dilogiskan, dengan argumen bahwa hutan itu 'difungsikan' sebagai barrier of entry (ceritanya istana misterius, gitu.)

Tapi kalo argumennya taktis, sebuah istana yang dikepung hutan jug apunya resiko taktis. Musuh tinggal membakar hutan untuk memerangkap penghuni istana, atau tinggal potong jalur logistiknya etc.

Kalau setting yg umum sih, istana merupakan pusat kehidupan suatu kerajaan, dimana terdapat pasar, pusat relasi diplomatik dengan negara lain, pusat budaya masyarakat dll. So, ngga ada logikanya sebuah istana ingin 'memisahkan diri' dari surroundings pendukungnya, kecuali penghuninya punya alasan-alasan khusus.

Apa alasan lo, then? :p

Hehehe,

FA Pur

Fauzi mengatakan...

Pohon dalam hutan tersebut terbagi dua jenis, yang diam dan dapat bergerak. Jenis terakhir memiliki senjata alami dan 'dipekerjakan' sebagai prajurit pelindung istana. Istananya pun enggak berada jauh di dalam hutan dan punya jalan yang mudah dilewati karena dibuat khusus ke sana. Alasan meletakkan istana pusat kerajaan sih cuma karena pengin sesuatu yang unik, yakni pohon sebagai prajurit pelindungnya. Baru sadar kalau mereka dengan mudahnya dibakar.

Believable?

Fauzi mengatakan...

Istana tersebut pun dekat dengan permukiman dan tempat-tempat rakyat beraktivitas.

Cheppy mengatakan...

Aah, rasanya gue baru ngerti, neh.

Jadi ini mirip setting seperti negeri dengan istananya ada di puncak bukit, sementara lingkungan pendukungnya ada di bawah (kaki bukit), ya?

Yg terisolasi jadinya cuma istana (baca: bangunan tempat mukim nya raja).

Kalau cuma begitu sih, tampaknya fine-fine aja.

Salam,

FA Pur

Fauzi mengatakan...

Sip, tapi istana itu untuk kegiatan pemerintahan juga. Ada penjara bawah tanahnya pula.

Anonim mengatakan...

"Cabe"nya kurang nih mbak. Tambahin dong... (nagih)

Kaburrrrrrrrrrrrr....

Penulis_nubi

Cheppy mengatakan...

@Nubi...

Cabe lagi mahal :p

ROBIN LEE mengatakan...

Hi semua. Saya baru disini.

Salam,
Robin Lee

ROBIN LEE mengatakan...

Saya mohon bantuannya ya. Menurut kalian diantara tiga cerita dibawah ini mana yang lebih bagus ya untuk di jdikan cerita novel?

1.Detective School Group : Detective School Group (DSG) Adalah grup detektif yang beranggotakan 3 orang anak SMA pada sekolahan biasa.

2. Demon and Angel school : Berawal dari dua pecehan meteor yang ditemukan oleh para arkeolog. Yang kemudian diteliti dan ternyata oleh ilmuwan dketahui kalau benda ini telah terkubur semenjak jaman dinosaurus. Dan Kedua pecahan meteor yang berbeda warna yaitu putih dan hitam di beri nama yang berbeda. Yang putih diberinama White meteor dan hitam diberinama Black meteor. Dari pecahan itu terdapat sebuah kekuatan luar biasa yang dapat diajarkan para penghuni planet itu. Yang oleh PBB di dunia itu didirakan dua buah sekolah yang berbeda jenis untuk setiap Negara. Yang pertama diberinama Demon School Dan yang kedua diberinama Angels School.

3. Pembasmi Ksatria : Ini terjadi 1000 tahun yang lalu. Di sebuah planet nebula yang ketika itu masih terjadi peperangan. Dan di planet itu ada beberapa orang yang menjuluki dirinya sebagai pembasmi ksatria. Pembasmi Ksatria adalah orang yang bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri untuk melakukan pembunuhan.

Salam,
Robin Lee

Cheppy mengatakan...

@Robin Lee, hi and welcome :)

Untuk pertnyaan lo, menurut gue tiga-tiganya akan menarik kalau elo dapat menceritakannya secara menarik (ya jelas lah, hehehe).

Tapi memang ketiganya akan memiliki derajat kesulitan yang berbeda, sehingga pendekatan riset kamu pun harusnya bakal berbeda juga. Bisa jadi, ada unsur bakat dalam diri kamu kelak yang akan menentukan kamu akan lebih fasih di aera yang mana.

yang nomor 1, jelas kamu harus punya bakat analitis dan kemampuan memainkan plot untuk membuat orang penasaran, khas pakem cerita detektif.

yang nomor 2, well pengaruh logika manga terasa kental, sehingga gue pikir yang kamu perlukan agar cerita kamu kagak jatuh ke level pretensius kemanga-mangaan (wakakak!) adalah kekuatan dalam membuat setting alternatif yang diback up oleh logika yang baik. Well, for starters, rasanya not in a thousand years badan PBB yang ada sekarang ini, akan menamakan any school as angel school and demon school, apalagi berlandas kisah latar yang lo sebutkan berasal dari meteor bla-bla-bla itu. so, lo bakalan memang harus bikin sebuah dunia yang baru. Tantangannya gimana dunia baru itu masuk akal bagi pembaca.

yang nomor 3, gue pikir langkah pertama lo adalah riset dulu soal astronomi. 'Planet Nebula'? Ehm,.. nebula adalah gugusan gas yang mengelompok di angkasa. bukan planet. period. ku pikir, siapapun yang berniat masuk ke ranah space-opera atau sci-fi, at least harus paham astronomi dulu, agar gak terlanjur salah bikin setting. (Baca review Goran, supaya kamu dapet gambaran lebih jauh.)

itu aja dulu kayaknya, ya. Mungkin rekan lain ada tanggapan. Semoga sukses!

FA PUr

ROBIN LEE mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
ROBIN LEE mengatakan...

@Bang Pur
Pertama Thx ya.
Aku mau komen buat yang No.3, Sebenarnya sih udah tau kalo nebula itu bukan planet. Maklumlah saya sedang malas mikir hari ni jadi asal kasih nama deh.

Maaf yang tadi salah di hapus. Isinya sama kok kayak yang diatas.

Salam, Robin.

konudrakka mengatakan...

O.o...what the...apa yang sepupu Dedy Corbuzet lakukan di tempat itu? wkwkwkwk~~~

Luz Balthasaar mengatakan...

Kalau aku, untuk karya perdana, paling bagus yang pertama. Nggak usah bayangin kasus rumit jelimet macam Detektif Conan (Yang makin lama triknya makin bokis juga), yang penting masuk akal.

Jangan mulai dari scope gede mereka ngelawan organisasi kejahatan raksasa. Mulai dari scope kecil aja. Kasus penculikan teman sekelas mereka, misalnya.

Saranku juga kalau keremajaan mereka dalam mecahin kasus dimainin dikit, misalnya kadang mereka salah analisis atau saking kebeletnya ngejer penjahat mereka lupa belanja bayem pesenan Emak.



Luz B.

Novera's Spadhe Student mengatakan...

keren