Sabtu, 02 April 2011

ICYLANDAR: The Elf's Kingdom (Dionvy - 2010)

Oleh Luz B.

 Penerbit: Pustaka Redemptor
Penyunting: Siswi Hapsari
Ilustrasi Sampul: Mario Diaz, Christian Chandra
Ilustrasi: Mario Diaz
Tebal: 684 Halaman

Kadang-kadang, aku berpikir kalau buku di Fikfanindo ini bisa dibagi menjadi empat jenis.

Pertama, Buku O. Nggak ada hubungannya sama Coffee O yang populer di Kerajaan Upin Ipin™ ya. Ini maksudnya Buku Oke. buku yang kalau dibaca bikin aku bilang, "Oke," dalam segala gradasinya, mulai dari "ga jeleklah" sampai "Gila anjr*tkerenbanget!!!"

Kedua, Buku NO. Kembali, ini nggak ada hubungannya dengan Nahdlatul Oelama (maksa deh,) maupun Nutup Oeban (maksaaaaaa,) tapi merupakan kependekan dari Nyaris Oke. Ini buku yang belum bisa kubilang bagus, tapi seandainya saja diperbaiki di beberapa aspek, akan kunilai lebih baik.

Ketiga, Buku GSK yang sama sekali ngga bermaksud nyebut GaSaK atau GuSraK apalagi Guruh SuKarnoputra. Ini adalah kependekan dari Ga Sengaja Kocak. Karya-karya macam ini rasanya ngga bisa ikhlas kubilang bagus. Namun, selama membaca, di dalamnya banyak hiburan-hiburan berupa keju dan kekonyolan yang bertebaran. Yang tentu saja asik dan bikin ngakak kalau dibahas di blog ini. 
   


Dan keempat, Buku OMFG. Buku yang seharusnya ditempeli lambang biohazard, atau minimal peringatan pemerintah. "Perhatian! Membaca buku ini dapat menimbulkan kenaikan minus sia-sia, kerusakan otak, dan gangguan kehamilan serta janin." These books are so devoid of entertainment value that sometimes, not even clever snarkings can make them enjoyable.

Untuk Icylandar karya Dionvy ini termasuk yang mana? Baca terus repiu ini untuk tahu, hehehe.

Pertama lihat covernya aku berpikir, "Kayaknya boleh nih." Gimana nggak, covernya (kayak?) hand-drawn art. I'm a sucker for those. Maka syahdan, ketika Om Soto(y) berkomentar, "Ituh sayap pegasusnya ga cucok deh arahnya!" reaksiku adalah bodo amat dan lanjut beler.

Asli, gambar hutan, elf di atas pegasus, istana, dan pilihan warna sekitar earth-tone, ijo dan biru pucat bikin aku ke-wow. Padahal sinopsis belakangnya nggak memajang apapun yang menarikku. Kurang diolah, gitu, hingga dia bisa menjadi blurb yang menapsukan.

Begitupun, ada satu keluhan mengenai cover yang datangnya bukan dariku. Simak reka ulang percakapan berikut, yang kurang lebih 95% miriplah dengan aslinya:
_

Kenalan Saia #1: Itu buku judulnya apa sih? Toylandar?
Kenalan Saia #2: Nggak. Kayaknya Joylandar deh...
Kenalan Saia #3: Bukan, bukan, itu bacanya Icylandar!

Saia: Ooooh, Icylandar... *usil mode on*

Alkisah saia mampir beli Icylandar di Plaza Semanggi, dan pulang. Sampai dirumah saia tunjukin tuh buku ke adek yang lagi sibuk di depen kompie.

Saia: Dek, dek, ini bacanya apa?
Adek saia: *mikir lama*... Toylandar, 'kan?

Saia: *ngakak*
_

Catatan untuk Christian Chandra selaku desainer cover: Keren, Mas. Sayang font titlenya kurang jelas di mata beberapa orang.

Lanjut ke isi buku. Buka halaman pertama, langsung membatin, "Wow. Keren nih. Ini kayaknya niru format Harry Potter, bikin satu ilustrasi untuk awal bab. Nilai plus nih.

Turun ke tulisannya... sekilas lumayanlah. Bab pertama menceritakan dua elf yang kabur ke Hutan Wolbired. (Maaf aku hilangin diakritiknya. Capek copasnya.) Prosanya bertele-tele banget dan boros kata.  Seharusnya mbak editor Siswi Hapsari bekerja lebih keras untuk motong kalimat yang ga penting, bukan cuma ngurusin typo. (In which she did an excellent job, BTW; aku ga nemu typo di buku setebal itu!)

Beberapa kali aku mendapati diriku melompat paragraf-paragraf panjang karena males. Untunglah kalimat-kalimatnya pendek dan jelas, dan nggak banyak loncat-loncat keluar masuk kepala karakter yang berbeda. Alhasil aku tetap bisa mengikuti.

Masalanya, hal-hal yang terjadi pada atau dilakukan sama para tokoh-tokohnya itu kerasa "pokoknya tahu-tahu ada aja". Nggak ada build-up, nggak ada alasan. Kesannya hal-hal te es be muncul karena pengarang mau memunculkannya di situ, pada saat itu.

Contoh paling gampang, tangan-tangan zombie yang muncul dari bawah daun-daun gugur. Lha, kok di sana mendadak ada monster tangan zombie? Nggak tau. Kalau ngelihat penulis bisa ngabisin begitu banyak paragraf untuk deskripsi, kukira ybs. bisa nyelipin petunjuk yang bisa menjustifikasi asal tangan zombie itu. Misalnya bahwa Hutan Wolbired dulunya tempat ngebuang 'sampah' hukuman penggal tangan. Or whatever.

Alternatifnya, kalaupun nggak ada penjelasan, bikin masalah yang sejalan dengan latarnya. Kalau mau munculin tangan zombie, misalnya, mungkin lebih alami kalau hutannya hutan meranggas, hutan mati. Setting begini akan lebih terasa alami untuk tangan zombie.

Insiden tangan zombie tersebut diatas bikin aku ngerasa yang nulis baru abis nonton film zombie dan tiba-tiba aja pengen bikin tokohnya kejar-kejaran ma tangan zombie. Ujug-ujug, gituh.

Setelah prolog di Hutan Wolbired, cerita mulai masuk ke kehidupan sehari-hari Padris dan Louie, dua elf bersaudara yang tinggal di negeri para elf, Icylandar. Di sini diceritakan tentang bagaimana mereka bermain dan menghabiskan liburan musim dingin, sampai akhirnya musim semi tiba dan mereka harus mulai... ahem, ketemu para guru elf untuk belajar berbagai hal.

Kedengaran familiar? Apakah mungkin ini adalah Harry Potter dengan kulit lain? Silakan baca terus untuk tahu.

Di bagian ini berulang lagi formula ujug-ujug yang dipakai di prolog. Contohnya, nggak ada build-up kenapa Louie dan Padris dan temen-temennya harus berseko... maksudku, berguru. Hanya dalam satu paragraf, dinyatakanlah bahwa begitu (libur) musim dingin selesai, mereka pergi ke Hogwar... eh, salah lagi. Berguru

Sori, sengaja.

Kenapa begini? Up to that point, belum ada alasan apapun yang menjelaskan KENAPA para elf itu harus  sekolah. Di Harry Potter, sekolah itu diperlukan untuk dapat pekerjaan. Bahkan ada penjurusan  untuk  menentukan karir macam apa yang bisa didapat setelah sekolah. 

Sedangkan di Icylandar...  sampai titik itu nggak ada keterangan. Ga ada penjelasan bahwa sekolah itu perlu untuk menjadi tentara, atau untuk menjadi ahli pegasus, atau buat jadi petani. 

Baru lama kemudian ada penjelasan bahwa alasannya adalah karena kehidupan damai di Icylandar rupanya agak semu. Ada musuh di luar kerajaan yang menunggu. So, mereka harus belajar bertarung. Tapi sampai akhir buku, ancaman ini nggak kelihatan. Atau sedikitnya nggak cukup jelas buatku.

Ada mungkin yang akan bilang aku bego karena spoiler di blurb belakang bukunya sudah bilang bahwa  kehidupan damai para elf di Icylandar akan terganggu karena pertempuran. Sayang, fungsi blurb bukanlah untuk memberi build-up, apalagi karena panjangnya cuma seuprit gitu. 

Akibatnya, begitu baca sampai halaman 79, di mana diceritakan para elf belajar memanah bersama Severus Sn... maskudku, Ruben, di kepalaku muncul pertanyaan, "Ngapain mereka belajar memanah?" Lagi-lagi aku nangkep kesan bahwa alasannya adalah karena pengarang ngelihat sesuatu yang keren seperti *UhukLegolasUhuk* dan *BatukSnapeVersiFangirlBatuk*. Saking kerennya dua hal itu, sang pengarang kebelet banget untuk memasukkannya ke dalam karyanya; dan saking kebeletnya, ditumpahkanlah hal itu ke dalam karya tanpa memedulikan build up dan jahitan antara satu konsep dengan konsep lain.

Padahal jahitan inilah yang berfungsi membuat semua konsep terasa menyambung secara alami dan mengalir di dalam cerita.

Sama halnya dengan kemunculan Lady Taliana. Kenapa tiba-tiba mereka harus datang kepada perempuan ini untuk belajar bikin penawar racun? Memang bukannya nggak masuk akal, tapi sekali lagi, berasa bahwa itu cuma ujug-ujug ditempelkan si pengarang karena mau dan suka. Kalau di Harry Potter, ini ga ujug-ujug. Terasa alami ketika Harry Cs. ngambil kelas Ramuan karena setting ceritanya di suatu sekolah, dan mapel Ramuan adalah bagian dari kurikulum. Jadi ya, wajar.

Lah kalau ini? Tanpa alasan, tanpa latar.

Apalagi begitu mereka selesai membuat ramuan, Lady Taliana tiba-tiba mengumpulkan mereka dengan gaya "Nenek mau mendongeng," dan menceritakan sejarah Icylandar. Hah? 

Pertama, kayaknya disebutkan kalau para elf ini remaja. Jadi umur mereka harusnya 13 tahunan, kalau nggak lebih tua. Nggak ketuaan tuh buat 'dongeng nenek?"

Kedua, balik lagi, ga ada build up. Ga ada yang nanya soal sejarah Icylandar, dan ramuan yang mereka buat nggak ada sangkut pautnya dengan sejarah Icylandar.

Lalu setelahnya, tiba-tiba Sang Lady meminta semua anak untuk... menyodorkan tangan buat diramal garis tangannya. WTH? Bude Taliana, nanya dunk. Apa hubungannya ramalan tangan sama ramuan dan sejarah Icylandar? Tidakkah kelihatan banget kalau pengarang ini memaksakan perubahan fungsi/kepribadian/peran Lady Taliana dari Prof. Sprout/Snape ke Prof. Binns ke Prof. Trelawney?

Masih ada banyak lagi kejadian yang ujug-ujug macam gini. Misalnya, di hal. 138, Keysuu tiba-tiba curhat soal masa lalunya ke murid-murid. Wiw. Ga ada yang nanya Om. Dan perasaanku kok masa lalu Keysuu ini mirip abis dengan cerita masa lalu Riki di manga Kung Fu Boy (Tekken Chinmi)? Bahkan sampai ada tokoh lain yang namanya Riki di Icylandar. Hmmmm....

Terus pegasus hitam yang tiba-tiba menyerang. Kok mendadak saat itu? Katanya mereka tertarik oleh Jaroz (kekuatan sihir istimewa) yang dimiliki Padris, (hal. 218) tapi dari keterangan Zeolin, pegasus hitam itu udah pernah menyerang Icyandar dulu sekali, pada saat Padris belum ada, dan bahwa mereka menyerang karena mereka buas dan haus darah.(hal. 225) Yang mana yang bener neh?

Ujug-ujug paling gede terjadi pas pengumuman Festival Qinlandar. Ngapain tiba-tiba festival ini muncul? Ga ada yang nyebut-nyebut soal festival ini sampai dua halaman sebelum saat terjadinya. Bandingkan dengan sebuah turnamen di Harry Potter keempat yang dikasih build-up jauh sebelum turnamen itu terselenggara. Penulis kayakya terkesan sama Triwizard Tournament / Tenkaichi Budokai / Tekken / King of Fighters, dan kepengen memasukkan acara turnamen-turnamenan di buku.

Oke. Rangkuman dari isu pertamaku: Jurus ujug-ujug ini membuat Icylandar kelihatan seperti kain yang dibuat dari aneka perca yang disatukan, bukannya selembar kain utuh. Umumnya dalam cerita, antara satu ide dan ide lain, antara satu kejadian dan kejadian lain, harus ada hubungan penyatunya. Itulah yang membedakan antara cerita dan rangkaian kejadian. Icylandar ini, terutama bagian tengah sebelum konflik dengan Deyreudolf mulai terungkap, cenderung ke rangkaian kejadian alih-alih cerita.

Ini nggak berarti penulis nggak sama sekali berusaha menyambungkan gagasan-gagasan dan kejadian-kejadian yang ia tampilkan. Sambungan-sambungan itu ada, tapi lemah, atawa maksa. Karena lemahnya inilah banyak kejadian yang muncul dan tindakan para tokoh berasa dadakan, seperti kucontohkan di atas.

Bicara soal perca, problem kedua yang kurasakan adalah bahwa buanyak banget ide di buku ini adalah perca yang digunting dari buku lain. Apapun klaim penulis--bahwa buku ini bukan Harry Potter, bukan Eragon--aku tetap merasa bahwa inspirasi yang 'dipinjam' dari buku-buku itu terlalu banyak. Bukan hanya banyak, tapi juga sama sekali tidak subtil.

Cek:

~

Perca#1

Icylandar: Naya (Nyokap Padris) ditaksir sebelah pihak sama Ruben yang galak dan cenderung abusif ke murid.

Harry Potter: Lily (Nyokap Harry) ditaksir sebelah pihak sama Snape yang... well, galak dan cenderung abusif ke murid...

~

Perca#2

Icylandar: Ah, ternyata elf itu sekolah. Dan di sekolah mereka ada beraneka mata pelajaran dan guru.

Harry Potter: Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Hogwarts, Teach Us Something Please...

~

Perca#3

Icylandar: Ada guru ahli tanaman yang lembut baik hati.

Harry Potter: Welcome to Herbology! I am Professor Sprout...

~

Perca#4

Icylandar: Festival Qinlandar

Harry Potter: Triwizard Tournament

~

Perca#5

Icylandar: Padris koma, Louie harus nyari tanaman obat.

Lord of the Rings: Frodo koma, temen-temennya harus nyari tanaman obat.

~

Perca#6

Icylandar: Pasukan Patroli Deyreudolf.

Lord of the Rings: Ringwraith.

~


Perca-perca selanjutnya, silakan beli buku ini dan cari-cari sendiri. Segala Harrypotterism dan LotRism ini bikin aku sempat pengen mencak-mencak kesel. Kalau mau minjam, paling nggak yang subtil gitu, dan olahlah kembali supaya menghasilkan sesuatu yang nggak bikin aku mikir, "Ini kan nyontek dari XYZ dan ABC! Ew!"

Masalah ketiga, ada beberapa detail yang bikin aku bilang, "Ah, masa sih?" Misalnya, anak-anak elf digambarkan menggunakan anak panah logam. (hal. 82) Mustahil bin mustahal ini. Anak panah logam akan terlalu berat untuk ditembakkan dari panah. Memang bisa aja itu logam sihir, tapi nggak ada penjelasannya juga. Oleh karena itu aku tetap merasa aneh karena umumnya panah terbuat dari kayu, dengan ujung logam.

Kedua, waktu Jenderal Rafael membuat panah. Tali busurnya dibikin dari rambutnya, dan ekor panahnya dibikin dari ekor pegasus. (hal. 146) Sekali lagi, mustahil. Pada ketebalan yang sama, rambut mungkin lebih kuat dari baja. Dan ini rambut elf, jadi mungkin ada properti magisnya. Tapi sekali lagi, tanpa penjelasan bahwa memang itu rambut ajaib, I don't buy it.

Lagipula tali busur asli itu lumayan tebel lho, karena klo ga salah umumnya terbuat dari usus/urat hewan atau jaringan elastis lain. Apa ga pitak pala si jenderal kalau rambutnya diambil buat bikin tali busur? 

Pun buat ekor panah, make bulu ekor kuda (atau hewan sejenis kuda) itu mustahil. Bulu ekor panah itu harus kaku, kayak bulu shuttlecock bulu tangkis.Sementara bulu ekor kuda itu lemes, kan?

Keluhan ketiga datang dari Om Soto(y). Katanya mustahil kalau di dalam rumah, para elf memakai kasur jerami tapi di dekat perapian. Ada benernya; memang kalau mau mencegah kebakaran, orang wajarnya nggak pakai jerami sebagai tempat tidur. Apalagi kalau jerami itu nggak dibentuk jadi bal, dan di buku, ga ada keterangan bagaimana jerami itu dipakai. Apa cuma ditebar, atau dibuat jadi bal?

Tapi kalau di masa itu di Icylandar nggak ada bahan lain yang nggak lebih mudah terbakar yang bisa dipakai jadi tempat tidur, ya oke. Maksudku adalah, kalau tempat tidur mereka diganti kasur kapuk misalnya, toh ini sama saja mudah terbakarnya dengan bal jerami. Jadi kalau dari segi keamanan terhadap kebakaran, nggak ada bedanya bahan apapun yang mereka pake.

Yang ingin kutanyakan juga, bagaimana bentuk mantel bulu burung dan selimut bulu burung yang mereka pake? Kalau cuma bulu yang direnceng sih, nggak akan ada ngaruhnya buat nahan angin dingin. Tapi kalau bulu itu dipakai untuk bahan isian selimut, itu baru wajar.

Kesimpulan: dalam membangun dunianya, penulis masih kurang memikirkan detil. Kayaknya perlu riset lagi nih untuk Icylandar 2.

Masalah keempat, penamaan tokoh dan tempat.

Aku rada ga ngerti para elf ini ngikut negeri mana. Ada yang namanya Spanyol (Rodrigo, Rafael,) ada yang Irlandia (Aidan), ada yang Ibrani (Natan), ada yang Gejeland (Qinlaini, Icylandar, Padris, Zeolin). Penulis nggak memberikan alasan untuk perbedaan nama yang nggak nyatu ini. Terutama karena kalau kulihat conlang elf yang bertebaran di sepanjang cerita, dengan kata-kata macam rayko, nana, bairanet, estenolis... nggak ada kesatuan rasa bahasanya, meski memang nggak terasa berantakan sekali.

Tapi itu cuma sampai aku memerhatikan bahwa bahasa elf ini aneh. Untuk nama tempat atau artefak, penulis kayaknya doyan memakai aneka diakritik aneh. Hutan Wolbired misalnya ditulis sebagai Wolbirêd. Derai-amon, Jaroz, juga ditulis dengan diakritik rumit yang mengingatkanku pada diakrtik majemuk yang bisa dipakai dalam bahasa Vietnam. (Tapi aku ga yakin yang dipakai pengarang ini memang diakritik bahasa Vietnam. Kali aja ybs. bikin-bikin sendiri.)

Pertanyaannya, kenapa cuma nama tempat/artifak/konsep yang ditulis pake diakritik? Kenapa nama orang dan nama benda biasa nggak? Bahasa elf ini nggak konsisten jadinya. Jangan-jangan tadinya mau pake diakritik semua, tapi keburu si pengarang capek duluan. Makanya ga jadi. Hehehe.

Apabila empat masalah di atas disingkirkan, aku bisa menunjukkan bahwa buku-buku ini sebenarnya sudah memiliki potensi untuk jadi buku yang menarik buatku (dan banyak pembaca cewek, mungkin). Parade CoGan (Cowok Ganteng) elf naik pegasus? My inner fangirl screams major squee. Cocok untuk hiburan ringan. Tambah lagi ada bau-bau ho yay antara Antolin x Rafael dan Antolin x Louie. Hohohohoho~♥

Fanservice untuk semua shounen-ai fangirl yang baca Fikfanindo:


"Sebenarnya yang paling disayangi oleh Antolin adalah Rafael, tapi sayangnya dia tidak pernah bisa memiliki Rafael sepenuhnya karena seluruh elf Icylandar juga menyayangi Rafael." (hal. 229)


Tentang Antolin x Louie, silakan baca halaman 610. Aku nggak akan memuatnya disini karena Louie ini anak di bawah umur. Nothing explicit, tapi mungkin agak squicky untuk beberapa orang. Apalagi kalau dipikirin lama-lama.

Aku ga tahu segala ho yay ini disengaja si penulis, sama sekali ga disengaja, atau sebetulnya ga ada dan aku yang mikir kejauhan. Kalau memang ada, terlepas dari diniatkan pa nggak, aku ga keberatan. Girang malah. Cuma ada teman-teman yang akan mikir beda. Aku tahu ada sedikitnya satu orang lain yang ngelihat subteks ini dan berkata, "What the...?"

Jadi barangkali penulis mau menimbang ulang soal ini di karya-karya berikutnya.

Hal kedua yang menurutku potensi juga, karakter. Seperti yang sudah kukatakan di atas, tindakan mereka banyak yang dipaksa sama pengarang. Kebanyakan tokoh sampingan karakternya mirip. Ada yang kentara njiplak karakter Harry Potter. Banyak juga di antara mereka yang kalau ngomong kedengaran kayak remaja, padahal umur mereka harusnya dah tua.

Tapi dari sifat-sifat karakter sendiri, nggak terlalu jelek. Kalau pengarang niat bikin karakter, dalam arti nggak minjem Harpot, dia bisa bikin karakter yang bagus.

Yang paling menonjol buatku itu Naya. Sebagai ibu yang masih muda sekali (menurut standar elf), dengan dua anak yang beranjak remaja, dia bisa dibilang model penggambaran ibu yang cukup unik di dalam dunia literatur fantasi Indonesia. Biasanya ibu tokoh utama digambarin lemah lembut dan seringkali diculik/diperkosa/mati dalam cerita. Bonus poin klise kalau penculikan/pemerkosaan/kematiannya memberi motivasi awal bagi si tokoh untuk berkelana/membalas dendam/melakukan apapun yang menggerakkan plot.

Tapi Naya disini agak lain. Di satu sisi dia agak manja dan kurang sabar. Tapi di sisi lain, dia jago manah. Dia punya keluarga bahagia, sayang suami, sayang anak, dan bikin trenyuh banget waktu dia ngelawan para jenderal yang hendak ngebawa pergi satu anaknya. She's not a perfect mom. But she's trying her hardest. I like her for that.

Urutan berikutnya, aku suka Antolin dan Rafael. For no reason other than fangirlish guilty pleasure. Go ahead now, throw the tomatoes at me. I deserve it.

*konon katanya, tindak perajaman tomat terhadap repiuer ngenye' satu ini adalah kisah nyata yang menginspirasi buku A Storm of Tomatoes karya George Roma Romano Marzano*

Urutan terakhir dalam Kontes Karakter Oke Icylandar akan kuberikan kepada para pegasus. Aku lumayan terkesan si pengarang kepikiran untuk memberi mereka porsi yang lumayan, backstory, dan karakter tersendiri. Sekalipun mereka nggak punya dialog, tiap pegasus memiliki kebiasaan dan sifat sendiri yang tercermin jelas. Ini sentuhan kecil yang sebetulnya bisa dimainin lagi di seri selanjutnya.

Hal keren berikut yang layak disebut adalah ilustrasi per bab yang (juga) meniru gaya Harry Potter, satu gambar di halaman judul. Selain itu juga ada beberapa ilustrasi tambahan di halaman akhir. Semuanya dikerjakan dengan sangat bagus oleh Mario Diaz, dengan gaya yang cocok sekali untuk cerita seperti Icylandar. I look forward to seeing more of his work!

Akhir kata, setelah kembali terlempar keluar dari dunia Padris dan Louie, aku menyadari perlunya menambahkan satu kategori tersendiri: Buku S. Bukan Buku S*ks, tapi Buku Sayang.

Apakah itu Buku Sayang? Aku mendefinisikannya sebagai buku yang kalau dibaca bikin aku berpikir, "Ah, sial. Sayang saia dah baca buku (insert book title here) duluan!"

Satu contoh non-fikfan terjadi padaku ketika aku baca buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Buku itu bagus. Tapi pas selesai baca reaksiku adalah, "Ah, sial. Coba saia baca buku ini sebelum baca Laskar Pelangi dari Andrea Hirata. Pasti ni buku akan kerasa lebih bagus."

Icylandar ini kasusnya sama. ngelihat buku ini aku berpikir, "Ah, seandainya saia baca buku ini sebelum saia kenal Harry Potter." Kalau aku belum membaca, pastilah aku akan lebih terkesan. Aku sudah melihat bahwa tema seperti ini, storyline seperti ini, dan karakter seperti ini bisa dikerjakan dengan lebih baik, lebih detil, dan lebih terasa alami.

Untuk pengarang, aku tunggu Icylandar 2. Moga-moga bisa lebih baik.




Luz B.

73 komentar:

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Pertamax....?

*lempar tomat ke Luz* hahahahaha! XD

Ternyata ho-yay nya memang cukup kentara ampe lebih dari satu orang yang nyadar ya?

Hmm, soal plot ujug-ujug ya. Masukan yang bagus banget nih.

Thanx for the review Luz, apalagi mal-ming begini pas lagi ga ada kerjaan XD

Cheppy mengatakan...

Kedua, waktu Jenderal Rafael membuat panah. Tali busurnya dibikin dari rambutnya, dan ekor panahnya dibikin dari ekor pegasus. (hal. 146) Sekali lagi, mustahil. Pada ketebalan yang sama, rambut mungkin lebih kuat dari baja. Dan ini rambut elf, jadi mungkin ada properti magisnya. Tapi sekali lagi, tanpa penjelasan bahwa memang itu rambut ajaib, I don't buy it.

Part ini, kayaknya belum sampai gue baca. Karena pastinya gue bakalan protes.

Serius. Rambut buat tali busur? Karena punya property fisik berupa kekenyalan dan durabilitas, atau property magic? Property fisik jelas akan ngerusak setting.

Gue jadi 'menuntut' akan banyak artefak di dunia elf yang juga menggunakan rambut elf untuk keperluan sejenis.

Mulai dari tali timba, tambang kapal, pengikat rumah, heheheh.

Lain kalo property magic atau buat kejimatan goodluck begitu. Tapi di Icylandar kan gak ada budaya jimat jimatan gitu?

Rambut ekor kuda tepatnya bukan buat bulu panah, tapi bow (penggesek) biola. :)

FAPur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak Dewi: *menerima tomat dengan pasrah*. Saia memang hopeless klo liat CoGan. Apalagi klo ada ho-yay. Aaaaaa~~

@Om: Amin Om. Mungkin kalau masalahnya properti fisik, kita harus mulai mikir untuk berinvestasi atau sekalian membuka perusahaan pembuat tali rambut elf. Bisa buat tali panjat tebing tu. Kalau elastisitasnya oke, bisa buat tali bungee jumping juga.

Soal bow yang satunya lagi itu, 100% bener.

~Balik main WiiSports di Nintendo Wii baru X3~

Mantoel Toeink mengatakan...

*bersyukur baca Chronicles of Ancient Darkness duluan baru baca Icylandar jd gak ikut2an merasa bahwa bkn tali busur pake rambut tu keren dan ... bisa*

Gw sdkt merasa ada lmyn byk kompensasi dari Signora Luz di review kali ini. Is it? :-?

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Kompensasi?
Fangirlisasi, kali?

Mmmh, gimana ya? Soalnya saia tahu saia bukan dewa yang kalau bersabda naskah tersambar petir, Juun.

Kalau suatu naskah menghiburku, ya sudah, aku ngaku. Nggak berarti menurutku itu bagus. Hanya berhasil menghiburku. Itu aja.

Lagipula, ada tiga pertimbangan paling penting kalau aku baca naskah yang nentuin apakah nada repiuku cenderung ngenye' atau agak manis dikit.

Kesan pertama yang kulihat adalah,

1. Apakah naskah itu pretensius atau nggak. Penting bagiku menangkap kesan bahwa naskah itu ditulis dengan jujur untuk berbagi dan berkisah.

2. Apakah pengarangnya bersikap holier/smarter than pembaca atau tidak. Kalau kelihatan kayak dia menganggap inferior para pembaca, (salah satu cirinya adalah kalau ada kuliah dalam naskah,) aku jadi malas bermanis-manis.

Biasanya kalau dua hal itu terpenuhi, seperti di Icylandar ini, aku mulai dengan pikiran yang ga tralu ngenye'.

Tapi itupun bisa berubah kalau di tengah-tengah tiba-tiba ada sesuatu yang bikin aku jengkel mampus. Untungnya di buku ini hal itu ga ada.



Luz B.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Signora Luz: Kita rupanya menyikapi Jenderal Antolin dgn sikap yg berbeda jg. :))

Bt gw, terlepas dr si Antolin flagnya terlalu kuat dengan Rafael, Antolin itu selain terlalu imba Jaroz-nya (Padris blm bisa memaksimalkan penggunaan Jaroz, jd gw gak sebut dia imba) sifatnya juga bkn gw pengen nabok dia seandainya gw ada di strata yg memungkinkan gw gak lsg dibunuh di tempat ama si Jenderal. :))

Hmm, jd sejauh ini sih bt Signora Icylandar ckp menghibur terlepas dgn adanya flaw dan sisa2 "inspirasi" yg krg diolah yah? :-?

Gw jg gak memungkiri kok gw ngasih bintang bagus jg utk cerita yg faktor "bisa dinikmati"nya membayar flaw2 lainnya. *tunjuk Zauri*

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Antolin imba? Hyakakakakak~

Memang sih dia tukang ngamuk dan super power, tapi saia ga takut tuh.

Soalnya saia lebih kuat dari dia karena saia punya punya OOO Driver dan Ankh. >:D

HENSHIN!

Taka Kujaku Condoru!

Taaaajaaadoooor....~



Luz B

Mantoel Toeink mengatakan...

@Signora Luz: Saya sih takut. Jd saya ngumpet aja ah.

Selamat berjuang, Kamen Rider~

*panda ngumpet di bunker, menghindari bentrok Jaroz dan entah-kekuatan-kamen-rider-siapa-dan-nama-jurusnya-apa*

Hehe.

Ivon mengatakan...

ahhh, hmmm,,, kasih pendapat aja deh, wkwk

cover it, ak gag yakin bikinan tangan (langsung di kertas)...memang sh, atribut watercolor-nya kental, tpi di devart, ak udah banyak lihat art yg gambarnya seperti lukisan minyak / cat air / sketsa pensil, tpi kategorinya adalah "digital art"... :p

tpi...yah, tetep ada kemungkinan beneran bikinan tangan (langsung di kertas), hahaha~ *tak yakin juga*

kalau isinya...well, ak sudah pernah baca beberapa halaman sih, tpi kok...gimana yah rasanya...kurang cocok mgkn...hahah ^^;

tali tongkat penggesek biola trny ada yang dari rambut kuda yah? ak kira semuanya berasal dari rambut mulutnya paus sikat, wkwkwk

@Juu: ehh? memang di Chronicles of A.D. itu tali busurnya pakai rambut yah? baru tahu ane... :p

oiya, sama minta izin mau nautin blog Luz (dan blog ini) ke blog ane yah :) di konudrakka.wordpress.com (yang mungkin tak lama lagi akan menjadi blogspot juga, karena theme wordpress susah ngaturnya, wkwkwk)

Mantoel Toeink mengatakan...

@Ivon: Bukan, rawr! Di CoAD mah pake urat/jalinan otot binatang. Gw kan bilangnya "untung baca CoAD duluan bukan Icylandar duluan jd gw gak ikut2an bkn tali busur dari rambut cem di Icylandar".

Hehe.

Fenny Wong mengatakan...

Hahahaha biasanya Luz yang lempar cabe, kali ini malah minta dilemparin tomat xD

Well... reviewnya enjoyable as always. :)

Anonim mengatakan...

*ikutan lempar tomat* fu fu fu fu ;))

Kalo gaya bahasanya gimana?

Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

*ngelap tomat*

Kalau gaya bahasa ga banyak yang bisa dibahas. Seperti kucantumkan di repiu, banyak kalimat yang benernya bisa dipotong. Untung cara berceritanya jelas. Jadi aku ga perlu banyak mikir si tokoh maunya apa...

Luz B

Anonim mengatakan...

mbak-mbak mas-mas, saya pengen nanya nih

1. Kalau buat cerita yg temanya penyihir di jaman modern & settingnya di Indonesia kira2 niru HarPot apa enggk?
2. Apa sih untung ruginya kalo pake jasa Literary Agent?

Hehe.
Dika

Cheppy mengatakan...

@Dika,

1. Akan dibilang niru Harpot kalau:
- tokohnya bocah laki-laki yatim piatu yang dititipkan di keluarga jahat dan tidak tahu bahwa dia calon penyihir
- tokohnya akhirnya bersekolah di sekolah penyihir
- adonan karakter di sekolah: sidekicks, rivals, bulliers, nice headmaster, stingy teacher, etc. Apalagi kalau ada guru pelajaran satwa gaib yang setengah raksasa.

Dan seterusnya dan seterusnya.

Intinya, kalo orang langsung inget harpot, ya langsung dicap niru. (lagian sekarang mah justru banyak yg mengklaim diri mirip-mirip harpot biarpun jauh, biar laku)

Curious, apa sih pentingnya bikin setting sihir di jkt yang harus mirip harpot? Kenapa gak radikal aja dibedain. Dan faktor utama pembedanya, harusnya, adalah budaya 'sihir' yang beda banget. Gimana bikin penyihir Jakarta lebih believable tanpa harus pakai tongkat sihir ata spu terbang:)

2. Untunhnya pakai literary agent, pengsrang bisa fokus pada enulis, gak pelu repot menjajakan askah ke sana ke mari.

FAPur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Dika

Setting penyihir di Jakarta nggak aka langsung otomatis terasa niru Harpot. Masalahnya tergantung pada dua hal.

Pertama adalah elemen yang mirip Harpot. (Sekolah sihir, sapu terbang, dll dst.)

Kedua adalah elemen yang merupakan ide kreatif si penulis sendiri.

Kalau ga mau dibilang niru, syarat paling sederhana adalah yang kedua harus lebih menonjol dari yang pertama.



Luz B

Anonim mengatakan...

Rasanya norak dan lebay amat kalau bilang mirip Harpot dan LOTR. Ini yg bikin review kaya sengaja cari-cari cacat deh.....

Sorry but I'm not agree with you.

Adel.

Cheppy mengatakan...

Hi Adel, thanks atas opininya :)

Boleh koq, untuk gak setuju dengan hasil review kita-kita di sini, sebab reviewer jelas tak pernah 100% benar.

Dan tiap orang entitled atas pendapatnya sendiri-sendiri.

Tapi bahwa saat ini banyak karya Fantasy lokal diperbandingkan dengan LOTR dan Harpot, rasa-rasanya memang gak terhindarkan, karena dua karya inilah sejujurnya yang menjadi pemicu maraknya karya Fantasy buatan anak negeri.

Gak cuma reviewer, bahkan pihak penerbit pun sepertinya ingin sekali mensejajarkan karya-karya terbitan mereka dengan referensi Harpot atau LOTR, biarpun kenyataannya,... yaaach, hehehe.

Apalagi ternyata gak cuma reviewer, pembaca lainpun ternyata berpendapat sama terhadap novel ini.

Tapi saya pikir kamu juga punya point, bahwa jangan-jangan kita jadi terlalu 'terpaksa' membanding-bandingkan? Okay, masuk akal juga spekulasi semacam itu.

Akhirnya, semua terpulang kembali kepada pendapat masing-masing, terutama, setelah teman-teman membeli dan membaca buku itu sendiri sampai tuntas.

Salam,

FA Pur

Harbowoputra mengatakan...

Saia udah megang buku ini di trimed--eh, gramedia... lalu nyari yang plastiknya tersobek... dan yeaaa baca-baca dikit, liat halaman-halaman terakhir (ada gambar! tapi anime banget) dan timbang-timbang bukunya...

Untungnya ga jadi beli! Pertama, karena dompet tipis hehehe; kedua, karena udah baca repiu ini duluan. Hah, hampir aja ngabisin uang buat baca rip-off-an HarPot. Entah mengapa... terselamatkan oleh fikfanindo...

Btw btw, om-tante udah pada baca The Children of Hurin kan? Coba liat cover belakang TCoH dan bandingkan dengan cover depan Toylandar...

...similarities, anyone?

Btw, mohon maaf... long time lurker first time comment! Salam kenal semuanya!

Btw lagi, +1 Adel: emang ga adil kalo ngebandingin dengan HarPot dan LotR, tapi sepertinya tante Bones a.k.a. Luz sudah membeberkan apa saja dari Toylandar yang *ahem*mirip-mirip*ahem* dengan HarPot dan LotR.

*bisik-bisik* @Adel: tapi emang orang-orang fikfanindo kejam semua yak? Saia ga bisa bayangin apa yang bakal mereka caci kalo novel saia udah terbit (although it's still a loooong journey: bab 1 aja belom selese T^T)

OOT: yea yea, pertama kalinya ngekomen di sini... rayakan dengan menghirup napas dalam-dalam!

Cheppy mengatakan...

*bisik-bisik* @Adel: tapi emang orang-orang fikfanindo kejam semua yak? Saia ga bisa bayangin apa yang bakal mereka caci kalo novel saia udah terbit (although it's still a loooong journey: bab 1 aja belom selese T^T)

we'll chew you out! Muahahahahaha.....!

err.. masih lama, ya?

*jongkok nunggu di pintu gua. Sang pengarang sibuk ketak-ketik di dalam*

Luz Balthasaar mengatakan...

Nggak setuju juga gak papa kok. *tuing tuing*

Makanya beli dan baca sendiri, untuk ngelihat apakah komentar kita di Fikfanindo bener atau nggak.

As a note, saia kenal baik dengan Dionvy sendiri. Dan rasanya perbandingan ini nggak 'segitunya ofensif' ke yang bersangkutan...



Luz B.

Luz Balthasaar mengatakan...

Oh ya, lupa sedikit soal Mas Bowo...

Sebetulnya harga Icylandar ini termasuk lumayan murah untuk tebalnya, kalau buatku pribadi. 88k Perak. Itu makanya aku nggak pake ragu pas ngebeli buku ini.

Soal apakah cover itu terinspirasi cover buku lain, saia belum baca Children of Hurin. Aku ngecek cover beberapa edisi di Goodreads. Ada satu yang mirip sih...

The Children of Hurin

Yang ini bukan ya? Kalau yang ini, aku kira nggak segitunya persis. Barangkali masih memenuhi 'terinspirasi' alih-alih 'gile mirip banget sampe saia curiga niru'.

Terlepas dari manapun inspirasinya, aku tetep bilang kalau cover dan ilustrator sampul ini memang lihai bikin gambar keren.



Luz B.

Anonim mengatakan...

Yeah.... gw emang salah satu Icylandar Reader. Dan gw sama temen-temen sempet jengkel aja baca ni review.

Tp ya tiap org punya beda pendapat.

Kalau gw suka Icylandar soalnya ceritanya banyak dan lucu. Biasanya novel fantasi kan jarang yg lucu. Yg lucu biasanya cuma novel-novel bloon ala Kambing Jantan.

Harbowoputra mengatakan...

Yang ini bukan ya? Kalau yang ini, aku kira nggak segitunya persis. Barangkali masih memenuhi 'terinspirasi' alih-alih 'gile mirip banget sampe saia curiga niru'.

Owh, bukan sih. Saia beli yang English di TGA, dan cover yang saia maksud tuh cover belakangnya. Ah tapi yasudala, gak penting juga bahas ini^^

Tapi iya juga sih, gambarnya Icylandar ini emang bagus

Luz Balthasaar mengatakan...

@Yang (sempat) jengkel, (hehehe)

Kalau anda dan rekan-rekan mau jengkel terus pun, nggak masalah.

Saia nggak niat menjelekkan atau menjatuhkan. Saia cuma menulis apa yang rasanya bisa diperbaiki lagi dari novel ini.

Kalau saya cuma mau jelekin, saia ga akan panjang lebar nulis poin bagus dari buku ini. Dan saia ga akan ngasih tahu Dionvy kalau saia nulis repiu Icylandar.

Benernya saia udah lama dapat ijin untuk repiu Icylandar dari Dionvy sendiri. Buktinya ini. Terakhir kali kami kopi darat, yang bersangkutan malah menagih saia untuk segera merepiu.

Dengan kata lain, Dionvy sendiri yang justru mendorong saia untuk segera memberi koreksi pada Icylandar. Pun saat melakukan itu, yang bersangkutan sudah tahu bahwa tukang repiu Fikfanindo semuanya tipe sinisotoy.

Ini sikap yang sangat wajar untuk penulis yang mau maju. Kalau anda nggak ngelihat latar belakang kenapa repiu ini sampai keluar, wajar saja anda menganggap ini cuma nyari kesalahan.

@Mas Bowo, oh ya, cover belakang. >_< lupa soal itu pas nyari di GR.


Regards,



Luz B.

Anonim mengatakan...

hai.. saya muthia.
mau nanya dong.
emang menurut fikfan plot cerita harry potter kayak gimana sih ? menurut fikfanindo ada kekurangan gak dalam harry potter ?

terus nopel harpot juga emang detail banget. hehe

kan aku lg bikin nopel juga.
eh, pas baca nopel harpot, ada adegan yang sama buat nopel ku, jadi gak jadi deh..

emang susah kalo bikin nopel biar gak sama ama nopel yang bagus-bagus.

but, i'm sure i can do that.

Ashara mengatakan...

Hai... Saya Ashara..:) Newbie gitu deh.. (newbie baru punya blog, newbie di fiksi fantasi)..

Cuma mau ngasi a lil comment aja, soalnya komen2 dari suhu2 di atas udah pada top markotop semua. Cerdas, akurat, tajam, terpercaya (halah..:p).

Cuma, menurut saya, kesamaan cerita sama cerita2 lain gak mesti hasil jiplak mentah... bisa aja emang karena ada unsur ketidaksengajaan dari pelakunya (bahasanya agak.. =.=;).

When I was young ( pas SMA), kita disuruh buat cerita ttg drama keluarga. N guess what? 7 dari 40 anak di kelas buat cerita tentang ortu yang mo cerai, anaknya terus nyicip narkoba n akhirnya sakaw... etc dsb dll..

Padahal itu gak ada kerja sama looo.. :P Jadi, kayanya kalo ada kemiripan bukan berarti copy paste or something like that..:) hihi.. n soal tali busur dari rambut.. yah.. namanya juga fantasi.. haha. apa pun bisa terjadi. kalo gak namanya real story.. XD

sekarang cabuuuutttt!! XD

Cheppy mengatakan...

@Mut...

err, gak ngerti dengan pertanyaan kamu:

emang menurut fikfan plot cerita harry potter kayak gimana sih ?


Ya plot cerita HP ya... HP itu, lah! *garuk-garuk pala*

Kalau mau dibilang apakah plot HP ga ada kekurangan, sepertinya sih ga ada yang sempurna, ya. Semua cerita pasti punya hal yang bisa diulik-ulik. Tapi untuk sebuah cerita yang secara obyektif memukau jutaan 'minds', saya pikir dia telah memenuhi satu hukum utama fiksi:

"HP telah berhasil membuat pembacanya masuk secara total ke dalam universenya." Kalau itu sudah tercapai, pembaca pasti akan suka rela memaafkan inkonsistensi apapun demi menikmati ceritanya. And that's all that matters, kan?

Tapi buat gue sendiri, salah satu kekaguman gue sama karya tante Rowling adalah kemampuannya menyusun backstory yang interlocking banget dengan cerita utama. Semuanya tersusun secara make-sense, ga maksa.

Gue pengen banget bisa bikin yang kayak gitu, yes.

Tapi bukannya si tante ga ada lawan, lho. Kalau mau lihat backstory yang kuereeeen dan epik.....

Baca aja the greatest fantasy of all time:

Bharata Yuda & Ramayana :)

BTW Mut, adegan yang sama nggak akan langsung dicap niru. Tiap adegan kan punya latar belakang situasi dan pencetusnya. Sepanjang latar belakang situasinya jelas berbeda dan masuk akal dalam universe tersebut, ya ga masalah, lah... Asal aja jangan sampe pembaca langsung ngerasa, loooowh koq plekketiplek sama, gitu.

@Ashara,

Topik ortu cerai + narkoba?? Hehehe, itu kan hot topik anak SMA jaman sekarang? Ya gak heran kalau secara kebetulan hinggap jadi ide temen-temen kamu.

(jadi punya ide: gimana kalo anak yang ngadepin ortu yang mau cerai gara-gara salah satunya mencicipi narkoba... wkwkwkwk)

Anonim mengatakan...

ada tips-tips ga, biar ceritanya bisa disukai banyak orang tanpa nyontek atau kesalahan logika ?

pokoknya tips-tips biar ceritanya bagus lah.
yang lengkap ya.
thanks

muthia.

Anonim mengatakan...

Oh Icylandar jg ada reviewnya. Td baru aja kasih komen di Nibiru.

Aq suka novel Icylandar. Salah satu novel paling the best yg pernah kubaca. Mungkin memang ada hal-hal yg agak "nyleneh", tp herannya selama aq baca, ag ga merasakan itu. Ceritanya ngalir bgt.

Waktu pertama liat novel ini di toko buku, aq langsung jatuh hati. Walau sinopsisnya bisa dibilang agak "ga menarik". Tp ternyata isinya jauh jauh jauh lebih baguuussss dibanding sinopsisnya.

Biasanya orang tertipu beli buku krn sinopsisnya bagus tp ternyata isinya jelek. Kalau kasusnya Icylandar, org bisa tertipu ga jadi beli krn sinopsisnya agak datar padahal isinya bagus banget.

Ga sabar nunggu Icylandar 2 :)

Nash.

Ashara mengatakan...

@mutia: ==; konsultasi dulu ma ilmuwan tiap kali selesai buat cerita? kan jadi tau masuk akal pa gak *saran ngaco->kena hammer*

Riset dulu kali ya? Mumpung make google masih gratis (paling bayar internet wae). xixi. riset, riset, riset! yihaa! jadi kalo ada yang bilang cerita kita gak masuk akal, kita langsung bisa debat, "lha? asal argumen anda darimana? saya sendiri punya argumen ilmiah dengan data pendukung dari jurnal terakreditas berikut yang sudah kredibel dan bla3..." *semakin ngaco*

yah, pokoknya sih, yang biasanya jeli liat masuk akal ma kagak itu orang lain yang baca. pembaca itu kritikus hebat.. jadi rajin2 aja kasi liat tulisanmu ke orang lain. hehe...:)

@cheppy: hihi.. boleh. terus endingnya satu keluarga pada pake narkoba n mati sakaw semua..

Cheppy mengatakan...

@Muthia,

Supaya cerita bisa disukai banyak orang? who knows? Ga ada hukumnya, ga ada resep baku. Kadang karena timing, kadang akibat aksesibilitas.

Tapi ada prinsip umum yg sepertinya cukup berlaku. Buat cerita tersebut 'bisa masuk' di hati banyak orang. Banyak beresonansi dengan perasaan khalayak, menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak, jujur tanpa pretensiusisme (halah), diterima tanpa memaksa dll.

Soal logika? Sebenarnya ga perlu syarat tinggi, koq. Yg penting bahwa seluruh komponen cerita mengikuti suatu tata hubungan sebab-akibat yang mengatur universe di dalam cerita itu, secara konsisten, itu aja.

Logis bercerita, bukan berarti wajib ilmiah. Logis adalah kepatuhan terhadap hukum sebab-akibat yang berlaku, sekalipun hukum tersebut juga merupakan hukum ciptaan pengarang.

Kenapa harus logis? Soalnya kita memainkan pikiran orang, dunia benak pembaca. Dunia benak bekerja berdasarkan hukum sebab akibat. Dan dunia benak bisa menerima hukum sebab-akibat yang berbeda dari realitas. Tapi dunia benak akan cepat menemukan sesuatu yang inkonsisten, karena hal itu udah menyalahi cara kerjanya.

@Ashara,

Dan jadilah film: Arwah Penasaran Keluarga Sakaw Ngesot di Jembatan Casablanca...

FAPur

Ashara mengatakan...

@cheppy: ahihihihihi...
bagus2.. terus tinggal tambahkan sajah Miyabi n JuPe sebagai bintang filmnya. pasti tambah laris. Tapi jangan di Casablanca ah. kalo sekeluarga pada ngesot, tar bikin macet jalan.. xp

Anyway kok jadi bahas film? wkwkw.

@muthia: (kali ini serius). Emang nggak relevan sama pertanyaanmu, tapi saya ngerasa wajib nambahin: WASPADALAH PADA PILIHAN KATA!! WASPADALAH!! WASPADALAH!!Kalo salah ntar jadinya agak aneh dan bisa memacu ketidakmasukakalan *pesan dari orang yang menjadi korban kesalahan milih kata*

Luz Balthasaar mengatakan...

@Muthia: Nggak ada resep untuk bikin karya kita pasti disukai orang. Yang berada di dalam kuasa kita hanyalah,

1. Bikin karya yang membuat hati kita senang. Percuma nulis kalau topiknya nggak kita sukai.

2. Karya itu kita niatkan untuk dibagi ke orang lain. Jangan nulis sesuatu cuma untuk dibaca sendiri. Menulislah dengan niat awal untuk dibagi.

3. Sepakat dengan Om Pur, berusahalah untuk tulus membagi kisah dalam berkarya.

Soal kekurangan dalam Harpot, wew, tentu saja ada. Death eater/Pelahap Maut, for starters. Namanya nggak banget buatku. Kedengeran gak keren buat organisasi kejahatan. Nama awalnya pas masih direncanakan sama Tante JKR malah lebih keren, The Knights of Walpurgis. Ngimbang dengan The Order of Phoenix.

Kedua, cara Rowling ngebunuh karakter seringkali gampang banget. Tinggal keluarkan mantera A*ad* Ke*a*ra, dan bum.

Bolong logika juga banyak. Di HP1 misalnya. Segala rintangan pelindung menuju Philosopher's Stone bisa dipatahkan sama 3 orang anak kelas 1, padahal mereka dibikin oleh guru-guru Hogwarts yang sakti mandraguna.

So much for sakti.

Lalu, di ujung petualangan sepanjang itu, kita cuma dapat epilog basi yang menggambarkan keluarga Potter dan Weasley beranak-pinak kayak kelinci? Grrr...

Banyak yang bisa kukeluhkan dari Harpot. Kalau site ini namanya bukan fikfanINDO, bisa aja aku nulis repiu ngenye buat harpot.

Jangan salah--aku suka Harpot. Tapi itu nggak berarti aku membutakan diriku dari cacat-cacat yang ada di dalam buku itu.

Buatku karya yang bagus bukan karya yang tak bercacat, tapi karya yang unsur bagusnya melebihi kekurangannya.



Luz B

Anonim mengatakan...

Menurutku justru kalau ada karya yg bagus, wajar kalau kita terinspirasi sehingga terciptalah kesamaan adegan dan tokoh. Justru aneh kalau kita terinspirasi sama karya jelek :))

Yg penting cerita kita bagus dengan tetap punya keunikannya sendiri.

Misal kalau di Harpot, tokoh penyihir kan bukan hal baru. Sejak jaman batu jg penyihir udah ada. Tp yg bikin unik adalah penyihirnya sekolah. Dan ceritanya jg oke (mau nambahin satu bolongnya Harpot. Si snape itu kan darah campuran ya. Knp dia bisa masuk Slytherin yg menuntut darah murni? Bener ga sih?)

Atau kalau di Icylandar. Tokoh elf kan udah tenar. Tp di icylandar uniknya elf nya punya kehidupan dan elf-elf icylandar itu bisa dibilang keluar pakem per-elf an. Aq yakin susah lho bikin cerita yg berani keluar pakem. Apalagi utk tokoh setenar elf yg sudah pakemnya mistik-mistik dan bertata krama tinggi gitu.

Nash.

Anonim mengatakan...

Ikutan komen nih, soal Harpot

1. Kementrian Sihir itu di tempat laen apa emang di bawah tanah? Kalo emang di bawah tanah, kok bisa ada Atrium Kementrian Sihir yg segede gitu? (waktu HP5 voldemort vs dumbledore)

2. Trus lagi, masih kementrian bawah tanah. Gimana tuh cara buat kantor bawah tanah, yang dibawah kota London, yang--denger-denger--sampe lantai 7? :o

pendapatku mungkin dijawab, "namanya aja sihir. Ada mantra, ada penyihir semua jadi. Ngapain repot-repot sih?"

(lha kok dijawab sendiri?)

Anonim mengatakan...

ooh begitu...

thanks sarannya.. hehehe
tapi inspirasiku bukan dari harpot ato semacamnya, dari berita di tv, koran, majalah, ampe iklan juga bisa aku dapetin inspirasinya asalkan bisa dioleh dengan baik.
aku juga suka extreme sport, jadi salah satunya aku masukin di cerita hehe..

thanks sekali lagi

ps : waktu itu aku pernah nanya ke temenku yg tergila-gila ama harpot di smp,
sayah : kok di harpot bisa ada apa aja ya ? ampe hal paling aneh juga ada ?
Temen sayah : yah... namanya juga sihir. anything is possible.
sayah : masa ?

apa emang cuma alesan itu doang yah ? pasti ada sesuatu hal yang sihir ga bisa lakukan ( mungkin membangkitkan kematian )

muthia

Cheppy mengatakan...

1. Kementrian Sihir itu di tempat laen apa emang di bawah tanah? Kalo emang di bawah tanah, kok bisa ada Atrium Kementrian Sihir yg segede gitu? (waktu HP5 voldemort vs dumbledore)

Ahhh, ini point yang menarik untuk menjelaskan konsistensi setting ciptaan pengarang.

Jadi, di HP, terutama di Kementrian Sihir, ada hukum fisika 'khusus' yang memungkinkan ruang (space) berukuran lebih besar daripada yang memungkinkan.

Nah, karena ini adalah fantasy, tentu keberadaan hukum yang nggak sama dengan realitas, adalah dimungkinkan. Hanya, perhatikan bahwa JKR nggak asal bikin hukum-hukum semacam itu.

Hukum itu menjadi 'mungkin', karena ada sistem sihir di dunia Harry Potter. Memang enaknya sihir, hubungan sebab-akibat seolah-olah bisa diabaikan.

Padahal ngga gitu juga. Perhatikan bahwa JKR, secara konsisten menciptakan suatu hukum sihir yang mampu merubah dimensi ruang. Pertama-tama tenda, yang di dalam bisa jauh lebih luas dibanding tampak-luar (kayaknya dimulai dari buku 3, waktu lihat pertandingan Quidditch nasional itu khan?).

Dan hukum yg sama, dia terapkan pada berbagai situasi lain. Makanya buat pembaca jadi nggak aneh lagi.

Yang penting adalah konsistensi, hukum tersebut harus diterapkan secara sama untuk setiap situasi yang memiliki faktor-faktor pencetus serupa. Dengan demikian para pembaca ngga akan kebingungan...

Salam,

FA Pur

Cheppy mengatakan...

@Nash, koreksi. Snape berdarah murni. Sejak kecil dia udah bergaul dengan Lily Potter, dan sama-sama berdarah murni. Yg aneh sebenernya Petunia (kakak Lily, budenya Harpot), sebenernya berdarah murni tapi gak mau masuk Hogwarts. Squib, mungkin?

Yang berdarah campuran malahan adalah Tom Riddle.

FA Pur

Anonim mengatakan...

@cheppy
kan tom ridle brdarah campuran, kok dia bisa bikin organisasi pelahap maut biar penyihir cuma yg brdarah murni aja n anti mudblood jg muggle. pdhl diannya jg mudblood toh. woom. .
ada alasankah ?
trus dunia harpot tuh disebuat universe apa yah ?

muthia

Cheppy mengatakan...

@Muthia,

Ahhh, Mut, because at that time, dia udah The Dark Lord,... siapa yang berani persoalkan dia mudblood? Hehehe.

BTW gue jadi inget The Halfblood Prince, itu kan nama samarannya Snape, ya? Apa itu artinya si Snape berdarah campuran? Ah nggak, dia berdarah murni koq *bingung sendiri*

Universe-nya HP, ya disebut dengan universenya HP, lah. Istilah universe itu mengacu pada sebuah 'dunia' lengkap yag diciptakan oleh seorang pengarang sebagai setting dimana ceritanya berlangsung.

Universe cerita A berbeda dengan universe cerita B, gitu aja. Perbedaan universe tentunya menyebabkan hukum2 dalam cerita itu jadi berbeda.

FAPur

Anonim mengatakan...

@cheppy
nanya again. .hihi
karna saia kaga baca harpot secara keseluruhan, pernah ga sih ada pelahap maut yg ngomongin si the dark lord ituh yg masih bdrah campuran. selamanya juga berdarah campuran.
asal mula terbentuknya pelahap maut juga ( kayaknya mah . . .) ga dijelasin scr detail di hp5. jadi masih banyaaaak bgt yg pengen ditanyain. kalo ketemu tante jk juga kaga trlalu bisa bahasa inggris, apalagi pake 0 aksen british. wa a a ah palibet deh. ( lha jadi curhat xixi. .)

Luz Balthasaar mengatakan...

Sebenernya...

Lily Potter itu Muggle-born witch kayak Hermoine. Cek buku kelima, kalau ga salah, ketika Harry nyemplung ke dalam ingatan Snape. Di situ Snape manggil Lily "mudblood" satu kali.

Petunia bukan Squib. Dia muggle yang lahir di keluarga Muggle.

Snape itu half-blood. Ibunya Elaine Prince, penyihir. Bokapnya, Tobias Snape, muggle. Makanya, julukan dia "Half-Blood Prince," ngambil nama "Prince" ibunya.

Slytherin memang suka anak-anak darah murni, tapi rasanya sorting hat nggak pernah bikin persyaratan yang masuk sana harus darah murni. Masuk akal karena sorting hat itu tadinya milik Godric Gryffindor.



Luz B.

Cheppy mengatakan...

@Luz,

Ahh, bener gitu? TQ untuk koreksiannya :)

Rupanya gue nyemplung di Pensieve yang salah, punyanya om Sotoy yang banyak banget bolong memorinya!

Hehehehe

FAPur

Anonim mengatakan...

Kok jd membahas harpot ya hehehehe.....

Nash.

Anonim mengatakan...

just curious...

karena banyak yang ngomongin harpot, disini ada yang main di indohogwarts.co.nr, gak? iya saya belom lama main jadi masih norak, hahahahha. dan saya tau ini pertanyaan out of context banget, tapi ya itulah: just curious :Dv

AbyssCrawler mengatakan...

lapor. halaman 607 ada typo

Luz Balthasaar mengatakan...

Kalau gitu saia yang rabun krn ga ngelihat typo itu, hahaha.

Anonim mengatakan...

+1 inkonsistensi di Harry Potter #4

Di Bab 8 disebutkan bahwa Piala Dunia Quidditch pada timeline buku tsb. (taun 1994) adalah yg ke 422. Tapi, di buku Quidditch Through the Ages, yg menjelaskan sejarah2 Quidditch, menjelaskan bahwa Piala Dunia pertama digelar taun 1473 dan dilaksanakan tiap 4 taun sekali. Harusnya, Piala Dunia yg dekat dgn taun 1994 itu yang ke 130, nggak sampai 422!

Juga, kalo memang diselenggarakan 4 taun sekali sejak taun 1473, Piala Dunia harusnya diadakan taun 1993 (yg ke 130) dan 1997 (yg ke 131), bukannya 1994.

Hehe..
Roni

Anonim mengatakan...

heri spica

sebenernya idenya orisinal, membahas kehidupan elf, tapi jalan cerita dan karakter memang masih kurang bagus dan comot sana sini dari cerita lain.

tapi di icylandar 2 kualitasnya parah abiss, jelek melebihi yg pertama dan lebih banyak jalan cerita yg ga konsisten dgn karakter yg begitu2 aja

saya ingin mengirim ulasan soal icylandar, tapi ga tau gimana caranya dikirim ke blog ini

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
FA Purawan mengatakan...

@Heri Spica, komentar dobelmu udah aku bantu hapus :)

Well, untuk ulasan, fikfanindo menganut azas tim reviewer dan redaksi untuk menentukan review dimuat atau nggak. Kami nggak menerima posting review secara langsung dari penulis luar.

Kalau Heri berminat ikut menjadi jajaran reviewer di fikfandindo, coba kirim aja review kamu ke alamat email saya: fapurawan@gmail.com. Saya akan menelaahnya sesuai dengan visi missi blog ini. Tentu saja, saya punya kuasa penuh untuk menentukan penilaian, hehehe (ga boleh protes, ya)

Tapi kalau ingin menanggapi salah satu review yg sudah dimuat, bahkan sampai level menulis review alternatif untuk novel tersebut, silakan aja langsung di kolom komentar. Aku juga gak tahu apakah ada batasan jumlah karakter di blogspot ini, tapi.... Just do it! :)

Anonim mengatakan...

heri spica

to fa purawan, terima kasih atas pedoman yg diberikan. saya akan kirimkan ulasan saya tentang novel Icylandar 2, mudah2an bisa diterima dgn baik

Anonim mengatakan...

heri spica

maaf ijin posting link review saya di sini, kalau ga berkenan silakan di hapus

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=19767&post=1

FA Purawan mengatakan...

@Heri, thanks atas posting linknya. Rekans yg tertarik untuk mengetahui opini Heri, silakan mengunjungi link tersebut.

Karena Heri sudah mempublikasikan reviewnya di tempat lain, saya kira nggak perlu lagi saya pertimbangkan untuk tampil di fikfanindo, ya kan Her?

Kalau saya boleh mereview review kamu, maka menurut saya kamu memiliki pandangan dan alasan2 yang cukup objektif mengenai kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam Icylandar 2, tapi saya belum melihat keseimbangan dalam review tersebut.

Mungkin karena kamu ingin berfokus pada kelemahan novel itu. Thats fine. Tapi kalau menurut saya, dalam rangka pembelajaran para aspiran penulis lain, kita harus juga bisa melihat hal hal positif apa yang sudah dicapai dalam karya tersebut, sehingga kita pun bisa belajar darinya.

Salam sukses,

Anonim mengatakan...

heri spica
terima kasih atas tanggapan fa purawan utk review yg saya kirimkan walaupun tidak jadi dimasukan dgn pertimbangan yg sudah disebutkan

dalam review itu saya memang hanya fokus pada kekurangan dlm novel jadi hasilnya tampak berat sebelah sementara kelebihannya tidak saya bahas

sebenarnya memang ada sejumlah daya tarik dan bagian2 yg bagus dari novel ini tapi sangat sedikit sehingga saya lebih terfokus pada begitu banyaknya kelemahan - bisa dikatakan berlimpah ruah :D

tapi bila sudah saya sempatkan untuk mereview point2 positif dari novel ini, saya akan kirimkan juga ke imel fapurawan

semoga dgn adanya perimbangan dari kedua sisi, review saya bisa jadi bahan pertimbangan utk calon pembaca serta memberi tambahan wawasan utk yg sdh tlanjur membaca

terima kasih

Anonim mengatakan...

heri spica

salam

sesuai kata2 saya sebelumnya, saya telah melihat lagi novel Icylandar 2 untuk mengingat dan men-cek lagi beberapa nilai lebih dalam buku ini

saya sudah mengirimkan review saya pada imel fapurawan@gmail.com isi review saya

semoga isi ulasan saya bisa membantu mengimbangi review dari kekurangan novel ini yang lebih dulu saya tulis sebelumnya

terima kasih

FA Purawan mengatakan...

@Heri Spica, saya sudah baca tambahan review kamu mengenai Icylandar 2. Saya menghargai upaya kamu dalam belajar membuat review yang baik, dan saya harap upaya-upaya ini dapat mengasah kemampuan dan wawasan kamu secagai seorang (calon) reviewer beken, di masa depan. :)

However, saya belum bisa memuat review itu di fikfanindo untuk saat ini. Harap kang Heri bisa memaklumi.

Tentunya, kamu bebas memuat reiew tersebut di media-media lainnya yang kamu inginkan.

Sekali lagi, trims dan salam hangat.

FAPur

Anonim mengatakan...

mas fa pur
terima kasih sdh mengapresiasi review saya dan juga saran utk memuat di media lain

tidak apa2 kalau review itu belum bisa dimuat, tapi saya harap ada usulan agar saya juga bisa membuat perbaikan dalam membuat review utk buku2 lain

terima kasih

heri spica

Sunflower mengatakan...

Hi, salam kenal ... saya suka reviewnya mas Fa Pur dan saya ingin tahu apakah pernah review Ther Melian karya Shieni MS (kalau gak salah ingat) ? Saya sudah baca review di goodreads, tapi membaca review mas Fa Pur saya tertarik membaca review versi mas Fa Pur.
Thanks.

FA Purawan mengatakan...

Hi Sunflower,

Review Ther melian 1,2,3,4, secara borongan sudah diniatkan akan digarap oleh rekan Luz Balthasaar.

Kita tunggu tanggal mainnya!

Salam,

FAPur

Sunflower mengatakan...

Oh ya, kalau begitu saya duduk manis tunggu tanggal mainnya, semoga gak pake lama =)

Anonim mengatakan...

buat mbak / mas Luz B (ga jelas cowo apa cewe)

JANGAN MAEN CAPLOK NAMA AJA desainer cover nya bukan Christian Chandra, TAPI MARIO DIAZ.

Btw, yang bikin postingan ini penulis apa TUKANG CUAP - CUAP YA?

FA Purawan mengatakan...

Wah, mas / mba anonim emo yang gag jelas juga,...

Reviewer udah nyebut koq tuh, di bagian kredit title, ilustrasi adalah dua orang: Mario Diaz dan Christian Chandra, entah yg mana yg desain cover mana yg gambar ilustrasi lainnya (dalam).

Dan biasanya kami ambil keterangan yg ada di credit title halaman depan. Apapun yg ditulis di situ.

So, se gag jelas-gag jelasny poin komplain anda, sepenangkapan saya reviewer sudah mencantumkan informasi yang sebenarnya.

Tapi anyway, saat anda menanyakan Penulis apa Tukang Cuap-cuap,... Kayaknya kami lebih senang menyebut diri Pencuap-cuap yang Tukang Nulis!

Heheheheh. Lighten up!
FAPur

Luz Balthasaar mengatakan...

@anonim, Saia cewek. ^^

Dan jangan maen caplok (satu) aja, desainer cover ada dua. Saia cuma nitip pesan ke salah satunya.

You know, agak mengherankan anda perlu bertanya pada saia tentang orang macam apa yang membuat postingan komentar anda. Saia kira anda bisa mengenali sendiri apakah diri anda termasuk penulis, atau tukang cuap-cuap...


Luz B.

Anonim mengatakan...

heri spica

baru aja nonton anime naruto, ada ninja cewek namanya Tsunade, rambutnya dikepang dua di belakang. jadi inget ada elf cowok di icylandar yg kekanak2an, rambutnya juga dikepang dua dibelakang. hmmmm, kayaknya peniruan abis dari naruto yg udah lebih lama nongol bertahun2 sebelum icylandar

adi suwarman mengatakan...

saya baru baca ini..sangat setuju ama tulisan terhadap novel ini.. walau secara umum saya suka bacanya..selain itu di icylandar 3 sudah ada banyak peningkatan hehee..dulu saat pementsaan drama malah saya lewatkan baca nya.. seorang seperti naya malah dijadikan bahan olok2kan dgn perannya.. selain itu joici juga mungkin terinspirasi avatar..

lautan kata mengatakan...

Kalau mau lihat backstory yang kuereeeen dan epik.....

Baca aja the greatest fantasy of all time:

Bharata Yuda & Ramayana :)


@Cheppy: yakin? pernah dengar la galigo? kalau pernah dengar atau mungkin membacanya, mungkin anda akan mempertimbangkan kembali pendapat itu.

FA Purawan mengatakan...

@Lautan Kata

yes, sudah pernah baca tapi versi retelling nya, dan kayaknya gak semua part.

La Galigo buat saya termasuk karya yang kental nuansa fantasinya, malah bisa saya imajinasikan sebagai embrio-nya indikasi Ancient Aliens, hehehe

Anonim mengatakan...

Ahem...

Saya baru beberapa hari ini nemu ini blog en baca review novel2 fikfan di mari. Overall saya suka sama reviewnya.

Berhubung di review ini rada2 nyinggung dunia LotR ama Harpot, saya mau cuap2 dikit (panjang lebar) nih.


Jujur saya belum pernah baca novel Icylandar ini (baca judulnya ngedadak inget judul pelem zzzadul Highlander), tapi pas baca reviewnya di mari, terutama bagian naming, baik untuk para tokoh elf dan tempat, ko saya berasa getek-getek gimanaaa gitu. Kesan pertama yang nyantol di otak tuh norak, gak nyambung, agak maksa, dan ga memberi kesan kalo mereka itu merupakan kaum elf. Ambil deh contoh beberapa nama ras elf di LotR atawa The Hobbit : Arwen Undomiel, Lord Elrond, Haldir, Legolas, Tauriel, Lady Galadriel, Lord Celeborn / Teleporno, dan Thranduil. Itu tuh sekumpulan nama yang memiliki ke-khas-an, elvish banget, jauh dari kesan nama standar yang lazimnya dipake sras human / manusia, apalagi namanya terdengar rada2 modern macam Padris dan Louie. LOUIE!!! Buat saya ni nama lebih cocok dipake sama tokoh pangeran or raja ras manusia dari kerajaan abad pertengahan / medieval or jaman2 renaissance gitu lah. jadi terkesan kayak air sama minyak, ga nyatu antara nama berkaitan dengan asal ras juga setting tempat di mana cerita berlangsung. Mungkin sebagian orang ngangap ini perkara remeh-temeh, tapi buat saya pribadi ini cukup vital dari segi penyajian yg serius, detil, berkesan riil, dan tentu professional, apalagi kalo si pengarang punya ambisi pengin jadi seorang penulis pro yang disegani di kancah dunia persilatan.
Sekedar berbagi tips nih buat temen2 yang barangkali berniat atawa sedang dalam proses menulis cerita yang punya tema seperti Icylandar ini, khusus buat naming, boleh lah dicoba rada2 kreatif tapi nyontek dikit, kan sekarang banyak tuh SYLVARI / ELVISH NAME GENERATOR, disana bisa nemuin ratusan bahkan ribuan nama buat tokoh ras Elf yang mau kita pake, tinggal ambil yang kita pikir bagus trus dimodif deh tu nama dikit2 biar ga terkesan copas bangat, asal tetep layak pake, ga jadi jelek dan ga enek aja pas dibacanya hahaha.

But of course, this is just IMO, so no offense :D

Jay

Kampana putra mengatakan...

Aku jadi banyak belajar. Nice bgt yah! Mogah mogahan ilmu aku semakin bertambah, aminnnnn.....

Anonim mengatakan...

sebenernya saya sedih baca ini. karna menurut saya icylandar merupakan salah satu novel yang bagus mungkin memang ada beberapa bagian yang mencomot dr cerita yg sudah ada sebelumnya, dan memang bukunya yg terlalu tebal membuat beberapa orang malas membacanya. tapi, saya malah ga berfikir kaya gitu, menurut saya icylandar adalah novel yang bagus banget karna ceritanya juga sangat menarik. imajinasi penulisnya juga bagus banget karna memiliki pemikiran yang luas, saya salah satu penggemar icylandar memang kurang suka dengan icylandar 1 karna ceritanya belum terlalu menarik. tapi setelah melihat icylandar 2 dan 3 saya benerbener terpesona karna ceritanya sangat bagus, apalagi buku ke 3. jarang banget orang yang punya imajinasi tinggi banget tentang bagaimana markas mata-mata. tapi di buku ketiga di kasih tau gimana itu markas utama matamata icylandar yang namanya labirin tanah tandus, itu keren banget. gapernah kepikir sama sekali ide ide keren yang ada di icylandar.

Anonim mengatakan...

Rambut Elf yang dijadikan tali busur, jadi kenget TLOTR, tepatnya busur si Lgolas yang dikasih sama Lady Galadriel sebagai hadiah dari Lothlorien. Kata si Lady, busur itu sama seperti yang digunakan di Lothlorien dimana lebih besar dan lebih kuat dari busur kebanyakan dan tali busurnya terbuat dari rambut Elf.