Senin, 26 Maret 2012

DUNSA (Vinca Callista - 2011)

Review by Luz B.
 
 
Tebal: 441 halaman plus glosarium
Penyunting : Jia Effendie
Penyelaras : Ida Wajdi dan Fenty Nadia
Pewajah Isi : Aniza Pujiati
Desain Sampul : Dmaz Brojonegoro
 
 
Pada repiu saia sebelumnya saia menyebut rencana saia untuk merepiu satu seri Novel Fiksi Fantasi Indonesia yang terdiri dari empat buku. Tapi sebelum itu, untuk pemanasan, saia akan terlebih dahulu merepiu buku kali ini. Dunsa, karya Vinca Callista.
 
Saia mendengar buku ini dari gosip temen. Katanya Dunsa sempat menjadi trending topic di Twitter. Saia sendiri sih nggak dengar apa-apa. Saking kupernya, kali.
 
Untuk menebus dosa kuper itulah saia akhirnya beli dan baca buku ini. kalau berita trending topic di Twitter itu benar, maka sepertinya itu memang pantas terjadi. Buku ini mengandung beberapa contoh pemakaian elemen-elemen fiksi fantasi yang layak dibahas.
  
 
Walau mungkin nggak selalu dalam pengertian untuk ditiru.
 
Saia suka cover Dunsa. Saia pernah bilang, saia lemah sama hand-drawn art. Atau yang seolah-olah hand-drawn. Dan cover Dunsa ini adalah hand-drawn art. Ukh.
 
Begitu lihat, saia langsung kleper-kleper kena serangan super effective, ibarat Pidgey level cupu kesambar Thunderbolt. Cover dominan biru, hand-drawn art yang menggambarkan singa bersayap naik kereta dikelilingi gagak bersayap daun pisang...
 
Saia gak bisa mengeluarkan satu omelan pun. Kecuali mungkin kaki singanya yang agak aneh. Tapi sisanya... nggak bisa. NGGAK BISA! Dmaz Brodjonegoro alias @curutsalto, selamat. Anda layak dapat pisang.
 
Tapi.
 
Pokemon battle belum berakhir, Sudara dan Sudari sekalian. Saia punya pertanyaan buat penerbit--yang sebenernya bisa juga berupa pujian. Kenapa itu satu plot twist besar ditulis di sampulnya? Kenapa dibilangin di sampul depan (dan blurb di belakang) bahwa si tokoh utama harus membunuh ibunya?
 
Di satu pihak, itu plot twist yang sudah capek-capek dibangun penulis. Kenapa itu dikasih tahu dari awal? Pas itu diungkapin di dalam ceritanya, gregetnya jadi kurang berasa.
 
Di lain pihak, sop iler satu itu mungkin bener-bener bukan sop iler, tapi kesengajaan yang lumayan cerdas. Saat membaca itu, beberapa pembaca barangkali percaya bahwa buku itu cuma muter di premis anak bunuh ibu. Sehingga, begitu pengungkapan bagian plot yang lebih penting, mereka akan berkata, "OMG!"
 
Saia bahas ini bentar lagi, deh.
 
Dari cover saia lompat ke halaman pertama. Saia terkesan sangat pas membaca bagian awal buku ini. Bukan karena dia luar biasa atau apa, cuma karena dia dieksekusi dengan baik aja. Suspensnya dapat. Dan naming-nya! Pemakaian nama-nama berbau Indonesia-nya bagus! Ada Danda Merah, Tirai Banir, Hutan Indurasmi, Kahrama... oke banget! Satu poin plus lagi.
 
Satu lagi yang saia kagumi adalah, si penulis memakai istilah "keratuan" untuk menggambarkan suatu wilayah yang diperintah oleh seorang Ratu. Bukannya "kerajaan". Saia dibilangin sama Bang (Bukan Fauzi) Bowo dari Komunitas OOT Le Chateau de Phantasm, kalau "keratuan" itu ada dasarnya dalam bahasa Jawa, yaitu "keraton".
 
Sebab itu, "Keratuan" ini merupakan contoh coining (pembuatan istilah) yang saia kira bagus sekali. Istilah ini dipakai oleh penulis sesuai dengan konteks, dan ada dasar pemikirannya. Nggak belaka hasil merangkai huruf atau comot istilah seenaknya supaya kelihatan canggih atau eksotis.
 
Naming/coining ini menjadi agak berantakan begitu nama-nama berbau asing muncul. Misalnya, Negeri Fatacetta, Negeri Naraniscala, Dunia Prutopian, Bibi Bruzila Bertin, kelompok penyihir Zauberei (yang diambil dari bahasa Jerman "Zauber" yang berarti "Sihir"), dan nama tokoh utamanya sendiri. Merphilia Dunsa Sue.
   
Tapi saia ingin membela penulis di sini. Latar cerita ini rupanya bukan Indonesia, tapi dunia fairy tale Eropa. Seberantakan-berantakannya naming, penulis berhasil membuat saia nangkap kesan fairy tale Eropa tersebut lewat penggambaran dunia yang pada dasarnya bagus, meski kadang agak berlebihan.
 
Jadilah, kalau memakai istilah Fisika, kekacauan naming ini saia nobatkan sebagai "gaya gesek yang dapat diabaikan."
 
Masih sedikit berkaitan dengan naming/coining, saia kira saia juga harus menyebut soal conlang di dalam dunia Prutopian. Conlang ini terutama dipakai untuk membaca mantra, semacam  "Lah had nipre bnad ka regreb!" atau, "Anure vuthar nakhalak retkatgna yhalil..."
 
Iseng-iseng saia mencoba untuk menyandikan conlang Dunsa. Ambil contoh kalimat ini...
 
 
Lah had nipre bnad ka regreb
 
 
Pertama dibalik,
 
 
Berger ak danb erpin dah lah
  
 
Lalu benerin spasinya.
 
 
bergerak dan berpindahlah
 
  
Not that difficult, right?
 
 
Namun, metode pembalikan dan permainan spasi seperti saia lakukan di atas berpotensi bikin kata-kata ga enak dibaca. Kalau kata-kata nggak enak dibaca, saia milih untuk gak baca. Toh tanpa saia tahu bunyinya, saia tahu si pengucap sedang baca mantra. Jadi, tiap kali ketemu mantra aneh begini, saia skip aja.
 
Lagipula di belakang-belakang kebukti kalau conlang itu nggak segitunya dipake, nggak vital ke plot, dan nggak menambah suasana atau rasa tertentu ke bangunan dunia atau karakter. Jadi kenapa harus ada?
 
Dengan satu pertanyaan itu menggantung di kepala, saia lanjut baca. Satu bab, dua bab... sepuluh bab, sampai habis. Ternyata, sudara-sudari, pertanyaan itu beranak-pinak. Ada yang positif seperti, "Hoo, ini idenya boljug. Dapat dari mana?" tapi kebanyakan nggak jauh-jauh dari "Hah, kok gini?" atau "Tokoh ini tingkahnya nggak banget sih?"
 
Setelah menutup halaman terakhir, saia resmi galau. Di satu pihak, saia terkesan. Banyak hal yang bisa saia akui bagus dari buku ini. Diantaranya, gaya menulis, beberapa bagian plot, naming/coining, dan sampul, seperti yang saia sudah sebut sebelum ini.
 
Pada saat yang sama, ada beberapa hal lain yang bikin saia ngakak nelangsa. Satu bahkan membuat saia kesal berat, hingga saia perlu berdiskusi dengan beberapa teman untuk mendinginkan kepala sebelum menulis repiu ini.
 
Mari kita ngomongin yang mengesankan dulu.
 
Saia lumayan bisa menerima gaya bahasa penulis Dunsa. Nggak terlalu bingungin, dan for the most part, nggak lebay. Kecuali kalau udah mulai mendeskripsikan sesuatu, terutama kalau sesuatu itu ada hubungannya dengan kecantikan / kepintaran / keindahan suara Merphilia Dunsa Sue. Atau kalau sudah mulai berkaitan dengan bagian vital.
 
No kidding! Ijinkan saia mengutip satu paragraf.
 
 
Mereka tiba di hadapan pintu ganda dari pualam putih yang tingginya, mencapai dua puluh meter. Pada permukaannya terukir gambar gunung yang menjadi latar belakang seorang lelaki raksasa yang memanggul neraca yang dililit oleh garis-garis cahaya. Di bagian depannya, menutupi bagian vital lelaki raksasa tersebut, garis-garis cahaya itu meliuk-liuk sehingga membentuk sebuah kalimat yang berbunyi EKZH IEREBU AZIAM ADMAL-AS EKZH. (Hal. 38)
 
 
Hum.
 
Era Celana Dalam Kembang-Kembang sudah lewat! Sekarang jamannya CAWAT BALIHO NEON!!! MUWAHAHAHAHAHA!!!
 
Saia bicarakan ini dengan beberapa teman, dan mereka sepakat bahwa tampaknya, keberadaan Cawat Baliho Neon ini mengindikasikan bahwa Markas Kelompok Zauberei adalah kamuflase untuk semacam male strip club eksklusif. Ah! Saia sepenuhnya paham kenapa Merphilia Dunsa Sue ingin masuk ke sana. (Soalnya, secretly, saia juga pengen masuk. Hehehe.) 
  
Kedua, saia  menyukai beberapa makhluk ajaib yang hadir di dalam dunia Dunsa. Favorit saia, para Wyattenakai yang bisa menembus benda. Awalnya saia kira mereka dibikin punya kemampuan itu karena mau-maunya penulis aja, tapi ternyata kemampuan mereka itu plot point. Nilai plus deh.
 
Saia juga menyukai beberapa lika-liku di tengah plot, dan suka sama satu plot twist menjelang bagian akhir, waktu diungkapkan siapa yang sebenernya jahat, apa yang dia inginkan, dan--meminjam kata-kata di depan buku--konspirasi besar yang sebetulnya terjadi.
 
Identitas si penjahat sebenarnya nggak ngagetin. Malah, agak-agak Mendadak Villain. Maksud saia, penjahatnya--mari kita sebut dia Si Toing--memang ga terduga. Tapi pas saia baca bahwa penjahatnya dia, saia nggak bilang, "OMG! Penjahatnya ternyata Si Toing!"
 
Yang muncul di kepala saia adalah, "Heh? penjahatnya Si Toing? Dan motivasinya pengen ngancurin Negeri Naraniscala adalah karena dia bete nggak dihormati lagi? Cengeng nian? Temen-temen seprofesinya, yang mengalami hal sama, nggak ada yang sampe segitunya, kali?"
 
Kesan saia, Si Toing ini dicomot untuk dijadikan penjahat karena dua alasan. Satu, belaka supaya buku itu bisa ngomong, "Woi pembaca, loe gak duga kan penjahatnya ternyata Si Toing? MUWAHAHAHA!!"
 
Kedua, penulis nggak tega sama tokoh-tokohnya. Ga salah juga sih kalau ga mau bunuh tokoh. Tapi kalau itu dilakukan dengan mendadak melempar peran penjahat ke karakter ga penting, yang terasa oleh saia adalah, penulis maksa supaya nggak ada karakter penting yang dikorbankan.
 
Begitupun, harus diakui kalau solusi yang saia sebut di atas masih sedikit lebih baik daripada solusi yang sempat saia prediksi berdasarkan tingkah laku para tokoh dan "sop iler yang barangkali bukan sop iler" di sampul dan di blurb.
 
Saia bukannya ketipu mentah-mentah sama "sop iler yang barangkali bukan sop iler" itu. Soalnya, sepanjang plot, ada banyak petunjuk yang berkali-kali menegaskan bahwa Merphilia Dunsa Sue harus kudu mesti wajib membunuh ibunya.
 
Coba bayangkan situasi ini: Kita lagi di kantor atau sekolah, dan tiba-tiba ada teman yang terus-menerus ngomong bahwa dia 'harus pulang cepat karena anaknya / sodaranya sakit' kita pasti curiga sedikit. Kok sampai segitunya dia berulang-ulang menegaskan? Apa bener anaknya sakit? Apa jangan-jangan dia bohong, dan benernya cuma mau main ke... 'Markas Zauberei' seperti yang saia sebut di atas?
 
Sama kayak kasus ini. Foreshadowing itu perlu. Tapi kalau kebanyakan dan gak subtil, saia jadi curiga juga kalau masalah sebenarnya bukan di situ.
 
Nah. Kecurigaan dimaksud adalah satu di antara banyak faktor yang membuat saia saia membayangkan plot yang benar-benar antiklimaks. Ekspektasi saia pun kesetel pada titik nadir. Tapi ternyata, saia KELIRU! Penulis menghadirkan sesuatu yang sedikit lebih baik di bagian pengungkapan. Jadilah twist menjelang terakhir itu mendongkrak nilai plus buku ini bagi saia.
 
Sekarang, mari kita ngomongin yang gak terlalu mengesankan.
 
Masalah pertama, logika cerita.
 
Seperti saia bilang, ini settingnya separuh fairy tale. Dan dalam setting fairy tale, logika cerita itu bisa sangat longgar. Tapi selonggar-longgarnya, ada beberapa hal yang tetap harus dijaga supaya believability dunia cerita tidak runtuh.
 
Terutama kalau penulis sendiri memilih untuk memakai istilah dan penjelasan yang memakai logika dunia nyata.
 
Ambil contoh kalimat ini.
 
 
"Istana Naraniscala terdiri atas banyak kastel yang terpisah dan tersebar di beberapa lokasi..."
 
 
Bagaimana bisa sebuah istana terdiri dari beberapa kastel?

Kalau dibilang kompleks Istana terdiri dari beberapa bangunan, itu mungkin. Contohnya, Istana Gyeongbok alias Gyeongbokgung di Seoul. Silakan klik tautan yang disertakan, dan lihat sendiri bagaimana sebuah istana itu bisa terdiri dari beberapa bangunan.

Tapi beberapa kastel di dalam satu kompleks istana? Entah kompleks Istana Naraniscala itu luar biasa besar, atau penulis kurang memahami pengertian istana dan kastel.
 
Kastel itu umumnya bukan sebutan untuk bangunan di dalam kompleks istana. Kastel itu adalah sebuah istana, yang didirikan dengan dikelilingi dinding benteng, dan / atau parit.
 
Tapi mari kita pakai kemungkinan pertama. Istana Naraniscala itu luar biasa besar hingga bisa menampung beberapa kastel. Masalahnya, mendirikan kastel itu gak cuma simsalabim jadi, kan? Ada perhitungan dari beberapa sisi. Dua di antaranya adalah dari sisi strategis dan ekonomi.
 
Dari sisi strategis: apa battlefield advantage dari menempatkan beberapa kastel di dalam satu kompleks Istana? (Gak ada, kalau saia bilang. Tapi toh saia bukan ahli medieval warfare. Jadi kalau yang lain ada komentar sotoy, silakan.)
 
Dari sisi ekonomi: emang siapa aja yang tinggal di istana sampe istana tersebut harus memiliki banyak kastel? Toh keluarga Kerajaan Naraniscala jumlahnya nggak sampe 10 orang. Yang lebih penting lagi, keluarga kerajaan dapat duit dari mana mendirikan istana dengan banyak kastel? Mendirikan satu istana aja udah mahal, harusnya.
 
Pertanyaan terakhir ini membuat saia teringat pada satu paragraf yang sangat menarik, seperti yang saia dapat di halaman 127...
 
 
"Kau tahu Phi? Persiapan pesta ulang tahun Ajmirre sudah dimulai sejak enam bulan yang lalu. Beritanya sudah tersebar di seluruh Naraniscala, padahal yang diundang hanya para pejabat dari dalam dan luar negeri. Aku tidak ingin rakyat Naraniscala sampai menganggap keluarga Istana suka menghamburkan uang negeri. Yah, walaupun biaya pesta ini dari kekayaan pribadi, tapi rakyat kan bisa menduga yang tidak-tidak," tutur Pangeran Skandar serius.
 
Sejak mengenalnya, Merphilia sudah menebak bahwa Pangeran Skandar adalah orang yang cerdas dan bijaksana.
 
 
Ahem.
 
Tampaknya Pangeran Skandar disini berusaha menjelaskan kekayaan keluarganya dengan logika dunia nyata.
 
Reaksi saia? 
 

  
 
Terjemahan: Ane ikutin apa kata ente deh, Pangeran.
 
Mumpung Merphilia Dunsa Sue telah menegaskan bahwa dikau "cerdas dan bijaksana", Pangeran, mari kita bicara-bicara sedikit tentang logika dunia nyata. Yang dikau sebut "kekayaan pribadi" itu datangnya dari mana, kira-kira?
 
Di jaman feodal dulu, keluarga kerajaan pada dasarnya hidup dari pajak yang disetor oleh petani. Di masa kini, sistemnya mirip. Keluarga kerajaan--minimal raja, ratu, sama putra/putri mahkota--hidupnya ditanggung oleh negara. Alias, oleh rakyat. Kalau di luar keluarga inti, mereka punya usaha.
 
Tapi sejauh yang saia lihat, keluarga Kerajaan Naraniscala nggak punya bisnis. Jadi itu "kekayaan pribadi" sebetulnya datang dari mana? DUIT RAKYAT.
 
Kalau duit rakyat dipake untuk bikin istana luar biasa megah dan banyak kastil, ya pantas dong kalau rakyatnya pada berpikir yang tidak-tidak? Saia malah heran mereka belum bikin badan semacam KPK di sana.
 
Keanehan berikutnya saia temukan di dalam plot. Spesifiknya, pada bagian pengungkapan yang saia sebut di atas. Masih ingat Si Toing? Yep. Biar saia ceritakan sedikit tentang beliauwan satu ini. Saia sudah berusaha sebaik-baiknya untuk menyensor dan menyamarkan bagian ini seperti dokumen Supersemar nan elusif itu. Maaf kalau masih sop iler.
 
Si Toing ini adalah orang yang membangkitkan Ratu Merah di bagian prolog. Motivasi dia bangkitin Ratu Merah, sudah saia sebut juga. Yaitu, dia mau menghancurkan kerajaan Naraniscala. Spesifiknya, dia mau memusnahkan jiwa baik Ratu Merah yang terkandung di dalam Key Item X itu. Soalnya, menurut Si Toing, jiwa baik di dalam Key Item X dihancurkan, tidak ada lagi yang bisa menghalangi Ratu Merah menghancurkan Naraniscala.
 
Nah. Untuk itulah Si Toing menyiapkan konspirasi. Ia mengatur agar Merphilia Dunsa Sue mengambil Key Item X itu lalu masuk ke dalamnya, dan memusnahkan jiwa baik Ratu Merah.
 
Pas baca ini serentetan pertanyaan kembali mengganggu saia.
 
Pertama, kenapa Si Toing harus repot-repot? Buat apa nyuruh si Merphilia Dunsa Sue merasuk ke dalam Key Item X dan memusnahkan jiwa baik di dalamnya? Kenapa dia nggak melakukan itu sendiri? Kayaknya nggak pernah dibilang ada mantra atau apapun yang bikin Si Toing nggak bisa melakukan itu sendiri. Lagipula, dia kan tahu kalau ramalan yang menyebutkan bahwa cuma Merphilia Dunsa Sue yang bisa memusnahkan jiwa baik Ratu Merah itu bohong belaka. 
 
Jadi kenapa dia harus menyuruh orang lain? Itu jelas beresiko, karena...
 
...Si Toing tahu bahwa yang terkandung di dalam Key Item X itu jiwa baik. Dan terang-terangan disebut jiwa baik, lagi! Masa dia nggak mikir sih kalau sesuatu yang disebut jiwa baik itu bisa membujuk hero/heroine, dengan demikian, mementahkan rencananya?
 
Tapi rupanya Si Toing ini tahu kalau Merphilia Dunsa Sue megang boladudud. (Yea, saia coining istilah Indonesia untuk idiot ball. Mohon agar anda semua tidak keberatan.)
 
Kalau saia jadi heroine, saia pasti pake nanya, kenapa saia disuruh ngebunuh jiwa baik? Tapi Merphilia Dunsa Sue nggak pake nanya. Yang penting bunuh, Beybeh!
 
Lebih parah lagi, keluarga kerajaan Naraniscala ga nanya juga, kenapa mereka harus ngebunuh jiwa baik. Mereka kayak pada megang boladudud semua, biar plot bisa maju dan berakhir pada perang nan dramatis.
 
Bagian boladudud berjamaah ini juga berkontribusi bikin ekspektasi saia rendah abis, seperti sudah disebut sebelumnya. Beruntung, jiwa baik di dalam Key Item X itu nggak ikut-ikutan megang boladudud. Dia bisa ngelurusin masalah dan ngasih tahu siapa penjahat aslinya. Sebab itulah Merphilia Dunsa Sue nggak salah bunuh, dan twistnya jadi sedikit lebih baik dari yang saia duga.
 
Tapi saia masih punya satu pertanyaan terakhir.
 
Si Toing itu kan tahu bahwa kalau jiwa baik Ratu Merah dihancurin, maka jiwa jahatnya juga akan ikut hancur karena mereka terhubung. Alias, Ratu Merah yang sudah dibangkitin itu akan ikut mati.
   
Kalau gini, buat apa dia mau ngancurin jiwa baik si Ratu Merah? Itu kan sama aja dia ngebunuh Ratu Merah? Padahal katanya dia ngebangkitin Ratu merah untuk ngancurin Naraniscala? Kalau tujuannya dibangkitin cuma buat dibunuh lagi, kenapa susah-susah dibangkitin?
 
Sebab itu, saia akan nyeponsorin Si Toing ini untuk memenangi penghargaan "Konspirasi Paling Worthless dalam Fiksi Fantasi Indonesia." Udah bikin rencana jelimet, grand, berskala edan-edanan, tapi hasil akhirnya supermassive plothole.
 
Ngomong-ngomong, masalah si Toing dan supermassive plothole di atas bukan bagian yang bikin saia kesal. Yang bikin saia kesal itu adalah... karakter-karakter dalam novel ini.
 
Sudara dan sudari, untuk menyukai suatu buku, kadang kita tidak perlu menyukai tokoh. Saia kerap menemukan seorang pembaca adem ayem sama tokoh, tapi suka bukunya karena faktor lain. Misalnya plotnya asik. Atau premisnya seru. Atau konfliknya menarik, dan sebagainya.
 
Saia malah pernah mengalami sendiri kasus yang terakhir sebelum membaca Dunsa ini. Ga suka sama tokoh, tapi bisa ngerasa oke sama bukunya karena faktor lain.
 
Lalu kenapa saia harus kesel, kalau saia udah pernah ngerasain, dan harusnya udah terbiasa sama perasaan itu? Simpelnya, karena saia belum pernah, saia ulangi, BELUM PERNAH menemukan kumpulan karakter yang lebih sinetroniyah daripada kumpulan karakter di buku ini.
 
Sebagai permulaan, saia punya ekspektasi tertentu kalau melihat karakter memakai titel "putri" atau "pangeran" atau "ratu" dan "raja". Kalau si tokoh pake titel keluarga kerajaan, tolonglah, bikin tingkahnya menunjukkan bahwa dia pantas menyandang titel tersebut. Tunjukkan kalau dia bisa memerintah dengan baik. Bisa berstrategi. Bisa berdiplomasi. Jago bertarung. Cerdik. Rela berkorban demi rakyat. Atau apalah, gitu.
 
Kalau dia tipe jahat sekalipun, bikinlah dia bertingkah seperti bangsawan jahat. Bikin dia cerdik dan kejam, dan menghalalkan segala cara. But the air of nobility should be there. Kejamnya raja/ratu/pangeran/putri jahat dan kejamnya ibu tiri/saudara tiri sinetron itu beda.
 
Sayangnya di Dunsa ini, saia nggak bisa percaya kalau Keluarga Kerajaan Naraniscala (beserta cabang-cabangnya) adalah keluarga kerajaan. Pasalnya tingkah mereka lebih mirip keluarga sosialita versi tabloid gosip/infotainment dan/atau ibu tiri/saudari tiri yang kerap digambarkan secara dangkal di sinetron-sinetron cupu.
 
Bukannya saia nggak menangkap kesan bahwa penulis berusaha membuat tokohnya terkesan cerdas. Beberapa kali di dalam narasi, atau dialog karakter, disebut bahwa Pangeran Skandar atau Putri Aereneve itu pintar. Atau sekalian dibikin kalau mereka mengutip isi atau menyebut judul buku.
 
Sayangnya, ini saja nggak cukup. Selalu lebih tokcer kalau mereka ditunjukkan melakukan sesuatu yang cerdas.
 
Di sinilah masalahnya.
 
Mereka nyaris nggak melakukan tindakan yang menunjukkan kecerdasan. Pangeran Skandar cuma muncul di perpustakaan satu kali, dan itu bukan membaca buku. Dia cuma nyari gurunya untuk keperluan yang gak disebut apa, lalu ngajak Merphilia Dunsa Sue ke pesta dansa.
 
Setelah itu dia naik kuda putih, dan menemani Merphilia Dunsa Sue ke perancang istana untuk mencari gaun ke pesta dansa. Huh?
 
Tapi saia akui Skandar memang cerdas kalau dibandingin sama keluarganya yang lain. Paling nggak dia ikutan quest ke kerajaan tetangga demi ngelawan Ratu Merah, dan kita ngelihat kalau sedikitnya, dia bisa bertarung.
 
Juga, satu-dua kali dia bisa memikirkan solusi untuk masalah yang dihadapi Merphilia Dunsa Sue. Contohnya, cara yang dia usulkan untuk merasuki Key Item X. Oke sih, walaupun saia masih bisa nanya kenapa dia ngusulin solusi itu.
 
Dia kan tahu Merphilia Dunsa Sue disihir dengan Mantra Saira, dan karenanya tidak bisa menyentuh Key Item X. Atau dia akan kejang-kejang dan pingsan. Terbukti di hal. 324 dia berkata,
 
 
"...jangan sekali-kali lagi kau menyentuhnya, Phi!"
 
 
Kapan dia mengatakan ini? Beberapa saat setelah Merphilia Dunsa Sue jatuh pingsan karena menyentuh Key Item X.
 
Nah. Kalau dia tahu efek Mantra Saira ke Merphilia Dunsa Sue itu begini, kenapa dia malah mendukung usul agar Merphilia Dunsa Sue masuk ke dalam Key Item X? Gak masuk akal.
 
Lebih gak masuk akal lagi, karena beberapa puluh halaman kemudian saia menemukan sesuatu yang mencengangkan. Ternyata, setelah masuk ke Key item X, Merphilia Dunsa Sue nggak menderita akibat apa-apa. Dia ga kejang-kejang dan pingsan. Aneh? Banget.
 
Jadi, kesimpulan saia, Mantra Saira itu cuma bekerja kalau Merphilia Dunsa Sue yang katanya kuat, cerdas, dan cakap itu butuh alasan untuk pingsan dan kelihatan lemah. Tujuannya? Apa lagi selain justifikasi untuk ditolong sama Pangeran Skandar?
 
Bagaimana dengan anggota keluarga kerajaan sisanya?
 
Pangeran Wavilerma cuma muncul di ruang takhta dan melukis. Dan ngamuk-ngamuk balikin meja ketika cintanya kepada Merphilia Dunsa Sue ditolak.
 
Ibunya Pangeran Skandar juga antik, deh. Di hal. 421 beliauwati berkata begini...
  
 
"Dasar perempuan licik! Kau mendekati dan memengaruhi anakku supaya kau bisa diterima di Istana! Aku tidak sudi!
 
 
Tapi setelahnya dia ngomong gini...
 
 
"Tapi sekarang kau akan mencampakkan Skandar demi Wavilerma! Sungguh kotor jiwamu! Kau tidak ada bedanya dengan ibumu!"
 
 
Kalau dia gak suka sama cewek yang dekatin anaknya, kenapa dia protes pas anaknya (kelihatannya) diputusin? Gak ngerti saia. Kecuali kalau dia sebenernya pengen mereka jadian, gitu. Tapi kemudian di Hal. 422 beliauwati berkata...
 
 
"Jauhi anakku! Atau kau akan terima akibatnya!"
 
 
Eh? Balik lagi nggak mau mereka jadian? Saia jadi curiga beliauwati ini penderita bipolar disorder. Tapi setelah apa yang terjadi padanya, saia kira wajar saja beliauwati mengalami gangguan kejiwaan.
  
Berikutnya, Putri Ajmirre cuma santai-santai sambil ngelus-ngelus anjingnya dan ngakak-ngakak / gosipin cowok sama Putri Geneviota. Dan jelek-jelekin Merphilia Dunsa Sue.
 
Pada kasus kedua cewek inilah saia mulai kesel sama penokohan cerita. Keselnya bukan sama tokoh kedua cewek ini, tapi pada cara mereka ditampilin. Mereka dibikin seperti penjahat cewek pendengki/kakak tiri jahat dalam sinetron. Lebih nyebelin lagi, fakta bahwa mereka ga ngapa-ngapain itu disinggung-singgung terus.
 
Padahal fakta bahwa Pangeran Wavilerma (dan Pangeran lain) yang juga ga ngapa-ngapain gak pernah diungkit.
 
Jadi di sini saia melihat penulis memakai standar ganda. Kenapa para pangeran, yang sama-sama gak berbuat apa-apa ga ditampilkan jelek? 
 
Hum...
 
Oh ya! *Nepok Jidat*
 
Tentu saja para Pangeran nggak jahat. Kan mereka jatuh cinta / terjerat pesona Merphilia Dunsa Sue. Tampaknya ada hukum tak tertulis di dalam dunia novel ini, yaitu kalau anda tidak suka / tidak menghargai / tidak cinta / tidak terpesona pada Merphilia Dunsa Sue, anda otomatis jahat.
 
Hipotesis ini terbukti pada Putri Aereneve. Dia digambarkan baik... karena dia mengidolakan Merphilia Dunsa Sue. Dan dia suka membaca. Tapi dia cuma muncul di perpus SATU kali. Kemunculannya yang lain adalah pada saat dia nangisin Merphilia Dunsa Sue yang mau pergi, dan pada saat dia beserta seluruh sepupunya santai-santai berjemur di tepi kolam renang sementara Mephilia Dunsa Sue bertarung di dalam Key Item X.
 
Lihat? Gak melakukan apa-apa, tapi gak jahat. Karena dia suka Merphilia Dunsa Sue.
 
Hal ini membawa kita pada topik hal terakhir yang mau saia bahas: Merphilia Dunsa Sue. Ya, sepanjang repiu ini saia sengaja mengganti namanya. Saia nggak punya cara lain yang lebih subtil untuk menggambarkan betapa tidak simpatinya saia sama karakter ini.
 
Pasalnya, saia nggak pernah menemukan tokoh cewek lain dalam fiksi fantasi Indonesia yang lebih Mary Sue, dan lebih berbau wish-fulfillment fantasy daripada tokoh utama buku ini. (Kecuali mungkin Kizzorgy Poesie dari Mantra: Rahasia Kitab Malaikat Sebuah Novel Menggetarkan. Tapi dia udah dibahas sama Om Soto(y), jadi bukan porsi saia lagi untuk ngebahas dia.)
 
"Tapi, Mbak," ada yang bertanya, "Bagaimana dengan Putri Sadira dari Aerial?" Maaf, Putri. Mahkota Miss Mary Sue anda sudah dirampas, pas pas passs!
 
"Aya dari ZodiaZ?" Tidak. Di sebelah Merphilia Dunsa Sue, Aya kelihatan hampir seperti Tifa Lockha--uh, maksud Saia, Rinoa Heartilly. Tifa masih terlalu keren. 
 
"Bella dari Twilight?" SELAMAT! Dalam Sue Award versi saia, Merphilia Dunsa Sue baru saja mengalahkan anda! Lebaran nanti, saia benar-benar harus minta ampun sama Stephenie Meyer plus nyungkemin buku Twilight saia, karena selama ini saia sudah begitu jahat pada Bella. Ternyata, ada tokoh yang lebih bikin saia ilang feeling, dan tokoh itu buatan orang Indonesia!
 
Saia memang harus bangga jadi orang Indonesia.
 
Untuk lebih mendalami apa itu Mary Sue, silakan klik definisi Mary Sue dari tvtropes.org.
 
Buat yang malas baca tautan luar,
 
Penjelasan standar saia tentang Mary Sue adalah karakter yang 'dianak-emasin' banget sama pengarang. Dia biasanya protagonis. Muda, selalu cantik/cakep banget, pinter banget, kaya banget, biasanya turunan bangsawan atau anak raja, tapi bisa juga nggak, dan jago dalam buanyak hal.
 
Apakah Merphilia Dunsa Sue memenuhi syarat ini? 85% lebih saia kira. Dia muda, cantik, pinter. Kaya sih nggak, tapi turunan bangsawan. 
 
Terlebih lagi, dia ini seumur hidupnya tinggal di tempat terpencil. Dia nggak punya pengalaman hidup di luar Tirai Banir. Tapi dia jago bela diri karena belajar dari bibinya. Nyihir sih nggak, tapi dia juga (katanya) cerdas karena banyak membaca buku.
 
Dan... oh ya. Dia punya suara indah.
 
Ciri Mary Sue kedua: Kelebihannya, terutama kecantikannya, disebut-sebut terus oleh semua karakter lain di dunia itu. Silakan, beberapa kutipan:
 
 
"Menurut Tuan Garzibaldi, ia sangat cantik. Sesuai dengan namanya yang berarti terkenal karena kecantikannya..." (Hal. 106)
 
"Tubuhmu yang langsing membuatmu cocok mengenakan gaun model apa pun, Nona Phi," (Hal. 121)
 
"Kau cantik sekali mengenakan gaun itu!" (Hal. 121)
 
"Aku--aku tidak mengira... Suaramu... bagus sekali Phi--sangat indah." (Hal. 130)
 
"...tapi ternyata penampilannya rapi, sukapnya sopan, ucapannya cerdas--pokoknya dia cantik!" (Hal. 137)
 
"Nah, sekarang kau percaya kan? Dia sangat cantik!" (Hal. 141)
 
"Wow wow wow, siapa gadis cantik ini?" (Hal. 160)
 
"Berani sekali kau tidak bilang pada kami kalau kau kenal gadis secantik ini!" (Hal. 160)

 
Dan ini baru dari halaman 106 sampai halaman 160. Beneran. Saia gak bercanda.
 
Ada aturan gak tertulis dalam fiksi fantasi: Kecuali secara spesifik disebutkan bahwa seorang heroine itu jelek (dan ditunjukkan bahwa nggak ada orang yang tertarik sama dia, jangan disebut jelek tapi semua orang jatuh cinta sama dia,) pembaca cenderung membayangkan heroine ini cantik. Minimal, enak dilihat, terlepas bahwa dalam narasi penulis menyebut bahwa dia "biasa-biasa saja" atau "tomboi" atau bagaimanapun.
 
Jadi penegasan berulang-ulang kayak gini nggak akan bikin saia merasa dia tambah cantik. Malah bikin jengkel. Kayak orang-orang di dunia itu nggak punya topik yang lebih penting buat dibahas. Hehehe.  
 
Ciri Mary Sue ketiga: apabila ada orang yang benci sama dia, hampir pasti sebabnya karena iri / cemburu / menyimpan napsu gak kesampean sama si Mary Sue.
 
Plus, orang yang benci dia itu hampir selalu digambarkan secara negatif. Entah dia jadi musuh, atau non-player character yang lewat di background. Contohnya, para putri yang berperan jadi kakak tiri sinetron itu.
 
Ciri Mary Sue keempat: hukum-hukum di dunia pada 'membengkok' untuk Mary Sue. Apa yang lazimnya nggak boleh/nggak bisa dilakukan karakter lain, jadi halalan thayyiban kalau dilakukan oleh Mary Sue. Dan gak ada tokoh lain yang (boleh) protes!
 
Premis seluruh cerita sebetulnya bergantung pada unsur ini. Nggak ada yang bisa membunuh Ratu Merah kecuali Merphilia Dunsa Sue. Tapi kalau cuma satu hal, saia nggak akan melakukan demo coret-coret nama.
 
Yang bikin saia ga tahan adalah karena hukum dunia juga 'ngebengkok' untuk mengakomodasi subplot percintaan Merphilia Dunsa Sue dan Pangeran Skandar. Yang notabene kakak satu bapaknya. Masalahnya bukan di insesnya sendiri. Percintaan atau pernapsuan semeleng apapun, saia terima asal eksekusinya bagus. Entah dalam pengertian tasteful, cerdas, sesuai konteks / keperluan / worldbuilding cerita, atau lucu.
 
Di buku ini, eksekusinya nggak bagus. Merphilia Dunsa Sue ini digambarkan doyan nempel-nempel ke Pangeran Skandar. Padahal dia sadar kalau Skandar itu kakaknya. Nggak pake rasa gundah atau bersalah, lagi. Kalau ada, cuma satu dua kalimat. Bis itu lanjut nempel lagi.
 
Udah gitu, Skandarnya juga adem ayem aja. Dan nggak ada satu orang pun menegur bahwa tingkahnya Merphilia Dunsa Sue itu nggak pantas. Jadi, tantangan moral dan sosial yang seharusnya ada di dalam hukum dunia tersebut 'dibengkokkan' demi kelancaran percintaan Merphilia Dunsa Sue.
 
Sampai di sini sebetulnya saia belum bisa protes. Bisa aja kawin sedarah itu legal di Prutopia. Toh keluarga kerajaan Mesir jaman dulu melaksanakan praktek ini. Jadi siapa saia, kok berani-beraninya protes?
 
Masalahnya, kalau itu legal, ngapain pas menjelang akhir, Skandar sama Merphilia Dunsa Sue mendadak galau memikirkan kalau mereka kakak-adik?
 
Aneh lagi reaksi Skandar, yang setelah galau langsung ngomong kalau dia akan melakukan apapun untuk memperjuangkan hubungan mereka. Bukankah kalau ada masalah kayak gini, seseorang yang otaknya normal akan mikir panjang tentang implikasi moral dan sosialnya? 
 
Hal ini mengungkit firasat yang muncul di benak saia sejak saia membaca kalau Ratu Merah pernah selingkuh di hal. 70. Kalau pengarang 'menggampangkan' tema yang seharusnya berat atau berpotensi angst semacam ini, solusinya pasti ternyata mereka nggak bersaudara.
 
Dan penulis make solusi ini.
 
Pantas Skandar sama Merphilia Dunsa Sue cuek-cuek aja bermesraan. Rupanya penulis dah kasi bocoran ke mereka, "Psst, nanti ada subplot dadakan kalau loe berdua dikira kakak-adik, meski benernya bukan. Jadi loe dua mesra-mesraan aja. Tapi ntar pas diungkapin subplotnya, loe dua harus berakting galau. Deal?"
 
For me, it's a no deal. Soalnya ini mementahkan seluruh unsur terlarang dalam percintaan kedua tokohnya. Apa yang harusnya bisa menjadi renungan, fetish fuel, atau minimal potensi ketegangan, cuma jadi tempelan belaka.
 
Sebab inilah, waktu diungkapkan bahwa mereka bukan saudara, saia langsung melakukan manuver berikut.
 
   
  
 
...sekalipun saia tahu solusi "bukan-saudara" ini akan terjadi. Maksud saia, cop-out abis ga sih? Kalau memang cuma untuk dimentahkan dalam beberapa halaman, buat apa dimasukin?
 
Masih bicara hukum dunia yang 'dibengkokkan' untuk kisah cinta Merphilia Dunsa Sue, di hal. 164 Merphilia Dunsa Sue menyindir-nyindir Putri Ajmirre. Pasalnya? Putri Ajmirre jatuh cinta pada Pangeran Skandar, dan kalau lihat dari silsilahnya, Skandar ini sepupuan sama Ajmirre. 
  
Kalau ngelihat dari suasana cerita, kayaknya penulis ingin agar di bagian ini saia ikut menjadikan Putri Ajmirre sebagai pihak yang salah. Dengan kata lain, saia diminta untuk ikut 'membengkokkan' hukum dunia yang menabukan inses dan mendukung sindiran Merphilia Dunsa Sue.
 
Saia nggak bisa, karena dua alasan.
 
Alasan dari segi plot: saia tahu bahwa ini efek samping dari wangsit pengarang yang saia sebut di atas. Dengan kata lain, ini plot yang kedodoran karena penulis tahu bahwa Merphilia Dunsa Sue sebetulnya bukan saudara Skandar, dan nggak bisa membuat fakta itu samar saking kepengennya menampilkan mereka bermesraan.
 
Alasan dari segi karakter: Merphilia Dunsa Sue memang bukan saudara Skandar. Tapi kan harusnya dia belum tahu itu? Kalau dia lagi jatuh cinta sama (orang yang dia kira) saudaranya, saia kok ngerasa dia gimana, gitu, kalau berani nyindir-nyindir cewek lain karena si tersindir ini jatuh cinta sama sepupu.
 
Ini yang bikin saia naruh Merphilia Dunsa Sue di atas Aya dan Bella dalam Meteran Mary Sue saia. Selama ini nggak suka heroine (atau hero) yang whiny dan doyan main boladudud. Tapi saia kayaknya sudah menemukan tipe heroine baru yang lebih saia ga suka.
 
Apalagi ketika saia membaca epilog, ingatan saia langsung flashback, dan saia menyadari bahwa Merphilia Dunsa Sue nggak pernah menghadapi konflik riil. Dia nyaris nggak menghadapi pergulatan batin ketika disuruh membunuh ibunya. Dia nggak dibebani rasa bersalah ketika mendapati dirinya jatuh cinta sama kakaknya. Kok bisa-bisanya dia dapat ending "menjadi pahlawan legendaris sepanjang masa?"
 
Asli, Meteran Mary Sue saia langsung jebol.
 
Alhasil saia perlu waktu lama sampai saia bisa menentukan sikap. Saia pengen menyukai buku ini karena setting fairy talenya yang dapet, naming yang bagus, beberapa konsep makhluk yang keren, dan beberapa plot twist yang lumayan. Saia bahkan nyaris siap menerima logika-logika bodong yang saia sebut di atas, dan mengatakan dengan bangga, "saia suka buku ini!"
 
Sayang, saia benar-benar nggak simpati sama tokoh utamanya, dan nggak klik sama satupun tokoh sampingannya. Kalau udah kayak gini, saia rasanya susah mau bilang suka.
 
Buku ini oke untuk dipelajari. Terutama kalau mau melihat contoh nyata Mary Sue dalam Fiksi Fantasi Indonesia. Tapi sebagai bacaan... yah, begitulah. Asal urat sabar anda gak putus karena pamor Merphilia Dunsa Sue yang begitu dahsyat, saia yakin anda bisa menemukan sesuatu untuk dinikmati dari buku ini.
 
 
 
 
Luz B.
CAWAT BALIHO NEON!!!

32 komentar:

Melody Violine mengatakan...

buku ini udah bertengger di rak "currently-reading" di akun goodreads saya, tapi belum maju2 dari bab 2 sampai sekarang

I really want to love this book (covernya memikat banget sih!) tapi penokohannya beneran ga berasa :( kalo si Aya Zodiaz bikin pengen nyekek, si Merphilia bikin saya bingung "Kamu siapa?"

plot twist yg Luz bilang cukup menggoda (mulai curiga Si Toing siapa), sepertinya bisa belajar banyak juga dari Dunsa

eniwei, thx for the review :D
jempol buat Luz

Luz Balthasaar mengatakan...

Thanks juga Mbak. Moga-moga repiu ini membantu.

Watch out for Si Toing!!!



Luz B.
CAWAT BALIHO NEON YEA!!!

FA Purawan mengatakan...

@Luz... mbak? Lo manggil Melody mbak??

Kalian rupanya harus kupertemukan. Kita akan bikin Fikfanindo Crew Annual Meeting 2012! Hayoo, Bali atau Babel?? :p

Jangan lupa bawa koleksi Cawat Baliho Neon masing-masing... xixixixi

Luz Balthasaar mengatakan...

Saia secara default manggil semua cewek "Mbak", dan semua cowok "Om." Itu SOP kok.

Lain halnya kalau di buku saia mereka dah punya codename sendiri.

Singapura gimana? April keknya saia kesana...

FA Purawan mengatakan...

@Luz,

Singapura???

*pinjem gambar tactical facepalm bareng itu dong*

:-D

Melody Violine mengatakan...

jadi inget udah lama blum bikin ripiu fikfan lokal ^_^a

*pilih2 timbunan*

Kencana mengatakan...

Nice review. Gilee. Segitu mary sue-nya ya si Phi ini? jadi males baca.

Walopun gelar mary sue saya sematkan ama Zoey dari House of Night. Die ini vampir dan punya banyak pacar. Mulai dari cowok manusia, & cowok vampir. Udah gitu, dia flirting ama gebetan sahabatnya. Masih kurang? Dia ngeseks ama musuhnya yg cakep.

Dan saat pacarnya yg resmi ngamuk2, dengan entengnya si Zoey ini mutusin si cowok. Reaksi sahabatnya? Mereka ngedukung Zoey dan malah bilang si cowok cemburuan gak jelas. Helloooo?

Jadi intinya: Biarpun si marry sue ini napas bau naga atau bunuh orang sekalipun pasti masih tetep disukai. Coba kalau saya bisa masuk ke movel, biar kugampar si marry sue. Bolak-nalik.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak Kencana... Thanks dan... wiw!

Saia harus coba baca itu House of Night. Kalau memang Zoey lebih parah dari Phi, nanti saia sungkemin tu buku Dunsa pas lebaran. Hehehe.

Glen Tripollo mengatakan...

Bedeuh.... *O* Salut sama reviewnya... Langsung bikin saya males baca bukunya... *O*

Btw : EKZH IEREBU AZIAM ADMAL-AS EKZH

--> SA-LAMDA MAIZA UBEREI
--> SALAM DAMAI ZAUBEREI

Conlangnya kagak kreatif ah... -__-

Yafeth mengatakan...

DEMI CAWAT BALIHO NEON!!
Saya tertawa membaca ini bukan karena humor garing tapi karena keseriusannya menyampaikan pertentangan, yang di satu sisi malah memicu syaraf lucu saya tergeliti.

Ulasan di sini bagus untuk dipantau sebelum membeli buku. Lumayan untuk hemat uang :D

Tapi di sisi lain juga bikin pundung. Jika cerita seperti ini di'sambali' seperti ini, apalagi kalau cerita saya. Untung saya tidak bikin buku, kalau tidak mungkin bakal dapat Jalapeno nih *plak!*

Maryos mengatakan...

Um. Review ini keren. Saya jadi penasaran pengen baca buku ini dan baca seberapa parahm Mary Sue-nya. Lumayan juga nih buat dipelajari. Nyahahahahah...

Harbowoputra mengatakan...

Saia mau beli novel ini, karena pengarangnya cantik.

FA Purawan mengatakan...

@Rea, mangnya pernah ketemu? *kenalin dong*

@Yafeth, lalu kenapa kalau dapat jalapeno? Your life not ended. Take it like a man! YEAH! Dan jangan lupa itu cawat neon dipasang,.... Ladies, here we come.... :D

@Kencana. Kalo bisa masuk novel, gue mau flirting sama si Zoey ... She doesn't mind an old fart like me, khan? *high hopes* BTW liat attitudenya Zoey ini, apa kita ndak sedang membicarakan salah satu novel Nick Carter atawa Anne Arrow, gitu?

fr3d mengatakan...

*baca komennya rea*

eaaah xD

Luz Balthasaar mengatakan...

Perasaan Om Soto(y) jadi getol menggiatkan pemakaian Cawat Baliho Neon untuk para pemampir cowok.

* "Apakah karena diam-diam ybs. dibayar untuk jadi PR khusus oleh... "Markas Zauberei"? *

@_@

FA Purawan mengatakan...

Bukan karena cawatnya per se, atau bayarannya... Tapi karena penggemar-penggemar di dalam sana yang demikian responsif dan memekik-mekik manja, dan.... Ah, maaf, kalau sudah on stage om suka lupa usia...

*stardom, dimanapun, is intoxicating. Pakai cawat neon keramat itupun hamba rela*

wkwkwk

Luz Balthasaar mengatakan...

OMG.

Pass the Brain Bleach please.

Zulhidayat Pramudya mengatakan...

Whew. Mary Sue. Ini adalah salah satu hal yang harus dihindari sama penulis yang dengan tokoh utama Heroine. Ingat-ingat sama novelku yang tokoh utamanya heroine. Jadi mikir-mikir, harap-harap tidak masuk jadi Mary Sue dan Membuat pembaca, sick to P**e

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mas Zul,

Itu...

... kalau memang mau p**e, silakan dilihat Om Soto(y) kita yang lagi onstage membawakan tari ular sambil memakai Cawat Baliho Neon...

HP saia habis 5 menit pertama menyaksikan itu.

FA Purawan mengatakan...

SHOWTIME!!!!

Wait... Koq cowok? *mogok tampil*

Zen Horakti mengatakan...

Ke Ke Ke.

Pada intinya, setidaknya karakter itu menunjukkan perjuangan besar untuk menemukan atau mendapatkan hal yang dia inginkan.

Pada intinya, jangan sampe begini.

Everything look so smoothly for you, Heroine!

XD

Anonim mengatakan...

Sorry tapi bisa nggak ya menggunakan ejaan biasa 'saya' untuk kata 'saya'. Saya senang dengan tulisan anda tapi jujur sering saya lewatkan untuk membacanya karena tulisan 'saia' itu terasa sangat mengganggu. A bit too distracting.

-Anggi- Bukan mau anon, tapi nggak punya akun blogspot.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Anggi, Sorry, boleh saja saia pakai "saya", kalau saia sudah bosan pakai "saia,"

Bukan nggak menghargai saran, hanya saja soal distracting atau tidak, itu relatif. Kalau yang keberatan hanya satu dua berbanding banyak, rasanya saia masih kepengen untuk tetap seperti ini~

Luz Balthasaar mengatakan...

Ah ya, lupa, Untuk Anggi, thanks sudah doyan mampir-mampir dan membaca disini. Muup ga ketempel di post diatas, kepencet 'post' pas mau neken 'pratinkau'. T_T

OctaNH mengatakan...

Ini review kok malah bikin saya kepingin beli bukunya.... O.o

FA Purawan mengatakan...

Ya bagus, dong. Fikfanindo memang ingin agar buku-buku lokal dibeli, hehehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Sepakat Om. >_<

Tujuan kita merepiu nomor satu kan memang agar bukunya dibeli~

Jadi?

Mission Accomplished!

endeperdian mengatakan...

blog yg benar-benar bagus.
banyak ilmu bisa dipetik.
Luz batosai eh Balthasaar emang TOP!
baru tau. ternyata indonesia punya novel fikfan, bejibun pula.
maklum sy tinggal di udik. jadi kuper.
oh, ya dalil2 klise fikfan dimana bisa dicari?
sy lg belajar nulis novel fikfan.


thx

Catatan Ingatan mengatakan...

Balik lagi ke sini gara-gara gak nahan pengen baca spoilernya. Ctrl+A dah. :DDD

Sunflower mengatakan...

Permisi tanya, mengenai mary sue, sejauh mana bisa diterima (lupakan soal pembelokan hukum) ... katakanlah sang heroine memang kena "kutuk" terlahir cantik, tetapi dia pintar, skillfull karena lingkungannya menuntutnya menjadi demikian, apakah tetap dikategorikan sebagai mary sue ?

FA Purawan mengatakan...

Penyebab utama terbentuknya tokoh Mary Sue adalah, karena pengarang terlalu mengidolakan dirinya sendiri yang dimasukkannya ke dalam Novel.

Sungguh! Karena Ego pengarang menyatu dengan Ego si tokoh utama, maka pengarang seolah pantang membuat tokoh utama terlihat cela sedikit, atau punya kekurangan, sebab kekurangan tersebut akan diatribusikan pada diri pengarang pribadi. Hingga Ego-nya nggak bisa menerima.

At least, itulah teori psikologi mengenai mary Sue, hehehe. Intinya sih, seorang karakter akan terlihat sebagai Mary Sue atau Gary Stu pada saat seolah pengarang membelokkan semua perangkat plot yang ada di universe novelnya hanya demi membuat sang tokoh look good, atau menolong sang tokoh keluar dari situasi-situasi sulit, sedemikian rupa sehingga pembaca sendiri sampai notice dan merasakan bahwa si tokoh terlalu diangkat-angkat oleh pengarang.

That's Mary Sue!

Oleh karenanya, sekedar premis "terlahir cantik, pintar, skillfull...." well, rasanya itu atribut yang banyak terdapat dalam novel-novel bagus juga koq (The Hunger Games juga begitu), dan itu wajar.

Tapi tantangan Novel adalah bagaimana si cantik, pintar, dan skillfull itu juga menghadapi konflik yang ada, dan bagaimana dia memecahkan masalahnya. Dan pembaca akan menggerutu bila ternyata masalahnya terlampau cemen hingga mudah dia pecahkan. Sebaliknya pembaca akan antusias dan mengagumi si tokoh saat ia mampu memecahkan masalah berat dengan kreativitas dan kemampuannya memanfaatkan skill.

Salam.

Sunflower mengatakan...

Terima kasih banyak buat penjelasannya, mas FA Pur, saya jadi tambah ilmu