Selasa, 13 Maret 2012

ANAK REMBULAN: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari (Djokolelono - 2011)

by FA Purawan

Penerbit: Mizan-Fantasi
Penyunting: Ary Nilandari
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Dodi Rosadi
Ilustrator Isi: Ferly Leriansyah
Tebal: 350 halaman

Inilah, momen yang bisa dirayakan oleh rimba persilatan genre Fantasy Indonesia, yaitu di tengah pertarungan sengit dengan karya terjemahan yang lagi membanjir, eh, sang Master memutuskan keluar dari pertapaannya dan menghajar telak.

Gitu. Kan keren, bro. Boleh dibilang, lima puluh prosen novel terjemahan, akan kukatakan klepek-klepek, jika diadu kualitasnya dengan karya beliau. Iya sih, soalnya banyak juga karya kacrut dari sonoh main bawa aja ke sini, dan di alih-bahasa, lalu ditawarkan sebagai Novel Terjemahan yang (tampaknya) bagus. Begitu dibaca, yaaaahhh. *jedotin pala dulu*

So who's da badass master? Siapa lagi kalo bukan Pak/ Oom/ Mas/ Eyang Djokolelono, diakui sepanjang masa sebagai maestro-nya penulisan fantasy (sci-fi) tanah air (yang dengan rendah hati diakui beliau sebagai: ya jadi maestro karena sendirian aja, gak ada yang mau nulis sci-fi di Indonesia di jaman itu. Hehehe).

Saya pernah mereview satu karya beliau di blog ini, yaitu Jatuh Ke Matahari. Itu buatan tahun tujuhpuluhan. Setelahnya, sampai kira-kira tahun 90-an, masih terbit beberapa karya fantasi beliau. Dan sejak itu sang Master tenggelam, nggak pernah terdengar namanya ataupun karyanya. Alhamdulillah sekarang, melalui penerbit Mizan-Fantasy, terbit karya terbaru, sebuah novel Fantasy berjudul ANAK REMBULAN: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari.

Saya katakan sekali lagi, seolah merupakan jawaban seorang jawara terhadap tantangan karya-karya luar, yang membuat kami (para pengusung karya Fantasi lokal) kembali punya nyali untuk unjuk dada, bahwa Fantasy Indonesia masih ada, alive and well, ready to strike back!

(Empiree, kallee? Nge-Strike Back?) Hush.

Jadi, mari kita santap bersama-sama karya terbaru ini, sambil mengira-ngira apakah jurus sang maestro masih gaco buat ngebabat para pendatang asing, sekaligus kita pelajari apa saja sih yang membuat karya master itu beda sama karya kita. Hihihi, ngarep-dot-com.

So let us start with the cover. Yess, warnanya biru. Sepertinya memang nuansa biru sedang ngetren jadi sampul novel, terutama yg lokal belakangan ini. Entah, mungkin lagi ada diskon khusus cat biru dari produsen cat. Hehehe. *gak penting banget*

Eksekusi cover cukup kuat, berupa ilustrasi foto seorang anak laki-laki berkaos merah--kaos Sepak bola tim Manchester United yang memang merupakan salah satu properti penting dalam cerita--, latar belakang pohon besar dan sebuah sepeda.

Eksekusi bagus, tapi akurasinya, sepertinya menjadi pertanyaan. Yang paling jelas adalah pemilihan model anak laki-laki nya. Itu anak bule apa lokal, sih? Lebih mirip bule. Kemudian sosoknya, dengan tangan-gemuk-lembut, agak bertentangan dengan karakter Nono dalam cerita, yang juara karate dan cukup piawai mengalahkan lelaki dewasa. Mustinya dia punya tangan sedikit berototlah, atau gemuk-keras. (Hmmm,... sebuah pertanyaan: apakah foto cover memang harus exactly portrays karakter yang dimaksud, atau lebih baik condong para marketing perception yang dibutuhkan sekedar agar buku terjual? Apakah ini pertanyaan etika moral penjualan? Astaga!)

Namun yang terasa paling mengganggu adalah sorot mata sang model, yang terlalu menacing, membuat karakternya bak psikopat antagonis, alih-alih bocah berbudi baik, jagoan, sang protagonis.

Maka bisa jadi masukan untuk mas Dodi Rosadi yang mendesain sampul, bila memang pakai model live, dipilih yang masuk ke karakter. Tapi bila menggunakan stock shoot, ya memang nggak banyak pilihan.

Di halaman sampul dalam, ada lagi ilustrasi beberapa tokoh kunci cerita, dan sosok Nono di sini, beda lagi dari di cover, lebih terasa lokal walau terkesan sudah SMP atau SMA. Tapi untuk hal seperti itu, sudah biasa sih.

Tata letak huruf cukup pas dan enak dibaca. Saya bisa menyelesaikan buku ini dalam dua sesi baca, tanpa merasa lelah mata.

Dan apakah menjadi sesi yang menyenangkan? Surprisingly, or NOT surprisingly, YES! Sepertinya sentuhan magic nya om Djokolelono mulai balik lagi. Aku sudah jadi pembaca karya-karya beliau sejak lama. Dan salah satu sentuhan spesial beliau adalah mampu membuat saya immersed, alias terlarut dalam cerita, masuk ke dunia om Djoko sepenuhnya.

Novel ini menceritakan kisah petualangan seorang bocah Jakarta kelas 5 SD bernama Nono, berlibur di rumah eyangnya di Wlingi, desa Beru. Somewhere di Jawa Timur, di kaki gunung Kelud.

Tokoh utama Nono, digambarkan sesuai stereotipe novel Djokolelono, yang saya temukan sejak novel Getaran (Balai Pustaka, mungkin? Tahun jebot lah), yaitu sosok smart Boy, tipikal juara kelas, atau ketua kelas, kebanggaan ortu, dan memiliki kemandirian yang mengalahkan even mahasiswa jaman sekarang. Nggak percaya? Well, For starter, Nono yang kelas 5 SD sudah dibolehkan, dan mampu, naik kereta api sendirian pulang kampung. Dan kemampuan karatenya cukup mumpuni untuk melawan empat preman kelas standar, bahkan bisa mengajari seorang kesatria di era time-travelnya!

Kalo nggak gitu, bukan bukunya Djokolelono, hehehehe!

Kemampuan yang berlebihan ini, memang cukup standar di masa-masa 70an. Selain level kemandirian seorang anak di masa lalu memang lebih tinggi daripada anak-anak sekarang yang terbiasa hidup enak, tahun 70an adalah juga masa dimana kebudayaan menerima konsep: anything is possible! Manusia bisa mendarat di bulan. Superhero membanjir di benak kultur pop, negara-negara juragan baru bermunculan, seiring minyak menjadi komoditi utama yang menjanjikan kemakmuran, keberlimpahan. Masa-masa optimistis, tak heran konsep bocah jagoan bisa diterima.

Untuk jaman sekarang, memang agak kurang realistis. Apalagi trend 90-an ke sini, di tengah depresi ekonomi dunia dan ancaman 'kiamat-kian-dekat', sosok protagonis banyak muncul dalam konsep anti-hero.

Sejauh kebutuhan untuk menggerakkan cerita dalam novel ini, rasanya saya masih bisa menerima karakter jagoanisme ala Nono itu. Lagi pula, sesuai ciri khas Djokolelono pula, banyak penyelesaian masalah di dalam novel ini tak menggunakan kekuatan otot, melainkan kecerdasan dan kreativitas. Itu point ciri khas Djokolelono yang membuatnya beda dari kebanyakan penulis fantasy.

Dan satu lagi ciri masa lalu yang dibawa kembali ke masa kini oleh sang Maestro, adalah penggunaan tokoh utama kanak-kanak. Di novel ini, ada empat tokoh sentral yang dimainkan anak-anak, yaitu Nono, Saarce, Trimo, dan Sang Ratu Merah dari Kerajaan Tlaga Harum. Coba tengok, gak usah jauh-jauh, di fikfanindo ini, ada berapa buku fantasy yang tokohnya anak-anak? Hanya segelintir. Kebanyakan fikfan lokal bertokoh pemuda atau pemudi dengan range usia 17 sampai 20-an tahun, kira-kira sesuai rentang usia penulisnya.

Dan, berbeda dengan eksekusi tokoh anak-anak di novel Nibirunya kang Tasaro, yang menurut saya agak terlalu dewasa, tokoh anak-anak di novel pak Djokolelono masih kuat mempertahankan sikap dan perilaku kanak-kanaknya, albeit lebih mandiri dari anak-anak jaman sekarang (perkecualian buat Sang Ratu Merah, yang tampaknya memiliki semacam kebijaksanaan yang inheren dalam dirinya sesuai peran ratu, dan ada kesan sifat-sifat itu datang dari sumber yang adikodrati). Oh iya, si Saarce juga kadang-kadang terlihat terlalu dewasa, walau buat saya ada alasannya juga, yaitu karena gadis itu juga anak-kapal Wolanda (belanda), sekaligus muridnya mBah Padmo yang bisa berubah jadi macan kumbang. Saarce BTW, bisa berubah jadi burung nuri!

Jadi, ingat tokoh-tokoh Lima Sekawan, Sapta Siaga dan sejenisnya? Yang kebetulan memang bermunculan di era Pak Djoko rame-ramenya nerjemahin buku-buku sejenis dari luar.

Keberadaan tokoh anak-anak sebagai sentra cerita, artinya buku ini bertarget mulai dari pembaca novel pemula di tingkat SD sampai orang dewasa. Tentu positif sebagai lahan perkenalan mereka dengan karya fantasy lokal, sekaligus menggalakkan kembali sense of adventure, yang kayaknya udah lama meninggalkan kehidupan anak-anak Indonesia.

Di buku ini, aroma adventure memang sangat kuat. Di kehidupan nyata nya, Nono gemar bertualang naik sepeda pamannya, menjelajah, mampir sana-sini. Pengarang jadi banyak kesempatan untuk menguraikan berbagai elemen petualangan itu, sampai soal pabrik tahu segala bisa diceritakannya.

Ngelantur? Syukurnya tidak. Semua pada porsi yg pas dan cukup diperlukan untuk menghidupkan cerita.

Tentunya, di alam fantasi, alam negeri misterius di balik pohon kenari, petualangannya abis-abisan. Dan kadang bagi saya merampas napas, maksudnya petualangan susul-menyusul sampai pikiran saya nggak sempat mengambil jeda. Tempo cepat. Koq tahu-tahu sudah pindah alam? Prosesnya nggak dijelaskan. Koq tahu-tahu di kampung wolanda, tahu-tahu masuk sarang Semut Hitam (gerombolan maling), masuk kampung mbok Rimbi, dan seterusnya even tahu-tahu muncul di masa kini,... Sebelum konfliknya benar-benar selesai.

Ah, ya. Beberapa kondisi memang mengganjal, buat saya. Perpindahan dari masa kini, ke masa lalu, terlalu mendadak, dan ngga jelas cause-effect nya apa. Tanpa plot device, koq rasanya petualangan Nono jadi semacam random event, kebetulan aja Nono berada di tempat yang salah pada waktu yang salah? Padahal, secara desain cerita, semua itu ternyata punya sebab-sebab yang dijelaskan belakangan.

Mungkin hanya gue aja. Tapi gue akan lebih sreg jika proses teleportasi Nono itu lebih dijelaskan. Di akhir cerita, petualangan Nono agak di arahkan atau dikesankan sebagai mimpi anak itu belaka. Di sini pembaca bebas berinterpretasi. Dalam kaca mata realis, maka petualangan Nono wajar aja dianggap sebagai mimpi. Dalam kacamata fantasy, jelas, petualangan Nono bukanlah mimpi, melainkan perjalanan ke masa lalu.

Dan saat Nono kembali ke masa kini pun, buat saya terasa seperti memotong klimaks. Situasinya terjadi di saat pertempuran sang Ratu Merah--yang dibela Nono dan tokoh-tokoh Semut Hitam--hampir menang berkat siasat pintar Nono. Di detik-detik kemenangan itu, pengarang mengembalikan Nono ke masa kini tanpa sempat melihat hasil perbuatannya :). Gak cuma Nono yang penasaran. Pembaca juga, hehehe. Seperti ikut menyiapkan pertunjukan heboh, dengan kostum dan latihan berbulan-bulan, pas hari H mendadak sakit dan gak bisa ikutan. Getiiiir, man!

Pak Djoko sempat menjelaskan hal tersebut sebagai semacam jurus penulisan: bikin pembaca penasaran, dan ceritamu akan menempel terus di benak pembaca. (Cateeet)

Well, true enough. Gue sempat mikirin rasa mengganjal itu sampai berhari-hari. Ada kebenaran dalam jurus itu. Namun kupikir ada sesuatu yang 'salah' juga jika buntutnya gue ngerasain ganjalan, bukan kepuasan.

Mungkin gue akan ikutan mencoba jurus itu, namun dalam penerapan yang ala gue. Dan kita lihat apakah akan berlaku sama juga. Hehehe.

Karakterisasi. Ahh, ini juga seru. Om Djoko itu, kalo bikin karakter, pasti memorable dan hidup banget. Dan kreatif. Tiap tokoh nggak sekedar numpang lewat, tapi meninggalkan jejak dan kesan. Si Nono, jelas jagoannya. Ada Trimo, yang sedikit misterius, Saarce, si gadis bule yang cantik dan cerdas, di masa lalu punya kualitas cerdas-evil, dan di masa kini punya kualitas cerdas-malaikat dan bicaranya attitude-nya kocak banget. Dan si Ratu Merah, yang walau masih muda, mampu menjalankan peran seorang Ratu tangan besi namun sangat terdidik dalam tata-pemerintahan (saya belum dapet ide, ini sebenernya sosok Ratu siapa dalam sejarah? Tapi ada indikasi bahwa kerajaan Tlaga Harum adalah penerus dari Majapahit, Kediri, Daha dan Jenggala). Lalu Mbok Rimbi yang sesungguhnya tokoh antagonis, tampil memukau. Kelompok Semut Hitam, yang memiliki komposisi seperti Pandawa 5 dan menggunakan nama-nama panggilan 'kasar' tokoh wayang itu sebagai nama mereka, sempat saya kira semacam penyamaran atau titisan pandawa bener-bener. Hal itu ngga dijelaskan lebih lanjut sih. Kelompok inilah hero sebenarnya dalam cerita, yang menyumbang sebagian besar kesaktian yang bikin saya terpukau karena idenya.

Dan soal nama-nama Pandawa ini, pengarang sempat memasukkan penjelasan di akhir cerita. Dan kupikir memang kalo nggak gitu, pembaca nggak pada sadar. Siapa lah di jaman sekarang yg tahu Kangka adalah nama untuk Yudhistira? Itu berlangsung generations ago. Saya saja baru ngeh, pas keluar nama Pinten-Tangsen (nama jawa-kasar untuk Nakula Sadewa). Rasanya saya terpapar nama-nama ini di komik wayang era 70-an. Yang masih belum jelas juga, adalah apakah kelimanya memang merupakan Pandawa Lima versi wayang itu, atau sekedar cover versionnya aja, hehehe.

Di sinilah, kecanggihan pengarang memainkan bahan-bahan dari budaya lokal dalam ramuan karya fantasy nya, melahirkan karya bernafas kelokalan yang kuat. Sebagian nama-nama, malah sempat saya sangka menjadi awal nama-nama yang eksis sekarang, seperti misalnya nama Bala Tatar di masa Ratu Merah, apakah bukan menjadi Blitar di masa sekarang? Pala Taran, Tlaga Harum, koq akan easily menjadi nama-nama tempat tertentu di Jawa saat ini. Pemikiran spekulatif macam itu, terus terang, mengasyikkan saya dan menjadi bumbu di luar cerita novel itu sendiri.

Mengenai setting masa lalu, saya sedikit disagree dengan penangkapan beberapa review atau ulasan media, yang menyebutkan bahwa Nono bertime travel ke masa penjajahan belanda. Dalam keterangan tambahannya, pak Djoko menjelaskan bahwa team Kapitan Scarafione d'Jaree, termasuk si Saarce, adalah anak buah Cornelis De Houtman dalam penjelajahan mereka yang pertama ke Hindia Timur. Sejarah mencatat bahwa Cornelis de Houtman adalah pelaut yang berhasil menemukan jalan menuju Hindia Timur, bukanlah bagian dari penjajah VOC, yang datang belakangan.

Hal terakhir yang ingin saya bahas tentang novel ini, adalah alurnya. Agak sedikit antiklimaks di bagian akhir, saat Nono kembali berada di masa kini, dan pembaca disuguhi penjelasan-penjelasan yang merangkai berbagai teka-teki yang lebih dulu ada dalam cerita.

Buat saya, bagian ini agak melelahkan, walau saya tak mengatakan bahwa bagian ini nggak diperlukan. Seperti kegiatan kemping, yang penuh antisipasi di awal persiapan, kekaguman-kekaguman sepanjang perjalanan, lalu klimaks di acara api unggun... Dan esoknya: bagian yang paling capai saat membongkar, melipat, membereskan tenda. Sesuatu yang kita jalani tanpa gairah, tapi harus.

Buat saya, mungkin bukan epilognya yang bermasalah. Saya lihat sih takaran epilog udah cukup, dan penjelasan-penjelasan itu pun menumbuhkan excitement tersendiri. Masalahnya mungkin kembali ke klimaksnya sendiri yang kurasa, kurang memuaskan.

You see, adegan perang penyerbuan pasukan wolanda ke kerajaan Ratu Merah, adalah adegan yang paling keren, sekaligus menyuguhkan kreativitas prima pak Djoko, di singgasana penulisan Fantasy lokal.

Dimulai dari magic anti-kabur-nya mbok Rimbi, kesaktian beralih rupa jadi burung (yang mengagumkan adalah bahwa itu juga dilakukan oleh si pendatang belanda! Keren), kecerdikan Nono membuat strategi, lalu muslihat Kelompok Semut Hitam dan kesaktian mereka menembus tanah (ilmu menggali tanah pakai pincuk! Adegan paling epik!), penyamaran Nono dan para prajurit pengawal sebagai Ratu dan dayang-dayang, penjebakan musuh dan seterusnya. Tegang, sekaligus mengandung adegan adegan fantasy-magic keren yang mendecakkan lidah saya. Jelas, saya sudah habis-habisan digiring ke arah keingintahuan yang kuat untuk melihat bagaimana pertempuran seru ini akan berakhir.

Dan, seperti sudah saya ungkap sebelumnya, saya nggak sempat menyaksikan hal itu.

Dalam manajemen alur cerita, saya merasakan klimaks yang kurang 'nendang' itu membuat epilog tidak lagi terasa sebagai proses cooling-down mental pembaca, melainkan proses kembali membangun another story-branch. Tak heran bila saya merasakan kelelahan itu.

Atau, apakah memang lebih baik meberikan ending yang nggak klise? Saya paham, sich, bahkan saya akan punya ekspektasi ending sesederhana: Nono berhasil, sang Ratu menang, Saarce dan Pinten jadian, baru Nono ter-teleportasi balik ke masa kini. Dan itu ending yang akan cenderung diambil banyak penulis, dan mungkin juga diinginkan banyak pembaca. Pengarang berhak menentukan beda. Tapi apakah saya juga nggak berhak mendapatkan 'ending saya'? Hehehe. Not an easy question to ponder, kayaknya.

Di luar komplain saya tentang itu, karya Anak Rembulan ini, bagi saya merupakan comeback punch nya om Djokolelono yang mantab. Recommended read untuk seluruh penggemar fantasy, terutama aspiran penulis. Saya percaya teman-teman akan mendapatkan sesuatu dari membaca buku ini.

Buat suhu, apalagi yang bisa teecu sampaikan selain ucapat selamat datang kembali? Silakan duduk di kursi kebesaran, menghadapi meja kebesaran, dan laptop kebesaran. Ayu, suhu, nulis lagi. Kami menantikan fantasi-fantasimu selanjutnya!

Dan... satu intermezzo... Siapa bisa baca BAB 33?

Viva la Fantasia!
FAPur

10 komentar:

FA Purawan mengatakan...

Komentar dari pengarang, pak Djokolelono yang dititipkan via Goodreads:

Mas Pur, aku ngga bisa komen di blog Anda. Aku mau nulis gini:

Mas Pur jadi seperti titisannya Mbah Pur ... EnsikloPurdia banget. Terima kasih ulasannya, dan kritik-kritiknya. Terkadang kalau mulai nulis, sebagaimana pun hati-hatinya, tangan ini seperti punya nyawa sendiri dan mengetik apa pun yang diinginkannya (saya masih mengetik hanya dengan satu telunjuk kanan yang pontang-panting berloncatan di antara tuts keyboard, sementara tugas tangan kiri hanya membuat huruf besar saja. Benar benar si jari tangan kanan ini bertualang sendiri!) Sekali lagi terima kasih dan semoga lekas sembuh dari pesona Anak Rembulan -- you are just too kind to be a critic!

Andry Chang mengatakan...

Nope, bab 33 gak bisa dibaca, cuma bisa dibayangin... itupun kalau tutup 2 mata, wkwkwkwk

Andry Chang mengatakan...

Eh nggak ding, gue bisa baca Bab 33 tuh! Cuma ada 1 kata: Gelap.

Luz Balthasaar mengatakan...

Siapa bisa baca BAB 33?

Semua orang yang gak buta huruf bisa.

B-A-B T-I-G-A P-U-L-U-H T-I-G-A. Bab Tigapuluh Tiga.

Easy peasy.

Luz B
Trolololololololol~

FA Purawan mengatakan...

Satu Trivia lagi tentang Anak Rembulan:

Ingat adegan kaos Moonson...;)

Zulhidayat Pramudya mengatakan...

Aku sih belum sempat beli nih buku dan sangat jelas ingin sekali membeli tapi stok habis, ingin rasanya langsung pesan sama sang maestro dan sekalian minta tanda tangannya

Zulhidayat Pramudya mengatakan...

Setidaknya baru saja aku beli Anak Rembulan dan belum ada baca-baca, tapi setidaknya dalam novel yang tidak terlalu tebal ini begitu banyak chapternya, setidaknya chapter-nya tipis-tipis. INi beda

Dya Ragil mengatakan...

Oke, setelah punya dana, ini sasaran saya berikutnya XDD
dan sepertinya bakal banyak banget hal yang bisa dicolong dari novel ini XD

fiberia mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
fiberia mengatakan...

Maestro Djokolelono ya..
masih dendam karena seri penjelajah antariksa nggak diselesai2in beliau sampai skrg >_<...

ya kayaknya boleh dilirik deh..