Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

MARRIED WITH VAMPIRE: The Queen of Thousand Souls (Joko D. Mukti - 2010)

by FA Purawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: -
Foto Sampul: Raisa Kanareva/ Shutterstock
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Tebal: 600 hlm.

Sebenernya saya males banget nulis review ini (pengakuan yang bikin hati saya merasa bersalah), apalagi dengan adanya ajang Fantasy Fiesta 2012 yang seru dan bombasis. Otomatis perhatianku teralih. 

Namun ada yang harus saya apresiasi dari trilogi ini. Harus diakui bahwa inilah salah satu "Trilogi" dalam khasanah penulisan Fantasy lokal masa kini yang benar-benar memenuhi janjinya sebagai trilogi, alias dengan sukses menerbitkan ketiga-tiganya ke pasar.  Dedikasi Gramedia Pustaka Utama, dan kerja keras pengarang, boleh diacungi jempol.

Selasa, 13 Maret 2012

ANAK REMBULAN: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari (Djokolelono - 2011)

by FA Purawan

Penerbit: Mizan-Fantasi
Penyunting: Ary Nilandari
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Dodi Rosadi
Ilustrator Isi: Ferly Leriansyah
Tebal: 350 halaman

Inilah, momen yang bisa dirayakan oleh rimba persilatan genre Fantasy Indonesia, yaitu di tengah pertarungan sengit dengan karya terjemahan yang lagi membanjir, eh, sang Master memutuskan keluar dari pertapaannya dan menghajar telak.

Gitu. Kan keren, bro. Boleh dibilang, lima puluh prosen novel terjemahan, akan kukatakan klepek-klepek, jika diadu kualitasnya dengan karya beliau. Iya sih, soalnya banyak juga karya kacrut dari sonoh main bawa aja ke sini, dan di alih-bahasa, lalu ditawarkan sebagai Novel Terjemahan yang (tampaknya) bagus. Begitu dibaca, yaaaahhh. *jedotin pala dulu*

So who's da badass master? Siapa lagi kalo bukan Pak/ Oom/ Mas/ Eyang Djokolelono, diakui sepanjang masa sebagai maestro-nya penulisan fantasy (sci-fi) tanah air (yang dengan rendah hati diakui beliau sebagai: ya jadi maestro karena sendirian aja, gak ada yang mau nulis sci-fi di Indonesia di jaman itu. Hehehe).

Senin, 01 November 2010

BIRU INDIGO (Putra Perdana - 2010)


By FA Purawan


Penerbit: Voila (PT. Mizan Publika)
Penyunting: Nuraini Mastura
Penyelaras Aksara: Arief, Indah N.
Ilustrator: -
Desain Sampul: -
Tebal: 448 Halaman

"Namaku Elang, sopir taksi Surya. Hari ini aku telah menabrak seorang pemuda, dan aku mendapat firasat aneh bahwa aku akan berjumpa lagi dengannya."

"Namaku Amelia, siswi kelas 1 SMU 29. Hari ini aku telah membuktikan bahwa aku bisa menyembuhkan orang lain, dan aku tahu bahwa aku akan melakukannya lagi bila waktunya tiba."

"Namaku Rikko, Aku Junkie, dan aku cuma pengen satu hal. Aku pengen ... BOKER."


Bah, gue demen banget sama line ketiga itu! Hahahah. This author got style, dan gue cukup senang dengan gayanya, walau belum dapat kukatakan bahwa aku sudah puas dengan keseluruhan presentasi bukunya, yang berjudul Biru Indigo, karya pengarang Putra Perdana.

Kamis, 14 Januari 2010

ILUMINASI (Lisa Febriyati - 2009)


By FA Purawan

Penerbit: Kakilangit Kencana
Editor: Syaffrudin Azhar
Desain Sampul: Circlestuff Desugn
Tata letak: Jeffry
Ilustrator: Damuhbening
Tebal: 433 halaman


Tahun 60-an, suatu 'revolusi' dalam kebudayaan telah terjadi, merubah pandangan umat manusia terhadap konsep 'agama' maupun 'keberagamaan'. Lahirnya 'flower generations' saat itu bukan saja merupakan perlawanan politis masyarakat terhadap kebijakan pemerintah (Amerika, terutama) yang terlalu aktif berperang di sana-sini, namun juga merupakan pendobrakan 'spiritual' terhadap lembaga-lembaga agamawi yang dianggap terlampau dogmatis. Pemberontakan itu antara lain terwujud dalam perilaku ekstrim semacam freesex dan drugs, yang dianggap mampu merepresentasikan simbol-simbol perlawanan terhadap nilai-nilai kemapanan (atau puritan, yang pada saat itu banyak bersumber dari kalangan agama), dan sebagai bentuk kekecewaan bahwa ritual agama yang ada tidak memberikan jawaban atas pencarian spiritual kaum muda pada saat itu.

Setelah bergenerasi berselang, di tahun 2000-an, mulai muncul pembelajaran bahwa freesex dan drugs gak membawa kita kemana-mana, kecuali dapet AIDS dan sakaw, hehehe. Tapi pencarian spiritualnya terus berlanjut, walau tak lagi dicari melalui penggunaan drugs. Dan pemahaman spiritual mulai bergerak dari ranah badaniyah ke ranah internal yaitu pemikiran dan pendalaman terhadap diri. Dalam kebudayaan modern sekarang ini, frasa mengenal 'diri sejati' atau 'mengaktualisasikan diri' menjadi kalimat yang populer, whatever it means.


Walau teteup, sih, proponent freesex gak juga ketinggalan jaman dengan menjual paham baru, dari yang "free to choose your sexual partner", menjadi "free to choose your sexual orientation". Dan ndilalah itu tetap selaras dengan konsep 'aktualisasi diri' berbasis definisinya masing-masing, heheheh. Namanya juga jualan ideologi, bisaaa ajah!

Wait, aku gak lagi ngomongin queerlit, lho, dengan opening ini. Mari kita kembali pada pemahaman spiritual di tahun 2000-an dengan konsep internal 'aktualisasi diri' tadi. Ini pandangan inti dalam spiritualis new age, dimana mereka percaya bahwa puncak spiritualitas manusia ada di dalam dirinya sendiri, dan melalui sebuah proses pencerahan, maka bungkus itu akan tersingkap dan manusia akan memasuki suatu pengertian baru yang menempatkan kita dalam 'maqom' yang lebih tinggi, sampai akhirnya kita semakin mendekati "Sang Pusat" dari segalanya.

Pandangan yang menurut sejarahnya bersumber dari spiritualisme timur macam India yang kemudian menyebar dalam bentuk Buddhisme, Taoisme, Zen, apa lagilah. Metode-metode semacam ini kemudian memasuki alam budaya Barat melalui kaum flower generations yang menekuni tradisi Yoga, meditasi, bahkan Martial Arts. Pada ujungnya, saat mulai diterima oleh masyarakat Barat yang kreatif, mulailah muncul pada produk budaya tertinggi mereka, yaitu Science, Literatur dan Film.

Dewasa ini kita mulai menerima banjir produk budaya bertemakan spiritualisme new age, terutama melalui Film, sebab kita bangsa yang kurang suka membaca dan lebih suka jadi penonton. Tengok film-film seperti Flatliners, Trilogi Matrix, Heroes dan sebagainya.

Particularily, serial Heroes, yang tampaknya secara khusus menjadi inspirasi dari salah seorang pengarang lokal yaitu Lisa Febriyanti, yang menuliskan novel ILUMINASI. To sum up, Iluminasi adalah our take on New Age Spiritual concepts yang mengambil setting mirip dengan serial Heroes. Dan sebagai karya yang berusaha mengangkat isu spiritual dalam bahasa kekinian, rasanya Iluminasi cukup bisa berbicara.

Iluminasi menceritakan keberadaan manusia-manusia "istimewa", the X-Men, manusia super, yang memiliki kemampuan extra-ordinary seperti kemampuan mind-control, levitasi, terbang, bergerak cepat, memancarkan listrik, memanjangkan anggota tubuh (cewek, BTW, so gak usah mikir terlalu jauh:)), meciptakan api, punya sayap di punggung, kemampuan regenerasi sel, dan lain-lain. Setting di Indonesia, dan dalam cerita ini, manusia super itu bergabung dalam dua kelompok: The White Lights (WL) dan The Pure Black (PB). Dan seperti kelompok elit di manapun, keduanya bersikap bermusuhan, dan konon permusuhan itu sudah terjadi sejak beribu tahun lamanya.

Manusia-manusia istimewa ini bisa menjadi istimewa berkat keberhasilan mereka mengejawantahkan potensi istimewa yang sudah terkandung dalam kode genetik mereka, melalui sebuah usaha pencerahan, atau, yup: Iluminasi.

Tokoh cerita, Ardhananeswari atau dipanggil Ar, adalah salah seorang manusia istimewa yang belum terbangkitkan. Dan mengikuti pakem 'the chosen one', si Ar ini menjadi minat dan rebutan bagi dua seteru WL dan PB, karena konon dia menguasai suatu kekuatan yang unik yang sudah dinanti-nantikan oleh para manusia istimewa sejak ribuan tahun. Plot buku ini kemudian mengalir menceritakan proses kebangkitan Ar berikut pendalaman kisah latar belakang para tokoh, saling keterhubungannya dan akhirnya berklimaks di manifestasi kekuatan Ar yang menjadi pusat konflik WL & PB.

Sebuah cerita yang menarik, dan plot yang cukup rapih. Maksud saya, pengarang gak semata-mata niru konsep serial Heroes dan cuma ngambil kulitnya aja seperti banyak dilakukan oleh 'fantasy' writers. Dunia Iluminasi adalah dunia yang punya alasan cukup solid. Para karakter memiliki kekuatan ajaib yang fungsional terhadap karakternya sekaligus terhadap cerita. Dan para karakter ini pun masih sangat terlihat sisi-sisi kemanusiaannya sekalipun mereka bukan 'ordinary' human. Memang ada kemiripan dengan karakterisasi serial Heroes, terutama dalam jenis-jenis kekuatan ajaib yang dimiliki, dan dalam asal muasal kekuatan tersebut, yaitu dari DNA. Tapi karakter-karakter di Iluminasi bergerak, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Dan itu membuat novel ini tak tampak sebagai copy-cat dari konsep Heroes.

Kemudian pengarang juga meramu ceritanya dengan konsep-konsep new age spirituals, yang walau mungkin terdengar 'baru' dalam khasanah literatur fiksi lokal, tak lagi asing bagi pembaca di Barat. Dalam hal ini karya Fiksi-Spiritual serial Celestine Prophecy karya James Redfield. Ada konsep-konsep yang merupakan adopsi dari Celestine Propjecy, seperti Sinkronitas ('kebetulan' yang mengandung makna), Dimensi-Dimensi yang eksis di 'atas' Dimensi kita, dan lain-lain.

Singkatnya paduan setting yang solid dan plot memikat, membuat buku ini memiliki dasar kualitas yang cukup bagus. Untuk penggemar ide-ide filosofi-spiritualis New Age, buku ini akan cukup diapresiasi berkat kandungan filosofisnya yang cukup tergarap. Masukan adegan-adegan action extra-ordinary yang cukup menghibur dan cukup 'masa-kini', menjadi bumbu yang menarik dan cukup mendatangkan suspense menghibur bagi pembaca.

Lantas apakah menjadi buku yang bagus menurutku? Well, satu aja yang kupikir menjadi aspek minus (walau bisa saja hal ini gak berlaku terhadap pembaca lain), yaitu 'styling', yang meliputi penggunaan (atau revitalisasi, tepatnya) kosa-kata non-umum dalam bahasa Indonesia. Pengarang tampaknya berambisi mengorek-ngorek sudut kamus bahasa Indonesia yang jarang dijamah orang, mencoba menemukan kata-kata baru di balik timbunan debu, dan mencoba memasangkannya di novel untuk membuat bahasa novelnya lebih 'bergaya' (dan nyatanya, pun, ada yang terbeli dengan style ini, sebagaimana endorsemen berikut: ...didukung kekayaan terminologi, perlambang, dan tuturan bahasa yang cantik... -Darminto M. Sudarmo, di cover belakang.)

Apakah aku terbeli? Well, sini aku list-kan dulu sebagian kata-kata 'new age' yang berhasil digali oleh pengarang:

- (air teh) yang hangatnya mulai lindang
- berkelindan
- lindap
- segali jenggut
- ripuh
- repih
- repah
- selingkung energi rindu
- hatinya berpesai-pesai
- asa nya perlina
- rancak yang berganduh pada samsara
- nanap memandang

dan lain-lain yang nggak lagi aku bisa temukan saat ini, hehehe.

Dengan pilihan kosa-kata semacam ini, tentunya teman-teman sudah bisa menduga gaya bahasa seperti apa yang digunakan di novel tersebut. Yak, mengarah ke puitis. Bahkan sampai ke dialog pun, 'puitisasi' itu masih terasa juga, sehingga menurutku beberapa part dialog itu rasanya tak wajar diucapkan di setting sehari-hari, kecuali dalam sinetron yang menggunakan efek kamera soft-focus, dengan suara mendesah, gitu deh. Dan catat, Novel ini masih jauh lebih enak dibaca dibandingkan novel L@n@ng yang --kira-kira-- menerapkan kiat yang sama.

Sorry, kalo pengandaian saya jelek dan gak tepat. Soalnya ga biasa nonton sinetron. Ho-oh, sumpe loh.

Sehingga, semuanya menjadi masalah selera. Tapi untukku, yang jelas jadi masalah koneksi, sebab gaya bahasa itu membuatnya jadi berjarak dengan pikiranku, dunia novelnya jadi kurang bisa kumasuki.

Kemudian aspek styling lainnya yang kurasakan cukup aneh, adalah kenapa pengarang harus menggunakan inisial untuk nama kota yang sebenernya sudah sangat obvious sehingga pembaca udah pasti ngerti kota mana yang dimaksud. Pulau B, Kota J, Kota B,... gue inget ini gaya novel aliran jaman baheula, taun 70-an, kali ya? Atau biasanya di artikel-artikel Oh-Mama-Oh-Papa atau Cerita-Cerita-seru.com (ups...) Entah apa maksud dan tujuan pengarang, sebab gak usah disingkat, tulis aja Pulau Bali, Kota Jakarta, Kota Bandung, pembaca nggak akan protes, koq.

Sementara untuk naming, pengarang malah mencampur Istilah Inggris seperti White-light (tapi pemimpinnya disebut: Kamitua. Ga cucok deh!), Pure Black, Ordinary, dll. Buatku, istilah Inggris di dalam novel ini gak terlalu 'masuk' ke dalam keseluruhan setting, terkesan tempelan untuk membuatnya ber-kekinian aja. Tapi gak parah juga, sih. Nama karakter dibuat singkat --umumnya satu kata, misalnya Shaman, Zero, Pijar, Agni, Speedy-- dengan alasan yang cukup pas, bahwa nama-nama itu merupakan pengganti nama asli mereka, dimana nama baru mengandung pengertian sesuai dengan kekuatan istimewa mereka (yah, gak semua mengikuti aturan itu, sih. Tapi itu adat yang berlaku di kalangan manusia istimewa).

So, nothing too bad, also nothing too special juga. Mengalir dan cukup pas, lah.

Catatan terakhir, adalah mengenai sampul.

Sampul yang di desain Circlestuff Design menampakkan sebuah pohon meranggas dalam kegelapan yang dijatuhi berkas cahaya dari sebuah lubang di langit ("Anjrit! Pakulangit!" gue hampir memaki, hehehe). Seberkas idea mengenai kata 'Iluminasi'. Tadinya aku bersikap netral aja terhadap desain sampul ini. Tapi sewaktu aku membuka sampul dalam dan melihat ilustrasi 'Lompatan 1' (Istilah lompatan digunakan sebagia pengganti istilah BAB, which is interesting), sebuah pendulum yang digambar oleh Damuhbening, aku hampir terlompat beneran. Sh*t! Harusnya lambang ini-nih yang dijadikan cover! Keren banget!

Well, I guess, itu hak prerogatifnya penerbit, aku ga boleh ikut campur. Tapi bagi yang paham kekuatan simbol dalam memasuki alam bawah sadar manusia (baca: konsumen), keberadaan lambang itu mestinya jangan dianggap remeh.

OKEH, jadi kesimpulannya, novel Ilumnasi ini sesungguhnya merupakan perwujudan idea yang keren dan sangat relevan untuk masa kini. Opini saya, kalau saja kemasannya bisa dibuat lebih masa kini --termasuk menyederhanakan dan mengkinikan gaya bahasa puitis dan et cetera itu-- maka novel ini bisa punya posisi yang lebih menohok pasar. Mbak Lisa, selamat atas karyanya. Moga-moga sekuelnya lebih seru!

Salam,


FA Purawan

Minggu, 29 November 2009

JONGGRANG: Seribu Tahun Kutukan Dendam & Cinta (Bimo S. Nimpuno & Gerry Nimpuno - 2009)


by FA Purawan

Data Buku:

Penerbit: Edelweiss
Editor: -
Desain Sampul: Kebun Angan
Tata Letak: Fitri Yuniar
Tebal: 268 halaman

Hmm, ada apa dengan Roro Jonggrang? Apa daya fantasi yang melingkupi legenda ini sedemikian dahsyatnya sehingga menjadi inspirasi tak putus-putus? Masih banyak legenda lokal yang lain, kan? Tapi kenapa Roro Jonggrang lagi, lagi, -dan lagi? Apa karena ada artefak candi yang segitu gede dan memukau-nya, sehingga legenda itu menjadi terus tersokong hidup sepajang masa.

Nggak salah, si Bandung Bondowoso dulu mengutuk Roro Jonggrang jadi patung batu. Terbukti long-lasting, heheheh. Coba kalau dikutuk jadi kodok, besoknya udah jadi Swikee.


Ada satu lagi buku baru bernuansa Fantasy yang menggunakan perempuan Prambanan ini sebagai latar cerita. Buku berjudul JONGGRANG: Seribu Tahun Kutukan Dendam & Cinta karangan duo pengarang Bimo S. Nimpuno dan Gerry Nimpuno. Ini adalah buku kedua yang direview oleh Fikfanindo menggunakan tema Roro Jonggrang, kalau teman-teman masih inget, yaitu PETUALANGAN JAVA-JOE: Rahasia Kebangkitan Roro Jonggrang karya J.H. Setiawan, linknya ada di sini.

Novel JONGGRANG mengisahkan kutukan yang menimpa Loro Jonggrang, putri Prabu Boko dari Prambanan yang mengakali Bandung Bondowoso sehingga pangeran penakluk dari Pengging itu gagal membuat candi keseribu yang dimintanya. Kutukan itu terus melekat sampai masa kini dan menimpa sepasang kekasih yang jadi tokoh utama buku ini, sehingga keduanya harus membebaskan diri dari cengkeraman Loro Jonggrang dengan menggunakan kekuatan CINTA.

Well, I know, I know. Komennya ntar dulu deh. Sekarang perlu aku beberkan dulu alasanku mengapa buku ini menjadi menarik untuk dibedah di Fikfanindo. Yang pertama, ini adalah buah karya kolaboratif dari sepasang pengarang yang kebetulan berstatus suami-istri (Atau suami-istri yang kebetulan berstatus pengarang? Hayah...). Fokus di 'kolaboratif'nya. Kita lihat bagaimana perpaduan dua benak dapat bersinergi menciptakan satu karya. Kedua, buku ini adalah jajaran kesekian yang mengolah tema 'basi'... uits, jangan marah dulu. Maksudnya topik Roro Jonggrang itu--yang sudah terpakai berkali-kali oleh dozens of writers. Apakah hal baru yang bisa dikreasikannya sehingga buku ini bisa menjadi sosok yang lepas dari bayang-bayang buku lain yg duluan eksis?

Kita mulai dari kemasan: Sampulnya berwarna hijau dengan ilustrasi putri keraton di sudut kiri bawah menghadap pada semacam pusaran cahaya langit di area tengah sampul. Tulisan "JONGGRANG" dengan typografi cukup menarik menghiasi muka sampul, dengan bayang-bayang candi sebagai latar belakang, dengan susunan pucuk-pucuk candi mirip dengan susunan pucuk rumah ibadah di cover novel Kisah 5 Menara. Cover dikerjakan oleh Kebun-Angan, ilustrator yang mengerjakan cover serial terjemahan Percy Jackson & The Olympians (Saya suka karya mereka di serial ini). Lumayan, konsep dan eksekusinya cukup dapet, lah. Hanya penggambaran sosok putri masih terasa agak kartun menurut gue, rada kurang masuk dengan tema buku yang sebetulnya cukup dewasa (baca: serius).

Gimana dengan alur plot? Agak similar dengan JAVA JOE, cerita dibuka dengan adegan pertempuran Bandung Bondowoso vs Prabu Boko. Terus sampai drama kutuk-mengutuk itu, lalu pindah ke masa kini.

Ada satu pendekatan unik yang digunakan para pengarang dalam mengantarkan cerita, yaitu dengan adanya suatu 'karakter pembantu' yang dinamai 'Akselerasi'. Sebetulnya ini bukan orang, dan juga bukan apa-apaan sebab gak dijelaskan lebih lanjut oleh pengarang. Cuma pengarang menggunakan 'Akselerasi' ini sebagai semacam 'kamera' yang mengamati semua adegan. Hebatnya --but at the same time: ancur-nya-- Akselerasi ini digambarkan datang dari ujung alam semesta dengan warp-speed menuju Bumi. Ndilalah mampirnya ya di Prambanan, gitu jhe? (gunakan logat Yogya).

Lho kenapa gue bilang 'ancur'? Sebab karakter akselerasi ini gak punya hubungan sebab-akibat apapun dengan cerita. Dia cuma jadi semacam pengantar aja yang fungsinya juga gak jelas. Gak eksis pun gak apa-apa. Mustinya sih, pengarang bisa memberikan sedikit 'reason' kenapa karakter itu diperlukan, kenapa relevan ada di bukunya.

Alur didesain cukup biasa saja. Straight forward dari awal sampai akhir. Ada a little twist yang sedikiit aja memperkaya (sayangnya, nggak memberi kedalaman pada cerita), padahal kalau aku rangkai-rangkaikan, kayaknya potensial jadi sesuatu yang saling interelated dan membuat cerita jadi lebih berdimensi. Kayaknya pengarang gak melihat hal itu, atau gak mengolahnya dengan baik.

Lepas dari masa Prambanan, masuk setting masa kini, dengan kehidupan tokoh utama bernama Data Sena --yang bekerja di perusahaan IT-- dan kekasihnya Elektra. Yup, pasti anda terjengit, ada orang indonesia bernama Elektra, dan Data. Gue juga sempat membatin koq namanya aneh bener Data (mirip tokoh Star Trek), terus kerja di IT, pulak. Eh ga taunya di halaman 23-24 pengarang udah ngeduluin mencounter dengan pertanyaan yang sama. Ha-ha.

Penggambaran setting masa kininya cukup dapet, dan secara signifikan lebih baik dari pada setting era Prambanan-nya. Untuk setting masa kini yang berlaku seputar kehidupan kantor, rumah, cafe, situasi liburan di Bali, Yogya, wisata candi Prambanan dll, cukup bagus tereksekusi.

Tapi khusus... setting Fantasynya, harus aku puji cukup extra ordinary. But wait, aku belum bicara masalah penulisan/ penceritaan, tapi ide fantasy nya aja dulu. Ada dua setting Fantasy yang cukup dominan di sini, yaitu Prambanan era tahun 800 M-an dan "Alternate Prambanan" di masa kini. Di setting Prambanan tahun 800-an, pengarang menelurkan ide fantasy pembuatan seribu candi yang cukup keren buat gue. Tentu saja, adegan pertempuran Prabu Boko dan pembuatan 1000 candi pastinya udah banyak yang mengolah. Bagaimanapun itu adegan inti dalam kisah Roro Jonggrang klasik. Tapi lihat deh apakah sudah ada yang melukiskan bagaimana cara Jin-jin dedemit pembantu Bandung Bondowoso itu datang?

Keren, look at this:

...Angin berhembus kencang menerjang apa saja yang dihantamnya, termasuk potongan-potongan tubuh yang berserakan di tanah yang berlumuran darah. Namun kejadian yang mencekam ini tidak membuat Bandung berhenti komat-kamit. Justru sebaliknya ia berputar-putar dengan perlahan sambil terus menengadah ke langit melanjutkan manteranya. Di dalam suasana alam yang hiruk-pikuk itu, tiba-tiba tanah bergetar. Getarannya tidak mirip dengan gempa bumi, tetapi lebih mirip dengan getaran magma yang akan keluar dari dalam perut bumi. Tidak lama kemudian muncullah dari dalam bumi, sesosok makhluk yang wujudnya mengerikan. Mula-mula hanya kelihatan kepalanya saja yang menyembul keluar dari dalam bumi. Kulitnya hitam keabu-abuan dan lapuk seperti mayat yang sudah beberapa bulan dikubur di dalam bumi. Matanya memantulkan sinar hijau. Cuping hidungnya besar dan mengenakan anting. Tampak taringnya keluar dari antara kedua bibirnya yang tebal dan menjijikkan. Ketika badannya sudah hampir keluar semua, tampak badannya tidak proporsional sama sekali. Tangan dan kakinya kecil, tubuhnya bungkuk dan perutnya buncit. Kuku-kuku yang panjang berliuk-liuk dan kotor keluar dari masing-masing jari-jari tangannya yang panjang-panjang. Ternyata makhluk bawah tanah itu tidak sendirian. Satu persatu mereka menyembul keluar dari dalam tanah sehingga jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Belum selesai makhluk-makhluk lainnya yang sejenis menyembul keluar dari dalam tanah, tiba-tiba sekumpulan awan hitam menerobos dari langit menuju ke medan Prambanan yang kini berubah lebih menyeramkan lagi dari sebelum-sebelumnya. Ketika menyentuh tanah awan hitam itu berubah wujud menjadi kawanan makhluk-makhluk kecil yang menyerupai tuyul yang jumlahnya juga ribuan. Mereka juga ribut dan gerakannya seperti anak-anak kecil yang rakus... (Hal. 9-10)

See? Ide --terutama visualnya-- cukup orisinil dan menggugah.

Juga untuk ide Alternate Prambanan di masa kini. Di saat malam terutama, starting pukul 23.00, Prambanan akan menjadi suatu kompleks istana klasik dimana dayang-dayang, penari, ponggawa dan kereta kencana gaib muncul. Dan yg bikin gue geleng-geleng kepala, semua berlangsung sepermakluman rakyat setempat sampai ke petugas satpam (Petugas Satpamnya gak heran ngelihat ada kereta kencana ditarik enam kuda hitam berlari menembus gerbang tertutup right before his own eyes! Mantap!) A living urban legend! Dunia real dengan dunia khayal bertemu-mix di sini secara apik. Saya suka.

Dengan adanya dua ide setting itu, sebenernya Novel ini berpotensi jadi 'beda'. Sayang sekali, kualitasnya belum bisa mencapai posisi ideal karena beberapa kelemahan. Saya akan list down kelemahan yang bisa saya temukan, sambil sekaligus beberapa komplain terkait pengolahan cerita, hehehe. Here goes:

1. Yang paling parah: kemampuan penulisan, pembuatan prosa atau kalimat. Sayang banget masih kurang bagus, ku bilang malah masih agak berantakan. Liat aja contohnya di paragraf yang saya kutip di atas. Terlihat bahwa adanya DUA pengarang tak menolong dalam hal ini. Entah apakah salah satu gak bisa mengoreksi yang lainnya, atau dua-duanya memang belum punya skill-nya. Kalau saja peran editor bisa lebih ditingkatkan, di sini.

2. Sedikit bolong logika: Pembangunan candi Prambanan pada tanggal 11 November tahun 856-an M atau Abad 9 M (hal 91), peristiwa masa kini terjadi tahun 2009-an. Tapi selisih tahunnya menurut pengarang adalah seribu tahun(an). Well, 800 ditambah 1000 baru nyampenya 1800-an lah, kurang dua abad! Kesalahan remeh, sih, tapi masak matematika sederhana aja terlewat? Tapi anehnya di halaman 3 disebutkan time-line perang Prambanan adalah pada abad 10 M. Antara abad 10 dengan abad 20 memang terpaut seribu tahun. Tapi bagaimana konsistensinya dengan informasi pembangunan Prambanan di tahun 800-an? Artinya perang terjadi setelah candi dibangun? Lha perangnya sendiri seharusnya adalah penyebab dari candi itu dibangun! Ga tahu deh, miss-nya di mana. Kalau menurut gue sih, konsistenkan saja, pilih satu sudut premis yaitu (kalau di sini) premis legenda aja, jangan masukin premis fakta. Aman. Kecuali kalau antara legenda dan fakta 'kebetulan' cocok.

3. Blatant Tourism Promotion: Jangan-jangan dua pengarang ini sempat minta sponsorship dari Pak Jero Wacik! Part selipan promosi wisatanya terasa amat vulgar, sampai ke adegan waiter di Ubud duduk nemenin tamu hotel (sang tokoh) untuk mendeliver obrolan yang pantasnya tercetak di brosur wisata. Well, masih bisa dimaafkan, ketika kisah pariwisataiyah tersebut juga direfer sebagai informasi penting terkait plot, memang. Tapi hari gini, rasanya udah banyak pengarang menghindari kevulgaran yang kayak gitu. Istilah pariwisata perlu dicek lagi, gue baru tahu kalo wisata Arung Jeram masuk kategori Wisata Bahari (hal 55).Promosi tempat-tempat di Yogya juga, buat saya 'masih' berasa dipaksakan, walau pengarang sudah cukup rapi meramunya sebagai tempat-tempat yang dikunjungi para tokoh. Rasanya seperti nonton film laga Steven Seagal yang dipaksain beraksi di lokasi-lokasi pariwisata, just to show *it* to the audience. Lame.

4. Inkonsistensi POV: Mulai dari Bab II: Seribu Tahun Kemudian, buku ini menggunakan sudut pandang Data Sena sebagai POV orang pertama (tokoh aku). Sayangnya tidak digunakan secara konsisten, sehingga acap terselip POV orang ketiga, misalnya POV Elektra. Bahkan di bagian akhir cerita POV bergeser 100% ke Elektra sebagai POV orang pertamanya. Hualah, kita mendalami masalahnya dalam sudut pandang Data, tapi menjalankan penyelesaian masalah melalui sudut pandang Elektra? Buat gue sih jadi gak nyambung, ya. Dan khusus pendekatan POV orang pertama, mengganti POV orang pertama dalam satu cerita menurut gue is a big No-No. Rasanya seperti membaca cerita yang gak selesai, sebab masalahnya diselesaikan oleh 'aku'nya orang laen. Tapi satu misslook juga terjadi di halaman 213, saat tiba-tiba saja dalam POV Data yang berada di Yogya, Data bisa bercerita mengenai aktivitas Elektra yang akan menyusulnya di bandara Soekarno Hatta Jakarta (parah, Data seharusnya dalam kondisi tidak tahu dan tidak peduli pada Elektra, koq bisa muncul POV itu). Udah gitu yang tidak indah juga adalah perpindahan ke POV Elektra seperti petir di siang bolong, alias ujug-ujug terjadi begitu aja mulai paragraf kedelapan di halaman 215. Parah juga di halaman 238 dimana Elektra meyatakan kondisi dirinya mirip dengan relief Kidung Sudamala di Candi Sukuh, sementara yang pergi ke candi Sukuh dan lihat relief itu adalah Data, di adegan pesiar sebelumnya.

5. Loro, atau Roro? Nhah, ini mungkin bakal jadi polemik kebudayaan di tangan orang yang gak ngerti budaya. Maksudnya, gue, yg nggak ngerti budaya Jawa. Pengarang menggunakan sebutan Loro Jonggrang, sementara setahu saya istilah yang benar adalah Roro Jonggrang. Bahasa Jawa-nya Loro, kan kalo nggak berarti (angka) "dua", atau "sakit", tergatung logat membacanya. Sementara kalau Roro itu sebutan untuk seorang puteri, misalnya dalam "Raden Roro". Nah, apakah memang ini semata slip-of-tongue, atau memang ada konvensi penggunaan istilah "Loro" yang sama benarnya dengan istilah "Roro"? Soalnya denger-denger juga ada istilah 'Nyai Loro Kidul' bersamaan ada juga istilah 'Roro Kidul', konon itu dua entitas (?).

6. Beberapa miss-logika juga terjadi, tapi dalam skala kecil sehingga mudah dimaafkan. Misalnya ada adegan Data bermimpi memasuki alam masa lalu dimana dia mendengar suara-suara pedang beradu dan orang-orang berteriak dalam bahasa Jawa Kuno. Ntar dulu,... emang Data ngerti bahasa Jawa Kuno? Bagaimana kalau itu sebenernya bahasa Urdu modern yang dikira bahasa Jawa Kuno? Juga reaksi curiga/ cemburu Elektra yang berlebihan, biarpun justified, tetep aja terasa dipaksakan.

7. Tadi sempat ngomongin ide fantasy keren, saat Bandung Bondowoso memanggil pasukan jin-nya. Terus yang bikin ide keren itu kehilangan momentum kekerenan, adalah: Pengarang mengulang penggambaran adegan yang sama sampai dua kali selain di adegan original. Satu di mimpi Data, satu lagi di adegan puncak saat Loro Jonggrang menawan Elektra, dan keduanya tampil dengan narasi yang nyaris mirip, almost total copas. Udah dua pengarang, lho ini? Koq, males? Atau, kalau mengacu pada teknik, sebetulnya ulangan ke 2 dan ke 3 itu gak perlu serinci yang pertama, sekedar gambaran singkat aja. Pembaca udah paham, koq. Kalau mau rinci, tuliskan dengan cara baru, misalnya dengan dijiwai oleh persepsi sang tokoh POV. Jadi pembaca tetap dapat sesuatu yang unik, gak pengulangan.

8. Late Chatolic Reference: Uhm, gue bukan anti religius-reference-in a novel. Even dalam novel gue (GARUDA-5) pun, gue menggunakan referensi Islam, yang gue timbang-timbang dengan hati-hati, supaya masih 'masuk' untuk dibaca audiens non-muslim. Novel Jonggrang ini menggunakan referensi Katolik, bahkan menjadikannya penyelesaian utama konflik melawan kutukan Bandung Bondowoso. Hanya komplain gue, kenapa referensi ini baru muncul belakangan, setelah halaman 217 sewaktu ada dialog dari Roos, kolega Elektra, "Kamu kan Katolik...dst". Blunggg! Abis itu menggelontorlah segala istilah per-katolik-an mewarnai buku, termasuk konotasi "Aku berada dalam terang" atau "Kau berada dalam gelap". Ugh, Koq jadi novel dakwah? Tapi ya udah. Soal dakwah adalah soal hak dan keyakinan. Aku hormati banget itu. Tapi soal memasukkan referensi teologis belakangan, aku rada gak sependapat. Saranku, masukinlah sejak dari depan, misalnya ada adegan acara keluarga bernuansa Katolik, ato apa gitu (sebisa mungkin jangan klise, tapinya). Tak soal bila pada adegan awal tersebut sang tokoh gak terlibat atau gak terkesan (biasa, kan belon insap). Yang penting pembaca sudah tahu sudut pandang itu sejak awal.

9. Dialog: Eksekusi dialog sebetulnya dah bagus, mengalir wajar. Cuma ada catatan di sana-sini, misalnya si Bandung Bondowoso yang berteriak-teriak menggunakan terlalu banyak konsonan-vokal-dan tanda baca. Si Bandung juga 'gak sengaja' keceplosan menggunakan dialog: "Ngomong aja kamu" (hal 15). Well, mungkin di abad itu gaya bicara seperti itu masih tergolong gaya bicara ningrat, kali ya, alih-alih gaya bencong, hehehe. Kalau menurut konvensi, sich, jika dialog diasumsikan berlangsung dalam bahasa asing (dalam konteks ini tentu bahasa Jawa Kuno), maka penulisannya dalam bahasa Indonesia seyogyanya dalam bahasa baku atau mendekati istilah-istilah baku. Jangan pakai bahasa slang. Nah, beda dengan ejekan Loro Jonggrang-muka-setan di masa kini: "Kasian deh loe!" (hal 242) itu masih tepat ditulis demikian sebab konteksnya si Jonggrang memang bicara dalam bahasa Indonesia, bukan Jawa Kuno. Dalam adegan-adegan latar misalnya di hotel, di cafe, terlampau banyak dialog yang gak perlu, sampe adegan pesan teh saja dibabar dialog tanya-jawab secara lengkap. Sebaiknya lebih efisien aja.

Well, that's it. Lebih kurang sembilan point aja yang bisa saya rinci sekarang. Moga-moga dapat menjadi pembelajaran bersama. Selain dari itu, novel ini memiliki kelebihan dalam pewarnaan budaya yang cukup beragam, referensi-referensi yang digunakan lengkap dan bernas, mengarah pada ketepatan text-book. Tinggal perangkaiannya aja gimana, agar tidak terkesan sebagai tour yang dipaksakan. Status pengarang sebagai pasangan suami-istri sepertinya juga saling melengkapi dalam menuliskan asmara hubungan pria-wanita. So secara pondasi sih, Jonggrang sudah memiliki kelengkapan yang cukup. Yang kurang adalah skill kepengarangan aja, yang masih dapat ditingkatkan. Selamat!


FA Purawan

Minggu, 06 September 2009

XAR & VICHATTAN - Takhta Cahaya (Bonmedo Tambunan - 2009)



Penerbit: Adhika-Pustaka
Penyunting: Lutfi Jayadi & Ratri Adityarani
Ilustrasi Sampul: Imaginary Friends Studio; Hendryzero Prasestyo & Eko Puteh
Perwajahan Sampul & Isi: Lewi Djayaputra
Tebal: 313 halaman



Sebuah lukisan angsa putih ditunggangi oleh tiga sosok remaja segera membetot perhatian di rak buku Gramedia. Paduan warna ungu dan jingga sebagai latar belakang, memperkuat kesan akan sampul sebuah novel Fantasy untuk target pembaca remaja. Saat diamati detail, di latar belakang tampak sosok Rusa jantan bercahaya terbang ditunggangi dua remaja. Inilah Novel Fantasy baru: Xar & Vichattan - Takhta Cahaya karangan Bonmedo Tambunan.



Ada dua aspek desain cover yang menurutku menjadi unggulan novel ini. Yang pertama adalah visualisasinya udah Fantasy banget, gambar Angsa yang bisa membopong 3 anak remaja, udah pastilah angsa raksasa yang gak mungkin ada di alam nyata, hehehe. Dan Rusa terbang juga tampak detail dan 'majestic'. Langsung menggeret imajinasi ke suatu negeri antah berantah.

Yang kedua, adalah eksekusinya yang ciamik. Ilustrasi cover bersifat lukisan tangan, which is merupakan sebuah nilai plus, dimana desain cover hari gini kebanyakan menggunakan metode art grafis, atau art foto. Udah jarang ilustrator memberanikan diri tampil dengan kinarya lukis (entah, apa hari gini even lukisan macam ini pun sudah dikerjakan secara digital from scratch?) untuk cover novel Fantasy. Kalo di Barat sono sih, tampaknya malah udah jadi pakem: kalo Fantasy --terutama high fantasy-- covernya harus bergaya lukisan. Salut untuk Hendryzero Prasestyo dan Eko Puteh dari Imaginary Friends Studio.

Untuk kualitas lukisannya udah cukup di atas rata-rata novel lokal, sich. Terutama untuk angsa dan rusa nya. Kueeren. Kalo untuk sosok-sosok manusianya, well,..buat gue agak terlalu 'manga-ish'. Gue lebih seneng yang bener-bener lukisan person realistik. Tapi I guess yang bisa bikin kayak gitu di sini jarang banget. Dan granted, segala aspek dalam cover ini sudah pas memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan target pasar yang dituju, yaitu segmen remaja SMP-SMA.

Catatan kecil buat Cover, adalah penulisan Sub-judul: Takhta Cahaya. Setahuku ejaan yang bener adalah "Tahta"; perhaps penerbit/ editor bisa lebih concern lagi untuk hal ini, mengingat judul 'kan ada di halaman depan yang terlihat oleh berjuta-juta mata :p

Kisah Xar & Vichattan (X&V) sendiri cukup 'mainstream' untuk sebuah genre Fantasy. Syahdan awalnya adalah tiga penyihir Ariok, Tamar, dan Sjorya, disebutkan sebagai para pencipta ilmu magis. Si Ariok yang menguasai sihir Kegelapan berseteru dengan Tamar memperebutkan cinta Sjorya, yang berakhir menjadi episode kutuk-mengutuk. Akibat kutukan kegelapan, Tamar menderita semacam penyakit yang akhirnya dapat disembuhkan oleh Sjorya setelah membangkitkan kekuatan Cahaya. Maka berdirilah Kuil Cahaya sebagai pengimbang Kuil Kegelapan, serta Kuil Xar dan Kuil Vichattan sebagai penerus ajaran Tamar yang mengembangkan spesialisasinya masing-masing. Sedikit background situation, mirip seperti Harry Potter. Good, I like background stories.

Tujuh tahun sebelum time-line Novel, terjadi pertempuran besar antara Kuil Kegelapan melawan Persekutuan Keterangan (hehehe, istilah ciptaan gue sendiri) yang terdiri atas Kuil Cahaya di bawah pimpinan Pendeta Cahaya Luscia, Kuil Xar di bawah pimpinan Biarawati Agung Mirell, dan Kuil Vichattan di bawah pimpinan Tiarawati Magdalin. Saat itu Khalash sang pemimpin Kuil Kegelapan mengalami kekalahan berkat pengorbanan Luscia yang berhasil mengirimkan Khalash ke dalam "Void". Sebagai akibat tewasnya Luscia, Kuil Cahaya mengalami keruntuhan.

Dan sekarang, somehow the Lord of Darkness has came back! Wuahahahah,... tanpa kekuatan Cahaya, dunia terancam tak mampu mengimbangi kekuatan Kegelapan. Apalagi kutukan Kegelapan juga menimpa para dedengkot Kuil Xar & Kuil Vichattan, membuat mereka tak berdaya. Nasib Aliansi Keterangan akhirnya berada di pundak empat tokoh remaja kita: Gerome, Kara, Dalrin, dan Antessa, berusia lebih kurang 12-13 tahunan. Merekalah sang Pewaris Cahaya yang akan membangkitkan kuil Cahaya untuk melawan Kuil kegelapan.

So, yeah. It's another Light vs Darkness Plot, dengan The Chosen One(s) to save the day. Ini plot klasik, memang. Tantangannya adalah gimana ngembanginnya supaya gak menjadi terlampau klise. Face it, klise aja belum tentu jelek, sebab yg klise pun teteup punya pasar. Nasi goreng dari dulu bahannya gak jauh dari Nasi, bawang, cabe, daging, telor dkk tapi toh tetap banyak yang suka, hehehe. Tapi sebagai pengarang, kita memang punya semacam kewajiban moral untuk mampu menghadirkan sesuatu yang 'baru', kepada pembaca. Kita lihat saja, apakah X&V mampu menawarkan sesuatu yang baru.

Kalau menurut gue, pengarang berhasil mengolah plotnya dengan baik. Salah satu sebabnya, karena pengarang menciptakan alat bantu plot yang cukup efektif, yaitu background stories yang lumayan lengkap seperti sudah aku uraikan di atas. Kisah petualangan empat sekawan ini disupport oleh dua generasi background story, yaitu generasi pendiri Kuil Cahaya, dan generasi veteran perang Kegelapan. Itu menyumbangkan 'depth' ke dalam cerita, sehingga konflik-nya bisa lebih 'berakar' dari sekedar kisah tentang 4 bocah jagoan (BTW, mirip juga dengan Background Stories-nya Harry Potter: Ada generasi empat sekawan pendiri Hogwarts, kemudian era konflik Voldermort Pertama yang terjadi sebelas tahun sebelum time-line Harry Potter).

Background stories, biasanya merupakan tantangan tersendiri bagi penulis. Bagaimana kiat mendeliver background story tanpa membuat: (1) Cerita menjadi berpanjang-panjang atawa bertele-tele; (2) Pembaca bosan mengikuti background atau flashback dan gak segera 'terjun' ke time-line utama; (3) Background story menjadi terlalu menarik dan 'menenggelamkan' cerita utama!

Gue sendiri --jujur aja-- juga mengalami problem yang sama dalam naskah novel gue. Awalnya gue membuat sebuah background story (yg gue labelin sebagai Prolog) mencakup 3 Bab penuh, sekitar enam puluh halaman-an. Akibatnya gue kena sindrom nomor (2) di atas, pembaca keburu bosen. Dilema-nya, tanpa background story, gue gak bisa menjalankan cerita. Akibatnya gue harus berjibaku memotong berbagai adegan Backround Story menjadi seminimal mungkin. Itu pun gue baru berhasil memotong cuma 30%.

So, bukan bermaksud promosi colongan, tapi sekedar menegaskan, menyiasati background story memang bukan perkara mudah. Banyak pengarang akhirnya mengambil strategi memecah-mecah informasi background stories itu dan menyebarnya di dalam novel. Langkah yang cukup masuk akal, namun membutuhkan satu prasyarat: struktur plot musti terencana baik.

Gimana dengan X&V? Satu tantangan di X&V adalah jumlah halamannya relatif tipis, cuma 313 halaman, sesuai dengan target pasar yang dituju. So, background story-nya hanya punya alokasi halaman yang minim. Pengarang menyiasatinya dengan menyisipkan adegan rapat (kemudian background info itu disampaikan melalui perantaraan kitab kuno, hikayat yang diceritakan oleh para tokoh-ahli, etc). Jadi sifatnya sangat singkat dan minim narasi. Memang lumayan efektif, walau karenanya dimensi 'emosional'nya pun jadi tereduksi hingga sekadar sebagai informasi aja, less being a plot driver. Ada sedikit sih, informasi background story itu digunakan sebagai bahan dasar 'puzzle' yang harus dipecahkan para jagoan.

Tapi kurasa pas, lah. Kembali karena mengingat target pasarnya yaitu pembaca remaja.

Bagaimana struktur plotnya? Walau belum cukup canggih untuk memasukkan strategi pecah-backround, setidaknya alur maju yang dipakai cukup berjalan lancar. Cerita dimulai dari peristiwa kutukan yang menimpa pemimpin Xar & Vichattan, sekaligus sebagai penanda bahwa sang penguasa kegelapan sudah bangkit, dan peristiwa terus bergulir sampai klimaks pertempuran antara Aliansi Keterangan dan Pasukan Kegelapan. Plot sempat dipecah dua jalur; jalur pertama adalah pertempuran melawan Khalash dan pengikutnya, jalur kedua adalah perjuangan empat bocah sekawan itu menjalankan tugas membangkitkan kuil cahaya. Biasa, jalur kedua harus accomplish in order agar jalur pertama sukses. Lumayan rapih, koq. Dan kedua jalur plot itu juga diisi dengan klimaks yang cukup pas.

Terhadap aspek-aspek di atas, X&V sudah berada dalam posisi cukup aman, koq. Nothing so special, namun cukup untuk menggerakkan cerita dalam bingkai yang wajar untuk target market remaja.

Yang spesial dari Novel ini, dan banyak juga yang bilang begitu, adalah adegan-adegan battlenya yang keren. Berbagai pertempuran dieksekusi dengan bagus, menghasilkan gambaran visual yang memukau pembaca. Motivasi pertempurannya sih ga begitu istimewa. Bad guys hendak memusnahkan Good guys, Good guys trying to survive,... Tapi Pengarang berhasil mengkonstruksikan adegan pertempuran baik sihir maupun fisik, secara cantik.

Bagaimana si pengarang bisa menghasilkan adegan pertempuran yang bagus-bagus?

Well, yeah. Imagination, good ones, always matters. Tapi aku ingin highlight satu kelebihan khusus yang ada dalam diri pengarang, yang sangat membantunya dalam merekonstruksi adegan perkelahian fantasiyah yang keren (Part yg ini jarang disadari oleh pembaca, karena tersembunyi di balik kegemilangan adegan-adegan).

Yang pertama, cukup solidnya setting bahan-baku peperangan yang disusun oleh Pengarang, yaitu sistem sihir-menyihir berdasarkan sistem elemental (Air, Api, Udara, Tanah), dan sistem kebatinan (daya spiritual, energi psikis, disebutnya energi inti Xar), dan daya kegelapan (cool, dark element yang bersifat energi negatif yang menyerap atau memunahkan energi positif). Harus diakui bahwa ini bukan bahan-bahan baru. Sudah banyak khasanah Fantasy memanfaatkan sistematika ini. Yang bagusnya, pengarang mampu menampilkan cara-cara pengolahan energi-energi tersebut serta perbenturannya (kapan yg satu efektif melawan yang lain) secara wajar dan believable. Sedikit over-statement diberikan kepada energi kegelapan yang demikian powerfull sehingga sulit dikalahkan oleh sihir elemental maupun sihir spiritual, tapi memang dikondisikan begitu untuk meng-emphasize keunggulan energi Cahaya yang konon dilandasi oleh Cinta. Well, oke deh, since memang itu underlying missionnya, ya bisa gue ampuni, deh. hehehe.

Yang kedua, musti dilihat dari teknik penulisan. Sekalian buat belajar juga nih. Apa yang membuat adegan battle menjadi menarik? First of all, seperti kubilang di atas, tentunya daya imajinasi pengarang harus kuat. Dia harus bisa membuat sebuah studio adegan di dalam kepalanya, menyusun setting perkelahian dalam studio itu, kemudian mengisinya dengan berbagai properties dan karakter yang bergerak kian kemari secara tiga dimensi. Jangan lupakan pula unsur-unsur penunjang seperti warna, tekstur, sound-effects, anything, termasuk,... (ini yg sering dilupakan): Batasan-batasan ruang-waktu-fisik-jurus-magic, anything. Inget, loh. Cerita atau adegan justru jadi menarik karena adanya keterbatasan di sisi karakter untuk mencapai tujuannya.

Yang menarik, pengarang berhasil meramu elemen-elemen itu menjadi suatu battle yang koreografi-nya gak disangka-sangka. Misalnya gimana cara menghindarkan diri dari serangan menggunakan kekuatan udara (angin) untuk hovering (melayang rendah) berkelit. Kejutan-kejutan jurus semacam itu membuat suasana perkelahian jadi lebih mengasyikkan.

So, itulah, yang menurut pendapat gue, menjadikan battle di X&V menjadi enjoyable dan menjadi point plus untuk buku ini.

Lantas apa yang bisa gue kritik?

Soal penamaan: agak mixed feeling aku di sini. Pengarang sebenernya udah membuat suatu sistem penamaan yang bagus. Khususnya untuk kaum Xar, ada sistem penamaan klan dalam konsep nama tengah seperti Terma uv Elaim, Petra kar Cabara dan sejenisnya. Keteraturannya menciptakan sense setting yang solid. Cuma gue kenapa koq gak begitu cocok dengan cara penulisannya, nama tengah dibikin nggak berhuruf kapital, somehow jadi wagu.

Pilihan nama-nama nya sendiri cenderung aman, gak terlalu ekstrim-ngasal ala Fantasy wannabe, tetapi juga masih terasa other-worldly-nya. Yang perlu di highlight juga, penamaannya umumnya enak dibaca dan enak diucapkan. Orang lain mungkin menganggap kepedulian pengarang untuk gak main melintirin lidah pembaca adalah hal remeh, kalo menurut gue justru menunjukkan bahwa pengarang paham perlunya some degree of 'intimacy' antara pembaca dengan karakter yang ia ciptakan, yang biasanya diwakilkan melalui sosok karakter yang mudah dimengerti (termasuk di sini namanya juga gak ribet-ribet amat).

PS: Tapi "Xar"... itu bener-bener gak enak dibaca dan susah diucapkan! heheheh. Dan masih ada beberapa istilah dari BAHASA INGGRIS, yee? Misalnya "Shapeshifter".

Kritik lain adalah justru terhadap perilaku para tokoh utama, yang udah di'jebak' dengan segala trik sihir-magic-spiritual untuk jadi pengemban amanat hati nurani dewa (on the other word: sacrificing their puny little butts), koq gak keliatan takut-takut gimana, gitu. Padahal baru 12 tahun, loh. Rada gak sinkron sama level self-concept segmen pembacanya, neh. Tapi kupikir pengarang punya missi gitu juga, kayaknya (baca: bocah-bocah tuh jangan manja, kudu perkasa duonks!), jadi itu hak prerogatif-nya, lah. Hanya saya saran gue gimana kalo dibikin lebih natural, geto. Lagian, OTOH, they can do, like, bad-ass Magics, anyways!

Juga 'persahabatan' (bagai kepompong) empat anak yang suppose to be baru ketemuan (at least antara Xar party vs Vichattan Party) bagi gue agak terasa terlalu cepat akrab. Lebih natural kalo ada sedikit pergesekan ego di awal sebagaimana lazimnya remaja. Bisa aja antara Xar vs Vichattan, atau Girl vs Boys. Mumpung situasinya memungkinkan konflik-konflik semacam itu tumbuh, dan resolved akibat menghadapi common enemy. Terus panggilan-panggilan frontal-ideal seperti, "Sahabat!", "Kawan!", uaah,.. hari gini jadi berasa 'keju' gak sih?

Khalash, sebagai the Dark Lord, berasa gak terlalu villain, mungkin karena jatah tampilnya gak begitu banyak. Justru lebih keren panglima-panglimanya, si Botak dan si Cantik. BTW seharusnya Panglima Kegelapan ada 4, setelah perang tujuh tahun lalu tinggal 2. Sayang kenapa The Dark Lord gak ngerekrut 2 lagi dulu, ya. Overconfidence, kali.

Tapi gue paling senang dengan konsepnya Ingenscorpus, raksasa yang di-compose dari bangkai-bangkai yang dijahit jadi satu. Ugggh, nasty! Dan saat kemunculan si Ingenscorpus pertama kali melalui lubang gaib di udara, itu adalah momen paling "Whoaaa!" buat gue.

Satu kritik lagi, mengenai layout. Ini buku yang berukuran seperti buku pelajaran sekolah, dan dilay-out serupa buku pelajaran sekolah! Jarak spasinya kelebaran (spasi ganda), dan margin kiri-kanan terlalu lebar sehingga mau tak mau mataku harus bergerak kiri-kanan-mentok (seperti mesin tik jaman dulu), dan huruf-huruf itu seolah bertebaran ngacak seakan-akan gue menderita Dyslexia. Terus-terang gue lama juga baca buku yang cuma tiga-ratus halaman ini.

Well, kira-kira demikianlah kilas review X&V. Kesimpulan umumnya sih, ni buku merupakan karya yang 'cukup'. Kemasannya bagus, penulisannya bagus, kreativitas bagus, bangunan settingnya bagus, kesesuaian dengan target market juga bagus. Bisa direkomendasikan bagi para ortu yang ingin membeli buat anak-anaknya. Tapi kenapa aku bilang 'cukup', karena sekalipun bagus, aku belum mendapatkan sesuatu yang membuat aku ingin terlibat lebih jauh dengan ceritanya. Well, missi Terang melawan gelap, udah jadi standar. Chosen ones, well anybody can pick-up everybody they choose (it happens every time!). So biarpun mission accompished, kuil cahaya berdiri, Khalash siap untuk dikalahkan (so final battle commencing,...), rasanya biarpun ada sekuel, gue belum terlalu termotivasi untuk mengikutinya.

(To be fair, umur gue udah forty, mungkin alur macam ini udah gak begitu exciting buat gue. Bisa lain halnya dengan segmen pembaca remaja yang memang dituju oleh Pengarang).

So, buat gue, buku ini at best adalah sebuah contoh pembelajaran penulisan yang bagus, terutama bagaimana pengarang menggunakan top imagination untuk merangkai adegan-adegan battle yang keren!

Buat Bonmedo, selamat atas penerbitan buku perdananya, teruslah berkreasi.

Salam,


FA Purawan

Jumat, 23 Januari 2009

Ranah Sembilan, a Novel (Dewi Sartika - 2008)



Penerbit: OASE bekerja sama dengan Penerbit Sembilan - Publishing
Editor: Yessy, Tofik M, Anisa Ami
Perancang Sampul: Tutu, Urip Saputra
Layouter: Restu Damayanti
Ilustrator: Poetra
Tebal: 247 halaman

Wah, ini satu lagi kasus menarik.

Coba, apa yang anda pikirkan terhadap sebuah kisah berikut ini:

Alkisah, tersebutlah sebuah tempat yang dikenal dengan julukan Ranah Sembilan, sebuah wilayah di mana sembilan kekuatan saling berhadap-hadapan menjaga keseimbangan semesta persilatan.

Delapan perguruan utama: Partai Naga, Partai Bulan, Partai Bintang, Partai Matahari, Partai Teratai Merah, Partai Macan Putih, Partai Bangau Biru, Partai Kipas Terbang, bahu membahu menyatukan upaya dan mengesampingkan ego masing-masing, guna menjaga Gerbang Lembah Iblis, dimana satu kekuatan tak terkalahkan, satu kekuatan Hitam, satu yang harus dijaga sepanjang jaman, memancangkan panji-panjinya. Sang Kaisar Langit, pemilik ilmu tertinggi di seluruh Jagat, beserta lima murid yang nyaris tak tertandingi: Dewa Air, Dewa Petir, Dewa Api, Dewa Angin, Dewa Bumi.

Menjanjikan, eh?



Coba take alook at this, deskripsi karakter yang termuat di web-site sembilan publishing:


BIXI

Cowok berkepribadian ganda ini bukan orang jahat, juga bukan orang baik. Kalau punya kemauan pasti akan dikejarnya. Murid tertua dari Kaisar Langit ini termasuk jenius dan memiliki level imdok tertinggi (level 8 tingkat tengah) padahal usia aslinya baru 25 (mau masuk 26). Kepribadiannya yang lain adalah bocah perempuan berusia 10 tahun yang menguasai ilmu bidadari. Senjatanya, macam-macam, tapi lebih pada kemampuan jurus-jurusnya. Orangnya teramat percaya diri. Memiliki simbol di keningnya sebagai simbol Dewa Api. Pergi bertualang dengan Lea karena kepribadiannya yang lain menyukai Lea. Agak-agak tidak peduli, kecuali hal-hal yang dianggapnya penting yang kadang-kadang malah mengagetkan orang sekitarnya (misal, kalau marah karena bonekanya hilang, dia bisa membunuh siapapun yang disangkanya merusak bonekanya) minuman favoritnya tuak, terutama yang beraroma harum dan manis dan kue-kue yang rasanya manis. Lebih suka mengembara, tapi kadang-kadang kalau bosan kembali ke Lembah Iblis dan tinggal di sana untuk beberapa minggu atau bulan.

Keren, penggambaran karakter yang cukup unik.

Tambahkan keterangan: "Pemenang Sayembara Novel DKJ 2001 + Juara 2 Adikarya IKAPI 2005"

So, you will think you got good stuff, here? Think again.

Buku ini merupakan kasus unik, sebab gabungan dari beberapa faktor "juara" ternyata belum tentu menghasilkan material juara (please excuse the pun). Maksud saya, buku ini punya basic plot set yang menarik, ide yang boleh juga, bahkan dikerjakan oleh semacam team (liat aja editornya terdiri dari 3 orang, desain sampul 2 orang!), dan pengarangnya pun "sudah punya nama".

Singkat aja, apa yang membuat faktor-faktor juara dalam buku ini tak berhasil menjuarakannya di mata saya? Jahitannya kacau.

Jahitan pertama, adalah pengisian setting. Well, pengarang udah bikin kerangka setting yang potensial, sesungguhnya. Ada suatu wilayah dalam ranah fantasi persilatan dimana delapan perguruan bersama-sama memagari sebuah perguruan yang dianggap sesat demi mencegahnya melakukan kekacauan. Mungkin agak mengingatkan temen-temen pada setting Thio Bu Ki di film Tai Chi Master yang dibintangi Jet Lee. Bisa dibayangkan betapa banyak kisah seru bisa dibangun di dalamnya.

Sayang, kain yang bagus itu dijahit dengan detail-detail yang nggak sinkron. At least, bagi saya nggak sinkron. Entah kalo pengarang mau memaksakan sih boleh-boleh aja. Detail yang saya maksud adalah hal-hal 'kecil', misalnya seperti konvensi penamaan para karakter. Dalam dunia Ranah Sembilan, nama-nama hadir begitu saja tanpa koherensi, tanpa latar belakang budaya yang meyakinkan. Berkali-kali saya harus mengerutkan kening dalam ketidak percayaan, bagaimana pengarang bisa begitu aja come up dengan nama-nama seperti Amon, Sion, Gillian, Bixi, bahkan saya sempat mikir kenapa orang-orang Ranah Sembilan bisa mentah-mentah menelan nama Lea dan Diana begitu aja dalam dunia mereka (Well, helloooow reviewer,... di tengah-tengah cool names like, Gillian,.. like,.. Bixi,.. nama Diana malah jadi sound sooo plain, gadis desa, ya gak siih? Selera lo payah, deh --from an anonymous dissatisfied review reader:) )

Yeah, ehm. Oke,... terusin.

Detail gak make-sense lain adalah bagaimana setting budaya Ranah Sembilan diolah oleh pengarang. Di satu saat Ranah Sembilan terasa bagai setting silat Tiongkok, di saat lain terasa seperti setting Lord of the Rings. Tidak ada 'sense' budaya yang teguh memfondasikan cerita. Even untuk sekedar budaya rekaan ala Fantasy, Ranah Sembilan terasa sangat kurang solid. Dalam gambar ilustrasi saya juga mendapatkan tokoh yang digambar mengenakan sepatu boot berkancing paku ala cyberpunk yang tidak sinkron dengan setting (Dateng dari mana tuh, teknologi kancing?). Tampaknya untuk aspek budaya ini pengarang asal comot atau asal jeplak aja, yang penting ceritanya jalan. Well, gak tau kalo untuk pembaca lain, tapi kalo untuk gue, cara penulisan semacam itu akan langsung membuat disbelieve gue meningkat tajam. Jadinya gue susah meyakini dunia ciptaan pengarang alih-alih menikmatinya.

Kegagalan pengarang membuat setting yang meyakinkan, telah membuat novel ini jadi terasa 'shallow', kalo menurut gue sih.

Dan akibatnya ke logika gimana? Ya ndilalah sama dan sebangun kacaunya. Banyak hal gak logis berlangsung dalam alur cerita Ranah Sembilan. Lea dan Diana dari Dunia yang sama dengan kita (Jakarta), tiba-tiba saja kejeblos masuk dalam Ranah Sembilan setelah melewati sebuah pintu yang dibuka dengan kunci ajaib (mirip konsep key maker dalam Film Matrix). Kuncinya dikasih oleh seorang kakek misterius,... (Arrrrgh, plot Bobo banget!) Eh ladalah, mengalami kejadian musykil kayak gitu reaksi para karakter utama itu terasa gak logis. Udah gitu orang-orang di Ranah Sembilan juga bertingkah tak kalah aneh, masak liat handphone si Lea, kaleng hairspray, korek api gas, kagak ada yang bereaksi gimana gitu,... padahal itu barang yang suppose to be sangat 'alien' dalam Dunia Ranah Sembilan.

Kalau kita mempelajari alur dalam sebuah novel fantasy (manapun), maka akan senantiasa ada satu 'titik' yang kita sebut aja sebagai "moment of truth", yaitu sebuah titik dimana terdapat semacam peralihan dari Dunia kita ke Dunia Fantasy. Di titik itu, pengarang mulai 'memasukkan' konsep fantasynya ke dalam wilayah pemahaman pembaca. Moment tersebut dapat berada di bagian mana saja di buku, walau umumnya memang terletak di bagian-bagian awal. Boleh jadi ada di Bab 2-3, boleh jadi sudah ada sejak kata pembuka pertama (PS: Satu eksekusi moment of truth yang cukup berani pernah dilakukan oleh Sekar Ayu Asmara dalam bukunya "Pintu Terlarang", moment of truth itu baru diintroduksi pada bab terakhir, membuat pembaca shock abisss :), keren!)

Contoh moment of truth: dalam cerita Narnia, misalnya saat si kecil Lucy memasuki lemari tua dan muncul di sebuah alam aneh bersalju. Atau dalam Harry Potter, pembaca menyadari suatu setting yang 'tak biasa' ketika seorang kakek tua berkacamata bulan sabit menjentikkan korek zippo dan lampu jalanan mati satu per satu.

Pada titik tersebut, pengarang mengintrodusir keberbedaan antara Dunia yang dikisahkan dalam novel, dengan Dunia pembaca sehari-hari (hence the term 'Fantasy' came from). Cara introduksi yang paling umum adalah dengan menggunakan sudut pandang tokoh utama, yang baru memasuki dunia Fantasy itu dan terpapar pada hal-hal yang 'berbeda' dengan dunia sebelumnya. Atau bisa juga pengarang langsung membeberkan narasi mengenai perbedaan tersebut, dan menempatkan pembaca sendiri sebagai saksi yang mengamati perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga perlahan-lahan pembaca 'masuk' ke dalam Dunia Fantasy yang diciptakan pengarang.

Di sinilah proses kritikal sedang terjadi. Bila pengarang tepat membawa pembaca 'tour' masuk ke dunia Fantasynya tanpa memaksa, maka pembaca akan hidup di dalamnya, mempercayai setiap aspek yang digambarkannya, dan mulai ikut bertualang bersama tokoh utama dalam mencapai tujuan si tokoh. Tapi bila gagal, maka pembaca akan berdiri di pinggir ring sambil bersikap kecewa dan melontarkan kritik-kritik ketidak percayaan terhadap cerita.

Satu aspek penting dalam pengenalan setting baru --selain aspek perbandingan visual antara Dunia nyata dengan Dunia Fantasy-- adalah reaksi para tokoh terhadap keberbedaan Dunia tersebut. Reaksi para tokoh ini akan mewakili reaksi pembaca, apabila dihadapkan pada situasi yang sama. Bayangkan kalau anda bangun tidur dan tiba-tiba menemukan diri anda terapung-apung di atas sebuah sekoci di tengah samudra. Apa reaksi anda? Apakah akan menjerit, "Mamiiiiii,...!!!!", atau melihat pergelangan tangan, "Huaah, jam berapa sekarang? Mampus gue bakal telat masuk sekolah, neh."

Lalu dalam tahapan pengenalan berikutnya, mulai terjadi relasi psikologis sang tokoh dengan lingkungan barunya. Dia mulai mengenali kebiasaan-kebiasaan baru, gejala alam yang baru, mulai dapat 'dekat' dan memahami local people, dan mulai dipahami juga oleh local people. Semua merupakan proses yang akan diikuti oleh pembaca, tidak saja dalam rangka mendeliver cerita, tetapi juga dalam rangka memasukkan pembaca dalam suasana yang sama. Proses ini tidak bisa disepelekan, sebab melalui proses inilah kelak pembaca dapat memahami cerita secara utuh, termasuk memahami motif-motif tindakan dari para tokoh dalam novel tersebut, dan signifikansinya terkait situasi dan kondisi yang ada.

Ketika proses ini tak ada, hasilnya adalah 'logika loncat' seperti yang saya rasakan dalam Ranah Sembilan. Adaptasi dua kakak-beradik berusia 17 tahun itu di sebuah dunia asing misterius sangat luar biasa cepat, sehingga saya langsung berkesimpulan bahwa untuk mereka pindah dimensi adalah pekerjaan sehari-hari. Tengok reaksi Lea berikut ini,

"Rasa kelapa. Padahal aku ingin kacang ijo..." (hal 20).

Saat itu Lea mengomentari rasa roti yang dimakannya, Roti yang berada dalam kantong belanjaan yang ikut terteleportasi ke Ranah Sembilan. Time-line, sekitar 5 menit semenjak tersadarkan diri di sebuah tempat asing. Hmm,... dalam novel lain mungkin sang tokoh utama already muntah saat menyadari bahwa dia terbuang ke suatu dimensi lain, alih-alih makan roti,.. hehehe,...

Kalau menurut saya sih, pengarang kurang berhasil mengeksekusi moment of truth ini sehingga Dunia Ranah Sembilan jadi kurang terasa meyakinkan dan polah tokoh-tokoh utama Lea dan Diana menjadi kurang begitu mengesankan. So jadilah masalah dalam hal detail setting dan logika.

Kemudian kelemahan logika lain yang perlu juga disorot adalah penggunaan konsep mata uang dalam sebuah setting Fantasy, terutama setting Fantasy pra-modern. Dalam Ranah Sembilan, mata uang yang digunakan adalah Zeni. Harga budak sekitar 10.000 Zeni-an, dan harga pengobatan Mata untuk kasus kebutaan, adalah 10 juta Zeni. Well, ada sedikit miss di sini. Dalam sebuah setting kebudayaan pra modern, alat tukar adalah benar-benar barang-fisik yang ditransaksikan secara fisik. Artinya setiap kali 'membayar', maka akan dilakukan secara si A memberikan alat tukar (uang) kepada si B, langsung hand to hand. Oleh karena itulah, dalam sebuah kultur pra modern, value alat tukar umumnya menjadi sangat sederhana. Misalnya cuma 1 keping perunggu, terus mungkin 1 keping perak untuk 1000 perunggu, dan 1 keping emas untuk 1000 perak. Oleh karena sifatnya yang ditransaksikan hand-to-hand, akan menjadi sangat tak praktis bila seorang pembeli dan penjual harus menghitung juta-an kepingan Zeni one-by-one. Unless, settingnya memungkinkan orang menghitung uang berdasarkan beratnya dompet atau bobot kantong uang, hehehe.

Implikasinya, dalam budaya semacam ini nyaris tak terbayangkan sebuah nilai harga yang mencapai angka jutaan, wong ribuan keping saja udah bikin jari kapalan. Orang akan lebih cenderung menggunakan misalnya 3 keping emas, dimana nilainya setara dengan tiga juta keping perunggu. So, angka sepuluh juta Zeni itu secara logika setting nggak masuk akal, lebih masuk akal bila menjadi katakanlah 10 keping GoldZeni, ato apa gitu, dimana nilai itu merupakan nilai yang sangat mahal bagi orang-orang Ranah Sembilan.

Konsep juta-milyar, itu baru ada pada konsep moneter modern, dimana nilai uang adalah virtual alias maya, tidak mengikuti barang fisik tertentu. Makanya jumlahnya bisa juta-juta, dan transaksinya bisa pakai kartu kredit, hehehe,...

Tapi kan bisa dibikin mata uang 10 Zeni, 100 Zeni, 1000 Zeni etc? Kayak uang Rupiah. Well, bisa aja, tapi konsep seperti itu membutuhkan adanya suatu sistem moneter yang melatar belakangi setting Ranah Sembilan, sebab artinya kan harus ada pihak yang MENCETAK (atau men-cor?) uang-uang tersebut, menjaga peredarannya laksana Bank Indonesia, mencegah pemalsuan, dll. Nota bene, sudah mengandung adanya sistem perbankan, ya itu mah moneter modern, lah. Bahkan sudah mengandung adanya suatu Pemerintahan yang kuat sebagai backing sistem moneter tersebut.

Untuk karakterisasi, problemnya cukup unik juga. Pengarang piawai bikin karakter dasar dengan ide-ide segar, tapi anehnya gagap dalam mengembangkan karakter dasar tersebut. Misalnya tokoh Diana, yang dikatakan berusia 17 tahun, artinya masih sekitar usia SMA, lah. Tapi di Ranah Sembilan dia ujug-ujug menguasai ilmu kedokteran (sampai se ekstrim punya kemampuan mengoperasi retina mata orang! Woo hoo, SMA-nya di mana tuh biar gue buruan daftarin anak gue dari sekarang!!). Untuk keahlian ini pengarang menyelipkan informasi bahwa Diana suka membaca buku-buku kedokteran, plus belajar sama tokoh Tabib Gila dalam waktu seminggu. Yeah right, dan gue bisa gantiin SBY cukup dengan membaca "The Idiot Guide to Become a President"!

Karakter Bixi yang punya double personality juga merupakan karakter yang menarik. Sebetulnya banyak kejadian heboh yang bisa dikembangkan dari karakter tersebut, yang dalam novel ini kurasakan masih belum maksimal. Di web site juga tertulis indikasi adanya persaingan asmara antara para Dewa murid-murid Kaisar Langit, yang sayang sekali kurang begitu dikelihatan dalam novel.

Satu detail yg gue anggap gak perlu, adalah penggunaan istilah 'imdok' untuk mengganti istilah tenaga dalam. Sesuatu yang terasa mubazir, sebab istilah 'tenaga dalam' juga tetap dipakai oleh pengarang, dan kata imdok itu sendiri juga gak punya fungsi apa-apa lagi selain dipakai sebagai: imdok. Persoalannya, tanpa mengganti istilah "tenaga dalam" dengan "imdok" pun pembaca ngga kehilangan apa-apa, ga ngaruh. Itu seperti mengganti kata Sendok dengan Cungpu, tapi kemudian gak jelas kebutuhannya dalam cerita.

Kalo kita belajar dari Harry Potter yang menciptakan kata "Muggle", kita masih bisa menangkap keselarasan kata tersebut dengan bahasa induknya (bahasa Inggris), dan dari segi ekspressi juga mengandung rasa 'merendahkan' yang mewakili pikiran para penyihir terhadap orang biasa. Untuk kata 'imdok', biar saya bulak-balik kiri-kanan depan-belakang saya gak bisa punya feeling dari mana munculnya kata tersebut dan apa pentingnya kata tersebut diciptakan, sementara penggunaan 'tenaga dalam' sendiri sudah cukup sufficient dan gak merusak cerita in any way. Kenapa bisa begitu? Mungkin masalah terbesar adalah tidak adanya constructed language yang memback-up keberadaan kata tersebut, sehingga terkesan kata itu muncul aja dari udara kosong.

Terus terang, gue sempat mengira buku inilah yang sudah memenangkan penghargaan sebagaimana tertera di atas, sesuai informasi yang saya ambil dari sampul depan buku. Wajar dong, bila gue mengira demikian. Makanya setelah membaca sekitar dua bab, gue sempat terheran-heran, apa ada yang aneh dengan otak para juri DKJ 2003, materi kayak gini (kacaunya) koq bisa didapuk jadi juara. Saking heran bin penasaran, gue search di internet, dan barulah gue tahu bahwa yang dimaksud "Juara" adalah sang pengarangnya, Dewi Sartika, melalui sebuah novel berjudul Dadaisme, Oh, gitu rupanya. Memang sampul itu sedikit menipu, hehehe,.... walau gak kriminal-kriminal amat. Ya gapapa lah.

Jahitan berikutnya yang kuanggap kacau, adalah plotting. Dan ini pun bisa menjadi catatan unik. Garis besar plottingnya sebetulnya standar, tentang petualangan dua orang asing di sebuah negeri pesilat, menghadapi intrik-intrik persilatan seperti pencurian kitab-kitab penting, pendekar mengambil murid, jagoan tanpa tanding, usual Kho Ping Hoo stuff. Di luar plot "Terlempar ke Dunia Lain" yang udah terlalu klise itu, sebenernya alur cerita Ranah Sembilan gak terlalu jelek. Apalagi pengarang mengisinya dengan variasi karakter yang, jujur aja, cukup menarik. Tapi ada satu hal yang membuat novel ini menjadi jatoh ke level pretensiusisme (halah!) yang membuatnya gak enak dinikmati secara gak perlu.

Pengarang menerapkan teknik non-linear dalam alur penceritaannya. Maju-mundur, loncat depan-belakang-samping, etc. Lantas apa yang aneh? Toh banyak penulis menerapkan strategi yang sama, untuk membuat alur menjadi lebih menggigit.

Well, kalo menurut gue sih, penerapan alur non-linear dalam kasus ini gak terlalu tepat, atau gak tereksekusi dengan bagus. Yang ada, jadinya pembaca seperti dibolak-balik secara nggak perlu dan mencecerkan kenikmatan membaca di sepanjang jalan. Entah gimana, gue merasakan alur loncat-loncat yang digunakan pengarang justru memadamkan efek klimaks dari cerita alih-alih membuilding-up tension sebagaimana yang diinginkan. Akibat dari loncat-loncat ini pula, perkembangan karakter tiap tokoh menjadi kurang terasa, sebab di sisi pembaca tidak cukup sempat tumbuh 'intimacy' untuk menyelami pribadi atau persoalan masing-masing tokoh, padahal tiap tokoh sudah diset memiliki basic character yang menarik untuk dieksplorasi.

Dan 'gong'nya kekacauan plot ini justru berada di akhir halaman, bahwa setelah membalik 247 halaman dengan penuh kesabaran, gue gak menemukan ENDING! Gila, ini ending-gantung-paling-gantung yang pernah gue temuin, dan betapa ingin gue menggantung penulis yang bikin ending gantung segantung ini,...hehehe. At the end, cerita gak bergulir ke mana-mana sebab tidak ada klimaks yang signifikan. Seolah-olah semua tokoh akhirnya duduk di akhir halaman bersama-sama, dan kompak ngomong sama pembaca, "Tungguin kita di sekuel-nya yaaa!" (Hyperbolic expression intended!). Il-fil banged, gue!

Kelemahan jahitan yg lain adalah dalam ilustrasi. Penerbit memilihkan ilustrasi ala Manga yang eksekusinya agak kasar. Untungnya gambar discan dalam proporsi kecil-kecil, sehingga tampak lebih rapih. Tapi terus terang aja gaya manga menurut gue gak terlalu kuat mendukung cerita, apalagi ada masalah 'saltum' seperti yang sempat gue singgung di atas. Di dalah satu halaman ada gambar pencarian Buronan Senyo Gelap, pembunuh berdarah dingin, yang digambarkan memakai sesuatu serupa Jaket kulit dipadu-padankan dengan sesuatu serupa T-shirt, mengingatkanku pada bintang sinetron Korea. Sekali lagi, bukan gambarnya jelek, tapi dalam genre Fantasy, semua aspek harus bisa saling melengkapi untuk membuat dunia yang believable dalam pikiran pembaca. Dan khusus untuk ilustrasi, harap ingat bahwa dalam ilustrasi ada part yang tampak jelas bagi pembaca, yaitu properties (barang-barang, pakaian, aksesoris). Properties itu harus kompak dengan konsep settingnya. Kalo gak kompak kan jadinya aneh.

Tapi BTW, novel ini menghadirkan ilustrasi peta yang bagus, dan desain sampul yang lumayan, terutama dalam hal keberanian membuat gimmick nge-bolongin cover dengan bentuk mirip angka sembilan. Yah, bikin terasa fresh aja, dan menjadi menarik di rak penjualan.

Sisi positif lainnya buku ini, adalah bahasa yang terstruktur baik. Ga percuma lah, pengarang jadi juara DKJ, memang kemampuan tulisnya sudah prima. Mungkin genre Fantasy-nya aja yang masih belum dikuasai oleh beliau, sehingga jahitannya jadi gagap begini.

So, pelajaran apa yang bisa kita petik di Ranah Sembilan? I guess: Setting-setting-setting, detail-detail-detail, logika-logika-logika

Mau-mau-mau,..???


FA Purawan

Selasa, 09 Desember 2008

NOCTURNAL (Poppy D. Chusfani - 2008)



Data buku:

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: tak tertera, tapi pada Ucapan Terima Kasih, pengarang menyebut nama: Anas
Desain Sampul: eMTe
Tebal: 254 halaman

Apa jadinya, jika JK Rowling menuliskan buku pertama Harry Potter hanya setebal 200 halaman?

Apakah buku itu akan tetap meledak dan menempatkan JK Rowling dalam statura nya seperti sekarang ini? Apakah Trio Harry, Hermione, dan Ron akan tetap menjadi tokoh-tokoh yang dicintai oleh jutaan pembaca? Apakah buku itu akan tetap difilmkan oleh blockbuster studios dan menghasilkan impact yang demikian dahsyat pada budaya pop kita di abad ini?

Well, gak usah sampai semuluk itu, deh. Yg langsung aja: apakah kita, sebagai pembaca, akan merasa puas dengan porsi sebuah buku Harry Potter yang cuma 200-an halaman.

Itulah, pertanyaan yang aku ajukan terhadap Nocturnal, sebuah karya Fantasy dari pengarang Poppy D Chusfani yang diterbitkan oleh salah satu penerbit besar Gramedia Pustaka Utama.

Kenapa gue mempertanyakan hal tersebut? Well, lanjutin aja baca review ini.

Tahu kenapa gue demen ama steak Abuba? Rasa dagingnya enak, servisnya cepet gak neko-neko, harganya pas tapi yg pentiiing: porsinya pas. Gak kebanyakan, tapi juga gak kedikitan.

Kebayang, nggak? Apa enaknya makan steak dengan daging seukuran tempe goreng standar. Biarpun rasanya nendang, biarpun harganya lebih murah. Teteup aja kita akan mendecak gak puas, celingukan cari-cari tambahannya, dan kalo gak tersedia, doesn't matter bahwa yg sepotong kecil itu sebenernya telah dimasak dengan lekker, tetep aja kita akan memaki-maki si restoran atas kepeditannya bikin menu.

Itulah case Nocturnal menurut gue. Sebuah karya yang sesungguhnya bagus dan solid, namun 'dipaksa' tersaji terlalu sedikit, sehingga alih-alih puas, membacanya seolah seperti menyantap steak seukuran satu gigit doang.

Apa? Sekedar teaser katamu? Agar pembaca penasaran dan memburu sekuel-sekuelnya? Well, untuk genre tertentu, mungkin rumusan itu bisa benar. Tapi untuk Fantasy, segmen pembacanya gak akan puas dengan cuma disuguhi porsi setara nasi kucing. We want more! Kurasa memang orang-orang semacam JK Rowling sangat paham akan hal itu, sehingga dia tidak terima saran agar Harry Potter edisi pertamanya dicetak dalam sub episode kecil-kecil (sebagaimana menurut pendapat industri buku saat itu, porsi yang aman buat penulis pemula), padahal di kala itu dia sendiripun masih desperate writer looking for a job.

Bicara kualitas, harus diakui bahwa Nocturnal dikreasikan secara top quality. Desain covernya cantik, dengan ilustrasi grafis yang bagus punya, karya eMTe (heran, ngapain juga menyamarkan identitas untuk sebuah karya yang layak puji? Tapi ga tau juga, yah. Siapa tahu nama eMTe ini sudah already kondang sebagai ilustrator sampul, cuma guenya aja yang gak gaul). Yeah, logo kecil di sudut itu memang norak dan menganggu, well, what the heck, anggep aja sticker yg ditempel sembarangan oleh balita. Secara keseluruhan, desain cover depan-belakang is very good.

Dalam aspek penulisannya sendiri, pengarang Poppy D Chusfani, yang juga merupakan salah satu penerjemah handal jajaran Gramedia, tidak mengecewakan. Kisah Adelia sang princess (calon Baroness) di negeri rekaan Adlerland bergulir lancar dengan berbagai tantangan dan konflik khas seputar 'reluctant hero' sampai menemukan klimaksnya di akhir cerita.

Plot ceritanya antara standar dan non-standar sekaligus. Bagian standarnya: well, tokoh protagonis cewek yang somehow punya lineage bangsawan tapi ended up bersekolah di Jakarta dengan kehidupan ala tokoh ChickLit biasa yang missi hidupnya gak lebih tinggi dari sekedar ingin jadi penari ballet, and so on, and so on. Kemudian tiba-tiba masuklah plot non-standar berupa panggilan untuk 'pulang' ke Adlerland, tanah leluhur para Nocturnal. Di sana' kehidupan Adelia berubah 180 derajat sebagai calon baroness istana klan Nocturnal, memimpin the whole clan doing battle with para penghuni Transylvania just across the hill (you know what, kan?). Jelas itu plot non-standar, and a very delicious one! (Oke-oke, the princess part emang ga terlalu non-standar buat ChickLit, tapi akui aja, being a member of the cat people is not on every ChickLit's list. Heheheh).

Yang membuat cerita menjadi menarik, adalah atensi pengarang yang cukup sempurna terhadap detail. Ada banyak aspek dalam universe Nocturnal, dan semuanya diperhatikan dengan teliti oleh pengarang. Dari sisi tokoh Adelia, yang menggilai ballet, pengarang berhasil menanamkan aspek ballet ini secara detail (dan pengarang memang udah belajar ballet sejak 10 tahun, so pengetahuannya tentu sangat bermanfaat untuk menghidupkan sang tokoh), berikut beberapa istilah khusus ballet yang membuat aroma balletnya memperkuat believability.

Setting Adlerland juga cukup rapi dan rinci, termasuk pemandangan alam dan situasi landscape (istana Raja, istana baroness dll), memperkuat nuansa Fantasy yang ingin ditampilkan pengarang. Setiap aspek dalam setting juga hadir secara wajar dan tepat.

Bahkan detail budaya pun tak dilupakan oleh pengarang. Budaya Jakarta hadir secara pas, kemudian budaya Adlerland yang semi Jerman plus situasi aristokrat dalam setting istana. Saya suka dengan small touch yang mengena, seperti panggilan Adelle untuk nama Adelia di kalangan orang-orang Adlerland, atau malah menjadi panggilan sayang "Ada". Sekali lagi, small touch, but sweet dan menyebabkan impact suasana yang berbeda.

Jika ada yang perlu dikritik dalam hal setting ini, adalah kurang signifikannya peran "Indonesia" dalam universe Nocturnal. Adelia yang berasal dari Jakarta tampak begitu blend dengan Negeri Adlerland yang berbahasa Jerman atau Inggris, dan dalam beberapa hari saja sudah menjadi orang Adlerland sejati, kagak terasa lagi sebagai anak Indonesia kecuali busana kebaya yang digunakan untuk menghadiri pesta di Istana raja. Well, serasa nggak ada dampaknya terhadap plot, apakah si Adelia itu besar di Indonesia, atau di Filipina, atau di Afrika.

Pengarang juga sudah membuat setting yang potensial banget buat menggerakkan plot. Ada 'putri' yatim yang harus menyesuaikan diri dalam kehidupan baru yang sangat asing, ada kaum manusia berkemampuan khusus yang punya sembilan nyawa, ada kaum Vampir, ada pertarungan wilayah kekuasaan antara Kerajaan Adlerland dengan kaum Vampir Transylvania, ada musuh dalam selimut,... well basic settingnya udah asyik, dan pengarang sudah mengembangkannya secara cukup mengasyikkan.

Paduan dari setting dan plot yang solid ini melahirkan kisah yang enak untuk dinikmati, dan terus terang membuat sekuel-sekuelnya menjadi layak untuk ditunggu. Saya hanya punya sedikit catatan kecil dalam hal penyusunan setting oleh pengarang.

Misalnya istilah Nocturnal untuk menggambarkan klan manusia kucing (alias manusia yang diberkahi kekuatan kucing dan memiliki sembilan kali kesempatan hidup alias sembilan nyawa). Well, 'Nocturnal' sendiri adalah istilah kata sifat yang bermakna 'aktif di malam hari', umumnya digunakan terhadap hewan-hewan yang mencari makan di waktu malam dan tidur di waktu siang. Not necessarily refer ke kucing, sebenernya. Sampai saat ini saya juga masih iseng cari-cari istilah yang merefer ke manusia-kucing di internet, sayang belum dapet juga. Inget dulu ada film Cat-People, mungkin ini referensi paling dekat dengan kaum Nocturnal-nya Poppy, tapi bedanya di film Cat-People orang-orangnya bisa bener-bener bertransformasi menjadi kucing garong, hehehe.

Artinya penggunaan istilah Nocturnal mungkin agak tidak tepat. Mungkin malah lebih eksotik kalo bisa dapet istilah yang berbau-bau bahasa Mesir.

Kemudian exact nature-nya Nocturnal ini juga rasanya masih belum jelas. Mungkin akan diperjelas dalam sekuel. Tapi buat saya ada satu dimensi yang 'hilang' ketika pengarang mengolah setting ini dalam cerita, yaitu ketiadaan aspek 'magic' dalam universe Nocturnal. Kelebihan manusia Nocturnal dalam novel ini adalah sebatas kemampuan fisik yang lebih kuat, lebih cepat, lebih ganas, dan sense-nya lebih acute dari manusia biasa (termasuk juga adanya sembilan nyawa itu). Tapi sebabnya apa? Kind of magic, juga kan? Lawannya, para Vampir, juga hanya tampil lebih-kurang sama secara fisik. Nah, di sini aspek magic tidak terlalu diolah, terkesan diabaikan. Padahal ruang untuk bermain magic sangat besar di sini, mengingat settingnya sangat membuka peluang ke arah sana. Itu sebabnya 'kekalahan' sang raja Vampir di tangan Adelia menjadi sedikit kurang logis, sebab sang raja yang sudah berusia tujuh ratus tahun seharusnya punya kekuatan magic yang gak kecil,....

Jadi kesannya, setting banyak dipengaruhi oleh setting film-film Vampir Hollywood yang lebih mengedepankan aspek fisik.

Catatan lain tentang nama juga, adalah penamaan Adlerland,... gimana yah, rasanya koq kurang berasa 'Jerman',... hehehe. Ga tau deh, apakah sebenernya secara ilmu pembentukan kata udah benar atau belum. Tapi kupikir mengingat tetangganya adalah Transylvania, Rumania, mungkin nama yang cocok adalah yang ada bau-bau "Nia" juga, kali-kali seperti Adlervania, getoh (hehehehe).

Di luar catatan tersebut, menurut gue sih Nocturnal sudah merupakan karya yang 'genap', alias segala sesuatunya sudah berada dalam pertimbangan yang pas.

Tinggal,.... my biggest complaint: Semua terasa berlangsung terlalu singkat!!

Yah akibat cuma 254 halaman, apa mau dikata seperti nonton LOTR dalam bentuk condensed. Pengarang sudah berusaha untuk membuat irama baca yang mengalir namun tetap kompak. Saya akui dia cukup berhasil. Tapi sebagai penikmat Fantasy, saya ngerasa banget bahwa cerita ini sesungguhnya baru 'pas' bila dibikin lebih 'kaya'.

Seperti yg saya bilang, apa rasanya baca Harry Potter cuma 200 halaman? Saya akan miss suasana Hogwarts, saya akan kehilangan rasa mengenai bagaimana murid-murid Hogwarts di tahun pertama, kedua, ketiga, kehilangan mata-pelajaran Hogwarts yang seru-seru, kehilangan romatika Quidditch dan seterusnya,..... semua hal yang mensignifikansi kehadiran Dunia Harry Potter dalam imajinasi saya. Semua hal yang menyebabkan Harry Potter tak sekedar cerita tentang anak laki-laki yang bersekolah sihir.

Betapa gemesnya saat membuka-buka halaman Nocturnal, kala saya merasakan perasaan yang sama, ingin agar part ini-itu lebih diperluas dan diperkaya lagi. Karakter Adelia yang walaupun sudah cukup bagus diolah pengarang, tetap terasa perlu lebih 'dalem' lagi, konflik-konfliknya, perkembangan karakternya,... semuanya terasa perlu lebih. Karakter lainnya pun deserves halaman lebih. Bahkan si Vladimir sang antagonis pun, rasanya perlu dapat porsi tambahan halaman.

Yah, saya nggak bisa terlalu menuntut.

Tapi judging dari kemampuan pengarang mendeliver ceritanya dalam format 254 halaman ini, saya bisa memperkirakan bahwa beliau sebenernya punya kemampuan untuk mendeliver lebih dari itu (dan tetap bagus!). Tuntutan 250 halaman, kalau boleh saya tebak, ya gak lain berasal dari pihak penerbit, mungkin dalam rangka strategi.

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa bikin buku di Indonesia sebaiknya jangan tebal-tebal, sebab:

a. Harga kertas mahal, harga buku nantinya jadi mahal
b. Orang Indonesia nggak demen buku tebal
c. Resiko penerbit kalo bukunya gak laku akan lebih tinggi bila buku tebal.

Jadi cukup bijak bila penerbit tidak berani cetak buku tebal-tebal, cari aman.

Tapi entah, bagaimana saya harus ambil posisi, jika ada pengarang sepotensial Poppy terhalang kemajuannya akibat strategi cari aman penerbit. Well, toh penerbit bisa melihat materi-nya, dan apakah materi seperti karya Poppy ini tak mampu menimbulkan rasa percaya diri penerbit akan kualitas pengarangnya? Ironisnya hal itu justru dilakukan oleh penerbit gede! Mungkin malah bener kata orang, semakin gede justru semakin sulit ambil resiko.

Kalau saya coba merefleksikan, memang saya lihat jarang banget GPU mau nerbitin karya pengarang lokal, yang tebal. Keluaran GPU rata-rata tipis, dan mainnya di segmen aman seperti Teenlit (Even Nocturnal juga di'paksa'in masuk ke genre Teenlit!). Terbitan tebal GPU hanyalah di novel-novel terjemahan yang udah jelas lakunya di luar negeri. Emang jelas banget niat main amannya.

Tak heran bila GPU gak pernah mencatat block-buster, katakanlah sebagaimana Bentang-Mizan menangguk sukses lewat Tetralogi Laskar Pelangi (Nah, sekali lagi apa jadinya Laskar Pelangi bila tebalnya cuma seratus halaman? Hehehe,...). Yah, seperti kata orang, no pain, no gain!

Tapi anyway, adakah cara untuk menambah kepercayaan diri GPU? Setidaknya jika mereka punya jajaran penulis sebaik Poppy D. Chusfani (dan kita tahu lah, GPU punya standar kebahasaan yang bagus sekali), mustinya mereka tidak usah takut ambil peran sebagai garda depan literasi Fiksi Fantasi Indonesia, yang bener-bener berani nerbitin buku Fantasy yang memuaskan pembaca Fantasy Indonesia. Nggak ada salahnya dong, aku berharap? Soalnya menurut gue secara infrastruktur knowledge, know-how, maupun SDM mereka udah mumpuni. Yang belum ada cuma Visi dan keberanian aja.

Terus-terang itu pertanyaan yang tak mudah dijawab. Dan best we leave that as it is. Hanya satu yang jadi harapan saya, untuk Poppy: jangan kau kekang kreativitas yang luar biasa itu, dan kalau memang mungkin, please wujudkan your Nocturnal Universe in it's fullest potential! Gue percaya banget sama karya kamu!

Salam

FA Purawan

Sabtu, 22 November 2008

TANRIL - Epik Ho Wuan Siang (Nafta S. Meika - 2008)


Data buku:

Penerbit: AKOER
Editor: Aries Rayaguna Prima
Tata Letak Isi: Ibenk Bonanno
Fotografi: Andry Photography
Tebal: 405 halaman


Keren,....... Banget.

Maghrib tanggal 17 November 2008, saya menutup buku karya Nafta S. Meika ini dengan perasaan puas campur aduk, seolah-olah ledakan Chi sang tokoh pendekar dalam buku ini masih terngiang-ngiang dan mengaduk-aduk Chi saya sendiri, menjadikan tubuh panas dingin dan kepala seperti melayang dalam ekstase.

Duile, segitu hebohnya pengaruh sebuah novel?

Well, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Boleh jadi pengalaman yang saya rasakan kali ini adalah semata akibat dari sinkronitas sebagai penggemar silat yang menemukan kisah silat yang demikian cucok di hati, hehehe,... seperti tumbu ketemu tutup, seperti jejaka ketemu jodoh.

Atau, simply karya Nafta memang merupakan sebuah masterpiece? Ups, mungkin saja aku terlalu terburu-buru. Kata orang, satu karya belum dapat membuat kau bicara masterpiece, harus dikomparasi dengan karya-karya lainnya dulu. Sekalipun sudah pernah ada karya lain dari pengarang yang lebih dulu terbit (Rhadamanthus: The #1 Campus Hacker - 2005), Tanril ini tetap didapuk sebagai sebuah karya debutan, alias karya pertama dari seorang Sarjana Teknologi Pangan dari Universitas Pelita Harapan. Entah mungkin maksudnya "pertama" dalam konteks genre silat atau apa, kurang tahu deh.

Tapi jelas, bahwa terhadap karya ini, saya terpaksa mengeluarkan jurus-jurus simpanan dalam menggelar review saya, karena kiranya dengan cara yang biasa tidak akan mempan. Oleh karena itulah, sebelum menulis saya sudah mempersiapkan setumpuk panah-panah beracun, gendewa wasiat peninggalan Majapahit, pedang pusaka Bu Tong Pay yang selama ini saya simpan di safe deposit box BCA, keris Nagasasra yang saya titipkan di kantor redaksi Buana Minggu, sederet botol-botol penuh racun tujuh dunia, empat kitab pusaka Shaolin Wetan yang demikian wingit rahasianya sampai orang-orang Shaolin sendiri gak tahu bahwa ada Shaolin Wetan, serta dua belas jilid buku strategi perang dari Negeri Utara sampai Selatan. This one, harus dihadapi dengan sangat serius dan penuh perhitungan.

Tanril, di saat pertama kucomot dari rak buku Gramedia, muncul di antara sederetan novel silat baru yang terbit bersamaan di kisaran bulan Oktober. Kalau tak salah ada dua judul selainnya: Pelangi di Glagahwangi (S. Tidjab) dan serial Pangeran Anggadipati (Saini KM, yg tiga seri). So, positioning awal-nya kukira sebangun dan sejenis dengan genre silat klasik Nusantara yang sedang mengalami (sedikit) revitalisasi itu (dengan penuh harapanku, agar pasar pun menyambutnya. Jangan sampai genre silat mati!). Otomatis kupikir novel ini tak akan beda terlalu jauh.

Namun kulihat sedikit keganjilan pada cover novel. Ada kekurang-harmonisan layout yang membuatku mengerutkan kening. Cover depan bergambar foto sebentuk Cincin kepala Naga berlatar putih yang resik, dengan tulisan kapital TANRIL (huruf I-nya diganti semacam foto tusuk konde China). Rapi jali sehingga berkesan desain layout novel modern (jadi ingat covernya "Gelang Giok Naga"). Kalo rumah, maka padanannya adalah konsep rumah modern minimalis. Tapi Cover belakangnya secara cukup ancur digelar menurut pakem layout Metromini: Lukisan ilustrasi Silat Cina klasik dimontase dengan dua textbox dengan font berantem-sangat. Satu font Arial, dan di bawahnya font miring-sambung di-bold. Padat, memusingkan mata, dan sangat tak berselera dibandingkan cover depan. (DAS!! Sebuah sengkatan kaki kananku berjuluk jurus "Kepodang Jantan berbulu Kuning membersihkan tongkol Jagung di Pagi Bulan Desember" mengena telak, membuat pendekar Tanril terjerembab! Ha ha!)

Coba, cover depan dan belakang gak kompak. Yang bikin mungkin dua orang berbeda.

Tapi toh isi teks box itu membuat lenganku, yang hampir mengembalikan sang buku aneh ini ke tempatnya, terhenti. "Fantasi unik,...Kho Ping Hoo Kontemporer,...menggabungkan The Matrix dan Sin Tiauw Hiap Lu,....". Entah who the hell yang bikin endorsemen ini, tapi yang jelas aku jadi tertarik.

Walau sinopsis yang berada di box tulisan miring-sambung-bold itu juga tak menolong banyak, sebab sangat terkesan sebagai sinopsis Kho Ping Hoo-iyah biasa, cuma ada satu detil kecil yg bikin curious, ada nama "Kurt Manjare" disebut sebagai "pendekar eksentrik yang pilih tanding". Kurt? Nama pendekar yang nggak umum. (Dan kurasakan si Pendekar Tanril mulai pasang kuda-kuda. Hawa pembunuhnya mulai menggetarkan udara. Tapi aku tak gentar,...). Sepotong nama kecil itu membuat instingku bekerja. Something is not right, here,.... ada yang gak biasa, dan it's worth an investigation. So, berpindahlah buku itu ke kantung belanja gue.

Dan saat gue buka halaman pertama,.... mataku langsung mengeluarkan tangisan darah: ALAMAK, TULISANNYA KECIL-KECIL BANGET! Dengan font sekecil itu memadati sehalaman kertas, saya seperti melihat sebuah naskah di kertas ukuran Folio ber font 12 difotokopi perkecil 30%. Bayangin 'cape-deh'nya. (pedang Bu Tong Pay ku langsung menyambar bagai angin moonson, sebuah pembedahan telak pada layout isi, si Pendekar Tanril tak bisa lari kemana-mana lagi. Mampuslah si Ibenk Bonanno itu,.. hihihi). Entah apa maksud penerbit dengan mencetak siksaan mata seperti itu. Jelas genre buku ini adalah konsumsi awak usia separo baya yang matanya sudah pada lamur. Apa harus bawa-bawa suryakanta, lah kami? Anak-anak muda pun mana pulalah tertarek membaca novel bertuliskan mungil begitu ropa.

(Kupersiapkan pukulan terakhir di bidang layout dengan jurus "Badak Ngajugruk Nyaruduk tanpa Ampun" yang dijamin membuat Pendekar Tanril tertekuk sembilan lipatan). Dan pengarang (atau layouter?) juga membuat blunder kedua: paragraf ala Amerika tanpa hanging indent (seperti layout blog ini) yang kurang familiar untuk novel, serta kekacauan konvensi penggunaan huruf italic (huruf miring) pada teks. Yang terakhir ini, bagiku benar-benar membuatku kacau. Dialog ditulis dengan huruf miring, membuat otakku acap salah menerjemahkannya menjadi bahasa pikiran si tokoh. Ada juga narasi yang dicetak miring, tanpa jelas apa penyebabnya. Terus terang saja, tempo membaca saya jadi melambat secara signifikan akibat hal ini. Saya butuh 3 mingguan untuk menyelesaikan Tanril, despite cerita dan penulisan yang sesungguhnya bener-bener memikat gue.

Jadi, satu hal yang saya pelajari hari ini: Eksperimen penulisan paragraf non-konvensional, jarang-jarang-jaraaang sekali bisa berhasil. So beware.

Kemudian satu lagi glaring nuisance yang saya temukan di buku Tanril: Settingnya nya ga jelas mau ke mana. Awalnya kupikir setting ala Tiongkok berkat penamaan-penamaan bahasa Mandarin serta suasana yang mirip dengan settingan Kho Ping Hoo. (Keris Nagasasra mulai dicabut dari warangka-nya, menyambar cahaya kuning menyilaukan,...). Tapi kemudian muncul nama yang aneh, Wander Natalez Howard, kadang dipanggil Wuan,... terus nama-nama lainnya tak kalah aneh, Kokru, Fyure, Miar, Asyu, Chiru'un, Kota Fru Gar, Kurt Bodan Manjare, sampai pada Kerajaan Telentium,.... baru gue tersadar,... ini rupanya adalah sebuah Setting Fantasy! (Aku berdiri gamang, terpaku dalam ketertegunanku. Pendekar Tanril mengembangkan kedua tangannya ke samping, tersenyum samar, dan mulai mengibaskan tangan diikuti lengan bajunya berkebut ringan. Energi serupa asap kabut berwarna kelabu meluncur, sebagian besar menerjang kilau Nagasasra dan membuatnya redup bak pelita kehabisan minyak. Shin Jin Li Zan, tingkat pertama. Batinku tergetar, tapi aku berusaha bertahan dengan memperkuat kuda-kuda,...).

Selanjutnya novel membanjiri saya dengan nama-nama asing yang kini menjadi eksotis berkat paradigma yang sudah berubah. Karena ini setting Fantasy, saya jadi mulai bisa mentolerir nama-nama aneh yang 'tak pada tempatnya' bila kita menggunakan paradigma setting Tiongkok. Tapi jangan keburu senang, sebab saya tetap akan membaca secara kritis, terutama untuk menemukan apakah keberadaan nama-nama ini kontekstual atau sekedar asal tempel. Setidaknya, saya akan menemukan apa efek nama-nama ini terhadap eksistensi setting Fantasy yang sudah dibentuk pengarang. Apakah memperkuat, ataukah memperlemah setting.

Cerita novel ini sendiri sesungguhnya cukup klise sesuai pakem cersil. Ada seorang anak yang penyakitan (namun sesungguhnya memiliki potensi Chi luar biasa dalam dirinya) dari keluarga sederhana yang melalui perjuangan berliku menemukan guru yang mementaskan potensinya, kemudian menghadapi lawan berat sebagai salah satu ujian bagi ilmunya, sambil memecahkan tempurung diri-sejatinya melalui proses tersebut. Plot standar. (Aku menyunggingkan senyum pelecehku, "Dewa Selatan memandang rendah kepiting batu di bawah pasir", berharap membuat lawanku ciut nyali.)

Plot standar. Yang tidak standar adalah pengolahan setting dimana plot dimainkan. Harus saya akui, pemilihan latar belakang Tiongkok sebagai bahan dasar universe di Tanril merupakan salah satu approach yang unik untuk genre Fantasy. Sudah biasa bila pengarang kita menggunakan Setting ala Barat/ medieval, dengan kebudayaan pra Europa sebagai basis setting novel Fantasy mereka. Tidak terhitung sudah negeri-negeri berkastil dengan ksatria berbaju zirah, pedang double blade Eropah, konfigurasi Raja-Ratu-Pangeran-Putri yang monogamis dan berbentuk keluarga batih, petani yang tidak menanam padi melainkan gandum, peri, naga, penyihir, Elf, Kurcaci, Orcs, Troll, Goblin, Alkemis dan lain-lainnya bercita-rasa Eropah dikaryakan dan diolah oleh pengarang-pengarang kita, sehingga cenderung membentuk imaji tersendiri bahwa yang namanya 'Fantasy' pasti berlatar belakang 'kayak gitu-gitu'.

Approach 'adaptasi' yang mirip, tapi menggunakan latar belakang budaya yang berbeda, menjadikannya sebagai Fantasy yang fresh. Ya, kenapa harus Eropah? Kebudayaan Tiongkok rekaan juga tak kalah menariknya! Sama-sama mengandung elemen-elemen yang membuat cita rasa Fantasy terasa lekat di lidah. Ada Kebudayaan alternatif, ada kerajaan, ada karya seni (seni tenun kain ber-magic yang disebut Luan), bahkan sistem kerajaan yang mengadopsi Tiongkok juga terasa segar: ada Raja dan Permaisuri, ada Selir Pertama, Pangeran Pertama, Kedua, Ketiga, dan terasa ada sistem kerajaan yang lebih masif dari pada Eropah punya. Well, unik! Ada juga 'ARTS' (dari mana munculnya istilah bahasa inggris di universe Tanril ini?) untuk menyebutkan ilmu Silat, yang bukan hanya sekedar ilmu silat belaka, melainkan sudah menjadi suatu bagian dalam kebudayaan di dunia Tanril. Selain itu,ada sistem ekonomi yang berlandaskan pada komoditi 3 tanaman suci: Teh (Maliya), Kopi (Eniya) dan Cokelat (Kaliya), dimana keberadaan tiga tanaman ini dipengaruhi kondisi geografis, yang pada akhirnya mempengaruhi sistem politik dunia Tanril. Sebuah tata-aturan Universe yang lengkap! (Roh Hijau Gunung Biru -- Tingkat kedua dari Jin Li Zan dihembuskan oleh Pendekar Tanril melalui kedua telapak tangannya. Kuda-kudaku doyong ke belakang. Energi hijau ini tidak mematikan, tetapi membuat seluruh keberadaan seolah menjadi tunduk, berlutut di bawah pesona alam yang agung dan hangat. Aku memejamkan mata, berusaha memanggil Roh Gunung Es Utara agar diriku tetap diliputi hawa dingin sebagai energi penggores pena reviewku. Hooossss,... hoossss,... harus teteup obyektif! Hooossss,....).

Dan kebudayaan rekaan ini diperlengkap dengan sistem constructed languange (Con-lang), alias bahasa rekaan, yang ngaujubilah detailnya. Ada dua bahasa: Bahasa Clem (c) dengan Bahasa Zirconian (z), dalam kamus glosari yang kelengkapan detailnya membuat gue merinding. Bahasa Clem terkesan seperti bahasa Arabish, sementara bahasa Zirconia mirip bahasa Mandarin. Sekalipun pengarang tak memberikan rumus lengkap con-langnya, bagi yang membaca kamus glosari di halaman belakang dan petikan-petikan syair dalam either bahasa, pasti akan punya rasa bahwa Zirconian maupun Clem memiliki struktur dan makna lengkap sebagaimana sebuah bahasa utuh. Dan yang spesial buat novel Tanril, keberadaan bahasa ini sangat intergral di dalam cerita, termasuk dalam mengantarkan plot sekaligus memberi karakteristik Fantasy dalam setting yang sudah dibangun. Terutama bahasa Zirconia yang digunakan untuk menyenamai artefak kebudayaan penting dalam Universe Tanril, seperti karya seni Luan, nama-nama jurus arts, dan lain-lain. Dwi bahasa itupun hadir bukannya tanpa alasan. Bangsa/ Klan Clem saat itu 'menjajah' Zirconia. Akibat 'keakraban' pembaca dengan con-lang ini, nama-nama yang tadinya aneh seperti adonan nama eropah atau cina menjadi 'masuk' dengan rapih ke dalam universe. Sebuah keberhasilan telak, menurut gue.

(Pendekar Tanril maju selangkah, sementara tubuhku terlempar beberapa depa ke belakang. Pukulan Zirconian dan Clem begitu telak, membuat aku terpaksa melepaskan wilayah kedudukanku, dan majulah si Pendekar Tanril sambil menancapkan bendera: UNIVERSE SETTING: COMPLETE. Aku harus mengaku kalah untuk segmen ini!).

(Tapi, tentu saja aku belum menyerah! Kami sepakat mengaso sejenak. Pendekar Tanril memberi kesempatan padaku untuk mengatur napas dan memboreh luka-lukaku. Sambil duduk, kami bertukar teori mengenai ilmu Silat, ditemani cairan teh Maliya murni yang konon merupakan minuman raja-raja di Telentium ).

Dalam sebuah novel Silat, tentunya ilmu silat menjadi napas utama. Kalau dalam dunia Kho Ping Hoo, biasanya pertarungan silat dikaraterisasi oleh keberhasilan melumpuhkan lawan melalui totokan. Dalam dunia Miyamoto Mushashi, sang pemenang adalah siapa yang keluar hidup-hidup dengan katana di tangan. Bagaimana di dunia Tanril? Menarik sekali. Arts di Tanril memenangkan pertarungan melalui penghancuran fisik lawan dengan menggunakan tenaga yang diperkuat oleh Chi (alias tenaga dalam, alias 'The Force'). Dan seni silat dalam Dunia Tanril adalah seni mengolah Chi dari 'nol' sampai mencapai puncak optimalisasi yang bisa diraih manusia, alias nyaris tanpa batas (dengan sedikit catatan).

So, we're talking BIG FORCE right here! (catatannya, kelihatannya so far cuma si Wander aja yang memiliki kekuatan 'dewa' tersebut? Mungkin itu issue buat buku dua, kalleee??)

Chi dalam dunia Tanril digambarkan sebagai tenaga yang dibangkitkan oleh penggunanya, dan bisa disalurkan ke berbagai organ tubuh misalnya ke mata (untuk penglihatan ekstra perceptional), tenaga pukulan, penyembuhan, bahkan bisa disusupkan ke dalam benang-benang untuk ditenun menjadi Luan (albeit, sumber Chi dari Luan ini tampaknya agak misterius,....). Dalam pandangan mata ber-Chi, maka Chi seseorang pun dapat terlihat berupa warna-warna maupun bentuk-bentuk yang indah sekaligus menggiriskan. Dan dalam Universe Tanril, Chi ini dapat pula berinteraksi dengan empat unsur: Air, Api, Udara, Tanah. Well sekali lagi dalam Point of View genre Fantasy, sistem tersebut sudah dapat dikatakan lengkap. Apalagi pengarang berhasil merendanya secara integral ke dalam cerita.

(Kami bersiap, aku mulai mengeluarkan empat kitab pusaka Shaolin Wetan, sementara Pendekar Tanril memandangku dengan keheranan tingkat tinggi. Empat kitab kujejer sesuai mata angin: Utara, Barat, Timur, Selatan dengan diriku sebagai pusatnya. Setelah melalui serangkaian gerakan bukaan rumit, telunjukku menebas ke Timur, dimulai dengan Kitab Bintang Timur. Kitab melayang sepuluh senti, kemudian halaman demi halaman bergerak dalam fast-forward menampilkan jurus-jurus silat yang tak pernah terlihat di dunia manapun! Hah, jangan berani bicara jurus denganku!)

Perkembangan ilmu silat di Dunia Tanril berlangsung dalam bentuk pengolahan Chi, yg ibarat otot, dikembangkan sesuai dengan batas toleransi tubuh. Tentu saja di sini yang menjadi fokus adalah perkembangan Chi sang tokoh, si Wuan atau Wander. Metodenya tak usahlah dibahas. Tapi intinya kalau di Universe Tanril, 'jurus' adalah sesuatu yang tercipta oleh Chi itu sendiri, bukan serangkaian gerakan yang dilatih. Ini mirip konsep jurus dalam silat Nusantara, agak beda dengan konsep teknik bela diri Jepang atau Korea. Salah satu plot driver novel ini adalah bagaimana pengarang menggambarkan evolusi pencapaian ilmu si Wander. Mulai dari bocah penyakitan dan menjadi sansak teman-temannya, sampai menguasi 'Jurus' Shin Jin Li Zan tingkat 1: Kabut kelabu, tingkat 2: Roh Hijau Gunung Biru, tingkat 3: Putri Angin Emas, tingkat 4: Sabit Petir Merah, tingkat 5: Singa Kaisar Biru, tingkat 6: Katedral Samudra Aquamarine. Masing-masing jurus 'ditemukan' oleh Wuan dalam suatu proses pembelajaran, penyingkapan jati diri melalui pertarungan. Indah sekali prosesnya (dan penggambaran visual tiap jurus, pun!). Dan semuanya akhirnya meledak dalam satu klimaks pada jurus ultimatenya (untuk buku satu): Ho Wuan Siang.

Dalam battle finale-nya, jurus Ho Wuan Siang ini sempat keluar dalam skala terbesar dan terklimaks, yang sesungguhnya sedikit unbelievable dalam kaca-mata silat awam. Tapi menjadi mungkin dan sangat logis berkat kemampuan pengarang memberikan landasan mengenai kekuatan si Wander sesungguhnya.

(halaman-halaman fast forward mendadak berhenti. Buku Bintang Timur terjatuh ke tanah, PLUK!. Tubuhku masih bergaya tunjuk bintang timur, tapi jurusku telah meninggalkanku bersama semangat yang terbang meninggalkan wajah pucatku).

Mari bicara plot.

(Sigap kukemasi kembali kitab-kitab Shaolin Wetan ke dalam karung, dan segera kubabar meja kayu rendah, taplak kuning segi tiga, tabung bambu berisi tiga hio menyala dan kujejerkan botol-botol tujuh racun dunia, sekali lagi dibawah tatapan mata takjub si Pendekar Tanril. Kutangkap sekilas, tampaknya ia terbatuk; entah karena geli, atau karena bau hio. Awas saja. Setiap tetes dari botol ini mampu melahirkan aneka konflik, dan oleh karenanya merupakan sumber plot tak terkalahkan! Kutarik sebotol, dan kubersiap mencabut sumbat gabusnya sambil menatap Pendekar Tanril tajam-tajam)

Plot Tanril mengalir melalui beberapa anak sungai kisah. Sungai utama tentunya adalah evolusi ilmu arts si Wuan, seiring dengan perkembangan kepribadiannya. Anak sungai lainnya adalah kisah keluarga Wuan, romansa Kokru dan Naila (singkat tapi penting), kisah Kurt si guru Wuan berikut misteri latar belakangnya dengan sang Raja, kemudian plot juga bergerak dalam drama keluarga kerajaan Telentium, Raja yang mangkat dan meninggalkan potensi perebutan kekuasaan antara para Pangeran, melahirkan intrik istana yang juga ternyata memiliki misteri yang bermuara pada Master Kurt. Plot silang menyilang dengan gesit dan selalu melahirkan kejutan alur, walaupun sedikit banyak bisa ditebak oleh avid readers. Semua cabang ini akhirnya bermuara pada perang saudara yang dilancarkan oleh Pangeran Pertama kepada Pangeran Ketiga, yang berklimaks di penyerangan kota Fru Gar (kota kediaman Wander) oleh Jendral Sulran dibantu empat murid utamanya: Damar, Toto, Gluka, dan Kaju, berkekuatan 250.000 prajurit melawan 1 pendekar.

Unbelievable, at first,..... but cukup sensible, at last. Setiap dari empat jendral itu memiliki kegemilangan strateginya masing-masing, termasuk dalam cara-cara mereka ber-show-down dengan Wander. Sekalipun kalah semua, saya harus mengakui kecanggihan taktik mereka. Dan karena mereka merupakan worthy opponent-lah, buku ini menjadi menarik.

(Pandanganku meredup lagi. Sebetulnya hati ini sudah bisa menduga, tapi gengsiku menghalangi segalanya. Nekat kucabut sumbat botol dan kutuangkan setetes racun. Walau ku sudah bisa perkirakan apa efeknya. Pendekar Tanril cuma mengangkat alis. Benar dugaanku, racunku menguap begitu saja..... plot sudah jauh lebih canggih dari yang bisa kucari-cari kelemahannya).

Plot twist yang paling canggih dan paling utama, adalah berkenaan dengan ujian terbesar si Wander sendiri, yaitu mengalahkan rasa takutnya. Terus terang bagian ini memang sama sekali nggak gue sangka. Salut bener. Walau di ujungnya memang jadi ada misteri baru, terutama mengenai satu tokoh yang baru muncul menjelang akhir buku.

(Memang tubuhku sudah babak belur, harga diriku pun sudah tergilas rata dengan tanah. Tapi masih ada satu harap, pusakaku yang paling dahsyat, Gendewa Majapahit dengan panah beracunnya, siap membidik karakter-karakter dalam buku ini, menelanjangi kelemahan mereka).

Dan karakter! Sesungguhnya merekalah yang paling bersinar dalam buku ini! Saya tidak segan memuji. Setiap 'tokoh' dalam buku ini adalah pribadi yang hidup, dan unik. Memorable, dan semuanya meng-infuse jiwa mereka dalam kisah dan menjalankan roda cerita sehingga mengalir lancar, saling menguatkan satu-sama lain. Mulai dari lingkaran Wander, ibunya Chiru'un, kakak lelakinya Kokru yang senantiasa melindungi dan kelak menumbuhkan semangat kependekaran dalam diri Wander; Kurt, Master misterius yang tidak mengajarkan seni berkelahi melainkan seni mengendalikan Chi, dan ternyata punya peran latar belakang yang sangat penting, ada si Kucing Tua, si pencuri lihay, lawan tapi kawan; Ada para Jendral jenius yang masing-masing pun punya karakter kuat: Damar yang jenius mekanik alat-alat perang, Toto yang jenius Strategi, Gluka yang perkasa, dan Kaju si pemimpin pasukan Elite. Bahkan karakter sampingan seperti Kepala Klan Pemegang Bulu Pusaka dari Landross pun, tampil mengesankan walau hanya dalam porsi kecil saja. Alamak, pokoknya semua karakter di novel ini ciamik semuah! Sulit untuk tidak menyukai any single person dalam novel ini terlepas peran protagonis atau antogis mereka terhadap cerita.

(Kemana mujizat gendewa ini? Semua panah rontok satu persatu! Aku meraung kecewa, dengan nekat aku meloncat dua ratus meter ke balik bukit. Mungkin ini jurus curang, tapi aku sudah kepepet. Aku menyembunyikan sepasukan Uruk Hai di belakang bukit. Boleh saja ilmuku kalah sepuluh level di bawah Pendekar Tanril. Tapi mari kita lihat siapa yang digdaya di medan perang! Dua belas jilid buku strategi perang kubagikan pada dua belas kaptenku, moga-moga mereka cepat belajar.)

Kejeniusan para Jendral,..... yak. Gue gak mungkin 'mempercayai' tokoh-tokoh jendral di sini, terutama jendral Sulran dan 4 muridnya, sebagai jenius bila tak ada adegan perang yang mengesankan gue, bukan? Well yes, si Nafta ini memang penulis yang cukup lengkap, bisa menjabarkan silat secara bagus, mengisinya dengan filosofi yang tak remeh bahkan menurut gue bernilai tinggi juga, dan sekaligus juga menghadirkan battle scenes yang,..... fenomenal.

Mungkin baru kali ini sebuah large scale battle dapat tergambar secara dahsyat dan meyakinkan dalam sebuah karya novel lokal. Even battle scene-nya Ledgard jadi terasa mengecil dibandingkan ini. Perang di Tanril tidak hanya main unjuk kekuatan, tapi juga mengandung strategi dan eksekusi strategi yang meyakinkan. Bagaimana kedahsyatan pasukan gajah, dan bagaimana dahsyatnya strategi yang mengalahkan pasukan gajah, misalnya.

(Aku melihat lautan gajah berderap sambil melengkingkan jeritan bak terompet bersahut-sahutan. Debu membubung tinggi dan jerit kematian pasukan garis depan tak tersamarkan. Gajah-gajah itu sungguh tak terhentikan! Aku menahan napas. Pasukan Uruk Hai ku masih berbaris di belakangku, ikut terpana menjadi penonton perang antara dua pasukan asing di hadapan kami. Lalu kami dikejutkan oleh sebuah bunyi melengking aneh. Serentak kami menoleh ke angkasa, dan kulihat itu, titik-titik berjatuhan, mula-mula satu, dua, seratus, lalu ribuan,.... ribuan bola api turun dari langit, menghujani gajah-gajah itu. Rupanya itu adalah ribuan tempayan berisi minyak yang disulut, dilontarkan oleh catapult dari balik bukit. Kami ternganga,... dan situasi pun berbalik, gajah-gajah menjadi kacau dan saling menerjang di antara mereka sendiri,...)

The best battle scene award 2008,...goes to Tanril!

(Aku tertunduk lesu. Jelas pasukanku tak ubahnya rombongan taman kanak-kanak hendak piknik, jika dibandingkan pasukan mengerikan itu. Salah seorang Uruk Hai menepuk-nepuk pundakku, menggeramkan kata-kata penghiburan. Dan kurasakan satu persatu mereka pulang meninggalkan ku sendiri di medan perang ini. Rupanya aku memang sudah kalah segala-galanya, dan mau tak mau harus menyerah. Kulihat Pendekar Tanril tersenyum, menghampiri ku. Dengan sedikit enggan, akhirnya kuserahkan bendera itu kepadanya.)

Dan The Best Fantasy di Fikfanindo, saat ini berpindah kepada TANRIL, Epik Ho Wuan Siang!

(Tapi sebelum aku kembali dengan menanggung beban kekalahan di pundak, masih secara keras kepala dan tak mau kalah, kubisikkan kata terakhir buat pendekar Tanril, "Aku baru akan mengakui kesempurnaan lo, kalau saja lo mendeskripsikan KOSTUM secara detail dalam novel itu. Karena itulah satu-satunya atribut yang nggak bisa kubayangkan, sehingga sedikit mengurangi suasana Fantasy yang ingin kuimajinasikan," begitu bisikku pada Pendekar Tanril, yang sempat membuat matanya terbelalak sejenak, dilanjutkan dengan anggukan paham di wajahnya yang bijak).

Buat Nafta, sejuta selamat. Anda layak mendapatkannya. Very Good Writing. Buat teman-teman lain, okelah hurufnya kecil-kecil, dan italicnya itu bakal bikin lo pade pusing. But it's a recommended read, nevertheless.

Salam,

FA Purawan