Tampilkan postingan dengan label vampire. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vampire. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

BLOODLUST (Joko D. Mukti - 2009)


Data Buku

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: -
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Foto Sampul: (c) Momorad/ Shutterstock
Tebal: 433 halaman

BLOODLUST.

Vampir kembali menyerbu Semarang. Horaaay!

Horay untuk dua hal: bahwa petualangan Lang yang unik itu berlanjut lagi, dan bahwa finally, ada penulis fantasy yang bener-bener menepati janji sekuelnya! Ha ha ha.

Tapi emang bener. Baru kali inilah sebuah sekuel yang diniatkan, terwujud dalam kenyataan. Ini terhitung peristiwa spesial dalam genre Fantasy. Silakan liat sendiri deretan judul yang pernah direview Fikfanindo ke belakang. Nyaris semua sudah diplot atau diniatkan punya sekuel yang kabarnya ke laut aje. Dan itungan gue, baru serialnya mas Joko inilah yang berhasil menerbitkan sekuel tepat waktu.



(wait, sebelum dikomplain, Tanril 2 gak gue masukin itungan sebab statusnya baru setengah sekuel, hehehe. Bisa aja loe!)

Yeah emang aneh, banyak jabang-sekuel dengan alasan bisnis maupun kreativitas, masih belum mampu menghirup udara bebas. Jadi kemunculan BLOODLUST ini cukup patut dipuji, setidaknya dari konsistensi pengarang maupun penerbit dalam memenuhi target tenggang waktu dan komitmen mereka terhadap pembaca/ penggemar. Mo gimana lagi, hari gini komitmen udah jadi barang mahal. Dan siapapun yang berani menjalani komitmen, patut mendapatkan pujian.

BLOODLUST (BL) merupakan kelanjutan dari petualangan Lang yang telah berubah menjadi Vampir, di tengah kota Semarang yang telah pulih dari peristiwa "Geger Vampir" tujuh bulan sebelumnya (time-line MWAV 1). Dalam sekuelnya ini Lang menghadapi musuh baru sambil mengatasi masalah transformasi mentalnya sebagai vampir.

Tokoh-tokoh lama yang masih ikut bermain dalam cerita kali ini adalah Tamam, si wartawan sok Afro nge-bronx yang bicaranya paling norak sejagat; Svida, gadis putri boss yang pernah menolak cinta Lang, serta Princess, tokoh Vampir yang pernah jadi tokoh utama di MWAV 1.

Selebihnya panggung diisi dengan tokoh-tokoh baru: Tyas, seorang artis dari Jakarta, Wignyo, juragan yang terkait dengan masa lalu Lang, Bayu dan Sekar, anak Wignyo, serta seorang kakek sakti bernama mBah Dul.

Kehadiran tokoh-tokoh baru yang mendominasi panggung cerita ini menunjukkan bahwa plot MWAV sudah bergeser, memasuki ranah persoalan yang tidak bergitu terkait dengan novel sebelumnya. Setidaknya, hanya tokoh Lang (dan inner circle-nya aja) yang menjadi benang merah cerita. Persoalan Wignyo, sekalipun masih ada hubungan masa lalu dengan Lang, posisinya dalam bangunan plot sesungguhnya adalah sebagai cabang plot baru yang nggak ada kaitan dengan buku 1.

Lantas sebagai sekuel, apa yang menjadi missi novel ini? Mungkin lebih ke arah filosofis, kali ye? Ketara sekali pengarang dalam sekuel ini mencoba mengolah konflik batin yang lebih dalam pada diri Lang, saat dia mulai mempertanyakan posisimya sebagai manusia yang punya kekuatan vampir, atau vampir berwujud manusia. Kasus Wignyo juga seolah menguak luka lama, yang berfungsi sebagai ujian batin buat Lang. Lang menjadi sosok Blade-jawa dalam persimpangan, mo pertahankan atau kehilangan kemanusiaannya.

Juga ada pendalaman konflik batin Tamam (yo, masih gak aku harus nge-friend sama that fucking vampire bastard itu?), atau Svida (sial kenapa dulu kutolak, sekarang si Lang jadi cool banget dengan rambut berkibar-kibar, ooh). Yah, gitu deh.

Betapa suasana jadi serius setelah itu, bukan? Hehehe. Tak pelak, tone novel menjadi agak kebawa mood nya si Lang, sehingga alur pun nggak menjadi se adventurous buku pertama. Masih banyak adegan action, less sexual themes, tapi jadi gak semenggelegar buku 1. Wajar aja sih, ada saatnya serius, toh? Tapi tak urung saya juga jadi kurang bergairah terhadap sekuel ini. Mungkin karena ekspektasi saya adalah ekspansi konflik atau opponent yang semakin luas, bukannya pendalaman internal para tokoh (saja).

Di sini, memang ada pembaruan musuh, yaitu perpaduan antara vampirisme dengan ilmu kebatinan (pengorbanan 100 perawan) menghasilkan sesosok Vampir Super yang bahkan sulit dikalahkan oleh Lang sendiri. Tapi entah gimana, menurutku biarpun sakti mandraguna, lawan si Lang kali ini cuma just a regular villain. Keberadaannya buat gue nggak mampu menjadi driver cerita, mungkin juga kalah porsi dibanding konflik-mental nya si Lang sendiri.

Bahkan setting Semarang pun pada sekuel ini menjadi agak tawar. Masyarakat Semarang agaknya sudah merasa pulih dari serangan vampir tujuh bulan lalu sehingga semata mereka mengenangnya sebagai 'geger vampir'. Just like orang Jakarta secara kasual mengenang 'banjir 2002', misalnya. Seru untuk dikenang, tapi ada semacam keyakinan tak terucapkan bahwa bencana itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Masuk akal tidak, kalau perasaan yang sama berlaku untuk sebuah bencana serangan vampir? Rasanya gak make sense, kan?

Maka dalam sekuel ini sepertinya adegan si vampir Lang meloncat-loncat di atap mobil keramaian jalanan jadi sudah dianggap biasa ajah, tuh. Reaksi terhadap keberadaan vampir juga menjadi lebih tawar. Gimana, ya. Buat gue rasanya gak 'dapet' aja.

Tapi jangan jadi keliru menafsirkan. Secara kualitas penulisan, buku ini masih sebagus pendahulunya. Aksi hack 'n slash abis-abisan juga masih menjadi trade mark yang susah dicari lawannya, dan pastinya ditunggu oleh penggemar genre sejenis ini. Bahkan di halaman-halaman pertama juga sangat terasa excitement sebagai sekuel, saat membaca adegan-adegan yang me-reminiscence MWAV 1, sampai gue sempat komentar pada part action tertentu, "Yeah! Asyik! Mantap!" semacam itulah. So, ini masih cerita yang asyik. Sekedar trip yang dipilih oleh si pengarang aja yang kurang cocok buatku. Itu aja.

Dengan ending sebagaimana dipilih pengarang, juga tersusun konstelasi posisi karakter baru yang juga agak beda dengan buku 1, sebagai persiapan memasuki sekuel ketiga. Rasa-rasanya sih udah bisa ketebak apa yang bakalan terjadi di buku 3. Tapi siapa tahu, pengarang mengirim kejutan lain?

Komentar cover & layout? Masih seperti yang dulu. Alias kamseupay abis!

Moga-moga nih, sekuel ketiga terbit sesuai jadwal lagi.

Mas Joko, you memang tob markotob, dah!



FA Purawan

Kamis, 04 Juni 2009

MARRIED WITH A VAMPIRE (Joko D. Mukti - 2009)



Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: N/A
Desain Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Foto Sampul: (c) Photostorm/ Shutterstock
Tebal: 338 halaman


Another Vampire Story? Gak aneh.

Di Indonesia? Well, bolehlah, unik.

Bersetting Kota Semarang? What?! Jarang-jarang, tuh?!

Yang nerbitin GRAMEDIA. WHAAAAAT????

Hah, di mana kejutannya? GPU nerbitin sebuah novel Fantasy berlatar Vampir? Hellloooo, masih musim Twilight neh sekarang. Sorry boss, memang topik Vampir bukan topik baru, tapi yang ini lain: Novel Vampire lokal berlatar setting Kota Semarang, terbitan gress GPU tahun 2009.

Judging dari kebiasaan GPU main di wilayah mainstream-pasar, pilihan terhadap materi MWAV karya Joko D. Mukti ini harus diakui cukup,... beda. Beda dan berani!



Karena memang Gramedia cukup jeli ketika memilih. Tema Vampir, okelah lagi naik daun gara-gara kesuksesan Twilight-nya Stephanie Meyer. Tapi saya yakin di antara puluhan tema Vampir yang sempat masuk atau diseleksi Redaksi, materi mas Joko ini memiliki angle paling beda dari biasa. Yang paling menonjol dari keberbedaan itu, adalah: penggunaan setting Kota Semarang sebagai tempat cerita bermain. Unik, sekaligus cerdik karena secara fisik sendiri Kota Semarang memang memiliki unsur-unsur yang mendukung imaji 'dark' yang dibutuhkan.

Semarang adalah salah satu kota tua di Jawa, dan termasuk di antara kota-kota yang memasuki kondisi 'decay' akibat perubahan energi perekenomian di region tersebut (dulu pantai utara Jawa termasuk urat nadi perekonomian utama, sekarang sudah berubah), Maap buat orang Semarang, hehehe. Tapi sudah merupakan kenyataan bahwa Semarang tak secemerlang ibu kota propinsi lainnya di Pulau Jawa, dan,... ada kesan menua. Dan sengaja atau tidak, ini setting yang strategis menguntungkan buat pengarang.

Saya setuju dengan strategi pengarang, Semarang memang setting yang cucok buat cerita Vampire, much like New Orleans buat cerita Vampire atau Voodoo. The vibe is there, it's THE place. Inget aja, that's where the spookiest building ever, "Lawang Sewu", berada. 'Nuff said.

So, mari kita sambut karya yang tak 'biasa' ini.

Married with a Vampire menceritakan kisah petualangan tokoh utama, seorang pemuda bernama Lang, yang dibawa nasib bertemu dengan sesosok Vampir bule cantik legit bernama Princess, dan melalui utak-atik setting yang 'kocak-kocak-gimana' (karena tidak diintensikan sebagai komedi, sebenernya), akhirnya ended-up menikahi si Vampir tersebut. Dia gak rugi, sih, sesungguhnya, soalnya Vampirnya emang cantik dan seksi, gitu lowh.

Yang bikin rugi, karena si Vampir itu 'ngebawa' temen-temennya (walau dalam status bermusuhan) membanjiri Kota Semarang dan menjadikan Semarang sebagai Kota Vampir pertama di Jawa! Yaaay!! My friends, ini baru THE story!

Dalam buku setebal 300 halaman ini, pengarang menjejalkan cukup banyak side-stories, mulai dari latar belakang Lang yang tipikal pemuda-miskin-ikut-boss-kaya-dan-jatuh-cinta-sama-anak-gadis-nya-dan-tentu-saja-cintanya-ditolak-karena-beda-status, pertemuan dan pernikahan Lang dengan Princess si Vampir cantik, dendam Jack si raja Vampir mantan suami (?) Princess, Infestasi Vampir di kota Semarang yang didalangi oleh Jack si Raja Vampir Dunia (wow!), aksi seru si Lang sebagai pahlawan pembasmi Vampir dengan kelompok SANG PEMVASMI (well, believe it. itu singkatan dari: Persatuan Para Anggota Pembasmi Vampir dan Vampirisme di Indonesia. LOL!), yang tentu saja Lang jadi the hero yang menyelamatkan sang boss beserta putrinya, dan si Putri, Svida, jadi jatuh cinta sama lang, terus ada pacar Svida yang --seperti biasa-- nyebelin, and so on, and so on, plus pra-kondisi untuk sekuelnya. Bahkan sedikit imbuhan intrik-politik kaum Vampir yang menjustifikasi alasan kenapa Vampir membanjiri Semarang, sekaligus juga mempengaruhi hubungan cinta Lang dan Princess di akhir cerita. Good, lah.

Dari sisi penceritaan, cukup fresh dan seru walaupun tidak ada yang terlalu istimewa. Gaya bertuturnya juga somehow a bit 'old'. Keistimewaan novel ini justru pada keberanian (dan mungkin keberhasilan?) untuk menghadirkan setting Vampir di Semarang, yang nyaris bisa dipercaya asalkan pembaca mau mengkompromikan situasi sedikit.

Maksudku, ketika Semarang dilanda serangan Vampir, it's really-really believable, asal kita rela meng-contain masalahnya tetap berada di areal Semarang aja, jangan diperluas ke pulau Jawa atau Jakarta (misalnya menjadi masalah Nasional, gitu), sebab gregetnya akan jadi jauh berkurang, dan kita jadi perlu menciptakan berjuta plot device untuk meng-cover lubang-lubang logika yang timbul.

Mungkin sekedar contoh untuk memperjelas, ingat serial game Resident Evil, yang selalu berlangsung di sebuah lokal (kota kecil, precinct) yang terbatas, kagak pernah di kota besar macam New York, gitu. Sebab jika terlalu luas, akan sulit mengelola unsur believabilitynya.

So pembaca harap menganggap Semarang dalam setting MWAV ini adalah sebagai Semarang yang somehow terpisah dari kota-kota lainnya di pulau Jawa. Dan kalo ngebayangin Semarang alone dihantui oleh Vampir di jalanan kota-kotanya, hell, bulu kuduk gue langsung berdiri. Really creepy bener,...

Dan berkat setting yang terbatas ini, rasanya jadi wajar aja menemukan dalam cerita bahwa Polisi 'cukup' kewalahan menangani ancaman Vampirisme (tanpa terlalu kewalahannya hingga terpaksa mengundang campur tangan TNI menyangkut keamanan Nasional), lalu sekelompok Vigilante bisa beraksi membasmi Vampir, dan tokoh kita bisa menjadi hero-selebritas terang-terangan di depan masyarakat kota Semarang. Terus adegan Vampir menyerbu hotel di Simpang Lima yang jadi tempat pengungsian,... Wow, Cool!

Coba kalo kita nggak batasi setting, maka kita akan langsung protes: di tengah serangan Vampir yang menggila kenapa gak diungsiin aja penduduknya ke Kudus atau Solo, atau bagaimana mungkin Vampir bisa merajalela di Semarang aja, gak merembet ke kota-kota lain secara di pulau Jawa ini kota-kotanya literally udah berdempetan!

Jadi malah repot, kan?

Aspek selain dari setting, well, MWAV adalah cerminan dari karya pop masa kini, penuh action hack and slash yang cinematic-keren, gore berdarah-darah (Rating Novel ini adalah Novel Dewasa), dan tentu saja, Seks. Hot, steamy, sex. Ada cukup banyak R rated situations dalam novel ini, antara lain adegan percintaan Lang dengan Princess, adegan Vampir cewek telenji di tengah jalanan, and so on. A bit surprise juga buat gue, agak sedikit di atas garis batasnya Gramed, hehehe. Mau salut, atau mau kalut, it's your own choice(s). Tapi buat para ortu, please consider untuk menunda memberikan novel ini pada putra-putrinya, sampai at least dia udah tujuh belas tahun atau already sudah biasa mengkonsumsi material yang lebih luncah dari ini. He he he.

Well, untuk fair-nya, adegan dewasa dalam novel ini memang diintensikan buat pembaca dewasa, masih memiliki nilai sastra, dan tidak overdone. Jadi gak perlu overreacted juga, sih. Kalo menurut feeling gue, mas Joko juga sedang mendegikkan kepala (semacam penghormatan juga) pada genre Fantasi-Horror-Misteri Nasional seribu-limaratusan perak yang pernah jaya di tahun 80-an dengan pengarang seperti Abdullah Harahap dkk. Genre unik yang nggak pernah mendapatkan apresiasi penerbit utama pada masa itu.

Terus pegarang juga mencoba memasukkan sub-tema filosofi dalam karyanya, mengenai 'kedudukan' konsep Vampir dalam alam berpikir Indonesia melalui sejumlah pertanyaan dan diskusi antara Lang dan Princess. Konsep 'vampirisme' yang boleh jadi berbeda dengan konsep orang barat. Kupikir it's just a nice try, berhasil atau nggaknya masih relatif. Minimal aku ngerasa ada pertanyaan-pertanyaan yang seolah mewakili diri kita (sebagai orang Indonesia) jika suatu kali kita bener-bener ketemu dan ngobrol-ngobrol sama Vampir (halah!)

Sekarang, apa kritikannya?

Gak terlalu banyak. Aspek logika cerita, masih bisa diterima dan masih cukup kuat menopang plot. Bahwa jika areanya diperluas ke luar kota Semarang, logika akan jadi ambrol, itu sudah kukemukakan di atas.

Tapi yang rada parah kurasakan adalah dalam hal penamaan. Untuk nama-nama tokoh lokal, seperti Lang, Svida, Tamam, dll udah cukup pas dan wajar. Tapi nama-nama Vampirnya berasa agak kurang sreg buat gue. Vampir cewek yang usianya udah ratusan tahun, dan punya posisi semacam 'ratu' di kalangan Vampir, cuma punya nama "Princess", atau tokoh lain yang bertatus mirip, namanya "Tante Lidya". Tokoh antagonis Raja Vampir super licik dari New York cuma dipanggil "Jack". Well, nama-nama sederhana semacam itu nggak bisa mengangkat eksotisme dan kekuasaan kaum Vampir yang konon sudah establish selama ratusan tahun! Kalau saja pengarang menambahkan nama lengkap untuk mendampingi nama-nama panggilan di atas, mungkin universe Vampirnya jadi jauh lebih mengesankan. Kalo yg sekarang, terus terang aja gue malah kepeleset jadi inget Vampir ala "Human Drakula"-nya Srimulat jaman taun 80-an (yg biasanya diperankan Oom Paul Polii, dan setiap kali muncul di panggung pasti seru, serem dan ngakak abiss)

Kritik lainnya adalah dalam hal desain sampul. Sorry, dengan pengalaman mendesain cover versi teremahan buat Twilight series yang demikian bagus, kenapa untuk yang ini desainnya kayak Novel-horror-wannabe-kacrut-adaptasi-dari-film macamnya Kuntilanak Beranak atau Kolong Jembatan Casablanca (whatever! What do I care?) gitu? Covernya gak bisa mencerminkan actions ataupun gore, even sex(kalo memang mo jual itu) yang ada dalam buku. Instead, covernya cuma menonjolkan kesan suram rumah tua dengan overblown-Moon serta beberapa codot beterbangan. Gak kelas, kalo buat gue sich, malah paduan dari desain cover seperti itu plus judul "Married With Vampire" justru membuat gue sempat mengira it's just another comedy-sotoy works, atau another kumpulan catatan harian dari seorang blogger pengikut mazhab "Kambing Jantan" yang kebetulan sedikit lebih sakit daripada 'nabi'nya (hehehe). Beruntung ada sinposis di back cover yang sedikit menjelaskan bahwa novel ini 'beda'.

Usul gue? Gak jauh-jauh, dah. Ilustrasi gedung Lawang Sewu dengan style dark/ gothic with empty streets dan rumput meranggas etc, terus seorang laki-laki (Lang) tampak punggung sembari enyeret kampak berdarah atau katana, gitu. It would tell a thousand stories!

Oh iya, dan Font Judul ala tulisan berdarah di halaman-halaman dalam. It's just so yesterday peninggalan jaman Printshop. Satu kata dari gue: Kamse'upay!

Akhirul kata, review ini kututup dengan pembelajaran bahwa unbelievability factor sesungguhnya masih bisa kita manage, atau siasati, dengan cara membatasi lingkup setting di dalam universe kita. Dengan pengolahan semacam itu, kita harapkan pembaca masih dapat terlarut dalam setting yang kita ciptakan dan dapat ikut menikmatinya, alih-alih terganggu atau ngotot merasionalisasikan semuanya.

Buat mas Joko, karyanya keren, boss. Dan saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda sudah menjanjikan sekuel dengan judul: Married With A Vampire #2: Bloodlust (background sound: Woooooh,..). Penuhilah janjimu! Awas, ya, kalo gak keren juga! He he he,...

FA Purawan

Selasa, 09 Desember 2008

NOCTURNAL (Poppy D. Chusfani - 2008)



Data buku:

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: tak tertera, tapi pada Ucapan Terima Kasih, pengarang menyebut nama: Anas
Desain Sampul: eMTe
Tebal: 254 halaman

Apa jadinya, jika JK Rowling menuliskan buku pertama Harry Potter hanya setebal 200 halaman?

Apakah buku itu akan tetap meledak dan menempatkan JK Rowling dalam statura nya seperti sekarang ini? Apakah Trio Harry, Hermione, dan Ron akan tetap menjadi tokoh-tokoh yang dicintai oleh jutaan pembaca? Apakah buku itu akan tetap difilmkan oleh blockbuster studios dan menghasilkan impact yang demikian dahsyat pada budaya pop kita di abad ini?

Well, gak usah sampai semuluk itu, deh. Yg langsung aja: apakah kita, sebagai pembaca, akan merasa puas dengan porsi sebuah buku Harry Potter yang cuma 200-an halaman.

Itulah, pertanyaan yang aku ajukan terhadap Nocturnal, sebuah karya Fantasy dari pengarang Poppy D Chusfani yang diterbitkan oleh salah satu penerbit besar Gramedia Pustaka Utama.

Kenapa gue mempertanyakan hal tersebut? Well, lanjutin aja baca review ini.

Tahu kenapa gue demen ama steak Abuba? Rasa dagingnya enak, servisnya cepet gak neko-neko, harganya pas tapi yg pentiiing: porsinya pas. Gak kebanyakan, tapi juga gak kedikitan.

Kebayang, nggak? Apa enaknya makan steak dengan daging seukuran tempe goreng standar. Biarpun rasanya nendang, biarpun harganya lebih murah. Teteup aja kita akan mendecak gak puas, celingukan cari-cari tambahannya, dan kalo gak tersedia, doesn't matter bahwa yg sepotong kecil itu sebenernya telah dimasak dengan lekker, tetep aja kita akan memaki-maki si restoran atas kepeditannya bikin menu.

Itulah case Nocturnal menurut gue. Sebuah karya yang sesungguhnya bagus dan solid, namun 'dipaksa' tersaji terlalu sedikit, sehingga alih-alih puas, membacanya seolah seperti menyantap steak seukuran satu gigit doang.

Apa? Sekedar teaser katamu? Agar pembaca penasaran dan memburu sekuel-sekuelnya? Well, untuk genre tertentu, mungkin rumusan itu bisa benar. Tapi untuk Fantasy, segmen pembacanya gak akan puas dengan cuma disuguhi porsi setara nasi kucing. We want more! Kurasa memang orang-orang semacam JK Rowling sangat paham akan hal itu, sehingga dia tidak terima saran agar Harry Potter edisi pertamanya dicetak dalam sub episode kecil-kecil (sebagaimana menurut pendapat industri buku saat itu, porsi yang aman buat penulis pemula), padahal di kala itu dia sendiripun masih desperate writer looking for a job.

Bicara kualitas, harus diakui bahwa Nocturnal dikreasikan secara top quality. Desain covernya cantik, dengan ilustrasi grafis yang bagus punya, karya eMTe (heran, ngapain juga menyamarkan identitas untuk sebuah karya yang layak puji? Tapi ga tau juga, yah. Siapa tahu nama eMTe ini sudah already kondang sebagai ilustrator sampul, cuma guenya aja yang gak gaul). Yeah, logo kecil di sudut itu memang norak dan menganggu, well, what the heck, anggep aja sticker yg ditempel sembarangan oleh balita. Secara keseluruhan, desain cover depan-belakang is very good.

Dalam aspek penulisannya sendiri, pengarang Poppy D Chusfani, yang juga merupakan salah satu penerjemah handal jajaran Gramedia, tidak mengecewakan. Kisah Adelia sang princess (calon Baroness) di negeri rekaan Adlerland bergulir lancar dengan berbagai tantangan dan konflik khas seputar 'reluctant hero' sampai menemukan klimaksnya di akhir cerita.

Plot ceritanya antara standar dan non-standar sekaligus. Bagian standarnya: well, tokoh protagonis cewek yang somehow punya lineage bangsawan tapi ended up bersekolah di Jakarta dengan kehidupan ala tokoh ChickLit biasa yang missi hidupnya gak lebih tinggi dari sekedar ingin jadi penari ballet, and so on, and so on. Kemudian tiba-tiba masuklah plot non-standar berupa panggilan untuk 'pulang' ke Adlerland, tanah leluhur para Nocturnal. Di sana' kehidupan Adelia berubah 180 derajat sebagai calon baroness istana klan Nocturnal, memimpin the whole clan doing battle with para penghuni Transylvania just across the hill (you know what, kan?). Jelas itu plot non-standar, and a very delicious one! (Oke-oke, the princess part emang ga terlalu non-standar buat ChickLit, tapi akui aja, being a member of the cat people is not on every ChickLit's list. Heheheh).

Yang membuat cerita menjadi menarik, adalah atensi pengarang yang cukup sempurna terhadap detail. Ada banyak aspek dalam universe Nocturnal, dan semuanya diperhatikan dengan teliti oleh pengarang. Dari sisi tokoh Adelia, yang menggilai ballet, pengarang berhasil menanamkan aspek ballet ini secara detail (dan pengarang memang udah belajar ballet sejak 10 tahun, so pengetahuannya tentu sangat bermanfaat untuk menghidupkan sang tokoh), berikut beberapa istilah khusus ballet yang membuat aroma balletnya memperkuat believability.

Setting Adlerland juga cukup rapi dan rinci, termasuk pemandangan alam dan situasi landscape (istana Raja, istana baroness dll), memperkuat nuansa Fantasy yang ingin ditampilkan pengarang. Setiap aspek dalam setting juga hadir secara wajar dan tepat.

Bahkan detail budaya pun tak dilupakan oleh pengarang. Budaya Jakarta hadir secara pas, kemudian budaya Adlerland yang semi Jerman plus situasi aristokrat dalam setting istana. Saya suka dengan small touch yang mengena, seperti panggilan Adelle untuk nama Adelia di kalangan orang-orang Adlerland, atau malah menjadi panggilan sayang "Ada". Sekali lagi, small touch, but sweet dan menyebabkan impact suasana yang berbeda.

Jika ada yang perlu dikritik dalam hal setting ini, adalah kurang signifikannya peran "Indonesia" dalam universe Nocturnal. Adelia yang berasal dari Jakarta tampak begitu blend dengan Negeri Adlerland yang berbahasa Jerman atau Inggris, dan dalam beberapa hari saja sudah menjadi orang Adlerland sejati, kagak terasa lagi sebagai anak Indonesia kecuali busana kebaya yang digunakan untuk menghadiri pesta di Istana raja. Well, serasa nggak ada dampaknya terhadap plot, apakah si Adelia itu besar di Indonesia, atau di Filipina, atau di Afrika.

Pengarang juga sudah membuat setting yang potensial banget buat menggerakkan plot. Ada 'putri' yatim yang harus menyesuaikan diri dalam kehidupan baru yang sangat asing, ada kaum manusia berkemampuan khusus yang punya sembilan nyawa, ada kaum Vampir, ada pertarungan wilayah kekuasaan antara Kerajaan Adlerland dengan kaum Vampir Transylvania, ada musuh dalam selimut,... well basic settingnya udah asyik, dan pengarang sudah mengembangkannya secara cukup mengasyikkan.

Paduan dari setting dan plot yang solid ini melahirkan kisah yang enak untuk dinikmati, dan terus terang membuat sekuel-sekuelnya menjadi layak untuk ditunggu. Saya hanya punya sedikit catatan kecil dalam hal penyusunan setting oleh pengarang.

Misalnya istilah Nocturnal untuk menggambarkan klan manusia kucing (alias manusia yang diberkahi kekuatan kucing dan memiliki sembilan kali kesempatan hidup alias sembilan nyawa). Well, 'Nocturnal' sendiri adalah istilah kata sifat yang bermakna 'aktif di malam hari', umumnya digunakan terhadap hewan-hewan yang mencari makan di waktu malam dan tidur di waktu siang. Not necessarily refer ke kucing, sebenernya. Sampai saat ini saya juga masih iseng cari-cari istilah yang merefer ke manusia-kucing di internet, sayang belum dapet juga. Inget dulu ada film Cat-People, mungkin ini referensi paling dekat dengan kaum Nocturnal-nya Poppy, tapi bedanya di film Cat-People orang-orangnya bisa bener-bener bertransformasi menjadi kucing garong, hehehe.

Artinya penggunaan istilah Nocturnal mungkin agak tidak tepat. Mungkin malah lebih eksotik kalo bisa dapet istilah yang berbau-bau bahasa Mesir.

Kemudian exact nature-nya Nocturnal ini juga rasanya masih belum jelas. Mungkin akan diperjelas dalam sekuel. Tapi buat saya ada satu dimensi yang 'hilang' ketika pengarang mengolah setting ini dalam cerita, yaitu ketiadaan aspek 'magic' dalam universe Nocturnal. Kelebihan manusia Nocturnal dalam novel ini adalah sebatas kemampuan fisik yang lebih kuat, lebih cepat, lebih ganas, dan sense-nya lebih acute dari manusia biasa (termasuk juga adanya sembilan nyawa itu). Tapi sebabnya apa? Kind of magic, juga kan? Lawannya, para Vampir, juga hanya tampil lebih-kurang sama secara fisik. Nah, di sini aspek magic tidak terlalu diolah, terkesan diabaikan. Padahal ruang untuk bermain magic sangat besar di sini, mengingat settingnya sangat membuka peluang ke arah sana. Itu sebabnya 'kekalahan' sang raja Vampir di tangan Adelia menjadi sedikit kurang logis, sebab sang raja yang sudah berusia tujuh ratus tahun seharusnya punya kekuatan magic yang gak kecil,....

Jadi kesannya, setting banyak dipengaruhi oleh setting film-film Vampir Hollywood yang lebih mengedepankan aspek fisik.

Catatan lain tentang nama juga, adalah penamaan Adlerland,... gimana yah, rasanya koq kurang berasa 'Jerman',... hehehe. Ga tau deh, apakah sebenernya secara ilmu pembentukan kata udah benar atau belum. Tapi kupikir mengingat tetangganya adalah Transylvania, Rumania, mungkin nama yang cocok adalah yang ada bau-bau "Nia" juga, kali-kali seperti Adlervania, getoh (hehehehe).

Di luar catatan tersebut, menurut gue sih Nocturnal sudah merupakan karya yang 'genap', alias segala sesuatunya sudah berada dalam pertimbangan yang pas.

Tinggal,.... my biggest complaint: Semua terasa berlangsung terlalu singkat!!

Yah akibat cuma 254 halaman, apa mau dikata seperti nonton LOTR dalam bentuk condensed. Pengarang sudah berusaha untuk membuat irama baca yang mengalir namun tetap kompak. Saya akui dia cukup berhasil. Tapi sebagai penikmat Fantasy, saya ngerasa banget bahwa cerita ini sesungguhnya baru 'pas' bila dibikin lebih 'kaya'.

Seperti yg saya bilang, apa rasanya baca Harry Potter cuma 200 halaman? Saya akan miss suasana Hogwarts, saya akan kehilangan rasa mengenai bagaimana murid-murid Hogwarts di tahun pertama, kedua, ketiga, kehilangan mata-pelajaran Hogwarts yang seru-seru, kehilangan romatika Quidditch dan seterusnya,..... semua hal yang mensignifikansi kehadiran Dunia Harry Potter dalam imajinasi saya. Semua hal yang menyebabkan Harry Potter tak sekedar cerita tentang anak laki-laki yang bersekolah sihir.

Betapa gemesnya saat membuka-buka halaman Nocturnal, kala saya merasakan perasaan yang sama, ingin agar part ini-itu lebih diperluas dan diperkaya lagi. Karakter Adelia yang walaupun sudah cukup bagus diolah pengarang, tetap terasa perlu lebih 'dalem' lagi, konflik-konfliknya, perkembangan karakternya,... semuanya terasa perlu lebih. Karakter lainnya pun deserves halaman lebih. Bahkan si Vladimir sang antagonis pun, rasanya perlu dapat porsi tambahan halaman.

Yah, saya nggak bisa terlalu menuntut.

Tapi judging dari kemampuan pengarang mendeliver ceritanya dalam format 254 halaman ini, saya bisa memperkirakan bahwa beliau sebenernya punya kemampuan untuk mendeliver lebih dari itu (dan tetap bagus!). Tuntutan 250 halaman, kalau boleh saya tebak, ya gak lain berasal dari pihak penerbit, mungkin dalam rangka strategi.

Sudah menjadi anggapan umum, bahwa bikin buku di Indonesia sebaiknya jangan tebal-tebal, sebab:

a. Harga kertas mahal, harga buku nantinya jadi mahal
b. Orang Indonesia nggak demen buku tebal
c. Resiko penerbit kalo bukunya gak laku akan lebih tinggi bila buku tebal.

Jadi cukup bijak bila penerbit tidak berani cetak buku tebal-tebal, cari aman.

Tapi entah, bagaimana saya harus ambil posisi, jika ada pengarang sepotensial Poppy terhalang kemajuannya akibat strategi cari aman penerbit. Well, toh penerbit bisa melihat materi-nya, dan apakah materi seperti karya Poppy ini tak mampu menimbulkan rasa percaya diri penerbit akan kualitas pengarangnya? Ironisnya hal itu justru dilakukan oleh penerbit gede! Mungkin malah bener kata orang, semakin gede justru semakin sulit ambil resiko.

Kalau saya coba merefleksikan, memang saya lihat jarang banget GPU mau nerbitin karya pengarang lokal, yang tebal. Keluaran GPU rata-rata tipis, dan mainnya di segmen aman seperti Teenlit (Even Nocturnal juga di'paksa'in masuk ke genre Teenlit!). Terbitan tebal GPU hanyalah di novel-novel terjemahan yang udah jelas lakunya di luar negeri. Emang jelas banget niat main amannya.

Tak heran bila GPU gak pernah mencatat block-buster, katakanlah sebagaimana Bentang-Mizan menangguk sukses lewat Tetralogi Laskar Pelangi (Nah, sekali lagi apa jadinya Laskar Pelangi bila tebalnya cuma seratus halaman? Hehehe,...). Yah, seperti kata orang, no pain, no gain!

Tapi anyway, adakah cara untuk menambah kepercayaan diri GPU? Setidaknya jika mereka punya jajaran penulis sebaik Poppy D. Chusfani (dan kita tahu lah, GPU punya standar kebahasaan yang bagus sekali), mustinya mereka tidak usah takut ambil peran sebagai garda depan literasi Fiksi Fantasi Indonesia, yang bener-bener berani nerbitin buku Fantasy yang memuaskan pembaca Fantasy Indonesia. Nggak ada salahnya dong, aku berharap? Soalnya menurut gue secara infrastruktur knowledge, know-how, maupun SDM mereka udah mumpuni. Yang belum ada cuma Visi dan keberanian aja.

Terus-terang itu pertanyaan yang tak mudah dijawab. Dan best we leave that as it is. Hanya satu yang jadi harapan saya, untuk Poppy: jangan kau kekang kreativitas yang luar biasa itu, dan kalau memang mungkin, please wujudkan your Nocturnal Universe in it's fullest potential! Gue percaya banget sama karya kamu!

Salam

FA Purawan