Tampilkan postingan dengan label sihir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sihir. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2013

I AM A WITCH: Kisah Cinta Sang Penyihir dan Pangeran Iblis (Ally Jane - 2013)

By Luz B.


Penerbit: Ping!! (a.k.a DivaPress)
Editor: Muhajjah
Desain Sampul: Ferdika
Layouter: Violet Vitrya
Tebal: 222 hlm.


Sebelum saia mulai sesi ngomel-ngomel kali ini, saia pengen curhat. Iyah, tukang repiu juga manusia. Boleh dong curhat.

Sejak saia mulai belajar nulis repiu, saia makin sering ditoel oleh penulis fiksi fantasi dari berbagai penjuru Indonesia (skala spasial sangat dilebih-lebihkan,) untuk mencablaki karya mereka. Selain bertujuan untuk promosi di kalangan penikmat fiksi fantasi Indonesia, saia tidak bisa tidak merasa bahwa hal ini juga disebabkan karena mereka adalah para masokhis berbudi luhur. 

Rabu, 09 Februari 2011

XAR & VICHATTAN: Seri Ahli Waris Cahaya BukuDua - Prahara (Bonmedo Tambunan - 2010)

Original review by Dewi Putri Kirana
Fine Tuned for Fikfanindo by FA Purawan and Luz B.

(Hosted by Guest Faeries: Pamanus Sotoyus dan Ceweka Sinisa)


Penerbit: Adhika-Pustaka.
Penyunting: Arie Prabowo & Leony Siregar
Ilustrasi Sampul: Imaginary Friends Studio; Hendryzero Prasestyo & Eko Puteh
Perwajahan Sampul & Isi: Lewi Djayaputra
Tebal: 425 halaman plus Glossarium


Pada suatu siang, DPK, seorang pembaca XAR & VICHATTAN: Prahara terlihat mendaki pegunungan berbatu. Berkali-kali ia merutuk gelisah, lalu memeriksa peta. Tiga hari sudah berlalu sejak ia meninggalkan Desa Cimea. Padahal, pedagang bertubuh tinggi besar dan membawa pedang-yang menjual peta itu-berkata bahwa Hutan Eros harusnya sudah tampak setelah dua hari perjalanan.

Sebentar kemudian DPK menemukan sebuah gua kecil di sisi tebing. Menurut peta, gua itu seharusnya bukan gua, tapi sebuah cabang jalan biasa. Biarin deh, pikir DPK. Ia sudah sangat telat. Sang pengarang, Bonmedo Tambunan, pastilah sudah lama menunggu. Dan kalau gue kelamaan, takutnya Om Boni keburu disantap ingenscorpus. Hiii~!

Minggu, 21 Maret 2010

ARQUELLA: The Beginning of the Destiny (Maaya Hiroshi - 2009)

By Luz B.

 
Penyunting: Topik Mulyana
Penerbit: Sygma Publishing
Pengarah Artistik: Fery Puwi
Pewajah Sampul: Kebun Angan
Pewajah Isi dan Penata Letak: Ade Truna, Tio
Tebal: 462 halaman
 

Mengambil break dari sela-sela mengerjakan novelku sendiri, perkenankan aku menggelar satu repiu hasil penugasan dari Boz Pur. Sekalian juga, sebagai filler sebelum si Boz kembali dengan salah satu masterpiece soto(y)nya. Sudara-sudari segala agama dan agami, Allow me to present to you... Arquella, The Beginning of the Destiny karya Maaya Hiroshi.
   
Aku ngelihat buku ini benernya udah lama, tapi ga kunjung tergerak untuk mengambil. Alasannya? Empat hal. Pertama, cover yang no very. Idenya menarik sih; ada unsur api dan air, dan peperangan, dan gambar seorang cowok berbaju besi dan berpedang. Sampai disini, aku memujinya karena gagasan ini udah sangat memadai untuk menggambarkan isi cerita. Tapi sapa seh yang punya ide naruh gambar cewek pake gaun putih di depen cover?
 

Selasa, 02 Maret 2010

Another World Elmore (Aulia M. Firmundia - 2009)

By Luz B.

Penerbit: Bestari Buana Murni
Editor: A. G. Adil
Desain Kover: Melati Harum Pandan Wangi
Layout: Irnawati
Tebal: 320 halaman

Setelah cukup lama nggak bikin repiu, karena disibukkan juga oleh proyek novel dan blogku sendiri, aku akhirnya dapat waktu untuk menyelesaikan sebuah buku fiksi fantasi baru berjudul Another World Elmore karya Aulia M. Firmundia, atau biasa dipanggil Uliel. Sedikit background-info, pengarang rupanya masih remaja, dan masuk 15 besar penulis berbakat Bookfrenz Writing School. yang didirikan oleh Elie Mulyadi. Bookfrenz ini sendiri rupanya adalah sebuah sekolah menulis untuk remaja, yang mengadakan kompetisi untuk menyeleksi karya-karya penulis remaja yang layak terbit.

Sabtu, 14 November 2009

AERIAL (Sitta Karina - 2009)

By Luz B


Editor: -
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul: Dianing Ratri
Pengerjaan Sampul: Marcel A.W.
Tebal: 319 halaman


"Kamu familiar. Bau darahmu familiar."
"Aku sama sekali tidak mengenalmu."
"Kau tahu siapa aku, Putri."

Ehem. Putri.

Menjadi makhluk skeptis kadang-kadang ada kekurangannya sendiri. Salah satunya, aku langsung merinding kalau dalam sebuah novel ada tokoh cowok yang digambarkan dingin-dingin-ketus dan terus-terusan manggil ceweknya dengan sebutan "Tuan Putri."

Tapi okelah, aku nggak bisa bilang Aerial jelek hanya itu. Jadi mari kita amati buku ini dengan lebih seksama. Dari sampul depan, sangat menarik. Ilustrator sampul mengerjakannya dengan ilustrasi cat air yang bagus, dan ide yang menarik. Matahari dan bulan di sudut berlawanan, dipasangkan dengan cowok dan cewek yang juga ditaruh berlawanan. Daratan ngambang di tengah, dengan pohon-pohon dan air terjun. Pas buat buku dongeng.



Balik ke cover belakang, bertemulah aku dengan tiga kalimat yang sudah kukutip di atas berikut sinopsis. Lalu tibalah kita di baris terbawah. Rupanya ada komen dari editor sebuah majalah remaja, sebagai berikut:


"Reading this novel, I keep on trying to visualize every detail from Sitta's great imagination..."


Great imagination. Baiklah, itu kata kunci yang kutangkap dari endorsemen pertama. Dan yang kedua,


"Sitta Karina adalah penulis novel remaja berjiwa sastra."


Nyastra. Itu kata kunci yang kedua.

Berani juga para endorserwan/endorserwati tersebut ngasih predikat yang segitu berat ke novel dan pengarang ini, wekekeke...

Setelah selesai membaca, aku bisa mengatakan bahwa plot cerita Aerial secara garis besar setia pada sinopsis sampul belakang, yang berarti, kira-kira begini: Sadira dan Hassya adalah Putri Negeri Cahaya dan Pangeran Negeri Kegelapan. Dan klan mereka bermusuhan ala Romeo dan Julio. Kenapa musuhan? Rupanya karena Negeri Cahaya disinari matahari, sementara Negeri Kegelapan nggak. Jadi, Negeri Kegelapan ingin merebut wilayah cahaya, dan sebagai akibatnya, Negeri Cahaya berniat menyerang duluan Negeri Kegelapan.

Lucunya, untuk apa orang-orang Negeri Kegelapan ini pengen sinar matahari, kalau mereka langsung kebakaran kulit begitu kesengat terik? Okelah, pengarang bilang bahwa bangsa kegelapan juga "butuh," ingin "menikmati" dan "memanfaatkan" matahari. Tapi caranya menikmati matahari gimana? Butuh buat apa, juga gag disinggung. Dan kenapa harus matahari, lha wong selama ini terbukti mereka bisa hidup tanpa sumber daya satu itu?

Jadi tolong jangan salahkan aku kalau ngebayangin bangsa Kegelapan ini ternyata punya hobi rahasia berbaring di bawah matahari, kebakar sambil menggelepar-gelepar tapi teriak-teriak nikmat.

Masochistic sunbathers.

Dan mengenai memanfaatkan, dari ucapan penasihat raja kegelapan di hal. 50, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka juga belum tahu cara memanfaatkan matahari. Meskipun begitu, saudara-saudara, mereka mau menyulut perang demi mendapatkan sesuatu yang alih-alih mereka ketahui cara memanfaatkannya, justru bisa berbahaya bagi mereka.

Bukan hanya masokhis, rupanya; mereka juga korslet otak.

Cerita berlanjut. Hassya dan Sadira, awalnya saling benci, kini jatuh cinta. Bersamaan dengan itu, Isla, sepupu Sadira, juga jatuh cinta sama orang lain dari negeri Kegelapan. Sayangnya ramalan kuno berkata bahwa dunia mereka bakalan kiamat kalau ada orang dari Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan yang bersatu. Namun, dengan gigih mereka berempat bertekad untuk menghentikan perang dan mencegah kehancuran.

Nah, apa yang dilakukan para jatuhcintawan dan jatuhcintawati yang sudah kusebut diatas untuk menghentikan perang dan mencegah kehancuran? Eng-ing-eng! Isla dan pacarnya membuat rencana rahasia demi perdamaian yang garis besarnya adalah meriset krim anti matahari untuk rakyat Kegelapan supaya mereka bisa berbagi matahari tanpa harus berperang.

Bigsweat. Itu reaksi awalku, yang jujur kuakui terlalu ngenye'. Karena itu mari kita berpikir positif. Bukankah ini unik? Berapa banyak novel menawarkan konsep perdamaian lewat sunblock? Lagian ini cocok dengan penempatan tokoh Isla yang katanya cantik dan cerdas, dan doyan bikin penemuan-penemuan aneh seperti "alat pembuat busa sabun" (hlm. 29)

Sedikit catatan iseng, aku juga punya alat pembuat busa sabun. Namanya loofah, a.k.a spons mandi. So, apparently, in that universe, they need a genius to create something that has the exact same function as a simple loofah. Considering this fact, how smart can the rest of them possibly be?

Sedangkan Antya, adik Sadira, punya cara lain untuk menciptakan perdamaian. Bersama seekor kuda terbang ia berusaha memanggil penolong dari dunia lain, yaitu Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu di Jakarta. Untuk apa? Dua hal.

Tujuan 1: cameo/promosi semata dengan membuat kaitan dengan buku karya Sitta Karina yang lain. Kenapa aku bilang semata? Karena di dalam tubuh Sadira dan Hassya, Sashika dan Laskar nggak berbuat apa-apa selain ngucapin beberapa dialog yang rasanya seperti diselipkan ke dalam buku sekedar supaya pembaca ingat kalau ada orang lain di dalam tubuh kedua pangeran dan putri itu. Kalau dialog-dialog selipan itu dihapus, aku rasa nggak akan ada ngaruhnya ke plot utama, dan nggak ngurangin greget cerita juga.

Tujuan 2: Untuk membuat Sadira dan Hassya semakin lengket.

Tunggu dulu. Bukankah katanya, kalau ada orang dari Klan Cahaya dan Klan Kegelapan yang bersatu, dunia kiamat? Ramalan memang belum tentu benar, tapi bagaimana orang-orang ini bisa tahu legenda itu keliru?

Nggak ada penjelasan dari pengarang. Jadi aku tergoda untuk membuat penjelasanku sendiri, yaitu,

a. bahwa para tokoh pasifis ini sebenarnya anggota Sekte Hari Kiamat, dan berniat mencegah perang dengan mengkiamatkan dunia lewat perkawinan mereka, (logis kan, Kalau kiamat, perangnya pasti gag jadi, wekekeke,) atau, yang nggak terlalu fatalistik,

b. mereka menerima wangsit ghoib dari pengarang yang tahu bahwa legenda itu sebetulnya sama sekali nggak penting dan bisa dicuekin!

Para pembaca blog Fikfanindo yang berpikiran kritis,

Kebolongan plot seperti yang kusebut diatas nggak berakhir disini. Demi menghindari spoiler, kukatakan saja kalau ada banyak sekali motif, logika, dan alasan di sepanjang buku yang kacau beliau, atau sedikitnya, kabur. Apakah ini karena diedit sehingga ada bagian-bagian penting yang hilang, atau memang kacau beliau dari sananya, entahlah. We may never know. Or care.

Hal berikutnya yang selalu menarik perhatianku adalah nama-nama tokoh. Kalau dilihat secara sendiri-sendiri, beberapa tokoh namanya bagus sekali. Laskar Adhyaksa, dan Sashika Amunggraha, terutama. Ini nama yang bunyinya Indonesia dan kedengaran enak, dan kupikir nggak pasaran. Thumbs up.

Ada juga nama yang nanggung, setengah Indonesia setengah bule celup, kayak Sirril Syadiran. Ada nama yang kayak nama OS jadoel (Neosys), menganut Jepangisme (Kaien, Ginta), kebarat-baratan (Fletta, Raoul, Franconia) dan berbau Irlandia. (Toireann, Isla, Blath. Yang terakhir ini buatku rasanya aneh karena blath artinya "bunga", klo gag salah, sementara yang punya nama ini cowok.)

Nama-nama ini nggak dengan sendirinya jelek. Yang membuatku protes adalah, nama-nama ini eksis di dalam dunianya secara berantakan. Bayangkan, dua pangeran Kerajaan Kegelapan bisa-bisanya satu dinamai Toireann, dan satunya lagi Hassya. Satu nama Irlandia, satunya Indonesia. Trus ada dua bersaudara Klan Kegelapan satunya bernama Aro, satunya lagi Kanti. Satu bau-bau Romawi, satunya lagi Indonesia.

Ortu mereka pada kenapa tuh pas ngasih nama anak kedua? Dideportasi?

Nama berasa Jepang macam Kaien dan Ginta juga nggak jelas bagaimana bisa eksis dalam dunia dimana hampir sebagian besar bernama Barat. Apalagi Raja Adhyasta, raja Cahaya. Kok dia bernama Indonesia padahal rakyatnya punya nama macam Elena, Micchal, Finn, Jedidah, Nenna, Falkor, dst?

Keporak-porandaan juga terjadi di setting dunia cerita Aerial. Katanya dunia ini terjadi di dimensi yang berbeda, lah, kok ada perang antara orang Viking dan Atlantis di mitologi dunia yang bersangkutan? Dan kenapa juga mereka menyebut Aphrodite dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang di dunia nyata?

Bener, di dunia lain bisa saja ada orang Viking dan Orang Atlantis. Philip Pullman di His Dark Materials juga menaruh setting Oxford yang bernama sama dengan suatu lokasi di Inggris. Namun, nama ini ga berasa asal comot. Phillip Pullman memakai nama itu dengan memasukkan deskripsi dan properti dunia yang pas, misalnya dengan menunjukkan kehadiran daemon, atau menyebut arus listrik bukan sebagai "electric current" tapi "anbaric current," yang membuat aku menerima kalau ini Oxford yang berbeda.

Nah, kalau di Aerial? Bisa memang kita mengasumsi kalau itu orang Viking dan Atlantis dan Aphrodite lain. Namun, tanpa penjelasan, deskripsi, maupun properti dunia yang gamblang mendukung bahwa itu adalah Atlantis lain, Viking lain, maupun Aphrodite lain, rasa bahwa itu cuma nama comot-tempel akan tetap menghantui aku.

Bicara soal deskripsi serta properti dunia, bukannya pengarang sama sekali nggak ngasih gambaran akan dunia maupun benda-benda apa aja yang ada di negeri ini. Masalahku adalah, benda-benda itu ditempatkan sebagai anakronisme yang lagi-lagi nggak ada penjelasannya.

*Pembaca blog serempak melempar tomat* "Boooh! Sok Pintar loe, pake istilah anakronisme segala! Sok Canggehhh!!! Sotoyyyy!!!"

*ngelap jus tomat dari muka pake sapu tangan Pierre Cardin*

Oke. Maafkan aku karena demen banget make kata-kata canggih. Maksudnya biar aku terlihat so(k)phisticated gitu lowh, wekekeke...

Buat yang kurang familiar dengan anakronisme, hewan satu ini adalah, sederhananya, istilah untuk menggambarkan penempatan suatu properti di dunia yang mustahil secara alur waktu. Contohnya, mari kita ambil dari satu novel yang pernah dibahas oleh Om Pur: Kamera digital dan senter yang dinamai Ki Cahya Sumilak di The Prince Must Die (Langit Kresna Hariadi).

Anakronisme biasanya dikasih alasan atau latar yang membuatnya bisa diterima di dalam dunia cerita itu, seperti yang terjadi di The Prince Must Die: kamera dan senter itu dibawa ke jaman Singosari oleh seseorang yang melakukan time-travel. Kalau tidak ada penjelasan, barangkali anakronisme itu dimaksudkan untuk humor. Komik-komik Asterix karya R. Goscinny dan A. Uderzo banyak menampilkan yang semacam ini, misalnya cameo The Beatles yang jelas nggak mungkin ada di jaman Inggris jajahan Romawi (Asterix di Inggris), atau fashion show ala Galia (Asterix: Mawar dan Pedang Bermata Dua).

Kalau suatu anakronisme nggak ada penjelasannya dan tujuannya bukan untuk humor, barangkali itu kesalahan yang nggak disengaja. Atau boleh nyomot seenak jidat.

Nah, di Aerial, cerita kayaknya diset di negeri dongeng-fantasi-medieval, terbukti dari adanya gaun putri-putrian dan kuda-kudaan dan pertarungan dengan pedang dan panah. Tapi kok di hal. 26 disebut kalau Negeri Cahaya sudah "mengembangkan teknologi yang dapat menekan kadar karbohidrat di dalam makanan utama mereka, sehingga tidak menyebabkan kegemukan." Hah? Kapan para pangeran-dan-putri-dongeng-medieval ini belajar soal karbohidrat dan obesitas? Dan ide "kurus adalah indah" itu adalah cara pandang yang relatif modern, nggak ada di abad pertengahan.

Apa pengarang ngasih penjelasan soal kenapa ini terjadi? Nggak tuh.

Untungnya, kekacauan macam ini jauh berkurang di bagian belakang-belakang, terutama karena Isla dan penemuan-penemuan anehnya nggak lagi banyak dibahas. Namun, lepas dari kekacauan setting, muncul hal lain yang membuatku ngenye' lagi--karakter!

Aku menolak kalau teenlit/chicklit identik dengan karakter dangkal. Ada banyak teenlit yang karakternya cukup dalam. Sayangnya kebanyakan karakter di Aerial nggak memberi kesan yang kuat ke aku, karena peran, latar, atau motivasi mereka... yeah, well, *sob* dangkal.

Isla misalnya, disebut-sebut secara eksplisit sebagai cewek cantik yang berotak, lengkap dengan atribut buku dan alat-alat aneh. Tapi, ciri yang digembar-gemborkan penulis beda jauh dengan tindak-tanduk si karakter. Silakan kembali ke kasus loofah dan busa sabun yang sudah kusebut diatas.

Lalu Hassya, si pangeran kegelapan yang kata penulis dingin, tapi sifatnya panasan. Apa-apa harus diselesaikan dengan adu pedang, berkelahi, dan berantem. Kalau nggak pake tabok-tabokan, namanya banci. Dan saking ngerasa jantannya, dia menganggap ngasih makan burung sebagai tindakan yang "tidak laki-laki." Hmm... tunggu ntar deh kalau dia udah tua dan miara perkutut kayak Pak Haji depen rumahku!

Berikut, Toireann. Ini contoh karakter yang lumayan, walau jadi kurang berkembang karena porsinya sedikit. Kakak Hassya yang berusaha menciptakan perdamaian tapi sakit kepala karena saran-sarannya dicuekin. Pasalnya? Bapaknya, sang Raja Kegelapan, lebih milih ngedengerin pendapat gak logis dari penasihat bego seperti yang sudah kubahas di atas. (kembali, lihat hal. 50.) Poor guy. Nggak heran dia frustrasi.

Laskar dan Sashika: sebenernya latarbelakang mereka bagus. Laskar yang berangasan, dan Sashika yang pecinta alam. Sayangnya peran mereka cuma sebagai cameo.

Antya: adik tokoh utama yang perannya cuma memanggil Laskar dan Sashika. Sigh...

Dan yang terakhir, si tokoh utama, Sadira. Dia ini juga korban ketidaksinkronan antara gambaran pengarang tentang dirinya dan tingkah lakunya. Pengarang kayaknya setengah mati banget ngegambarin dan mencitrakan Sadira sebagai perempuan mandiri yang kuat dan--pake istilah sok kosmopolitan ah--smart, terlihat dari begitu banyak bagian narasi yang menceritakan bahwa Sadira tidak menyukai duduk tenang dan kegiatan-kegiatan serta tingkah polah kecewek-cewekan.

Lebih parah lagi, cara si penulis bercerita seakan-akan mencitrakan bahwa segala hal yang kecewek-cewekan itu sesuatu yang buruk. Alih-alih menunjukkan emansipasi perempuan seperti yang diniatkan pengarang, bukankah ini justru semakin menginferiorkan kegiatan-kegiatan perempuan sebagai sesuatu yang second-class, berada di bawah kegiatan-kegiatan macho macam berlatih tarung yang disukai Sadira the Warrior Princess?

My point is, karakter cewek yang kuat dan smart itu bukan berarti dia harus macho, bisa mengerjakan pekerjaan cowok, dan membenci hal-hal berbau cewek! Bandingkan ini dengan karakter Adel di Nocturnal (Poppy D. Chusfani), yang digambarkan lincah, berkekuatan super, bisa berpedang, dan justru semakin kuat sebagai seorang karakter karena ada bagian dirinya yang menyukai hal-hal girly, seperti tari balet.

Apalagi, 'kemandirian' Sadira itu digambarkan dengan kalimat-kalimat macam ini:


Sadira diperbolehkan berlatih fisik bersama Jenderal Arth asalkan setelah menikah nanti ia berhenti mengangkat senjata dan menjadi ratu sesungguhnya.

Bukan Sadira kalau otaknya nggak jalan. Tentu saja ia tinggal memanfaatkan perjanjian ini dengan tidak usah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.


Dan setelah pengarang gembar-gembor kalimat ini, tebak apa yang terjadi? Sadira bertemu Hassya, dan langsung deh segala atribut putri macho itu ilang, berganti dengan tingkah kecewek-cewekan yang (katanya) jelek. Si putri akhirnya nggak dapat kesempatan untuk memamerkan keahlian berantemnya, malah disandera, dan, mengikuti pakem nasib putri-putri nan basi, harus diselamatkan.

Benar-benar kuat. Dan smart.

Sedih.

Baiklah para pembaca yang terhormat, mari kita tutup sesi ngenye' kali ini dengan kembali pada kesimpulan endorsemen yang kutarik dari kata-kata bijak para endorserwan/endorserwati di cover belakang buku:


Aerial adalah suatu novel nyastra yang lahir dari great imagination.


*nangis terharu*

Mereka berdua memang sangat baik hati.




Luz Balthasaar

Rabu, 11 November 2009

DUNIA ARADIA (Primadonna Angela - 2009)

By FA Purawan

Data Buku:


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: -
Desain dan ilustrasi sampul: maryna_design@yahoo.com
Tebal: 257 halaman



~ Chicklit. A great wave that stirred and shaked the literation world, once, and forever. Boldly go where no man has gone before... ~

He he he. Kalo dunia penerbitan ditanya buku-buku apa yang paling KEREN? Jawabannya bisa saja: Buku Fantasy! Tapi kalo ditanya buku-buku apa yang paling LARIS? Dijamin, jawabannya pasti Chicklit! (Atau Teenlit, walau *harusnya* ada perbedaan antara keduanya)

Emang, Chicklit sudah seperti Ratu-nya (atau Puteri-nya?) toko Buku. Dengan proporsi space rak yang makin luas serta makin prominent (diposisikan secara strategis) dari waktu-ke waktu, membuktikan bahwa genre ini tak pernah kekurangan pasar, sekaligus membuat 'iri' genre lainnya (Fantasy termasuk, hayo ngaku! hehehe); apa sih yang bisa membuat buku-buku ini lancar jaya hilir-mudik di konter kasir?

So, muncul deh, ide brilian itu: Gimana kalo ngegabungin Chicklit dengan Fantasy? Kita bakal dapat buku KEREN yang sekaligus LARIS dong?? Wuhuy, bling-bling-bling!

Well, ini attempt ketiga yang kutemukan semenjak Nocturnal (Poppy D. Chusfany) dan Aerial (Sitta Karina) yang berusaha memadukan dua 'kekuatan' dalam dunia literasi komersil menjadi satu paket. Kalau dalam review terdahulu, Nocturnal menduduki posisi bagus. Aerial, belum saya review (upcoming, maybe, setidaknya dari rekan co-reviewer?). Bagaimana dengan Dunia Aradial... ups, Dunia Aradia?



Dunia Aradia karangan novelis Primadonna Angela menceritakan kisah seorang Ratu Penyihir di setting universe yang Chicklit-sangat.

Well, gini loh. Tokoh utamanya Chicklit banget (Cewek in the prime twenties, certain beauty, single and available, has all the money to spend, has her 'style' --walau sedikit berbeda dari taste kebanyakan-- dan untuk meneguhkan taste Chicklitnya minimal satu merk adibusana yang appropriate *harus* numpang lewat, possess something extra ordinary, dan related to some celebrity: ibunya)

Tokoh protagonis cowok juga tipikal Chicklit (ganteng, metrosexual look, tampang jauh dari lokal, dan dari 'luar buku' aja rasanya udah bisa kecium wangi parfumnya, dan most of all: eksis hanya untuk si tokoh utama seorang).

Eksistensi para tokoh juga Chicklit (simple, shallow. Cukup 'alive' untuk menghidupkan cerita, sih. Tapi gak sekompleks dan sedalam yang seidealnya, menurutku.).

Cara si tokoh utama memandang Dunia --walau kadarnya tak terlampau kental, yang artinya masih memiliki lebihan dibanding rata-rata-- juga Chicklit (semua hal terpusat pada dirinya seorang, as if no other existence drove the plot), Cara si tokoh menyelesaikan masalah juga berasa Chicklit (masalah selesai dengan 'mudah', tidak terlalu membutuhkan berbagai preparasi yang biasanya dialurkan sejak awal dalam plot, not so much personal development).

And even, OMG ('hate to say it...) --THE COVER!-- berasa Chicklit Alamak.

So, yeah, kalo kita strip-off everything 'Fantasy' yang ada di buku ini, maka gue cuma dapat a typical Chicklit. Not for me, iya lah. Dan it makes this novel beda posisi dengan Nocturnal di mata gue.

But let's not judge hastily. Kita di sini mau belajar. Dan for info, novel Dunia Aradia ini adalah buku kelima belas yang diterbitkan oleh Pengarang. Sudah ada empat belas portofolio berjajar di belakangnya. Okay, yeah. Mostly Chicklits. Tapi experienced writer she is, nevertheless.

Mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari.

Seperti aku bilang, saat seluruh aspek Fantasynya disingkirkan, buku ini memang tak lebih karya Chicklit konvensional. Sekarang let's put the Fantasy factor back. Dan harus diakui, factor ini cukup dikembangkan secara mumpuni oleh Pengarang.

Universe Dunia Aradia adalah universe metropolitan terkini dengan dunia penyihir secara paralel hidup bersama di dalamnya. Sedikit menyerupai universe Harry Potter, with a feminine touch (giggle). Apa yang disusun atau dikonstruk oleh Pengarang dalam universe ini tak terlalu orisinal, sebetulnya. Ada kesan mengambil bit by bit dari setting Fantasy yang sudah ada, dikumpulin dan dicompose menjadi suatu dunia Aradia yang cukup solid.

Satu hal yang menarik, Pengarang menetapkan bahasa Inggris sebagai 'Bahasa Sihir' di universenya. Konsisten dengan referensi nama Aradia 'Morgana', serta referensi Wicca yang dipergunakan, tampaknya Pengarang mengambil sari sistem universe sihirnya dari tradisi Celtic atau Anglic sana, gak jauh-jauh dari Harpot, dan jadinya sama-sama memoyang ke referensi King Arthur dan Camelot (Itu lho, mbah Merlin yg jadi guru besarnya. Walau, Harpot series pakai bahasa latinesque buat mantra-mantranya). Menurut gue ide sederhana tapi mengena dengan tepat.

Ya gak papa, ngambil dari yang sudah ada. Dengan demikian pengarang malah bisa menyusun settingnya secara lebih mendalam. Dan saya pikir, penerapan setting sihir di dalam novel ini tereksekusi cukup bagus. Terutama dari pemilihan mantera sihir yang gak asal dan bernilai sajak, lumayan.

Look at these:
Bring me two shades of story
remove me from any worry
into another dimension, I go, and you go
into another realm we move, to and fro
But this time, I'm bringing the key
But this tima, I can't and won't bring us back to our reality

Kemudian naming system. Yah, gak rumit-rumit sih, straight forward sebagaimana dunia sehari-hari. Dan Khas Chicklit banget. Yaitu nama-nama berbau Barat abiss (maksudnya sih metropolic names, hehehe. Emangnya bener ya Chicklit *wajib* using metropolic names?) liat aja nama: Jasper, Seth, Sylvan (tapi emang mereka gak murni orang lokal juga sih, heheh). Yah secara setting sih cukup masuk ajah, gak ada keberatan dari gue. Catatan untuk kakaknya Aradia, ada dua nama yang dipakai, entah typo atau sengaja: Eir dan Erin. Tidak ada penjelasan dari Pengarang.

Sistem logika, well. Apa yang lo harap dari Chicklit? Gimana ya. Seakan-akan sudah ada 'pakem' yang dipatok buat genre ini: Jangan bikin pembaca mikir terlalu berat (I don't know why Chicks seemed to be held against using their grey matters), so logika apapun yang berjalan di dalam novel ini adalah yang ringan-ringan aja. Sekedar membuat cerita berjalan smooth, tanpa harus terlalu menantang. Padahal kalo mau dilihat di sisi logika sistem sihir, sudah cukup kompleks dan genap Pengarang men-setnya. Yang penting pengarang berhasil membuat saya menikmati bacaannya tanpa perlu bertanya-tanya koq-gini-koq- gitu. Jelek? Ya nggak selalu, lah. Ringan kalo solid malah bagus, toh.

Lantas apa yang masih perlu dikritisi. Lha ini. Hal ini juga sempat bikin saya sedikit bingung, koq pengarang rada missed di part ini, ya: PLOT.

Well, Chicklit atau bukan, mustinya Plot harus bagus, dong. Dan itu adalah something universal. Pembaca pasti ingin dibawa menyusuri sebuah alur yang worthy of reading.

Plot Dunia Aradia inilah, yang gue nilai, kurang begitu baik dieksekusi. Cerita yang cuma 250 halaman memiliki alur yang terasa nggak fokus. Bukan soal paralel side stories, lho ya. Melainkan justru ga terasa adanya tema besar yang mengikat buku ini menjadi suatu 'cerita'. Secara ekstrim, saya bisa membagi buku ini dalam tiga potongan besar episode berurutan: Aradia The Queen of Witches, Aradia with (beautiful, metrosexual) Men, dan Aradia versus Shadowlords, dan ketiganya biarpun berurutan, gak terorganisir sebagai satu rangkaian kesatuan. Tiga hal itu sepertinya klip terpisah aja.

Memang ada benang merah cerita, tentu saja. Tapi at least saya expect ada situasi yang bisa dipertukarkan antar episode tadi untuk membuat plot lebih gurih, misalnya ancaman Shadowlord harusnya sudah terasa di bab-bab depan. Dengan peristiwa apa gitu kek, atau dalam rapat majelis paduka Ratu, gitu? Dan bagaimana peristiwa-peristiwa di bab awal punya signifikansi di bab-bab belakang.

Kalau di buku ini, tiga potongan besar itu terasa berlangsung sendiri-sendiri, sehingga terus-terang saja saya merasa urusan Shadowlord, misalnya, nongol tiba-tiba di halaman 137. Lho, padahal dalam setting ditetapkan bahwa antara kaum Shadowlord versus Penyihir sudah 'berseteru' selama ribuan tahun. Sementara di halaman-halaman depan, gak terasa tuh tingkah laku Aradia sebagai seorang Ratu Penyihir yang (suppose to be) punya peran mengawasi musuh-musuh kaumnya secara ketat. Dan dia bisa 'nggak tahu' beberapa knowledge inti mengenai shadowlord? c'mon!

Well, itu juga akhirnya yang membuat plot holes dan some logical holes mencederai buku ini. Oke lah, untuk Chicklit, shallowness semacam itu mungkin masih bisa diterima. Tapi kalo untuk Fantasy, sih, rasanya jadi cacat yang mengganggu, ya. Terus terang aja saya ngak bisa 'menerima' sebuah peran Fantasy (Ratu Penyihir) yang job descriptionnya ternyata cuma menjadi wasit pertengkaran antara dua penyihir memperebutkan cowok. Atau jadi mentor penyihir pemula.

Emang, Fantasy cenderung sangat berserius-serius diri, apalagi terhadap setting. Terlalu serius? Hehehe. Iya kali ya? Soalnya 'forte'nya Fantasy memang adanya di penciptaan universe. Sehingga pengarang Fantasy gak mungkin gak serius dalam hal itu. Setidaknya, setiap elemen setting harus punya alasan atau landasan cause-effects. Contohnya, ada jabatan Ratu, berarti 'cause'nya adalah ada (sistem) Kerajaan, sementara Kerajaan eksis be'cause' ada kaum dan wilayah yang perlu pengaturan dan 'effect'nya jadi ada hirarki. And so on and so on.

Kalau di Dunia Aradia, elemen setting semacam itu kurang tergali secara maksimal, walaupun saya yakin pengarang sudah menciptakan strukturnya secara cermat. Mungkin karena keterbatasan halaman, mungkin juga karena desain plotnya (or the lack of it?), mungkin karena karakter genrenya yang nggak memerlukan pendalaman semacam itu? Tapi suwer, gue jadi geli waktu dibuku ada kalimat: "JK Rowling adalah Queen of All Witches, bertahun-tahun sebelum Aradia". Lho ini gimana, sih? Ini posisi Ratu koq mirip sama posisi ketua arisan ibu-ibu? Padahal di lain pihak, ketika pengarang demikian erat menyulam dunia sihirnya dengan kehidupan kita sehari-hari, dunia rekaan Pengarang jadi instantly memiliki impact yang luas, make believe yang menjadi mudah berhasil.

Ketidak sinambungan plot juga memiliki efek negatif berupa informasi yang seolah sekonyong-konyong muncul, sehingga bahkan saya sampai mengira telah terjadi kesilapan editing. Misalnya tentang Shadowlord di atas. Gimana ya? Apakah memang sudah tuntutan genre? Bayangkan bagaimana rasanya membaca sebuah novel yang berisi adegan belanja-belanji, atau lirak-lirik cowok, atau kepusingan urusan domestik di depan, lalu ujug-ujug switch situasi genting bersama Darklords? Kalo ungkapan bodoh gue sih: What The ****???

Lalu salah satu yang cukup membuat kening saya berkerut: informasi bahwa leader Shadowlord yang tadinya disangka ayah Aradia teryata saudara tiri ayahnya. Pivot point sedahsyat itu cuma hadir melalui beberapa kata di halaman 241, dalam bentuk diceritakan pulak. Ouch. There goes the excitement.

Nah, bicara mengenai 'diceritakan', saya juga harus berkomentar pada cara pengarang bercerita. Well, ini bukan masalah penulisan semacam skill bikin kalimat, skill pemilihan kata dll, yang Pengarang sudah pasti mumpuni, lah. Tapi pada pilihan 'gaya' yang digunakan Pengarang untuk bercerita.

Apakah terpengaruh oleh tradisi Chicklit juga? Gak tau deh. Tapi saya merasa bahwa banyak penceritaan naratif, much like gossipers telling stories. Harusnya nggak aneh, sebab teknik seperti ini sangat wajar dilakukan. Tapi suatu 'feel' yang terasa gak pas di sini, cukup banyak adegan kunci berlalu tak seperti kita mengalaminya langsung, melainkan seperti diceritakan oleh orang lain.

Akibatnya jadi terasa kurang seru. Bahkan sampai tingkat mengesalkan (untuk diri saya). Contohnya saat adegan klimaks... wait. Come to think of it, jadinya nggak ada adegan klimaks! Lha wong adegan klimaksnya: si Aradia bertempur, diserang, pingsan dan... pindah bab. Masuk Epilog, semua udah beres. Diceritakan bahwa si Jasper anu-anu-anu ... tapi itu bukan adegan langsung, itu secondhand opinion.

Gak puas?? Jelaslah! Tapi aku jadi mikir, sekali lagi, apa karena realm-nya adalah Chicklit maka norma semacam itu jadi biasa? Aku mikirnya gini: pembaca chicklit mungkin nggak terbiasa dengan suatu adegan yang intense, sehingga pengarang pun menyesuaikan dengan shy-away dari adegan klimaks. So dengan paradigma seperti itu, buat saya jadinya gak aneh bila Pengarang lebih memilih untuk menginvestasikan halaman-halaman bukunya pada detail belanjaan, atau busana, atau cowok keren, dibandingkan urusan peperangan dunia penyihir. Padahal, pengarang mampu loh, menggambarkan pertarungan sihir yang keren!

Bicara detail dunia sihir, harus diakui buku ini cukup kuat. Walau mungkin bukan pada detail visual seperti Harry Potter dengan visual-fiestanya yang menawan, Dunia Aradia memiliki kekuatan pada detail sistem 'ilmu' sihirnya itu sendiri. Setiap mantera dikonstruksi dengan cermat, dan sistem sebab-akibat sihir-nya terjaga baik. Ada hukum Three Laws segala untuk mengatur dunia sihir. Ada historical 'track-back' ke legenda Menara Babel segala, yang membuat settingnya jadi terasa 'wuah'. Aku bayangkan kalo setting ini diolah secara lebih 'fantasy', bakalan jadi karya yg keren.

Juga dalam menggambarkan adegan kehidupan sehari-hari, pengarang sangat bersinar. Pembaca merasa sangat nyaman mengikuti kehidupan si Ratu sihir ini, sampai pada tahap kita merasa mereka bener-bener 'alive' di sekitar kita secara wajar. Konflik Tante-Keponakan antara Aradia dengan Jasper, berasa 'domestik' banget seolah-olah mereka sudah tetangga kita sendiri. Kurasa, memang faktor ini merupakan salah-satu kekuatan genre Chicklit, yang membuat mereka mudah diterima oleh market.

Namun demikian, ketika kita memposisikan buku ini sebagai sebuah buku Fantasy, terasa bahwa semua berlangsung dangkal. Nggak cukup 'depth' atau 'oomph' yang membuat saya selaku penggemar Fantasy merasa fullfiled.

Lalu, apa harga pengalaman empat-belas buku yang disandang Pengarang terhadap karya ini? Well, selain teknis penulisan yang oke punya, ada satu kompetensi yang harus bisa kita pelajari juga, yaitu keahlian dalam mengemas novel. Aku salut banget sama Sinopsis di halaman belakang. Singkat tapi high-impact. Dan kuat banget bahasa komunikasi genre-nya.

Lihat nih:

Aradia Morgana. Pertengahan dua puluhan. Selain karena menjadi penerjemah, tuntutan pekerjaan membuatnya banyak bepergian. Tidak dengan menggunakan kendaraan biasa, namun dengan cara teleportasi!

Itu satu paragraf yang nggak sekedar singkat, tapi sangat komunikatif dan langsung menohok. Dan mengandung semua elemen kunci novel ini, mulai dari karakterisasi Chicklit banget-nya, sampai kejutan elemen fantasy-nya di ujung paragraf! (pas bagian teleportasi).

Pembaca akan langsung hooked dan penasaran. Terjadilah penjualan saat itu juga, hehehe. Jarang gue lihat sinopsis seefektif ini dalam terbitan-terbitan Fantasy lokal. Tapi emang sih, gue gak tahan liat ilustrasi sampul belakang (yg tentu saja Chicklit abiss): Cewek diapit dua cowok metroseksual abisss (sambil liat ke cermin dan membandingkan --oh, dimanakah mereka meletakkan perut orang-orang itu?)

Well, demikianlah pembelajaran saya atas Novel Ratu Penyihir ini. Dunia Aradia adalah sebuah upaya penciptaan setting secara cermat dan saksama, renyah dan akrab, yang disajikan melalui racikan plot yang kurang lezat. Restorannya cuakep, mewah, tapi masakannya gak kuasa menggoyang lidah. Memuaskan? Buat gue sih, kurang puas, ya.

Coba disempatkan si koki lebih lama memasaknya, atau lebih mantap bumbunya. Mungkin akan jadi restoran yang punya magic spell untuk terus didatangi, dan didatangi lagi :)

Salam,



FA Purawan

Minggu, 26 Juli 2009

MANTRA-Rahasia Kitab Malaikat (Sutanto Ari Wibowo - 2009)


Penerbit: DIVA Press
Editor: Elis Widayanti
Tata Sampul: Gobaqsodor
Tata Isi: A. Budi
Pracetak: Ita, Dwi, Yanto
Tebal: 413 halaman

Sebuah Novel Menggetarkan, demikian bombastisnya tag-line, yang bahkan dengan percaya-diri-sangat sampai dibubuhkan berkali-kali bersanding judul. Saya catat ada di empat tempat: cover depan, cover belakang, punggung cover, dan judul dalam. Sehingga, bisa saja orang menyangka judul lengkap Novel ini adalah: MANTRA (Rahasia Kitab Malaikat) Sebuah Novel Menggetarkan.

Haduuh, susah amat jualan di hari gini, hehehe.

Sebuah karya perdana dari Sutanto Ari Wibowo, seorang lulusan STM otomotif mantan pekerja swasta di daerah Cikarang yang --demi obsesinya menjadi pengarang-- memutuskan untuk kembali ke Kampung halaman di Kabo, Beluk, Bayat, Klaten.



(Lho kok malah menjauh ke kampung, to Mas? Bukannya komunitas penulis-pengarang itu justru mendekat ke Kota, setidaknya ke sentra-sentra Pendidikan/ Kampus? Tapi mungkin di kampung suasananya lebih asik, dan lebih menggugah inspirasi, ya. Siapa tahu? hehe.)

MANTRA mengambil genre Fantasy, sebuah genre yang masih saja dipersepsikan sebagai genre 'gampang' karena --konon-- cukup bertumpu pada imajinasi pengarang yang tentunya tak berbatas. Sehingga dengan gampangnya seolah setiap kemungkinan dapat terjadi, dan semuanya dapat diciptakan sebesar kekuasaan pengarang sebagai pemilik imajinasi. Lho, kenapa gue jadi sinis? Sebab agaknya melihat keterlalupedean Pengarang/ Penerbit membikin tag-line seperti di atas, saat dibandingkan dengan materi yang diterbitkan, kuindikasikan pola pikir Pengarang dan Penerbitnya pun belum jauh-jauh dari salah kaprah itu.

Dipikir bikin kisah Fantasy itu gampang?

Let's see, tinggal bikin kerajaan, bikin musuh kerajaan, terus bikin chaos, bikin Raja-Permaisuri-Keluarga kena masalah, terus bikin si tokoh yang jadi the chosen-one, terus kasih si tokoh suatu 'kunci' untuk menjadi ultimate hero, terus bikin arch enemy yang jadi pelayan-agen-nya the ultimate enemy, terus bikin pertempuran ultimate hero melawan ultimate enemy, akhirnya terus bikin adegan pengangkatan ultimate hero menjadi Raja baru. Done!

Terus untuk memperkuat 'rasa' Fantasy, marilah kita bikin nama-nama berbau asing. Yeah! Gak usah tanya bagaimana nama-nama itu terwujud. Ini Fantasy, man! Imajinasi tak terbatas, man! Apapun bisa dibikin dan jangan kekang kreativitasmu dengan dogma-dogma yang memenjaramu!

(Sebenernya, kalaulah MANTRA sekedar menerapkan rumus 'lugu' di atas, aku nggak akan terlalu mencak-mencak. Itu rumus khas pengarang-fantasy-pemula, tak salah-salah amat, walau sebaiknya dihindari oleh pengarang-pengarang yang udah terpapar sama Blog Fikfanindo,.. hehehe *sok penting mode-ON*. Tapi MANTRA punya faktor-faktor 'ngasal' lainnya yang membuat novel ini menjadi jelek di mata gue. Gue jelasin nanti aja).

Yeah, kalo pembaca udah ngikutin saya sampai sini, pasti udah bisa memperkirakan penilaian saya terhadap novel ini. Yup. MANTRA bukanlah novel yang bagus, alih-alih menggetarkan. Tapi itu justru menjadi materi yang 'bagus' buat Fikfanindo, bukan? Dari mana lagi kita belajar menulis lebih baik, selain dari membedah karya-karya ngga bermutu? (OK, I'm being too selfishly rude, here. Gue perhalus: karya yang masih memiliki sejumlah kelemahan, karena sesungguhnya kelemahan adalah milik kita bersama!). Minimal kita bisa mengetahui apa saja yang musti kita hindari. Dan thanks to mas Sutanto dan DIVA Press, pembelajaran kita kali ini menjadi sungguh -ehm- 'menggetarkan'.

Pertama, let's talk about desain cover. Gak jelek, sebenernya. Cover langsung berbicara sebagai novel Fantasy, dengan montase grafis berupa wajah seorang gadis bercadar tertutup setengah, seorang pria tampak punggung berbusana ala Victorian, sebuah istana di tengah padang gurun, serta sesosok (kemungkinan tokoh antagonis) tentara berbaju zirah model Timur dengan wajah Mongoloid. Sedikit-banyak mengambil nuansa trendy Novel-novel 'Islami' yang berebutan memirip-miripkan diri dengan Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik (memiripkan cover, tepatnya), namun dengan properties yang lebih unik yaitu busana dan istana yang sangat mengesankan Fantasy. Well, biar bukan seleraku, kupikir Covernya cukup menjual, lah. Dan ceweknya sumpah mirip banget sama Cameron Diaz, gak tahu tuh si Graphic Designer, Gobaqsodor, dapet comot dari Film mana, hehehe. Tapi suwer, ini contoh Cover yang by itself akan sukses menarik pembaca untuk membeli novel, tanpa tahu bahwa antara Cover dan isi gak terlampau berhubungan.

Di cover belakang tercetak Sinopsis Novel yang --sampai ada yang protes juga di Forum-- semata mencuplik halaman Prolog. Gila. Those act alone udah cheap, belum ditambah dengan penjabaran sinopsis-prolog yang --dengan polosnya-- langsung membeberkan kualitas-kualitas mediocre buku ini sejak paparan pertama! Dari mana aku bisa bilang begitu? Well, ini sekedar kesan pribadi aja kali yee,... tapi I cannot help it. Radar gue langsung mengatakan ada yang 'salah' saat sebuah Sinopsis yang udah ketahuan banget plot dan 'gimana bakal diolah'nya, menutup dirinya dengan mengatakan: "Simak cerita seru novel menggetarkan ini yang akan membuat Anda tegang dan bergidik dari awal hingga akhir!"

Yah, gak ada salahnya sih jual diri, tapi, gimana ya? Statemen seperti "Tegang" dan "bergidik" itu rasanya terlampau bombastis, seperti juga "menggetarkan". Akibatnya jadi overpromise. Dan celakalah overpromise kalau di ujungnya ternyata "under-deliver". Dan aku ngaku di sini: Statemen seperti itu sumpe gak bikin aku penasaran akan 'seru'nya novel, melainkan sebaliknya, penasaran seberapa bad it can get!. Point: hati-hati dengan janji anda!

Sinopsis halaman belakang itu juga sukses membuat radar gue bereaksi berkat sejublek nama-nama aneh yang tertera di situ: Raja Keindizie Romein, Kerajaan Afzein, Kerajaan Dombire, Ratu Nivera. Wow, Paragraf pertama udah slaps 4 nama asing. Dilanjutkan dengan: Raja Keintjizie Romein, Panglima Romuza, Kizzorgy Poesie, Kakek Herdtqolf. Altogether udah 8 nama 'fantasy-wanna-be', bahkan sebelum cerita dimulai!

Gue nyengir. Gak kebayang ada berapa lagi di dalam.

Dan cengiran gue bersambut dengan setidaknya data berikut ini.

Here goes, 'Fantasiyah Names' in order of appearance:

1. Keindizie Romein
2. (Kerajaan) Afzein
3. (Kerajaan) Dombire
4. Nivera
5. Keintjizie Romein
6. Romuza
7. Kizzorgy Poesie
8. Herdtqolf
9. Giffins
10. Qollie Poesie
11. Vidderol
12. Willhole
13. Bibi Lily
14. Meltrein
15. Sally Poesie
16. Tuan Poddy
17. Tuan Ogst
18. Tiffany
19. Grins
20. Litta Peavey
21. Hirroqla
22. Zerrox
23. Tuan Verrys Vortin
24. Snerpen
25. Blackky
26. Geevon
27. Hanks
28. Bobby Boot
29. Fingger
30. Schakel Volt
31. Carry Catzel
32. Maigrett Hutson
33. Reizen
34. Cycloon
35. Tuan Nuttigheid
36. Zavier Lattosa

Plus:
37. (Jurang/ Pantai) Ruttcivil
38. (Burung) Reuz
39. (bukit) Soury
40. (tenaga) Xyfort
41. (pegunungan) Winstille
42. Lottuse
43. (lambang) Edelblitt

Nah, rekan-rekan lihat sendiri, ada 43 names, 43 incoherent names bermunculan di buku ini, ada nama-nama yang bahkan baru hadir belakangan di halaman-halaman buntut. Dan perhatikanlah nama-nama tersebut, coba baca urut satu persatu dan coba temukan apakah ada suatu benang merah, suatu kesamaan 'rasa' yang bisa mengacu pada suatu kesinambungan budaya, bahasa, yang menjadi dasar pengucapan nama-nama itu. Bagaimana pengaturan nama manusia, nama hewan, nama fam/ keluarga dll.

Nope. It's just incoherent names, taken from thin air, I guess. Udah gitu trus bacanya gimana, ga jelas. Ambil contoh nama Herdtqolf. Mari kita baca Herdtqolf sekali, Herdtqolf dua kali, Herdtqolf delapan kali,... pegel gak? Tapi perhatikan satu 'benang merah' dari penulisan nama-nama di atas: sebagian besar menggunakan dobel konsonan. Perlunya apa dibuat begitu, rasaya gak terlalu jelas, mungkin sekedar gaya cipta sang pengarang aja.

(Ooh, jadi agar terasa 'Fantasy', sebuah nama aja harus dibikin 'rumit', ya?)

Tentu saja nggak. Bahkan kita bisa belajar dari Stephen King dalam bukunya: "Stephen King on Writing". Ada contoh yang bagus. Stephen King membuat sebuah nama tokoh Mr. Ostermeyer dalam draft novelnya: The Hotel Story (judul finalnya menjadi: Room 1048). Dan belakangan beliau me-find-replace nama tersebut dengan nama yang justru lebih gampang, Mr. Olin.

Lho, kenapa? Bukankah Mr. Ostermeyer lebih keren, gitu lowh? Ternyata pertimbangannya simpel tapi cukup substansial, antara lain:

1. Dengan merubah nama ytd 9 huruf menjadi 4 huruf, dia sudah memperpendek jumlah halaman draftnya secara cukup signifikan.
2. Rencananya naskah itu juga mau dijadikan audiobook (novel yang dibacakan), dan dia ngebayangin betapa repotnya sang Narator, atau dirinya sendiri, bila setiap saat harus mengucapkan Mister Ostermeyer berulang-ulang.

Nah, seorang Stephen King aja punya strategi dalam membuat nama tokoh. Bagaimana dengan kita? Okelah, mungkin ga perlu siapin strategi yang macem-macem, cukup gimana kalau kita mengkonstruksikan nama-nama yang 'masuk akal' dalam Universe kita, gak usah bikin 'aneh' just for the sake of 'aneh'.

Ada juga komentar dari teman-teman di Forum Pulpen (http://www.lautanindonesia.com/), bahwa penamaan Kizzorgy Poesie sebagai tokoh protagonis terasa gak cocok. Kizzorgy Poesie (kalau diurai bisa menjelma menjadi sesuatu yang berkonotasi,... not too appropriate) yang dipanggil: Zorg, dikomentari lebih cocok menjadi nama tokoh antagonis, misalnya nama monster atau penjahat. Rasanya aku setuju juga. Nama memang membawa karakter terpendam. Pengarang mestinya lebih jeli, walaupun kontradiksi dalam hal nama masih mudah diselamatkan melalui penjabaran karakterisasi yang kuat.

Bicara karakterisasi, buat saya di MANTRA ini masih di bawah standar, bahkan terancam lebih rendah lagi akibat inkonsistensi perilaku terhadap plot. Karakter yang ada semata hitam-putih, dengan perilaku klise. Dan yang bikin parah adalah pengarang tidak mengendalikan perilaku mereka agar konsisten terhadap plot. Dalam banyak adegan, setiap tokoh bisa bertindak di luar karakter. Dan cacat ini paling terasa di adegan-adegan 'ngebanyol' yang dibuat oleh pengarang.

Eh, gue bukannya anti humor. Tapi seyogyanya humor diperlakukan sebagai plot device dalam posisi dan porsi yang relevan. Humor salah-tempat akan membuat excitement adegan menjadi rusak. Mirip sama situasi dimana seorang manager membuat lelucon di dalam rapat yang dihadiri Direktur Utama, terus karena leluconnya garing, bukannya hadirin tertawa dia malah dipelototin pak Dirut.

Banyolan 'asal' di novel ini,.. begitu bejibun sampai --bagi saya-- bener-bener ngerusak seluruh buku! Umumnya banyolan di sini dieksekusi dalam bentuk pertengkaran verbal antara dua tokoh. Ada antara Zorg dengan his side-kick Giffin, antara Zorg dengan kakek Herdtqolf, antara Zorg dengan Romuza (musuhnya!), tokoh A dengan tokoh B, B-C, C-D, B-D, you get the picture. Pertengkaran-gak penting-ngeselin macam itu bisa terjadi dalam segala situasi. Situasi rileks, situasi tegang, bahkan dalam situasi bergidik (jangan lupa, Novel ini menjanjikan anda 'tegang' dan 'bergidik', kan? Hehehe).

Kalo mau ngebayangin, bayangkanlah sebuah adegan film Fantasy yang dibintangi oleh para pelawak Srimulat plus Haji Bokir dkk, dan di tengah-tengah adegan suspense mulailah mereka bertengkar --dengan usaha keras untuk terlihat lucu-- bisa dengan komentar-komentar non-sequitur konyol atau adegan slapstick. Dan terus-terang, saya nggak bisa tertawa untuk itu. Entah bagaimana dengan anda. Atau kalau mau pengandaian lain, lihat saja ulah trio Komeng-Adul-Olga berusaha melucu dengan inkoherennya dalam Gong Show-TransTV, sehingga ulah mereka justru menihilkan pertunjukan para bintang tamu (yg udah berlatih dengan keringat dan darah untuk tampil di TV) secara miserably ngga lucu.

So humour, I think is the worst part of this book.

Cacat lainnya yang sebetulnya gak terlalu fatal, tapi cukup menimbulkan pertanyaan bahkan mengarah ada kesimpulan 'dangkal-setting' untuk novel ini, adalah penggunaan properties yang rada 'ngasal' (baca: gak jelas dasar teorinya).
Perhatikan properties berikut ini:

1. Kunci Ajaib
2. Rompi Anti Baja
3. Jubah Tak Terlihat
4. Alat Perekam + Charger
5. Senapan Bius
6. Sepatu Karet
7. Foto
8. Jam dinding
9. Jam tangan
10. Film (ref: Film-film percintaan)
11. Perangkap tikus berukuran sangat besar
12. Gas air mata
13. Pistol
14. Laba-laba pelacak yang kalau marah menggigit hidung orang
15. Minuman Coklat
16. Minuman Ginseng hangat
17. Senter
18. Per-loncat Sepatu
19. Alkohol
20. Kemenyan
21. Semen

Sebagian besar properties muncul begitu aja tanpa penjelasan darimana dapatnya, bagaimana cara kerjanya, teknologinya dll. Perkecualian untuk beberapa pernik yang dibuat oleh Tuan Poddy (Tuan ini apa kerjanya di istana, gak jelas. Kayaknya semacam penemu, tapi kelihatannya hanya bekerja untuk menciptakan barang-barang yang 'kebetulan' dibutuhkan oleh Zorg! Gak ada referensi dia bikin inventions lainnya untuk kehidupan istana tersebut); Misalnya Sepatu karet, Sepatu ber-per, Alat Perekam, Senapan Bius.

Dan itu pun gak dijelaskan teknologinya secara nalar. Salah satu contoh adalah alat perekam portabel, diceritakan bisa digunakan untuk record dan playback audio (MP3 player ala Fantasy!), yang MENGGUNAKAN BATERAI DAN HARUS DICAS (Catatan: Kata-kata "di-charge" bener-bener ditulis "di-cas"! Apakah memang demikian menurut KBBI?). Numpang tanyaa Baaang! Ntu dicasnya di stekker nyang mannnahh??? Di istana ini gak ada stekker!!

Alamak! Ga tau lagi harus komentar gimana. Kayaknya kalau gue maksain analisis yang 'proper' malah akan kedengeran sebagai orang sotoy. Tapi beberapa properties memang seperti kontradiktif keberadaannya dengan setting dimana universe MANTRA dibangun. Seperti misalnya alat perekam itu, musti dicas di mana, wong setting Afzein sepertinya tidak ada listrik. Terus gimana bisa ada FOTO keluarga (ini keluarga petani, mind you) itu cuci-cetaknya dimana? Fuji Film? Kenapa gak disebut lukisan aja, yang lebih masuk akal. Dan keanehan-keanehan semenyolok itupun dibiarkan berlalu tanpa penjelasan.

Jubah Tak Terlihat, yang suppose to be barang 'rahasia' (udahlah, telak-telak niru Harry Potter nich!), tadinya kupikir hanya ada satu stel dan gak banyak orang di kerajaan itu yang tahu bahwa ada barang kayak gituan. Gak tahunya di adegan akhir, bisa dipakai oleh empat orang,.. berarti ada empat stel, dong! Oh nggak, boss: ada SE-LEMARI! Wahahaha (becanda).

Dan sepertinya merupakan barang yang biasa aja beredar, secara ngga ada yang heran-setengah-mokad ngelihat Jubah Tak Terlihat (BTW, gimana caranya melihat Jubah Tak Terlihat, yach? *Garuk-garuk pala*). "Wuits, so apa masalahnya," tanya lo? Itu Grand issue, bro. Kalau keberadaan barang antik semacam Jubah Tak Terlihat itu sudah common di istana tersebut, maka seluruh kehidupan sosial akan berubah. Akan ada cara-cara yang umum untuk mencegah orang menerobos privasi orang lain menggunakan jubah tersebut, akhirnya efektivitas barang macam itu juga akan ter-compromise. Kepikir sekarang, gimana konsekuensi timbal-balik untuk fakta yang kelihatan remeh ini? Yup, inilah yang bikin kenapa Fantasy gak segampang Pure-Ngayal.

Zorg punya "Kunci Ajaib" (entah gimana asal-muasalnya) yang bisa dipakai membuka berbagai macam pintu, tapi ngga sekalipun dipakai untuk membuka rantai narapidana yang mengikat kaki si Zorg selama bertahun-tahun. Look who's been so smart afterall.

Rantai ini pula. Ini adalah termasuk jenis "Properti seingetnya". Maksudnya hanya di-mention oleh pengarang dikala inget, dan diabaikan keberadaannya dikala pengarang lupa. Berbagai action yang menjadi mustahil, seperti berlari, menendang, berjalan-jalan di tengah mayat-mayat-berbelatung-terinjak-di kepala-matanya-loncat tanpa 'ewwww-nya' nyangkut, mengendap-endap tanpa mengganggu gerakan (atau bergemerincing acan) dikerjakan pada saat rantai masih terpasang sentosa di kaki si Zorgie.

Lupa,... lupa-lupa-lupa, lupa lagi rantai-nya. :)

Contoh "Properti seingetnya" yang lain adalah Prajurit Afzein. Gak jelas tuh istana punya berapa prajurit dan ada dimana. Kadang kalo lagi diperlukan (oleh pengarang) ada satu dua yang menjaga koridor. Tapi di adegan lain gak eksis. Bisa aja ada adegan dimana prajurit seolah menghilang semua, sehingga tokoh-tokoh itu bisa berkeliaran di istana tanpa kepergok satu prajurit pun. Tapi, laginya mau perang, tau-tau langsung ada 4500, sementara di halaman-halaman sebelumnya seratus pun gak terasa keberadaannya. Yang 4500 di hal. 389 aja bisa bengkak jadi 7000 hanya dua halaman setelahnya di hal. 391!

So ini peringatan buat semua pengarang termasuk saya juga. Please selalu ingat dengan kondisi fisik-mental setiap karakter kita, properti setting kita, setiap waktu. Error kasus Rantai di atas adalah contoh ekstrim-tapi-nyata, sementara dalam kasus yang lebih sederhana (oleh karenanya sangat mungkin kita overlook) mungkin terjadi juga dalam karya-karya kita.

Terus ada propety burung kesayangan kakek Herdtqolf yang meneteskan air mata kehidupan (Fawkes, anybody?) bernama Geevon. Rupanya inilah the secret recipe dari ketabiban kakek Herdtqolf! Tapi nih burung gak sembarangan bisa meneteskan air mata kehidupan! Harus dinyanyiin dulu oleh kakek sendiri dengan lagu seperti ini:

Ketika sayapmu patah
Kau takkan bisa terbang
Ketika kakimu luka
Kau takkan sanggup menerkam

Menangislah, Geevon yang lucu
Sahabatmu sedang menunggu.

Tak lama setelah itu, Geevon terhanyut oleh suasana dan segera mengeluarkan air mata (hal.344)

(silently, aku juga mengeluarkan air mata. You know how & why)

Setelah names & properties dibelejetin secukupnya, apa lagi yang bisa kita gali dari novel ini?

Gimana ya, Pengarang memang masih perlu belajar menulis lebih baik (kita pun juga!). Dari apa yang saya baca, saya melihat kualitas tulisan mas Susanto masih naik-turun. Kadang ada frasa yang bagus, tapi frasa lain justru jeblok. Saya merasakan inkonsistensi, seolah yang menulis itu bukan satu orang yang sama.

Tulisan mas Susanto, apabila dibaca dalam kelompok kecil-kecil, misalnya satu paragraf saja, masih terasa Okay. Tapi kalau dilihat bangunan-besar nya, maka akan terlihat sambungan-sambungan logika, sambungan irama, sambungan suasana dan sejenisnya masih terasa rapuh.

Terus, siapa itu yang punya ide ngawur menjadikan Sinopsis sebagai Prolog?? Prolog koq ngebeberin overall plot? Mendingan juga adegan pembuka "un-balsaming-nya si Zorg" itu, rasanya cukup kuat digunakan sebagai Prolog (terlepas dari isi adegannya, yang menurut gue merupakan konsep adegan paling ancur yang pernah gue baca. Tapi kreatif nevertheless!). Atau ya ga usah pakai prolog sama sekali juga gapapa, koq.

Satu catatan dalam teknis penulisan, atau tepatnya di sini adalah pembagian informasi/ adegan, Pengarang cenderung menyampaikan informasi terkait satu adegan secara sekaligus menjelang adegan tersebut dieksekusi. Misalnya mau menyampaikan adegan A, maka segala informasi terkait adegan A tersebut disajikan 'ngumpul' dalam paragraf-paragraf yang menduluinya. Memang di satu sisi teknik itu membuat pembaca keep informed. Tapi sekaligus juga membuat pembaca yang cerdas akan langsung dapat menebak apa yang akan terjadi, dan bacaan jadi kurang seru. Kurasa pengarang perlu mengembangkan teknik penyajian informasi secara berjenjang dan bertahap, supaya hasil karyanya lebih appealing. Ini juga buat menjaga agar 'grand-design' cerita juga dapat terpelihara.

Terus kelemahan logika adegan juga banyak terjadi. Yang paling mendasar aja, soal time-line (alur waktu-- adalah merupakan landasan hubungan logika sebab-akibat dalam plot sebuah novel) masih belum diperhatikan dengan baik. Informasi time-line agaknya kacau atau baur. Saya mencoba menyarikan dan menemukan kira-kira seperti ini:

Saat Zorg bayi --> serangan pertama kerajaan Dombire. Ayah Zorg, Raja Keindizie, tewas.
Masa kanak-kanak --> Somehow Zorg jadi anak petani, kekuasaan dipegang oleh Raja Keintjizie. Sudah berteman dengan Tiffany di kampung, dan Giffins (gak dijelaskan berteman dengan Giffins di mana, tapi disebutkan sebagai teman masa kecil)
Umur 10 tahun --> Zorg dipenjara seumur hidup karena membawa kotak berisi peledak Nexus (sic!), selama di penjara sering ditengokin Giffins.
Umur 14 tahun --> keluar dari dungeon, rubah status menjadi tahanan-pencuci-piring
Umur 16 tahun --> Raja Keintjizie meninggal diguna-guna.
Umur 17 tahun --> status menjadi pemelihara taman,
Umur 18 tahun --> time-line saat ini. Entah gimana dia dibunuh dan entah kenapa bodynya dibalsem selama dua hari, dan sepuluh hari lagi adalah penentuan Raja ketiga. Kalo keturunan Raja yang sah gak nongol maka Panglima Romuza menjadi Raja.

Time line di atas disajikan secara campur aduk, informasinya bertebaran di berbagai tempat, sehingga --jangankan pembaca-- Pengarangnya tampaknya juga bingung dan rancu, sehingga sempat terjadi kesalahan. Misalnya Permaisuri (ibunya Zorg) dikatakan masih hidup, sementara tampaknya yang dimaksud adalah Permaisuri (kakak iparnya Zorg) (Hal.65)

Juga kondisi Kota Afzein dimantrai oleh Ratu Nivera (sehingga menjadi kota yang diselubungi force-field mematikan, gak ada orang yang bisa keluar-masuk Kota) dikatakan sudah berlangsung "beberapa puluh tahun" (hal.410), sementara peristiwa penyerangan itu berlangsung saat Zorg bayi (it means only 18 years ago, max!)

Terus apa logika yang mendasari konsep: Sepuluh hari lagi penobatan Raja, kalo Kizzorgy gak muncul maka kekuasaan beralih ke Romuza? So, ada 'peraturan kerajaan' di mana kerajaan bisa vakum selama dua tahun tambah-kurang sepuluh hari untuk menunggu 'datang'nya sang keturunan,...wait! SIAPA yang tahu Kizzorgy (the other Son) masih hidup?? He's been declared dead since the FIRST attack, that is 18 years ago! Ga seorang pun suppose to be tahu bahwa Kizzorgy selamat di tangan seorang petani gandum (yang menanam gandumnya di sawah, BTW). Orang-orang Afzein gak ada kerjaan itu gak punya alasan apapun untuk menunda cari Raja baru sampai 2 tahun sejak meninggalnya Raja Keintjizie!

Sekarang logika motivasi para karakter. Let's see:

1. Kizzorgy yang narapidana cilik turns to be heir to the throne: Motivasi terbesar dalam hidupnya adalah cuma makan Daging Panggang dan Kepiting Bakar. Nothing else. Kenapa dia mau-mau aja didapuk jadi calon Raja dari kerajaan yang udah semena-mena mengabuse kebebasannya selama bertahun-tahun tanpa peri-kemanusiaan, dengan cerita-cerita bullshit soal him-being-the-heir-of,... itu aja udah gak kena. Belum soal kitab rahasia malaikat-(ini ntar gue kupas tersendiri)-cum-tato-sayap-malaikat bla-bla-bla,... ini gak maen logika. Ini mainnya Egosentrisme!

2. Kakek Herdtqolf: aki-aki gak punya kerjaan jelas (Tabib kerajaan?) yang tanpa penyebab jelas juga telah membalsem tubuh Kizzorgy (kalo cuma mati suri dua hari ngapain juga diawetkan sih?) dan ujug-ujug merejuvenate-nya trus mengatakan bahwa dialah sang pangeran. Motivasinya adalah menjadi mentor dan penyampai kitab pusaka rahasia malaikat. Dan mukul pantat si Zorg along the way.

3. Giffins: kurcaci sidekick yang ukuran tubuhnya bisa meninggi secara gak disadari oleh pengarang (biasaaa,... "property seingetnya"!). Motivasinya dalam cerita adalah makan, buang air besar (seriously!), menggerutu, bertengkar dan menolong sahabatnya Zorg setulus-tulusnya tanpa mengharap imbalan apapun kecuali bisa nyabet jatah makan siang Zorg untuk dirinya.

4. Tiffany: cewek cantik kekasih-sahabat masa kecil Zorg yang,.... ga punya motivasi kecuali sebagai pemanis cerita. She's a doll not a person.

5. Romuza: panglima kepercayaan Raja yang membelot menjadi penjahat sejahat-jahatnya. Motivasinya berubah-ubah sesuai suasana hati pengarang, demikian pula sifatnya yang sebelumnya (konon) kejam/ sadis, bisa menjadi lembek/ cengeng, terutama setelah menjalani adegan slap-stick pemukulan hidung yang bertubi-tubi itu. Terus gak ngerti gue, kenapa nih orang dengan kekuasaannya yang besar (pengganti Raja, gitu loh!) gak --gampangnya-- tangkep aja si Kizzorgy dan langsung dieksekusi, gak usah pake aksi ploy-ploy-an pake silent asassin segala. That smart@ss stays in YOUR castle, for G*d's sake!! Now let's hear a quote from the He-who-is-most-feared Romuza, "Kau tidak keberatan kan, Anak muda? Atau, aku harus menyuruh pengawalku untuk mencubit pahamu sebagai tanda permintaanku?" (Hal. 43). Awwww, Bo! Ngeri dewh akikaw!!

6. Ratu Nivera: Musuh sejati, yang nggak menginginkan apa-apa kecuali menjadi musuh sejati kerajaan Afzein! Tulus bangetz. I mean, setelah membunuh dua Raja. Dia cuma memagari Kota Afzein dengan Bad-spell untuk tujuan yang gak jelas (apa gunanya mengurung penduduk berpuluh tahun dan minta tumbal tiap enam hari sekali? Tuh penduduk seharusnya udah mokad abis di tiga bulan pertama karena kelaparan!), lalu duduk-duduk di Istana kegelapan bersama pasukannya dalam adegan-adegan yang sangat-banget-mirip-adegan-kethoprak.

7. Dan karakter-karakter lain yang timbul-tenggelam dari panggung hanya sebagai figuran dari aksi-gaya si tokoh utama: Kizzorgy Poesie!

Omong soal timbul-tenggelam dari panggung, dan kethoprak, gue jadi kepikir bahwa cara Pengarang menghandle para karakter novel ini mirip banget sama gaya Dalang mengeluarkan wayang dari kotak untuk satu adegan lalu memasukkan kembali setelah adegan selesai, silih berganti. Rasanya persis seperti itu. Artinya para karakter seolah tak punya hal lain untuk dikerjakan selepas dia berurusan dengan si Zorg. Tidak punya 'kehidupan' lain.

Ya itulah, manajemen Motivasinya masih belum bagus. Siapa melakukan apa karena apa, masih gak terlalu dicermati oleh pengarang. Semua masih terpusat pada sosok Zorg seorang.

Ini juga aku sebut sebagai Egosentrisme. Everything is about Zorg.

Come to think of it, mendingan dia dinamain Egos aja, daripada Zorg, hehehe. Seluruh cast-karakter dalam buku ini seolah didesain hanya buat mengglorify si Zorg, even sampai cara Zorg melakukan monolog aja, ujung-ujungnya terasa hanya buat efek self-glorification. Yeah, I know about alter-ego. Gimana pengarang mensublimasi ego dirinya ke dalam ego tokoh utama novel. Itu naluriah wajar, manusiawi. Tapi this is already over the top, man! Pembaca sampai gak kebagian tempat.

Segitu egosentris sampai berpengaruh ke logika cerita juga. Dalam hal ini pengarang terlampau 'menjagokan' tokohnya sehingga dia berada di luar 'batas' karakter yang logis dalam universe Afzein.

Contohnya dalam hal mumbo-jumbo tato sayap malaikat sampai tenaga Xyfort (tenaga-dalam yang namanya seperti merk obat). Konon katanya, tenaga ini hanya dimiliki oleh pewaris Raja. Dan dengan tenaga inilah akhirnya si Zorg bisa membabat habis monster-monster ganas termasuk mengalahkan Ratu Nivera, dengan perlawanan relatif enteng. Well, ada yang terlupakan. Logikanya ngga cuma si Zorg yang punya Xyfort, mustinya abangnya si Keintjizie dan bokapnya si Keindizie juga punya lah, dan bahkan mereka suppose to be lebih menguasai Kitab Rahasia Malaikat dibanding si Zorg (soalnya belajarnya lebih serius, ga kayak si Zorg yang cuma sempat baca sepotong-sepotong). Tapi koq mereka gak berdaya melawan si Ratu jahat itu, ya? Cuma Zorg yang hueebbats!

Trus adegan sembah-sembahan, adegan sanjung-menyanjung dan penyebutan pangeran (sok gak mau dipanggil pangeran, tapi gimana gitu lowh),... oh well.

Logika setting lokasi: lumayan error walau gak fatal juga, mengingat MANTRA hanya melibatkan sedikit lokasi, yaitu Ruang Bawah Tanah untuk Babu, Ruang Penyiksaan, Area Istana (Kamar Romuza, Ruang Kerja Romuza dan kamar beberapa tokoh lain), Desa Keramat-tempat-orang-buang-Mayat, dan Istana Dombire yang berada di dalam gua di langit (???). Sedikit kekaburan setting aja, karena ada plot bahwa KOTA Afzein dipagari dengan Mantra jahat, tapi para tokoh bisa berjalan ke DESA KERAMAT. Well, memang gak dijelaskan apakah Desa tersebut berada di dalam atau di luar batas Kota. Tapi dengan asumsi perjalanan 1 jam dengan berjalan kaki (Zorg kakinya dirantai, tapi tampaknya kecepatan jalannya tak beda dengan rekan-rekannya yang gak dirantai), maka wajar saja mengasumsikan dalam setting kerajaan semacam Afzein ini bahwa letak Desa macam itu setidaknya berada di luar batas kota.

Logika aksi-reaksi: nah ini yang terparah. Sebagian besar aksi-reaksi dalam Novel ini berlangsung secara unbelievable. Bagaimana aksi kakek Herdtqolf yang mengawetkan jasad Zorg yang disangka mati padahal belum mati, gak jelas alasannya. Reaksi Romuza setelah tahu Zorg adalah sang pangeran yang hilang, juga terasa gak logis. Kemudian situasi ketegangan hidup-mati antara Zorg vs Romuza (pada saat Zorg -babu/ tahanan; tertangkap menyusup ke kamar Romuza -penguasa/ pengganti Raja) diselesaikan dengan dialog ala tebak-tebakan, dan Zorg can get away without dire consequence, kayak polah kanak-kanak aja. Sulit bagi saya untuk tegang, atau bergidik, atau tergetar akibat adegan semacam itu. Inilah yang membuat novel Mantra menjadi terasa sangat lemah.

Wokeh, ngomongin jeleknya terus dari tadi. Sekarang kita ngomongin bagusnya.

Hal positif yang sudah diraih oleh mas Susanto antara lain adalah: cara bertutur yang jelas. Clear. Pengkalimatannya mudah dimengerti oleh pembaca. Alur cerita berjalan cukup lancar (memang timbul pertanyaan di sana-sini dikarenakan aspek logikanya), dan kalau pembacanya gak banyak protes kayak saya, maka dia niscaya masih bisa mengikuti ceritanya. Susunan alur-plot sendiri lumayan, lah, walau gak terlalu kompleks juga. Penggunaan berbagai perangkat unik (walaupun konsistensi logikanya bermasalah) untuk menyelesaikan berbagai hambatan dalam petualangan si Zorg ini juga menunjukkan bahwa Pengarang punya potensi kreativitas yang baik.

Oke sebagai penutup, mengenai judul MANTRA dan KITAB RAHASIA MALAIKAT. Ini deserves pembahasan tersendiri.

Konsep Mantra merupakan tema-besar Novel ini, yang walaupun disampaikan secara tergagap-gagap, tetap merupakan sebuah konsep menarik by itself. Saya bisa menangkap grand idea-nya Mas Susanto, mengenai adanya suatu rangkaian mantra yang mampu mendatangkan kekuatan spiritual, dan jujur saja konsep yang tertuang dalam mantra itu sebenernya cukup bagus.

Saya kutip salah satu Mantra di sini:

"Hilangkanlah dirimu dari segala keterpurukan, percayalah pada hatimu untuk mendapat kekuatan dari Tuhan"

atau

"Malaikat penguasa api. Bumi hanyalah sebongkah bola besi. Kemurnian api suci menghancurkan kayu, tanah, air, dan besi. Jadilah api suci, maka tunduk segala batari"

Well,... susunan kata-katanya masih belum begitu pas memenuhi persyaratan sebagai sebuah mantra atau kantata, tapi the idea is there. Dan bahwa kata-kata di atas punya khasiat tertentu, itu boleh juga.

Cuma memang pengolahannya harus mendalam. Apalagi di sini kita bicara spiritual-strength. Dalam Novel, si Zorg yang baru membaca mantra satu kali aja udah mengalami semacam 'kerasukan' energi. Rasanya itu membuat the whole concept jadi terasa hambar. Akan lebih menarik apabila terjadi pergulatan batin, proses pemahaman sang tokoh akan makna lahir-batin dari kata-kata tersebut. Si tokoh harus sampai pada pemahaman yang sempurna, sebelum ilmu tersebut terwujud dalam dirinya.

Mekanisme seperti itulah yang akan membuat konsep Mantra, Ilmu, yang macam ini menjadi menarik.

Terus mengenai Kitab Rahasia Malaikat, obyek utama dalam Novel ini yang --sayangnya-- cuma berperan sebagai obyek mati semata. Di sini pengarang kurang maksimal mengolah konsep sebuah ilmu 'tinggi' yang tersimpan dalam sebuah kitab, menanti saatnya digali oleh the chosen one. Mungkin konsep kayak gitu masih 'ketinggian' juga buat sang pengarang, ya? Sampai terekspresikan dalam tulisannya sendiri seperti ini:

...mengambil sebuah buku yang sangat tebal, mirip kitab, berjudul Rahasia Malaikat dari laci mejanya... Tak lama setelah itu, kakek memandangku cukup lama dengan mata elangnya, kemudian menyodorkan buku tebal yang mirib kitab itu di depanku (hal.17).

Gak usah pakai "mirip kitab" lah itu udah jelas kitab, mas! Apa bedanya? Kemudian penamaan KITAB RAHASIA MALAIKAT yang beda jauh dengan sub-judul RAHASIA KITAB MALAIKAT, itu juga menunjukkan bahwa konsep buku ini lebih sebagai tempelan, alih-alih grand idea. Sayang, sebenernya.

Okeh rekans, jadi begitulah hasil pembelajaran yang bisa saya share lewat buku MANTRA: Rahasia Kitab Malaikat - Sebuah Novel Menggetarkan.

Moga-moga menjadi manfat buat kita bersama. Mas Susanto, gak usah kecil hati. Saya memang bilang novel ini (masih) jelek. Tapi ingat, Anda bukan novel anda. Novel anda hanyalah potret kapasitas anda di masa lalu. Sementara anda bisa belajar lagi, giat mengembangkan diri lagi sehingga anda akan menjadi penulis yang lebih baik di masa datang. Kerja keraslah, and welcome di dunia kepengarangan!

Salam,

FA Purawan

Selasa, 02 September 2008

CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core (Chandra Adhitya Winarno - 2007)


Data buku:
Penerbit: Gagas Media
Penyunting: Feba Sukmana
Penata letak: Yanto
Desain sampul: Okeu Yoseph Kurniawan
Tebal: 325 halaman

Hitam, adalah warna terkeren buat sebuah cover novel. Setidaknya begitulah anggapan saya selama ini (itu juga yang membuat saya mengeset blog saya dengan warna hitam, hehehe). Seolah ada otoritas tersendiri yang dipancarkan oleh warna ini, yang membuat siapapun yang melihat tak berani bermain-main dan menganggap saya serius, serius kuadrat. Apalagi, kalau Hitam dipadukan dengan Gold, hmm,.. tidak saja serius, tapi juga high-class. Demikian yang saya rasakan saat melihat cover novel CARDAN: Inside and Outside The Hinkal Core karya Chandra Adhitya Winarno ini. Balutan warna hitam dengan font keemasan membuat novel ini terkesan ningrat, membuat saya berharap-harap muluk terhadap isinya,...

Tapi, ooops, kelihatannya Jurus Judge by The Cover terchallenge lagi, di sini. Apa ini? Tulisan Cardan yang --walaupun jelas dan paduan putih-emasnya cukup serasi-- kenapa dibikin membesar di tengah seperti sign SIRKUS? Tapi emblem garuda pudarnya looks soooo cool! Oh, rupanya paduan tulisan Cardan dan emblem mengesankan bentuk perisai, well boleh juga. Yang paling bagus di cover ini adalah pemilihan Font & tata letak tulisan Inside & Outside The Hinkal Core. Hanya sayang, lukisan garuda itu harusnya bisa lebih detail.

Cover yang keren, karya Okeu Yoseph Kurniawan.

Dan sampai sini udah dapat di sum-up kesimpulan atas seluruh novel. Yaitu: Covernya keren.

Novelnya sendiri, gimana?

Sayangnya, ya cuma itu yg bisa kubilang: Covernya keren. Novelnya,... jeblok.

Menurutku ini novel terburuk yang pernah mampir di blog gue, untuk saat ini. Aaaakh?! (disbelief), benarkah? Demikian 'nista'nya kah? Apa dosa yang sudah dilakukan pengarang dalam menulis novelnya?

Ugh. Mungkin dosanya hanya satu, yaitu pengarang belum bisa menulis. Titik. Saat seorang pengarang yang tidak bisa menulis berusaha err, menulis, maka segenap ide besar yang ada di kepalanya jadi rapuh seperti kastil pasir disapu ombak. Hilang semua keindahan kecuali tinggal onggokan tumpukan kata-kata yang memusingkan.

Seberapa parah, sih, kemampuan penulisan pengarang? Well, aku tampilkan berupa contoh saja, yah.


Dari Novel Cardan, hal. 1 - 2:

Langit malam ini sangat indah, ketiga bintang yang selalu menerangi malam memancarkan cahaya berbeda warna putih, merah dan biru. Para leluhur menamakan bintang putih Joan, Sanggu untuk bintang merah, dan Colt untuk bintang yang berwarna biru. Mereka menganggap bintang-bintang tersebut sebagai lambang tiga elemen, yaitu udara, api, dan air.

Di daratan ini terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Tolan. Sebuah kerajaan kecil dengan letak strategis, tepat di tengah-tengah Garinka. Tolan adalah kerajaan transit bagi para pedagang dari seluruh pelosok Garinka. Tak heran, hal ini membuat Tolan menjadi sebuah kerajaan yang cukup makmur. Dan karena itu juga, Tolan menjadi kerajaan terbesar di Garinka.

Namun, dibalik semua kelebihannya, Tolan sedang mengalami peperangan. Sebuah perang besar antara Tolan dan Sync, perang antara dua kerajaan yang sudah saling bermusuhan sejak ratusan tahun lalu. Mereka menamakannya perang Zonega.

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta. Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu. Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya. Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ia kembali melihat kawannya terluka. Bagaimana Cardan sepertinya bisa begitu lemah, sedangkan aku..., pikirnya sambil memeriksa luka kawannya. Sifatnya memang pencemburu, meskipun pangkatnya cukup tinggi ia masih saja ingin menjadi seorang cardan. Status yang dari dulu ia idamkan dan nantikan. Sebenarnya ia tahu benar bahwa untuk menjadi seorang cardan, ia harus dipilih oleh langit.

Kini cemburunya semakin memuncak, ia berdiri dan menghujat langit. Tak lama kemudian terdengar suara yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

---------------------------------------------------


Mendingan baca dulu dua-tiga kali, biar meresep. Baru abis itu baca ulasan gue di bawah ini.

Perhatikan, di atas itu lebih kurang adalah bagian prolognya, per paragraf. The whole prolog aku salinkan dengan tujuan agar pembaca blog ini dapat meresapi 'opening' seperti apa yang dituliskan oleh pengarang sebagai indikasi cara dia bercerita selanjutnya di buku tersebut.

Kalau rekan-rekan menganalisis tiga paragraf awal, tentu rekan-rekan bisa memperkirakan alur dari prolog, yaitu (1) suasana malam sebagai pembuka cerita (dan actually tuh paragraf ngomongin 3 bintang penting yg menghiasi langit malam). (2) Sebuah negeri bernama Tolan (tapi Garinka-nya apa gak dijelasin), (3) Situasi politik Tolan,...

Tapi paragraf 4-nya, dengan begitu gak nyambungnya, langsung masuk dalam adegan perang. Halah! Dan cobalah perhatikan isi dari paragraf ke-empat tersebut:

Seorang jendral perang Tolan sudah banyak memenangkan perang namun ia belum pernah melawan ribuan pasukan yang begitu membabi buta.

ini aja udah kalimat yang subyek-predikat-obyek nya ngaco, kayaknya kurang tanda baca ataupun kata sambung.

Sepertinya bagi pasukan itu membunuh seorang Tolan merupakan hal terindah dalam hidup, sebuah mimpi yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua mereka.

kalimat selanjutnya ini gak nyambung dengan Subyek "Jendral", sebab Subyek tiba-tiba berubah menjadi merefer ke "pasukan yang begitu membabi buta". Terus tau-tau berubah lagi ke subyek yang lain:

Pedang jendral Tolan sudah berlumuran darah, entah berapa banyak nyawa yang telah ia cabut dengan pedang itu.

yang dilanjutkan dengan kalimat ini:

Banyak mayat tergeletak di kanan-kirinya, dari pihaknya maupun musuh.

Yang kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, mengesankan bahwa pedang sang jendral sudah mencabut banyak nyawa nggak cuma musuh melainkan juga dari pihaknya sendiri! So, the whole paragraph is a mess!!

Terus paragraf berikutnya bikin ketawa lagi:

Ia berlari menuju kawannya yang terluka karena terkena busur panah di kaki kirinya.

(Kena busur aja luka? cemen banget,..... iye-iye, gue tahu, maksudnya kaki kirinya ketancep anak panah. BTW, Fatal ya? Panah beracyun,.. kalee?). Atau 'busur' dianggap sebagai kata kerja?

Ia memeluk lalu membaringkan tubuh kawannya di atas tanah, berteriak marah kemudian kembali membantai sekitar sepuluh pasukan musuh di sekitarnya. Jenderal TOlan itu ahli dalam pertarungan jarak dekat, bakat yang digalinya semasa berlatih di akademi perang.

Ini juga series of incoherent actions. Maksudnya sih bisa kutangkep, tapi masih mendingan juga sastranya Sinchan yg "BABI PERGI,... BABI PULANG" itu, hehehe. Terus membantai sepuluh PASUKAN??? Maksudnya sepuluh PRAJURIT, Kallii,...?

Selanjutnya penggambaran aksi dalam kalimat dan paragraf lanjutannya benar-benar menggambarkan seorang jendral yang lagi bingung dan depresi banget, bukan lagi perang (ini jendral atau prajurit rank & file, sich? Koq sibuk amat di garis depan. Yang ngatur strategi di war room, terus siapa? Sekretarisnya, kali?)

So, need I say more mengenai keancuran gaya penulisan ini? Menurut gue sih, contoh prolog ini memberi indikasi tak terbantahkan bahwa pengarang masih belum menguasai tata penulisan yang benar (tak usah dulu ngomongin 'baik' dalam dua serangkai 'baik dan benar'). Walau jelas aku sudah punya masukan dalam aspek-aspek logika, tapi terpaksa masukan itu aku simpan dulu sebab pengarang menghadapi problem yang lebih besar, yaitu kemampuan menuangkan ide secara benar melalui tulisan.

Itu, lho, pelajaran Subyek-Predikat-Obyek, itu lhooo,....

Lha kalo seorang pengarang belum bisa menuliskan kalimatnya secara benar, bagaimana dia akan berhasil mentransfer ide ceritanya? Dan Hallooow,... para editornya lagi pada ngopi-ngopi di mana sih? Kalimat kayak di atas itu koq bisa lolos? Padahal itu di bab awaaaal banget, loh? (Wajar bila Editor agak loose di tengah-tengah buku. Tapi gimana kalo udah loose sejak AWAL buku?)

Untuk selanjutnya, penyakit yang sama melanda seluruh naskah sehingga membuat buku ini menjadi terlalu sulit untuk dicerna. Saya sendiri harus membaca bagai orang buta berjalan. Maju-stop-maju-stop-maju-stop dst. Satu bulan lebih untuk buku cuma setebal tiga ratus halaman.

Oke, kalau saya cuma mencela, ya semua orang bisa mencela, ya nggak? Lantas apa yang bisa dipelajari dari karya ini supaya pengarang dan temen-temen aspiran penulisan Fantasy dapat membuatnya lebih baik lagi?

Pertama, mungkin dari segi penyusunan kalimat s.d.a., ya. Biarpun kita masih punya ruang untuk 'mempermainkan' struktur kalimat secara kreatif, tetap saja ada aturan utama yang harus diikuti. Dan aturan itu memang ada sejak dulu karena suatu alasan, yaitu agar ide dapat terkomunikasikan secara tepat, dengan tetap memelihara kewarasan dan keruntutan berpikir pembacanya :) Kalau pengarang keenakan mengaduk-aduk pikiran pembaca dengan jumbling words, maka dia belum bisa dikatakan sebagai pengarang, melainkan psikopat, hehehe.

Kedua, mungkin pengarang juga perlu mengembangkan 'sense' untuk pemanfaatan kata/ istilah. Bagaimanapun, istilah tidak dapat dipertukarkan secara terlalu merdeka, sebab setiap kata atau istilah sesungguhnya memiliki pengertian khas, yang bila salah pakai akan mengaburkan atau mengacaukan makna. Berikut contoh kasus di Cardan:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang lebih pendek darinya--tiba-tiba meremas tangan Aras dan berkata, "Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!"

Well, secara kalimat, paragraf contoh di atas tidak punya masalah berarti. Tapi kalo anda menganggap kalimat di atas tidak 'bermasalah', mungkin cara berpikir anda masih menggunakan gaya penulisan berita, bukannya gaya penulisan cerita. Pada 'gaya berita', kalimat adalah fakta kering, sekedar mendeskripsikan kejadian tanpa penafsiran lebih lanjut. Dalam 'gaya cerita', sebuah kalimat dibaca secara tafsir, pembaca berusaha memahami adegan dengan menggunakan imajinasi yang digiring oleh naskah.

Coba aja bayangin adegan ini: si pria MEREMAS tangan Aras, di suatu toko. Untung aja ngomongnya nggak gini, "Tangan yang kuat, ya boooo,..." (gedubrak.com)

Saya temukan banyak kekeliruan semacam itu di sekujur novel, sehingga semata susunan pengkalimatan yang dibikin oleh pengarang jadi gagal untuk mendeliver cerita sebesar ide yang dimilikinya, bahkan menggiring ekstra tafsir yang terkadang menggelikan, seperti contoh di atas.

So, gimana supaya kalimat di atas tidak disalah-tafsirkan sebagai 'gay novel'? (tentu saja, kita tidak usah capek-capek memikirkan hal ini bila si pengarang memang meng-intensikan novelnya sebagai 'queerlit'! Ha ha, tapi saya kira bukan itu intensi pengarang, tentunya?)

Tentu saja, pengarang musti memperhatikan setting dan cara berinteraksi yang tepat, dan pada akhirnya memilih istilah yang tepat. Saya akan memberi alternatif semacam ini:

Di samping Aras, seorang pria berbaju zirah--dengan tinggi badan yang tak melebihi pundak Aras-- tiba-tiba berhenti di sisinya dan mengamati tangan Aras penuh minat. Lalu tanpa permisi ia meraih pergelangan tangan Aras dengan pegangan sekuat penjagal sapi. Aras meringis kesakitan sekaligus keheranan, dan mencoba melawan dengan menarik lepas tangannya. Si Baju Zirah justru tertawa girang dan membetot tangan Aras lebih kuat lagi, membuat Aras harus mengerahkan tenaganya lebih besar lagi. Terjadi tarik-menarik yang cukup ulet, sampai akhirnya Si Baju Zirah melepas tangan Aras sembari terbahak, "Ha ha ha, hebat kau, nak! Tangan yang kuat, cukup kuat untuk mengangkat pedang atau tombak!" ujarnya dengan nada memuji yang tulus.

Pelajaran ketiga, adalah bahwa pembaca tidak bisa dijejali dengan terlalu banyak nama. Saat pengarang mengintrodusir SETIAP nama kepada pembaca, pembaca harus membuka file ingatan guna memasukkan nama itu dalam konstelasi cerita. Kenapa, sebab pembaca harus mengingat tokoh tersebut, apa posisinya, apa perannya, dalam cerita, ketika menjumpai nama itu seratus dua ratus halaman sesudahnya. The bad di Cardan, adalah terlalu banyak nama yang tidak cukup diikat dengan konteks, akibatnya terlalu banyak open file di kepala pembaca, yang membuat pembaca menjadi mudah tersesat.

Tata penamaan terkesan masih separuh asal. Pengarang menciptakan konvensi tiga nama untuk kebanyakan tokoh-tokohnya, seperti Aras Boma Palawa, Divin Shinta Wordane, Zavier de Voco dan lain-lain. Tapi sungguh sulit mengingat rangkaian tiga nama tersebut karena pengarang tidak punya konvensi mengenai cara mengintrodusir nama-nama tersebut.

Umumnya, nama-nama rumit/ kompleks harus diintrodusir seawal mungkin, setidaknya pada saat tokoh bersangkutan pertama kali dihadirkan oleh pengarang di panggung cerita. Dalam novel ini, nama Putri Divin termasuk yang diintrodusir pada saat yg tepat. Tapi jangan lah menghadirkan nama lengkap tiga kata itu setelah melewati sekian puluh halaman, guaranteed, pembaca akan sulit mengingatnya. Sebagai contoh, nama Aras Boma Palawa baru muncul di bab 3, sebelumnya hanya Aras saja. Dan kemunculan nama lengkap itupun tidak memiliki signifikansi apa-apa, muncul begitu saja dalam kalimat, "Pada waktu yang sama di dalam hutan Dio, Aras Boma Palawa merebahkan tubuh di tanah yang dihiasi pepohonan yang luar biasa besar dan lebat".

Di luar konvensi nama-tiga-kata, saya juga punya problem dengan nama asal caplok. Bagaimana sebuah nama ARAS BOMA PALAWA, bisa hadir di setting Cardan ini? Bagaimana bisa ada nama SHINTA di antara DIVIN WORDANE, gimana ada nama ZAVIER DE VOCO? Apakah setting novel bersentuhan dengan budaya India atau Spanyol? Belum lagi inkonsistensi nama-nama panggilan. Aras dan Divin dipanggil berdasarkan nama depannya, tapi Voco, dipanggil berdasarkan nama belakang.

Demikian juga dengan konsep locale yang agak sulit dimengerti, dan tak dijelaskan lebih jauh sehingga membingungkan pembaca, seperti:

Apa itu Garinka, sebuah benua, atau Kerajaan? Apa hubungannya dengan kerajaan Tolan, lalu ada kerajaan Memoard, ada Sync, ada Zonega? Ada pula nama Hinkal di dalam kerajaan Tolan, apakah maksudnya nama Kota Hinkal? Nama-nama tempat ini tidak dilengkapi dengan penjelasan yang memuaskan, setidaknya untuk memudahkan pembaca dalam membayangkannya.

Tampaknya memang pengarang menggunakan strategi 'imajinasi tak terbatas' dalam mengarang nama-nama di novelnya, sehingga seakan-akan nama-nama itu diambil secara sembarangan, dari berbagai sumber. Beberapa nama malah mengesankan bahwa pengarang menggunakan buku manual komputer sebagai referensi penamaan, tengok aja nama-nama: Sync (dari Synchronization), Memoard (seperti Memory, kan?), Links (pranala), Ada Hinkal 'Core' (Core duo?), Logite (Logitech?), Alt (liat, di keyboard lo tuh!). Yah, sebagai proses kreatif sih, nggak salah-salah amat. Tapi setidaknya tetap harus ada reasoning yang memadai dalam proses pengarang menciptakan nama-nama untuk digunakan dalam universenya. Paling dikit, ya agar bisa mensustain 'believeability', dah.

Misalnya, menggunakan nama-nama yang diambil dari dunia komputer seperti di atas, untuk setting novel sci-fi atau techno-thriller. Atau menggunakan nama-nama binatang untuk setting semi fabel (contohnya di novel Anansi Boys-nya Neil Gaiman). Kesesuaian semacam itu akan memudahkan imajinasi pembaca, serta memberi nuansa 'aura' yang pas buat novel.

Lantas, apa sisi positif Cardan?

Satu hal yg bisa saya sebutkan, plot (dalam pengertian yang amat-amat-amat-amat dasar) cukup memiliki daya pikat, dan ada ide 'besar' di belakangnya. Kalau bicara susunan plot, Cardan cukup standar buat kisah-kisah Fantasy, bahkan plot Cardan menjadi lemah akibat kurang kuatnya hubungan sebab-akibat digelar di dalam jalinan kisah novel ini. Tapi pengarang memiliki beberapa cabang plot yang tak biasa, yang cukup memberikan kejutan kecil. Antara lain pengkhianatan Raja Links, yang walaupun motifnya terasa ngga substansial, telah membuat novel ini memiliki 'warna' yg beda. Demikian juga keberanian pengarang untuk mengakhiri novelnya dengan situasi tragik, sesuatu yang jarang dilakukan oleh penulis kita.

Tentu maksudnya dapat diraba, yaitu dengan tragik ini, pengarang berharap untuk menumbuhkan rasa penasaran yang kuat di sisi pembaca, agar termotivasi untuk membeli sekuelnya. Dan saya pikir itu strategi yang cukup bagus.

Sayang sekali, strategi itu tidak berhasil 'mengugah' buat saya, dikarenakan sekujur novel telah dikerjakan secara too bad, badly written sehingga saya tidak berselera bahkan untuk membacanya ulang, alih-alih ngikutin serialnya sampai selesai. Seperti koki yang punya bahan-bahan makanan yang bagus dan mahal, tapi ngga bisa memasak dan mencampur bumbu yang enak. Hasil akhirnya ya tetep aja orang jadi ogah memakan masakannya.

Kan jadi sayang, ya?

Buat pengarang, selamat, karya pertama anda sudah eksis. Emang (karya yang ini) masih belum bagus buat saya, tapi bukan berarti anda ngga bisa menelurkan karya bagus di masa mendatang. Terus aja perdalam skill menulis anda, belajarlah sama ahlinya! Sukses, dah!

Salam,

FA Purawan