Minggu, 21 Maret 2010

ARQUELLA: The Beginning of the Destiny (Maaya Hiroshi - 2009)

By Luz B.

 
Penyunting: Topik Mulyana
Penerbit: Sygma Publishing
Pengarah Artistik: Fery Puwi
Pewajah Sampul: Kebun Angan
Pewajah Isi dan Penata Letak: Ade Truna, Tio
Tebal: 462 halaman
 

Mengambil break dari sela-sela mengerjakan novelku sendiri, perkenankan aku menggelar satu repiu hasil penugasan dari Boz Pur. Sekalian juga, sebagai filler sebelum si Boz kembali dengan salah satu masterpiece soto(y)nya. Sudara-sudari segala agama dan agami, Allow me to present to you... Arquella, The Beginning of the Destiny karya Maaya Hiroshi.
   
Aku ngelihat buku ini benernya udah lama, tapi ga kunjung tergerak untuk mengambil. Alasannya? Empat hal. Pertama, cover yang no very. Idenya menarik sih; ada unsur api dan air, dan peperangan, dan gambar seorang cowok berbaju besi dan berpedang. Sampai disini, aku memujinya karena gagasan ini udah sangat memadai untuk menggambarkan isi cerita. Tapi sapa seh yang punya ide naruh gambar cewek pake gaun putih di depen cover?
 

Iya, itu maksudnya gaun tuan putri. Tapi buatku baju itu begitu drab hingga kelihatannya kayak gaun tidur tuan putri. Tambah lagi rambut 'indah' berkat dicuci dengan shampo Photoshop itu. Lepek-tempelan banget. Alhasil aku ngerasa ngelihat Sadako versi medieval baru bangun tidur, kluar dari sumur, trus ngancam aku pake pedang. Yikes! Run for your lives! 
  
Beneren deh, cover ini seharusnya lebih bagus. Apalagi aku pernah lihat cover buku lain yang juga hasil desain Kebun Angan, tepatnya, The Death to Come karya Tyas Palar. Keren banget. Jadi kenapa yang ini harus no very nian?
 
Alasan kedua, Sinopsis di belakangnya yang juga nooooo very. Silakan dibaca sendiri.

  
Seorang putri cantik... 
Airyal, Putri Raja Aqua di negeri Arquella 
dan... 
seorang pengawal misterius... Zach 
Lamaran dari Pangeran Trozz...
Penolakan...
Sakit hati dan kemarahan...
Penyerangan dan pelarian...
Menembus dimensi waktu...
Petualangan seru dan menegangkan...
Bagaimana kisah Putri Airyal dan Zach 
selama bertualang di negeri
antardimensi?
Bagaimana nasib negeri Arquella yang
dijajah oleh Tierra?
The Beginning of the Destiny
  
   
Apa sih tujuannya orang ngasih sinopsis di cover belakang? Supaya pembeli tertarik. Nah, pertanyaannya, apakah sinopsis diatas menarik anda? Entahlah. Pastinya aku merasa sinopsis itu sama sekali nggak nunjukin, apalagi "menjual" bagian paling menarik dari cerita ini. Jadi, ya, aku ga ambil.
 
Yang ketiga, stempel merah nan geje di cover depan "What a Fantastic Story!!!" gitu bunyinya. 
 
Aku cukup banyak belajar dari kasus-kasus novel-novel fantasi lokal terdahulu bahwa kehebohan endorsemen biasanya berbanding terbalik dengan kualitas buku. Alias, semakin heboh endorsemen / stempel / predikat yang muncul di cover, semakin ancurlah kualitas fikfan yang diendorse. 
 
Maka, buku yang teriak di cover, "I am Fantastic!" biasanya malah jauh dari fantastic.
 
Dan yang terakhir, nama pengarang. Maaya Hiroshi. Jepang sekali. 
 
Namun, menimbang tiga faktor yang sudah kusebutkan sebelumnya, aku langsung tahu bahwa pengarang ini bukan orang Jepang. Kutebak ia adalah remaja lokal, mungkin 13-17 tahun, dan penyuka manga. Begitu plastik buku kubuka, aku langsung ngintip profil pengarang, dan hasilnya... yep, benar. Remaja kota D, 14 tahun, bukan nama sebenarnya. 
  
(BTW, teknik deskrpisi ala koran merah ini tampaknya ga disukai sama malaikat "Semua Umur" yang akhir-akhir ini mengikutiku.)
  
Harap perhatikan, aku bukan bias sama penggemar manga, karena aku juga suka manga, dan memakai inspirasi dari manga untuk proyekku sendiri. Namun, aku sudah cukup banyak mendapat pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dari novel-novel yang dikerjakan oleh kelompok pengarang remaja penyuka manga/game/anime. Maka, ada justifikasi untuk sikap skeptisku.  
  
Apakah skeptisisme itu terbukti? Sebagian besarnya. Tapi harus kuakui bahwa ada bagian dari novel ini yang membuatku terkesan. 
  
Bagian awal cerita ini mengisahkan Airyal, putri dari negeri Arquella, yang ga punya tujuan hidup selain berusaha membuka penutup wajah Zach, pengawalnya. Saking napsunya membuka sampe ada adegan kejar-kejaran ala film India. Akhirnya Zach membuka topeng dan ternyata dia ganteng. 
  
Tambahkan ini dengan alasan Raja Aqua mewajibkan para pengawal putrinya memakai penutup muka, (supaya Airyal nggak jatuh naksir sama mereka), maka kita akan menemukan sepotong besar KEJU dalam rentang kurang dari 20 halaman.
  
Tapi itu bukan inti ceritanya. Premis utama cerita ini adalah petualangan Airyal dan Zach pergi melintas dimensi dari satu negeri ke negeri lain. 
  
Ada yang nyium bau Tsubasa Reservoir Chronicle karya CLAMP, ga?
  
Okay, aku nggak akan memvonis pengarang meniru, karena banyak cerita petualangan memakai dasar yang sama. Jalan-jalan ke aneka negeri yang punya kebudayaan beda juga dipakai di Kingdom Hearts dan Kino no Tabi. Karena itu, mari kita klihat apa yang membedakan Arquella dengan cerita-cerita lain yang memakai premis sama melalui tiga hal: 1) alasan para tokoh melakukan petualangan, 2) negeri-negeri yang dikunjungi, dan 3) bagaimana jalannya petualangan itu. 
  
Mengapa Airyal dan Zach harus bertualang? Alasan mereka sebetulnya lumayan kuat, untuk melarikan diri dari orang-orang yang mengincar Airyal. Tapi yang bikin aku kesel adalah alasan si putri dikejar-kejar: karena Pangeran Trozzilia dari negeri Tierra kebelet menjadikan dia istri, tapi ditolak. Karena kesel ditolak, si pangeran yang punya nama kecewek-cewekan ini sampe mengerahkan pasukan negerinya cuma buat dapetin tuan putri Airyal nan cantik jelita ini. 
  
Bagiku, memulai perang dan mengorbankan nyawa prajurit, apalagi sampe bikin aliansi cuma demi mendapatkan satu cewek, adalah tindakan yang asli lebai. Memang ada kisah yang mirip di Mitologi Yunani, tentang Helen yang jadi rebutan antara Paris, Pangeran Troya, dan Menelaus, Raja Sparta. Tapi di mitologi itu motivasinya bukan belaka karena kecantikan Helen menjadikannya hadiah yang diburu kiri-kanan. 
  
Ada sedikitnya dua motivasi politik yang aku tahu di belakang kisah itu. Pertama, Agamemnon, saudara Menelaus, memang pengen berat menyerang Troya. Jadi ketika Menelaus mengadu istrinya dibawa lari, dia oke-oke aja bikin aliansi buat ngebantuin adiknya. Motivasi kedua, Menelaus menjadi Raja Sparta hanya karena dia mengawini Helen. (Helen adalah ahli waris Sparta.) Jadi, kalau Helen nggak menjadi istrinya, ya otomatis dia bukan lagi raja Sparta. Yang berarti dia kehilangan kekuasaan. 
  
Itu baru motivasi politik. Masih ada juga cerita Dewi-Dewi yang dipilih oleh Ahmad Dha... ehem, maksudnya, Orlando Blo... ehem, Paris, untuk mendapatkan apel emas. Kemarahan dari dua dewi yang tidak dia pilih, dan dukungan dari satu yang dia pilih, akhirnya menyumbang pada konflik yang berpuncak pada perang gede-gedean.
  
Bandingkan ini dengan alasan Pangeran Trozz menyerang negeri Arquella. Kelihatan dangkalnya, kan? 
  
Agak jauh ke belakang benernya disiratkan bahwa ada alasan lain. Raja Traveas, ayah Pangeran Trozz, ternyata pengen menguasai negeri Arquella dari dulu. Wow. Aku udah bersiap menyesal, sampai aku mendapati bahwa istri Raja Traveas adalah saudara dari raja negeri Arquella. 
  
Lah? Kalau memang dia mau nyerang dari dulu, ngapain dia melakukan perkawinan dengan keluarga kerajaan dari negeri yang mau dia serang? Tujuan perkawinan antara keluarga kerajaan itu 'kan untuk menciptakan aliansi dan perdamaian antarnegara!
  
Mengapa aku jadi berkhotbah panjang lebar kayak dedengkot Jemaah Ekstrimiyah gini sih? Karena udah kebanyakan kali aku membaca fikfan lokal yang kayaknya ditulis dengan pandangan yang sejalan dengan Dalil Klise Fiksi Fantasi #1: harus ada perang, ga peduli seremeh apapun alasan perang itu.
  
Aku bukan aktivis Peace Now!, tapi tolonglah Mas-mas dan Mbak-mbak, perang itu bukan perkara sepele. Mestinya ada alasan yang cukup (menurut logika cerita) hingga akhirnya keputusan seberat perang harus diambil. Alasan itu ga harus detail atau penuh intrik politik njelimet; motivasi Raja Traveas itu sebenernya masuk akal, cuma ya gitulah. Aneh aja kalau dia dengan tiba-tiba, tanpa latar atau pertimbangan, mutusin nyerang negeri asal istrinya sendiri cuma atas dasar "Pokoknya karena gue mau. Gue kan the bad guy-nya? Muwahahahahaha!!!"
  
Dan dari situ keadaan jadi lebih kacau lagi. Saat menyerang negeri Arquella, diceritakan bahwa Raja Traveas beraliansi dengan dua negeri lain. Pertanyaanku: kenapa mereka mau beraliansi, padahal kedua negeri itu sama sekali ga dapet pampasan perang? Kalau Arquella akhirnya dikangkangi sama Raja Traveas sendiri, ngapain oh ngapain dua negeri lain itu tergerak untuk ikut-ikutan perang?
  
Baidewei, speaking of cetek, halaman 33 mencantumkan satu kecetekan yang lucu, dialog di antara penasehat Raja kerajaan Arquella dan Zach.
  
  
"Wahai Pemuda, aku diperintahkan raja untuk mengirim Tuan Putri dan dirimu ke negeri entah-berentah. Di sana, kau harus menemukan seseorang yang bisa mengembalikan kalian ke sini. Aku yakin kau bisa dan aku yakin ketika kembali ke sini, perang sudah usai. Sang raja Negeri Arquella percaya padamu."
 
"Apa? Tidak adakah cara lain? Aku harus terus melindungi Putri sembari mencari orang itu? seperti apa rupanya? Apa yang harus aku lakukan setelah menemukannya?"
 
"Aku tahu kau bisa mengatasi semua ini, wahai putra dari pemilik mata biru pasi."
 
Zach terkejut. Penasihat ini mengenal ayahnya, termasuk permata yang diwariskan ayahnya yang sekarang dikalungkannya di leher.
 
"Permata itu bisa membantu."
 
 
SWT.
 
Bukan "entah-berentah" atau "biru pasi" yang bikin aku merinding. Jawaban si penasehat itu loh! Zach menanyakan hal yang sangat masuk akal untuk seseorang yang baru saja dikasi tugas mendadak dengan briefing ga jelas. Gilanya, jawaban si penasehat nggak lebih dari, "Kamu bisa," dengan bonus, "Artefak warisan you punya babe bisa membantu you dalam petualangan, tapi I nggak akan menjelaskan bagaimana artefak itu bisa berguna, soalnya nanti ga seru gitcyuhh..." 
 
(Kar)Dus, kita dihadapkan pada Dalil Klise Fiksi Fantasi #2: Harus ada figur otoritas yang ngasih tugas ke si protagonis tanpa alasan apapun selain, "Kamu/kalian pasti BISA!!"
  
Aku jadi curiga semua fikfan kayak gini disponsori sama M-150. 
  
Lanjut ke poin 2, negeri-negeri yang dikunjungi Zach dan Airyal dalam petualangan mereka. Poin ini, catat, adalah kekuatan dari cerita Arquella. Pengarang menampilkan negeri-negeri yang buatku menarik sekali. 
  
Yang pertama, Negeri Rubah, yang dihuni manusia-manusia setengah rubah. Hubungan antara manusia dan manusia-rubah di negeri itu barangkali perlu dijelaskan. Di hal. 49 dibilang kalau para manusia-rubah ini diburu oleh manusia normal, tapi pada paragraf yang sama dibilang kalau di dunia itu hanya ada manusia-rubah. Lho? apakah pemburu ini berasal dari dimensi lain, maksudnya? Itu yang ga dijelasin. 
  
Negeri kedua adalah sebuah hutan gede yang dihuni seekor ular yang bisa bicara dan dua saudara kembar cewek-cowok.
  
Negeri ketiga, Negeri Kongradian yang bernuansa Arab dan Muslim. Salah satu negeri paling menarik, menurutku. Lucunya cuma satu. Katanya raja negeri itu bijaksana, tapi kenapa penduduk negeri itu kayaknya enggan membiarkan Airyal yang cantik jelita bertemu si raja? Apalagi, karena setelah kubaca, si raja ternyata emang beneran bijaksana abes dan sama sekali ga mata keranjang. Jadi kenapa oh kenapa harus ada ketakutan yang tidak beralasan itu?
  
Negeri keempat, Arquella di masa depan, yang kurang lebih sama dengan Indonesia Hari Gini lengkap dengan ponsel dan pistol. Ada kejanggalan disini, dimana pipa besi yang dibuat di jaman medieval masih bisa bertahan sampai jaman Hari Gini, apalagi karena diceritakan bahwa Arquella sempat dilanda letusan gunung berapi. Duh. Apalagi, pas ada yang nanya, "Kok bisa begitu?" Jawaban si Airyal adalah, "Oh, di Arquella semuanya memiliki unsur mustahil!" (Hal. 210)
 
BRB jedotin pala ke tembok dulu. 
 
Negeri kelima, Negeri hutan lagi yang diisi oleh kaum Rugolf. Lucunya, Rugolf perempuan menyebut diri mereka "jantan." Wha? Unik sih, tapi sampe ke belakang, kita nggak nemu signifikansinya. Oke, mereka punya konsep jender yang unik. Trus? Udah. Nggak ada sebab-akibat kultural yang menjelaskan mengapa mereka berbuat seperti itu. Move on
  
Negeri keenam, negeri nuansa es yang beku, dan bertema Cina. Quite nice. 
  
Negeri ketujuh, sabana afrika yang keren, dimana mereka terjebak dalam perang suku.
  
Dan negeri kedelapan, yang menurutku idenya paling boleh banget, adalah negeri sampah, di mana semua orang tinggal di dalam tumpukan sampah.
  
Semua negeri itu digambarkan dengan mengena. Bahkan nama-nama orang di setiap negeri pun terasa ciri khasnya. Negeri Kongradian dengan nama semacam "Haulah" dan "Syukrah", dan negeri es yang memakai nama seperti "Lin" dan "Shunn". Yang paling keren adalah negeri sampah dimana orang-orang memakai angka sebagai nama. "588" misalnya, adalah penduduk ke-588 yang lahir di kota itu. 
  
Soal deskripsi, ada yang kurang jelas, tapi secara keseluruhan aku masuk banget ke dunianya. Aku memuji pengarang untuk satu hal ini. Demikian 'masuknya', aku sampai tergelitik untuk berandai-andai. Barangkali tema tiap negeri bukan sekedar kulit, tapi memiliki semacam arti tersembunyi yang dalam? 
 
Negeri kedua, misalnya, yang dihuni ular dan sepasang saudara kembar laki-perempuan. Kok agak bau-bau Firdaus serta Adam-Hawa? Terus konflik di negeri sabana, yang sedikit-banyak membuatku teringat isu di daerah-daerah konflik macam Darfur, namely, pemerkosaan. Wow. Aku juga tertarik pada deskripsi penyeberang dimensi yang ada di dunia rubah: cewek setengah-rubah yang mengurung dirinya di dalam cangkang besi. Interesting. Mengapa harus cangkang logam? Mengapa ga pake gambaran yang lebih generik macam cewek biasa, atau tante-tante STW, gitu? Pastilah ada makna tersembunyi di baliknya.
  
Dan yang paling bagus dari semuanya adalah bagian saat menceritakan negeri sampah. Ternyata ada penduduknya yang... melakukan kanibalisme!
 
Aku sedikit tergoda untuk mengatakan bahwa si penulis ini dengan cerdas menyelinapkan isu-isu tersembunyi di dalam deskripsi negeri-negerinya. Namun, aku ga mau buru-buru. Barangkali si penulis sekedar doyan baca, dan barangkali diluar manga dia juga membaca sesuatu semacam National Geographic dan Wikipedia. Jika benar, maka novel ini bukannya punya arti tersembunyi, tapi sekedar pengungkapan kembali fragmen-fragmen informasi yang paling menyentuh atau menohok bagi si pengarang muda ini. 
 
Teoriku tentang pengungkapan kembali ini makin kuat setelah kubaca lagi judul bab 13... "The Girl in a Metal Shell". Ini merujuk pada cewek rubah dalam cangkang logam yang awalnya kukira memiliki makna tersembunyi itu. Maka aku membaca ulang, dan menangkap bahwa cewek itu dideskripsikan seperti semacam "hantu penghuni gua"... 
 
Dan aku jadi nyadar, mungkinkah sesuatu yang kukira 'dalam' itu sebenarnya ga lebih dari homage untuk judul masterpiece Masamune Shirow, Ghost In the Shell
 
Apalagi, masuk poin nomor 3, cara si penulis merangkai jalannya petualangan itu menurutku masih kurang banget. Ngawang-ngawang dan terputus-putus, pindah dari satu hal ke hal lain tanpa ada kaitan kuat. Benar-benar kayak penggalan-penggalan informasi yang dituturkan ulang dan diolah paksa biar masuk ke dalam satu cerita.
 
Pertama Airyal dan Zach dikirim oleh penasihat raja ke negeri rubah tanpa briefing selain yang sudah kusebut diatas. Aturan awalnya, pokoknya cari orang yang bisa menyeberang dimensi, titik. 
 
Eh, ujug-ujug, di halaman 61, Zach yang pengawal biasa rupanya mendadak bisa tahu tentang teori perpindahan dimensi, "Kemungkinan pindah dimensi tidak lebih dari 10 persen," yang berarti mereka harus pindah dimensi kurang lebih sepuluh kali untuk kembali ke Arquella. Dan itu berarti mencari 10 Penyeberang Dimensi.
 
Di tengah cerita, mendadak ada mekanisme baru bahwa mereka ternyata tidak selalu harus pindah dengan memakai jasa Penyeberang Dimensi. Mereka juga bisa meminta tolong pada "Gadis Elemen" yang bisa memakai permata elemen. Namun, cara kedua ini akan membuat si gadis elemen mati. 
 
Pada bagian ini sebenernya ada potensi untuk memasukkan moral choice, tapi penulis ga melakukan ini. Si gadis elemen, walau sempat digambarkan lebih suka hidup, akhirnya dibikin begitu saja menerima kematiannya demi sang heroine. Adooooooooh~!!! Dan ini ga cuma sekali terjadi di cerita, tapi tiga kali! Ya ampunnnn!
 
Dalil Klise Fiksi Fantasi #3: Tokoh-tokoh sampingan nggak punya tujuan hidup selain mendukung hero/heroine. Kalau perlu sampai berkorban nyawa.
 
Udah gitu, bagian ini diperparah dengan selang-seling cerita lain. Yang dibahas terutama adalah nasib negeri Arquella di bawah jajahan Raja Traveas yang kejam dan dikit-dikit main bunuh. Selain itu juga dibahas tentang Pangeran Trozz, adik si pangeran yang belajar main pedang, dan banyak tokoh lain. Diantara semua itu, yang paling bikin aku butek adalah bagian cerita Putri Arva dari Negeri Aire. Ceritanya, si putri ini dipingit sama ayahnya di satu ruangan mewah sejak kecil dan gak boleh pergi dari ruangan itu dengan alasan apapun, sampai dia menikah.
  
Sounds bad? It got worse.
 
Pemingitan itu akhirnya dijustifikasi oleh si pengarang dengan membuat bahwa "Oh, si Ayah ternyata memingit untuk tujuan baik. Akhirnya si Arva dijodohin dengan cowok yang sudah sejak awal ia cintai." 
  
Maaf karena aku kedengaran seperti fundamentalis feminis disini. Aku hanya ingin mengajukan renungan: Nggak ada yang baik dari menahan kemerdekaan seseorang dan menetapkan bahwa satu-satunya jalan kebebasan adalah jika dia kawin. Puluhan tahun lalu R.A. Kartini berjuang melawan cara berpikir demikian, dan sekarang justru ada mindset yang menjustifikasi perampasan kemerdekaan macam itu, yang ditulis oleh perempuan pula? Oh well... 
  
Udah gitu, setelah bebas, Arva langsung memimpin peperangan dengan Negeri Fuego. Dengan piawai, lagi. Lha, kok bisa? Pengarang memberikan satu alasan yang okeh banget: Arva ternyata adalah seorang jenius.  
  
Quo vadis, logika? Bahkan seorang jenius pun, kalau dia dikurung 19 tahun, nggak akan bisa tumbuh normal. Boro-boro jadi panglima perang. Untuk menjelaskan hal ini ijinkan aku merujuk Dalil Klise Fiksi Fantasi #4: semua tokoh "jenius" bisa belajar sesuatu 10.000x lipat lebih cepat dibanding orang lain.
  
Ocehan terakhir buat story arc Arva, adalah bahwa teknologi di Negeri Aire dan Fuego tenyata jauh melampaui negeri Arquella dan Tierra, padahal ketiga negeri itu bertetangga dan sejaman. Pas perang Arquella dan Tierra di awal-awal, diceritakan perangnya pake infantri, dengan pedang, baju zirah, dan formasi "seperti tentara Romawi". Tapi begitu yang perang Negeri Aire dan Fuego, kok pada pake tank, pesawat tempur, dan torpedo? 
  
Masuk halaman 430, aku udah officially butek. Sebagian karena cerita yang ga jelas, sebagian lagi karena ngebaca banyak judul bab yang ditulis dengan bahasa Terringlish. Bab 17, misalnya, "The Twins Dimention Acrossers." Dan bab 50, "Get Married." BRB ngakak. 
  
Udah gitu, ada bau-bau busuk ending ngegantung, sama busuknya dengan udara negeri sampah di dalam cerita. Dugaanku terbukti di halaman 460. Tapi aku sedikit menyukai ending ini. Lebih baik daripada "Tuan Putri akhirnya kawin sama jodohnya karena pengarang menyingkirkan semua halangan dari hadapan mereka."
  
Penilaian akhir? Bukan bacaan yang asyik. Ada saat-saat yang membuatku kagum dan berpikir, tapi kebanyakan merupakan rangkaian satu kejadian dan kejadian lain yang terjadi semaunya pengarang, tanpa didukung sebab akibat yang gamblang dalam penceritaan. Buat Maaya Hiroshi, anda punya pengetahuan luas dan pengamatan tajam, dan gemar membaca. Itu merupakan modal awal yang bagus untuk menjadi penulis. Jika anda terus mengasah kemampuan bercerita, mudah-mudahan karya berikutnya akan lebih baik.
  
  
  
  
Luz Balthasaar

78 komentar:

ijul (yuliyono) mengatakan...

teteup...dari kejauhan, novel ini saia sangka novel horor-murahan gara-gara covernya yang mirip kuntilanak, tapi, lumayan juga soal negeri2nya...cuman dua hal yg pengen saia tau, soal dialog dari si ular yang bisa berbicara dan apa asyiknya negeri yang cuman diisi ular ama sepasang manusia kembar...itu saja kepenasaran saia...

Shienny M.S. mengatakan...

waktu dilihat tamplian blog nya entah kenapa review ini kok tulisannya hilang semua ya, cuma ada tulisan tsubasa chronicle karya clamp trus sisanya putih, pas gw klik untuk baca selengkapnya baru nongol semua, probably just technical problem :)

pas luz bilang soal dunia sampah entah kenapa memory gw kok melayang ke salah satu set di legend of mana yah ^^;

missWong mengatakan...

iya, sama kayak Shienny, di halaman utama ga muncul tuh, harus pencet read more baru muncul...

waktu baca review ada satu dunia yang isinya cuma ular sama anak kembar itu, jadi kebayang mungkin ini novel nuansanya kayak narnia gitu yaa? di narnia yang pertama kan ada kayak dunia yang isinya pohon2 doang, semacam intersection antar dunia2 gitu.. hahaha

hahahaha btw yang BRB jedot kepala dulu itu lucu banget

komentar ijul yang kavernya kayak kuntilanak juga.. *ngakak


... sumpah bingung The Twins Dimention Acrossers maksudnya apa?

Luz Balthasaar mengatakan...

Uwaaa, udah kuperbaiki. Ga tau juga tu masalahnya kenapa, tapi untunglah da bener.

@Mas Ijul, soalnya aku kira yang negeri ular itu kayak semacam simbolisme firdaus. Ular dan sepasang manusia ce-co gitu. Tapi ya ga taulah maksud pengarangnya bener itu pa ngga.

@Shienny, wakaka... barangkali memang si pengarang pernah main Legend of Mana. Tp dia baru 14 tahun, dan kalau buat ukuran dia, Mana pasti jadul bgd. Mungkin dia lihat dari anime apa gitu, tapi bisa juga ide dia sendiri.

@Fenny, iya kan, banyak anehnya no novel mang. The Twins Dimention Acrosser, silakan terjemahin sendiri. Ga tahan aku sama judul-judul bab Terringlish-nya si pengarang ini, wakakaka...

Cheppy mengatakan...

Gue masih belum ngeh apa alasan kuat untuk inter dimension travelling sampe 7 kali gitu?

Tapi emang belum baca sampe abis sih.

Anonim mengatakan...

Baca review ini bikin gw ngakak sambil guling2 di lantai.

Emang kelihatan keren ide dunia2nya yg berbeda. Tp please deh, klo cuma niat buat dunianya kyk jadi cameo di sinetron, aduh, kyknya kasihan sekali udh ditampilkan dan bisa membuat mba luz kita ini tersepona.. Eh terpesona. Klo bisa seh, dibuat semacam sebab akibat dan saling keterhubungan yg kuat. Knp gak bikin sekalian klo di suatu dunia itu ada yang malah mencintai si pengawal putri atau malam bisa dijadikan konfil yg lebih kuat dari itu. Fantasi kan gak sekedar bertema perang, ada makhluk2 ajaib, cinta, dll.

Pokoknya buat mba luz t.o.p dah ripiu nya. Dan buat mas pur, ditunggu ya ripiu nya tentang c willy. Udh gak sabar bacanya kyk nunggu awal bulan menjelang neh bagi anak2 yg ngekos. Hehehe...

Regards,

Afandi M.

Rie Chan mengatakan...

Aku juga nggak selera liat covernya, gara2 putri (Sadako) nya kegedean jadinya ksatria di belakangnya jadi ga keliatan.

Dunia2 yang diciptainnya emang lumayan menarik, dan kayaknya emang lumayan kompleks juga, tapi ya apa gunanya klo cuma sekedar jadi setting perjalanan lintas dimensi yg bahkan nggak jelas alasannya apa, trus bahkan ampe 10 kali. Tsubasa Reservoir Chronicles aja punya alasan yg kuat buat perjalanan lintas dimensinya.

Aku ngakak guling2 di lantai nih baca Dalil Klise Fiksi Fantasi nya. Luz, coba di-compile deh semuanya, termasuk dalil yg "Ramalan itu selalu always itsumo bener", trus difatwakan buat segenap jajaran penulis FikFan di Indonesia.

Nyatet Dalil sambil masih ngakak2...

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur, Rie-chan,

Itu lompat 10 kali karena Zach bilang, kalau melompat dimensi, kemungkinan mereka berhasil sampai ke Arquella yang bener cuma 1/10. Ya kalau hitungan matematis, benerlah, mereka harus lompat sekitar 10 kali.

Aku juga ga langsung ngeh sih karena bacanya sambil skip2.

Soal dalil dikompilasi, itu ide boleh juga sih. Kayak Rule2-nya Zombieland gitu.

Uniknya, fatwa ini bukan fakta yang harus dituruti, melainkan fatwa-fatwa yang sebaiknya dilanggar kalau mau bikin fikfan bagus.

Hehe, usul yang keren. Nanti minggu depan aku coba bikin list fatwa-fatwa ngaco ini untuk blogku ya. Thanks!


@Mas Afandi,

Iya memang, sayang dunianya. Tapi maklumlah, pengarang masih muda. Kurang pengalaman merangkai cerita aja sih, dan agak kurang rela ngegali konflik moral. Mungkin kalau dia belajar beberapa lama lagi, dia bisa bikin karya yang oke.

shienny mengatakan...

@Luz:

iya yah Legend of Mana sudah 9 tahun lalu O_o;;; OMG WTF stills feels like yesterday though >_< time sure does fly

gw ngga nuduh pengarangnya niru sih, cuma begitu liad kata junkyard land entah kenapa otak gw lgs mensummon imej dr itu game hahahaha



BTW buat yg doyan baca dalil2 klise fikfan ini ada list nya

http://amethyst-angel.com/cliche.html
enjoy!

gw juga punya list hal2 yang boleh dan ga boleh dilakukan oleh villain/ evil overlord, itu juga kocak XD

Cheppy mengatakan...

@Luz, tunggu bentar deh, chance 1:10 gak menjadikan percobaan sampai 10 kali akan menghasilkan output yg diinginkan.
Chance nya tetep 1/10 dari dunia manapun! Kecuali bila ada dalil bahwa mereka tidak bisa balik ke dunia yg pernah didatangi. Itu pun artinya mereka juga ga bisa balik ke dimensi asal nya juga!

Big flaw, kalo menurut gue sih.

Lagian apa perlunya ngungsi ke tempat yg lo ga bisa pastikan safety nya, sekaligus ga bisa pantau apa kondisi aman untuk kembali?

Mending pakai plot ngumpulin mustika di masing masing dimensi aja, biar pun klise masih masuk akal.

Kalo udah kayak gini, gue gak blame pengarangnya yg jela belum nyampe sistem logika begini. Itu loh a bunch of grownups di Sekitarnya ngapain aja? Masa cuma ngecekin ejaan doang?

Gemes!

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur,

Kenapa nggak Om? Klo aku bilang, jangan pikir ini dengan njelimet sih.

Bayangkan sebuah dadu bersisi sepuluh. Angka 1 sebagai negeri Arquella di jaman si Airyal, dan angka 2-9 sebagai dunia lain. Lempar 10 kali. berapa kali kemungkinan akan muncul angka 1? kira-kira 1 dari 10 lemparan kan?

Jadi ya, teorinya mereka harus lompat sekitar 10 kali, dimana 9 dari antara 10 itu kemungkinannya mereka mendarat di dunia yang salah.

Bisa aja mereka berhasil di lompatan kedua, kelima, atau keenam. Tapi kalau penulis milih mereka berhasil di lompatan terakhir, bisa saja.

Ga perlu ada dalil kalau itu cuma berhasil jika mereka ga bisa balik ke tempat semula. Toh bisa saja kalau pas mereka salah lompat mereka mendarat dua kali di tempat yang sama. Tapi kalau penulis ga mau milih gitu, ga ada salahnya.

Kalau apa perlunya dia mengungsi ke dimensi lain, kenapa ga pake kumpulin mustika, gini yah Om.

Sori karena aku harus ga sepakat lagi dengan approach Om: Sebagai kritikus setengah tikus, aku menarik garis antara ranah yang boleh kusotoy-bantay seenak jidat dan ranah yang nggak akan kusentuh.

Premis cerita si pengarang adalah ranah yang nggak akan kusentuh. Aku nggak akan menyalahkan gagasan dia, sekalipun ga masuk akal, karena itu buatku sama dengan kita bilang "imajinasi kamu salah karena ga masuk akal."

Lha, siapa kita, menyalahkan imajinasi orang? Dan mengapa pula kita harus memaksakan imajinasi masuk ke ranah akal, padahal imajinasi tujuannya adalah untuk mengaktifkan persepsi di luar akal?

Aku ga punya hak ngasih saran dia untuk mengganti premis ceritanya dengan sesuatu yang "biar klise tetep masuk akal." Itu namanya mengganti ide dia dengan ide kita. Dan kalau sudah begitu, itu bukan cerita dia lagi kan?

Dan apakah salah meskipun dia mencoba ide yang kurang klise tapi rada cacat? Kalau memang kemasukakalan diletakkan lebih tinggi dari inisiatif untuk memakai imajinasi yang tidak biasa, ya jangan nulis fiksi fantasi.

Yang boleh aku lakukan bukanlah mengganti ide dia, tapi memperbaiki. Sepedas apapun, kritikku kubatasi pada menunjukkan ketidaksinkronan di dalam imajinasi seseorang supaya, jika dia mau, dia bisa mencari cara sendiri untuk mengolahnya hingga menjadi lebih mudah tersampaikan.

Jadi, mengenai perpindahan dimensi, yang kusalahkan bukan idenya dia, tapi kenapa penjelasannya terlalu minim.

Kalau mau diperbaiki, seharusnya si penasihat ngasih briping lebih dari "kamu bisa." Kenapa gag pas dialog itu dia ngasih mereka safety measure yang bisa jadi trump card mereka kalau bertemu bahaya saat melompat dimensi? Gitu aja. Ga perlu sampai nyuruh pengarang ngerombak idenya sendiri. Dalam persepsiku, ini seperti bunuh lalat pake bom. It could work, but wholly unnecessary.



Luz B

aninalf mengatakan...

Mbak Luz, serius, aku suka reviewnya.

Aku juga terkesan karena Mbak begitu kuat baca cerita-cerita kayak gini. Kalo aku pasti mungkin udah sakaw karena karena pencemaran pikiran. (Meski di sisi lain kasihan juga sih, karena si pengarang bukannya dibimbing ama editor buat jadi bagus malah dilepasin gitu aja sehingga jadi agak mempermalukan diri sendiri.

Iya ya. Pernah ada tempat sampah raksasa gitu di Legend of Mana. Aku samar-samar inget. Hm, bener2 amusing in retrospect.

Eniwei, skali lagi, kerja bagus.

Anonim mengatakan...

He he he. Saya sampe ngakak guling-gulingan bacanya.

Great review, mba! As always :)

Soal kemungkinan 1/10, iya bener juga sih bisa aja pada lompatan ke-10 bakal balik ke dunia asal. Walaupun belum tentu. Syukurlah di lompatan ke-10 udah balik. Kalo kebanyakan lompat, ceritanya ga selesai-selesai donks, he he he :D

Cheers,


Adrian.

Cheppy mengatakan...

@Luz, soal premis, aku setuju deh, gak bener kalo maksain pendapat, hehehe. Tapi yg gue kritik bukan pengarangnya.

Kan ada orang-orang dewasa yang ada di sekitar pengarang? apakah mereka nggak bisa ngajak pengarang berdiskusi mengenai plot hole dll. Apakah se-harmful itu imaji diskusi antara editor dan pengarang, bahwa editor dianggap intervensi terhadap otoritas pengarang?

Setahu gue dalam proses pembuatan Eragon, si editor banyak sekali membantu jadi teman diskusi untuk membuat novel perdananya si Paolini itu menjadi worthy of publication. Apakah itu intervensi, namanya?

Soal probabilitas 1:10 itu, sorry argumen lo nggak kena. Namanya probabilitas 1/10 itu berarti setiap kali trial, maka hanya satu kemungkinan berhasil, sembilan lainnya gagal.

Artinya di sini hanya satu kemungkinan mendarat di Dunia asalnya Arquell, sembilan kali kemungkinan mendarat di dunia lain.

Sama aja kayak main dadu, saat ngincer angka 6, bukan berarti dalam enam lemparan kita udah pasti dapat angka 6. Bisa aja ngelempar seratus kali tetep si 6 nggak kunjung keluar!

Kenapa? Soalnya probabilitas di lemparan kedua itu tetap 1:6 bukannya jadi 2:6.

Kecuali ada dalil itu tadi, bahwa kalo udah keluar angka 1 & 2, maka dalam lemparan berikutnya angka 1 & 2 gak mungkin keluar lagi.

Kecuali lagi, unsur muncul di mananya itu bener-bener kebetulan, tidak usah pakai penjelasan probabilitas segala.

Inilah maksud gue logic flaw yang besar. Dan yes, gue gak expect si pengarang tahu hal itu, tapi kan ada editor yang ngebaca, masa dia nggak ngerasain hal yang aneh?

Makanya gue bilang instead dibikin probability, mendingan dibikin jadi perjalanan yang pasti dan bermissi aja, seperti ngumpulin mustika, kek, atau seperti di His Dark Materials, pindah-pindah antar dimensi untuk suatu hubungan sebab-akibat tertentu, kan bisa juga.

Bisa aja (just ideas buat pegarang lain yang KEPINGIN bikin situasi sejenis), si tokoh terpaksa pindah-pindah dimensi, dengan perantaraan sekuntum bunga ajaib. Kalau dia mencabut satu kelopaknya, maka ia akan pindah ke dimensi lain. Cuma dia harus trial & error, karena dia tidak tahu kelopak yang mana yang akan membawanya ke dunia yang tepat. Itu baru situasi non-probabilitas.

Atau pakai kunci kombinasi yang kombinasinya terbatas, etc.

Jelimet? katanya mau beliveable?

He he he

FA Pur

Cheppy mengatakan...

@Luz, ah iya sorry, yg maksud gue argumen yang ga kena itu adalah di lompatan ke sepeuluh dia dijamin balik ke dunia asal. :)

Hehehe

Rie Chan mengatakan...

oh iya, baru nyadar klo judulnya "The Beginning of the Destiny". Jangan2 bakal ada sekuel nya tuh...

Yican

Mantoel Toeink mengatakan...

Dibuat daftar semua keklisean sebuah cerita fantasi, kyk "99 Weird Rules Dalam RPG" (salah satunya: karakter utama kita bisa dikenain meteor, dibanjiri lava, ditembakin gatling gun, dan dapat hidup kembali, tapi akan mati dengan tusukan pisau kecil jika plot menyatakan demikian)

Ngg, soal peluang/probabilitas, rasanya kalo 1/10 memang dalam satu kali lemparan kemungkinan kemunculannya 1 (dari 10) dan bukan berarti udah 10 pasti dapat. Kalo udah 10 pasti dapat tu peluang pengambilan bola dalam sebuah kantong, dengan kondisi bola yg udah terambil gak dibalikin lagi.

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur, nggak ada yang bilang kok baik di repiu maupun di Buku, bahwa setelah 10 kali lompat dia "dijamin" balik ke asal.

Si Zach cuman bilang kalau "kemungkinannya" 1/10, itu aja. Jadi itu berarti mereka harus lompat sekitar, ("sekitar" loh ya, aku ga satu kalipun bilang "pasti",) 10 kali.

Kalau si pengarang mau menjadikan ini alasan mereka harus terus lompat dan baru berhasil di lompatan ke- 10, atau ke-9, itu sahih menurut teori probabilitas. Dramatis memang, tapi sahih.

Tuh Adrian paham maksudnya.

Justru argumen Om yang bilang ngelempar dadu 100x dimana angka 6 sama sekali ga keluar itu probabilitasnya lebih kecil daripada mereka berhasil tiba di Arquella pada lompatan kesepuluh. Kalau aku ga keliru, itu kemungkinannya adalah (5/6) pangkat 100. Jauh lebih kecil daripada 1/10.

Maka, apakah argumenku kena? Ya jelas tho, kena buanget.


@adrian, thanks juga karena membaca. Rajin-rajin mampir yah^^


@Rie-Chan, sekuel lagi, sekuel lagi ^^


@aninalf, syukurlah kalau suka. Coba deh beli bukunya sambil baca repiu ini. Dijamin tambah maknyus. XD

Kadang editor juga serba salah sih. Mau ngebimbing, mereka biasanya ga ngerti si pengarang ini nulis apa, mengingat fiksi fantasi ini masih baru banget di Indonesia.

Kalau ga ngebimbing, ya si pengarang ini yang jadi korban, kayak yang udah banyak terjadi.



Luz B.

Cheppy mengatakan...

@Luz,
[quote]
Justru argumen Om yang bilang ngelempar dadu 100x dimana angka 6 sama sekali ga keluar itu probabilitasnya lebih kecil daripada mereka berhasil tiba di Arquella pada lompatan kesepuluh. Kalau aku ga keliru, itu kemungkinannya adalah (5/6) pangkat 100. Jauh lebih kecil daripada 1/10.
[/quote]

Gw ga ngerti maksud kamu yg ini,....

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur,

Soalnya Om bilang,

Sama aja kayak main dadu, saat ngincer angka 6, bukan berarti dalam enam lemparan kita udah pasti dapat angka 6. Bisa aja ngelempar seratus kali tetep si 6 nggak kunjung keluar!

Kemungkinan angka 6 sama sekali ga keluar dalam 100 kali lempar adalah, dalam bahasa matematika, [(5/6) pangkat 100] alias 0,000000012 atawa 12/100.000.000

Dalam bahasa Indonesia, itu berarti nyaris ga mungkin.

Dengan kata lain, antara argumen dadu yang Om ajukan dan kemungkinan lompatan dimensi Arquella, Lompatan dimensi Arquella lebih mungkin berhasil meurut hitungan matematis. Gitu aja.



Luz B.

Anonim mengatakan...

Tentang probabilitas itu emang terlalu teoretis bin matematis. Kalo di ilmu peluang, itu istilahnya frekuensi harapan. Kata harapannya digaris bawah. Jadi kita cuma bisa berharap tapi belum tentu pasti. Lagipula pembuktian teori peluang 1 di antara 10 baru bisa bener kalo emang percobaannya banyak banget dan tekniknya random. Kalo sampelnya cuma sepuluh, belum tentu begitu.

Tapi aku juga sependapat pas baca deretan komentar repiu ni. Emang lintas dimensi tuh gunanya buat apa? Cuma buat bisa pulang lagi ke rumah dan berharap perang udah usai ato si pangeran lupa? Ini mah ibaratnya keliling benua tapi cuma absen doang. Ga bawa oleh-oleh ato foto-foto apapun. Yang dipikir cuma home sweet home mulu.

Ah, lagi-lagi editor....

Eh, tapi inti utama cerita ini jadi apa sih? Tentang penjajahan? Perang antar negara? Ato perjalanan keliling dimensi?

@shienny
Thx. link-nya asik!

@luz
Thx loh repiunya yang sueger ini. Dan mau bikin proyek list klise plot, protagonis, villain, setting, de el el dalam EYD? Menarik bangetz. Apakah dalam bentuk polling nih di loresketch? Aye udah siap ngantri lho.

@bang pur
sori banyak OOT-nya. Hehe. Abis ada badai lautan.

Heinz.

Cheppy mengatakan...

@Luz,
Dengan kata lain, antara argumen dadu yang Om ajukan dan kemungkinan lompatan dimensi Arquella, Lompatan dimensi Arquella lebih mungkin berhasil meurut hitungan matematis. Gitu aja.

Lha, sis, kalo pembaginya lebih kecil bukannya probabilitynya jadi semakin kecil lagi?

Jadi kalau pakai rumus kamu, kemungkinan balik ke Arquella lagi adalah (1/10) pangkat 100,... berapa tuh?

Gue agak butek di matematika, tapi buat gue sih probabilitas 1:6 (dadu) masih lebih besar dari pada (1:10). Common sense aja, sih.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur,

Aku nggak akan nyalahin kalau lupa pelajaran itu sih, soalnya mang SMA sudah lama banget yak, hehehe...

Kalau Arquella, dia cuma kemungkinan berhasil 1 dari 10. Jadi, 1/10, atau 0,1. Gitu aja.

Sekalian jawab pertanyaan Heinz, berarti kalau kita gunakan frekuensi harapan, 1 dari 10, kan? Makanya aku bilang teori si pengarang sahih. Meskipun ya, dramatis. Kita ga bisa menyalahkan dia disini.

Kalau dadunya om Pur, kita menghitung kemungkinan angka 6 pada dadu bersisi 6 sama sekali ga muncul dalam 100 kali lemparan. Ini lebih kompleks hitungannya. Dan kebetulan aku masih ingat caranya.

Kemungkinan angka 6 muncul dalam 1 kali lemparan dadu adalah 1/6. Jadi, kemungkinan angka 6 gak muncul dalam 1 kali lempar adalah, 5/6.

Kalau kemungkinan dadu 6 sama sekali ga muncul dalam 100 kali lempar, ya (5/6) pangkat 100 = 12/100.000.000.

Dan menurut common sense, 1/10 sama 12/ 100.000.000 gedean mana, coba?



Luz B.

Cheppy mengatakan...

@Luz, lho koq jadi aneh?

coba analogi dadunya dipakai apple-to-apple:

Kemungkinan keluar angka 6= 1:6
Kemungkinan gak keluar angka 6= 5:6

Kemungkinan balik ke Arquella= 1:10
Kemungkinan ga balik ke Arquella= 9:10

Sekarang gue tahu dimana anehnya:

Lo bandingin 5:6 dengan 1:10, kagak apple to apple.

Anyway, sebenernya kita ga perlu ribut kalo pengarangnya gak nyebutin teori kemungkinan ini. (ternyata yang ribut cuma para ahli-ahli review ini doang! Wekekekek)

Rasanya dia ngomong faktor kebetulan aja, udah selesai masalah. Hehehe.

Lanjuuuut, W(illy)hat The F(larkies)u*k sudah menunggu,...

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

@Om Pur,

SWT, dah Om... susah amat yak aku ngejelasin pelajaran SMP-SMA ini?

Ini bukan masalah apple to apple, tapi penerapan teori probabilitas.

Arquella itu gini:

Kemungkinan dia balik: 1/10 (ini fenomena A)

Kemungkinan dia gag balik: 9/10 (ini fenomena B)

Udah, sampai disitu, I believe you can get it.

Kalau dadunya Om, (masi kita anggap ini fenomena C), nilainya bukan 5/6, karena 5/6 adalah kemungkinan angka 6 tidak muncul dalam SATU kali lemparan.

Sedangkan yang Om ajukan adalah kemungkinan angka 6 tidak muncul sama sekali dalam SERATUS kali lemparan. Dan probabilitas untuk hal ini adalah 12/100.000.000.

Dengan kata lain, antara fenomena A, B, dan C, yang paling nggak mungkin terjadi adalah fenomena C, yaitu dadu Om.

Setelah itu, yang (jauh) lebih mungkin terjadi, adalah fenomena A, atau mereka berhasil melompat.

Jadi, penalaranku bener. Lebih mungkin mereka berhasil melompat daripada lempar dadu 100x tanpa muncul angka 6.

Setelah itu, yang paling mungkin berhasil adalah fenomena B, dimana mereka gagal melompat.

Jadi Om, dalil harus apple to apple "ga balik" sama "ga muncul" nggak berlaku untuk matematika probabilitas.

Jangan pikirkan bahwa mereka sama-sama negasi. Pikirkan dua hal itu sebagai hanya sebagai angka dan fenomena.

Klo masih bingung, buka textbook matematik SMA/SMP deh.

Dan kalau masih bingung juga (mengingat Adrian ngerti), mungkin aku jadi paham satu lagi alasannya kenapa penulis fikfan muda susah kalau mau konsultasi sama editor: editornya susah mudeng, dan kalaupun dia berusaha ngejelasin, biasanya editor responsnya ya... gini.

But I beg to differ. Just because you are not so good at understanding simple math, you cannot dismiss the writer as "merely using coincidence". It's really unfair to the writer. That's all I have to say.



Luz B

Mantoel Toeink mengatakan...

Heaaah, Pulpen down, semuanya pindah ngobrol di mari. Haum, haum.

Gw gak akan ikutan nimbrung soal probabilitas biarpun gw termasuk yg gres dapatnya (kuliah semester 3 gw msh dpt) dan bukunya nongkrong manis di lemari sebelah meja komputer gw.

Gw cuma akan bilang bahwa gw bersedia membantu nyusunin list ttg aturan aneh di dunia perfantasian. :D :D Just like thw "99 Weird RPG Rules". Mau sampe angka berapa? 99 ato 100? :D

Hehe.

Cheppy mengatakan...

well ya sutralah, I guess we have bored our viewers enough,... hehehe.

Tapi teteup, pasti ada yang bisa kita pelajari dari review dan diskusi ini, right friends?

TQ luz,

Lainnya, silakan dilanjot!

aninalf mengatakan...

Membaca semua ini, aku jadi berubah pikiran. Novel fantasi yang akan kukeluarkan pertama kali akan jadi bergenre mecha. (ga nyambung)

@Shienny: thanks for the link too.

Anonim mengatakan...

Jadi yang pertamax komentar, trus cuman sekadar sightseeing selewat-waktu, ternyata udah rame gini...

*btw, saia kok surprise ternyata si om ama ponakan bisa berseberangan gitu yahhh, kirain satu mazhab, qqqqq*

yakk, kyknya udh cukup tuh, Arquella dibantai teori probabilitas, skarang tinggal nunggu si Willy yang gaya benerrr dibikin anak Indonesia dlm bahasa Inggris ituh...

@Luz, gak pengen nge-repiu pilem How To Train Your Dragon yg kau tonton kmaren dulu? saia udah nonton kmaren, dan "OMG, bagus bangetttt", nah pengen tau aja teorimu soal fantasy-nya pilem itu....*nyengir*

---ijul---

Luz Balthasaar mengatakan...

@Aninalf, Mecha? O_O
OMG memang ga nyambung XD

@Juun, kirain kemaren dah beres, ternyata masih Lola Juga. Ga ke lapak di pulpen aja?

@Mas Ijul, ya bisalah seberangan. Namanya juga orang, kerjaan sama pendapat teteup beda. Aku sih maunya nggak nyalahin si penulis di titik dimana dia sebetulnya ga salah.

Soal How to Train Your Dragon, aku ga tahu apakah aku mau nulis soal itu. Mungkin simpan dulu jadi ide kali ya. Apalagi karena HTTYD itu kan diangkat dari buku fikfsn luar. Ga tau pas aja pa ngga kontennya buat blogku.

@Om Pur, ya, kalau begitu, lanjut aja ke si Willy. Thanks also 4 the questions--aku jadi lebih menghargai profesi guru matematika yang dulu aku sebelin banget. Sekarang jelas sudah mengapa tiap kali berdiri di depan kelas beliau selalu tampak seakan memikul beban dunia, wkwkwkw...



Luz B.

Villam mengatakan...

hee... diskusi yg bagus kok, walau ya, mulai aneh setelah melebar ke soal perdaduan. :-P

kalo mau tambah melebar, soal dadu ini, baru aja gue ngobrol sama dua dewa judi, Chow Yun Fat & Stephen Chow. heheh... dan kata mereka, ada 3 jenis gambler. 1% adalah pemain yg selalu super untung kayak Si Untung Bebek (tapi 2 Chow ini terlalu merendah dengan bilang bahwa mereka super untung, dan bukannya super jago), lalu 1% adalah pemain yang selalu super sial kayak Donal Bebek, dan sisanya adalah 98% pemain yg kadang untung kadang sial, biasa-biasa saja, gak peduli betapa pintarnya mereka menghitung peluang atau mungkin sekadar menghitung uang. dan kenyataannya adalah, lebih menarik untuk mengikuti kisah orang-orang yang super untung ataupun super rugi ini, daripada mayoritas pemain yg lain. karena, simply becoz its more dramatic, and in story, the dramatics is what we need. entah itu karena super beruntung, super jenius, atau karena sebab lain (yg lebih bagus kalo bisa lebih digali sih...). :-)

atau contoh lain buat perbandingan, adalah kisahnya si Jamal Malik di Slumdog Millionaire. bagaimana bisa dia mendapat sederet pertanyaan kuis yg dia bisa jawab semua. apakah karena dia:
a. curang?
b. jenius?
c. beruntung?
atau
d. it's written, alias takdir.
dan di akhir film dijawab, itu adalah d.

iya sih, di dunia fiksi fantasi, takdir memang dianggap sudah menjadi sesuatu yg klise, dan hampir selalu menjadi lame excuse buat penyelesaian suatu kasus. but sometimes, it's something that still works. kayak hidup dimana banyak hal gak bisa dijelaskan secara logika. gak semuanya terlihat punya alasan (walau sebenernya ada, tapi kita gak pernah tau). sometimes it just happened.

tentu saja, cerita yg ditulis gak bisa disamakan begitu aja dengan hidup. karena kita bikin sebuah cerita utk sebuah alasan, kita ingin menyampaikan suatu pesan yang jelas, dan untuk itu kita perlu bikin penjelasan yang memadai dan bisa diterima. tapi ya itu, gak semua harus saklek semata-mata demi logika. daripada kita sendiri yg pusing mengutak-atik peluang. mari kita kritis, tapi kadang ya kita harus lapang dada aja dan berkata, "okelah. it's written.". :-))

lame? maybe. unbelievable? maybe. but its still a story, and sometimes the unbelievable story is a good one, and its not lame at all.

tapi... pret! ngapain gue ngomong soal ini di sini?

padahal gue sama sekali belon baca bukunya, dan gue udah berjanji bahwa gue gak akan pernah ngomong sotoy dan ikut arus ngenyek sebuah buku jika gue belon baca!

well, whatever. my mistake.

sebenernya di awal tadi cuman mau bilang, gue bukan terkesan sama reviewnya, tapi justru pada kata-kata luz, bahwa dalam mereview kita harus bisa memisahkan ranah mana yang memang patut dikritik, dan mana yang tidak perlu dan bahkan sebaliknya perlu diapresiasi, seperti imajinasi, premis atau ide-ide sang penulis. tentu saja, kadang dua hal itu sulit dipisahkan, dan seringkali kita mengkhianati prinsip itu secara sadar ato tidak sadar. dan karena itulah justru, mengritik secara baik--secara konsisten--memang bukan hal yang mudah.

di sisi lain, mas pur juga ngasih contoh bagus. yaitu memberi saran begini:

Lagian apa perlunya ngungsi ke tempat yg lo ga bisa pastikan safety nya, sekaligus ga bisa pantau apa kondisi aman untuk kembali?

Mending pakai plot ngumpulin mustika di masing masing dimensi aja, biar pun klise masih masuk akal.


good one. :-)

walau bisa juga bad one, jika itu tidak sesuai dengan premis apa yg sebenernya ingin disampaikan oleh si pengarang.

tapi apapun, itu adalah contoh bahwa dalam mengritik kita gak hanya sampe pada pernyataan2 dan pertanyaan2 semacam: ini jelek, ini payah, bikin gue ketawa ngakak guling2, kenapa begini, kenapa begitu (apalagi belon baca). tapi sudah sampe di taraf mengenali motif dan maksud si penulis, dan apa yg sebaiknya dilakukan untuk bikin cerita itu mestinya jadi bisa lebih baik.

essence of critics. to make it better.

halah. lebai.

ah, whateverlah...

missWong mengatakan...

hehe, villam bijak skali, saya jadi kagum..

Afandi mengatakan...

wah, suhu villam telah muncul... :)

ia... kata-kata bang villam terasa bijaksana sekali...

it's totally like a monk... :p

Afandi

Rie Chan mengatakan...

Umm, bukannya mau ngungkit2 topik yg udah ditutup, tapi rumus probabilitas buat perpindahan dimensi 10 kali yg kemungkinannya 1/10 itu:

1/10 dikali 10 = 1

klo probabilitas keluarnya angka 6 di dadu yang dilempar 100 kali itu:

1/6 dikali 100 = 16.66

jadi kemungkinan keluarnya angka 6 klo dadu dilempar 100 kali adalah 16 kali atau 17 kali

tapi ya ini kan cuma rumus, cuma probabilitas alias kemungkinan, atau apa tadi istilahnya? frekuensi harapan? Kenyataannya, klo kita ngelempar dadu 100 kali, bisa aja angka 6 keluar ampe 50 kali.

Yah, sekali lagi aku nggak akan ungkit2 masalah probabbilitas lagi dah :p

Menanggapi bang Villam, mungkin bener juga bahwa dalam me-review cerita orang lain, ada bagian2 yg ga bisa kita sentuh, yaitu ide cerita, imajinasi pengarang, dll. Tapi kalau memang si pengarang itu meminta kita untuk me-review ide ceritanya juga, dg tujuan untuk ngeliat, apa cerita dia itu cukup masuk akal, bisa diterima pembaca, atau sebab musabab lain, kupikir sah2 aja. Tapi ya itu, selama pengarang nya sendiri yg minta.

Bukannya mau ngebandingin, klo di luar negeri, ada orang2 yg ga sungkan2 untuk me-review (baca mengkritik) ide cerita orang lain. Klo menurut mereka ide itu ga masuk akal atau jelek atau payah atau klise, mereka ga akan sungkan2 untuk bilangnya. Tapi itu semua mereka lakuin untuk ngebuat cerita itu jadi lebih bagus (baca: kritik membangun). Yg emang cuma niat ngejelek-jelekin cerita orang lain pasti langsung keliatan kok dari tipe komentarnya.

Lanjut, klo menurut pendapat pribadi ku sih, klo ada bagian dari ide cerita kita yg sebenernya nggak mempengaruhi plot cerita yg sebenernya, tapi kita masukin karena berbagai macam alasan kayak adegannya bagus, romantis, untuk dramatisasi, dsb dsb dsb, sebenernya itu mubazir banget dan seharusnya ide cerita atau adegan itu nggak perlu kita masukin.

Contohnya kayak adegan Eragon dateng ke hutan "granit" di perkampungan dwarf di buku ketiganya (lupa judulnya) itu sebenernya emang adegan yg bagus banget, cocok buat dijadiin efek dalam film. Tapi apa kontribusi adegan itu pada plot cerita besarnya? Nggak ada. Klo adegan itu dihilangin pun, ceritanya nggak akan jadi bolong, malah bisa menghemat beberapa lembar halaman, jadi bukunya bisa lebih agak tipis.

Nah, balik lagi ke Arquella ini, kita mesti berani kritis untuk bertanya, apa esensi perjalanan lintas dimensi ini? Apa klo cerita lintas dimensi ini kita ilangin, ceritanya bakal putus atau jadi ga wajar atau bolong2? Klo jawabannya ya, berarti perjalanan lintas dimensi itu memang harus ada di dlm buku tersebut. Klo jawabannya tidak, yah, sorry to say, tapi plot perjalanan lintas dimensi itu cuma sekedar kesenangan penulis doang, dan bisa dibilang (maaf sekali lagi) kesia-siaan belaka.

Kita sebagai penulis harus tega untuk me"mutilasi" cerita kita sendiri, membuang adegan/dialog/plot yg sebenernya ga perlu dan ga nyumbang apa2 untuk plot besar cerita kita, supaya cerita kita bisa jadi runut, logis, dan yg terpenting, punya flow yg bagus dan lancar sehingga pembaca bakal bisa menikmati karya kita.

Ini murni pendapatku lho, silakan klo ada yg mau menyanggah.

Yican
-gara2 Pulpen down jadi nulis di sini >_< -

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie-chan, hmm... kayaknya kurang nyambung juga niy.

yang dipermasalahin bukan berapa kali dadu 6 keluar dalam 1 lemparan, tapi berapa kemungkinan dadu 6 sama sekali ga keluar dalam 100 lemparan, gituw.

Kalau soal memotong-motong bagian perlu atau ga perlu, tetep aja Rie, aku bilang soal perlu ga perlunya, potong ngga potongnya, itu harus diputuskan oleh pengarang sendiri. Itu bukan urusan si kritikus, bukan juga urusan si pembaca.

Kalau dalam dagang, pembeli adalah raja. Tapi kalau dalam menulis, pembaca bukan raja. Buku itu kan ekspresi si penulis juga. Jadi dia punya hak untuk menaruh dan membuat apapun yang dia inginkan.

Tugas kritikus bukan membuat si penulis mengubah ceritanya, tapi cuma ngasih pendapat dia tentang buku itu.

Aku pernah ngekritik G-5 nya Om Pur tentang bagian-bagian yang ga perlu dan mendingan dikurangi, tapi nggak semua poin yang kumasukkan itu dituruti. Padahal si Om sendiri berkata kritik itu nggak keliru. Itu sah saja. Aku ngasih saran nggak dengan tujuan itu kudu dituruti.

Kalau kamu pernah mencoba menulis, kamu pasti akan paham maksudnya.

Dan BTW, ga semua kritikus luar negeri itu baik loh. Coba ligat Goodreads. Yang ga segitu baik juga banyak kok.



Luz B.

Rie Chan mengatakan...

yang dipermasalahin bukan berapa kali dadu 6 keluar dalam 1 lemparan, tapi berapa kemungkinan dadu 6 sama sekali ga keluar dalam 100 lemparan, gituw.

aku ngerti kok, maksudnya sama aja kan sama klo pindah dimensi 10 kali, ada nggak kemungkinan tokoh utamanya nggak nyampe ke dimensi Arquella sama sekali?

Jawabannya: ada banget. Toh emang dlm kehidupan nyata, kita nggak bisa mengatur kemungkinan2 seperti itu sepenuhnya.

Aku cuma mau ngasih gambaran, klo menurut rumus probabilitas, kemungkinan angka 6 nggak keluar itu nggak mungkin banget alias nggak mungkin terjadi, karena klo menurut perhitungan, angka 6 bakal keluar 16 sampai 17 kali. Tapi klo dalam kehidupan nyata, ya mungkin aja terjadi, klo orangnya emang super sial seperti yg dibilangin bang Villam :p

Jadi berapa kemungkinan si putri nyampe di Arquella lagi setelah 10 kali lompatan? Jawabannya ya 1 kali, sesuai rumus:
1/10 dikali 10 = 1

Klo dalam kenyataannya? Cuma Tuhan yg tahu, atau dlm dunia Arquella, cuma penulis yg tau :p

Tugas kritikus bukan membuat si penulis mengubah ceritanya, tapi cuma ngasih pendapat dia tentang buku itu.

Yap, yap, aku setuju banget. Soal mau terima kritik apa nggak, ya terserah si penulis lagi.

Udah kubilang kan, pendapatku itu murni perasaan subjektifku sebagai insan pencinta dan penikmat buku. Klo ada yg ga sependapat, ya sah2 aja juga.

Kalau kamu pernah mencoba menulis, kamu pasti akan paham maksudnya.

Aku paham bener kok, secara aku sudah pernah mencoba menulis, dan masih nulis ampe detik ini.

BTW, di siggy ku ada nama user ku di forum PulPen, so you know what I mean lah ;)

Dan BTW, ga semua kritikus luar negeri itu baik loh. Coba liat Goodreads. Yang ga segitu baik juga banyak kok.

Yap, yap, setuju banget juga. Aku cuma mau menggambarkan, kadang2, (kadang2 loh, ya) kritikus luar negeri itu lebih berani dan lebih kritis daripada kita orang Indo, mungkin karena emang budaya mereka yg lebih to the point tanpa tedeng aling2. Klo buat aku sih, itu bisa membuat kritik mereka lebih berharga, karena mereka lebih berani nunjukin kesalahan kita, daripada kritikus yg cuma bilang "oh ya ceritanya bagus" tapi sebenernya nggak terlalu sreg ama cerita kita.

Buatku pribadi, kritik pedes ala cabe rawit yg memang bertujuan untuk membuat cerita kita jadi lebih bagus jauh lebih berharga daripada kritik manis ala permen.

Tapi apa itu membuat mereka jadi kritikus yg lebih baik? Beberapa (sedikit)mungkin ya, sisanya jelas nggak.

Nah, sesuai pendapat pribadiku tadi, kamu itu termasuk kritikus yg bagus, Luz, karena kamu berani untuk "tega" mengkritik cerita orang lain.

Bukan mau menyanjung lho :p just stating my opinion.

Yican
-kapan ya PulPen idup lagi T_T -

Luz Balthasaar mengatakan...

@rie-Chan. ah, I cee. yang peluang itu, I get your point now. Iyah, bener, dia harus superduper amat sial untuk sama sekali ga dapet angka 6 dalam 100 kali jajal.

Aku tahu kok itu Yican. Makanya, aku bilang, kalau kamu pernah nyoba nulis, kamu pasti tahu. Kayaknya kita sepaham soal kritik pedas lebih baik dibanding sanjungan manis.

Cuman, kalau soal memotong semua yang "gag perlu", kadang-kadang kasusnya naskah kita jadi "kelewat hemat" lho. Menurut beberapa orang, aku mengalami ini.




Luz B.

Cheppy mengatakan...

Waaah, senang forum jadi ramai (gara-gara pulpen down terus, kami jadi dapet berkah neh,.. hehehe)

Moga-moga kerasan..., *suguhin kopi 'ma jangung rebus*

FA Pur

Cheppy mengatakan...

(salah satu kejelekan forum ini,... kalo udah salah posting ga bisa diedit.)

Sorry, jagung rebus, tentu maksudnya! :)

Anonim mengatakan...

@bang pur
Jarang-jarang fikfanindo rame gini. Congrats!!!

@bang villam
Tentang essence of critic....
Ya, idealnya memang begitu.
Tapi tentang masukan atau sumbangsih ide, kukira itu hanya bisa terjadi selama buku belum dicetak dan masih dalam tahap penggodokan. Tapi kalo udah ampe sudah dicetak, ehm, situasi dan perspektifnya tentu beda.

Heinz.

Anonim mengatakan...

Luz wrote: Kalau dalam dagang, pembeli adalah raja. Tapi kalau dalam menulis, pembaca bukan raja. Buku itu kan ekspresi si penulis juga. Jadi dia punya hak untuk menaruh dan membuat apapun yang dia inginkan.

hmm, kayaknya saia disagree bagian ini, kcuali orang nulis buat dia sndiri, baiklah, mow dikritik ampe yg ngritik bibirnya dower dan si penulis keukeuh ga masalah, tp klo udah terbit? apalagi terbitnya dikomersilkan...oh, itu udah siap dibantai lahir-batin (malah), jadi saia tetep merasa jadi raja atas setiap buku yang saia baca+repiu, tapi saia jugs bukan raja yang lalim, jadi klo pas merepiu ternyata saia salah atow pake logika keliru, ya saia siap dengan bantahan dan hak jawab dr si penulis (yg baca repiu saia)....

---ijul---

Rie Chan mengatakan...

*nyomot jagung rebusnya Om Pur*

Weh, klo yg punya lapak seneng lapaknya rame, yok mari diterusin :)

@Luz: hohoho, baguslah klo ada yg sependapat sama aku soal cabe dan permen itu. Aku baru baca sekilas ceritamu. Pengennya sih baca yg "before" baru yg "after". Berhubung pulpen down jadi ditunda doeloe :(

@ijul: teteup aja jul, klo kita udah review ampe dower, tapi penulisnya nggak mau terima, ya itu hak dia. Tapi mungkin menyebabkan kita sebagai pembaca (baca: raja) jadi nggak mau beli karya2 dia seterusnya :)

Yican

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mas Ijul, Feline maksudnya gini kalau pembeli itu bukan raja: dia boleh ngomong sepedes2nya, tapi nggak punya hak menuntut penulis mengubah karyanya.

Sebagai kritikus, kita selayaknya ingat bahwa pandangan kita belum tentu mewakili pandangan pembaca kebanyakan. Kalau kita merasa suara kita adalah suara pembaca, oho...!

Kita seorang boleh ngekritik satu buku jelek, tapi bisa saja seratus pembaca lain akan bilang buku itu bagus. Sebaliknya pun berlaku.

Kita boleh mengancam berhenti beli karya dia, tapi seratus orang akan tetap beli. Dan jika sudah begitu, dimanakah rajanya kita, kecuali dalam delusi kita sendiri?

Karena itu, saat aku mengkritik aku nggak memposisikan diri sebagai raja, sekalipun aku beli bukunya dan ada adagium "pembeli adalah raja." Aku ya hanya aku. Kritikku adalah perasaanku yang jujur setelah baca buku tertentu.

Itu makanya aku jarang bilang "Pembaca akan menganggap ini jelek...blablabla." Pada kebanyakan reviewku, aku akan bilang, "Aku merasa ini begini dan begitu."

Pandanganku adalah pandanganku, bukan pandangan semua pembaca.

Have a think about this.

@Om, jangan jagung dong Om. Pelit amat. Morroccan mint tea dan kroket Belanda napa? (Buset mesen, mang Kopitiam Oey? :P)



Luz B.

Anonim mengatakan...

Iseng-iseng lagi santai baca-baca lagi tentang komen-komen "peluang".

Peluang si puteri bisa balik menurut si Zach = 0,1

Berarti peluang si puteri gag bisa balik pada percobaan pertama: 1 - 0,9 = 0,1

Mari asumsikan si puteri itu sial banget dan selalu gagal balik.

Peluang si puteri tetep gag bisa balik pada percobaan kedua, tentu saja, dengan catatan percobaan pertama gagal: (0,9)^2 = 0,81

Peluang si puteri tetep gag bisa balik pada percobaan ketiga dengan catatan percobaan pertama dan kedua gagal: (0,9)^3 = 0,729

Dst. Maka dengan cara yang sama:

Peluang si puteri bisa balik pada percobaan kesepuluh dengan asumsi percobaan-percobaan sebelumnya selalu gagal: (0,9)^10 = 0,35

Kesimpulannya: semakin sering coba, peluang si puteri tetep gag bisa balik makin lama makin mengecil. Alias semakin sering dia mencoba, kemungkinan dia gagal balik makin kecil. Alias setelah 10 kali mencoba, she's likely to succeed.
Dengan catatan, si puteri itu gak punya gen Donald Bebek.

Tapi yang jadi masalah berikutnya, gimana cara si Zach dapet asumsi peluang balik 10%? Memang di dunia itu, dimensinya ada berapa? Kukira pernyataan 10% itu bisa dipakai kalo emang dimensinya cuma ada 10, termasuk dimensi home-nya. Nah, kalo cuma ada sepuluh (tergolong dikit) berarti ada kemungkinan si puteri bakal terdampar di dimensi yang sama lebih dari satu kali.
Tapi kalo lebih dari sepuluh (apalagi sepertinya jumlah dimensinya unlimited), agaknya statement 10% si Zach itu harus dipertanyakan. Yah, kecuali kalau pintu menuju dimensi "home" lebih banyak daripada pintu menuju dimensi lain.

@bang pur
Sori boz, lapaknya dipake jadi tempat diskusi judi. Hehe.

Heinz.

Anonim mengatakan...

Ah, emang repotnya posting yang gak bisa diedit hehe...

Ada yang ketinggalan:
Justru peluang untuk berhasil spesifik pada percobaan ke-10 bakal lebih kecil karena hitungannya bakal menjadi: (0,9)^9 * (0,1) = 0,038.

Yang bakal "lumayan" besar itu kalo kasusnya gini: dari 10 kali percobaan, minimal ada satu kali yang berhasil. Ya, minimal satu kali, tapi entah munculnya di percobaan ke berapa. Karena hitungannya (seingatku waktu SMA) bakal lebih rumit karena pake rumus binomial. Haha. Mantoel (Juun?) yang pernah mendalami dan punya textbook-nya mungkin bisa klarifikasi. Halah....

Oya, terus maksudku "pintu dimensi home lebih banyak" itu ibarat dadu bersisi 10 trilyun (ini mah bola atuh namanya). But let's say it like that karena asumsi jumlah dimensinya unlimited. Nah, sebanyak 1 trilyun dari sisi dadunya itu ber-angka 1. Dan kalo dapet angka 1, si putri baru bisa balik. Dengan asumsi ini, kukira pernyataan 10% si Zach itu baru bener.

Heinz

Anonim mengatakan...

Halah....Susahnya....
Edit lagi:

Quote:
Berarti peluang si puteri gag bisa balik pada percobaan pertama: 1 - 0,9 = 0,1

Harusnya:
Berarti peluang si puteri gag bisa balik pada percobaan pertama: 1 - 0,1 = 0,9

Quote:
Peluang si puteri bisa balik pada percobaan kesepuluh dengan asumsi percobaan-percobaan sebelumnya selalu gagal: (0,9)^10 = 0,35

Harusnya:
Peluang si puteri TETEUP MASIH GAG bisa balik pada percobaan kesepuluh dengan asumsi percobaan-percobaan sebelumnya juga selalu gagal: (0,9)^10 = 0,35

Heinz. (lagi)

Adrian mengatakan...

@Heinz

Bener juga ya. Pertanyaannya adalah (sama dengan kata mba Luz di review ini) si Zach tau dari mana peluangnya cuma 10%? Di awal katanya dia ga tau cara pindah dimensi, cuma dibilang, "Kamu bisa!" =)) Dan si Zach ga dibilang tau ada berapa dimensi kan? (maap belom baca :D )

Btw, ini yang dimaksud dengan logika cerita kan? CMIIW.


Adrian.

Naskah-naskah Ivan rampengan mengatakan...

Waduh jadi intinya 9/10 dari komen" diatas ngomongin dadu?
loh....

lebih ngakak baca komennya daripada repiu....

tapi jauuhhhh k atas wa liat komen om pur yg mengatakan

"Kalo udah kayak gini, gue gak blame pengarangnya yg jela belum nyampe sistem logika begini. Itu loh a bunch of grownups di Sekitarnya ngapain aja? Masa cuma ngecekin ejaan doang?"

toh emang bwat Logika si publisher itu...
"wei ini Genre jarang nigh....
kita coba aja masukin.....
langsung terbitin aja....
klo gak laku ya udah kita gak terbitin fantasy lagi..."

berkurang lagi 1 target penerbit yg bisa kukirimi naskah Fikfan....

trus mo membagi kekagetan sekaligus saran....
minggu kemaren aku sempet kesandung di lantai 2 mangga dua (square/itc) yg pasti depan pasar pademangan.
ketemu buku science fiction yg ngga bangget judulnya android...(hanya Hal<100)
dan ternyata terbitan Grupnya BIG G grasindo loh.....

Skie mengatakan...

woh. baru pertama kali main ke sini. tajem banget reviewnya. haha. tapi keren, jadi tau mana fikfan indo yang emang worth it dibeli (y) (y)

Luz Balthasaar mengatakan...

@Skie, selamat datang.

Sebenernya kalaupun novel itu kami bilang jelek, sangat disarankan jika anda membeli dan melihat sendiri apakah memang novel itu beneran jelek.

Repiu bisa salah kok. Dan kalau anda mau berpartisipasi dengan memberi bantahan untuk sebuah repiu, you are welcome to do so.


@Ivan, Android yah? Wew, aku belum lihat, padahal baru2 ini ke Gramed. Nanti kalau ada aku lihat deh, hehehe...


Luz B

Anonim mengatakan...

Akhirnya inget juga satu perang yang melibatkan cewe. Battle of Chibi aka Red Cliff.

Waktu itu, Sun Quan sedang bimbang pas dikirim surat ancaman perang dari Cao Cao. Pada saat bersamaan, Zhuge Liang juga datang dan menyarankan perang terhadap Cao Cao. Kubu dewan penasihatnya terpecah dua. So, dia nanya pendapat penasihat tertingginya Zhou Yu. Hm, dan terjadilah adegan pembicaraan politik paling top di sejarah Sam Kok. Zhuge Liang berusaha keras membujuk Zhou Yu. Dan akhirnya ia berhasil setelah menyinggung-nyinggung tentang dua cewe cantik bernama Da Qiao dan Xiao Qiao. Maklum Xiao Qiao kan istrinya Zhou Yu. Da Qiao sendiri iparnya Sun Quan yang sangat dihormati.

Tapi ya tentu saja, alasan cewe cuma salah satunya saja. Lagipula "cewe" di sana bisa juga dianggap sebagai simbol dari kehormatan negara. Alasan lain, tentu saja, Cao Cao ingin menguasai seluruh daratan Cina.

Danny mengatakan...

@Anonim: Itu versi movienya kan? Masa versi aslinya juga kaya gitu?

Setauku versi asli itu si Zhuge Liang pengen nahan Cao Cao supaya ekspansinya ga sampe jauh ke selatan. Makanya dia minta sama Liu Bei buat koalisi sama Sun Quan. Dalam membakar kapal itu Zhuge Liang minta Pang Tong buat nipu Cao Cao.

Seingetku ga da sangkut pautnya sama cewe2.

Anonim mengatakan...

@Danny
Ndak. Cerita aslinya juga memang ada bagian itu. Koalisi dengan Sun Quan gag segampang itu. Saat itu, kubu penasihat Sun Quan terpecah dua. Para jenderal umumnya menyarankan perang. Tapi para menteri sipil menyarankan nyerah mengingat kekuatan pasukan Cao Cao sangat luar biasa. Dalam kebingungan, Sun Quan menyerahkan keputusan pada Zhou Yu, sesuai kata-kata mendiang Sun Ce kakaknya sebelum mati, "Urusan luar negeri biar Zhou Yu yang tangani."

Maka bertandanglah para penasihat Sun Quan ke Zhou Yu. Adegan ini asli lucu. Yang golongan sipil menyarankan damai dan Zhou Yu bilang setuju. Yang golongan militer menyarankan perang dan Zhou Yu juga bilang setuju dengan cool-nya. Hingga akhirnya tibalah giliran Zhuge Liang.

Zhuge Liang bilang ada satu cara mudah untuk menghindarkan perang dengan Cao Cao sementara Sun Quan tetep di posisinya sebagai pimpinan.

Maka Zhuge Liang mulai membacakan puisi "burung Hong (phoenix)untuk menghiasi menara" ==> yang tak lain mengacu pada dua cewe Qiao.

Dengan lagak pura-pura bodoh, Zhuge Liang mengatakan bahwa tindakan itu wajar karena mengacu pada seorang raja jaman dulu yang rela menyerahkan anak perempuannya demi menghindari perang dan agar kerajaan tetap damai.

Alhasil Zhou Yu langsung hilang cool-nya dan ngamuk berat. Maka perang terhadap Cao Cao pun dimaklumkan.

Heinz.

Christopher Thomas mengatakan...

Om Pur... kok lama nian review novel barunya... pengin belajar lagi neh. so, kalo bisa buruan yah hehehehe

Anonim mengatakan...

maaf,, maksud FFDN ntu apa y??
atw aqny yg salah nulis??
Ada yang tau gimana cara nerbitin novel fantasi?? *pengen nyoba juga*

Christopher Thomas mengatakan...

haduh om.... lagi bener-bener sibuk ya?. waaa... padahal dah tiap haru loh ngecek. ayo Im nulis lagi!

Andry Chang mengatakan...

Whew, jadi serasa (agak) senasib nih. Tapi memang penulis2 seperti gue ini emang seharusnya gak terlalu tergantung dgn bimbingan editor. Lebih baik dibimbing dengan para pencinta fantasi yang bener2 "gila" spt Om Pur, Luz dll.
Dan, kadang2 kita juga perlu "third opinion" via komunitas dulu.

Tapi contoh terbaik adalah yg dilakukan Adhika Pustaka utk para pengarangnya, dlm hal ini Villam & Bonmedo. Gue sih gak pengen ngiri sama mereka, tapi sebaiknya gue coba terus menyempurnakan lagi karya2 gue, dan kalau perlu me-rewrite FireHeart...

Luz Balthasaar mengatakan...

@Chris, Iya nih, kayaknya si Om semedinya lama.

Mungkin aku isi dulu aja kali ya, biar ga kosong sama sekali. (Soalnya aku rada takut juga pada bosan klo aku terus yang repiu.)

Aku baru kelar baca Nadi Amura dan The Death to Come. Kedua-duanya layak dibahas. Mungkin aku coba bikin dan kontak2 ma Om kita.


@Anonim, FFDN itu forum fiksi Fantasi dalam negeri. Sekarang ini forumnya lagi down, tapi kita pindah pembahasan ke Goodreads Indonesia. Kalau mau gabung, silakan.


@Andry, karena itulah aku pikir bahwa yang diperlukan para penulis muda ini pertama-tama adalah orang-orang yang mau berkomentar dengan jujur dan mau diajak diskusi.

Soal Fireheart, daripada ditulis ulang, aku bilang mendingan dikonversi jadi game script sekalian dan dijadikan RPG yang full bisa dimainin. Trus rilis free kalau mau. Fireheart, entah kenapa, terasa seperti sesuatu yang "seharusnya dimainkan," waktu kubaca.



Luz B.

Christopher Thomas mengatakan...

@luz, iya isi aja dulu mbak daripada kosong lama. meski gaya ngereviewnya beda tapi tetep ada sesuatu yang bisa dpelajari. lagian, bete kan ngenet tiap hari tapi gak ada perkembangan. yang namanya belajar kan ga pake berhenti :D

Danny mengatakan...

Hmm...

Om Pur mendadak ponakannya banyak. :D

Cheppy mengatakan...

sorry,.. sorry,... bener-bener lagi sibuk nih gue.

Urusan periuk nasi: Baru abis RUPS, Sertifikasi ini-itu, mana gue juga baru ditransfer ke divisi lain.

Sungguh-sungguh belum sempat duduk sejenak untuk menuliskan review. Energinya udah keburu habis duluan, hehehe. Moga-moga minggu depan sudah reda semuanya.

Please be patient. Luz kalo mo ngisi lagi silakan saja, kan ga ada aturan kalo kita harus selang-seling ngisinya?

Salam,

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

Hmm, aku sih cuma takut yang baca bosan kalau aku mulu yang ngisi. Kan biar variasi antara kesinisan dan kesotoyan gitu maksudnya.

Tapi kalau memang pada ga keberatan sama dosis sinis lagi, ya sudlah. Aku coba nyetor Nadi Amura akhir minggu ini deh.



Luz B.

Garuda Generations Team mengatakan...

maaf semuanya!!! saya ingin membuat cerita fantasi juga!! T,T
Sebenernya udah jadi sih, tapi saya (sangat) butuh komentar, saran, kritikan, dan lain-lainnya dari senior2 semua!!!
Ada yang bersedia??? *sangat berharap*

Christopher Thomas mengatakan...

wokay! dah jalan hampir seminggu nih... mo nagih janji repiu!

Andry Chang mengatakan...

ew luz, gamenya udah jadi kok, u bisa download gratis di www.fireheart.tk. gue udah bagiin ke pur dsb. silakan "dimainkan" ui. ada 4 lagi game versi flash-nya buat iseng2...

Kencana mengatakan...

Nice review.

Soal nama Pangeran Tierra, kok jadi teringat nama tokoh anime di Gundam 00, ya? Namanya juga Tierra dan dia cowok!

"Ada yang nyium bau Tsubasa Reservoir Chronicle karya CLAMP, ga?"

Yup.

Anonim mengatakan...

wasli ya gw liat cover depannya udah merinding bulu kuduk gw liat ceweknya kenapa gk sekalian aja ceweknya duduk di pohon sambil ketawa



ya saya juga setuju dengan si pengeritik

yang saya setuju 100 persen adalah yang tentang negeri jubah


wkkwkkw
mungkin ya klo pndpt gw seh kek nya si penulis belom berpikir luas alias berpikir secara detail pd saat membuat novelnya

Anonim mengatakan...

oh ya satu lagi

ini buat pengertik

saya melihat klo pengertik mengertik menggunakan kata2 remaja alias seenak dewek

mas maaf ya klo saya menyindir seharusnya mas mengertik di sertai dengan saran jangan isinya hanya KRITIK PEDAS saja
for exam: negeri jubah tadi.

Anonim mengatakan...

seharusnya anda memberikan saran apa dan bagaimana cara memperbaiki kesalahan itu

igtu baru namanya KRITIKUS SEJATI

saya bukan kritikus novel tapi setidaknya saya bsa mengertik kritikus novel

Luz Balthasaar mengatakan...

@Anonim,

Justru kalau repiu diberikan dengan bahasa KBBI supersopan, Blog ini bakalan kehilangan keunikannya.

Disini kita bukan mau menampilkan diri sebagai kritikus pro nan snobbish. Cuma sebagai pembaca fantasi yang mengomentari novel yang dia baca. Sebab itu, semua orang bebas untuk mengomentari balik, bahkan dengan bahasa remaja seenak dewek.

Dan pengguna bahasa remaja seenak dewek ini termasuk anda sendiri, saya kira. Malah kayaknya komentar anda lebih seenak dewek dibanding bahasa repiu yang diatas, wkwkwkw... dan itu boleh-boleh saja kok. Kita bukan mau jadi snob, toh?

Soal saran dan perbaikan, sebetulnya, dari pengamatan saya, saran dan perbaikan itu menghilangkan ciri khas si penulis. Bahkan, kalau dia pemula, bisa jadi dia malah bingung dan 'kesetir' oleh saran perbaikan itu.

Akibatnya dia jadi berpikir kalau itu adalah satu-satunya solusi yang benar. Padahal ini keliru.

Mendingan kita tunjukin mana yang nggak sreg, dan biarkan penulis memikirkan jalan keluarnya sendiri. Ini lebih mendorong kreativitas yang bersangkutan dibanding kita kasih solusi yang nyetir.

Lain perkara kalau pengarangnya sendiri minta solusi.

Dan BTW, saya yang nulis repiu ini cewek. Kalau Om Purawan itu yang Mas.

Illuminatus mengatakan...

Muhun mf sblmnya kalo saya udah "seenak dewek" (minjam istilah barusan), gak ada angin gak ada ujan, malah ngomen" di sini...

Udah lama ya gak update nih reviewan nopelnya, padahal udah tiap ari nengokin ke sini ama blognya mbak Luz.

(Saya ngefans banget ama nih blog)

Kapan lagi nih mas pur, mbak Luz, n mas Heinz, reviewan barunya...

Anonim mengatakan...

@Kencana: yup, itu emang nama tokoh di gundam 00, tapi yang bener Tieria. lengkapnya Tieria Erde

^^

fithria hanifah mengatakan...

gw udah punya novel ini sejak pertama terbit. terus di ending nya ada to be continue berarti ada lanjutannya dong ? novel yang lanjutannya udah terbit lum ? sumpah gw penasaran sama lanjutannya ~

culLant ucikK mengatakan...

sumpah keren novelnya,,, penasaran sama lanjutanya udh terbit blm? kalo udh terbit kabarin gw yaa,,,,,

Anonim mengatakan...

Kalau lanjutan ceritanya udah ada blum ya ?

Chintika Emelia mengatakan...

awalnya aku emang ngira ceritanya kebanyakan niru2 cerita2 lain.. tapi aku senang karna aku gk bisa nebak endingnya.. berarti ceritanya gk murahan, cool.. exited!! sampai sekarang aku masih sukaa baca berulang2, terlalu byk misteri yg mengharuskan aku brfikir.. jd gk skedar terima2 cerita aja, tp memaksa kita utk berfikir :) kerennn!!

Chintika Emelia mengatakan...

awalnya aku emang ngira ceritanya kebanyakan niru2 cerita2 lain.. tapi aku senang karna aku gk bisa nebak endingnya.. berarti ceritanya gk murahan, cool.. exited!! sampai sekarang aku masih sukaa baca berulang2, terlalu byk misteri yg mengharuskan aku brfikir.. jd gk skedar terima2 cerita aja, tp memaksa kita utk berfikir :) kerennn!!

heri mohamad ridwan mengatakan...

kan arquella gx tamat ada lanjutannya gx