Selasa, 02 Maret 2010

Another World Elmore (Aulia M. Firmundia - 2009)

By Luz B.

Penerbit: Bestari Buana Murni
Editor: A. G. Adil
Desain Kover: Melati Harum Pandan Wangi
Layout: Irnawati
Tebal: 320 halaman

Setelah cukup lama nggak bikin repiu, karena disibukkan juga oleh proyek novel dan blogku sendiri, aku akhirnya dapat waktu untuk menyelesaikan sebuah buku fiksi fantasi baru berjudul Another World Elmore karya Aulia M. Firmundia, atau biasa dipanggil Uliel. Sedikit background-info, pengarang rupanya masih remaja, dan masuk 15 besar penulis berbakat Bookfrenz Writing School. yang didirikan oleh Elie Mulyadi. Bookfrenz ini sendiri rupanya adalah sebuah sekolah menulis untuk remaja, yang mengadakan kompetisi untuk menyeleksi karya-karya penulis remaja yang layak terbit.

Melihat cover, sebetulnya gampang aja kita menebak kalau karya satu ini targetnya adalah anak-anak, atau remaja 13-15 tahunan. Artwork cover rada bergaya manga, menggambarkan tiga dari lima tokoh utamanya. Dibikin dengan bagus banget, jujur aja. Pas bener untuk cerita fantasi dengan rating Semua Umur. Aku tepuk tangan meriah deh buat desainer covernya, Melati Harum Pandan Wangi. Hasil karya anda telah dengan sukses membuatku menyambar buku ini dari rak toko buku Gramedia Matraman.

Balik ke cover belakang... hmm... sinopsis yang biasa banget buat cerita fantasi. Ada hutan ajaib, dan hutan ajaib ini menarik seorang anak perempuan yang tinggal di panti asuhan untuk pergi ke dunia lain. Lewat cara apa menariknya? Lewat mimpi.

Hmm... sampai sini pengen ngenye', tapi tiba-tiba ada malaikat yang berbisik, "Mbak Luz, ingat Mbak, ini cerita Semua Umur..."

Benernya kurang setuju sih sama pembelaan si malaikat. Kenapa hanya karena dengan alasan label Semua Umur lantas klise diperbolehkan? Kenapa anak-anak dan remaja tidak boleh diperkenalkan pada konsep-konsep yang lebih kaya? Tapi ya sudahlah. Yang penting 'kan bagus tidaknya cerita ini. Ide standar, kalau si penulis tahu cara memasaknya, ya disantap juga.

Jadi pertanyaannya, apakah si penulis tahu cara memasak premis standar ini? Aku berani bilang, ya, dia cukup tahu. Elmore adalah sebuah karya yang lumayan, apalagi karena kuperkirakan si penulis masih sangat muda. Not perfect, but commendable.

Premis awalnya, seperti yang sudah kubilang, standar banget. Tapi dikerjakan dengan cukup baik untuk membuatnya hidup. Si tokoh utama Fazya adalah anak berumur 12 tahun yang tinggal di panti asuhan Taman Anak dan bersekolah di sebuah SMP. Di awal cerita digambarkan dia sebetulnya anak yang cantik, pintar, ceria, pokoknya segala kebaikan seorang heroine, deh.

Namun, Fazya ternyata menyimpan kesedihan dan iri hati tentang kenapa nggak pernah ada yang mau mengadopsi dia. Aku yang biasanya heartless ini jadi agak tersentuh juga waktu baca background cerita si Fazya. Cuman pas masalah adopsi ini lagi dibahas dengan tragis-tragisnya, ternyata diakhiri dengan pencantuman dua bait chorus Cinta dalam Hati dari Ungu.

Aaargh banget.

Kuingin kau tahu,
diriku disini menanti diiirimuuuu~
Meski ku tungguuuu~
Hingga ujung waaaaktuku~

Apa ini pas dipakai untuk mengungkapkan rasa kecewa seorang anak yang gagal diadopsi? Pendapatku, bisa. Tapi maksa-dot-com banget kaleee? Aku pengen tahu apakah yang baca repiu ini berpendapat sama atau ngga. Silakan berikan feedback anda di bawah...

Lalu cerita terus berjalan dengan sekolah yang bikin darmawisata ke Bukit Albion, yang *ehem* menurut desas-desus yang banyak tersebar, "hutannya sangat indah tapi juga berbahaya". Halah! Udah tahu ada lokasinya yang berbahaya, kok dipake buat darmawisata anak SMP, gitu? Alhasil, Fazya yang kayaknya pengen banget sesuatu yang mengasyikkan pasca penolakan adopsinya jadi kabur deh ke hutan yang berbahaya itu, untuk mengikuti mimpinya.

Dan tentu saja, menuruti pakem yang berlaku di semua cerita fantasi klise, mimpi adalah selalu always itsumo merupakan kebenaran.

Maka sampailah Fazya di suatu negeri bernama Elmore. Disini ia jadi berteman dengan seorang elf cewek bernama *ehem* Naia, dan kakak Naia, Dylan, juga seorang anak lain yang datang dari dunia di luar Elmore, Gio. Naia dan Fazya langsung menjadi teman akrab. Berdua mereka pergi ke lemari pakaian, yang dengan nggak nyambungnya terletak di dapur, untuk melewati kumpulan mantel bulu ala The Lion, The Witch, and The Wardrobe, sampai mereka tiba di negeri Nar...

...eh, maap, kliru, untuk tiba di balkon dan membicarakan tragedi yang menimpa Elmore.

Dan di akhir percakapan, terungkaplah bahwa Fazya adalah putri yang menjadi kunci untuk mengembalikan Elmore menjadi sediakala.

Maka dimulailah perjalanan mereka untuk membebaskan keluarga kerajaan yang ditawan di Burl Tower. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan berbagai macam rintangan. Ada orang jahat, ada orang baik yang ternyata jahat, ada orang jahat yang ternyata baik, dan... ada juga beberapa plothole dan / atau kenaehan yang kira-kira sejenis dengan "darmawisata di hutan berbahaya" dan "lemari baju Narnia di dapur" yang sudah kusebut.

Pertama, soal Light Sword. Katanya siapapun yang dipilih oleh pedang itu adalah ahli waris kerajaan yang berikut. Dan pedang itu "Hanya bisa dimiliki oleh anak laki-laki yang masih keturunan raja pertama Elmore." (Hal. 60.) Lha, kalau begitu, kenapa Amos Maden si penjahat bisa merebut dan memiliki pedang itu? Toh ga disebut kalau dia adalah keturunan Raja Elmore.

Okay, bisa aja ada backstory yang ternyata ga diceritakan kalau Amos Maden juga turunan raja. Namun, di cerita diungkapkan kalau pedang itu disimpan oleh Elysia, pacar Amos, yang tadinya cuma gadis desa biasa. (Apa perlunya si Amos nitipin ini ke Elysia, BTW, kalau dia ternyata turunan raja dan bisa memegang sendiri pedang itu?)

Jadi pedang itu rupanya juga bisa dimiliki oleh seorang gadis, yang notabene bukan laki-laki. Dan gadis ini adalah seorang gadis desa biasa yang bukan turunan keluarga raja.

Atau mungkin juga ada backstory yang ga diceritakan kalau Elysia itu sebenernya laki-laki, dan juga turunan raja?

OMFG.

Tapi si malaikat kembali berbisik, "Hus, Mbak! Ini cerita Semua Umur!"

Baik. Maka mari kita simpulkan kalau ini adalah plothole, bukan hal-hal nyeleneh seperti yang tersirat dari lirik lagu (yang tentu saja gak ada di novelnya, tapi dasar aku pengen ikutan nyantumin lirik biar repiu ini jadi rada puitis gitu,) di bawah ini.

Rasa ini sungguh tak wajaaar~
Namun kuingin tetap bersama diiiaaa~
Ku mencintaaainyaaa~ ouw-woooww 

Bolong yang berikut, waktu dikejar Treejax dan pasukan Abelard yang dulu katanya membunuh orangtua Naia, kok bisa-bisanya Fazya dan Naia kegirangan dan malah balap kuda? (Hal. 89.) Kalau pasukan Abelard ngebunuh orang tua Naia, bukankah yang bersangkutan seharusnya menganggap dikejar oleh mereka sebagai sesuatu yang serem?

Lalu ada lagi, ujian Admertus untuk menentukan apakah Fazya benar putri yang hilang atau bukan. Malah ditanyain soal kamar tidur kamu dimana, nama saudara bapak kamu siapa, dst. (Hal. 149). Dan begitu Fazya bilang "Nggak tahu", langsung itu dijadikan bukti kalau ia bukan tuan putri.

*Nepok jidat* Ya iyalah dia ga tau. Orang Fazya gedenya di dunia nyata, bukan di Istana Elmore!

Sebetulnya alasan ini sudah diajukan sama Herald, musuh Admertus. Tapi kemudian Admertus menangkis, "Kalau dia putri, pasti dia tahu karena ratu pasti tidak ingin anaknya tumbuh tanpa mengenal Elmore."

Jadi, ratu percaya sang putri akan mencintai negerinya dengan cara memberitahu anaknya letak kamar tidur yang nggak pernah dia pakai? Boleh banget...

Sedihnya, tahu-tahu ada prajurit ogeb bilang alasan Admertus masuk akal... dan diterimalah alasan itu oleh Herald. Membuat si putri lolos dari tangannya hanya karena logika bodong.

Plis deh, Om Herald. Mikir dikit napa? Kalau dia memang tuan putri dan tahu dia mau ditangkap, ya pastilah dia berlagak pilon, bukannya nyebutin nama keluarga dan letak kamar tidurnya dengan segala kenikmatan sotoy seperti yang dilakukan oleh penulis repiu ini...

Sebenernya masih ada banyak lagi bolong-bolong aneh macam ini, misalnya warna mata seorang elf yang dideskripsikan coklat bisa berubah jadi ijo hanya setelah selang satu halaman. (Hal. 163-164.) Namun, kebodongan favoritku terjadi menjelang akhir cerita. Sebenernya sih minor banget, tapi bikin aku ngakak panjang lebar.

Ceritanya, Fazya lagi berhadapan dengan Vanna, dan Vanna ini diceritakan adalah seorang elf. Jadi, aku langsung bengong ketika dia tiba-tiba bilang, "Orang tuaku hanyalah sepasang manusia berhati keras..." (Hal. 294.)

Sepasang manusia bisa punya anak elf? Okay. Kalau gitu, entah dokter keluarga, tukang koran, atau tukang antar susunya pasti elf yang ganteng abis kayak Orlando Bloom, heh, heh, heh.

Tapi si malaikat datang lagi dan dalam mood puitisnya yang norak itu langsung nyanyi ala Madame Ivan.

Mbak Luuuuz! Jangan Gila Dong~
Jangan Gila dong~
Jangan Gila dong~
Ini cerita Semua Umur, Mbak!


Oke, cukup ngomongin kekurangannya, sekarang aku pengen menunjukkan sisi-sisi yang membuat novel ini menurutku layak dipuji. Walau detil ceritanya memiliki kebolongan, secara garis besar plot Elmore ini cukup rapi. Di bagian akhir, kelihatan akhirnya siapa berbuat apa karena apa. Mengapa si Fazya yang tuan putri bisa ada di panti asuhan, contohnya, memiliki sebab akibat yang bisa diterima, meskipun alasan-alasan detilnya, semacam "mengapa dia nggak diambil kembali aja" terasa kabur. ("Karena jika dia diambil itu bisa membuat rahasia Elmore terungkap." Apa maksudnya coba...)

Jadi, jika cerita ini ibaratnya pohon, batang utamanya cukup bagus. Namun, ranting-ranting dan daun-daun ceritanya masih perlu diperbaiki lagi.

Poin plus lagi, motivasi semua karakter juga jelas. Sederhana, kadang rada klise, tapi jelas. Hanya motivasi Vanna yang menurutku agak-agak lebai. Tapi ya kalau dia memang psycho, bisalah diterima. (Si malaikat kembali mengingatkan, "Mbak, ini cerita Semua Umur!")

Dari bahasa dan penaman para tokoh, nggak ada yang kukeluhkan. Bahasa sederhana dan literal, mudah dimengerti. Mengenai penamaan... ga ada penjelasan mengapa ada hutan di Indonesia diberi nama "Albion" dan mengapa dunia asing itu disebut "Elmore". Namun, ini nggak segitunya mengganggu bangunan dunia, karena toh settingnya di perkotaan. Wajar-wajar sajalah kalau ada tempat wisata yang dikasih nama kebarat-baratan sama pengelolanya. Tambah lagi, beberapa karakter memakai nama serapan yang masih enak dibahasakan dengan Bahasa Indonesia, dan ga terlalu pasaran. (Franda dan Fazya, misalnya). Singkat kata, kadar Indonesia dan asing di dalam cerita ini nggak bentrok sampai merusak bangunan dunia.

Dan berikutnya, aku ingin menyampaikan penghargaan untuk layouter. Naskah bersih, enak dibaca, ilustrasinya nggak mengganggu. Untuk editor, nice work. Typo nyaris nggak ada. Cuma ada sedikit kesalahan font di halaman 32.

Namun, sedikit catatan, kenapa typo doang yang diurusin? Kenapa plothole cerita yang kusebut diatas nggak sekalian dikoreksi sih? Barangkali anda nggak ingin campur tangan sama imajinasi pengarang, tetapi memberi kritik dalam pengembangan logika cerita akan membantu pengarang muda untuk membuat karya-karya berikutnya tidak lagi bolong-bolong seperti ini.

Plus berikutnya, adalah bahasa gaul. Pemakaian bahasa gaul ini ada, tapi terbatas pada karakter-karakter tertantu macam Fazya, Gio (yang awalnya adalah penududuk dunia diluar Elmore), juga Naia, dan Dylan, yang notabene anak muda, dan teman-teman Fazya dari bumi macam Lala dan Franda. Dengan kata lain, bahasa gaul dalam cerita ini cukup sesuai takaran. Kadang aku sedikit merasa terusik, tapi nggak sampai merusak suasana.

Untuk konsep dunianya sendiri, aku ingin menyebutnya sebagai plus. Nggak ada yang baru. Ala Lord of the Rings, lengkap dengan elf, perang, dan daur-ulang Treebeard jadi Treejax. Namun, pengarang lumayan pintar bersiasat. Bayangkan kalau dunia LotR diceritakan kembali dengan pendekatan ala dongeng Majalah Bobo. Kedengeran konyol, but it works. Dunia ceritanya lumayan hidup dan bisa diterima.

Dan plus yang terakhir... endingnya adalah sebuah kelainan dalam dunia perfantasifiksian Indonesia. Endingnya sedikit diburu, tapi *tahan napas, sudara-sudari* nggak gantung, nggak putus dan nggak berbau memaksakan sekuel! Aku sendiri sampai syok. Beneran nih? Beneran. Beneran banget. Silakan beli dan lihat sendiri bagian akhir buku ini.

Aku nggak akan nambah panjang repiuku, karena memang buku ini nggak panjang, dan nggak menawarkan terlalu banyak hal baru untuk dibahas. Barangkali Elmore cukup memuaskan untuk anak-anak dan pembaca muda. Bagi pembaca yang lebih matang, buku ini kurang bergizi. Namun, aku lumayan yakin juga bahwa mereka bisa menghargai upaya pengarang dalam menciptakan sebuah karya.

Penghargaanku sendiri? Pengakuan bahwa inilah kisah fiksi fantasi karya pengarang remaja yang paling lumayan, di antara semua fiksi fantasi karya pengarang remaja yang pernah kubaca.

Buat Uliel, selamat atas penerbitan karya perdananya. Ditunggu proyek berikutnya, moga-moga lebih baik dari yang sekarang.



Luz Balthasaar

14 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya, ya, ini memang novel fantasi untuk semua umur. Tapi apakah bisa ditolerir begitu banyak plot hole logika yang segitu dalemnya? Uh oh, alamak editornya ramah dan permisif banget. Apakah anak-anak Indonesia yang doyan maen game RPG ato adventur di PS2 gag bakalan ada yang sadar?

Ehm, tapi memang mungkin gag akan ada yang sadar pula karena yang maen game emang biasanya gag doyan baca novel....

Tapi kupikir-pikir lagi, anak yang doyan baca novel pasti minimal pernah ngelahap Harpot. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia (dan elf) normal untuk membanding-bandingkan.

Oh ya, perasaan baru-baru ini baru juga liat buku cerita anak sejenis dari penerbit Navila di Gramed. Lupa apa judulnya. Yang pasti ada tagline kurang lebih kayak begini: "Kalo bisa bikin cerita lebih bagus dari novel ini, beritahu kami."

Halah, sedang trend-kah di Indonesia novel fantasi anak?

Salam. Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

@ Heinz...

Setuju...!

Bolong logika di Elmore ini banyak. Tapi itu bolong "ranting," bukan bolong di "batang" utama cerita. Jadi, kebolongan ini sebenernya mudah diperbaiki sama editor, kalau dia mau.

Mengenai ada yang sadar dan ada yang tidaknya, well... pasti mereka sadar kalau baca blog ini, hahaha.

Kalau mau dibandingin ma Harpot, ya belum bisalah. Tapi Elmore ini, catat yah, dikarang oleh remaja 11 tahun. Dan ini jauh lebih bagus dibanding sebuah cerita Epic Fail yang pernah dimuat di blog ini, yang dikarang oleh seseorang berumur 26 tahun.

So, aku kira, Elmore sangat patut dihargai.

Mengenai penerbit yang nyuruh hubungin mereka kalau kamu bisa bikin cerita anak-anak yang lebih bagus, why not? Kukira Amor Vincit Omnia adalah fairy tale, kan? Sambar aja tuh Heinz!


Luz B.

Anonim mengatakan...

@Luz
Amor Vincit Omnia?
Ehm, sepertinya aku akan terbentur masalah umur penulis...

Haha.

Salam. Heinz.

Afandi M. mengatakan...

Emang terkadang penulis yang muda-muda gak bisa diremehkan begitu aja mba' hehehehe... beberapa dari mereka emang punya kualitas bagus... ya sama aja kyk orang bilang, "dewasa tidak berarti lebih bijaksana" ----> karya penulis yang lebih dewasa belum tentu lebih bagus dari karya penulis muda...

ini juga ada dari penulis muda indo yang lainnya mba... mungkin dimasukkan dalam jadwal riview novel berikutnya... The Chronicle of Willy Flarkies : Petualangan Memasuki Dunia Upside Down penulisnya: Satria Wibowo

Katanya seh dia indigo n pertama kali nulis novel itu with english

but whatever-lah masalah indigo itu... wkwkwk


Salam

Afandi

Luz Balthasaar mengatakan...

@ Afandi...

Indigo...?

*pengen ngakak*

Maaf, bukan meremehkan penulis muda. Aku sekedar punya pengalaman lucu soal segala mumbo-jumbo indigo ini.

Willy Flarkies udah ditek sama Boz Pur, Mas. Hehehe. Tapi ga taulah apakah yang bersangkutan "tega" mereview naskah satu itu...


Luz B

Afandi M. mengatakan...

hahaha... ia seh saya juga gk terlalu suka penulis yang mencantumkan label pada dirinya sendiri... yah... like indigo itu... paling cuma buat narik pembaca. biasalah, strategi pasar (sama seperti artis film komedi dewasa indonesia) wkwkkkk...

wah, mas pur harus tega-tegaan tuh. kan sekalian buat membangun *alasan* :D

Soalnya rada dikit kesel seh pas baca sinopsisnya, kok hampir mirip ma Harry Potter ya, cuma nama-namanya aja yang dibedain tp intinya mah CP dari harry potter... hehehe....

peace ah...

Anonim mengatakan...

Asik, berarti berikutnya bahas karya penulis muda lagi, Chronicle Willy.

Tapi halah...
Teknik promosi macam apa lagi itu?
Bocah indigo?
Tetep aja minimal butuh editor waras yang niat cape mikir logis.

Yup, seperti yang dibilang Luz, kreativitas memang tidak boleh dibatasi tapi logika tetep harus terjaga.

Salam. Heinz.

Afandi M. mengatakan...

Iya juga seh Heinz... emang kreatifitas gk bakal boong... mau tua, muda, cewek, cowok, stengah cewek cowok, dll...

yah, tapi kita liat aja nanti gimana karyanya c penulis yg katanya indigo ini di repiew ama mas pur...

Anonim mengatakan...

terpikir untuk jadi editor novel fantasi lokal nggak? mencegah lebih baik daripada mengobati toh. :)

Luz Balthasaar mengatakan...

@anonim,

Sapa jadi editor fikfan lokal? Aku? Hehehe, masalahnya, ada gag yang tahan dieditorin sama aku?

Gitupun, kalau ada temen yang minta jadi beta reader, aku akan coba bantu.



Luz B.

Anonim mengatakan...

haha. gak papa jadi editor bawel banget nyebelin resek asal terus membimbing jadi kualitas yang terbit bagus.

oscarwaddle mengatakan...

SALAM KENAL FIKSI...HTTP://OSCARWADDLE.BLOGSPOT.COM

Anonim mengatakan...

Wah, terima kasih banget ya atas resensinya. akan kami sampaikan kepada penulis. Oya, mungkin mbak belum tahu kalau sang pengarang (Aulia) menulis buku ini pada usia 11 tahun. Sekarang usianya 12 tahun.

Luz Balthasaar mengatakan...

@anonim,

Thanks juga.

Sebetulnya, justru karena aku tahu umurnya baru 11 tahun pas nulis aku kagum waktu baca buku ini.(Sekarang 12 ya.) Cukup bagus kok. Keep up the good work ya, Aulia.



Luz B.