Sabtu, 31 Oktober 2009

FUTATSU NO NAGAREBOSHI - Kisah 2 Bintang Jatuh (hikozza - 2009)

Dear rekan-rekan pembaca. Posting ini menandai satu babak baru dalam Blog Fikfanindo.

Setelah sekian lama flying solo, kurasakan adanya kebutuhan untuk memperluas basis reviewer pecinta Fiksi Fantasi di blog ini. Penyebabnya, karena multi-pendapat tentu akan memperkaya pembelajaran kita. Di samping itu, kecepatan penerbitan Fiksi Fantasi di negeri kita sudah mulai meningkat, review musti tampil lebih cepat, dan tangan saya sendiri tidak bisa memenuhi tuntutan kecepatan itu.

So, saya putuskan untuk menambah jajaran penulis review di Fikfanindo dengan personae-personae yang mencintai Fiksi & Fantasi dan bersedia membagi kecintaannya melalu pembelajaran bersama di Fikfanindo. Moga-moga saya bisa mengundang beberapa penulis untuk meramaikan blog ini.

Untuk yang pertama, please perkenalkan Luz Balthasaar, seorang penulis yang sudah punya reputasi cukup mumpuni di Forum Pulpen (Lautan Indonesia dot com) dengan tulisannya yang tajam namun mengandung analisis kuat. Well, seperti dia sering bilang, reviewnya bukan untuk 'big babies', dan at times, bisa jauh lebih frontal dan pedas dibanding saya, hehehe. Tapi saya termasuk penggemarnya, dan belajar banyak dari sudut pandangnya. Moga-moga kehadiran Luz memperkaya pembelajaran rekan-rekan sekalian.

Kita ucapkan buat Luz, selamat datang di Fikfanindo!

Salam,

FA Purawan
==================================
Luz B says:

Sebelum mulai mereview, aku kontributor baru blog Fikfanindo ingin mengucapkan terima kasih kepada Om F.A. Pur atas undangannya mengisi blog.

Buat para pembaca blog Fikfanindo, salam kenal dari Luz B, alias Bones, yang mulai hari ini akan membantu Om F.A. Pur membahas novel-novel fiksi fantasi Indonesia!
==================================
By Luz B

Data Buku:

Pengarang: hikozza
Penerbit: BukuKatta
Penyunting: Jody Setiawan
Desain Sampul: isthis comic
Tebal: 223 halaman


Kalau kita melihat covernya, sungguh mudah sekali meremehkan buku ini, terutama bagi anda yang merasa anggota sekte tukangcela akut atau fundamentalis manga garis keras. Gambar dua pasang tangan. Satu mengeluarkan asap putih (uap keringat?), satu lagi memegang gagang katana, berlatarbelakang lacquerwork Jepang dan tulisan judul Futatsu no Nagareboshi: Kisah 2 Bintang Jatuh, dan nama pengarangnya, hikozza (Dengan huruf "h" kecil.)

Nggak jelek. Tapi apa daya sensor apriori negatif langsung bereaksi. "Aha, novel Jepang buatan orang Indonesia!"



Buat mereka yang berpikiran terbuka, rangkaian kata tersebut diatas nggak akan menimbulkan masalah. Tapi buat dua golongan yang kusebut diatas, berani tebak deh, reaksinya gak jauh-jauh dari nyengir sambil membatin, "Yeah right."

Dan begitu kita balik bukunya... wow. Aku jamin seringai-seringai ngenye' itu bakalan bertambah lebar. Silakan lihat secuplik cerita di sampul belakangnya:

"Pernah kuceritakan pada kalian, sebuah kisah tentang sosok bermata Iblis. Sosok yang selalu menaburkan ketakutan, kengerian, bahkan kematian bagi siapapun yang melihatnya..."

Kalau dibilang pernah, ya pernahlah Bang. Samurai fiktif yang jago pedang, mantan pembantai, dan memiliki mata merah yang disebut Mata Iblis. Hmm... Sa***murai Deep***er Ky***o, kan?

Pada waktunya kita akan menyadari bahwa jalan cerita novel ini nggak berfokus pada seorang Oni***me n***o Ky***o wannabe. Namun, itu memerlukan penjelajahan sampai sekitar halaman sekian belas, dan naruh penggalan cerita yang agak bau wannabe ini membuatku mengambil buku dengan niat yang keliru: ingin ngakak melihat kekonyolan sebuah novel yang berusaha menjiplak sebuah manga terkenal.

Di lain pihak, toh buku itu kuambil. Terlepas dari apapun niatnya, a sale is a sale. Buat penerbit, itulah yang terpenting.

Jadi? Wannabe atau strategi marketing yang cerdas? Silakan tentukan sendiri.

Begitu buka sampul, aku sadar bahwa ini bukan buku yang berdiri sendiri, tapi bagian akhir dari kisah Samurai Cahaya. Sayang, pencarianku akan buku-buku sebelumnya berbuah nihil, maka sehubungan dengan itu aku nggak akan segitu gencarnya bertanya kalau ada yang tidak dijelaskan dalam plot.

Mari kita mulai dari halaman karakter. Benar-benar seperti lazim dalam sebuah manga, ada halaman perkenalan karakter. Minus gambar wajahnya, tentu. Membaca nama-nama yang tertulis di halaman itu membuatku merasa aneh. Ashikaga Tekauji. Torigawa Tokoru. Yokushimaru Yoko. Yokushimaru Natsu. Sayaka Aoki. Yoshida Maya...

Tiga nama pertama, nggak kedengaran seperti nama Jepang yang sungguhan dipakai. Terutama Tekauji, Torigawa, dan Yokushimaru. Sedikit catatan, nama-nama ini memang bisa ditulis dalam kanji, terlepas dari kanji apa yang dipakai, dan keanehan arti macam apa yang dihasilkan; "Torigawa", misalnya, akan tertulis sebagai "Sungai Burung." Aneh? Banget. Apalagi kalau yang dibayanginnya memang sengaja yang meleng-meleng.

Nama-nama ini nggak terasa Jepang otentik. Sepertinya pengarang memotong-motong suku kata dan memasang-masangnya supaya berbunyi Jepang. Kreatif, tapi kalau mau lebih berasa otentik Jepang, mungkin lebih baik pakai nama orang Jepang sungguhan pada era itu?

Dan yang kedua, Sayaka Aoki dan Yoshida Maya. Ada inkonsistensi dimana Sayaka Aoki ditulis nama dulu baru nama keluarga, sedang Yoshida Maya sebaliknya. Selain itu, kedua nama ini adalah nama orang Jepang jaman sekarang. Kalau nama perempuan Jepang yang agak bau jadul itu misalnya Oshin, Oshizu, Kaede, Haru, Kiyo, Kinue. Sama seperti di Indonesia, dulu Cut Nyak Dien sekarang Cut Tari, Cut Memey, Cut Keke, Chang-Cut-Ers, Wakakaka...

Dan terakhir, sedikit soal Yokushimaru Natsu dan Yokushimaru Yoko: Yoko dan Natsu itu setahuku nama perempuan. Kok di ceritanya cowok tulen anak-bapak?

Cerita dibuka dengan prolog yang baru ketahuan maksudnya di halaman 184-185, tapi mungkin akan menarik dan nyambung bagi orang yang sudah membaca prekuelnya. Lanjut ke tuturan tentang Shoja, si tersangka Oni***me n***o Ky***o wannabe yang kusebut diatas. Setelah beberapa paragraf menceritakan kematian Shoja, cerita langsung masuk ke salah satu alurnya, yaitu cerita tentang Sano Ryu, seorang manusia yang (katanya) bukan manusia biasa. Sano Ryu nantinya bertemu dengan anak perempuan Shoja, yang sedang melarikan diri dari ancaman orang yang membunuh ayahnya, dan di dalam perjalanan bertemu dengan sekumpulan orang yang membantunya balas dendam.

Paralel dengan alur Sano Ryu, ada hikayat Kitai, pria hilang ingatan yang ternyata seorang ahli waris keshogunan, yang lalu kembali ke kampung halamannya untuk menuntut kedudukan yang seharusnya jadi miliknya.

Baik. Kalau ada yang bertanya mengapa ada dua alur seperti itu, aku juga gag bisa ngasih jawaban selain dari mungkin ada sesuatu pada prekuelnya, atau ada hal yang direncanakan pada sekuelnya, yang memaksa novel ini jadi 2-in-1. Yep, 2-in-1; dari awal sampai akhir, dua alur itu cuma bertemu pada beberapa paragraf di halaman 47-48. Setelah itu gag jelas apa kaitannya, atau saking nggak pentingnya terlewatkan olehku.

Kesimpulan: dua kisah dalam satu buku, diceritakan bergantian, tapi tidak berhubungan.

Bagus atau jelek? Yang jelas berpotensi bikin gemes pembaca yang menunggu tanda-tanda pertemuan besar atau kaitan yang signifikan dari 2 alur bintang jatuh itu.

Untuk ceritanya sendiri, mereka yang sudah kenyang baca manga dan nonton anime bertema fantasi-samurai barangkali bakal bosan. Nggak ada hal di buku ini yang nggak bisa kita dapat dari membaca manga-manga bertema samurai.

Namun, mereka yang haus akan kisah apapun yang berlatar samurai dan Jepang feodal bisa jadi terhibur. Pasalnya, pengarang lumayan serius menyiapkan setting ceritanya. Sampe ada daftar pustaka segala yang memuat semua buku referensi yang dipakai oleh si pengarang, diantaranya buku tentang zen dan folklor; dan unsur inilah yang menyumbangkan warna fantasi timur yang subtil ke dalam latar cerita.

Kalau aku bilang fantasi disini, jangan diharapkan bentuknya berupa sihir-sihir, jurus-jurus pedang separuh khayal yang keren macam Amakakeru Ryuu no Hirameki-nya Himura Kenshin, atau makhluk-makhluk gaib (walau memang sih, cerita ini menyinggung soal tengu dan rubah ekor sembilan.) Elemen fantasi disini dimasukkan hanya sebagai latar pendukung yang subtil, berupa kejadian maupun keanehan di dalam dunianya yang bikin aku segan menjatuhkan novel ini sebagai novel samurai biasa maupun novel sejarah. So, pengarang menawarkan perspektif bahwa elemen fantasi di dalam novel fantasi nggak selalu mengambil sebagian besar center stage, dan nggak harus overt berupa sihir dan mantra dan jurus dan artefak-artefak aneh.

Elemen fantasi ini diantaranya tampak pada kekuatan "seribu kupu-kupu" Sano Ryu yang baru kelihatan banget di bagian ending, pohon pemberi jawaban yang membuka ingatan Kitai, kisah pedang kayu Hidetoshi yang terbuat dari kayu ajaib yang harus ditempa seperti besi, asal-muasal mata iblis Shoja, and so on.

Hasilnya, buku ini lumayan believable. Jepang feodalnya berasa, folklor Jepang dan zen menyumbang elemen fantasi yang cocok dengan dunianya, walaupun kadang-kadang pengarang menaruh beberapa paragraf penjelasan budaya yang kelihatan seperti copas dari buku referensi. Tapi paragraf macam ini nggak segitu banyaknya hingga bikin aku merasa (terlalu) dikuliahi.

Sayangnya, pengarang kecolongan pada beberapa detail yang kadang membuat dunia cerita ini terlihat nggak otentik, alias kulitnya doang Jepang sementara jeroannya masih Indonesia. Misalnya, yang paling ngeganggu, menyebut katana dan nodachi sebagai samurai. Buat kaum fundamentalis manga ini barangkali tak terampuni, dan buat sekte tukangcela, sasaran hujat yang empuk.

Aku sendiri nggak habis pikir, kenapa dengan bahan riset yang cukup, si pengarang masih membuat kekeliruan seperti ini. Apalagi karena yang bersangkutan kelihatannya bisa membedakan wakizashi dan tanto. Kemungkinan yang terpikir olehku adalah,
  1. Si pengarang memang gag tahu, dan aku cuma bisa bilang itu luarbiasa hebat banget padahal ada referensi sekian abreg (yang numpang nempel) di daftar pustakanya, atau,
  2. Si pengarang tahu seharusnya senjata-senjata itu disebut nodachi dan katana, tapi atas kehendak sendiri atau orang lain, (editor?) mengubahnya menjadi samurai dengan alasan orang Indonesia lebih terbiasa menyebut katana sebagai samurai. Akibatnya, ada suasana rancu yang muncul ketika pada beberapa bagian si pengarang menggambarkan sesuatu dengan kalimat semacam, "Si samurai mengangkat samurainya."
Eswete dah. Salahkaprah kok dilestarikan, bukannya dibenahi?

Kan bisa aja tetep pakai katana, tapi di bagian daftar istilah-nya dimasukin penjelasan kalau katana itu adalah pedang yang dipakai oleh samurai, yang oleh orang Indonesia terlanjur disebut samurai.

Lalu, keanehan lain, halaman 175. Minor sih, tapi menarik, dan bisa jadi pelajaran untuk siapapun yang sedang belajar menulis: seorang tokoh di dalam cerita itu bilang "Ini mungkin takdir yang digariskan Amaterashu untuk keluargaku..."

Lain dari kenggakjelasan maksud pengarang menulis nama dewi matahari Amaterasu-Omikami sebagai Amaterashu, yang ingin kusoroti disini adalah cara pengarang menaruh Amaterasu sebagai pengganti Tuhan.

Tanya, Bang: Sadarkah anda bahwa kepercayaan sinkretis Buddhisme-Shintoisme Jepang itu politeisme, sementara agama samawi itu monoteisme? Dalam politeisme, tugas-tugas kedewaan dibagi di antara banyak dewa, berbeda dari sistem monoteisme dimana semua urusan dipegang satu Tuhan. Dan sepanjang yang kutahu, dalam jajaran dewa-dewi Jepang, Amaterasu bukanlah dewi yang berwenang menggariskan takdir manusia; maka, paralelisme Tuhan dan Amaterasu ini nggak cocok.

Atau, dalam bahasa yang nggak terlalu sok intelek: jangan asal main ganti mentang-mentang dua-duanya menempati posisi tertinggi. Lihat dulu job description mereka sama apa nggak.

Mirip dengan ini, waktu menceritakan festival di Gifu, ada permainan berbalas haiku. Maksudnya barangkali analogi dengan berbalas pantun dalam budaya Indonesia. Bener sih haiku dan pantun sama-sama berbentuk puisi pendek, tapi Bang, memangnya dalam budaya asli Jepang ada permainan berbalas haiku? Haiku 'kan biasanya dituliskan untuk menggambarkan cuaca dan musim dan keadaan/kejadian di alam, bukan untuk "diperbalaskan" seperti pantun?

Sama dengan yang diatas, lihat dulu bentuk dan kegunaan haiku. Jangan karena sama-sama puisi, lantas anggapannya bisa dipakai untuk permainan balas-balasan juga.

Terus lagi, waktu si daimyo rese' Wabashi Kita membawa batangan emas untuk Panglima Takezaki Genzei. Langsung aku jadi kebayang batangan emas macam punya U.S. official gold reserve di Fort Knox. Bukannya Jepang kuno itu pake lempengan/plat/stempel emas, yang bentuknya kayak uang kepingan yang dipegang manekineko/kucing pemanggil rejeki itu?

Itu setting. Sekarang tokoh. Daftarnya:
  1. Kana: Anak Shoja yang mewarisi mata iblis ayahnya, mau balas dendam atas kematian ayah-ibunya.
  2. Sano Ryu: teman perjalanan Kana yang (digambarkan oleh pengarang sebagai) bukan manusia biasa tapi terus-menerus menyatakan secara lisan bahwa dirinya hanyalah orang lemah.
  3. Kitai: Pria amnesia yang ternyata ahli waris keshogunan, kawin dengan seorang gadis desa terus setelah malam pertama meninggalkan istri (lelaki buaya darat?) untuk kembali ke tanah keluarganya, padahal kalau kita baca dari flashbacknya, sebelum itu ia sudah rela pergi dari tanahnya dan membiarkan orang lain menjadi ahli waris. (Gag ikhlas?)
  4. Yoshida Maya: istri Kitai yang ditinggalin terus nyusul suaminya setelah melihat kura-kura berkepala dua.
  5. Putri Ayu: lengkapnya, Kawabachi Ayu. Dipanggil Putri Ayu. *merinding* Okay...
  6. Saigai!: Yeah, itu namanya, "Saigai!" (kedengaran kayak Saykoji?) dengan tanda seru, konsisten di sepanjang buku, mengapa begitu, jangan tanya padaku, uwooow~...

Nggak usah dibahas satu-satu pun, dari komentar-komentar diatas udah ketahuan apa yang mau kusampaikan secara umum: karakter-karakternya biasa, standar cerita fantasi samurai, dengan sedikit rasa Indonesia. Nggak ada yang terlalu mengesankan.

Sedikit protes soal mata iblis Shoja dan Kana, kenapa mata iblis ini, walaupun dijelaskan bagaimana mereka mendapatnya, ternyata nggak ada signifikansinya dalam cerita? Nggak memiliki kekuatan khusus, atau peran apapun, nggak bikin mereka jadi punya kekuatan super atau kepribadian lain atau apapun. Memang sih, jadinya nggak Oni**me n***o Ky***o wannabe, tapi lalu nggak ada fungsinya juga. (Jadi, buat apa dunk?)

Dan bagian terakhir, gaya penulisan. Sebetulnya bagus, kalimat-kalimatnya jelas dan nggak ada yang mendayu-dayu atau berasa keju. Namun, dialognya kadang-kadang kepeleset memakai struktur informal yang terlalu lokal walau dibumbui kosakata asing, seperti, "Coba kau isikan takezutsu-nya dulu!" (Hlm. 74) dan ini mempertajam aura Jepang celup yang terus menghantuiku sepanjang membaca buku.

Akhir kata, kuakui kesan awalku terhadap buku ini terlalu meremehkan. Nggak, buku ini barangkali bukan Sa**murai Deep***er Ky***o wannabe. Buat hikozza, aku akan mengakui jujur kalau karya anda punya setting bagus dan cerita yang standar untuk tema fantasi-samurai, walau sayangnya terganggu oleh nuansa Jepang celup yang, alih-alih membebaskan khayalanku menuju Jepang feodal, membuatnya terperangkap dalam sebuah scene Japan Matsuri dengan bintang tamu mas-mas berlogat Tegal medok yang cosplay jadi Sephiroth. Alamak~!


Luz Balthasaar

5 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Gw akan jadi orang pertamax yang meninggalkan komentar. :D

Yep, gw akan mengakui kalo gw adalah salah satu orang yg lsg angkat alis dan mengalihkan pandangan ke bagian lain rak buku di toko waktu ngeliat novel ini untuk pertama kalinya. Alasannya kurang lebih seperti yg dijabarkan peresensi (apa bedanya review dan resensi, anyway ...?).

Alasan tambahannya adalah penggunaan bahasa Jepang untuk judul. Ada satu hal yg terasa janggal melihat pengarang menggunakan bahasa Jepang setelah itu menambahkan sub-judul yang merupakan arti harafiah (minus kata "kisah" yg setahu gw dlm bahasa Jepang adalah "monogatari") dari judul utama. Akan lain halnya kalau pengarang lain menggunakan bahasa Inggris--yg cukup dimengerti oleh mayoritas orang yg keluyuran nyari bacaan di toko buku--dan memberikan sub-judul dalam bahasa lain, mau Latin kek, mau bahasa apa jg, biasanya jarang ada yg protes juga.

Untuk kasus judul yg satu ini ... euh, sejujurnya buat gw terasa janggal.

Pas baca list nama, sejujurnya hal yg muncul di benak gw, itu adalah nama dalam bahasa Jepang yg dibuat oleh orang yg kurang fasih berbahasa Jepang. :| Terasa kok kesalahan feel-nya, terutama di gw yg lmyn banyak baca manga nonton anime dan pernah baca novel Taiko, Musashi, Ring ama kumpulan cerpen A Cat, A Man and Two Women di mana nama Jepangnya asli semua.

Pertanyaan berikutnya, gw gak akan nanyain ttg cerita, tapi lbh ke arah bertanya tentang setting.

Kenapa Jepang jaman feodal ...? Seperti kata peresensi, kalo ada kelemahan2 seperti yg disebutkan dalam resensi, nuansa "setting palsu" jadi sangat kentara. Kayak makan sushi rasa coto Makasar jadinya.

Bwah, udah dulu deh ngasih komentarnya.

Hehe.

Anonim mengatakan...

hmmmmm....

jika anda membaca buku penulis ini sebelumnya

mungkin ada merasa telah membuat 3 jam waktu anda

dalam satu buah buku, tanpa sekuel atau prekuel..

disebut best seller...

menceritakan kehidupan empat pemuda from zero to hero to nothingness di cerita nya..

sama sekali tidak berkaca dari kesalahan buku sebelumnya, entah disadari atau tidak oleh sang penulis

Yudhi Herwibowo mengatakan...

sebelumnya terimakasih atas kritik buku saya futatsu no nagareboshi. saya senang ada yang memberi komentar begitu panjang. walaupun isinya tajam, tapi saya bisa menerimanya...

beberapanya yang bisa saya jawab, akan saya jawab disini :

- pandangan apriori 'tentang novel jepang dari penulis indonesia' itu bisa diterima kog. memang seperti itu kan orang kita? maka itulah komik2 lokal gak pernah laku :) jadi saya gak bisa komen. nama hikozza sendiri sudah saya pake sejak lama (email saya pakai : hikozza), bahkan sebelum menulis cerita jepang. awalnya saya menulis buku jepang, sekedar karena saya suka budaya jepang, dan tak akan perduli bila buku itu dibaca orang atau tidak. semacam keinginan membuat cerita yang berbeda dari yang saya tulis selama ini.

- kenapa judul memakai bahasa jepang? sungguh itu tak ada kesengajaan. saat buku saya 'samurai cahaya' release, beberapa pembaca selalu menyebut buku itu dengan 'hikari no tsurugi'. maka itulah di buku keduanya saya jadi berpikir kenapa gak langsung pakai bahasa jepang?

- tentang kesamaan dengan samurai deeper kyo, saya malah sama sekali belum mengetahuinya. manga kyo bukan termasuk yang saya baca. karena serinya yang panjang sekali. hanya saja latar belakang saya menciptakan tokoh shoja untuk mengesankan sosok iblis padanya. makanya saya pikir matanya akan lebih cocok berwarna merah.

- tentang 2 alur yang gak ketemu2. ini merupakan lanjutannya dari kisah buku pertama : samurai cahaya. waktu itu diramalkan 4 bintang jatuh terlihat menuju 1 titik. 4 tokoh kala itu diceritakan bertemu sesaat. 2 tokoh dalam buku pertama telah mati, buku futatsu melanjutkan kisah 2 bintang jatuh itu. tentu saja mengikuti gerak bintang jatuh itu, mereka gak bakalan ketemu.

- tentang nama2 sebenarnya yang paling sering dikritik. tapi saya bisa saja mencari nama2 jepang yang asli, tapi entah mengapa saya merasa tidak ingin melakukannya. mungkin salah ya? tapi saya merasa ingin membedakannya dari yang biasa. maka itu kadang nama2 ini terasa kurang pas.

-tentang katana begini. awalnya saya memang memakai katana. seorang teman yang membaca kemudian protes. Katanya dalam buku2 jepang pun pedang itu jamak tetap disebut samurai, dengan huruf kanji tertentu. maka itulah saya kemudian tetap memakai samurai. tentu saja sekedar penunjuk, saya sesekali harus memakai memakai kata katana juga.

-tentang cover saya tak bisa komentar apa2. termasuk tulisan bestseller yang ada. itu pertimbangan penerbit. biasanya buku bila sudah dicetak ulang 3x ditulisi kata itu.

seperti itu tanggapan saya.

mungkin apa yang saya lakukan terhadap buku ini masih sangat kurang, terlebih bila itu dibandingkan dengan buku2 samurai asli. saya mohon maaf bila mengecewakan. tapi saya sungguh berusaha keras agar buku ini tak sampai mengecewakan pembaca sedemikian rupa.
sama sekali tak ada maksud untuk bergaya jepang2an. sebelumnya saya sudah menulis beberapa buku, dan saya suka sekali dengan budaya jepang, terlebih cerita2 samurai. itu yang kemudian menggelitik saya untuk mengeksporasi membuat novel jepang, yang sebelumnya belum ada penulis indonesia menggarapnya kan?

btw, sekali lagi terima kritik pedasnya, di buku saya selanjutnya insya allah akan lebih baik... :)

yudhi 'hikozza' herwibowo
blog : yudhi herwibowo.wordpress.com
yudhiherwibowo.blogspot.com

LuzBalthasaar mengatakan...

@Bang Yudhi, nggak usah mohon maaf, karena buku ini bukannya mengecewakan (dan kalaupun mengecewakan, bukan salah anda, tapi salah pembacanya. Sapa suruh beli, wong ga ada yang maksa getoh, awakwakwakwa... ;p)

Aku cuma merasa kalau novel ini rasa Jepangnya kurang otentik buat aku pribadi, itu aja.

Perkara ini mirip Kyo, memang sih, sempat "berprasangka", maklum aku sinis bawan lahir. Tapi toh terbukti kasusnya nggak begitu, jadi dakwaan dibatalkan... ;p

Next time better, tentu saja! Berjuang ya Bang, moga-moga novel Jepang berikutnya bisa jauh, jauh lebih baik.


Luz B

Mantoel Toeink mengatakan...

Mengutip poin "-tentang katana begini. awalnya saya memang memakai katana. seorang teman yang membaca kemudian protes. Katanya dalam buku2 jepang pun pedang itu jamak tetap disebut samurai, dengan huruf kanji tertentu" saya jadi agak penasaran, mgkn akan saya tanya ke temen saya yg bisa berbahasa Jepang. Karena sepanjang pengetahuan saya, satu kanji bisa dibaca dengan dua cara atau malah lebih.

Soal judul berbahasa Jepang, mendenger alasan Anda, saya tidak akan komentar lainnya. Preferensi pribadi sepertinya masalah judul itu.

Oh, rite, kalau Anda memang berminat mendalami genre novel ini, saya menyarankan--dgn sotoy-nya, maaf--bagaimana kalau Anda memperdalam pengetahuan mengenai budaya Jepang dengan minimal belajar bahasa Jepang yg baik dan benar?

Untuk masalah ketidaksengajaan mirip dengan SD Kyo, sbnrnya bisa diatasi dengan rajin membaca sinopsis komik atau buku, entah itu di Wiki atau di toko buku terdekat. :D Saya menerapkan cara itu untuk memperluas wawasan tema dan plot cerita, meskipun hanya sinopsis, setidaknya dapat lah inti utama ceritanya. :D

Hehe.