Jumat, 25 April 2008

Jatuh ke Matahari (Djokolelono - 1976)

Kalau saya menuliskan review 'novel' (?) dari jaman taun kuda ini ke blog bertarikh dua ribu delapan, semata-mata alasannya selaras dengan komplain saya atas kemutakhirkan cara berpikir, cara menyusun plot, cara bercerita, atau cara bergaya bahasa, para penulis sci-fi terkini Indonesia, yang sebagian bukunya telah meramaikan blog saya ini.
In a way, untuk mengatakan pada rekan-rekan penulis: lihat nih, referensi dari tahun jadul, yang sebaiknya anda baca, dan anda absorb spiritnya. Karena menurut saya karya ini sudah mendului jamannya.


Setidaknya, mendului kemutakhiran penulis sci-fi kita sekarang ini, walau telah tiga puluh dua tahun berselang. Memang disayangkan bahwa om Djokolelono belum membagi ilmu penulisan Sci-Fi-nya kepada generasi kita-kita, kalau saja beliau tahu bahwa jumlah aspiran penulisan Sci-Fi tanah air saat ini sesungguhnya lebih menggembirakan dibanding jaman beliau. Dan saya yakin, kalo Om Djoko bikin workshop, pesertanya pasti berjibun!


OK. Jatuh ke Matahari adalah salah satu Novel Sci-Fi yang ditulis oleh Djokolelono. Masih ada judul-judul lain yang cukup terkenal pada jamannya, sehingga sosok Djokolelono sempat pula mendapatkan gelar 'master' Fiksi Ilmiah Indonesia. Seingat saya ada satu serial sci-fi terakhir yang sempat dikarangnya, terbitan Gramedia. Saat ini saya lupa judulnya, kalau tidak salah ada elemen-elemen Candi Borodubur-nya, serial itu terhenti pada buku ke dua, kalau tidak salah, dari trilogi yang direncanakan. Soalnya waktu itu saya udah beli sampai 2 jilid, dan jilid ketiganya tunggu punya tunggu nggak pernah nongol,... hehehe.


Buku Jatuh ke Matahari sendiri agak ketipisan untuk disebut sebagai Novel :), mungkin lebih tepat Cerpen atau Novelette (ini istilah jadul, kalo sekarang mungkin padanannya: Chiklit). Hanya 86 halaman.


Tapi amboi, betapa kisah yang cuma 86 halaman itu mampu menggrip pembaca dengan pesona luar angkasa, teknologi, serta suspense. Jatuh ke Matahari menceritakan kisah perjalanan Sweta Kamandalu, seorang kadet Akademi Antariksa asal Indonesia dalam missi PKL (Praktek Keantariksaan Langsung,... hehehe, itu istilah karangan gue 'ndiri!) ke Venus, yang saat itu, tahun 2048, sedang dalam proses kolonisasi agar bisa dihuni oleh manusia Bumi. Dalam perjalanan, terjadi drama sabotase yang dilakukan oleh kadet eksentrik Adrian Barry, yang mencoba melakukan eksperimen bahan bakar baru untuk pesawat antariksa, di pesawat yang mereka tumpangi. Plot sangat sederhana, bukan? Akibat sabotase itu, pesawat terlempar mengarah pada Matahari, dan Sweta harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelamatkan diri serta awak pesawat yang lainnya.


Simpel, kan? Yg seru adalah eksekusinya. Pengarang banyak menjelaskan berbagai konsep Sci-Fi khususnya Antariksa, dan boleh dibilang sedikit berbau pelajaran astronomi. Kemudian ada pula penjelasan 'pseudo'-teoritis mengenai proses kolonisasi Venus, dengan menggunakan tembakan-tembakan algae (ganggang) sebagai cikal bakal kehidupan. Lalu yang menarik juga, adalah penggambaran kehidupan sosial internasional di Stasiun Antariksa Sagan di Venus, yang melibatkan antara lain orang Amerika, orang Indonesia, orang India, Rusia, Jepang, dll. Dan tentu saja, aksi Sweta menyelamatkan diri yang penuh dengan problem solving teknologi kreatif, kayak McGyver.


Satu hal yang aku puji, dan rasanya belum dapat disaingi oleh terbitan mutakhir kita di era sekarang (silakan tes dan argue statemen ini), adalah realisme setting angkasa luar yang berhasil dihantarkan oleh pengarang, termasuk sampai interaksi sosial kru Stasiun Luar Angkasa dari berbagai kebangsaan, dan penerapan prinsip-prinsip teknologi di dalam kisah yang dibangunnya. Inget lho, bro, buku ini dikarang tahun berapa, dan betapa informasi-informasi semacam ini masih langka pada waktu itu.


Contoh teknologi, misalnya, pengetahuan Pengarang bahwa bahan bakar cairan tidak akan dapat berfungsi di angkasa luar, karena ketiadaan gaya berat yang memungkinkan cairan itu mengalir. Konsep 'sesederhana' ini jamak terlewat dari logika penulis kita di era sekarang. Sesungguhnya, kita perlu mempelajari bagaimana mekanisme bahan bakar di pesawat angkasa luar. Kenapa sekarang ini pesawat Challenger menggunakan oksigen padat, bagaimana fungsi 'pompa' dalam pesawat antariksa,.... astaga, ternyata dalam banyak hal kita masih kurang belajar!


Tentu saja, sebagai karya jadul, dalam beberapa aspek masih terasa beberapa ketertinggalannya. Contoh paling jelas adalah ilustrasi yang terasa banget flash gordoniyah-nya. Secara analogis, yg namanya komputer teuteup aja digambar sebesar IBM AS 400, misalnya,...hehehe. Juga penyebutan istilah REAKTOR untuk ruang mesin, tetapi sistem mesinnya dikesankan menggunakan sistem jet (combustion engine). Tentunya berbeda jauh. Kalo maksudnya Reaktor adalah Reaktor fusi (Nuklir cs), maka mesin berpenggerak nuklir tentunya akan menggunakan sistem pendorong dan sistem bahan bakar yang berbeda dari sistem jet, karena reaksi Nuklir itulah yg menjadi sumber penghasil energi, bukan hasil pembakaran bahan bakar seperti sistem jet. Tapi bila kita introspeksi, gak sedikit karya mutakhir yang ternyata masih 'sama' kerancuan logikanya, kan,... hehehe,....


Kemudian penamaan ADRIBAR-1 (bahan bakar ciptaan Adrian Barry) ada sedikit miss, mungkin karena Pengarang kelupaan konsep penamaan di Barat, yang umumnya mendahulukan nama belakang. Jadi secara common sense, mustinya si Adrian pencipta bahan bakar itu akan menamai ciptaanya dengan BAR lebih dulu (BARADRIAN-01, atau BARAD-01, atau apa kek,....)


Tapi anyway, dengan segala kekurangannya pun, tetap aja buku tipis ini pantas jadi milestone pencapaian kepenulisan fiksi ilmiah di Indonesia.


So, melalui review ini, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mempelajari kembali buku-buku karya Djokolelono, di mana pun kita masih bisa mendapatkan. Kita punya seorang master yang kita nggak kenali sepak terjangnya. Saya harap, buku semacam Jatuh ke Matahari ini bisa memberi inspirasi sekaligus pemacu semangat bagi kita dalam mengerjakan karya-karya Fiksi Ilmiah dan Fantasi Indonesia!


Salam,


FA Purawan

10 komentar:

ro mengatakan...

Seri Penjelajah Antariksa seingat saya sampai 4 atau 5 buku. Saya juga memiliki buku 1 & 2, sisanya saya sewa di sebuah taman bacaan di Bandung. HTH.

Cheppy mengatakan...

@kang Ro,

Terima kasih atas informasinya. Ternyata judulnya Penjelajah Antariksa, ya?

Hmmm,... kira-kira masih ada yang jual, gak ya? :-)

dirgita mengatakan...

Dari baca review-nya, bikin penasaran. Kepingin baca. Tapi..., ini buku jadul. Udah pasti sulit ditemukan~.~

Novel fiksiku pasti kalah jauh dari yang ditulis Pak Djokolelono^^

Albert mengatakan...

@Mr. Ro: Setelah Lembah Api apa judul yang ke 5nya?
oya, masih ada yang punya Penjelajah Antariksa: Lembah Api gak ya?
Taman bacaannya apa Pajiping?
thx sebelumnya

Mizuki-Arjuneko mengatakan...

Maas gimana ya cara dapet buku2 lamanya Eyang Djoko Lelono ini? HUhuhuhu

Mizuki-Arjuneko mengatakan...

Maas gimana ya cara dapet buku2 lamanya Eyang Djoko Lelono ini? HUhuhuhu

eess mengatakan...

Gramedia sudah menerbitkan lanjutan serial Bencana di palnet Poa (buku1), sekoci penyelamat antariksa(buku2), kunin bergolak(buku3) dan baru terbit nop kemarin putri gardi (buku keempat) bukan lembah api.... Buku kelima judulnya kapten RAZ. Semoga serial ini bisa sampai tamat. Bayangkan nunggu lanjutannya dari tahun 1986 baru terbit 2015 bulan nop.

eess mengatakan...

Kalau mau beli sudah ada seri 1 s/d 4 dengan cover baru warna coklat.

eess mengatakan...

Kalau mau beli sudah ada seri 1 s/d 4 dengan cover baru warna coklat.

Anonim mengatakan...

Saya sudah katam alias tamat baca buku ini. Sayang ceritanya terputus tidak ada kelanjutan.. dan pernah menghubungi gramedia kenapa ceritanya terputus, jawab mereka tergantung kiriman skrip dari mbah Djokolelono.