Rabu, 14 Mei 2008

CANDI MURCA: Ken Arok, Hantu Padang Karautan (Langit K.H. - 2007)


Langit Kresna Hariadi (Langit K.H., atau LKH, atau ELKAHA) adalah salah satu novelis naik daun yang meramaikan khasanah penulisan di Indonesia. Sorotan publik pembaca Novel mulai mengarah pada Penulis ini sejak beliau meluncurkan Novel Gajah Mada yang laku keras. Serialnya sampai mencapai lima Novel atau Pentalogi, kalau ikut model itung-itungan serial jaman sekarang.

Novel Gajah Mada, saya cukup suka terutama buku pertamanya. Pada saat itu perhatian saya tertarik pada pendekatan plot tak biasa yang dipilih beliau untuk mengisahkan seloka tentang kepahlawanan Gaja Mada, yaitu melalui sudut pandang keprajuritan pas-khas Majapahit Bhayangkara. Buat saya sudut pandang ini unik dan ternyata juga memberikan keasyikan tersendiri, berkat munculnya tokoh-tokoh utama sampingan yaitu rekan-rekan Gajah Mada sesama anggota Bhayangkara.

Bagaimana dengan Novel Candi Murca ini? Novel ini diniatkan sebagai serial oleh pak Elkaha, dan sudah diniatkan akan muncul antara 8-10 buku (whooah,..). Satu buku ditargetkan berisi 800-an halaman, dan untuk mencapainya, Elkaha komit berdisiplin mengerjakan 10 halaman per hari. So, prepare for a long journey, guys! Bakal muncul istilah itungan baru, neh,... Decilogi, kali ye?

Awalnya, saya agak ragu melakukan review Novel ini. Pasalnya saya tidak yakin apakah Candi Murca termasuk genre Fiksi/ Fantasy atau Genre Silat/ Sejarah/ Misteri. Akhirnya, sambil masih menyimpan rasa bingung, saya putuskan untuk menganggap Candi Murca bergenre fantasy dengan pertimbangan alternate reality yang Pengarang ciptakan, mulai dari situasi Malang/ Surabaya tahun 2011 Masehi, sampai kondisi Jawa pra-Singasari tahun Saka 1130 yang tentunya merupakan sebuah dunia rekaan sang pengarang. Kuharap it's enough.

Candi Murca, dikatakan merupakan sebuah perpaduan antara Novel Misteri dan Novel Silat. Kali ini pengarang memilih tokoh sejarah Ken Arok, raja pertama Singasari untuk diangkat dalam novel. Setting waktu mengambil alternasi antara tahun Masehi 2011 (masa kini lewat dikit) dan tahun Saka 1136, yang dikatakan berselang 800 tahun. Kemudian konsep adanya sebuah candi raksasa yang 'hilang' (Murca) dengan ukuran melebihi Borobudur, kayaknya wow-factor yang sangat menjual banget! Konsep misteri new-age ini sama uniknya dengan konsep Altantis di Nusantara yang dinovelkan oleh ES ITO di novel Negara Kelima

Melihat halaman sampul buku ini, ingatan langsung tertambat pada serial Gajah Mada. Ada kesamaan gaya desain sampulnya yang unmistakable sebagai "Bukunya Langit KH, neh". Dengan pilihan warna gelap dan grafis komputer yang 'khas', mau gak mau saya langsung lekat ke 'branding' beliau. Mungkin itu juga merupakan satu kelebihan yang jarang dimiliki pengarang kita sekarang ini. Konsistensi desain sampul tampaknya merupakan alat branding yang cukup efektif. Apalagi antara Gajah Mada dan Candi Murca juga bermain pada genre yang kurang lebih sejenis.

Saya jadi teringat pada versi Jilid baru (versi-duile-tebelnye-buat-ganjel-kopaja-di-tanjakan) serial Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto) yang ngga konsisten antara jilid 1 dan jilid 2. Jilid satu dengan warna sampul coklat dengan grafis cukup rapih, sementara jilid dua dengan warna kuning stabilo dengan grafis yang beda jauh (tarikannya). Terus terang menimbulkan perasaan gak nyaman, apalagi kedua jilid itu dibilang sebagai versi "Collector's Item" (sic!). Tapi BTW, mau konsisten di sampul ataupun di ilustrasi memang rada susah, karena hal-hal ini lebih banyak wilayah penerbit, pengarang sering tak punya suara.

Mungkin demi alasan kebebasan berkreasi seperti itulah, kemudian Elkaha memutuskan self publishing untuk seri Candi Murca ini. Kuharap itu merupakan keputusan yang tepat. Dan moga-moga saja keputusan itu tidak menurunkan kualitas penulisan pengarang yang harus gonta-ganti topi sebagai penerbit!

So, sebagai sebuah karya 'self publishing', dikerjakan secara 'maraton', bagaimanakah hasilnya di tangan pembaca?

Pertama-tama, temen-temen harus paham dulu latar belakang kesaktian pengarang dalam urusan kejar tayang ini. LKH dulunya eksis sebagai MC spesialis kawinan Jawa (bahasa Jawanya pastilah tob merkotob), penulis naskah drama radio, tim kreatif sanggar prativi (sanggar drama radio yg cukup ngetop pada masanya), wartawan dan penulis cerita bersambung di Harian Angkatan Bersenjata. So, bikin cerita panjang secara teratur sudah biasa dilakoninya (Bedanya untuk Candi Murca targetnya lebih ambisius aja, sebab kupikir belum ada cerbung koran yang bila dibukukan isinya bisa mencapai sepuluh kali delapan ratus halaman buku). Boleh jadi hal ini sangat mendukung stamina beliau dalam merangkai cerita secara panjang namun tetap menggigit. Dalam hal ini mungkin LKH juga mengambil inspirasi dari penulis serial silat Api Di Bukit Manoreh (SH Mintardja) yang mampu mengikat pembacanya dalam kurun waktu yang lama (sampai berapa seri? Ratusan, ya?).

Dan tentunya, serial Gajah Mada sudah membuktikan bahwa LKH tidak lagi berada pada tataran belajar memilih kata, belajar merangkai plot, sebagaimana level kita-kita,.... hehehe,... Dengan kata lain, Candi Murca sudah punya seluruh modal yang diperlukan untuk meluncur dalam khasanah perbukuan, untuk duduk sejajar dengan karya-karya yang dianggap berkelas, buah karya pengarang senior.

Jadi, untuk seni merangkai kata dan peristiwa, udah ga perlu dikomentari lagi, deh. Sebagai sebuah Novel Candi Murca enak dibaca dan mengalir lancar. Ada beberapa gangguan, yang akan saya uraikan nanti. Nevertheless gangguan-gangguan ini pun tidak mengurangi nilai novel ini sebagai sebuah bentuk roman hiburan. Rangkaian plot yang berganti-ganti antara masa sekarang dan masa lalu dengan penokohan yang masih berjalan dalam jalur yang terpisah (konon kelak akan dipertemukan) memberikan kesan seperti membaca dua buku secara berganti-ganti. Kisah di buku satu, tentunya berakhir menggantung sesuai dengan tujuan penulisan sebagai sebuah novel serial. Tuh, kan, aku sama sekali tidak masalah dengan ending gantung, asal gue udah siap mental sebelumnya.

Sekarang, bicara mengenai "gangguan". Pertama-tama, mungkin, justru dalam hal penamaan. LKH menciptakan nama-nama ala 'Sanskrit' yang tak disangkal lagi, bagus-bagus. Dalam konteks jaman Tahun Saka, hal itu menimbulkan efek 'keren' yang membumi. Tapi di dalam konteks jaman Tahun 2011, efeknya justru sebaliknya. Tokoh-tokoh itu menjadi bak orang-orang aneh di Bumi Indonesia. Contoh nama Parra Hiswara, Madahsari, Bara Ywanjara, Yudawastu Widhiyasa, Elang Bayu Bismara dll. Sekilas kelihatan bagus, tapi ketidak-umuman nama-nama itu membuat believability factor novel ini menjadi berkurang, contohnya saja, bayangin potongan adegan imajiner berikut ini:
"Kenalkan, nama saya Bara. Bara Ywanjara,.."

"Haa? Bara,.. SIAPA?? Bara dipenjara?? " (dengan mata terpicing sebelah, tangan di belakang kuping)

Lenong banget, ga sih,...
Walaupun, saya juga nggak bisa membayangkan tokoh-tokoh tahun 2011 dalam Novel ini akan lebih nyaman dinamai dengan nama Robert, Kevin atau Dion, misalnya,.... hehehe,... Tapi setidaknya, mungkin --kalau saya jadi pak LKH-- saya akan mengutamakan penggunaan nama-nama panggilan praktis untuk nama-nama aneh itu sehingga menjadi lebih familiar di telinga pembaca.

So, konvensi penamaan ini akhirnya diserahkan pada selera pembaca saja. Bisa jadi ada pembaca yang merasa kurang 'sreg', ada yang merasa cocok-cocok aja.

Gangguan berikutnya, adalah alih-plot berganti-ganti antara tahun 2011 dengan 1130, yang terjadi demikian sering, sehingga bagi saya mulai terasa mengganggu. Part gangguannya adalah dalam hal keasyikan plot-building yang sering harus terpenggal, akibat pengalihan setting. Bayangin aja lagi asyik mengikuti kejadian-kejadian tahun 2011, eh tiba-tiba beralih ke 1130. Demikian juga sebaliknya. Memang, ini jadinya sangat relatif, sebab mungkin ada saja pembaca yang justru mampu menikmati hal-hal seperti itu. Dan bangunan misteri novelnya jadi terasa lebih membuat penasaran akibat penyusunan plot seperti itu. Jadi, di satu sisi sebenernya positif-positif aja, sekalipun di sisi lain saya harus mengakui bahwa saya pribadi merasa terganggu. Buat saya, rasa penasaran semacam itu tempatnya ada di koran alias cerbung koran, dimana rasa penasaran akan membuat saya lebih asyik mengejar koran itu tiap hari (plus rebutannya,... heheh). Untuk novel, rasanya saya lebih siap untuk menikmati metode 'treat' yang berbeda. Sehingga begitu pengarang 'ganti topik', saya langsung merasa bahwa itulah waktunya menutup buku dan mengalihkan perhatian pada pekerjaan atau fokus lainnya.

Gangguan ketiga, adalah spesial gangguan di halaman 422! Adanya INTERUPSI,...!! Astaga,.... untuk sebuah Novel terbitan tahun 2007, Pengarang menyisipkan sebuah STOP PRESS berupa pengumuman terkait kuesioner yang dibikinnya. Lhadalah,.... gue jadi inget komik-komik Maranatha jaman dulu,... sebenernya sih, enggak banget deh. Terus terang aja bikin gue ilfil. Pak LKH, mohon jangan diulang lagi yaaah,... please, please,... kalo memang mau nyeleneh, saya usul mohon part Interupsi itu dibikin dalam box aja.

Gangguan keempat, bisa jadi sebuah bias gara-gara saya mendapatkan informasi mengenai betapa tinggi pressure yang dialami pengarang dalam mengejar target penyelesaian novel di tengah segudang kerepotan sebagai penerbit swadaya. Tapi bicara 'rasa' memang amat subtil sehingga saya tak tahu lagi apakah obyektif atau subyektif, saya kemukakan saja anyway. Dalam 'olah rasa' yang saya lakukan (ciaah,..) saya koq merasakan ada nuansa 'keterburu-buruan' menyisa pada untaian kata yang dikarang oleh LKH. Well,... ini emang gak bisa di analisis, cuma bisa dirasakan saja. Entah bagaimana, saya merasakan sebuah echo dari perasaan ketergesaan yang dialami pengarang, dan echo itu sepertinya menyusup dalam hasil karyanya.

Seperti mendengarkan sebuah gubahan lagu yang diciptakan oleh seorang komposer, yang hatinya sedang tidak tenang. You can tell there is something. Komposer itu mampu membuat sebuah lagu bagus. Dan lagunya pun, dilihat dari berbagai sisi, tetap bagus. Tapi ada rasa tertentu yang 'tercetak' dalam ruh lagu itu. That's it.

Tentu saja Saya tidak ingin menilai. Tapi mungkin pak LKH dapat mempertimbangkan hal ini, untuk sekedar lebih sadar aja dalam proses yang pastinya memang 'menekan' itu, perhaps ada perasaan-perasaan yang sebelumnya perlu disadari keberadaannya dan disisir dulu, sebelum mulai menulis. Hehehe,.. sok tau banget, ya gue?

OK, dilanjut.

Bagaimana posisi novel ini sebagai Novel Silat? Kalau dibandingkan serial Gajah Mada yang relatif tak banyak bermain dengan jurus-jurus silat, Candi Murca tampaknya lebih mantap gelar jurusnya, ada jurus Pasir Wutah, jurus Cleret Tahun, dengan adegan-adegan pertarungan yang seru. Kelebihan pembabaran LKH terutama pada keahlian beliau menyisipkan istilah tarung Jawa dalam adegan-adegan silat, yang rasanya belum dipakai oleh pengarang lain. Yah, misalnya kalo gue cuma tahu kata Trengginas, eh pak LKH bisa meluncurkan: Tandang Grayang, Nggegirisi, Mbarang Amuk, yang membuat aroma (Jawa) persilatannya lebih kental tur wangi,... keren, dah. Ga percuma jadi MC kawinan Jawa bertahun-tahun,.. hehehe,...

Nah, kekuatan kultur Jawa inilah yang membuat saya memberi apresiasi khusus terhadap LKH. Semenjak Gajah Mada, sampai dengan Candi Murca ini, pak LKH telah menyajikan suatu karya seni yang berhasil mengangkat budaya Jawa secara mengesankan dan tampil utuh. Mungkin beliau bukan orang pertama yang berhasil melakukannya. Tapi bicara jaman sekarang, saya toh bisa mengatakan bahwa kemampuan seperti pak LKH sudah sangat langka. (Fakta: Kita memang sedang kehilangan budaya asli kita, dan pemerintah ngga mampu melakukan apa-apa terhadap hal itu, menyerah terhadap perubahan, bahkan mengakselerasikannya). Penggambaran LKH mengenai masa kejayaan Majapahit di novel Gajah Mada, atau pra Singasari di Candi Murca ini, membuat saya menyadari bahwa sesungguhnya bahasa (baca: budaya) Jawa itu sudah mengakar ratusan tahun di Nusantara. Sekelebat, muncul sebuah perasaan bahwa sesungguhnya saya ini punya sesuatu bernama 'tanah air'. (Tentu saja, Indonesia bukan cuma Jawa. Tapi kebetulan karena saya keturunan orang Jawa, saya seolah menemukan 'root' identitas primordial saya dalam dunia yang dikarang oleh LKH. Kalau saya bandingkan hal itu dengan konsep 'Indonesia' modern yang ada sekarang ini,... apa mau di kata, konsep Indonesia modern seolah pucat tak berkarakter). Saya yakin, perasaan yang sama juga melanda saudara-saudaraku dari suku-bangsa yang berbeda di Nusantara ini, bila dihadapkan pada suatu karya yang relevan untuk budaya masing-masing.

Jadi, buat saya, pak LKH adalah salah seorang pahlawan budaya yang melestarikan budaya Jawa dalam benak orang-orang Indonesia modern melalui novel-novel karangannya. Maju terus, pak!

So, one book reviewed, and nine more to go! Waduh, kukira kucukupkan saja reviewku di buku satu. Bukannya apa-apa, kalo melihat bangunan plot dan rencana jangka panjang yang sudah diutarakan pak LKH, kupikir tidak ada lagi 'kejutan' dalam konteks review, yang membuat review lanjutannya diperlukan. Udahlah, buku ini cukup enak kunikmati, dan kelanjutan-kelanjutannya pun akan ditunggu dengan antisipatif. Itu aja,.....

Salam,



FA Purawan

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Komen saya, novel Candi Murca ini bagai dua buku yang berbeda dan dipaksakan menyatu. Alih-alih membuat alur kilas-balik jaman dahulu dan sekarang, terasa cerita yang mengalir kurang bersenyawa. Terasa sekali bahwa novel ini seperti cerita bersambung di koran yang terbit dua pekanan untuk dua cerita. Sayang sekali "ruh" novel Gajah Mada yang sistematik tidak ditemukan di novel Candi Murca ini.