Jumat, 16 Mei 2008

ALEXA CHIMAERA: The Electric Girl (Hans K.C. Mira - 2008)


Kembali, jurus Judge from The Cover menemukan 'taji'nya. Saat saya melihat sampul buku ini di Gramedia, batin saya langsung menilai, "Gak serius, nich". Namun mengingat sumpah hamukti ripiu fiksi-fantasi yang sudah saya canangkan, akhirnya saya kuat-kuatkan hati untuk mengambilnya. Lagian ga ada pilihan lain untuk bulan Mei ini, sich,... kalah pamor sama chiklit Lost in Love (Sigh).

Judul ALEXA CHIMAERA, sebuah nama yang cukup memikat. Chimaera adalah hewan mitologi Yunani yang berwujud seekor Singa berkepala dobel dengan kepala kambing yang tanduknya berupa sepasang ular (ribet banget dah) dan menyemburkan napas berapi. Sayangnya pemilihan pengarang atas nama itu tidak mengandung koneksi apa-apa dengan hewan mitologi tersebut. Mungkin sekedar cool sounding aja (Sigh).

Namun tak pelak judul Alexa Chimaera berikut sub judul: The Electric Girl, dengan gambar ilustrasi cewek mengeluarkan petir dari tangannya (tadinya saya pikir itu gambar cermin pecah!), cukup menggugah minat dan mengindikasikan sebuah cerita Fantasy. Cuma ada 'glitch' ada di rancangan sampul, pertama kontras warna font belakang dengan warna sampul yang kurang tegas sehingga teks kelihatan blur, dan pilihan font-nya juga sulit dibaca. Saya harus mendekatkan mata ke sampul belakang untuk membaca deskripsinya (dasar mata tuwir juga, sich,...). Glitch kedua adalah dalam penggambaran sosok Alexa yang dikatakan berusia 11 tahun, tampak mirip gambar gadis Manga berusia 17-an tahun (Sigh).

Pengarang, Hans K.C. Mira, tidak menyertakan data apapun di buku ini mengenai dirinya. Siapakah beliau, sudah mengarang buku apa saja, tidak ada data. Ada data sampingan yang saya perhatikan di katalog dalam terbitan, bahwa Novel ini di daftarkan sebagai Novel Serial. Jadi ada kemungkinan akan berlanjut dalam judul-judul Alexa yang lainnya. Bukunya sendiri tidak terlalu tebal, cuma 170 halaman. Hanya butuh 2 hari bagi saya untuk menghabiskannya.

Mengenai isi novel ini,..... well, bagaimana ngomong-nya ya? (Sigh)

Pernah tahu serialnya Raditya Dhika? Atau pernah baca novel (lokal) Hongkong Heroes? Belon? Belon? Gimana dengan parodinya Padhyangan Project? Belon nonton juga? Gimana dengan Extravaganza? Naah,... mungkin udah pernah nonton Extravaganza TransTV, ya,... Apa yg ada di sana? Well, banyolan yang dibungkus cerita,... atau cerita yang dibungkus banyolan,... Dan anda akan melihat bahwa none took it seriously. Baik penonton, maupun kreatornya. (Well, mungkin dari sisi Kreator masih ada unsur serius demi kesuksesan acara, tapi serius terhadap kualitas? Let's keep it as a question mark, for now).

Nah, kalau saya boleh sedikiiiiit menilai gaya storytelling novel ini, nge-banyol, adalah sebuah istilah yang cukup tepat. Setiap tokoh dalam novel, rupanya dipersiapkan oleh Pengarangnya sebagai pelawak. Satu-satunya tokoh yang ngotot serius dalam setting lawak ini (sehingga membuatnya jadi sungguh-sungguh lucu tanpa dikehendakinya) adalah tokoh Prince Gorway si pemimpin Pemberontak.

Seberapa seriuskah Novel ini? Let's see, cerita dibuka dengan kehidupan para tokoh di sebuah negeri Maya bernama Aratnasun, di kota Attarkaj. Now, how serious that is! (Note: Balik aja dua kata itu). Segitu 'bodor' niatnya sehingga pengarang tidak merasa perlu memelihara setting dengan berbagai usaha, atau menciptakan universe dengan keringat dan darah :). Dalam rangka melawak di novelnya, segala parameter setting dicampur baur tanpa perlu ditata logika lagi. Contohnya dunia Maya ini ada peri, penyihir, raksasa, ada mobil juga, ada kota besar biasa/ modern, ada orang-orang dengan gaya Jakarta memiliki nama-nama berbau western. Dan semua tokoh berbicara dalam "Bahasa Gaul", bahasa persatuan Indonesia masa kini. (Sigh)

Begitulah, yang menyangka novel ini sebagai sebuah novel fantasy dengan 'nawaitu' keseriusan persiapan, keseriusan penyusunan kerangka, universe, plot, politik (katakanlah sebagaimana seriusnya J.R. Tolkien bikin LOTR), silakan kiss your a%% good bye, baby. Beruntunglah pengarang tidak menobatkan karyanya dengan kata-kata "Novel Fantasy", sehingga tidak mengundang sumpah serapah saya,... hehehe,... melainkan sekedar menyatakan sebagai kisah yang "seru". Seru? Iya. Serius? Tidak. Jelek? Tidak selalu. Bagus? Tergantung.

Dan memang, tidak ada pretensi sedikitpun bahwa pengarang ingin sok bikin Fantasy Saga, atau imajinasi tak terbatas, atau jargon-jargon sejenisnya. Pengarang memang ingin bikin cerita humor, ya komedi lah pendekatannya, dan kelucuanlah, buahnya.

Dan kalo semuanya sudah diset sebagai 'lucu', tentu logika tidak lagi perlu dikedepankan. Persis kayak panggung Srimulat di mana pembantu bisa ngomong blak-blakan sama majikan. Setting yang ada tidak dibangun secara hati-hati, seksama dan diuji berkali-kali, dengan tujuan memperkuat believability universe dan cerita, melainkan sekedar sebagai panggung untuk peluncuran joke-joke aja. Dan saya pun harus mengakui bahwa novel ini cukup lucu. Sebagai sebuah himpunan lawakan, cukup membuat saya ketawa ngakak atau tersenyum simpul.

So, apa gunanya aku ungkat-ungkit ketidak logisan dalam cerita ini, then? Ya udah ga relevan lagi, lah. Paling-paling sedikit catatan aja mengingat target audience Novel ini tampaknya adalah anak-anak SD atau SMP.

Yaitu kembali, masih ada adegan kekerasan yang kurang pantas bagi pembaca anak-anak, berupa pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh anak serta deskripsi peristiwa pembunuhan yang terlampau 'graphic'. Saya makin prihatin, bahwa kelihatannya tidak ada feed-back atau kendali mengenai makin rendahnya standar humanisme di dalam karya literasi untuk anak-anak. (Sigh)

Catatan lain mengenai finishing. Sampul sudah aku ulas di atas, kemudian ilustrasi dalam. Juga bernada tarikan garis Manga, yang sayangnya dieksekusi kurang rapih kayak cuma sket tinta diisi arsiran pensil aja. Saya jadi ingat gambar-gambar Fan-Fic di majalah Manga atau Anime lokal. Tapi saya ngga merasa terlalu berkompeten untuk ngomentarin teknik nggambar, jadi cukup segitu aja komentar gue tentang ilustrasi.

Anyway, munculnya jenis novel semacam Alexa ini, yang kubilang bukan Fantasy, tetapi memakai 'baju' seolah-olah kisah Fantasy (Faux Fantasy?), yang secara napas mungkin lebih mirip Manga yang banyak melawak, menimbulkan pertanyaan tersendiri di dalam hati saya. Bagaimana cara menghindari kesalahan persepsi di antara penggemar Fantasy? Saya bisa memahami jika ada rekan yang kecewa karena merasa 'tertipu' oleh konsep luar penampakan Cover buku yang mengesankan Fantasy, eh ga taunya bukan sama sekali. Bukannya saya mem-vonis Novel Alexa tidak pantas dibaca oleh penggemar Fantasy, tapi point saya: usaha apa yang bisa dikerjakan penerbit untuk mencegah timbulnya ekspektasi yang salah.

Kalau saran saya ke buku Alexa, sih, boleh jadi perubahan desain sampul akan banyak membantu. Buat saya sampul yang cocok buat Alexa adalah sampul berwarna merah muda/ pink dengan gambar-gambar hati bertaburan, dengan sosok Alexa & Windy berupa kartun Manga (yg kecil-kecil bogel itu loh). Itu jauh lebih cocok dengan spirit cerita dan humor-humor yang dikandungnya!

Salam,



FA Purawan

5 komentar:

vadis mengatakan...

wow, kamu bener2 baca banyak buku dan langsung direview yah! mantap!

satu hal, memang yang agak sulit adalah menjaga agar gaya bahasa dalam satu cerita lepas dan menarik tapi tetap menjaga unsur 'kemurnian' dari genre fantasi itu sendiri. saya baru baca sekilas alexa dan itu yang saya dapatkan dari gaya berceritanya.... nice cover, though.

teguran buat novel fireheart karyaku juga. - bj vadis dari www.fireheart.tk

hans kc mira mengatakan...

Mas Pur yang baik,
Saya penulis novel Alexa Chimaera. Nama asli saya Handoyo, profesi sebagai akuntan di sebuah perusahaan pakan ternak.Saya sangat berterimakasih atas komentar dan analisa Mas.
Atas masukan dari Mas Pur yang sangat berarti bagi saya, maka saya ingin minta saran dan komentarnya untuk novel saya berikut yang akan diterbitkan sekitar akhir September nanti. Jenisnya masih sama, teen-lit berbalut fantasi dengan bahasa gaul, namun dengan setting remaja, bukan anak-anak lagi seperti Alexa.
Bila panjenengan berkenan, maka saya tunggu komentarnya supaya novel saya lebih layak baca.
Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih.
Salam damai,

Handoyo / Hans Casimira

Danny mengatakan...

Wah, tumben nih resensinya pendek amat. Apa emang ga banyak yang bisa dibahas ya? (hmm....)

Cheppy mengatakan...

@ Pak Hans,

Aduh nuwun sewu maap banget ih message sampeyan saya miss, gak baca. Takutnya terlambat menanggapi.

Anyway, apapun yg bisa saya bantu, saya bersedia bantu. Just name it.

Sukses untuk penerbitan berikutnya.

Salam,

FA Purawan

Anonim mengatakan...

Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!