Selasa, 07 Juli 2009

THE PRINCE MUST DIE! (Langit KH - 2007)



Penerbit: Iqra - Smart Media
Editor: Didik Hermawan
Illustrator: NasSirun PurwOkartun
Desain Cover: NasSirun PurwOkartun
Tata Letak: KamarkeciL studio
Tebal: 276 halaman


Sebelum dilanjutkan, saya tegaskan dulu bahwa kekacauan penempatan huruf kapital di atas bukan ulah saya salah mengetik, melainkan memang sudah demikian dari sono-nya. Now why would someone think THAT as a sign of coolness --sEPerTi gAya AnaK gAUl GheTOO looH-- it beats me!

Sebaiknya gue ikut-ikutan menciptakan gaya baru dengan membuat review: yng mnghlngkn slrh hrf vkl dr tlsn spnjng lm bls prgrf sprt n!

Gimana? Keren gak, gue???

(Capee deh,...)



Oke, selamat gini hari pembaca blog ku yang budiman. Berikut hadir sebuah karya yang sangat menarik untuk kita pelajari, yang intinya bagaimana belajar dari seorang pengarang senior yang mencoba menulis dengan gaya remaja-remaja gaul dan mendapatkan 'fall flat in the face' sebagai hasilnya!

Sorry pak LKH, you used to be pengarang idola saya. Sekarang,... well, setidaknya setelah saya selesai dengan review ini, saya akan melupakan pak LKH pernah menuliskan novel ini dan oleh karenanya tetap --dengan kalem-- menganggap bapak sebagai pengarang idola saya!

Sebuah novel tipis dengan judul berbahasa Inggris: The Prince Must Die! (PMD), Bersampulkan siluet 3 sosok pria seperti mahasiswa (aneh sebab tokoh pria di novel ini cuma dua orang dari empat, dan dua laginya adalah cewek), judul plus efek percikan darah serta jargon: Petualangan Menembus Batas, dan latar belakang berupa gapura disambar petir. Terus-terang konsep covernya sama sekali gak menjual, kalau saja tidak ada nama Langit Kresna Hariadi di pojok kiri atas, sehingga penggemar LKH bisa menangkap kaitan gapura tersebut dengan 'bau-bau'nya karya LKH.

Pak LKH sebagaimana dalam sambutannya, sedang berusaha masuk ke dunia remaja --satu hal yang diakuinya sendiri sebagai sulit minta ampun-- dengan meng-create sebuah novel remaja bertema fantasi-sejarah. Ceritanya tentang empat remaja di tahun 2007 yang tersedot balik ke masa lalu straight to Singasari di jamannya Ken Arok, dan terlibat petualangan kecil di sana.

Sekilas, jadi teringat novelnya Djokolelono "Terlempar ke Masa Silam" kalo gak salah begitu judulnya.

Jadi idenya gak terlampau orisinil, tapi tetap saja menarik. Apalagi, LKH sudah terbukti piawai mengolah universe Majapahit di novel Gajah Mada. Maka ngomongin Ken Arok rasanya tak akan sulit bagi beliau.

Ya, ngomongin universe Ken Arok-nya, memang gak masalah lagi. Tapi saat ngomongin universe remaja 2007-an, beliau is in BIG trouble!

Let's start. Pertama-tama kalo mo ngomongin dunia anak muda (coba dengar kata-kata saya ini; seolah-olah saya punya kredibilitas untuk bicara mengenai anak muda. Hahahah!) sebaiknya pengarang-pengarang jadul (and that includes: ME!) jangan sungkan-sungkan untuk minta bantuan pada anak muda. Setidaknya untuk satu aspek sederhana-tapi-mendasar: Nama tokoh.

Yeah. Kan gak sulit, untuk minta dibikinin nama tokoh. Tinggal minta tolong aja, hehehe. Dengan tokoh-tokoh bernama: Nauval, Marshanda, Lenggang, dan Emilia, Pak LKH seolah menarik garis batas dengan kaum pembaca muda yang akan merasakan nama-nama macam itu bukan nama yang "Gue-banget". Well, those names just 'proper' as older-people's state of mind. Itu nama-nama yang ada dalam frame berpikir orang-orang tua. Remaja akan merasa asing terhadapnya, dan bahkan akan 'merusak'nya (baca: mendekonstruksikan) agar lebih sesuai dengan alam mereka. Kita liatlah di sekolah-sekolah atau di komunitas gaul (atau bahkan hal yang sama kita alami di kala remaja dulu: nama bagus-bagus bikinan orang tua dirusak jadi nick-names kacau! hehehe). So "Marshanda" akan berubah menjadi "Shanda" atau "Syanda", "Nauval" mungkin akan berubah menjadi "Nopal" atau "Opal", "Emilia", masih agak normal, tetap "Emilia" atau "Emil". "Lenggang",... well no teen alive will accept the name 'Lenggang' anyway,...

Ngomong deh sama pengarang muda, aku garansi Pak LKH bakal kebajiran usulan nama yang cucok, hehehe.

Yang kedua, dialog. Seorang pengarang senior semacam pak LKH tentunya sudah sangat paham betapa dialog harus terasa 'real', sehingga bahkan beliau pasti secara serius mempertimbangkan gaya berdialog dalam novel Gajah Mada, misalnya. Bagaimana membedakan gaya bicara antar prajurit Bhayangkara (ini saya referensikan sebab saya sangat menyukai iklim keprajuritan dalam novel beliau ini, yang saya anggap beda dengan penulisan tema sejenis) dengan gaya bicara menghadap Raja dll. Dan ke-pas-an penulisan tersebut merupakan ukuran kompetensi seorang penulis. Pastinya, seorang penulis akan serius mempelajari hal itu.

Mau nulis gaya dialog Narapidana, gaya dialog Pialang Saham, gaya dialog Polisi, tentunya masing-masing akan secara serius dipelajari. Bahkan sangat mungkin pengarang sampai harus masuk ke komunitas sasaran untuk melakukan riset.

Untuk gaya dialog di PMD, terutama yang anak muda, terasa banget nggak 'real'nya. Mungkin pak LKH kurang meriset di tengah kesibukannya. Bagian terlemah saya pikir adalah dialog antara Nauval dan Lenggang; terasa seperti dialog mahasiswa tahun 70-an, angkatannya Ali Topan dkk. Jadi kurang enak ngalirnya, membuat novel jadi terasa gak realistik. Untuk gaya dialog Singasari-an, udah pas. Demikian pula gaya dialog yang terjadi dalam konteks Orang-tua vs Anak, atau Guru vs Murid.

Trouble Ketiga, adalah dalam gaya penulisan. Mungkin pak LKH sedang mencoba gaya baru untuk mendekatkan diri pada kaum muda, dan mungkin beliau merasa menemukan semacam 'formula' yang dipikirnya tepat untuk membuat sebuah novel terasa sebagai 'remaja'. Beliau mencoba membuat tulisan dengan paragraf-super-pendek (Note: saya curiga, formula ini beliau saripati-kan melalui pengamatan atas mode penulisan Chicklit dan Teenlit mutakhir di Indonesia!)

Kayak gini, nih.

Paragraf Singkat.

Gak banyak yang ditulis.

Tapi membuat 'speed' membaca jadi cepat.

Belum-belum udah buka halaman lagi.

Dan lagi.

Dan lagi,...

Well, penerapan gaya paragraf pendek begini gak salah, sebenernya. Dan memang terbukti membuat pembacaan novel menjadi cepat. Tapi sorry-sorry aja, pendekar yang biasa mainkan senjata tombak pun kadang bisa gagap saat bertarung cuma pakai pisau. Artinya, mau kuasai gaya paragraf pendek pun, jurusnya harus dipelajari dan dikuasai, jangan pakai jurus paragraf panjang yang sekedar dipotong-potong supaya jadi pendek belaka.

Saya akan kutipkan cuplikan dari novel PMD dibawah ini:

Namun meski telah dua puluhan tahun berumah tangga, Pak Farhan masih sering terkaget-kaget melihat istrinya. Ia merasa menjadi orang yang paling mengenal Antini karena ia suaminya, akan tetapi sering kali Antini menjadi sosok yang misterius, pintar menyimpan rahasia.

Seperti kali ini ketika Antini menyerahkan buku Tabungan.

Ternganga Pak Farhan melihat angka-angka dalam buku tabungan itu.

"Lima belas tahun kamu menabung sampai sejumlah ini?" tanya Pak Farhan.

Nilai uang itu, Pak Farhan bahkan bisa mengukur nilai sebuah rumah baru atau untuk membeli rumah baru.

Tidak ada keharuan seperti kali ini, ketika Pak Farhan mendapati istrinya ternyata sosok yang luar biasa.

Lama Pak Farhan memeluk istrinya.

(halaman 17)

I don't know about you, tapi kalo menurut gue sih 7 paragraf pendek itu udah bisa 'bunyi' cukup dengan satu atau dua paragraf normal, dan setidaknya akan terasa lebih bagus sebab ditulis oleh pengarang yang sudah 'paham' jurusnya. Sementara gaya eksperimen pak LKH ini, bagi saya malah seperti menyimak seseorang yang jarang bicara, yang menginformasikan suatu hal secara sepotong-sepotong. Not impressive, actually.

Untuk hal ini, sebenernya pendapat saya masih 50:50. Oke aja sih kalo pak LKH mencoba suatu gaya alternatif baru, sekalian belajar. Tapi di sisi lain, saya juga lebih senang membaca novel yang matang bukan coba-coba, hehehe.

Di luar tiga trouble yang sudah saya sebutkan di atas, Novel ini memang tidak terlalu jatuh kualitasnya, disebabkan kompetensi pengarangnya memang sangat pegang peranan, antara lain dalam mengolah plot secara mumpuni dan terutama dalam pengolahan setting Singasari yang buat saya justru lebih believable dibanding setting modern-nya!

Highlight setting Singasari yang saya paling suka adalah saat orang-orang di jaman dulu itu menemukan benda "Senter" untuk pertama kalinya, dan terkaget-kaget oleh adanya sebuah tongkat yang bisa memancarkan cahaya luar biasa terang, dan kemudian menamakan benda tersebut dengan: Ki Cahya Sumilak. Hahaha, keren dan orisinil, terasa pas banget di segala aspek. Mulai dari kekagetan yang alami, sampai pada penerapan budaya yang cerdik, bahwa orang-orang jaman segitu memang hobby untuk menamai suatu benda menurut kesaktian yang dimiliki atau diharapkan untuk dimiliki oleh benda tersebut. Itu part persentuhan time-travel yang paling pas menurut gue.

Nah, bicara tentang plot Time-travelling, meminjam tradisi kisah-kisah seperti Back to The Future, The Time Machine dll, novel ini menjadi 'kena' bolong logika besar seperti lapisan ozon bolong kena gas freon.

Plot time-travel PMD sudah dimulai dari adegan sampingan berupa raibnya kamera digital milik Nauval, dan ndilalah sebulan kemudian berada dalam sebuah kotak perunggu terkunci yang terpendam dalam tanah sejak beberapa ratus tahun lalu, yang baru ditemukan saat ada penggalian tanah buat keperluan septic tank di rumah Nauval.

Woookeeeh, keajaiban time-travel, neh. Dan detik itulah pak LKH terjebak dalam rumitnya time-space continuum yang menguras ketelitian dan kecergasan demi mempertahankan logika cerita.

Bolong logika pertama langsung menohok: Kamera Digital yang suppose to be sudah mengalami time-travel ke 800 tahunan yang lampau dan ditemukan kembali 800 tahun kemudian di dalam kotak perunggu itu,... ternyata masih bekerja dengan baik.

Baru gue tahu ada batere yang bisa awet tanpa dicharge selama 800 tahun! Gak bocor dan gak merusak sirkuit elektronik. Wow, pemilik kamera itu sungguh beruntung, wkwkwkwkwk.

Bolong logika berikutnya: Rumah Nauval terletak di Solo-Jateng, sementara drama Ken Arok dkk berlangsung di Singasari (area Malang-Jatim). Gak jelas bagaimana Kotak perunggu (tempat kamera ditemukan) beserta kaca cermin berbingkai nan ajaib itu bisa terkubur di tempat yang jauh dari Singasari. Jadi selain time-travel, ada juga antar-kota naik travel. Hehehehe,... kalo udah gini, kayaknya kartunya jadi gak sci-fi, atau semi-sci-fi sekalipun. Ini pasti pakai kartu Magic lagi, yang paling aman, paling bisa menjelaskan semua hal secara tanpa perlu penjelasan logis.

Bolong logika terakhir untuk urusan Time-Travel, adalah di akhir cerita dimana puncak adegan meliputi rombongan Nauval meloloskan diri balik ke masa depan sambil membawa pangeran Anusapati (putra Ken Arok, yang dimaksud sebagai The Prince dalam judul novel ini), yang ceritanya mo diobatin oleh dokter-dokter masa depan, dan demi kepentingan 'sejarah' dan plot (bahwa kamera itu kelak akan ditemukan dalam kotak perunggu) maka kamera diserahkan kepada Ken Dedes untuk disimpan di masa lalu. Sampai titik itu, sih, masih in-plot, lah. Tapi pembaca yang kritis pasti akan segera bertanya,... Lha si Anusapati bakal 'pulang' pakai apa? (untuk yang belum baca bukunya, mungkin belum paham maksud pertanyaan barusan. Begini, Kamera Digital Nauval, tepatnya lampu blitz-nya, adalah kunci untuk mengaktifkan pintu dimensi yang terdapat dalam cermin ajaib. Kala ceminnya difoto pakai blitz, clap! Maka cermin akan menjadi pintu antar tahun 2007 ke tahun 1222 vice-versa. Nah di akhir cerita, kamera di serahkan ke masa lalu sementara si Anusapatinya masih di masa kini, karena mau dioperasi. Gak jelas tuh anak akhirnya dipulanginnya gimana,...)

Selain kebolongan logika soal time-space continuum, pak LKH juga membuat candaan (yang bagi saya kurang lucu, tapi ya sudahlah) mengenai reaksi orang-orang di masa lalu terhadap berbagai perangkat modern yang dibawa oleh rombongan dari masa depan itu. Rombongan Nauval, kontradiktif dengan tekad mereka untuk tidak mengubah sejarah (tekad yang gagah yang sering dicanangkan oleh para Time-Traveller!), malah menyuguhkan perangkat elektronik modern ke majelis Singasari yang terdiri dari Raja Ken Arok, beserta seluruh perangkat istana sampai prajurit-prajuritnya. Halah, HG. Wells atau Jules Verne bisa berguling di kuburnya, nih, tokoh-tokoh pak LKH udah melanggar pantangan time-traveller! Hehehe.

Tokoh Emilia memamerkan pada orang-orang Singasari barang-barang berupa kamera, handy talkie, handphone, permen, rokok, sampai laptop pada orang-orang Singasari. Sebagai lelucon, memang cukup asyik membayangkan reaksi mereka, reaksi tipikal orang kampung macam film Gods Must Be Crazy. Tapi secara pakem cerita time-travelling, itu sudah breach sejarah yang serius!

Apakah tidak logis bila perbuatan seperti itu akan merubah jalannya sejarah? Bayangkan bahwa orang Istana Singasari pernah mengenal sebuah barang ajaib bernama laptop, hal itu akan mentrigger budaya dalam skala yang hebat, sampai-sampai bisa dispekulasikan adanya benda-benda hasil budaya yang mencitrakan seperti laptop, ekstrimnya bahkan bisa terukir dalam prasasti candi, kinarya kayu atau logam dan sebagainya. Yah, itu kalau memang mau mebuat pertimbangan serius dalam sebuah novel sci-fi atau Fantasy, ya. Kalo cuma mo buat novel canda-candaan sih ga papa.

Dengan pengaturan alur cerita semacam ini, saya memang cenderung menduga pak LKH tidak sedang terlalu serius saat membuat novel ini. Setidaknya, tak seserius kala beliau membuat Gajah Mada atau Candi Murca. Mungkin bagi pak LKH novel tipis ini tak ubahnya rekreasi, sekedar pengalihan mental dari project-project serius yang beliau kerjakan. Dan juga ada sisipan missi kampanye kepengarangan di dalamnya, melalui tokoh Marshanda yang digambarkan menjadi pengarang remaja yang cukup sukses, trus ada adegan ceramah Marshanda tentang teknis bikin novel di hadapan teman-temannya. Jadi inget episode sinetron ACI, hehehe.

So, apa yang bisa kita pelajari? Well, satu hal mungkin bagi pak LKH novel macam ini adalah sekedar rekreasi. Tapi bagi kita-kita, setidaknya novel ini mengajarkan pada kita apa sebaiknya yang dilakukan bila kita mencoba masuk ke sebuah setting yang un-familiar: 1) Riset, dan 2) Cross-check sama rekan yang berkompeten.

Tapi ada satu pelajaran filosofis yang menarik bagi diri saya pribadi, mengenai filosofi "There is no Try, only Do" (Yoda - Empire Strikes Back, Kalo ga salah). Maksud saya, hasil akhir novel ini menunjukkan mudaratnya sikap coba-coba (try) dalam melakukan suatu hal. I mean, even seorang pengarang senior pun bisa terjebak melahirkan karya yang 'tanggung', karena di awal niatnya memang bukan serius mengkreasikan. Saya bisa membayangkan bahwa dengan sikap 'try' tersebut, saya tidak akan total mendalami suatu masalah. Saya akan melakukan apa yang saya anggap fun, dan akan berhenti pada garis batas yang saya ciptakan sendiri, entah itu garis batas berupa 'kenyamanan', 'kesantaian', 'keterbatasan waktu', 'ketidak-tahuan', 'kemalasan', 'kesulitan', 'ke-not-worthy-enough-an', dan sejenisnya. Dan begitu ketemu garis batas itu, saya akan dengan santai menyingkir, sehingga akhirnya saya tidak berada dalam posisi 'total'.

Bedanya dengan filosofi "Do", adalah saat melakukannya, saya akan melakukan secara total, sehingga apapun hambatan yang hadir, akan dianggap sebagai 'challenge'. Dan siapapun pasti akan mencoba mengalahkan challenge alih-alih menghindarinya. Pada akhirnya, filosofi "Do" ini akan membawa saya pada self-discovery mengenai seberapa jauh kapasitas maksimal saya pada saat itu.

Dan saya percaya, dua filosofi itu akan membawa kita pada hasil akhir yang benar-benar berbeda.

Pak LKH, sekali lagi terima kasih atas pembelajarannya, pada hari ini.

Salam,


FA Purawan

2 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Mas Pur ini udah dibilangin ganti layout blog biar gak bkn yg baca pandangannya garis2 pas udah beres baca, kok masih ndableg tho??? :D :D

Gak ada banyak komentar buat novel yg kali ini krn, jujur, saya aja baru ini pertama kalinya tahu LKH pny novel sampingan gini. Tapi beliau emang ahlinya novel sejarah sih kalo melihat review Mas Pur. Mudah2an yg bersangkutan lain kali "do" bukan cuma "try" doang yah. :D

Hehe.

A. Mami mengatakan...

mas pur, gw sering lho baca diskusi mas pur ama temen2 di forum lautanindonesia. rame sih...
kalo gw baca review mas pur novel lokal yg dah terbit, kok kayaknya lebih banyak yang kurang sesuai dengan ini itu... nah kalo gak keberatan nih, komentar balik ke blogku ya... terima kasih.