Jumat, 22 Februari 2008

Misteri Pedang Skinheald I & II (Ataka - 2007)

Mungkin buzzword saat ini adalah Ataka. Pengarang (novelis?) belia berusia 11 tahun yg masih duduk di bangku SMP. Tak kurang pengarang senior sekaliber Arswendo Atmowiloto menyampaikan endorsement tinggi atas karyanya.

Jadi penasaran, sehebat apakah Ataka? Saya baru ngeh pada pengarang kecil ini setelah ada feature di Tempo mengenainya. Saat itu yg ditampilkan adalah karya novel Misteri Pedang Skinheald jilid II, yg tebalnya udah ngalahin buku Harry Potter kedip

Tentu saja saya hal itu membuat rasa penasaran saya memuncak. Segera saya ke toko buku untuk mencari novel Ataka tersebut. Dan sesuai pakem saya, maka untuk memulai membaca sebuah "trilogi", saya tidak mau langsung melompat pada buku II, harus buku I dulu dong,..

Padahal ternyata, di Gramedia cuma ada buku II?!!

Begitulah, saya ambil buku II seharga 99 ribu rupiah itu (gile margin-nya,..), sambil tetap dibungkus plastiknya menunggu buku I didapatkan. Setelah beberapa bulan buku I baru tampak terpajang di rak, dan to my astonishment, ternyata koq tipis bener laksana chiklit? Gak imbang banget antara buku I dan buku II-nya.

Mulai dengan buku I, sepintas sebetulnya kurang menarik, dan seharusnya ini bukan buku I melainkan Bab-bab pertama dari buku II. Istilahnya mungkin buku introduksi aja, sebelum memasuki buku II. Kalo dugaan gue sih, ini sekedar trik bisnis penerbit untuk testing the water, mencoba reaksi pasar atau penerbit yg lebih gede sebagai basis untuk nerbitin buku II.

Memang ada perbedaan mencolok antara buku I & buku II. Selain tebalnya, juga ilustrasinya. Ilustrasi buku I buat saya lebih indah dan lebih artistik. Garis-garis dan arsirannya lebih halus, dan secara keseluruhan memancarkan nuansa "Fantasy" sebagaimana genre buku ini. Tapi sayang penggambaran karakternya agak terkesan ke arah oriental, seperti ilustrasi silat cina, sehingga sedikit berlawanan dengan setting buku yg mengarah pada rasa-rasa Eropah.

Dalam hal interpretasi, sepertinya ilustrator buku II lebih 'dapet', tapi terus terang saya tidak suka dengan eksekusinya, yang cenderung kasar dengan garis-garis tebal, dan proporsi tubuh yg rasanya kurang pas. Untuk ilustrasi cover buku II, kayaknya memang cukup menggigit dengan warna merah serta tampang naga buas, walaupun peran naga tidak terlalu dominan dalam kisah di buku II ini.

Bagaimana dengan cerita Misteri Pedang Skinheald? Well,... ada satu hal yg utama, di dalam buku ini, yang membuat saya teringat pada masa kecil. Saat saya seumur Ataka, bahkan beberapa tahun lebih muda, saya punya seorang sodara sepupu. Kami sering bermain "cerita-ceritaan", mengarang kisah fantasi untuk diceritakan satu sama lain, dengan tokoh-tokoh superhero atau jagoan. Biasa lah,...

Saya teringat salah satu jagoan yg kami karang, bernama "Amsterdam", kuat, bisa mengangkat gerbong kereta api dll-dll. Ya gitu deh, ceritanya bisa berseri gak habis-habis dengan imajinasi liar ke sana kemari,... tanpa terikat konteks. Di satu sisi, emang asyik. tapi di sisi lain, yg terjadi adalah bangunan cerita yg terasa 'aneh' atau lebih tepatnya ga koheren.

Demikianlah yg kurasakan dalam buku Misteri Pedang Skinheald. Secara ingatan anak kecil, saya bisa menelan semuanya bulat-bulat: nama-nama tokoh yang "seenak udel" (kayak aku bikin nama Amsterdam out of nothing, cuma karena sounded cool aja), seperti: tokoh utama bernama Robin Halfman, nama pedang "Skinheald"? (maksudnya apa?), kerajaan Marsekal (!), nama penyihir Hayfly (jerami terbang?), ada elf bernama Alva, tapi ada elf lain bernama George Gloria, dan sebagainya. Secara anak kecil, aku bisa terima. Tapi secara anak besar, aku sungguh menginginkan adanya konsistensi atau latar belakang dalam sistem penamaan tokoh di buku ini. Nama-nama manusia, nama-nama Elf, nama-nama Dwarf, dst, harusnya mengikuti suatu 'hukum' tertentu supaya terdengar make sense sekaligus enak dan mengesankan karakter tertentu.

Tapi okelah, masak gue harus menuntut demikian tinggi untuk seorang pengarang anak-anak? Salah juga gue, dong?

Tapi sejujurnya sih, saat editor buku ini diwawancara dan mengatakan bahwa ia tidak berusaha mengintervensi proses kreatif Ataka, aku merasa harusnya dia melakukan satu hal lebih: yaitu pembimbingan "How to write a Fantasy world, based on medieval myths".

Karena ternyata beberapa konsep "Lord of The Ring" yg mempengaruhi Ataka, telah diterjemahkan secara individual oleh Ataka (dengan kapasitasnya yg terbatas) tanpa pengarahan pada konsep-konsep yg kurang-lebih standar di dunia penulisan genre Fantasy. Boleh jadi karena Ataka hanya melihat (belajar dari) menonton film/ baca buku, dan si editor juga bukan spesialis Fantasy (walaupun penerbit Copernicus mengklaim dirinya sebagai spesialis penerbit cerita Fantasi).

Akhirnya, Ataka jadi agak 'salah' menetapkan setting buat ceritanya. Ibarat dia cuma mengambil visualisasi film dan tokoh-tokoh lord of the rings tanpa kedalaman (which is tentunya normal bahkan sudah advance buat anak seusianya), dan rupanya senior-seniornya malah udah kalah set sebab tidak dapat memberi pengarahan yg diperlukan oleh Ataka.

Sejumlah kekonyolan, jadi tampak membuat buku ini seperti terasa 'aneh'. Seperti latar belakang tokoh utama Robin Halfman yang profesinya adalah seorang guru di sekolah "Ayo Bertanam Singkong" (what the heck,...?), punya rumah yg tergolong Elite dengan sejumlah pembantu. Mengapa singkong? Apa perlunya ada sekolah bertanam singkong di desa itu, dan kenapa profesi sebagai guru bertanam singkong memberikan stature sosial yg bagus? Aduh, jadi pusing. Apakah saya harus seserius itu dalam membaca? Lho, kenapa saya tidak boleh bersikap serius terhadap sebuah karya kreatif? Bukankah itu artinya saya memandang serius pada buah karya Ataka, unlike para editor yg mungkin hanya menganggap Ataka sebagai anak ajaib yg (kebetulan) bisa mengarang.

Kekurang-tegasan peran editor juga tampak pada kesalahan penamaan makhluk mitologi yg cukup 'jauh' meleset. Makhluk Goblin, kalau menurut mitologi Inggris, adalah makhluk yg sosoknya cebol dengan wajah berkerut seperti orang tua. Kekhasan Goblin sebagai makhluk gaib adalah kesenangannya terhadap harta, terutama emas. Sehingga dilegendakan bahwa di ujung pelangi selalu tertanam seguci emas, yang dijaga/ dimiliki oleh Goblin. Dalam setting Harry Potter, kaum Goblin ditempatkan sebagai bankir atau pengelola harta di dunia penyihir Inggris.

Di buku Ataka, Goblin digambarkan sebagai makhluk liar bersosok tinggi besar berwajah seram, takut cahaya, dan bersifat penyerang ganas. Which is, di dalam setting LOTR, dinamakan sebagai Orc. Itu juga mengikuti sistem mitologi Inggris sebagaimana Elf dan Dwarf. IMO, kalau saja editornya cukup punya wawasan, dia harusnya mengarahkan Ataka untuk menamai mahluk-mahluknya paling tidak sesuai standar mitologi inggris, sehingga akan lebih konsisten.

Tapi hebat juga imajinasi ini anak, selain makhluk2 'standar' yg dia pinjam dari mitologi barat, dia bikinin lagi beberapa makhluk kreasi baru, antara lain maklhuk super ganas Cannibalic Man, Manusia Naga, Manusia kucing laut, Dark Elf, semuanya fit dalam cerita secara cukup wajar dan interaksinya dengan makhluk lain dalam alam itu juga cukup realistis. Khususnya Cannibalic Man, sebetulnya bisa menjadi gimmick yg menarik. Sayang banget koq dinamain Cannibalic man, sebab nama itu gak mencerminkan ras melainkan julukan ke pihak ketiga tunggal. Jadi rasanya gak matching, gitu. mendingan dinamain "Kaum Kanibal", atau nama baru yg mengesankan sebagai ras menyeramkan. Dark Elf, tuh ide bagus.

Hal positif yang amat menonjol dalam novel Ataka, dan ini juga sudah disebutkan oleh para endorser, adalah kemampuan anak sebelas tahun itu mempertahankan ritme cerita. Istilahnya stamina bercerita. Emang harus diakui hebat, bisa membuat novel tebal itu tidak melelahkan untuk dibaca. Cukup ada suspense dan action yang bisa menggiring pembaca untuk menyelesaikan bukunya. Alur ceritanya sendiri cenderung biasa aja, perjalanan menuju satu titik dengan berbagai hambatan dan drama, dengan klimaks adegan pertempuran laut (yg cukup imajinatif, walaupun harus sedikit bertabrakan dengan pakem-pakem perang maritim, hehehe. Tapi bisa dimaklumi, lah).

Ataka mampu menggambarkan setting & landscape secara terinci dan indah, namun menggambarkan konflik interpersonal secara agak "mixedbag". Maksud saya, kadang dia bisa menggambarkan konflik rumit seperti orang dewasa, tapi banyak juga dia mengolah konflik dengan kedangkalan berpikir sebagaimana anak-anak, sehingga tokoh-tokohnya bukan tampak seperti orang dewasa on a mission (deadly mission, loh BTW!), tapi seperti sesama anak kecil sedang bermain di halaman sekolah. Yah, dalam hal ini mau dimaklumi boleh, mau dikritisi juga boleh,..

All for all, buat gue sendiri membaca novel Ataka lebih berfiat apresiasi dibandingkan immersion (melarutkan diri dalam kisah/ cerita). Kalau saja Ataka memasukkan unsur penamaan tokoh, lokasi, secara lebih make sense, kayaknya koq gue pun bisa larut dalam karyanya.

Kalau mau belajar atau membandingkan, kita bisa menengok pada karya Christopher Paolini, yg mulai menulis Fantasynya di usia 14 tahun. Mestinya bisa dipelajari bagaimana interaksi pengarang-editor yg terjadi, sehingga Christoper relatif bisa terbantu untuk membuat dunia Novelnya lebih realistis.

Buku III, aku tunggu. Dan trilogi ini akan kusimpan, untuk kutunjukkan sama anakku kelak sebagai penambah motivasinya dalam menulis.

Salam,


FA Purawan

2 komentar:

Cheppy mengatakan...

Kutipan dari http://liliput.wikidot.com/sas-sus

-----
Beranjak dari keinginan untuk mencari penulis potensial, penerbit Alenia yang juga berbasis di Yogyakarta menerbitkan Misteri Pedang Skinheald, karya penulis belia, siswa SMP, Ataka Awwalurrizqi. Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak penyuntingan naskah. “Kebetulan naskahnya sudah runtut. Jadi tim editor kami tidak perlu repotrepot memperbaikinya,” kata Jhon Suharyoto, Manajer Pemasaran Penerbit Alenia. John menyebutkan, hanya butuh waktu dua pekan untuk memproses penerbitan Misteri.
-------

Hmmm,.... pantesan,... jadi apa yg saya rasakan dalam review itu adalah benar adanya,... hehehe.

Salam,

FA Purawan

Zen Horakti mengatakan...

Menarik juga ya. Sayang sepertinya buku ini sudah sangat susah ditemukan.