Sabtu, 26 Juli 2008

DREAM OF UTOPIA: Maiden of Tears (Sammy Balladrom - 2008)

Data Buku:
Penerbit: Diwanteen
Editor: F Assegaf & Achmad Rifki
Setting & Layout: mps creativa
Sampul: Faisal Rangga
Tebal: 565 halaman.

Mimpi, adalah langkah pertama seorang manusia memasuki dunia fantasi. Ga berlebihan anggapan itu, mengingat di situlah gerbang pertama kita menyadari bahwa ada 'dunia' lain di balik dunia yang kita kenal. Dan di 'dunia' itulah kita mulai mengalami sebuah dunia yang tanpa batas wilayah, tak berbatas ruang dan waktu, di mana kita bisa menjelajah tanpa halangan, satu-satunya pembatas hanyalah ketika tiba waktu pagi :)

Mimpi, adalah Fantasy dalam bentuk yang paling dikenal oleh umat manusia.

Tak heran, bahwa banyak kisah Fantasy yang lekat dengan dunia mimpi. Mungkin cerita Fantasy paling awal yang saya kenal yang terkait mimpi ini adalah kisah Alice in Wonderland. Dan tentunya, masih banyak kisah Fantasy yang punya hubungan lekat dengan mimpi. Dan seluas dunia mimpi itu sendiri, kupikir apa yang bisa digali dari dalamnya sebagai bahan pembuatan cerita Fantasy bisa dianggap tak terbatas, seluas imajinasi manusia.

Dream of Utopia, sebuah novel perdana dari pengarang yang baru lulus SMA, Sammy Balladrom, termasuk salah satu yang menggali dunia mimpi ini secara kreatif.

Tersebutlah Alvernod Wolfric, dipanggil Verno, seorang remaja di kota Magestone, USA, yang mendapatkan sebuah tawaran aneh, untuk bergabung dengan dunia mimpi Dream Utopia, dimana setiap anggotanya bisa keluar dari mimpi mereka yang semu, dan masuk ke dalam mimpi yang nyata (maksudnya realistik). Di Dream Utopia, mereka dapat mengalami sebuah dunia alternatif yang memukau, alam yang amat berbeda, Elfa, Animala, Planta, dan kekuatan-kekuatan sihir. Setiap kali mereka tidur di alam nyata, akan terbangun di Dream Utopia. Dan sebaliknya, bila tidur di Dream Utopia, akan terbangun di Dunia nyata. Dan bonusnya, tubuh tetap segar seperti biasa. Dan advantage-nya, di dunia Dream Utopia, kamu akan tetap mengingat segala hal yang terjadi baik di dunia nyata maupun di Dream Utopia, sementara disadvantage-nya, di dunia nyata kamu akan melupakan apa yang terjadi di Dream Utopia (Now, why would somebody want to have that, beats me! Apa gunanya bermimpi indah kalo gak bisa mengingatnya?).

Ini premis yang sangat menarik, dan easily sangat workable untuk dikembangkan dalam sebuah novel. Gini dong, bikin ide, gak usah susah-susah, gak usah grande-grande-an, sederhana tapi langsung bisa nge-gas. Berkahnya, penulis bisa lebih concern mikirin aspek kepenulisan untuk membuat ceritanya menjadi lebih memikat pembaca.

Membaca Dream of Utopia, saya sungguh terkesan. Pengarang memiliki kemampuan bertutur yang lancar dan terang, dengan balancing yang pas antara action, narasi dan dialog. Pengarang memang memilih setting non Indonesia, dengan alasan yang hanya diketahuinya sendiri mengapa. Tapi penerapan setting non-lokal (dalam hal ini nuansa negeri paman Sam) berhasil diterapkan secara baik dan natural. Kalo saya bilang bahwa kesannya persis seperti membaca novel terjemahan dari pengarang luar nagri, jangan buru-buru anggap itu sebagai komplimen, karena buat saya bisa nulis kayak orang bule itu nggak terlalu membanggakan. Menjadi komplimen ketika saya merasakan tulisan Sammy lancar tanpa memaksa, sekalipun bersetting bukan Indonesia. Artinya pengarang sudah melakukan balancing yang amat baik untuk menjaga agar tulisannya dinikmati secara konsisten dan koheren. Ada banyak karya tulis lokal yang secara aneh memposisikan orang Amerika seperti berpikir dan bertindak secara Indonesiawi (kalau orang indonesia berpikir dan bertindak secara Amerikawi, itu udah gak aneh lagi sekarang, hehehe). Rasanya style menulis pengarang sudah bebas dari kesalahan-kesalahan gegar budaya, seperti penulisan dialog "Dong, Deh" dan semacamnya dalam setting yg supposedly non-Indonesia, dan juga berhasil membuat bahasa percakapan dalam dialog menjadi tak terlampau kaku atau 'maksa'.

Hanya ada sedikit banget kesalahan, yang hanya mungkin dipersoalkan oleh mulut-mulut cerewet macem gue punya, hehehe. Misalnya penyebutan Mrs. untuk tokoh-tokoh gadis yg masih pada remaja (kudengar cukup lazim untuk kesopanan? tapi karena konteksnya disini penyebutan kepada mereka selaku siswi, mustinya yg lebih tepat adalah Miss). Kemudian nama Verno, dipanggil singkat sebagai "Ver,.." koq rada aneh untuk orang Amerika. Mustinya sebagaimana nama Dalton yang dipanggil "Dalt,", Verno juga lebih cocok dipanggil, "Vern,"

Selebihnya, cukup perfect. Dan kelebihan lain yang saya rasakan adalah keberhasilan Sammy untuk membuat "page turner", alias novel yang membuat kita mampu membaca terus dan gak terasa membalik halaman demi halaman. Membaca Dream of Utopia, sekilas terasa bagaikan membaca Harry Potter, dan ITU adalah sebuah komplimen!

Proficiat juga untuk dunia fantasi yang diciptakan oleh Pengarang. Benar-benar dunia yang dipenuhi imajinasi. Dunia Dream Utopia adalah bagaikan dunia dongeng, dan pengarang berhasil menggambarkan itu melalui deskripsi yang amat kaya, melibatkan warna-warna, bentuk-bentuk fantasi, hewan fantasi, sampai dengan konsep fantastik (misalnya rumah pohon raksasa Yggdrasil yang terdiri dari ribuan kamar). Begitu mudah dibayangkan oleh pembaca, sekaligus rasanya begitu mudah divisualisasikan secara indah oleh seorang ilustrator kompeten. Dan yang penting, saya merasakan bahwa semua khayalan itu memang hadir pada tempatnya, tidak terasa seperti mengada-ada atau tempelan (biasanya terasa demikian apabila sistem logikanya kedodoran).

Mari saya ambilin contoh:

Terbentang luas hamparan rumput hijau kebiruan--hamparan rumput di dalam sebuah pohon raksasa--memantulkan sinar matahari dari embun-embun yang menggantung di ujung rumput. Bunga peony, chrysanthemum, hyacinth, hydrangea biru dan merah jambu, jasmine, anggrek, ros, melati, dahlia, kamboja, dan berbagai bunga liar menjalar menguasai seluruh bebatuan dan pilar-pilar menjulang--seolah menunjukkan keanggunan luar biasa yang mereka miliki. Patung-patung berbentuk animala dan elfa tersusun rapi mengelilingi lingkaran tengah pohon.

Sebuah kolam besar terlihat tak jauh dari hadapan mereka, dikelilingi oleh tujuh kolam segitiga yang lebih kecil, airnya sebening kristal, serta memunculkan pelangi lengkung sempurna di atasnya. Puluhan ikan melompat dari dalamnya, ikut menghirup udara segar yang ada--menyapa mereka dengan kombinasi warna bagai lukisan seorang maestro. Beberapa Elfa berpakaian gaun mengkilap bermain berpasangan, membentangkan sayap-sayapnya yang mungil, melayang menyenangkan di atas permukaan rumput. Kelinci dan tupai berjalan kesana-kemari, melompat dengan riang. Lapangan rumput ini dikelilingi pilar-pilar cokelat, membentuk lingkaran pohon yang tingginya entah berapa lantai. Pohon raksasa ini terlihat bagai tabung berongga. Di kiri-kanan terlihat lorong lebar--sebenarnya membantuk lorong lingkaran--berlantaikan marmer, campuran warna coklat dan peach.

(suasana di dalam Yggdrasil, hal. 158-159)



Masih banyak yg lebih bagus dari ini, cuma saya males ngetikin semuanya, hehehe,.. mendingan baca aja bukunya sendiri. Dan rasanya ini novel layak baca, kalaupun sekedar cuma ingin menikmati penggambaran dunia Dream Utopianya aja! Wisata Fantasi, adalah salah satu elemen daya tarik yang hanya ada di genre Fantasy. Pengarang cukup pandai untuk memanfaatkannya semaksimal yang ia bisa.

Hal lain yang patut dipuji dengan dua jari jempol adalah kreativitas Pengarang dalam memberi nama-nama, terutama nama-nama property dalam dunia Dream Utopia-nya. Pengarang mampu memadu-padankan istilah-istlah bahasa Inggris menjadi suatu nama baru yang tetap konsisten dengan konsep baru yang dinamainya itu. Penamaan ini memberi excitement tersendiri dalam konteks fantasy, serta memunculkan definisi khas yang langsung lekat dalam imajinasi pembaca. Lihat beberapa contoh berikut ini:

Eleafator: magic lift yang terbuat dari anyaman daun
Aerosnake: Ular raksasa bersayap, bisa terbang, sering dipakai sebagai sarana transportasi udara
Elfiend: Elf yang berasal dari Dark Utopia, musuh Elfa
Dolphant: Animala persilangan Dolphin dan Elephant, berbentuk lumba-lumba yang memiliki gading, dipakai sebagai sarana transportasi air.

Pengarang juga memiliki sistem sihir yang cukup solid, disebutnya sebagai Natural Arts yang terdiri dari:

Hydromancy
Pyromancy
Aeromancy
Psychomancy

Tentunya masing-masing terkait dengan elemen yang diwakilinya: Air, Api, Angin, Jiwa.

Pendeknya, untuk buku yang satu ini, pengarang tampak sudah mempersiapkan Universenya secara lengkap dan detail, satu hal yang sangat saya puji untuk sebuah karya literasi Fantasy.

Selain setting yang unik dan komprehensif, jangan lupakan karakter-karakternya. Untuk karakter ini menurut saya sudah cukup standar dan bagus. Ada Verno si tokoh utama, Marsha yang juga menjadi lead role, Claire yang cerdas, Fantasia (Fan) yang artis penyanyi terkenal, dan masih banyak tokoh lain manusia maupun Elfa yang tampil cukup sesuai porsi masing-masing, membentuk susunan cast yang cukup menghidupkan cerita. Miriplah dengan tipikal tokoh-tokoh ala Harry Potter, sekalipun mungkin dalam hal karakterisasi masih kalah matang. Untungnya, hal ini masih bisa dikejar dan dikembangkan dalam novel sekuel. Setting yang solid akan sangat memudahkan hal ini.

Lantas apa yang bisa saya utarakan sebagai masukan?

Well, sebagai sebuah karya perdana, rasanya terlalu too good to be true, ya, kalo gak ada kelemahan? Hehehe,... menurut saya sih ada sedikit kelemahan yang bukan bersumber dari kemampuan pengarang dalam menulis atau berfantasi.

Di bagian-bagian awal, tempo cerita terasa enak melaju, dengan actions yang cukup memikat walaupun latar belakangnya kurang dijelaskan. Tak apa, sebab pembaca sadar bahwa cerita masih baru mulai. Memasuki bab Ujian ke Dream Utopia (masuk dunia mimpi rupanya harus diuji dulu), plot tambah memikat. Walaupun logika saya sempat berkali-kali terchallenge, berkali-kali pula saya menegasikannya, memaklumkannya semata karena emang lagi enak ngikutin ceritanya aja. Apalagi saat masuk dunia Dream Utopia secara utuh, wuah, saya sampai terkagum-kagum. Kira-kira sampai pertengahan buku setebal 500-an halaman ini.

Pas sampai pertengahan,.... (biasa, syndrom buku tebal!), mulai terasa slowing down. Aspek penceritaan tetap bagus, sih, cuma sebagai pembaca saya mulai bertanya-tanya. Ada cukup banyak pertanyaan yang saya ucapkan, antara lain (1) apa sih tujuan dari plot-plot ini? (2) mengapa rasanya mulai 'aneh', (3) saat fokus-fokus mulai bergeser pada konflik dan masalah, saya jadi check back dan memperhatikan kembali apa yang sudah terjadi dan apa arah pengarang selanjutnya.

Bukan salah pengarang sepenuhnya. Biasalah dalam suatu novel, pembaca akan disuguhi hal-hal memukau di bagian depan, sebelum kemudian mulai masuk ke inti permasalahan. Setelah hal-hal ajaib di awal mulai terasa biasa-biasa aja, otomatis otak saya akan mencari-cari masalah. "Trus ngapain, neh?" begitu kali, jika si otak bisa ngomong. Akibatnya, otak mulai menguraikan segala anomali yang dirasakannya. Saya harus berulang kali mengingatkan otak saya bahwa ini dunia mimpi, anomali itu dimungkinkan oleh logika cerita. Tapi dasar otak, teteup aja ngotot.

Beberapa hal ditanyakannya,

"Aneh deh, ngapain untuk masuk Dream Utopia aja pakai tes-tes yang segitu aneh? Udah gitu, apa relevansi tes-tes itu kemudian?"

"Dream Utopia ini ada yang ngatur (merintah), ya? Dan pemerintahnya itu ternyata tukang 'tipu'! Ternyata mereka ngerekrut anak-anak itu cuma untuk dijadikan pasukan melawan Dark Utopia. Kalo gue jadi orang tua murid di Yuna, gue udah bikin petisi, tuh."

"Dream Utopia sudah berusia 20.000 tahun lebih, dan ADA yang menciptakan!! Koq ngga hal itu ngga terefleksikan dalam cerita secara memuaskan?"

"Anak-anak ini di dunia nyata udah sekolah, eh di Dream Utopia SEKOLAH LAGI! Sekolah untuk mempertahankan diri, katanya. Lhah, kenapa gue harus mau masuk dalam dunia mimpi yang sama bahayanya dengan dunia nyata? udah gitu SEKOLAH! Boy I hate that word!" (Harap maklum, otak saya memang membenci sekolah, semata berdasarkan pengalamannya selama sembilan belas tahun di sistem pendidikan RI. Well, dia memang nggak bisa disalahkan, hehe).

"Kalo orang mati di Dream utopia, di dunia nyata dia mati juga gak ya?"

Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, saya hanya nyengir aja menanggapinya.

"Untuk apa orang 'hidup' di Dream Utopia?"

Tek, untuk yg satu ini, terpaksa saya tercenung.

Well, mungkin di titik itulah ide saya dengan ide Sammy Balladrom gak ketemu. Saya orangnya terlalu serius, sehingga nggak bisa menemukan apa point terpenting dari all the fuss about this dream world, apabila segala alasan dan segala konflik mengenainya tidak terjelaskan secara memuaskan. Saya tahu, kadang Fantasi tidak selalu membutuhkan penjelasan. Tapi sebagai pembaca, saya paling malas kalau masih ada ruang-ruang kosong di kepala saya.

Ada orang bikin sebuah dunia mimpi Dream Utopia dua puluh ribu tahun yang lalu, untuk motivasi yang belum dijelaskan, dan lantas ada dunia lawan berupa Dark Utopia, yang mati-matian berusaha menerobos portal ke Dream Utopia untuk maksud yang juga kurang jelas. Bahwa Dark Utopia juga dianggap the bad guys, okelah. Tapi penjahat di dunia nyata aja ada alasannya kenapa jadi penjahat. Kemudian selama ini Dream Utopians merekrut warga Magestone melalui surat bersampul hijau itu, kenapa? Masih menjadi pertanyaan menggantung.

Gara-gara pertanyaan tersebut, upaya saya menikmati setengah buku ke belakang terus terang menjadi terganggu. Bukan salah pengarang, tapi salah saya sendiri. Gara-gara itu, konflik utama novel mengenai usaha para Guardiana mengantar Maiden of Tear ke Havarma Coast menempuh kesulitan (yg rasanya merupakan semacam ujian juga, karena sebetulnya mereka bisa lewat jalur lain yang lebih nyaman) guna menutup Portal, menjadi perjalanan yang tak terlampau menarik lagi bagi saya. Itulah jeleknya otak saya. Ketika masalah utamanya belum diaddress secara memuaskan, otak saya langsung menegasikan hal-hal lain sebagai sekedar tempelan belaka.

Padahal, apabila saya membaca tanpa prasangka apapun, jalinan cerita tetap merupakan kisah memukau yang sulit dicari tandingannya. Dream Utopia menetapkan siapa Maiden of Tear yang ke tiga belas, kemudian melakukan ujian (lagi) untuk mendapatkan Guardiana, kemudian Maiden of Tear dan Guardiana menempuh perjalanan berbahaya, memasuki alam Dream Utopia yang semakin ajaib, memecahkan berbagai persoalan, sampai akhirnya showdown melawan pasukan Dark Utopia di portal Havarma Coast. Padahal ada Treetop Lodge, padahal ada Lake of Undine (yang demikian imajinatif), padahal ada paduan suara Fan dan Syrenia yang memukau (sayang menyanyinya pakai bahasa Elfa yang kurang meyakinkan. Kalo dibikin pakai bahasa Inggris dengan makna yang pas, kurasa akan jauh lebih menggetarkan!), adegan klimaksnya juga terasa a wee bit keburu-buru, padahal ini sebuah kisah seru, sebetulnya :)

Jadi, kesimpulannya sebagai masukan saya: kalau pengarang berkenan memuaskan otak saya, please kembangkan sebagian plot untuk memperjelas misteri mengenai Dream Utopia yang belum tersingkap ini. Kenapa semua hal menjadi seperti sekarang. Tapi kalo gak berkenan, ya ga apa-apa juga, sih. You already have a great story :)

Sebagai penutup, saya mo kritik dua hal yang kurasa bukan porsinya Pengarang, tapi porsinya Penerbit.

Pertama mengenai sampul, yang kurasa sangat tidak do justice terhadap naskah top notch-nya pengarang ini. Ilustrasi sampul berupa gambar kepala cowok yang tiduran di rumput sambil menutup matanya. My God maksudnya apa? Ekspresi anak itu seperti anak bule yang lagi mikir "Cilaka, gue lupa ngerjain PR Mrs. Easton,", atau mungkin ekspresi si bintang basket yang lagi nyaris pingsan dan mimisan akibat kehantam bola basket di kepala. Nggak banget!! Font judul terlalu tipis dan kurang kontras (warna hijau keemasan di atas latar belakang warna hijau), sehingga ngga langsung terbaca di antara deretan buku di rak pajang. Cover belakang berisi sinopsis kepanjangan yang ditulis dengan huruf berfont ukuran 6 point, kali. Nggak kebaca di mata gue yang udah plus-minus-silindris ini!

Jangan salahkan pengarang, bila penjualan buku kurang menggembirakan. Itu akibat dari bad cover design!


Pokoknya, desain cover Dream of Utopia ini bener-bener merusak jurus "Judge by the Cover" gue, karena pertama kali ngelihat, jujur gue ngerasa ni buku 'murahan' banget, pasti ceritanya norak. Dan amboi ketika saya salah 100 persen, maka kesalahanku itu aku timpakan back-to-back pada desainer sampulnya! He he he,... (sorry ya mas ilustrator, saya tahu pemilihan gambar sampul bukan semata-mata ada di Anda, koq).

(Kalau saya ditanya ilustrasi apa yang pas buat sampul buku ini? Jawaban saya udah pasti: Gambar Pohon Yggdrasil, yang dilukis oleh ilustrator Fantasy yang kompeten.)

Yang Kedua, adalah mengenai Judul: Dream of Utopia.

Pertama baca judul itu di rak pajang, saya sempat mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang janggal. Kupikir-pikir lagi makna kata-kata itu menjadi, "Memimpikan (suatu) Utopia", tapi mustinya inggrisnya adalah Dreaming of an Utopia. Atau mungkin "Mimpinya si Utopia", koq masih aneh ya? Ah! Pokoknya itu terasa seperti Bahasa Inggris yang 'salah', aja.

Lantas di dalam bukunya, pengarang secara konsisten dan benar selalu menuliskan Dream Utopia, bersanding dengan Dark Utopia, atau Orientation Utopia, which is kuanggap benar karena masing-masing jelas menyebutkannya sebagai suatu nama tempat yang memiliki properti sifat-sifat tertentu.

Dan belakangan, aku dapat statement dari pengarang bahwa judul aslinya memang Dream Utopia, tapi kemudian 'curiously' disampul tercetak Dream of Utopia dengan sub judul: Maiden of Tears (Di halaman dalam aja masih tercetak judul original, Dream Utopia (Perjalanan di Dunia Mimpi)).

Aku nggak tahu kenapa dan darimana sang Penerbit punya ide se-misleading itu, tapi dugaan sementaraku saat ini adalah bahwa ini merupakan usaha para Agen Dark Utopia yang sedang menjalankan misi mencegah buku Dream Utopia laris di kalangan penggemar Fantasy (halah!)

Well, demikian aja kritiknya. Sedikit, khan? Kurasa dengan segala kelebihan dan pesona yang dimilikinya, nggak berlebihan bila untuk saat ini, Dream of Utopia karya Sammy Balladrom aku nobatkan sebagai The Best Fantasy in my List, menggeser posisi Ledgard, untuk sementara.


So, untuk Sammy, selamat datang penulis Fantasy baru Indonesia! You have a great work! Lanjutannya kami tunggu.

Untuk temen-temen penggemar Fantasy, kurasa tidak salah kalau aku rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Layak beli, juga lah. Please support para pengarang potensial dengan membeli bukunya, jangan minjem atau nge-ebook. Biar gimanapun, kalo ga ada profit, ga mungkin bisa terbit kisah lanjutannya, dan kita juga yang rugi. He he he,...

Salam,


FA Purawan

Minggu, 06 Juli 2008

ENTHIREA: Pertempuran Dua Dunia (Aulya Elyasa - 2008)



Enthirea,

Kalo temen-temen kemudian merasa terkenang pada yang ijo-ijo royo-royo, jangan keburu merasa heran dulu, atau lantas mendaftarkan diri pada paguyuban Green Peace, atau World Wildlife Fund, ato lebih ekstrim lagi, ke majalah Trubus.

No, it's only your uncosciousness' kicking in. Kalo anda tau-tau mikir yang ijo-ijo, itu kemungkinan karena Enthirea adalah otak-atik 'kreatif' dari kata: Anthurium, tanaman berdaun hijau lebar yang bikin banyak orang jadi sinting dan nekat membeli dedaunan dengan harga milyaran. Nah kalo kebeneran ada ulet ga sengaja jatoh ke pot anthurium itu dan memakan sedikit daonnya, tuh, si ulet baru aja makan makanan ulet TERMEWAH sedunia! He he he,...

Coba deh, mirip khan? Enthirea, Anthurium,...

Boleh aja dibilang sebagai kreativitas, namun sadly, that's the only thing 'creative' about this book.

(He he he, mungkin gue memang a bit exagerated. Okelah, masih banyak kreativitas lain. Tapi akui aja, kalimat di atas itu memang provokatif dan atraktif, khan?)

Pengarang, Aulya Elyasa, adalah seorang Psikolog berusia 25 tahun, yang sekalipun sudah banyak berkecimpung dalam dunia penulisan, antara lain berupa puisi, psikologi populer dan fiksi fantasi, menyatakan bahwa Enthirea adalah novel pertamanya, yang direncanakan akan terbit sebagai Trilogi. Punya moto: CARPE DIEM (mottonya alm. Fuad Hassan juga, yach?), dan saat ini sedang menyelesaikan buku kedua Enthirea: Delapan Pelindung.

Which is, menjadi saat yang tepat untuk buru-buru menginformasikan review ini kepada beliau, supaya ada kesempatan bagi pengarang untuk habis-habisan memperbaiki teknik penulisannya. Dan kalau kubilang habis-habisan, itu bisa berarti sepuluh kali battle di Helm's Deep pun belum tentu bisa memenangkan kelemahan novel ini (yang belum tahu Battle of Helm's Deep, baca dulu The Two Towers, kali ye). Well, yeah, buku satu ini memang masih merupakan karya yang 'lemah' banget. Justru menjadi pertanyaanku, apakah sebaiknya pengarang melanjutkan kelemahan yang sama ke buku dua (sehingga jadi konsisten), atau banting setir dan memperbaiki buku kedua sehingga menjadi suatu karya yang 'melompat' dari buku satu. Dilema, oh dilema,....

Enthirea adalah sebuah kisah Fantasy epik klasik dengan plot klasik: seorang nobody yang ternyata merupakan somebody yang bertugas untuk menyelamatkan everybody.

Pusing? Ala begitu aja koq pusing. Coba anggap nobody adalah 'Hobbit dari Shire', Somebody adalah 'Ring Bearer', dan Everybody adalah 'Middle Earth', sounds familiar? Sekarang ganti nobody menjadi 'Penebang Kayu', Somebody menjadi 'Pelindung', dan Everybody menjadi 'Benua Enthirea'. Jadi jelas, khan? Kalo mau motif, tambahkan seorang Dewa Kegelapan (Orgath) yang bermaksud menguasai Dunia. Dan biar rame, tambahin Elf, Kurcaci dan Goblin along the way.

And, you've got a story, right? Sayangnya, tidak sesimpel itu. Sebuah 'story' baru bisa eksis apabila ada believability. Dan untuk bisa meyakinkan dan mempengaruhi pembaca, ada banyak hal yang harus digarap. Sayangnya, Enthirea belum maksimal menggarap hal-hal ini.

OK, bagaimana saya melihat Enthirea sebagai suatu keseluruhan? Saya melihatnya sebagai sebuah karya di mana pengarang merencanakan plot dengan cukup matang, membuat kerangka cerita yang baik, tetapi tidak menyulam, merangkai dan menjahit plot itu dengan kata-kata, kalimat, dialog, narasi, dan deskripsi pilihan yang menjadikannya selembar 'kain' cerita yang memukau.

Kalau mau dirangkum, area kelemahan Enthirea ada di dalam hal-hal ini:


  1. Setting yang kurang meyakinkan

  2. Logika yang kacau

  3. Dialog yang 'corny'.

Bicara urut nomor, deh.


Untuk setting, pengarang tampaknya sudah memikirkan cukup dalam. Adanya peta di halaman belakang novel juga cukup membantu (walaupun akhirnya terasa ada kekacauan kala membandingkan peta dengan deskripsi dari pengarang. Tar kubahas). Penamaan tempat maupun tokoh juga seperti sudah memikirkan kaitan antara nama-nama tempat dengan latar belakang penamaannya, atau penggolongannya (walau tak sekompleks yang kuharapkan dari seorang penulis dewasa, tapi mungkin beliau punya alasan tersendiri terkait target pasar) demikian juga dengan nama-nama tokoh. Walau jujur, gue agak ketawa saat pengarang menetapkan tokoh utama dengan nama Elyaz, alter ego banget sih. Tapi itu normal dan hak pengarang, anyway.

Namun kelemahan setting sangat terasa dalam hal 'penghidupan' setting guna mendukung cerita, supaya cerita menjadi hidup di pikiran penonton dan setting menjadi bagian dari cerita; bukan sekedar seperti panggung tempat para aktor beraksi, atau diorama di museum-museum yang diam membeku di bawah tatapan mata pengunjung. Membaca Enthirea rasanya seperti membaca sebuah business report: Tadinya gini, abis itu gini, kemudian nantinya akan menjadi gini, tetapi masih ada gini, dst. Sibuk, dan gak sempat lihat-lihat keindahan, padahal meetingnya di Bali,... hehehe. Kembali, hiperbola ku aja sih.

Menurut saya kelemahan pengarang adalah terlalu irit dalam mendeskripsikan situasi, property, landscape, bahkan tokoh-tokoh dalam novelnya. Memang, novel ini memiliki POV orang pertama (tokoh Aku) sebagai narator cerita. POV pihak pertama cenderung membatasi daya ungkap kepada Pembaca, sebab seluruh hal di novel itu menjadi 'terfilter' oleh pikiran perasaan dan tindakan tokoh utama. Tapi POV itu tak lantas harus membuat deskripsi menjadi minim, kan? Padahal sebagai novelis fantasy, pengarang punya tugas yang obvious, yaitu menghidupkan fantasi pembaca!

Dan Goblin! Kenapa masih pada ngotot menggambarkan Goblin sebagai sosok Orc? Goblin itu mempunyai gambaran tipikal seperti kakek-kakek cebol berkepala besar, bukannya monster besar berkulit gelap. Melihat 'kekeliruan' sosok Goblin ini, kemudian keberadaan Dark Elf, mungkin pengarang terinspirasi dari konfigurasi rasial yang ada di novelnya Ataka. Atau kalo gak gitu, berarti ada deskripsi ganda mengenai goblin ini di dunia mitologi barat.

Bicara point 1, Setting, saya hanya dapat mengatakan bahwa Pengarang belum berhasil mengolah settingnya menjadi suatu bangunan yang believable, dikarenakan -mungkin- oleh deskripsi yang minim. Kalau mau diperbaiki, mungkin dengan memperkaya detail dan menguatkan relasi setting dengan tindakan para tokoh. POV orang pertama sesungguhnya cukup potensial untuk mendeliver setting secara detail sekaligus berimbuhan emosi dan nilai sesuai karakter tokoh utama, bisa detail sekaligus unik. Di tangan pengarang yang mumpuni, Fantasy POV orang pertama bisa menjadi feast yang luar biasa. Tentunya untuk itu, diperlukan sistem logika yang 'masuk akal' sebagai perekat dan penjelas.

Logika, nah ini yang kacau abbasss,... saya akan menjabarkan melalui beberapa contoh:

Pada penyerangan Faerun, dikatakan pasukan penyerang terdiri atas 3000 infantry, 500 pemanah, dan 5 raksasa tempur, sementara di pihak Faerun terdiri atas 1000 sukarelawan yang cukup mampu memanah karena merupakan pemburu andal. Ditambah dengan Elyaz sebagai pelindung, Lefial dan Arvea sebagai Elf yang menguasai sihir-sihir dahsyat. So the odds will simply be 1:3 atau 1:4. Udah gitu dalam paruh pertama adegan perang, ternyata para jagoan dan penduduk Faerun sudah dapat mengeliminasi 1500 lawan berkat penggunaan sihir dan panah. Nah, sampe sini kan oddsnya sudah berubah tinggal 1:2. Tapi pengarang tetap me'nambahkan' jumlah penyerang agar terkesan overwhelming dengan menyebutkan Goblin yang berjumlah 'ribuan'.

Well, memang Faerun pada akhirnya harus jatuh, cuma pengarang kurang berhasil memberikan situasi yang logis dalam peperangan ini karena logika perangnya kurang berjalan.

Logika perang di pegunungan Arga juga demikian, sejumlah 15.000 pasukan antagonis melawan 10.000 pasukan protagonis yang diuntungkan oleh situasi alam. Kalo pengarang lebih mempelajari ilmu strategi perang terutama bagaimana sifat-sifat infanteri, kavaleri dan artileri, serta bagaimana pengaruh kekuatan di antaranya, kayaknya pengarang bisa membuat adegan perangnya lebih believable. Perangkatnya udah ada, koq.

Tapi main-main dengan angka, ini juga masih harus dipertimbangkan oleh pengarang. Bikin pasukan dengan jumlah besar, itu secara universe Fantasy, sebetulnya susah, lho. Untuk mencapai hitungan 10.000 pasukan saja, seharusnya effortnya nggak main-main, mulai dari harus mencari orang-orang berfisik sehat dengan rentang usia yg cukup (ada persoalan demografis), kemudian menyediakan tempat latihan, perlengkapan, logistik dan lain sebagainya, perang on-foot semacam itu akan membutuhkan empat-lima tahun sekedar untuk persiapannya saja!

Ambil contoh perang Mataram, yang untuk jalur perjalanan pasukan saja, logistiknya menjadi demikian besar dan kompleks, meninggalkan jejak-jejak peradaban sampai sekarang berupa kampung-kampung dengan penamaan terkait Mataram. Untuk mencapai Batavia, sekedar buat numpang lewat aja Sultan Agung harus 'menaklukkan' banyak daerah terlebih dulu, baik melalui penaklukan fisik maupun diplomatis, yang tentunya ngga cuma dalam semalam.

Dalam setting LOTR, bahkan Saruman yang mampu menciptakan "tens of thousands" pasukan Uruk-Hai, sampai memerlukan untuk menghancurkan hutan-hutan di sekitar Eisengard dalam skala yang mampu membuat Treebeard murka seketika (yang pastinya sangat cepat untuk ukuran Ents!).

Artinya, makin besar jumlah pasukan pun akan makin besar effort untuk membuatnya, termasuk effort politis, effor budaya maupun effort logistik.

Bandingkan dengan komposisi pasukan bayaran Arga yang bisa mencapai 10.000 (padahal dalam deskripsi camp-nya, tidak terkesan sampai berjumlah segitu besar). Pertanyaan sederhananya: SIAPA yang mampu membayar untuk pasukan sejumlah itu? Tidak ada kerajaan yang memerlukannya, dan tidak ada background situasi politik yang memotivasi tersedianya military reserve sampai segitu banyak. Bahkan konsep pasukan bayaran aja gak begitu jelas di novel ini.

"Tapi kan gue bikin cerita Fantasy, dimana semua kemungkinan dapat terjadi?" biasanya akan muncul pembelaan seperti ini. Well, boss, JUSTRU dalam cerita Fantasy (yang bener), pengarang punya tugas untuk menjelaskan semua kejadian mengikuti sistem logika yang dapat diterima oleh pembaca, terserah itu logika sesuai dunia nyata, atau logika ciptaan pengarang sendiri. Tanpa di-back-up sistem logika yang kokoh, alih-laih menjadi literary Fantasy, karya tersebut akan cuma mampu berada dalam kelompok 'pure-ngayal'.

Kemudian contoh lagi mengenai logika lokasi sesuai deskripsi pengarang. Ini simpel aja, sebab bisa diperbandingkan dengan gambar peta yang disupply oleh pengarang; Mengenai jalur perjalanan dari Eslunia menuju Pegunungan Arga. Lihat kutipan ini:


"Dari Eslunia, kita akan berjalan ke Utara melewati gunung Ro. Dari situ kita akan berjalan ke arah Tenggara sampai kita menemukan mata air Fianha. Perlu aku sampaikan pada kalian, sebelum mencapai mata air Fianha, kita akan melewati perbukitan Krana yang terbentuk dari karang yang sangat terjal dan berbahaya. setelah kita sampai di Fianha, kita akan meneruskan perjalanan ke Timur menuju pegunungan Arga, kalian mengerti. Apakah ada pertanyaan?"

Coba liat petanya dulu,...


Nah, kalo gue ikut di sana, gue pasti akan bertanya, "Ngapain susah-susah? kita jalan aja ke Timur terus, kemudian ke Utara dikit, pastilah ketemu Pegunungan Arga (versi Pengarang), which is beda sama versi pembuat peta!" hehehe,...

Nah kalau mau konsisten sama Peta, harusnya briefingnya sangat sederhana, "Kita jalan ke Utaraaaa,... terus, nanti ketemu lah sama pegunungan Arga!"

Inkonsistensi ini, menunjukkan bahwa pengarang agak mengabaikan aspek logika lokasi dalam novelnya. Emang sih, menggambarkan sebuah lokasi fantasi adalah hal yang amat sulit, saya akui hal itu. Belum tentu bayangan yang ada di kepala pengarang dapat terjabarkan secara tepat di pikiran pembaca. Itu sebabnya pengarang Fantasy kerap membuatkan peta imajiner untuk pembacanya. Tapi janganlah kemudian pembuatan peta itu hanya jadi faktor gimmick doang, tetap harus in-line dengan setting ceritanya.

Satu aspek logika alam juga jadi kacau di novel ini.

Pada sub-plot masalah mata air Fianha yg disabotase oleh pasukan kegelapan sehingga menjadi keruh & berbau, dikisahkan bahwa sabotase dilakukan dengan cara menancapkan semacam tongkat sihir di tengah sungai Elstran yg merupakan pelimpahan dari mata air Fianha. Nah, gak logisnya adalah bagaimana sesuatu di hilir bisa berpengaruh pada mata air di hulu.

Hukum air sudah jelas berlaku bahwa apa-apa di hulu akan berefek ke hilir, tapi tidak sebaliknya. Terserah kalo pengarang mau memainkan kartu sihir di sini, tapi setidaknya logika yg lempeng kudu tetep dijaga.

Logika menjadi semakin bubrah bila mengingat bahwa sabotase ini membuat mata air Fianha menjadi tidak enak diminum, sementara air minum suppose to be diambil langsung dari sumbernya, dan sumbernya dikatakan tidak tercemar!

Jadi, pengarang ingin membuat situasi di mana pencemaran di hilir membuat rasa air di mata air (yg tidak tercemar) menjadi rusak! Sungguh nggak kena ke logika mana pun. Kenapa nggak dibikin saja bahwa mata airnya yang memang disabotase. Toh pengarang dapat saja membuat posisi mata air tersebut berada dalam gua yang jauh di dalam tanah, yang rupanya sudah dikuasai musuh, dan kemudian musuh menancapkan tongkat sihir di situ bla, bla, bla. Itu jauh lebih masuk akal.

Masih ada gegar logika yang lain, misalnya bagaimana jagoan yg terkepung koq bisa begitu saja meloloskan diri dengan berlari (biasanya meninggalkan comrade in arms nya dengan melodrama, "Cepat! Selamatkan dirimu! Kau terlalu penting untuk mati! Dan seterusnya lo pasti dah tau dah! Kalo lo mati sekarang, sekuelnya bakalan gak terbit!") dan seolah-olah di saat itu para pengepung seperti memutuskan untuk berkumpul di satu sisi saja dan memberi peluang pada si jagoan untuk lolos tinggal glanggang colong playu...

Terus Elf Hitam Zatra yang merampok Elyaz di tengah hutan, jebul-jebule adalah seorang jendral intelijen dari kerajaan Elf Hitam. Kalo temen-temen nanya ngapain seorang jendral nyambi jadi perampok di hutan? Gue mungkin cuma bisa jawab: sejak BBM naik, apapun bisa terjadi, man!

Terus ada adegan si Zatra ini, yang mampu bergerak secepat The Flash, menggunakan kesaktiannya untuk melenyapkan debu-debu pasir beterbangan menutupi pandangan, dengan cara berlari cepat mengelilingi debu sehingga debu-debu itu terangkat ke udara dan hilang. Well, satu hal yang lupa dipikirkan, debu kena angin, bukannya menghilang malah makin kacau semuanya, lah! Angin yang mengangkat debu di tengah justru akan menyedot debu dari samping dan seterusnya,...

Need I say more? Cyukyup, kali ye,...

Lalu mengenai dialog yang saya bilang 'corny'.

(BTW, corny itu apa sih, kak?)

Naaa, itu juga yang gue kagak tahu percis. Masak, dialog kayak 'jagung'? He he he, dasar gue sok pakai istilah asing yg gue gak tahu artinya. Tapi terserahlah, buat gue dialog di Enthirea tidak terasa enak dicerna, dan banyak yang terasa dipaksakan. Kalau boleh menduga, sepertinya karena Pengarang terlalu kompulsif menyebut nama tokoh dalam dialog.
Ini buat contoh, tapi imajiner aja ya, supaya bisa hiperbolis dikit :)


"Gunsa kau hendak kemana?"
"Elyaz aku hendak ke tebing itu."
"Gunsa untuk apa kamu ke tebing itu?"
"Elyaz aku ingin mengamati matahari terbenam"
"Gunsa maukah kau kutemani"
"Boleh saja Elyaz"
"Ehm, Gunsa, betapa indahnya matahari terbenam"
"Betul Elyaz, ha ha ha"
"Gunsa apa yang kau ingat"
"Elyaz aku teringat kampung halamanku"


Sampai sini, udah eneg, belum? Berasa sinetron latino gak seh? Apakah setiap bicara kita 'wajib' menyebut nama lawan bicara? Cukup banyak dialog dibabar dengan cara seperti itu, sampai pada porsi ter-notice oleh ku dan membuatku ingin menjedot-jedotkan jidat ke tembok kamar. Sumpah gue nyaris gak percaya kalo yang menulis dialog seperti ini adalah bukan seorang anak SMP berusia 14 tahun bernama Ataka. Wait,... Ataka bikin dialog way better than this!

Kurasa, banyak sekali yang harus diimprove oleh pengarang dalam hal merangkai dialog. Selain kekurang wajaran dalam menyebutkan nama-nama person terlampau sering, sebagian besar dialog dalam novel juga belum berhasil mendeliver emosi dan motivasi dari pengucapnya, dengan demikian dialog tidak berfungsi membangun karakterisasi para tokoh. Oleh karenanya, tokoh-tokoh di novel ini jadi terasa dangkal, terlepas apakah itu merupakan intensi pengarang atau tidak.

Sekedar pendapat pribadi saya aja: menurut saya dialog adalah nyawa sebuah novel, yang sangat mencerminkan ciri khas gaya seorang pengarang. Mungkin saja banyak pengarang bisa menghasilkan gaya yang 'mirip' saat menuliskan deskripsi suatu lokasi, misalnya. Tapi kalau sudah bikin dialog, biasanya ciri khas penulis itu langsung muncul. Dan dialog pun mampu menggambarkan banyak hal, nggak cuma content yang diomongin sang tokoh saja. Energi peristiwa novel banyak berpusar di perihal dialog ini. So, dialog itu puenting, boss. Jadi, kalau seorang pengarang meningkatkan kemampuannya merangkai dialog, menurutku itu sudah berarti si pengarang sedang mendevelop gaya penulisan khas nya.

Buat gue, pengarang yang top banget penulisan dialognya, sampai saat ini adalah Arswendo Atmowiloto. Well, yours may vary. Ga papa. Yang penting bagaimana kita belajar dari para senior itu untuk ngedevelop gaya yang pas buat kita sendiri.

Okeh (tarik napas panjang), selain tiga faktor yang perlu diimprove di atas, kupikir Enthirea adalah sebuah gagasan yang cukup workable untuk sebuah novel. Pengarang nyata-nyata sudah membangun plotnya dengan cukup bagus, antara jalan lurus, tikungan maupun persimpangan semuanya saling terkait dan saling menunjang. Karakter masing-masing tokoh juga cukup terbangun, walaupun belum sampai pada kedalaman yang 'pas' untuk pembaca dewasa; kalau untuk pembaca remaja, udah lumayan cukup, lah. Plot twist di ujung novel pun mampu menimbulkan efek kejut pada diri pembaca dan membuat penasaran akan buku sekuelnya. Padahal, love storynya cukup kacangan sebelum plot twist itu,... hehehe,...

Bicara love story, pengarang memang menyelipkan kisah cinta antara tokoh utama dengan love interestnya, seorang putri Elf berusia 500 tahun (cinta memang gak pandang usia, man!), yang digambarkan sangat platonic, kagak ada passion-passionnya acan. Angle ini menyebabkan saya berpikir bahwa novel ini memang ditargetkan untuk pembaca remaja. Dan menurut gue sih, memang cukup pas lah buat sekitar remaja SMP-an, yang belum kenal apa itu pheromone :).

Demikian pula adegan-adegan kekerasan digambarkan cukup terkendali, dalam arti gak mengumbar darah secara berlebihan sebagaimana sering kukritik di novel-novel bertarget remaja (sic!). Cuma ada satu 'cacat' aja dalam menggambarkan hubungan tokoh Alator dengan calon istrinya Frigga, yang dikatakan "menghabiskan waktu malam dengan Frigga". Well, ga frontal nudity gitu, sich. Tapi gue berharap pengarang bisa sedikit wise untuk menghindarkan kesan "R" rating pada novel yang akan dibaca remaja-remaja SMP ini. He he he,...

Tumben, gue baru menyentuh desain cover dan ilustrasi di bagian akhir review, nih?

Well, untuk desain cover sih buat gue rasanya cuma so-so aja ya. Gak terlalu bagus, tapi masih dalam satu league dengan novel-novel bertarget bocah SMP, dengan warna-warna biru-kuning-merah menyolok. Ada gambar nemesys berbaju zirah yang mengesankan musuh besar, serta gambar empat jagoan berjajar. Di bagian dalam, ada ilustrasi empat jagoan yang sama dengan sedikit keterangan detail. Di halaman belakang ada gambar Peta Enthirea.

Cuma ada satu rasa penasaran saya aja. Desain cover dan ilustrasi dikerjakan oleh Catur Ary, yang nampaknya sudah mengerjakan sebagian besar ilustrasi untuk buku Fantasy yang ada. Dan terutama yang mengerjakan Ledgard, yg pernah aku puji. Pasalnya, koq eksekusi mas Catur di Ledgard beda banget dengan di Enthirea, ya? Di sini kayaknya kurang begitu rapih. Coba aku sandingkan contoh perbandingan berikut:

Gak tahu apa penyebabnya, moga-moga bukan karena honorarium yang beda, ya mas! He he he,...

OK kawan-kawan, demikianlah kesan saya setelah membaca Enthirea buku pertama: Pertempuran Dua Dunia. Satu hal yang ingin aku masukkan sebagai catatan penutup:

Saya tampak cerewet banget mengkritisi aspek logika dan setting dalam sebuah novel fantasy, demikian cerewetnya sampai mungkin saja pembaca (atau pengarang) akan mempertanyakan, "Untuk apa seserius itu? Santai ajalah, yang penting kan novel ini dapat dinikmati?". Seolah-olah saya 'tega' menghancurkan karya orang hanya gara-gara saya nggak puas dengan aspek teknis semacam logika dan setting universe.

Well, moga-moga sikap ini dapat dimengerti sebagai perwujudan perhatian dan caring terhadap perkembangan penulisan Fantasy lokal. Saya berangkat dari pengamatan bahwa tradisi penulisan fantasy lokal belumlah berakar kuat. Apalagi bila kita belajar dari sejarah literasi di Indonesia, genre Fantasy 'practically' baru muncul setelah euforia Harry Potter merambah dunia. Saya inget betul, Gramedia baru menerbitkan terjemahan Lord of The Rings setelah Harry Potter, dan itupun kukira ditrigger oleh produksi Film Lord of The Rings-nya Peter Jackson. Padahal LOTR sudah dianggap karya klasik Fantasy sejak puluhan tahun!

Karena 'kependekan' sejarahnya, dan minimnya referensi, wajar bila masih banyak pengarang kita belum 'grip' banget apa yang disebut dengan kisah Fantasy itu seharusnya, dan masih rancu dengan segala aspek yang berbau 'khayal' semata. Padahal Fantasy pun tetap mengacu pada pakem-pakem dasar penulisan di dalam genre apapun, yaitu bangunan setting dan bangunan logika yang 'utuh' untuk mengantarkan cerita. Perbedaannya hanya pada model bangunan setting & logikanya saja, yang masih terbuka untuk didefinisikan kembali oleh pengarang, dalam batas-batas yang masih bisa diikuti (dan dipercayai) oleh pembaca.

Dan memang, dengan terbukanya definisi, pengarang justru harus lebih serius dalam mengembangkan universe yang diciptakannya, harus lebih hati-hati dan lebih seksama. Tak seperti genre novel drama umum, yang universenya sudah tergelar dalam bentuk jadi, universe fantasy adalah ibarat kertas kosong yang harus secara hati-hati dirancang oleh pengarang. Karena kalo merancang universe-nya 'bolong', itu akan menyedot seluruh cerita ke dalam selokan 'unbelievability' bagaikan bath-tube dibuka sumbatnya. Cerita akan kehilangan kredibilitas dan kehilangan enjoyment.

Anyway, kuliahnya segini aja, gak usah berat-berat. He he he,... Kan lebih enak belajar bersama-sama, sambil nge-review karya-karya lokal yang terus bermunculan, dan berkatnya kita bisa memperbaiki karya-karya yang akan datang. Sebuah proses yang pastinya, menyenangkan!

Buat mas Aulya Elyasa, selamat datang di jajaran penulis Fantasi Indonesia, kita tunggu karya-karya selanjutnya.


Salam,


FA Purawan

Kamis, 12 Juni 2008

LEDGARD: Musuh Dari Balik Kabut (WD. Yoga - 2005)





Finally.

Apanya yang 'Finally'?

Finally untuk banyak hal. Tapi yang pertama kali bangeeet, adalah Finally akhirnya aku selesaikan membaca Novel ini, di Senin pagi 9 Juni 2008 dalam perjalanan bermobil dari rumah menuju kantor. Dan jika mengingat bahwa saya sudah membelinya sejak pertama kali terbit tahun 2005, maka bisa dikuak kenyataan bahwa saya perlu waktu tiga tahun untuk membaca sebuah novel!

Wow. Lama banget? Tentunya jadi lama, bukan karena novelnya segitu panjang ('cuma' 579 halaman, koq. Standar, lah). Tapi karena proses membacanya yg on-off, bahkan sempat dua tahunan nggak disentuh (belum juga lewat setengah buku), baru sejak sebulan belakangan saya terusin dengan niat: finish it! Supaya bisa saya masukin review di blog ini. Bisa lama gak disentuh? Tentu ada sebabnya, yang akan saya ulas nanti.

Finally kedua, adalah akhirnya aku menemukan sebuah Novel yang sudah dikerjakan secara well-done, dengan proses yang well-done, dan hasil akhir yang bisa kukatakan well-done!

Finally ketiga, bahwa akhirnya aku bisa menemukan sebuah Novel yang sedikit banyak bisa dijadikan role model untuk sebuah Novel Fantasy lokal, khususnya bagi para aspiran penulisan cerita fantasy.

Finally keempat, akhirnya aku bikin juga review novel ini, sedikit terlambat sebetulnya, mengingat review sejenis pastilah sudah bertebaran di Internet, secara udah banyak banget yg baca dan nge-review, udah tiga tahun overdue. Tapi, rasanya tak apa terlambat tiga tahun, mengingat Novel ini memang pantas mendapatkan ulasan yang mendalam, lagi, lagi dan lagi,... hehehe,...

Yeah. Ledgard, memang segitu bagusnya. Walaupun saya tidak akan menobatkannya sebagai novel yg sudah 'sempurna' dalam pandangan ideal saya, setidaknya Ledgard dapat saya anggap sebagai yang terbaik di antara karya-karya lokal bergenre Fantasy yang ada saat ini.

Mari kita mulai.

Seperti biasa, tentang pengarang. WD Yoga, sebagaimana menurut beberapa sumber di Internet, adalah pengarang berusia 24 Tahun yang sudah cukup dikenal publik, walaupun konon beliau memilih bergaya misterius. Susah, hehehe. Satu situs menyebutkan bahwa beliau adalah mahasiswa Pasca Sarjana UGM, sementara situs lain menyebutkan nama aslinya sebagai 'Mas Ganjar' (Ganjar Widi Yoga), konon mantan Ketua Forum Lingkar Pena Yogyakarta. Well, so much for being misterious,.. hehehe. Ga papa, lah. I think mas Yoga deserves to be famous, koq, untuk sumbangannya yang sangat bernilai bagi khasanah penulisan Fiksi-Fantasy di Indonesia. Sekaligus sebagai pertanggung-jawaban: BOZ, MANA LANJUTANNYA?? Hehehe,..

Apalagi, tanggapan publik pembaca Fantasy terhadap Ledgard memang cukup positif. Saya sendiri ikut menanggapi positif dalam perspektif yang agak berbeda. Buat saya, keunggulan Ledgard sebagai karya atau WD Yoga sebagai penulis ada dalam proses pengembangan dan pembuatan karya novel itu sendiri. Disebutkan bahwa dalam membangun Universenya, WD Yoga banyak meminta pendapat dan masukan dari sesama penggemar genre Fantasi dalam sebuah milis. Berdasarkan masukan-masukan inilah penulis kemudian menyempurnakan setting dan kisah dalam Novelnya.

Berikut adalah kutipan dari Rumah Buku Liliput (http://liliput.wikidot.com/sas-sus):




Yoga, yang lahir di Yogya pada 11 Mei 1981, melahirkan cikal bakal Ledgard: Musuh dari Balik Kabut di mailing list Fantasi Indonesia. Komentar, kritik, dan masukan dari anggota milis menjadi bahan untuk perubahan dan perbaikan yang terus-menerus dilakukannya.




Nah, proses inilah, teman-temanku, yang SEHARUSNYA ada dalam setiap penulisan Novel terutama yang bergenre Fantasy. Alasannya sangat sederhana. Dalam Fantasy, "We create Worlds", dan tugas untuk membuat sebuah universe lengkap sangatlah tidak ringan. Oleh karenanya kita pasti butuh pembanding-pembanding atau mata-mata yang mengamati setiap sudut, setiap aspek, dalam dunia ciptaan kita agar kita dapat membangunnya secara believable sehingga dapat dinikmati oleh pembaca sebagai suatu dunia yang utuh. Dengan mengumpulkan masukan dari orang lain, kita dapat membangun 'insight' yg lebih baik mengenai universe yg sedang kita susun. Dan menurut saya, itulah inti keberhasilan dari Ledgard.

Bottomline,.... Keseriusan.

Dan selaras dengan jurus "Judge by The Cover", keseriusan pengarang (beserta team penerbitannya) sudah muncul sejak Cover depan. Penggarapan grafisnya serius. Dengan cover berwarna dark blue bergambar pedang berlatar belakang arena pasca perang dan sepasang mata biru (mata felis?) memandang tajam. Indah. Beberapa pembaca berkomentar bahwa covernya kurang relevan terhadap cerita. Kalau menurut saya, cover itu sudah dengan tepat menggambarkan konsep "Musuh dari Balik Kabut" sesuai tema novel. Walaupun, kegelapan dark blue-nya memang mengesankan kesuraman membayang untuk seluruh halaman novel, seolah angle penceritaan novel ini akan gelap juga. Untuk jaman sekarang (2008), mungkin konsep yang lebih menjual adalah ilustrasi cover yg lebih 'grande' dengan imaji pertempuran menggunakan kapal-kapal 'melayang' yang merupakan fitur unik dunia Ledgard. Tapi granted, untuk bikin artwork kayak gitu (secara pantas), di kita belum ada yg mampu.

Keseriusan selanjutnya termaktub di halaman-halaman pertama, dimana pengarang mempampangkan ilustrasi para tokoh dalam novel Ledgard, mulai dari Nash, tokoh utama, Rhavi, Deedek, Vasthi dan seterusnya, termasuk Doggorin, binatang langka Ledgard yg ngga ada gunanya ditampilkan, kecuali mungkin sebagai penghargaan pada ilustrator Catur Ari yang sudah susah payah melukisnya,.. hehehe,... (dan memang detail sekali, bo!)

Untuk ilustrasi Catur Ari ini, saya acungkan enam jempol centaur :), eksekusinya sangat rapi-jali, seperti inilah seharusnya sebuah ilustrasi Fantasy dikerjakan. Namun bukan berarti tidak ada kritik. Kritik saya tertuju pada interpretasi atas sosok Nash, yg menurut saya kurang mengena. Tapi sejujurnya saya tidak terlampau menyalahkan ilustrator, sebab penggambaran karakter Nash oleh pengarang pun menurut saya memang kurang 'pas', sehingga wajar bila ilustrator pun nggak 'dapet'. Untuk tokoh-tokoh lainnya, saya rasa Ilustrator udah cukup 'dapet' deh. Selain itu, ada kritik mengenai desain kostum. Saya merasa keseluruhan kostum dalam ilustrasi itu masih kurang terolah. Saya merasa masih melihat mode/ fashion yang standar rekaan ilustrasi ala Indonesia, yg nota bene minim relevansi ke arah setting novel.

(Apa, sehhh, maksoed loe,...???)

Gini. Coba nonton DVD Lord of The Rings, yang Extended version. Setel bagian "Behind the Scene". Buat aspiran Fantasy, ketahuilah bahwa di bagian-bagian itulah the culture is being built. Salah satu yg membuat saya terkesan adalah interpretasi para filmmaker terhadap penggambaran konsep budaya Rohan (kaum penunggang kuda), bagaimana kultur Penunggang Kuda itu terpatri dalam bentuk-bentuk arsitektur sampai dengan busana dan detail ukir-ukiran baju perang, bendera, dan lain-lain. Lengkap sampai hal-hal kecil. Sehingga, semua 'bentuk' yang ada di dalam budaya tersebut senantiasa memiliki latar belakang kenapa sampai pada bentuk seperti itu. Contohnya busana Princess Euwyn dari Rohan digambarkan terbuat dari bahan yang melambai, ternyata berakar dari kekaguman para Rohirrim terhadap surai kuda yang dengan indahnya melambai saat kuda berderap di padang rumput Rohan. Tidak sekedar mengadopsi bentuk-bentuk kuda, tapi juga filosofi yang terkait dengan sifat kuda yaitu kekuatan yang berpadu dengan kelenturan.

Genre Fantasy sesungguhnya punya 'tugas' sampai ke sana. Saat pengarang menciptakan Dunia, ia juga menciptakan budaya, dan ia pun menciptakan segala perangkat di dalamnya, termasuk busana, dan,.... praktikalitas busana terhadap kehidupan budaya bersangkutan.

Dalam hal ini, penulis kita maupun ilustrator kita (Indonesia), masih harus banyak-banyak ngobrol dan belajar. Untungnya (atau ruginya, karena kita gak pernah lakukan/ peduli ?) kita punya referensi terkaya di dunia, terutama sekali kalau kita mau belajar melalui sejibun artefak budaya yang dimiliki oleh Nusantara. Pernah lihat wadah tempat obat suku Batak? Bentuknya bisa dari perak atau perunggu, berbentuk kerucut melengkung seperti terompet kecil. Memakainya digantungkan di pinggang. Dari situ aja kita seharusnya bisa bicara banyak mengenai kehidupan suku Batak pada masanya, kenapa bisa muncul wadah obat seperti itu, dan seterusnya.

Kembali pada ilustrasi Ledgard, kulihat hal ini lah yg masih kurang terolah. Bagaimana harusnya rancangan kostum seorang prajurit Ifarett? Bagaimana seorang prajurit Ifarett bisa berkelahi sebagaimana yang dilukiskan dalam novel, dengan komposisi pakaian yang seperti itu? Bagaimana fungsionalitas kostum seorang L'Darisai yang katanya prajurit elite? Kostum Ae-Sirri, koq kayak pakaian sutera pendekar China, sementara gaya perang Ae-Sirri lebih brutal mirip Indian. Sebagai prajurit dengan spesialisasi pelempar pisau terbang, saya tidak melihat kantong atau sabuk atau apalah, tempat pisau-pisau itu disimpan. Malah adanya semacam terompet di pinggang (wadah obat Batak? Ups!). Saya nggak mikirin kostum Ae-Sirri harus seperti pasukan wanita Amazon, gitu. Tapi setidaknya semakin dekat jarak pertarungan, harus semakin defensif lah pakaian yang dikenakan. Mungkin semacam seragam tempur dari kulit yang dikerjakan secara indah akan sangat cocok untuk Ae-Sirri. Cantik, tapi menggiriskan, dan memampukan penggunanya bergerak tanpa suara.

Terus-terang saja, bagi saya desain kostum yang digambarkan ilustrator masih tak jauh dari kostum ala tokoh-tokoh negeri dongeng di majalah Bobo. Artinya, belum dipikirkan secara mendalam. Dan sebagai akibatnya, kostum-kostum ini nggak berhasil memancarkan 'excitement' sebuah kisah fantasi sebagus yang sudah dituliskan pengarang di dalam Ledgard.

Hmm,... tugas yang berat buat ilustrator, heh? Terus-terang, iya. Pasalnya, hare gene mana ada ilustrator yg mikir sampe ke sana? Berapa harga jasa ilustrasi buku di negeri dengan budaya adiluhung seperti Indonesia, ini? Tragis. Oleh karenanya, kitapun terpaksa harus maklum se maklum-maklumnya. Toh, yang sudah dihadirkan oleh Catur Ari itu sudah bagus sekali, koq. Sekalipun saya yakin mas Catur bisa saja melakukan eksplorasi sebagaimana yang dilakukan para kreator LOTR, penghargaan terhadap jerih payah itu tidaklah sepadan. So, ada kualitas, ya ada harga, donk,.... hihihi,...

Keseriusan selanjutnya, adalah dalam hal PLOT. Bagus. Plot tertata dengan apik, dengan keunggulan komparatif yang melampaui karya-karya lainnya, khususnya dalam bidang politik. Pengarang dengan fasih mempertemukan berbagai ras dengan kecenderungan politiknya masing-masing, diramu dalam ketegangan politik antar ras di tengah penyerbuan bangsa misterius dari balik Kabut. Bahkan pertarungan politik internal di kalangan bangsa antagonis (yg ternyata tidak homogen) juga tersaji dengan mantap, sekalipun pengarang masih banyak menahan diri untuk menggambarkan bangsa apa mereka dan bagaimana latar belakangnya. Simpang-siur hasrat berkuasa antara tokoh-tokoh prominen di dalam novel ini telah memberikan setting situasi yang 'benar' untuk menjadi alasan peperangan maupun konflik yang terjadi dalam bangunan plot Ledgard. Siapa beraliansi dengan siapa karena apa untuk tujuan apa, semuanya dapat dijalin secara rapih.

Kalau mau dibilang ada kelemahan, mungkin konsep pertarungan kebaikan vs kejahatan yang klasik untuk kisah fantasy, malah cenderung nggak kelihatan. Di Ledgard, perang ya perang, dan yang lebih kuat yang menang. Penyisipan mengenai nilai-nilai 'kemanusiaan' (sub-plot Sicah), juga ngga jelas maunya apa, dan berefek apa pada cerita. Tapi dengan politicking yg terolah baik sebagai napas cerita, saya pikir ga jadi masalah. Susunan Plot cenderung linear. Tapi bumbu politicking-nya itu yang membuat cerita menjadi sangat bergizi. Kayaknya pengarang ini kuliahnya di FISIP, deh :)

Karakterisasi juga menduduki posisi plus, terutama untuk tokoh-tokoh pendamping. Sementara tokoh utamanya, dalam hal ini saya maksudkan Nash dan his object of Interest, Vasthi, menurut saya kurang memuaskan. Ada banyak hal yang membuat saya kurang puas, dan akan saya elaborasi setelah ini. Sekarang saya bicara mengenai konstelasi aktor-aktor lainnya aja dulu. Yang artinya, gak bisa lepas dari membicarakan konstelasi rasial yang ada di setting Ledgard.

Dunia Ledgard telah dengan gemilang menghadirkan beragam ras mitologis, yang saling berinteraksi secara meyakinkan. Ada manusia, ada ras Felis yang merupakan evolusi dari kucing (hehehe, sort of), Centaur yang punya nenek moyang kuda, Latlian yang saya pikir mungkin campuran amfibi/ ikan (?), dan ras dari balik Kabut yang kelihatannya keturunan Lizard. Juga ada pembagian negara-bangsa (sub kerajaan), serta ada kelas masyarakat magi (di sini istilahnya Esvath) yang menguasai 'Kekuatan' (a.k.a The Force) melalui berbagai unsur: Air, Tanah, Udara, Api, Jiwa, Raga.

Yang menarik, disebutkan adanya perbedaan penguasaan Kekuatan antara pihak Ledgard dengan pihak penyerbu, di mana pihak penyerbu memiliki kaum Magistra yang hanya bisa menguasai Kekuatan melalui medium tertentu. Menurut saya latar belakang ini cukup lengkap dan solid, dan terbukti mewujud secara sempurna dalam taktik pertempuran antara dua pihak. Semua keajaiban dapat dijelaskan secara logis dengan menggunakan penguasaan Kekuatan ini. Misalnya bagaimana kapal-kapal laut musuh bisa terbang di angkasa, menciptakan meriam energi dan lain-lain. Perwujudan Kekuatan di tangan Esvath, muncul melalui ilmu-ilmu Esvath Angin, Esvath Air dll yang juga konsisten bahkan sampai pada relasi antara aliran Esvath dengan karakter person yang mendalaminya. Rancak, dan rapih. Kagak asal-asalan.

Ada tokoh-tokoh yang mencerminkan stereotipe masing-masing ras, yang berhasil diolah cukup baik oleh pengarang untuk berfungsi secara strategik dalam mengantarkan plot.

Kemudian adegan action. Keren. Pengarang telah berhasil menghadirkan adegan-adegan peperangan secara detail dan never miss a spot. Action hadir dimana perlu, dengan efek excitement yang kuat dan menimbulkan rasa kepahlawanan. Nilai tertinggi bisa saya sematkan pada adegan-adegan pertempuran yang melibatkan kemampuan/ ilmu-ilmu Esvath, di situlah pengarang paling bersinar. Kembali, kurasa karena setiap kelebihan Esvath itu tidak dibuat-buat atau asal hocus-pocus aja. Kemampuan daya serang selalu berbanding terbalik dengan konsumsi daya yang dimiliki setiap aliran. Perhatikan saat Karra, si Esvath air mengundang 'kekuatan laut dalam' (sebangsa Jin kali yee?), ternyata ada harga yang harus dibayar.

Hanya saja ada sedikit glitch, pada adegan pertempuran klimaks Novel. Pengarang memenangkan pihak Ledgard berkat kehadiran bantuan 'pasukan' Esvath yang terdiri dari dua lusinan lebih Esvath, versus tiga atau empat kapal musuh yang diisi ribuan prajurit, dalam sebuah adegan save by the bell yang seru, mengingatkan pada adegan kejutan Gandalf membawa pasukan Rohan di klimaks Two Towers. Memang, sih, sedikit aja Esvath yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan-serangan ajaib yang dahsyat. Tapi dengan kekuatan begitu tinggi, posisi kaum Esvath jadi terasa canggung berada di tengah-tengah percaturan politik Ledgard. Bayangin aja ada kumpulan orang-orang dengan kemampuan destruktif demikian dahsyat yang berpusat di Puri Pualam. Either menjadi harusnya mereka menjadi penguasa tunggal, atau dibenci/ dicurigai rame-rame, kan?

Tampaknya pengarang harus lebih meng-establish kembali posisi kaum Esvath terhadap warga dunia Ledgard lainnya. Karena posisi yang sekarang kayaknya koq masih kurang begitu 'fit'. Atau, memang ini bakal jadi issue yang berkembang dalam buku sekuel.

Action lain yang seru adalah para prajurit wanita Ae-Sirri dengan pisau-pisau terbang dan teriakan "YIYIYIYYIYI!". Very cool.

Untuk penggambaran aksi prajurit berupa duel pedang maupun kontak fisik, saya merasa ada yang kurang 'dapet'. Rasanya koq ada pakem fisiologis yang terlanggar, apabila saya menyimak deskripsi pertarungan fisik dari pengarang. Misalnya ada adegan menyodok lawan pakai lutut, yang saya rasakan jadi canggung atau mustahil bila saya membayangkan posisi tubuh yang bersangkutan dari gerakan-gerakan sebelumnya. Entah, apakah memang saya yang kurang teliti membaca, telah salah menyimak, atau memang pengarang tidak begitu menguasai olah jurus secara fisik. Tapi secara keseluruhan tidak mengganggu, sih.

Nah, puas bicara komplimen, sekarang mari bicara kritik.

Pertama-tama soal nama. Nash, Rhavi dan Deedek, adalah nama-nama paling 'gak megang' di antara seluruh nama yang ada di Ledgard. Pertama kali baca aja, saya udah merasa 'ogah'. Ga tau kenapa. Yang paling parah, ya Nash itu. Tetep, gue juga ga tau kenapa. Mungkin sekedar teriakan alam bawah sadarku, bahwa 'Nash' doesn't sound like a hero to me, dan too bule. Rhavi, juga sounds like nama anak tetangga sebelah. Entah. Nggak jelek juga, sih. Cuma gak megang, aja. Nama-nama tokoh lain kurasa lebih bagus, dan lebih ada konsistensi. Paling bagus adalah nama-nama bangsa Felis.

Selain namanya gak 'pas', penggambaran karakter Nash juga kurang 'megang' (Ini lagi, gue banyak menggunakan term 'megang' di sini, untuk mengekspresikan 'rasa' yang terasa nggak pas. Karena sesungguhnya secara de-facto pengarang gak melakukan kesalahan apapun!). Berdasarkan input yang diterima pembaca, yang juga sudah diarahkan di halaman ilustrasi tokoh, Nash adalah seorang pemuda yang berpostur langsing tegap, punya kharisma dan tampaknya jago diplomasi. Konon dia juga prajurit Ifarett dengan pangkat pemimpin regu (setara kapten, lah).

Dari tutur kata yang dipilihkan oleh pengarang untuk tokoh ini, saya menangkap karakter Nash sebagai seorang yang politically correct. Segalanya berlaku by the book, bicara juga sopan / formil, sebagai seseorang yang mengedepankan diplomasi sebelum otot. Di sisi ini penggambaran karakter cukup konsisten. Tapi konsekuensinya dalam bayangan saya, Nash tidak cocok sama sekali menjadi seorang prajurit tempur. Paling banter sebagai polisi penjaga keamanan. Buat saya, seorang prajurit tempur, apalagi kelas infanteri yang langsung beradu pedang dengan musuh, harus memiliki semacam kebuasan dalam dirinya, semacam instink survival primitif, just to keep staying alive in the battle. Karakter yang penuh pertimbangan tidak akan selamat lebih dari lima menit di medan darah. Apalagi postur tubuhnya terlalu 'cemen' untuk mengadu pedang. He should be more brawnier, kalo memang mau dikedepankan sebagai prajurit. So, penggambaran Nash bertempur melawan Sicah di akhir Novel, bagi saya udah keluar dari karakter. Di benak saya, Nash tidak memiliki kemampuan tempur sekuat itu. Tadinya saya pikir karakter Nash lebih tepat digambarkan sebagai seorang negosiator, yang mungkin tergabung di keprajuritan dalam fungsi semacam itu. Atau sebagai semacam librarian.

Nash, jadinya merupakan sebuah karakter yang ngga koheren, dan menimbulkan kesan canggung. Padahal dialah Lead-Actor dari Novel ini. Udah gitu, relasinya dengan Vasthi pun bisa dikatakan demikian 'frigid', alih-alih disebut romantis sebagaimana diintensikan oleh pengarang. Dan sialnya, tokoh Vasthi sebagai tokoh protagonis utama pun memiliki karakter yg sama 'plastik'nya, sehingga relasi antara dua tokoh ini menjadi kurang 'menggairahkan' di mata pembaca. Saya tahu, pengarang memposisikan interaksi keduanya sebagai 'malu-malu tapi mau' yang supposedly menggemaskan, tapi jujur saja saya tidak terkesan.

Ada satu contoh adegan sebagai berikut:


Nash memerhatikan sekitarnya. Hampir seluruhnya ditumbuhi pohon-pohon besar. Rumput liar menutupi permukaan tanah dan rumpun bunga-bunga liar tumbuh di sana sini. Sekilas Nash bisa melihat serumpun mawar liar tumbuh di bawah pohon oak raksasa. Beberapa langkah ke kirinya ada beberapa rumpun jejak merpati dan beberapa langkah lagi ada armila hutan. Vasthi berhenti di hadapan sebatang pohon raksasa. Tingginya sampai beberapa tombak dan dahannya membentang lebar, membentuk payung hijau yang menutupi hampir separuh jalan menuju gerbang. Ia meletakkan tangannya di batang pohon tersebut dan membelainya lembut sebelum kembali berjalan.



Perhatikan hal-hal berikut ini:




  • Paragraf ini isinya all deskripsi, just point out the fact

  • Hanya ada 1 frasa yang memiliki konotasi emosi, yaitu 'membelai lembut'

  • Setelah paragraf itu tidak jelas makna yang diintensikan pengarang terhadap adegan ini. Harusnya ada hubungannya dengan Nash yang kebetulan sedang 'malu' untuk mengutarakan sesuatu kepada Vasthi.
Padahal, mungkin saja ini adegan yang cukup emosional bagi para tokoh. Vasthi, dia pulang ke perguruan tanah, dimana ia belajar menjadi Esvath Tanah. Mungkin saja pohon itu punya kenangan khusus atau something. Terus perasaan hati Nash yang maju-mundur itu juga mestinya lebih bisa dikaitkan dengan adegan tersebut. Sayang aja pengarang tidak memberikan sentuhan relevansi dalam adegan ini.

Sampai di sini, adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan kenapa aku sampai meletakkan buku ini selama dua tahun lebih.

Di luar Plot Buildingnya yang tertata baik, Novel Ledgard memiliki kelemahan besar dalam hal manajemen tempo bercerita. Saya pernah mengekspresikan kesan saya membaca novel Ledgard sebagai laksana bersepeda dari Bogor sampai Ancol, yang artinya terasa FLAT (datar). Hal itu saya rasakan banget pada paruh pertama buku (bahkan sebelum mencapai paruh pertama, saya sudah merasa bosan). Saya merasa pengarang menyeret-nyeret saya untuk suatu journey tanpa excitement. Mungkin saja dalam perjalanan itu sang Pengarang menunjukkan beberapa detail yang mempesona, landscape yang mengagumkan, memperkenalkan saya dengan orang-orang baru yang menarik, tapi saya tidak bisa terus-menerus berkonsentrasi pada seseorang yang bicara secara monoton, betapapun menarik topik yang dibicarakannya.

Saya berharap menemukan kejutan-kejutan menyenangkan atau menggairahkan di sini-situ, yang bisa membuat saya keep going on. Itu yang tidak ada pada paruh pertama Ledgard. However, separuh menjelang akhir, baru deh excitementnya melonjak. Itu pun hanya saya rasakan dalam adegan-adegan pertempuran. Begitu jeda dari pertempuran, secara membahayakan tempo bergerak kembali ke arah boring-state, yang untungnya tidak berlangsung lama. Tapi dari sini saya bisa membuat pembandingan bahwa flatness ini merupakan penyakit kronis di Ledgard, yang hanya bisa ditolong oleh kehadiran adegan aksi. Lantas, apa yang membuat adegan-adegan non-aksi terasa datar dan membosankan saya?

Ketika saya mencoba menganalisis, saya hanya mampu menemukan hal ini sebagai jawaban faktor flatness dari Ledgard: Gaya Bercerita. Lihat lagi contoh di atas. Tampaknya, pengarang agak bersikap tertib atau steril dalam berkisah. Nah, mungkin saya udah masuk ke ranah teknik bertutur, yang di satu sisi merupakan ciri pengarang. Jadi apakah saya boleh mengkritisi hal ini? Itu juga menjadi pertanyaan relatif. Tapi dari apa yang saya rasakan sebagai pembaca, Pengarang cenderung memilih cara bertutur deskriptif tanpa emosi. Seperti seorang ilmuwan yang menjelaskan suatu fenomena secara apa-adanya, dengan pilihan kalimat yang 'benar'. Padahal, bila yang kebagian bercerita adalah seorang ilmuwan 'gila', maka hukum gravitasi Newton pun bisa terasa begitu heboh. Mungkin saja pilihan inilah yang menyebabkan Ledgard menjadi begitu membosankan dan akhirnya saya meletakkannya selama dua tahun.

Kan sayang, bila akibatnya, saya kehilangan 'the real juicy part' yang berada di bagian akhir buku? Untung aja saya kemudian memutuskan untuk menghabisinya,.. hehehe. Jadinya, flatness itupun terbayar sudah.

Tapi setidaknya, dari pengalaman flatness ini saya jadi bisa mencoba belajar membandingkan. Apa teknik yang digunakan oleh J.K. Rowling dalam mengarang Harry Potter, sehingga saya bisa melibas halaman demi halaman tanpa merasai waktu? Atau di ujung ekstrim lainnya, bagaimana J.R. Tolkien bisa tetap memukau sementara detail yang ia sajikan jauh lebih rumit dan berlarat-larat, sehingga saat saya menutup buku adalah bener-bener saat mata saya sudah lelah. Bukan karena bosan. Rahasia itu, kawan-kawan yang baiknya kita temukan, agar kita pun bisa mengarang Fantasy sebaik mereka.

Jadi, biarpun endorser mengatakan bahwa gaya bercerita WD Yoga mirip JR Tolkien, please, jangan terlalu diambil hati. WD Yoga memang belum secanggih Tolkien, walau dia sudah memiliki kecemerlangannya sendiri dalam serial Ledgard ini. Dan dari base setting yang sudah dia pondasikan kuat-kuat melalui buku pertama, saya yakin dia dengan relatif mudah dapat membuahkan kisah yang lebih fleksibel di buku-buku selanjutnya (kalo pun berhasil diselesaikan, hahaha).

Ayo, mas Ganjar, buktikan bahwa you bukan one time wonder sebagaimana trend novelis Fantasy kita belakangan ini.

Dan buat para endorser maupun calon endorser, please stop comparing karya-karya ini dengan karya lain apalagi yang kualitasnya jauh di atas. Alih-alih memuji, endorsemen semacam itu malah dapat bermakna seperti olok-olok. Gak rela deh, gue!

Salam,


FA Purawan

Jumat, 16 Mei 2008

ALEXA CHIMAERA: The Electric Girl (Hans K.C. Mira - 2008)


Kembali, jurus Judge from The Cover menemukan 'taji'nya. Saat saya melihat sampul buku ini di Gramedia, batin saya langsung menilai, "Gak serius, nich". Namun mengingat sumpah hamukti ripiu fiksi-fantasi yang sudah saya canangkan, akhirnya saya kuat-kuatkan hati untuk mengambilnya. Lagian ga ada pilihan lain untuk bulan Mei ini, sich,... kalah pamor sama chiklit Lost in Love (Sigh).

Judul ALEXA CHIMAERA, sebuah nama yang cukup memikat. Chimaera adalah hewan mitologi Yunani yang berwujud seekor Singa berkepala dobel dengan kepala kambing yang tanduknya berupa sepasang ular (ribet banget dah) dan menyemburkan napas berapi. Sayangnya pemilihan pengarang atas nama itu tidak mengandung koneksi apa-apa dengan hewan mitologi tersebut. Mungkin sekedar cool sounding aja (Sigh).

Namun tak pelak judul Alexa Chimaera berikut sub judul: The Electric Girl, dengan gambar ilustrasi cewek mengeluarkan petir dari tangannya (tadinya saya pikir itu gambar cermin pecah!), cukup menggugah minat dan mengindikasikan sebuah cerita Fantasy. Cuma ada 'glitch' ada di rancangan sampul, pertama kontras warna font belakang dengan warna sampul yang kurang tegas sehingga teks kelihatan blur, dan pilihan font-nya juga sulit dibaca. Saya harus mendekatkan mata ke sampul belakang untuk membaca deskripsinya (dasar mata tuwir juga, sich,...). Glitch kedua adalah dalam penggambaran sosok Alexa yang dikatakan berusia 11 tahun, tampak mirip gambar gadis Manga berusia 17-an tahun (Sigh).

Pengarang, Hans K.C. Mira, tidak menyertakan data apapun di buku ini mengenai dirinya. Siapakah beliau, sudah mengarang buku apa saja, tidak ada data. Ada data sampingan yang saya perhatikan di katalog dalam terbitan, bahwa Novel ini di daftarkan sebagai Novel Serial. Jadi ada kemungkinan akan berlanjut dalam judul-judul Alexa yang lainnya. Bukunya sendiri tidak terlalu tebal, cuma 170 halaman. Hanya butuh 2 hari bagi saya untuk menghabiskannya.

Mengenai isi novel ini,..... well, bagaimana ngomong-nya ya? (Sigh)

Pernah tahu serialnya Raditya Dhika? Atau pernah baca novel (lokal) Hongkong Heroes? Belon? Belon? Gimana dengan parodinya Padhyangan Project? Belon nonton juga? Gimana dengan Extravaganza? Naah,... mungkin udah pernah nonton Extravaganza TransTV, ya,... Apa yg ada di sana? Well, banyolan yang dibungkus cerita,... atau cerita yang dibungkus banyolan,... Dan anda akan melihat bahwa none took it seriously. Baik penonton, maupun kreatornya. (Well, mungkin dari sisi Kreator masih ada unsur serius demi kesuksesan acara, tapi serius terhadap kualitas? Let's keep it as a question mark, for now).

Nah, kalau saya boleh sedikiiiiit menilai gaya storytelling novel ini, nge-banyol, adalah sebuah istilah yang cukup tepat. Setiap tokoh dalam novel, rupanya dipersiapkan oleh Pengarangnya sebagai pelawak. Satu-satunya tokoh yang ngotot serius dalam setting lawak ini (sehingga membuatnya jadi sungguh-sungguh lucu tanpa dikehendakinya) adalah tokoh Prince Gorway si pemimpin Pemberontak.

Seberapa seriuskah Novel ini? Let's see, cerita dibuka dengan kehidupan para tokoh di sebuah negeri Maya bernama Aratnasun, di kota Attarkaj. Now, how serious that is! (Note: Balik aja dua kata itu). Segitu 'bodor' niatnya sehingga pengarang tidak merasa perlu memelihara setting dengan berbagai usaha, atau menciptakan universe dengan keringat dan darah :). Dalam rangka melawak di novelnya, segala parameter setting dicampur baur tanpa perlu ditata logika lagi. Contohnya dunia Maya ini ada peri, penyihir, raksasa, ada mobil juga, ada kota besar biasa/ modern, ada orang-orang dengan gaya Jakarta memiliki nama-nama berbau western. Dan semua tokoh berbicara dalam "Bahasa Gaul", bahasa persatuan Indonesia masa kini. (Sigh)

Begitulah, yang menyangka novel ini sebagai sebuah novel fantasy dengan 'nawaitu' keseriusan persiapan, keseriusan penyusunan kerangka, universe, plot, politik (katakanlah sebagaimana seriusnya J.R. Tolkien bikin LOTR), silakan kiss your a%% good bye, baby. Beruntunglah pengarang tidak menobatkan karyanya dengan kata-kata "Novel Fantasy", sehingga tidak mengundang sumpah serapah saya,... hehehe,... melainkan sekedar menyatakan sebagai kisah yang "seru". Seru? Iya. Serius? Tidak. Jelek? Tidak selalu. Bagus? Tergantung.

Dan memang, tidak ada pretensi sedikitpun bahwa pengarang ingin sok bikin Fantasy Saga, atau imajinasi tak terbatas, atau jargon-jargon sejenisnya. Pengarang memang ingin bikin cerita humor, ya komedi lah pendekatannya, dan kelucuanlah, buahnya.

Dan kalo semuanya sudah diset sebagai 'lucu', tentu logika tidak lagi perlu dikedepankan. Persis kayak panggung Srimulat di mana pembantu bisa ngomong blak-blakan sama majikan. Setting yang ada tidak dibangun secara hati-hati, seksama dan diuji berkali-kali, dengan tujuan memperkuat believability universe dan cerita, melainkan sekedar sebagai panggung untuk peluncuran joke-joke aja. Dan saya pun harus mengakui bahwa novel ini cukup lucu. Sebagai sebuah himpunan lawakan, cukup membuat saya ketawa ngakak atau tersenyum simpul.

So, apa gunanya aku ungkat-ungkit ketidak logisan dalam cerita ini, then? Ya udah ga relevan lagi, lah. Paling-paling sedikit catatan aja mengingat target audience Novel ini tampaknya adalah anak-anak SD atau SMP.

Yaitu kembali, masih ada adegan kekerasan yang kurang pantas bagi pembaca anak-anak, berupa pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh anak serta deskripsi peristiwa pembunuhan yang terlampau 'graphic'. Saya makin prihatin, bahwa kelihatannya tidak ada feed-back atau kendali mengenai makin rendahnya standar humanisme di dalam karya literasi untuk anak-anak. (Sigh)

Catatan lain mengenai finishing. Sampul sudah aku ulas di atas, kemudian ilustrasi dalam. Juga bernada tarikan garis Manga, yang sayangnya dieksekusi kurang rapih kayak cuma sket tinta diisi arsiran pensil aja. Saya jadi ingat gambar-gambar Fan-Fic di majalah Manga atau Anime lokal. Tapi saya ngga merasa terlalu berkompeten untuk ngomentarin teknik nggambar, jadi cukup segitu aja komentar gue tentang ilustrasi.

Anyway, munculnya jenis novel semacam Alexa ini, yang kubilang bukan Fantasy, tetapi memakai 'baju' seolah-olah kisah Fantasy (Faux Fantasy?), yang secara napas mungkin lebih mirip Manga yang banyak melawak, menimbulkan pertanyaan tersendiri di dalam hati saya. Bagaimana cara menghindari kesalahan persepsi di antara penggemar Fantasy? Saya bisa memahami jika ada rekan yang kecewa karena merasa 'tertipu' oleh konsep luar penampakan Cover buku yang mengesankan Fantasy, eh ga taunya bukan sama sekali. Bukannya saya mem-vonis Novel Alexa tidak pantas dibaca oleh penggemar Fantasy, tapi point saya: usaha apa yang bisa dikerjakan penerbit untuk mencegah timbulnya ekspektasi yang salah.

Kalau saran saya ke buku Alexa, sih, boleh jadi perubahan desain sampul akan banyak membantu. Buat saya sampul yang cocok buat Alexa adalah sampul berwarna merah muda/ pink dengan gambar-gambar hati bertaburan, dengan sosok Alexa & Windy berupa kartun Manga (yg kecil-kecil bogel itu loh). Itu jauh lebih cocok dengan spirit cerita dan humor-humor yang dikandungnya!

Salam,



FA Purawan

Rabu, 14 Mei 2008

CANDI MURCA: Ken Arok, Hantu Padang Karautan (Langit K.H. - 2007)


Langit Kresna Hariadi (Langit K.H., atau LKH, atau ELKAHA) adalah salah satu novelis naik daun yang meramaikan khasanah penulisan di Indonesia. Sorotan publik pembaca Novel mulai mengarah pada Penulis ini sejak beliau meluncurkan Novel Gajah Mada yang laku keras. Serialnya sampai mencapai lima Novel atau Pentalogi, kalau ikut model itung-itungan serial jaman sekarang.

Novel Gajah Mada, saya cukup suka terutama buku pertamanya. Pada saat itu perhatian saya tertarik pada pendekatan plot tak biasa yang dipilih beliau untuk mengisahkan seloka tentang kepahlawanan Gaja Mada, yaitu melalui sudut pandang keprajuritan pas-khas Majapahit Bhayangkara. Buat saya sudut pandang ini unik dan ternyata juga memberikan keasyikan tersendiri, berkat munculnya tokoh-tokoh utama sampingan yaitu rekan-rekan Gajah Mada sesama anggota Bhayangkara.

Bagaimana dengan Novel Candi Murca ini? Novel ini diniatkan sebagai serial oleh pak Elkaha, dan sudah diniatkan akan muncul antara 8-10 buku (whooah,..). Satu buku ditargetkan berisi 800-an halaman, dan untuk mencapainya, Elkaha komit berdisiplin mengerjakan 10 halaman per hari. So, prepare for a long journey, guys! Bakal muncul istilah itungan baru, neh,... Decilogi, kali ye?

Awalnya, saya agak ragu melakukan review Novel ini. Pasalnya saya tidak yakin apakah Candi Murca termasuk genre Fiksi/ Fantasy atau Genre Silat/ Sejarah/ Misteri. Akhirnya, sambil masih menyimpan rasa bingung, saya putuskan untuk menganggap Candi Murca bergenre fantasy dengan pertimbangan alternate reality yang Pengarang ciptakan, mulai dari situasi Malang/ Surabaya tahun 2011 Masehi, sampai kondisi Jawa pra-Singasari tahun Saka 1130 yang tentunya merupakan sebuah dunia rekaan sang pengarang. Kuharap it's enough.

Candi Murca, dikatakan merupakan sebuah perpaduan antara Novel Misteri dan Novel Silat. Kali ini pengarang memilih tokoh sejarah Ken Arok, raja pertama Singasari untuk diangkat dalam novel. Setting waktu mengambil alternasi antara tahun Masehi 2011 (masa kini lewat dikit) dan tahun Saka 1136, yang dikatakan berselang 800 tahun. Kemudian konsep adanya sebuah candi raksasa yang 'hilang' (Murca) dengan ukuran melebihi Borobudur, kayaknya wow-factor yang sangat menjual banget! Konsep misteri new-age ini sama uniknya dengan konsep Altantis di Nusantara yang dinovelkan oleh ES ITO di novel Negara Kelima

Melihat halaman sampul buku ini, ingatan langsung tertambat pada serial Gajah Mada. Ada kesamaan gaya desain sampulnya yang unmistakable sebagai "Bukunya Langit KH, neh". Dengan pilihan warna gelap dan grafis komputer yang 'khas', mau gak mau saya langsung lekat ke 'branding' beliau. Mungkin itu juga merupakan satu kelebihan yang jarang dimiliki pengarang kita sekarang ini. Konsistensi desain sampul tampaknya merupakan alat branding yang cukup efektif. Apalagi antara Gajah Mada dan Candi Murca juga bermain pada genre yang kurang lebih sejenis.

Saya jadi teringat pada versi Jilid baru (versi-duile-tebelnye-buat-ganjel-kopaja-di-tanjakan) serial Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto) yang ngga konsisten antara jilid 1 dan jilid 2. Jilid satu dengan warna sampul coklat dengan grafis cukup rapih, sementara jilid dua dengan warna kuning stabilo dengan grafis yang beda jauh (tarikannya). Terus terang menimbulkan perasaan gak nyaman, apalagi kedua jilid itu dibilang sebagai versi "Collector's Item" (sic!). Tapi BTW, mau konsisten di sampul ataupun di ilustrasi memang rada susah, karena hal-hal ini lebih banyak wilayah penerbit, pengarang sering tak punya suara.

Mungkin demi alasan kebebasan berkreasi seperti itulah, kemudian Elkaha memutuskan self publishing untuk seri Candi Murca ini. Kuharap itu merupakan keputusan yang tepat. Dan moga-moga saja keputusan itu tidak menurunkan kualitas penulisan pengarang yang harus gonta-ganti topi sebagai penerbit!

So, sebagai sebuah karya 'self publishing', dikerjakan secara 'maraton', bagaimanakah hasilnya di tangan pembaca?

Pertama-tama, temen-temen harus paham dulu latar belakang kesaktian pengarang dalam urusan kejar tayang ini. LKH dulunya eksis sebagai MC spesialis kawinan Jawa (bahasa Jawanya pastilah tob merkotob), penulis naskah drama radio, tim kreatif sanggar prativi (sanggar drama radio yg cukup ngetop pada masanya), wartawan dan penulis cerita bersambung di Harian Angkatan Bersenjata. So, bikin cerita panjang secara teratur sudah biasa dilakoninya (Bedanya untuk Candi Murca targetnya lebih ambisius aja, sebab kupikir belum ada cerbung koran yang bila dibukukan isinya bisa mencapai sepuluh kali delapan ratus halaman buku). Boleh jadi hal ini sangat mendukung stamina beliau dalam merangkai cerita secara panjang namun tetap menggigit. Dalam hal ini mungkin LKH juga mengambil inspirasi dari penulis serial silat Api Di Bukit Manoreh (SH Mintardja) yang mampu mengikat pembacanya dalam kurun waktu yang lama (sampai berapa seri? Ratusan, ya?).

Dan tentunya, serial Gajah Mada sudah membuktikan bahwa LKH tidak lagi berada pada tataran belajar memilih kata, belajar merangkai plot, sebagaimana level kita-kita,.... hehehe,... Dengan kata lain, Candi Murca sudah punya seluruh modal yang diperlukan untuk meluncur dalam khasanah perbukuan, untuk duduk sejajar dengan karya-karya yang dianggap berkelas, buah karya pengarang senior.

Jadi, untuk seni merangkai kata dan peristiwa, udah ga perlu dikomentari lagi, deh. Sebagai sebuah Novel Candi Murca enak dibaca dan mengalir lancar. Ada beberapa gangguan, yang akan saya uraikan nanti. Nevertheless gangguan-gangguan ini pun tidak mengurangi nilai novel ini sebagai sebuah bentuk roman hiburan. Rangkaian plot yang berganti-ganti antara masa sekarang dan masa lalu dengan penokohan yang masih berjalan dalam jalur yang terpisah (konon kelak akan dipertemukan) memberikan kesan seperti membaca dua buku secara berganti-ganti. Kisah di buku satu, tentunya berakhir menggantung sesuai dengan tujuan penulisan sebagai sebuah novel serial. Tuh, kan, aku sama sekali tidak masalah dengan ending gantung, asal gue udah siap mental sebelumnya.

Sekarang, bicara mengenai "gangguan". Pertama-tama, mungkin, justru dalam hal penamaan. LKH menciptakan nama-nama ala 'Sanskrit' yang tak disangkal lagi, bagus-bagus. Dalam konteks jaman Tahun Saka, hal itu menimbulkan efek 'keren' yang membumi. Tapi di dalam konteks jaman Tahun 2011, efeknya justru sebaliknya. Tokoh-tokoh itu menjadi bak orang-orang aneh di Bumi Indonesia. Contoh nama Parra Hiswara, Madahsari, Bara Ywanjara, Yudawastu Widhiyasa, Elang Bayu Bismara dll. Sekilas kelihatan bagus, tapi ketidak-umuman nama-nama itu membuat believability factor novel ini menjadi berkurang, contohnya saja, bayangin potongan adegan imajiner berikut ini:
"Kenalkan, nama saya Bara. Bara Ywanjara,.."

"Haa? Bara,.. SIAPA?? Bara dipenjara?? " (dengan mata terpicing sebelah, tangan di belakang kuping)

Lenong banget, ga sih,...
Walaupun, saya juga nggak bisa membayangkan tokoh-tokoh tahun 2011 dalam Novel ini akan lebih nyaman dinamai dengan nama Robert, Kevin atau Dion, misalnya,.... hehehe,... Tapi setidaknya, mungkin --kalau saya jadi pak LKH-- saya akan mengutamakan penggunaan nama-nama panggilan praktis untuk nama-nama aneh itu sehingga menjadi lebih familiar di telinga pembaca.

So, konvensi penamaan ini akhirnya diserahkan pada selera pembaca saja. Bisa jadi ada pembaca yang merasa kurang 'sreg', ada yang merasa cocok-cocok aja.

Gangguan berikutnya, adalah alih-plot berganti-ganti antara tahun 2011 dengan 1130, yang terjadi demikian sering, sehingga bagi saya mulai terasa mengganggu. Part gangguannya adalah dalam hal keasyikan plot-building yang sering harus terpenggal, akibat pengalihan setting. Bayangin aja lagi asyik mengikuti kejadian-kejadian tahun 2011, eh tiba-tiba beralih ke 1130. Demikian juga sebaliknya. Memang, ini jadinya sangat relatif, sebab mungkin ada saja pembaca yang justru mampu menikmati hal-hal seperti itu. Dan bangunan misteri novelnya jadi terasa lebih membuat penasaran akibat penyusunan plot seperti itu. Jadi, di satu sisi sebenernya positif-positif aja, sekalipun di sisi lain saya harus mengakui bahwa saya pribadi merasa terganggu. Buat saya, rasa penasaran semacam itu tempatnya ada di koran alias cerbung koran, dimana rasa penasaran akan membuat saya lebih asyik mengejar koran itu tiap hari (plus rebutannya,... heheh). Untuk novel, rasanya saya lebih siap untuk menikmati metode 'treat' yang berbeda. Sehingga begitu pengarang 'ganti topik', saya langsung merasa bahwa itulah waktunya menutup buku dan mengalihkan perhatian pada pekerjaan atau fokus lainnya.

Gangguan ketiga, adalah spesial gangguan di halaman 422! Adanya INTERUPSI,...!! Astaga,.... untuk sebuah Novel terbitan tahun 2007, Pengarang menyisipkan sebuah STOP PRESS berupa pengumuman terkait kuesioner yang dibikinnya. Lhadalah,.... gue jadi inget komik-komik Maranatha jaman dulu,... sebenernya sih, enggak banget deh. Terus terang aja bikin gue ilfil. Pak LKH, mohon jangan diulang lagi yaaah,... please, please,... kalo memang mau nyeleneh, saya usul mohon part Interupsi itu dibikin dalam box aja.

Gangguan keempat, bisa jadi sebuah bias gara-gara saya mendapatkan informasi mengenai betapa tinggi pressure yang dialami pengarang dalam mengejar target penyelesaian novel di tengah segudang kerepotan sebagai penerbit swadaya. Tapi bicara 'rasa' memang amat subtil sehingga saya tak tahu lagi apakah obyektif atau subyektif, saya kemukakan saja anyway. Dalam 'olah rasa' yang saya lakukan (ciaah,..) saya koq merasakan ada nuansa 'keterburu-buruan' menyisa pada untaian kata yang dikarang oleh LKH. Well,... ini emang gak bisa di analisis, cuma bisa dirasakan saja. Entah bagaimana, saya merasakan sebuah echo dari perasaan ketergesaan yang dialami pengarang, dan echo itu sepertinya menyusup dalam hasil karyanya.

Seperti mendengarkan sebuah gubahan lagu yang diciptakan oleh seorang komposer, yang hatinya sedang tidak tenang. You can tell there is something. Komposer itu mampu membuat sebuah lagu bagus. Dan lagunya pun, dilihat dari berbagai sisi, tetap bagus. Tapi ada rasa tertentu yang 'tercetak' dalam ruh lagu itu. That's it.

Tentu saja Saya tidak ingin menilai. Tapi mungkin pak LKH dapat mempertimbangkan hal ini, untuk sekedar lebih sadar aja dalam proses yang pastinya memang 'menekan' itu, perhaps ada perasaan-perasaan yang sebelumnya perlu disadari keberadaannya dan disisir dulu, sebelum mulai menulis. Hehehe,.. sok tau banget, ya gue?

OK, dilanjut.

Bagaimana posisi novel ini sebagai Novel Silat? Kalau dibandingkan serial Gajah Mada yang relatif tak banyak bermain dengan jurus-jurus silat, Candi Murca tampaknya lebih mantap gelar jurusnya, ada jurus Pasir Wutah, jurus Cleret Tahun, dengan adegan-adegan pertarungan yang seru. Kelebihan pembabaran LKH terutama pada keahlian beliau menyisipkan istilah tarung Jawa dalam adegan-adegan silat, yang rasanya belum dipakai oleh pengarang lain. Yah, misalnya kalo gue cuma tahu kata Trengginas, eh pak LKH bisa meluncurkan: Tandang Grayang, Nggegirisi, Mbarang Amuk, yang membuat aroma (Jawa) persilatannya lebih kental tur wangi,... keren, dah. Ga percuma jadi MC kawinan Jawa bertahun-tahun,.. hehehe,...

Nah, kekuatan kultur Jawa inilah yang membuat saya memberi apresiasi khusus terhadap LKH. Semenjak Gajah Mada, sampai dengan Candi Murca ini, pak LKH telah menyajikan suatu karya seni yang berhasil mengangkat budaya Jawa secara mengesankan dan tampil utuh. Mungkin beliau bukan orang pertama yang berhasil melakukannya. Tapi bicara jaman sekarang, saya toh bisa mengatakan bahwa kemampuan seperti pak LKH sudah sangat langka. (Fakta: Kita memang sedang kehilangan budaya asli kita, dan pemerintah ngga mampu melakukan apa-apa terhadap hal itu, menyerah terhadap perubahan, bahkan mengakselerasikannya). Penggambaran LKH mengenai masa kejayaan Majapahit di novel Gajah Mada, atau pra Singasari di Candi Murca ini, membuat saya menyadari bahwa sesungguhnya bahasa (baca: budaya) Jawa itu sudah mengakar ratusan tahun di Nusantara. Sekelebat, muncul sebuah perasaan bahwa sesungguhnya saya ini punya sesuatu bernama 'tanah air'. (Tentu saja, Indonesia bukan cuma Jawa. Tapi kebetulan karena saya keturunan orang Jawa, saya seolah menemukan 'root' identitas primordial saya dalam dunia yang dikarang oleh LKH. Kalau saya bandingkan hal itu dengan konsep 'Indonesia' modern yang ada sekarang ini,... apa mau di kata, konsep Indonesia modern seolah pucat tak berkarakter). Saya yakin, perasaan yang sama juga melanda saudara-saudaraku dari suku-bangsa yang berbeda di Nusantara ini, bila dihadapkan pada suatu karya yang relevan untuk budaya masing-masing.

Jadi, buat saya, pak LKH adalah salah seorang pahlawan budaya yang melestarikan budaya Jawa dalam benak orang-orang Indonesia modern melalui novel-novel karangannya. Maju terus, pak!

So, one book reviewed, and nine more to go! Waduh, kukira kucukupkan saja reviewku di buku satu. Bukannya apa-apa, kalo melihat bangunan plot dan rencana jangka panjang yang sudah diutarakan pak LKH, kupikir tidak ada lagi 'kejutan' dalam konteks review, yang membuat review lanjutannya diperlukan. Udahlah, buku ini cukup enak kunikmati, dan kelanjutan-kelanjutannya pun akan ditunggu dengan antisipatif. Itu aja,.....

Salam,



FA Purawan

Jumat, 25 April 2008

Jatuh ke Matahari (Djokolelono - 1976)

Kalau saya menuliskan review 'novel' (?) dari jaman taun kuda ini ke blog bertarikh dua ribu delapan, semata-mata alasannya selaras dengan komplain saya atas kemutakhirkan cara berpikir, cara menyusun plot, cara bercerita, atau cara bergaya bahasa, para penulis sci-fi terkini Indonesia, yang sebagian bukunya telah meramaikan blog saya ini.
In a way, untuk mengatakan pada rekan-rekan penulis: lihat nih, referensi dari tahun jadul, yang sebaiknya anda baca, dan anda absorb spiritnya. Karena menurut saya karya ini sudah mendului jamannya.


Setidaknya, mendului kemutakhiran penulis sci-fi kita sekarang ini, walau telah tiga puluh dua tahun berselang. Memang disayangkan bahwa om Djokolelono belum membagi ilmu penulisan Sci-Fi-nya kepada generasi kita-kita, kalau saja beliau tahu bahwa jumlah aspiran penulisan Sci-Fi tanah air saat ini sesungguhnya lebih menggembirakan dibanding jaman beliau. Dan saya yakin, kalo Om Djoko bikin workshop, pesertanya pasti berjibun!


OK. Jatuh ke Matahari adalah salah satu Novel Sci-Fi yang ditulis oleh Djokolelono. Masih ada judul-judul lain yang cukup terkenal pada jamannya, sehingga sosok Djokolelono sempat pula mendapatkan gelar 'master' Fiksi Ilmiah Indonesia. Seingat saya ada satu serial sci-fi terakhir yang sempat dikarangnya, terbitan Gramedia. Saat ini saya lupa judulnya, kalau tidak salah ada elemen-elemen Candi Borodubur-nya, serial itu terhenti pada buku ke dua, kalau tidak salah, dari trilogi yang direncanakan. Soalnya waktu itu saya udah beli sampai 2 jilid, dan jilid ketiganya tunggu punya tunggu nggak pernah nongol,... hehehe.


Buku Jatuh ke Matahari sendiri agak ketipisan untuk disebut sebagai Novel :), mungkin lebih tepat Cerpen atau Novelette (ini istilah jadul, kalo sekarang mungkin padanannya: Chiklit). Hanya 86 halaman.


Tapi amboi, betapa kisah yang cuma 86 halaman itu mampu menggrip pembaca dengan pesona luar angkasa, teknologi, serta suspense. Jatuh ke Matahari menceritakan kisah perjalanan Sweta Kamandalu, seorang kadet Akademi Antariksa asal Indonesia dalam missi PKL (Praktek Keantariksaan Langsung,... hehehe, itu istilah karangan gue 'ndiri!) ke Venus, yang saat itu, tahun 2048, sedang dalam proses kolonisasi agar bisa dihuni oleh manusia Bumi. Dalam perjalanan, terjadi drama sabotase yang dilakukan oleh kadet eksentrik Adrian Barry, yang mencoba melakukan eksperimen bahan bakar baru untuk pesawat antariksa, di pesawat yang mereka tumpangi. Plot sangat sederhana, bukan? Akibat sabotase itu, pesawat terlempar mengarah pada Matahari, dan Sweta harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelamatkan diri serta awak pesawat yang lainnya.


Simpel, kan? Yg seru adalah eksekusinya. Pengarang banyak menjelaskan berbagai konsep Sci-Fi khususnya Antariksa, dan boleh dibilang sedikit berbau pelajaran astronomi. Kemudian ada pula penjelasan 'pseudo'-teoritis mengenai proses kolonisasi Venus, dengan menggunakan tembakan-tembakan algae (ganggang) sebagai cikal bakal kehidupan. Lalu yang menarik juga, adalah penggambaran kehidupan sosial internasional di Stasiun Antariksa Sagan di Venus, yang melibatkan antara lain orang Amerika, orang Indonesia, orang India, Rusia, Jepang, dll. Dan tentu saja, aksi Sweta menyelamatkan diri yang penuh dengan problem solving teknologi kreatif, kayak McGyver.


Satu hal yang aku puji, dan rasanya belum dapat disaingi oleh terbitan mutakhir kita di era sekarang (silakan tes dan argue statemen ini), adalah realisme setting angkasa luar yang berhasil dihantarkan oleh pengarang, termasuk sampai interaksi sosial kru Stasiun Luar Angkasa dari berbagai kebangsaan, dan penerapan prinsip-prinsip teknologi di dalam kisah yang dibangunnya. Inget lho, bro, buku ini dikarang tahun berapa, dan betapa informasi-informasi semacam ini masih langka pada waktu itu.


Contoh teknologi, misalnya, pengetahuan Pengarang bahwa bahan bakar cairan tidak akan dapat berfungsi di angkasa luar, karena ketiadaan gaya berat yang memungkinkan cairan itu mengalir. Konsep 'sesederhana' ini jamak terlewat dari logika penulis kita di era sekarang. Sesungguhnya, kita perlu mempelajari bagaimana mekanisme bahan bakar di pesawat angkasa luar. Kenapa sekarang ini pesawat Challenger menggunakan oksigen padat, bagaimana fungsi 'pompa' dalam pesawat antariksa,.... astaga, ternyata dalam banyak hal kita masih kurang belajar!


Tentu saja, sebagai karya jadul, dalam beberapa aspek masih terasa beberapa ketertinggalannya. Contoh paling jelas adalah ilustrasi yang terasa banget flash gordoniyah-nya. Secara analogis, yg namanya komputer teuteup aja digambar sebesar IBM AS 400, misalnya,...hehehe. Juga penyebutan istilah REAKTOR untuk ruang mesin, tetapi sistem mesinnya dikesankan menggunakan sistem jet (combustion engine). Tentunya berbeda jauh. Kalo maksudnya Reaktor adalah Reaktor fusi (Nuklir cs), maka mesin berpenggerak nuklir tentunya akan menggunakan sistem pendorong dan sistem bahan bakar yang berbeda dari sistem jet, karena reaksi Nuklir itulah yg menjadi sumber penghasil energi, bukan hasil pembakaran bahan bakar seperti sistem jet. Tapi bila kita introspeksi, gak sedikit karya mutakhir yang ternyata masih 'sama' kerancuan logikanya, kan,... hehehe,....


Kemudian penamaan ADRIBAR-1 (bahan bakar ciptaan Adrian Barry) ada sedikit miss, mungkin karena Pengarang kelupaan konsep penamaan di Barat, yang umumnya mendahulukan nama belakang. Jadi secara common sense, mustinya si Adrian pencipta bahan bakar itu akan menamai ciptaanya dengan BAR lebih dulu (BARADRIAN-01, atau BARAD-01, atau apa kek,....)


Tapi anyway, dengan segala kekurangannya pun, tetap aja buku tipis ini pantas jadi milestone pencapaian kepenulisan fiksi ilmiah di Indonesia.


So, melalui review ini, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mempelajari kembali buku-buku karya Djokolelono, di mana pun kita masih bisa mendapatkan. Kita punya seorang master yang kita nggak kenali sepak terjangnya. Saya harap, buku semacam Jatuh ke Matahari ini bisa memberi inspirasi sekaligus pemacu semangat bagi kita dalam mengerjakan karya-karya Fiksi Ilmiah dan Fantasi Indonesia!


Salam,


FA Purawan